
Ghiffary terkekeh geli lalu mengecup bibir Ayesha yang candu baginya, "kakak serius Sha-Yang. Jadi, dulu sebenarnya perasaan kamu itu nggak bertepuk sebelah tangan."
Sontak saja wajah Ayesha bersemu merah. Ia tak menyangka, perasaannya dulu bersambut. Tapi sayang, karena kecemburuan Restya, ia salah paham dan pergi begitu saja.
"Kalau sekarang? Perasaan kakak kayak gimana?" tanya Ayesha lagi yang kadung penasaran. Matanya mengerjap dengan binar penuh cinta membuat perasaan Ghiffary selama berbunga-bunga.
"Kalau sekarang sepertinya rasa itu telah ... "
"Telah apa? Telah hilang? Telah tiada lagi? Telah apa kak? Buruan jawab!" potong Ayesha dengan nada merajuk manja membuat Ghiffary kian gemas lalu ia menyelipkan tangannya ke belakang dan dalam sekali sentak, album foto yang disembunyikan Ayesha telah kembali ke tangannya kemudian ia lempar ke kursi cermin rias.
Mata Ayesha membulat melihat hal itu. Kemudian Ghiffary menarik lengan Ayesha agar mengalung di lehernya, sedangkan kedua tangannya kini menarik pinggang Ayesha sehingga perut buncit Ayesha membentur perut kotak-kotaknya.
Gleg ...
Ayesha menelan ludahnya saat pandangan Ghiffary begitu terfokus pada wajahnya..Bahkan pipinya saja telah memerah.
"Jangan memotong kata-kata kakak, Sha-Yang!" tekan Ghiffary dengan suara rendahnya. Ayesha pun mengangguk dengan bibir terkatup rapat. Lalu Ghiffary mendekatkan bibirnya ke telinga Ayesha, sehingga bulu kuduk wanita hamil itu seketika tertarik berdiri terkena terpaan nafas hangat Ghiffary.
"Kalau sekarang rasa itu sepertinya telah tumbuh kembali. Bahkan lebih subur dari sebelumnya," bisik Ghiffary membuat Ayesha seketika meremang. Matanya bahkan sudah terpejam, merasai setiap detak jantung yang saling bertalu karena rasa cinta yang kian membuncah di dada.
"Ma-maksud ka-kak?" tanya Ayesha terbata sebab kini gairahnya mulai berkobar. Entah mengapa, semakin bertambah usia kehamilannya, napsunya akan bercinta makin bergelora dan liar. Terkadang ia bingung sendiri dengan sikapnya yang sudah seperti perempuan penggoda.
"Masih bertanya maksudnya?" lirih Ghiffary yang bibirnya kini sudah menyasar ke area leher Ayesha yang selalu saja menggodanya.
Ayesha mengangguk sambil melenguh saat Ghiffary dengan santainya menyesap kulit lehernya.
"Sha-Yang, dengarkan kakak, kakak cinta kamu, Sha. Sangat cinta. Dulu, setelah kepergianmu secara tiba-tiba, kakak memang menjalin kasih dengan Tya. Itu karena hanya dia perempuan satu-satunya yang selalu menemani kakak. Seiring bergulirnya waktu, kakak mulai merasa nyaman karena itu kakak sempat berniat membuat komitmen dengannya. Tapi ternyata ... "
"Ck ... stop!" sergah Ayesha tidak menjelaskan terlalu panjang kali lebar. "Straight to the point saja , nggak perlu bertele-tele!" ketus Ayesha tegas sambil mendorong kepala Ghiffary agar menjauh dari lehernya.
Ghiffary terkekeh melihat sikap Ayesha, "iya, iya, Sha-Yang. Dengar, kakak mencintaimu. Entah sejak kapan, perasaan cinta kakak yang dulu sempat menghilang, kini perlahan bangkit kembali. Muncul kembali. Hadir kembali. Bahkan kini lebih subur dari dahulu. Bagaimana? Kau puas mendengar penuturan kakak?"
Dengan wajah memerah dan senyum merekah serta mata berbinar, Ayesha mengangguk bahagia. Ia pun segera menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Ghiffary yang dibalas Ghiffary dengan dekapan hangat sambil melabuhkan banyak ciuman di puncak kepala Ayesha.
__ADS_1
"Kakak udah ungkapin isi hati kakak, sekarang giliran kamu? Bisa kamu jelaskan bagaimana perasaanmu ke kakak, Sha-Yang?" tanya Ghiffary yang wajahnya kini telah berhadapan dengan wajah Ayesha, bahkan mata mereka telah bersirobok.
Ayesha menggigit bibirnya, ia tak menyangka hanya ingin mengatakan isi hatinya saja lidahnya seakan begitu kelu. Mulutnya seakan sedang sariawan sampai sulit untuk berkata-kata.
