Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch.11 Pertanggungjawaban?


__ADS_3

Ceklek ...


Pintu terbuka, lalu masuklah seorang OB dengan membawa baki berisi teh dan kopi di atasnya. Disusul Defri yang masuk kemudian. Setelah meletakkan cangkir berisi minuman itu, OB itu pun segera pamit.


Keheningan menyergap di ruangan meeting itu. Hanya bunyi papan keyboard yang ditekan saja yang menjadi pemecah kesunyian di dalam ruangan yang cukup luas itu.


"Def, serahkan dokumen tentang lokasi pembangunan Savior Hotel pada pak Ghiffary!" tegas Ayesha seraya menutup layar laptopnya kemudian segera berdiri.


"Baik, nona," sahut Defri patuh. Lalu ia segera mengambil berkas yang berisi data-data lokasi pembangunan Savior Hotel.


"Nona, bukankah kita akan membahas rancangan design Savior Hotel? Kenapa Anda malah pergi?" tanya Ghiffary yang sudah berdiri dengan dahi yang berkerut.


Ayesha lantas menatapnya dengan tatapan datar.


"Lain kali saja! Saya sedang sibuk," jawab Ayesha acuh tak acuh.


"Tunggu! Kau tidak bisa pergi begitu saja!" ucap Ghiffary tegas membuat Ayesha menghentikan langkahnya. Lalu ia meminta Defri agar keluar sejenak karena ada hal yang ingin ia bahas dengan Ayesha. "Pak Defri, apa saya bisa bicara sejenak dengan atasan Anda?" ucap Ghiffary.


Defri paham maksudnya agar ia keluar dari ruangan itu. Tapi yang menjadi atasannya saat ini adalah Ayesha jadi ia membutuhkan izin dari atasannya itu dahulu.


Defri pun menoleh ke arah Ayesha, tapi Ayesha bungkam.


"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi!" ketus Ayesha.


"Apakah karena kata-kataku hari itu kau jadi marah padaku?" tanya Ghiffary lantang. Terserah Ayesha akan marah padanya karena menanyakan hal itu di hadapan orang lain. Toh dia sudah meminta Defri keluar dari ruangan itu, tapi Ayesha justru tak mengizinkan.

__ADS_1


Mata Ayesha membelalak saat mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tangannya mengepal dengan jantung yang bergemuruh.


"Def, keluarlah lebih dahulu!" titah Ayesha.


Dengan patuh, Defri keluar lalu menutup pintu ruangan itu dengan rapat. Setelah di luar, Defri berjalan menuju ruangannya dengan benak yang bertanya-tanya, apakah Ayesha dan Ghiffary saling mengenal.


"Sepertinya memang mereka saling mengenal? Apakah mereka sebenarnya sepasang kekasih yang sedang bertengkar?" gumam Defri bertanya-tanya mengingat pertanyaan yang baru saja Ghiffary lontarkan.


"Aku minta kau jangan pernah ungkit peristiwa itu lagi!" tegas Ayesha dengan sorot mata tajam.


"Kau memintaku untuk tidak mengungkitnya, tapi kau bersikap seperti hendak menghindariku. Di pesta pernikahan, Japanese resto, lalu di sini. Aku tahu, kata-kataku hari itu mungkin menyinggungmu, jadi aku minta maaf. Dan untuk apa yang telah kita lalui, kau tidak bisa menyalahkan diriku seorang karena kau lah yang duluan masuknke kamar ku," ucap Ghiffary dingin. Ia kesal. Ia datang kemari untuk bekerja, tapi ia justru diabaikan. Keberadaannya seakan tidak terlihat. Memangnya ia makhluk tak kasat mata?


Ayesha tersenyum sinis, "oke kalau aku yang salah masuk ke kamarmu, tapi harusnya kamu nggak ngelakuin itu. Aku sedang dalam pengaruh obat karena jebakan seseorang. Sebagai seorang manusia seharusnya kau tidak memanfaatkanku dan membantuku, bukan malah mengambil sesuatu yang berharga dariku. Dan setelah kau mengambil kehormatanku, dengan tanpa rasa bersalah kau berniat membayarku?" Ayesha terkekeh sinis, "kau pikir aku jalaaang, hah! Aku bukanlah wanita murahan. Apa aku terlihat seperti orang miskin? Atau kau melihatku seperti seorang sugar baby yang mendapatkan uang dengan menjadi simpanan laki-laki kaya beristri? What the f u c k! Jangan karena punya uang, kau jadi menilai semua wanita itu sama. Bajingaaan!" bentak Ayesha murka.


