
Ghiffary melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Kepalanya sakit, memikirkan bagaimana cara membujuk Ayesha agar bersedia ia nikahi. Dia bukanlah pria breng-sek yang gemar menabur benih sembarangan. Bahkan itu merupakan pengalaman pertama dirinya.
Semenjak pertama kali menyadari dirinya telah melakukan hubungan terlarang pada Ayesha, ia sebenarnya tak pernah tenang. Pikirannya selalu berkecamuk. Rasa bersalah kerap memborbardir dirinya. Setiap siang dan malam ia kerap berdoa agar dipertemukan kembali dengan gadis yang ia renggut kesuciannyaa agar dapat mempertanggungjawabkan perbuatan bodohnya itu.
Ghiffary menepikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Bingung dan dilema, ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ia menyesali karena telah mencoba-coba meminum cairan yang sudah tahu haram hukumnya untuk ia tenggak. Karena frustasi ditinggal menikah oleh sang kekasih membuatnya bertindak bodoh. Dan di malam yang sama, ia bukan hanya melakukan satu perbuatan bodoh dan terlarang, tetapi 2. Minum minuman beralkohol lalu melakukan hubungan suami-istri bukan pada pasangan halal. Sungguh Ghiffary menyesali setiap kebodohannya itu.
Semenjak itu, entah dapat keyakinan dari mana, ia yakin perbuatannya akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, semenjak bertemu dengan Ayesha di Angkasa Grup, ia berusaha untuk mendekati Ayesha untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun ternyata Ayesha merupakan perempuan keras kepala yang tak mudah ia taklukkan. Ia menolak ajakan menikahnya mentah-mentah. Ia sadar, pasti itu karena kata-katanya pagi itu. Ia merasa direndahkan dan itu semua salahnya. Andai ia bisa sedikit menjaga lidahnya dan tidak menganggap semua wanita sama saja, ia yakin Ayesha akan dengan senang hati menerima permintaan maaf juga pertanggungjawabannya. Dan satu lagi yang pasti, semua takkan menjadi rumit seperti ini.
Masalah kehamilan Ayesha, entah bagaimana semenjak melihat wajah pucat Ayesha, ia langsung merasakan kalau Ayesha sedang hamil. Semua itu diperkuat saat mendengar Ayesha ingin memakan bubur ayam yang dijual di depan SD Mercubuana. Tiba-tiba saja rasa Khawatir menyusup ke sanubarinya. Khawatir Ayesha benar-benar hamil, ia pun berinisiatif membelikan Ayesha bubur ayam di tempat langganannya di dekat kantor Mega Architecture. Dan di luar dugaan, Ayesha menyukainya bahkan meminta asisten pribadinya menanyakan padanya dimana ia membelinya. Keyakinan Ayesha sedang mengandung anaknya pun naik menjadi 99%. Ia menyukai makanan yang Ghiffary bawakan. Ah, atau yang lebih tepatnya calon buah hatinya lah yang menyukai makanan yang ia belikan. Sungguh sebuah keajaiban. Dan kini, keyakinannya pun terbukti saat mendengar asisten pribadi Ayesha bersedia menikahinya dan menjadi ayah dari calon anaknya.
"Huh, dia pikir aku rela anakku memanggilnya ayah! Takkan ku biarkan. Dia adalah anakku. Buah hatiku. Walaupun kami membuatnya tanpa cinta tapi aku berani menjanjikan memberikan cintaku untuknya sepenuhnya, buah hatiku,"gumamnya.
Tapi Ghiffary lupa, untuk mendapatkan anaknya itu sepaket dengan ibunya. Dia tak boleh egois. Apa ia hanya ingin memberikan cintanya pada anaknya? Lalu ibunya?
...***...
"Tumben melamun, Far?" tanya ayah Ghiffary saat melihat sang putra melamun di depan layar laptopnya. Sepertinya pikirannya sedang terdistraksi ke sesuatu hal yang pastinya lebih menarik pikirannya.
"Ah, ayah!" Ghiffary tersentak lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Haruskah ia menceritakan masalahnya pada ayahnya ini pikirnya.
"Iya yah. Fary ... Fary dalam masalah besar," ucapnya terbata.
Ayah Ghiffary mengerutkan keningnya, penasaran dengan permasalahan besar yang tengah dihadapi sang putra semata wayangnya.
"Masalah besar? Apa itu? Kau tidak terlibat kasus kriminal kan?" terka ayah Ghiffary asal.
Ghiffary mengibaskan tangannya dengan cepat, "bukan. Bukan itu."
"Jadi?" lanjut ayahnya penasaran.
"Fary ... Fary tidak sengaja menghamili seorang gadis yah!" ucapnya takut-takut.
Deg ...
__ADS_1
Ayah Ghiffary sontak saja membulatkan matanya. Ia masih terdiam membeku, mungkinkah ia salah dengar pikirnya.
"Apa katamu tadi? Coba ulangi, Fary? Ayah ... ayah ..."
"Ayah tidak salah dengar, Yah! Fary tidak sengaja menghamili seorang gadis."