"Sha, kok diem?" Ghiffary mengangkat dagu Ayesha yang menunduk sehingga mata mereka kembali bersirobok.
"Kak, emmm ... sebenarnya ... "
kruuuuuk .... kruuuuuk ... kruuuuuk ..
"Kamu lapar, Sha? Astaga ... " Ghiffary tiba-tiba tergelak karena mendengar suara perut Ayesha yang berdisko ria. "Ya udah, sesi nyatakan cintanya kita pending dulu. Mau makan di rumah atau kita cari di luar aja? Kasihan si baby pasti udah kelaparan banget."
"Yang laper bukan si baby aja, tapi mommy nya juga," protes Ayesha dengan bibir mencebik.
"Iya, iya, mommy. Jadi, kita mau makan dimana?"
"Yesha pingin makan nasi goreng abang-abang yang di pinggir jalan, boleh nggak kak?"
...***...
"Bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu," ujar Defri setelah masuk ke ruangan Ayesha.
"Siapa?" tanya Ayesha penasaran.
"Dia tidak menyebutkan nama. Dia perempuan dan katanya dia itu kenalan ibu."
"Kenalan? Siapa?" gumam Ayesha lebih ke diri sendiri. "Ya sudah, persilahkan masuk!" tukas Ayesha kembali ke mode sibuknya di depan layar komputer.
"Baik, Bu." Sahut Defri yang kemudian segera keluar lagi.
Tak lama kemudian, pintu ruangan Ayesha diketuk. Setelahnya pintu didorong dan masuklah seorang perempuan yang cukup cantik dengan pakaian seksinya.
Ayesha mencoba mengamati wajah dari perempuan yang tidak begitu asing karena mereka pernah bertemu satu kali di bandara.
__ADS_1
"Kau ... "
"Ya, ini aku, Restya Anida. Kekasih Ghiffary," ucap Restya angkuh. Ayesha menaikkan sebelah alisnya seraya bersedekap.
"Kekasih?" cibir Ayesha seraya tersenyum mengejek.
"Ya aku kekasihnya. Kenapa? Terkejut?" balas Restya angkuh sambil mendudukkan bokongnya di sofa .
"Hahaha ... sepertinya ada yang masih terjebak dengan masa lalu. Nggak sanggup move on, hm? Kasihan ... " ejek Ayesha membuat Restya mengepalkan tangannya.
"Siapa yang tidak bisa move on? Kami itu saling mencintai, seharusnya kau tau itu. Jadi sebaiknya kau mundur teratur sebelum kau merasa sakit hati saat Ghiffary lebih memilihku nanti."
"Oh ya? Benarkah begitu?"
"Ya, kami bukan sebentar bersama-sama, tapi bertahun-tahun. Dia menikahimu hanya untuk pelarian saja. Sebab saat itu dia sedang kecewa karena aku terpaksa menikah dengan orang lain. Tapi kini, aku sudah kembali. Asal kau tahu, Ghiffary bilang, ia hanya tinggal menunggu kau melahirkan saja. Ia tidak tega bila harus menceraikanmu saat hamil besar seperti itu. Jadi, kau bersiap-siaplah. Tapi saranku sih, lebih baik mundur sejak sekarang untuk mencegah sakit hati yang kian mendalam," tutur Restya dengan penuh percaya diri.
Mendengar hal tersebut, bukannya takut, Ayesha justru tergelak kencang. Ia sampai mengusap-usap perutnya yang sudah membukit.
"Astagaaaa, mantan oh mantan! Kenapa sih selalu saja kembali setelah seseorang itu bahagia dengan pasangannya? Seolah ia tidak bisa mendapatkan yang lebih baik dari mantannya itu," ejek Ayesha sambil tergelak.
"Heh mantan kekasih suamiku, aku tantang dirimu. Kalau apa yang kau katakan itu benar, maks aku akan segera melepaskan suamiku sekarang juga, bagaimana?" tawar Ayesha sambil menyeringai.
Mendengar kata-kata tersebut, Restya tiba-tiba bagai mendapatkan angin surga. Ia pun tersenyum dengan begitu lebar.
"Siapa takut. Jadi, bagaimana caranya?" tanya Restya tak sabar.
"Emmm ... tunggu sebentar ya! Bintang tamunya belum tiba, kita tunggu sebentar lagi," tukas Ayesha santai sambil menyeringai.
'Kau pikir aku percaya padamu. Dasar, perempuan gila. Masih punya suami, malah ngejar suami orang lain. Dasar sinting,' umpat Ayesha dalam hati.
...***...
...Happy Reading π₯°ππ₯°...
__ADS_1