Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 42 Permintaan maaf


__ADS_3

Di sebuah cafe, tampak Ayesha sedang duduk berdua dengan Ramon. Tak jauh dari posisinya, ada 2 orang utusan Aglian yang selalu stand by memantau semua apa yang dilakukan putri atasan mereka.


Awalnya sebenarnya Ayesha menolak berbicara dengan Ramon, tapi ia memohon dengan amat sangat. Setelah tahu dirinya ada yang menjaga, ia pun mengiyakan ajakan Ramon. Sebab ia pun penasaran dengan alasan Ramon ingin mengajaknya bertemu.


Diam-diam ia juga mengirimi Ghiffary pesan mengenai pertemuan ini. Ia tak mau merahasiakan apapun dari suaminya. Ia akan berusaha terbuka pun jujur demi menjaga rumah tangga mereka agar selalu terjaga baik.


Sementara itu, di Mega Architecture, Ghiffary membelalakkan matanya saat membaca pesan dari sang istri.


[Kak, Yesha akan ke Cafe Bintang yang ada di Angkasa Mall. Ramon, laki-laki yang menjebak Yesha dengan afrosidiak ingin bertemu membicarakan sesuatu. Yesha mohon izin ya! ]


"Ramon? Pria yang sudah menjebaknya dengan afrosidiak? Apa laki-laki inilah yang menyebabkan kami tidur bersama malam itu? Ngapain dia balik lagi? Sial. Bagaimana kalau dia kembali ingin menjebak Yesha? Nggak akan aku biarkan," gumamnya dengan rahang mengeras dan tangan mengepal.


Lalu Ghiffary pun gegas meraih kunci mobilnya dan pergi melajukan mobilnya secepat mungkin untuk menghindari hal-hal buruk yang bisa saja terjadi.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Apa begitu penting hingga kau rela melintasi antar benua?" desis Ayesha dingin.


Ramon sampai menghela nafas panjang untuk meredam kegelisahannya. Ia tak menyangka, gadis ceria yang disukainya ini bisa menjadi sedingin es seperti ini.


"Maaf," cicit Ramon akhirnya dengan wajah sedikit menunduk. Lalu matanya seketika terpaku dengan gundukan kecil di perut Ayesha.


'Apa Ayesha sedang hamil? Tapi ... bukankah minuman malam itu tidak benar-benar diminumnya? Atau jangan-jangan sebenernya misiku itu berhasil tapi ... dengan siapa Ayesha tidur? Kurang ajar. Siapa laki-laki brengsekkk itu?' Ramon membatin. Ada rasa sedih, marah, kecewa, dan juga penyesalan dengan perbuatannya sebelumnya yang mengakibatkan Ayesha membenci dirinya.


"Maaf?" sarkas Ayesha dengan satu sudut bibir naik ke atas.


"Iya, Cantik, aku mohon maafkan kesalahanku. Aku menyesal telah berusaha memilikimu dengan cara yang kotor. Aku berusaha menemuimu ke mari murni karena ingin meminta maaf. Tak ada tujuan lain. Semenjak kejadian itu, aku selalu dihantui rasa bersalah. Dari hati yang paling dalam, aku mohon maafkanlah segala kesalahanku. Aku menyesal, cantik. Sungguh," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Dapat Ayesha lihat dengan jelas, sorot mata Ramon memang penuh dengan penyesalan. Ayesha bingung, ia berusaha menenangkan gemuruh di hatinya. Mengingat perbuatan Ramon, membuatnya kembali mengingat bagaimana ia telah membuat kedua orang tuanya kecewa. Rasa amarah itupun masih berkobar. Karena Ramon ia hamil diluar nikah.


"Ayesha, aku mohon, maafkan aku. Sudah cukup hukuman yang kau beri. Kau tahu, akibat tendanganmu waktu itu, ditambah pukulan dari bodyguard mu, aku jadi kehilangan kemampuan e reksi. Milikku tidak bisa bangun. Selama beberapa bulan ini aku sedang menjalani pengobatan. Mungkin ini hukuman karena niat burukku padamu. Aku mohon, maafkan aku," melas Ramon.


Ayesha membulatkan matanya saat mendengar hal tersebut. Ia memang sempat menyumpahi Ramon agar menderita impotensi, tapi ia benar-benar tak menyangka kalau kata-katanya benar-benar terjadi.

__ADS_1


Ayesha menghela nafas panjang, kemudian mengangguk. Sepertinya berdamai dengan masa lalu tidak terlalu buruk. Allah saja maha pengampun, masa' ia yang hanya manusia biasa tidak mau memberikan maaf.


"Baiklah, aku maafkan. Tapi mulai saat ini aku tidak bisa lagi menjadi temanmu. Mungkin ini merupakan pertemuan terakhir kita. Memaafkan bukan berarti melupakan. Kau memang gagal melakukan rencanamu, tapi karena perbuatanmu itu aku justru ... hah sudahlah. " Ayesha enggan melanjutkan kata-katanya. Tak ada yang perlu ia ceritakan pikirnya. Lagipula semua telah terjadi dan takkan mungkin bisa ia pulihkan ke keadaan semula. Ia hanya bisa menjalani. Setidaknya ia bersyukur, saat itu ia menghabiskan malamnya dengan lelaki yang bertanggung jawab yang kini telah menjadi suaminya.


"Maaf," ucap Ramon merasa bersalah.


