Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 16 Penolakan


__ADS_3

Nona ... "


"Hmmm ... " sahut Ayesha seraya menyesap minuman jahenya.


"Bila kau butuh sesuatu atau bantuan, katakan saja. Aku akan selalu sedia membantumu. Dan bila perlu, aku bersedia menjadi ayah dari anakmu."


Sontak saja ucapan Defri membuat Ayesha terbatuk-batuk dengan mata membulat.


"Mak-maksudmu?"


"Ya, aku bersedia menikahimu dan menjadi ayah dari calon anakmu," ucap Defri tegas dan tanpa keraguan sama sekali membuat Ayesha ternganga tak percaya.


Ayesha seketika terperangah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, "apa katamu tadi? Menikahiku? Menjadi ayah dari calon anakku? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Ayesha memastikan.


"Tidak. Anda tidak salah dengar, nona. Aku serius dengan ucapanku," ucapnya tegas.


Ayesha terkekeh hambar. Mereka saja belum lama saling mengenal, lalu kini asisten pribadinya ini tiba-tiba saja menawarkan diri untuk menikahinya. Entah apa alasannya bersedia menikahi wanita hamil seperti dirinya. Apalagi jelas-jelas dirinya hamil anak laki-laki lain.


"Apa alasanmu bersedia menikahiku dan menjadi ayah dari calon anakku?"


"Karena saya menyukai Anda, Nona. Karena itu, izinkan aku me ... "


Brakkk ...


Tiba-tiba pintu terbanting kencang. Dari luar, muncul seorang laki-laki nan gagah yang beberapa hari ini selalu saja muncul di hadapannya.


"Tidak bisa. Ayesha tidak bisa menikah dengan lelaki manapun selain aku!" suara bariton itu membuat Ayesha seketika panas dingin. Apalagi setelahnya, laki-laki itu menatapnya dengan begitu dingin dan tajam. Sorot matanya seakan bersiap ingin membolongi tepat di jantungnya.


Defri mendengus, "apa hak dan alasan Anda melarang nona Ayesha menikah dengan lelaki lain? Ingat, kau itu hanya rekan kerja nona jadi Anda tidak berhak mengambil keputusan terkait hidup nona Ayesha."

__ADS_1


Ghiffary tersenyum menyeringai ke arah asisten pribadi Ayesha, "lalu kau," tunjuk Ghiffary. "Kau siapa? Bukankah kau pun tak jauh berbeda dengan diriku. Kau hanyalah asisten pribadi Yesha, jadi kau lebih tak berhak daripada aku. Berbeda dengan aku, aku memiliki hak untuk melarangnya menikah dengan lelaki lain karena ... "


"Stop!" pekik Ayesha kalut. Ia tak mau rahasia siapa pemilik benih yang kini telah tumbuh menjadi janin itu diketahui orang lain. "Kalian apa-apaan, hah buat keributan di ruangan ku! Kalau kalian hanya ingin membuat keributan, lebih baik pergi dari sini! Keluar!" bentak Ayesha murka.


"Tapi nona," baru saja Defri hendak melangkah mendekati Ayesha, Ayesha sudah lebih dahulu mengangkat tangan dan mengibaskannya sebagai isyarat memintanya segera pergi.


Melihat Ayesha mengusir Defri, membuat Defri tersenyum meremehkan. Defri berdecih lalu segera keluar dari ruangan itu.


"Dan kau," tunjuk Ayesha pada Ghiffary"kenapa masih di sini? Keluar!" titahnya sambil mengerjapkan mata karena merasa pusing amat sangat mendera kepalanya.


"Sha, kamu tidak apa-apa?" tanya Ghiffary panik. Ghiffary langsung bergerak dan hendak memapah tubuh Ayesha yang hampir saja luruh ke lantai lalu membantunya duduk di salah satu sofa. Kemudian Ghiffary mengambil segelas air putih hangat dari dispenser yang ada di ruangan itu dan memberikannya pada Ayesha.


"Minum ini!" ujar Ghiffary lembut sambil menyodorkan segelas air hangat ke dekat wajah Ayesha.


Ayesha yang diperlukan seperti itu, lantas memundurkan tubuhnya. Tangannya terulur mengambil air hangat ini dan meneguknya hingga tinggal setengah.


"Terima kasih," ujar Ayesha datar. Ghiffary hanya terdiam sambil menatap lekat wajah pucat Ayesha.


Ayesha menggeleng, "lebih baik kau pergi sekarang! Aku tidak ingin bicara denganmu," ketus Ayesha.


"Kenapa? Kenapa kau terus menghindar? Kau sadar, kau itu sedang hamil anakku. Kau pikir aku tak tahu? Bahkan aku lebih dahulu menyadarinya saat pertama kali mendengar kau menginginkan bubur ayam. Kenapa tidak berterus terang, hah?" tanya Ghiffary sambil menatap tajam Ayesha.


