
Ayesha termenung di kamarnya. Hatinya merasa perih karena telah membuat wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini 21 tahun yang lalu bersedih. Ibunya tidak marah dengan apa yang menimpa dirinya. Ia justru menyalahkan dirinya sendiri yang merasa tak mampu menjaga putri satu-satunya itu sehingga harus mengalami hal menyedihkan ini. Ia bersyukur, ia memiliki ibu yang sangat bijak. Karena memang sejatinya hal ini bukanlah murni kesalahannya. Ayahnya justru mengatakan, ini takdir. Jadi ia harus menerima pernikahan ini dengan lapang dada, tapi apa mungkin bisa? Sedangkan sisi egois Ayesha yang selama ini bersembunyi justru muncul ke permukaan. Membuatnya seakan membenci sosok Ghiffary, ayah biologis dari anak yang ada di dalam kandungannya.
"Sha, ayo turun, sayang! Mungkin sebentar lagi orang tua calon suami kamu datang," ujar Luna yang kini telah berdiri di belakang Luna yang sedang duduk di depan meja riasnya. Kedua ibu dan anak itu bertukar pandang melalu cermin yang ada di depannya. Luna meremas pundak Ayesha untuk meyakinkannya dengan apa yang akan ia jalani mulai hari ini.
Mata Ayesha memerah melihat mata sang ibu yang terlihat sembab. Meskipun telah ditutup dengan concealer, tapi masih saja tidak bisa menutupi dengan sempurna riak kesedihan yang tersurat di bola mata nan jernih itu
"Maafin Yesha ya, Mi, udah buat Mami kecewa," ujar Ayesha dengan mata berkaca-kaca. Sungguh besar rasa penyesalannya pada sang ibu. Padahal setahu dirinya, menjaga anak perempuan itu merupakan tiket bagi orang tuanya menuju surga. Namun kini, apa yang telah ia berikan pada orang tua yang begitu menyayanginya itu? Ia justru melemparkan kotoran ke muka mereka. Sungguh rasa bersalah ini begitu besar.
"Udah sayang, jangan bersedih lagi. Ingat, kamu sedang hamil sekarang. Kalau kamu memang menyayangi mami dan papi, jagalah kandunganmu dengan baik. Anakmu tidak bersalah dalam hal ini. Malah sebenarnya kalian tidak murni bersalah. Mungkin sudah takdirnya seperti ini. Mami hanya bisa berdoa, semoga rumah tangga kalian akan bahagia. Meskipun saat ini tak ada cinta, semoga cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu," ujar Luna menasihati seraya mengusap surai Luna yang dikepang ke samping kiri kepalanya.
"Luna, Yesha, itu mobil keluarga calon suami kamu kayaknya udah sampai di depan gerbang, ayo kita sambut mereka," seru Anggi dari depan pintu.
"Iya, mbak," sahut Luna. "Ayo, sayang!" Luna menghela tubuh Ayesha agar berdiri. Mereka pun segera menuju ke lantai satu untuk menyambut kedatangan Ghiffary dan keluarganya.
Tampak dua buah mobil masuk melalui gerbang super tinggi dan kokoh rumah Aglian. Mobil-mobil itu berhenti di carport dengan berjajar rapi. Lalu dari dalamnya keluar beberapa orang. Satu mobil tampak keluar sepasang suami istri beserta dua orang anaknya, sedangkan satu lagi dua orang pria berbeda generasi. Sebelum masuk, mereka tampak merapikan pakaian mereka kemudian mengeluarkan bawaan mereka.
Aglian, Luna, Anggi, Diwangga, Damar, Algatra, dan Algara pun segera beranjak menuju pintu untuk menyambut kedatangan tamu mereka saat mendengar derap langkah sudah kian mendekat. Namun, hal tak terduga terjadi saat tuan rumah melihat para tamunya itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," seru para tamu yang merupakan keluarga Ghiffary.
"Wa'alaikum salam." Aglian, Diwangga, Damar, Algara, dan Algatra.
"Wa ... 'alaikum salam," jawab Anggi dan Luna dengan mata membulat. Segera mereka berdua menormalkan ekspresi mereka saat melihat wajah tamu mereka yang tak kalah shock.
