Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 22 Cekcok kecil


__ADS_3

"Lho, Ghif, kamu ngapain?" tanya Luna bingung saat melihat Ghiffary sedang berada di dapur.


Ghiffary menggaruk pelipisnya dengan ujung jari, salah tingkah karena dipergoki sedang berada di dapur.


"Itu tan, Yesha kan muntah-muntah terus, perutnya pasti kosong jadi Ghiffary mau buatin sesuatu untuk Yesha," ujar Ghiffary membuat Luna menganga lalu terkekeh.


"Duh, anak itu, ada-ada saja. Maafin anak mami ya udah ngerepotin kamu," tukas Luna yang menyebut dirinya mami agar Ghiffary terbiasa memanggilnya mami.


"Nggak masalah, Tan, Yesha kan sudah jadi istri Ghiffary," sahut Ghiffary.


"Tan lagi?" mata Luna mendelik tajam membuat Ghiffary kembali salah tingkah.


"Ah, ma-af, Mi," ujarnya terbata membuat Luna lagi-lagi terkekeh.


"Ya udah, lanjutin masaknya. Mami mau ngobrol sama papi dan yang lainnya di depan!" pungkas Luna yang segera membalikkan badannya pergi dari dapur.


Setelah Luna pergi, barulah Ghiffary dengan terampil mengupas lalu mengiris bawang tipis-tipis. Ia ingin membuatkan bening bayam campur jagung, telur balado, dan tempe goreng. Isi kulkas mertuanya ternyata cukup komplit jadi ia tidak pusing ingin memasakkan Ayesha apa. Padahal lauk-pauk sisa makan bersama yang dipesan Luna dari catering langganannya masih cukup banyak. Tapi ternyata bayi dalam kandungan Ayesha menolak semua makanan itu. Jangankan memakannya, mencium aromanya saja Ayesha muntah. Ghiffary harap, apa yang ia masakkan ini cocok untuk Ayesha.


Selesai memasak, Ghiffary pun membawa masakannya beserta nasi dan segelas teh hangat ke kamar Ayesha. Setibanya di kamar, ternyata Ayesha telah lebih dahulu tertidur lelap. Ia meringkuk seperti bayi di atas sofa. Ghiffary berjongkok di depan Ayesha yang tengah tertidur lelap. Dipandanginya wajah Ayesha yang ternyata benar-benar cantik. Hidung bangir, kulit putih mulus, bulu mata lentik, alis yang rapi, dan ada sebuah tahi lalat kecil di bawah mata. Melihat Ayesha tertidur pulas, membuat Ghiffary tersenyum sendiri. Bibir Ayesha juga pink merona bagaikan kuncup bunga yang baru mekar. Belum lagi rambutnya yang hitam, bergelombang, dan panjang, membuat Ayesha persis Barbie hidup. Ghiffary sampai tak sadar telah terpaku sekian menit karena terlampau terpesona dengan kecantikan alami Ayesha.


"Astaga, hampir saja lupa!" gumam Ghiffary saat ingat tujuannya masuk ke kamar itu.


Lalu Ghiffary memanggil Ayesha pelan-pelan untuk membangunkannya agar Ayesha tidak terkejut.


"Sha, Yesha, bangun yuk! Makan dulu! Nanti makanannya keburu dingin!" panggil Ghiffary. Tangannya rasanya gatal ingin menoel-noel pipi mulus Ayesha, tapi ia tahan, ia khawatir Ayesha marah padanya.


"Emmmm ... bentar Mi, Yesha masih ngantuk nih!" sahut Ayesha tanpa sadar. Ia pikir Luna lah yang membangunkannya.


"Hei, putri tidur, bangun! Waktunya makan!" panggil Ghiffary yang masih berjongkok di samping kepala Ayesha.


Perlahan Ayesha membuka matanya dan ia seketika terlonjak hingga reflek terduduk.

__ADS_1


"Kamu ... ngapain kamu dekat-dekat, sana!" ketus Ayesha agar Ghiffary sedikit menjauh darinya. Ayesha memindai tubuhnya, takut-takut Ghiffary melakukan sesuatu padanya saat ia tertidur.


"Jangan berpikir macam-macam! Aku takkan mungkin melakukan hal yang aneh-aneh padamu kecuali aku sedang tidak sadarkan diri!" balas Ghiffary tak kalah ketus.


"Itu kan katamu. Awas ya kalau macam-macam!" ancam Ayesha sambil mengacungkan jari telunjuknya namun Ghiffary justru menangkap dan menahannya. Lalu Ghiffary mendekatkan wajahnya pada Ayesha membuat Ayesha sedikit memundurkan wajahnya hingga membentur sandaran sofa.


"Kalaupun aku mau macam-macam kenapa? Masalah? Bukankah kita telah menikah?" bisik Ghiffary seduktif sambil menyeringai membuat bulu kuduk Ayesha seketika meremang.


"Awas aja kalau berani macam-macam! Sosis kakak akan aku potong jadi 10, mau!" ancam Ayesha dengan sorot mata tajam membuat Ghiffary reflek menutup sosis jumbonya dengan kedua telapak tangannya.


"Astaga, ternyata aku menikahi seorang psikopat!" selorohnya dengan mata membulat kemudian terkekeh, "coba aja kalau bisa! Jangan-jangan pas udah lihat, bukannya mau motong jadinya malah nerkam pingin nyicipin!" goda Ghiffary membuat pipi Ayesha memanas.


"Dasar, otak me*sum!" cibir Ayesha sambil mengerucutkan bibirnya.


