Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch.6 Firasat


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Ayesha, Aglian, Luna, Algara, dan Algatra telah berangkat menuju ke kediaman Diwangga. Rencananya hari ini akan diadakan akad nikah dadakan antara Damar dan Oryza. Tentu mereka ikut menyambut rencana baik tersebut dengan suka cita. Mereka tak mempermasalahkan status Oryza yang hanya seorang janda dengan dua anak. Yang terpenting bagi mereka, Oryza merupakan wanita yang baik dan dicintai Damar. Itu saja sudah cukup.


Sepanjang perjalanan Ayesha hanya terdiam sambil menatap kosong ke luar jendela. Tentu saja orang tua dan adik-adiknya menyadari perubahan sikap tersebut. Sangat berbeda dari sikap ceria Ayesha yang biasa ia tunjukkan. Menerbitkan tanda tanya, apa yang sebenarnya Ayesha pikirkan saat ini? Apakah Ayesha sedang memiliki masalah hingga membuatnya seperti itu?


"Kak, tumben diem Mulu? Lagi sariawan ya?" goda Algara sambil menyenggol pundak Ayesha membuat gadis itu tersentak kemudian memicing tajam.


"Usil aja si garam kasar, entar kakak ulek-ulek sampai halus tahu rasa!" hardik Ayesha dengan memasang wajah sangar yang dibuat-buat.


Algatra yang melihat ekspresi kakaknya lantas terkekeh geli, "wow, kak Rose garang! Jangan galak-galak kak, entar jauh dari jodoh lho! Kan kasihan kami entar nggak bisa nikah-nikah kalau kakak lambat ketemu jodoh," timpal Algatra sambil cekikikan.


Luna dan Aglian yang duduk di bangku tengah ikut-ikutan terkekeh membuat Ayesha memasang wajah merajuk.


"Biarin, biar kita kompak jadi jomblo ngenes. Weekkk ... "


"Eits, Gara nggak ikutan ya! Gara punya cewek dong! Percuma punya muka cakep warisan mami papi kalau hidup terus menjomblo. Gara juga mau kayak papi punya istri cantik dan baik kayak mami. Kalau kalian berdua mau jadi jomblo ngenes, ya silahkan! Gara mah ogah! Weeekkk ... " tukas Algara jumawa membuat Ayesha gatal ingin menjewernya.


"Ih, loe pikir loe aja punya cewek Gar, gue juga punya ya. Walau baru pdkt tapi nggak kenapa, soalnya dia nggak mau pacar-pacaran. Kalau udah waktunya, langsung nikah aja katanya," sahut Algatra membuat mulut Ayesha, Aglian, dan Luna menganga. Sedangkan Ayesha tampak mencebikkan bibirnya. Ayesha merasa benar-benar kalah telak dari kedua adik kembarnya itu sebab dirinya saja belum pernah satu kali pun berpacaran. Kalau suka sih pernah, dulu sekali, waktu ia baru mengenakan seragam putih abu-abu. Tapi hanya sebatas itu. Ia tak berani mengungkapkan. Apalagi saat itu yang ia sukai merupakan adik kelas. Namun, biarpun adik kelas, laki-laki yang ia sukai itu usianya justru lebih tua 1 tahun sebab Ayesha kan mengikuti kelas akselerasi.


Plukkk ...


Ayesha melemparkan tisu yang ia gulung tepat ke muka Algatra.


"Heh, Alganggang, baru juga lulus udah mikir married! Kuliah dulu yang bener, bantu papi handle perusahaan mami. Nggak mungkin kan aku handle dua-duanya, nggak mungkin juga papi terus turun tangan. Kalo kamu udah sukses baru tuh nikah. Emang anak orang mau kamu kasih makan apa kalau nggak kerja? Makan janji ? Makan cinta? Duit aja masih nadah, ih dasar Alganggang," delik Ayesha dengan memasang wajah songong membuat Algara dan Algatra cemberut.

__ADS_1


Namun mereka tak membantah sebab apa yang dikatakan kakaknya tersebut ada benarnya juga. Sebagai seorang lelaki, mereka harus memiliki pemikiran panjang ke masa depan. Masalah menikah, jangan hanya mikir bagian enaknya saja, tapi di dalamnya ada hak dan kewajiban serta tanggung jawab yang besar. Sebab selepas kata ijab Kabul terucap, seluruh tanggung jawab atas perempuan yang kau nikahi akan berpindah ke pundakmu.


...***...


Para tamu undangan dari pihak keluarga tampak sudah berdatangan. Tak lama kemudian, prosesi akad nikah pun dilangsungkan. Damar dan Oryza tampak begitu bahagia, sangat berbanding terbalik dengan Ayesha yang kini lagi-lagi termenung. Adakah pria yang mau menikahi dirinya setelah tahu dirinya tak suci lagi?