"Kau yakin dia hamil anakmu?"
"Fary sangat yakin, yah sebab Fary merupakan orang pertama gadis itu," ungkapnya membuat ayahnya mengehela nafas panjang. Ayah Ghiffary memejamkan matanya. Ingin ia marah, tapi tak bisa.
"Coba ceritakan kronologisnya!" titah ayah Ghiffary tegas lalu Ghiffary pun mulai menceritakan asal muasal mengapa ia bisa menghamili gadis itu.
"Ayah ... tidak marah?" tanya Ghiffary was-was.
Ayah Ghiffary mengehela nafas berat, " sebenarnya ayah kecewa. Tapi ayah tidak bisa marah sebab bukan maumu melakukan itu. Mungkin ini karma ayah," ucapnya ambigu membuat Ghiffary penasaran.
"Maksud ayah?" tanya Ghiffary penasaran tapi ayahnya justru hanya tersenyum penuh arti.
"Oh ya, kalau gadis itu menolak, coba dekati orang tuanya! Terkadang orang tua lebih bisa mengerti. Kau harus bersikap gentleman. Kau tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Makin lama, perut gadis itu akan makin membesar dan itu akan membuatmu makin dicap buruk oleh keluarganya," saran ayahnya.
Tatapan Aglian begitu dingin dan tajam, membuat Ghiffary ketakutan sendiri. Tapi ia tak bisa menunda lagi. Seperti nasihat ayahnya, bila semakin menunda, perut Ayesha akan semakin membesar. Dan bukan tidak mungkin, amarah keluarganya akan makin membara padanya karena terlalu lamban bertindak.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aglian straight to the point.
"Saya ... saya ... "
"Bicara yang jelas!" tegas Aglian membuat Ghiffary makin gelagapan. Entah mengapa, ia merasa seperti ditelanjangi. Apakah Aglian telah mengetahui perbuatannya?
Brukkk ...
Ghiffary sontak berlutut di hadapan Aglian. Dengan wajah tertunduk malu, ia mengakui perbuatan buruknya pada putri kesayangan petinggi Angkasa Grup itu hingga menyebabkannya hamil.
"Tuan, Maafkan saya, saya ... saya telah menghamili putri Anda tanpa sengaja. Maafkan saya, tuan!" ucap Ghiffary penuh penyesalan.
__ADS_1
"Robi," panggil Aglian.
"Iya, tuan!" Robi yang sejak tadi berdiri di samping Aglian lantas maju ke depan. Lalu dengan isyarat dagunya, Robi maju lalu menghajar Ghiffary sesuai perintah Aglian.
Baaakkkk ...
Bukkkk ...
Bruakkk ...
Ghiffary menerima pukulan demi pukulan tanpa perlawanan. Ia sadar, ini sudah konsekuensinya telah menodai putri kesayangan seorang ayah hingga hamil.
"Pa ... hah ... ada apa ini? Kak Fary?" Ayesha terkejut saat masuk ke ruangan sang ayah justru pemandangan tak biasa menyambutnya. Ia awalnya datang ke ruangan itu untuk menemui sang ayah yang baru saja pulang dari luar negeri. Tapi pemandangan Ghiffary sedang dihajarlah yang justru menyambutnya membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi.
"Pa-pi," cicitnya takut-takut sebab ekspresi dingin dan datar ayahnya lah yang ia lihat. Seumur hidup, ini merupakan kali pertama ia mendapatkan tatapan seperti itu.
'Apakah papi sudah tahu perihal kehamilanku?' batinnya bertanya-tanya.
"Duduk!" titahnya pada Ayesha dan Ghiffary yang sudah tampak babak belur. Ayesha sampai meringis sendiri melihatnya. Ayahnya menang tak pernah mau mengotori tangannya sendiri untuk melakukan hal seperti ini.
Jantung Ayesha berdetak kencang tak beraturan. Rasa takut membuatnya seketika memucat hingga sebuah pertanyaan sukses membuatnya kehilangan kesadaran.
"Sampai kapan kau mau menyembunyikan kehamilanmu dari papi, hah?"
"Yesha," pekik Ghiffary panik saat Ayesha tiba-tiba pingsan.
Pun Aglian tak kalah paniknya. Diantara kemarahan dan kekecewaannya, ia tetap saja panik melihat putrinya yang tangguh tiba-tiba pingsan seperti ini.
"Bagaimana keadaannya, dokter?" tanya Aglian pada dokter yang memeriksa keadaan Ayesha.
"Nona tidak apa-apa, tuan. Dia hanya terserang rasa panik. Hormon kehamilan memang kerap membuat seseorang lebih sensitif dan mudah panik. Jangan khawatir! Putri Anda baik-baik saja pun janin dalam kandungannya. Ia hanya perlu istirahat dan jangan terlalu membuatnya tertekan," nasihat dokter itu. "Oh ya, vitaminnya jangan lupa diminum ya!" lanjut dokter itu yang diangguki Aglian.
...Happy Reading π₯°ππ₯°...
__ADS_1
"Sampai