"Sha-Yang," tiba-tiba suara seseorang yang begitu familiar masuk ke gendang telinga Ayesha. Kemudian orang itu langsung mengambil tempat duduk di samping Ayesha dan mengecup pipi kemudian mengusap pelan perut Ayesha. Semua itu tak lepas dari perhatian Ramon yang menatap sendu.


"Kak Fary ih, malu tau," protes Ayesha saat Ghiffary tanpa rasa malu mencium dirinya di muka umum.


"Ngapain malu sama istri sendiri juga," jawab Ghiffary tenang sambil melirik Ramon dengan ekor matanya.


"Cantik, terima kasih atas maaf yang mau beri. Aku terima keputusanmu walaupun sakit terasa. Aku maklum dengan keputusanmu itu," lirih Ramon membuat kedua orang di seberang meja menatapnya dengan sorot mata berbeda. Ghiffary menatapnya dengan tatapan tajam sebab ia tak menyukai keberadaan Ramon sama sekali. Sedangkan Ayesha memandangnya datar.


"Baiklah. Kalau begitu aku dan suamiku permisi dulu. Semoga kemampuan erek si mu segera pulih sehingga kau bisa menemukan pasangan dan menikah. Oh ya, aku tunggu undangan pernikahanmu. Selamat tinggal,"ucap Ayesha sebelum benar-benar pergi dari hadapan Ramon, meninggalkan laki-laki itu yang masih menatapnya.


"Sepertinya kesalahanku justru mempertemukanmu dengan seseorang yang tepat. Setidaknya apa yang aku lakukan tidak benar-benar menghancurkamu dan membuatku makin menyesal. Semoga kau bahagia, Ayesha," lirihnya sambil tersenyum samar.


...***...


Ayesha baru saja masuk ke dalam apartemen miliknya, sedangkan Ghiffary membawa masuk belanjaan Ayesha dan meletakkannya di meja makan.


Baru saja Ayesha masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan tas tangannya di atas nakas, sepasang lengan kekar justru memerangkapnya ke dalam pelukan mesra.


"Kak, Yesha mau mandi dulu! Lengket ini, emangnya nggak bau apa?" sergah Ayesha saat Ghiffary justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Ayesha dan menghisap permukaan kulitnya.


"Bau? Nggak tuh. Masih harum malah. Cuma agak asin-asin kecut aja sedikit," ujar Ghiffary membuat Ayesha melotot lalu mencubit punggang tangan Ghiffary yang berada di atas perutnya.


"Ya udah, lepasin! Yesha mau mandi," ketus Ayesha sambil mencebikkan bibirnya.


"Hehehe ... ngambek ya dikatain asin-asin kecut. Biar asin kecut, tapi tetap enak kok. Hmmm ... delicious ... " tutur Ghiffary sambil menjilati bibir bawahnya membuat Ayesha mengulum senyum.

__ADS_1


"Ck ... dasar!" Desis Ayesha dengan wajah bersemu merah.


"Oh ya, Sha-Yang, kamu belum cerita, jadi bule itu yang sudah jebak kamu tempo hari? Karena itu kamu nggak sadar salah masuk kamar yang berakhir kita melakukan skidipawpaw? Begitu?" cecar Ghiffary yang sudah penasaran.


Ayesha mengangguk masih dalam dekapan Ghiffary.


"Emangnya bisa kenal dia kayak gimana sih? Apa dia ... "


"Dia mantan Yesha," jawab Ayesha tak acuh.


Ghiffary sampai melorotkan matanya, "kamu pacaran sama bule sialan itu? Dah ngapain aja kamu sama si breng-sek itu? Kalau bukan di tempat umum, udah kakak hajar tuh bule sialan," cecarnya lagi. Bukan tanpa alasan, bukankah sudah rahasia umum bagaimana cara berpacaran orang-orang negara barat sana.


"Jadi kakak curiga aku macam-macam disana begitu?" tuding Ayesha dengan mata menyipit.


"Ya ... siapa tahu," jawab Ghiffary mengedikkan bahunya.


"Heh, asal kakak tahu ya, aku sama dia itu pacaran coba-coba aja biar dikata keren gitu sama temen-temen, nggak dikatain jomblo sepanjangan. Tapi Yesha tetap tahu mana yang boleh dan nggak. Malah yang ambil semua yang pertama dari diri Yesha itu kakak. Justru Yesha yang curiga sama kakak, pertama kali kita melakukannya kakak justru menyebut nama kekasih kakak itu, jangan-jangan kakak selama ini pacaran kayak gitu ya?" Mata Ayesha telah memicing. Bahkan ia telah membalik tubuhnya hingga saling berhadapan.


"Eh, mana ada. Serius deh. Kalau pun pernah, cuma tipis-tipis aja, cium pipi sama kening, dah itu aja."


"Serius gitu aja?"


"Iya, serius. Sumpah!" Ghiffary mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas.


"Uh, enak banget jadi kakak, semua dapat pertama, dan aku dapat setengah bekasnya."


"Eh, enak aja bekas. Emang kakak ini rongsokan. Dah yuk, kita mandi bareng aja. Dah gerah nih! Gerah luar dalam. Pingin yang adem-adem nikmat, " ujar Ghiffary seraya mengulum senyum. Ia lantas segera mengangkat Ayesha menuju kamar mandi untuk menuntaskan misi skidipawpaw-nya.


"Kak Fary ... " pekik Ayesha terkejut saat tubuhnya telah melayang di udara.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2