"Udah ah, ayo makan! Entar keburu dingin. Kasihan anak saya, pasti sudah sangat kelaparan."


"Apa kata kakak tadi? Anak kakak? Yeee, enak aja, yang hamil aku, ya anak aku dong!" sahut Ayesha seraya beranjak menuju meja yang telah terhidang makan siangnya.


"Jangan salah ya, aku itu banyak penggemarnya! Kalau aku mau, aku tinggal pilih salah satu dari mereka. Kalau nggak percaya tanya tuh sama mami papi, udah banyak anak-anak rekan bisnis papi yang mencoba melamar aku, tapi akunya aja yang belum siap. Harusnya kamu yang merasa beruntung bisa dapetin aku sebagai istri. Enak aja ngatain nggak ada lelaki yang bakal mau terus bilang udah nyelamatin aku dari label perawan tua. Umur aku aja baru 21 tahun, beberapa bulan lagi baru 22 tahun, ya wajar dong masih single!" balas Ayesha sebal.


"Cih, dulu aja sok cool nggak banyak bicara, eh ternyata aslinya gini!" omel Ayesha pelan sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya dan menambahkan sayur bayam, telur balado, dan tempe goreng ke dalam piringnya.


"Kamu bilang apa tadi? Aku dulu? Memangnya kita pernah saling kenal?" tanya Ghiffary dengan alis berkerut.


"Aku mau makan, jangan banyak bicara," ketus Ayesha yang enggan menjelaskan apapun pada Ghiffary.


Ayesha tampak begitu menikmati makan siang itu. Tak ada rasa mual apalagi ingin muntah. Ayesha merasa begitu senang akhirnya ia bisa juga merasakan kenyang setelah hampir 2 bulan ini ia begitu tersiksa karena kesulitan makan dan terlalu sering mual dan muntah.


...***...


"Oh ya Ken, apa benar Jeje udah meninggal?" tanya Luna yang sudah sebulan lamanya memendam rasa penasaran. Mumpung Aglian sedang meladeni rekan bisnisnya jadi ia bisa bertanya hal yang cukup pribadi pada Kentaro. Luna juga mengubah kebiasaannya yang memanggil Kentaro dengan sebutan Kentang untuk menjaga perasaan sang suami.

__ADS_1


Kentaro tersenyum sendu, matanya menerawang mengingat peristiwa puluhan tahun yang lalu.


"Hmmm ... Kejadiannya tepat saat bulan puasa. Jeje mengalami pendarahan hebat saat usia kandungannya memasuki bulan ke 8 mengakibatkan Ghiffary harus dilahirkan secara prematur. Setelah operasi berhasil, ternyata Jeje mengalami koma. Hampir 1 tahun Jeje mengalami koma, dan tepat di ulang tahun Ghiffary yang pertama, Jeje sempat sadarkan diri. Kami merasa bahagia. Tapi ternyata kebahagiaan itu hanya sementara sebab ... setelah beberapa jam kemudian, Jeje ... Jeje menghembuskan nafasnya yang terakhir sambil memeluk tubuh putra semata wayang kami."


Kentaro tergugu saat mengingat kembali bagaimana Jelita pergi meninggalkan mereka. Padahal mereka belum lama berkumpul bersama, menjadi suami istri, tapi ternyata semesta berkehendak lain. Mereka harus terpisah dengan cara yang menyedihkan.


"Ken, Maafkan aku! Aku ... aku tak bermaksud mengingatkan mu dengan kenangan menyedihkan itu," ucap Luna dengan penuh penyesalan.


"Tak apa, Lun. Itu bukan salahmu. Bagaimana pun dulu kita berteman jadi sudah sewajarnya kau tahu tentang masalah ini," ujar Kentaro seraya memaksakan tersenyum.


"Kenapa kau tak pernah mengabariku?"


Kentaro tersenyum, "aku ... aku terlalu malu bertemu denganmu, Lun. Dan ... "


"Dan apa?" tanya Luna penasaran.


"Sudahlah, tak perlu kau ungkit lagi. Tapi kalau boleh berkata jujur, aku senang kita menjadi besan.," tukas Kentaro seraya tersenyum penuh arti.


"Sweetheart, kau di sini!" panggil Aglian yang langsung merangkul pundak Luna dan mengecup puncak kepalanya.


"Ih, papi, malu tau!" cicit Luna dengan wajah merah padam akibat perlakuan Aglian yang tak tahu tempat.


"Ngapain malu? Kita kan suami istri, jadi wajar kayak gini. Kecuali kita ngelakuinnya sama orang lain, sama pacar orang, atau istri orang, baru harus merasa malu," jawab Aglian sekenanya membuat Luna menepuk pundaknya gemas.


"Oh ya Ken, aku masuk dulu ya! Ada yang mau aku kerjakan," pamit Luna yang diangguki Kentaro. Sedangkan Aglian hanya menganggukkan kepalanya, meskipun mereka telah menjadi besan, tapi Aglian masih menjaga jarak dengan Kentaro.


Dari tempat duduknya, Kentaro menatap nanar kepergian Luna dan Aglian. Ia meremas dadanya sendiri yang terasa begitu nyeri, 'sampai kapan perasaan ini akan betah berada di sini? Aku pikir setelah berpisah puluhan tahun lamanya, perasaanku akan padam, tapi ternyata ... semua masih sama. Tak pernah berubah.' batin Kentaro.


"Ayah? Jadi ayah memiliki perasaan dengan mami Luna?" gumam Ghiffary yang melihat bagaimana ayahnya menatap Luna dengan binar cinta yang penuh kesedihan.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2