Ayesha mendengus, "lalu kau ingin aku melakukan apa, hah? Meminta pertanggungjawaban? Melaporkan? Minta bayaran? Meminta dinikahi? Aku tak butuh semua itu. Sebab aku mampu menjaga dan membesarkan anakku sendiri," ucap Ayesha seraya tersenyum sinis.


"Dia bukan hanya anakmu, Yesha, tapi juga anakku. Tanpa ada aku, mana mungkin kau bisa hamil," ucap Ghiffary berusaha untuk tenang. Meskipun batinnya kini sedang bergejolak karena kesal dan marah Ayesha tidak memberitahukan tentang kehamilannya dan juga karena kesal mendengar asisten pribadi Ayesha yang menawarkan diri untuk menikahi Ayesha dan menjadi ayah bagi anaknya. Ghiffary benar-benar kesal dan marah. Namun sebisa mungkin ia menahan itu. Ia tak mau Ayesha makin menjauh dan menjaga jarak darinya. Meskipun mereka tidak saling mencintai, tapi ia ingin menikahi Ayesha dan bertanggung jawab atas segala perbuatannya beberapa Minggu yang lalu.


"Lalu kau mau apa, hah?" teriak Ayesha kesal.


"Menikahimu," jawab Ghiffary cepat.

__ADS_1


"Menikah? Hahaha ... tidak mau. Aku tidak mau menikah denganmu. Kau dengar, AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU!" berang Ayesha.


"Mengapa? Mengapa kau tidak mau, hah? Kau sedang hamil Yesha. Anak itu butuh status. Apa kau tak kasihan padanya kelak akan menyandang status sebagai anak haram? Kelak orang-orang akan menyebut dan menggunjingkannya sebagai anak haram, apa kau ingin anak kita diperlukan seperti itu?" balas Ghiffary tak kalah berang. "Dan apa kau tahu, di negara kita anak-anak tidak bisa sekolah tanpa adanya akta kelahiran. Dan salah satu syarat membuat akta kelahiran adalah adanya buku nikah, apa kau ingin anak itu tidak bisa bersekolah karena tidak memiliki akta kelahiran? Aku tidak ingin anakku mengalami hal seperti itu, Sha. Karena itu, mari kita menikah. Aku akan bertanggung jawab atas segala yang ku perbuat malam itu. Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Izinkan aku menjadi ayah dari anak itu, aku mohon Sha. Jangan egois! Anak itu butuh kita. Butuh orang tuanya. Kau mau kan menikah dengan ku?"


"Aku bisa menikah dengan orang lain," ketus Ayesha yang masih kekeh tidak ingin menikah dengan Ghiffary.


"Kenapa? Jelaskan alasanmu!" tanya Ghiffary penasaran dengan alasan Ayesha tidak ingin menikah dengannya.


"Karena itu kamu, tuan Ghiffary Ramadhan dan aku tidak menyukaimu atau lebih jelasnya aku membencimu," tegas Ayesha dengan sorot mata tajam.


Ghiffary tertegun di tempat saat melihat tatapan mata Ayesha yang sepertinya tidak main-main. Apakah semarah itu Ayesha padanya sehingga ia tak mau menerima pertanggungjawabannya? Apakah Ayesha begitu sakit hati atas perbuatan dan juga kata-katanya sehingga ia menjadi begitu membencinya?


"Terserah kau mau menolak ku bagaimana pun. Mau puluhan kali maupun ratusan kali, aku akan berusaha untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku. Terlebih lagi di rahimmu ada calon anakku. Dan aku takkan pernah membiarkan orang lain dipanggil ayah oleh anakku. Anakku adalah milikku. Hanya aku yang pantas dipanggil ayah oleh anakku karena aku ayahnya. Camkan itu!" tegas Ghiffary sebelum pergi meninggalkan ruangan Ayesha.


Ayesha termenung seorang diri. Bingung dan dilema ia rasakan. Ayesha menolak bukan tanpa alasan. Alasan yang hanya ia yang tahu.


Saat sedang termenung, seseorang mengetuk pintu. Ternyata dari luar masuk seorang office girl yang membawa nampan sepertinya berisi makan siang. Tapi kenapa tiba-tiba ada seorang office girl yang mengantarkan makan siang? Sebab biasanya ia selalu makan di luar atau terkadang memesan dari luar bila ia sedang sibuk.


"Maaf Bu, saya ingin mengantarkan makan siang Anda. Tadi ada seorang pria yang menyiapkan ini dan meminta saya mengantarkannya ke ruangan Anda," tukas office girl itu membuat Ayesha mengerutkan keningnya.


"Siapa?" tanya Ayesha penasaran.


"Saya juga tidak tahu, Bu. Sepertinya dia bukan karyawan di sini karena saya baru kali ini melihatnya," jawab OG itu jujur.


Setelah OG itu pergi, Ayesha memandang bingung ke arah menu makan siang yang terlihat begitu menggugah seleranya itu.


"Siapa yang menyiapkan ini? Apa mungkin?" Pikiran Ayesha kini hanya tertuju satu orang.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2