"Kentang," seru Luna seakan belum percaya dengan apa yang ia lihat.
"Lu-Luna," seru Kentaro terbata. Kentaro sampai mengucek matanya berkali-kali, meyakinkan ia tak salah melihat.
'Anggi? Astaga, kejutan apa ini? Di masa lalu aku gagal mendekatinya, pun Kentaro gagal mendapatkan adik angkatnya, lalu kini justru anak Ken menghamili anak wanita yang dicintainya.' Batin Azam bermonolog. Ia yang merupakan saudara Kentaro satu-satunya tentu harus ikut menemani Kentaro melamar calon menantunya yang ternyata putri keluarga Angkasa.
"Mas, kayaknya ini kalau dibuat cerita judulnya jodoh yang tertunda ya Mas," bisik Erika pada Azam sambil memasang senyum elegan. Padahal dalam hati ia ingin tergelak. Azam berusaha tersenyum sopan. Ia tentu harus menjaga wibawanya.
"Ayo, silahkan masuk!" ajak Aglian setelah mereka bersalaman, mencoba untuk bersikap tenang.
Dengan senyum canggung, Luna mempersilahkan para tamunya untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Ayesha dan Ghiffary tampak heran melihat orang tua mereka yang sepertinya saling mengenal. Tapi Ghiffary heran, kenapa ibu Ayesha justru memanggil ayahnya dengan sebutan Kentang. Ghiffary curiga sepertinya orang tuanya dan orang tua Ayesha pernah memiliki cerita. Makin terlihat jelas saat baik ayahnya maupun ibu Ayesha terlihat canggung.
"Sebelumnya, saya selaku ayah Ghiffary memohon maaf sebesar-besarnya atas perbuatan putra saya. Saya tahu, pasti tuan Lian sekeluarga sangat kecewa dengan apa yang telah terjadi. Untuk itu, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Ghiffary, saya ingin melamar putri tuan dan nyonya untuk putra kami," ujar Kentaro langsung membuka percakapan. Sebenarnya ia ingin sekali berbasa-basi dengan menyapa Luna dan menanyakan kabarnya, apalagi mereka sudah tidak pernah bertemu lebih dari 20 tahun yang lalu. Kentaro akui, kecantikan Luna tak pernah berubah meskipun usia mereka tak lagi muda. Tapi ia tak mungkin melakukannya sebab ia tahu betapa posesifnya Aglian. Bahkan Aglian dulu tak segan-segan segera menyusul mereka di Bali saat tahu kalau mereka hendak berkencan.
"Sebenarnya hal tersebut bukanlah murni kesalahan putra Anda. Seperti yang saya katakan pada putri saya, Ayesha, mungkin ini sudah takdir. Jadi jalani saja," sahut Aglian bijak.
Aglian sebenarnya tak menyangka bila calon besannya adalah Kentaro. Laki-laki yang pernah membuat ketenangannya terusik sehingga menyadari kalau ia mencintai Luna. Lelaki masa lalu Luna yang juga sudah membuat dirinya segera menikahi Luna kala itu.
Mereka lantas segera mendiskusikan kapan keduanya akan dinikahkan. Mereka tak boleh menunda-nunda waktu lagi sebab perut Ayesha pasti akan makin membesar dan mereka tak ingin membuat Ayesha jadi bahan perbincangan para netijen julid saat kehamilannya di luar pernikahan terekspos.
Setelah menyepakati pernikahan akan diadakan 1 bulan ke depan, keluarga Ghiffary pun diajak Anggi dan Luna ke ruang makan untuk menikmati santapan yang telah terhidang.
Setelah makan dan sedikit berbincang, mereka pun segera pamit pulang. Sepanjang perjalanan, Kentaro tampak terdiam. Pikirannya berkecamuk. Ia benar-benar tak menyangka bisa bertemu kembali dengan Luna tapi dengan hubungan yang unik, yaitu calon besan. Melihat perubahan ekspresi ayahnya saat melihat ibu Ayesha tadi terang saja membuat Ghiffary bertanya-tanya sebenarnya apa hubungan mereka di masa lalu?
...***...
...Happy Reading π₯°ππ₯°...
__ADS_1