Ayesha bergidik ngeri saat membayangkan bila suatu hari ia menikah laku sang suami menalaknya tepat di malam pertama setelah tahu dirinya tak suci lagi.


'Astagfirullah, aku mikirin apaan coba! Tapi kalau hal itu benar-benar terjadi bagaimana? Mami dan papi pasti bakal benar-benar malu,' desah Ayesha frustasi.


"Mbak ... halo ... mbak, permisi! Boleh saya numpang duduk di sini?"


Tiba-tiba ada seorang wanita hamil yang memanggil Ayesha membuat lamunan Ayesha buyar seketika.


"Eh, i-iya, silahkan!" ujar Ayesha mempersilahkan sembari memasang senyum ramah. Wanita hamil itu pun segera duduk setelah membalas senyuman Ayesha.


"Ekhem, mbak kenapa?" tegur wanita itu sedikit risih saat perutnya dipandangi Ayesha dengan tatapan yang tak ia mengerti.


"Eh, eee ... itu ... boleh ... boleh saya mengusap perut mbak? Mbak sedang hamil kan?" tanya Ayesha penasaran.


Wanita itu mengangguk kemudian tersenyum. Ia pikir Ayesha kenapa, ternyata Ayesha hanya ingin mengusap perutnya. Dalam hati wanita itu pikir, mungkin Ayesha juga ingin merasakan kehamilan seperti dirinya.


Lalu Ayesha pun dengan sedikit ragu, menempelkan telapak tangannya ke perut wanita hamil itu. Seulas senyum terbit di bibir Ayesha. Namun, senyum itu mendadak luntur saat mendengar doa tulus dari wanita hamil itu.

__ADS_1


"Semoga mbak bisa segera hamil kayak aku, ya mbak," ujar wanita hamil itu tulus. Berbeda dengan Ayesha yang mendengarnya, tiba-tiba saja perutnya mulas dan tubuhnya meremang.


'Semoga tidak, Ya Tuhan. Aku nggak mau hamil di luar nikah. Tapi bagaimana kalau itu benar-benar terjadi ? Kasihan anakku. Mami dan papi juga. Astaga, bagaimana ini?' gumam Ayesha dalam hati. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menepis segala pikiran buruknya. Tapi tetap saja, pikiran buruk makin mendominasi membuatnya sampai menghela nafas kasar.


Melihat ekspresi Ayesha yang berubah sendu dan pandangan kosong, wanita itu pun segera berlalu. Ia khawatir, perkataannya tadi membuat Ayesha merasa tidak nyaman.


Dari jauh, Aglian terus memandangi putrinya yang tampak sekali banyak pikiran. Ia menjadi khawatir sendiri, apa perbuatan Ramon tempo hari membuat putri kesayangannya itu sedikit trauma. Namun Aglian percaya, Ayesha sanggup menghadapi permasalahannya. Terbukti, ia masih bisa bersikap tenang dalam menghadapi berbagai hal. Tapi tetap saja, hatinya tak tenang saat menyadari putrinya itu seakan menutup diri dan enggan tersenyum ceria. Sangat berbeda dari sikapnya sebelum-sebelumnya.


"Papi liatin Yesha?" tanya Luna yang kini sudah kembali berdiri di samping Aglian.


"Hmmm," sahut Aglian dengan gumaman membuat Luna berdecak.


"Entah mengapa, mami merasa putri kita sedang memiliki masalah yang berat ya, Pi. Papi merasa juga kan?" ujar Luna seraya menatap sang putri yamg kini tampak sedang mengusap perut seorang wanita hamil.


"Mungkin Yesha sedang banyak pikiran aja, mi. Apalagi kan mulai besok Yesha akan papi angkat jadi CEO, otomatis beban pikirannya akan bertambah. Udah ya, mami nggak usah banyak pikiran! Papi nggak mau mami jadi sakit," ujar Aglian mencoba menenangkan Luna. Aglian memang tidak menceritakan perihal jebakan Ramon pada Ayesha. Ia tak mau membuat istrinya itu shock hingga jatuh sakit.


...***...


Ya Allah, ngetik aja kayak ujian banget! Sakin ngantuknya, entah berapa kali othor nggak sengaja terhapus gara-gara mata maunya merem. πŸ˜„


Mau update bab terakhir Oryza Damar jadi pending mulu karena banyak kerjaan, giliran malam ngantuk duluan. πŸ˜‚


Semoga besok bisa update bab terakhir cerita Oryza. Makasih banyak yang terus support karya othor.

__ADS_1


Love you all. πŸ₯°πŸ˜πŸ€©


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°**...


__ADS_2