Ghiffary membelalakkan matanya saat mendengar kata-kata Ayesha. Ia tak menyangka, malam itu Ayesha sedang dalam pengaruh obat sehingga membuatnya bukan hanya salah masuk kamar, tapi juga melakukan hubungan terlarang dengan dirinya.


"Maaf," ujar Ghiffary penuh penyesalan.


"Maaf? Apa kata maaf bisa mengembalikan kesucianku?"


"Aku tahu, aku salah. Tapi aku juga tidak benar-benar bersalah. Malam itu aku sedang mabuk, jadi aku benar-benar tidak sadar kalau aku melakukan hal tersebut padamu. Aku bukanlah laki-laki bajingaan yang gemar menabur benih sembarangan tanpa ikatan halal," balas Ghiffary membuat Ayesha terdiam. Keduanya bungkam. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.


Keduanya menyadari, mereka sama-sama memiliki andil atas apa yang menimpa mereka. Hanya bunyi detak jarum jam di dinding yang terdengar di ruangan itu.


"Izinkan aku bertanggung jawab!" tegas Ghiffary lantang membuat Ayesha membelalakkan matanya.

__ADS_1


...***...


Ayesha telah pulang. Tapi ia tidak pulang ke rumah. Mulai hari itu ia akan tinggal di apartemen miliknya yang tak jauh dari Angkasa Grup. Ia memang telah mengantongi izin dari mami dan papinya dengan alasan ingin belajar mandiri. Walaupun sebenarnya itu bukanlah alasan utamanya. Ia hanya beralasan saja agar sikapnya yang belum stabil tidak membuat orang tuanya khawatir.


Masuk ke kamar, Ayesha langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang tanpa melepaskan sepatunya. Ia lelah jiwa dan raga. Benaknya dipenuhi sekelebat ingatan tentang pertemuannya dengan Ghiffary.


Ghiffary menawarkan pertanggungjawaban padanya?


Apakah ia menerima?


Jawabannya tentu saja tidak.


Ia tak ingin terikat dalam hubungan atas dasar pertanggungjawaban saja. Apa jadinya rumah tangganya nanti bila ia menikah dengan seseorang yang tidak mencintainya sama sekali. Apa jadinya rumah tangganya nanti bila ia menikah dengan orang hanya atas dasar bertanggung jawab terhadap perbuatannya.


Ayesha sama seperti perempuan lainnya. Ia pun memimpikan menikah dengan orang yang ia cinta dan mencintainya. Ia ingin menikah hanya 1 kali seumur hidup. Seseorang yang menikah atas dasar cinta saja bisa bercerai, apalagi tanpa dasar cinta. Ia tak ingin ada perceraian dalam rumah tangganya. Ia ingin menjadi pasangan bahagia yang saling mencintai seperti mami dan papinya.


Belum lagi, sedikit demi sedikit ia berhasil mengingat malam panas yang telah ia lalui dengan Ghiffary. Dan ada satu hal yang sangat lekat dalam ingatannya. Sesuatu itu seakan terus menari-nari dalam pikirannya sehingga ia sering terbawa mimpi. Sesuatu itu adalah sebuah nama yang Ghiffary sebutkan saat ia akan mencapai puncak. Nama seorang perempuan. Ia melakukan hal itu dengan dirinya dengan menyebutkan nama perempuan lain. Bukankah artinya Ghiffary memiliki wanita lain dalam hidupnya. Bukankah artinya Ghiffary telah memiliki kekasih. Hal itulah yang membuat Ayesha semakin yakin untuk menolak keinginan Ghiffary bertanggung jawab. Ia tak ingin menjadi perempuan perusak hubungan orang. Ia tak ingin menikahi laki-laki yang hatinya justru untuk perempuan lain. Pernikahan seperti itu hanya akan membuat hatinya hancur dan hidupnya menderita. Ia tak butuh tanggung jawab bila akhirnya hanya akan menjadikan dirinya seperti seorang penjahat karena telah merebut kekasih orang lain. Satu harapannya, semoga benih Ghiffary tidak tumbuh di rahimnya. Entah bagaimana nasibnya kelak bila itu sampai terjadi. Yang pasti, ia pasti akan mengecewakan orang tua dan keluarganya.


Tapi apakah ia bisa menentang takdir bila yang kuasa justru menakdirkannya hamil anak Ghiffary?


Jawabannya adalah tidak.


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2