Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 43 Perkara masa lalu


__ADS_3

Tak terasa, kehamilan Ayesha kini telah menginjak bulan ke-7. Untuk keamanan dan jaga-jaga, Ghiffary dan Ayesha memilih pulang ke rumah orang tua Ayesha.


Tentu Aglian dan Luna menyambut bahagia keinginan putri dan menantunya itu. Mereka pun berpikir demikian. Apalagi Luna cukup berpengalaman menghadapi masa kehamilan jadi ia bisa memantau dan memberikan nasihat pada sang putri agar Ayesha dapat menghadapi masa kehamilannya dengan baik dan tenang.


Ghiffary tampak sedang duduk santai di sofa yang ada di kamar Ayesha, sedangkan Ayesha kini sedang memeriksa beberapa laporan di ruang kerjanya.


Saat sedang bersantai, tiba-tiba Ghiffary melihat sebuah benda berbentuk buku yang cukup tebal di sebuah lemari kaca yang ada di kamar itu. Ghiffary pun segera bangkit dari sofa dan segera beranjak mendekati lemari itu dan mengambil buku tebal yang ternyata sebuah album foto.


Merasa tertarik, Ghiffary pun mengambil album foto berwarna biru itu dan membawanya ke sofa. Dibukanya lembar demi lembar album foto yang ternyata dokumentasi Ayesha pasca sekolah dari taman kanak-kanak, SD, SMP, hingga SMA.


Ayesha kecil ternyata memiliki perawakan mungil dan sangat imut.


"Menggemaskan," puji Ghiffary seraya tersenyum kecil saat melihat foto Ayesha saat bersekolah di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.


Kemudian Ghiffary lanjut melihat foto Ayesha saat SMP. Di foto itu, Ayesha masih berperawakan kecil, entah itu Ayesha pada usia berapa sebab setahunya Ayesha memang mengikuti kelas akselerasi sama seperti dirinya. Bedanya Ayesha ternyata lebih cepat lulus dibandingkan dirinya.


Kemudian Ghiffary melanjutkan membuka lembaran selanjutnya. Itu merupakan kumpulan foto Ayesha saat mengenakan seragam putih abu-abu. Di foto itu, penampilan Ayesha sedikit berubah. Ayesha saat itu mengenakan kacamata yang cukup tebal. Namun tetap terlihat manis dan imut. Tapi makin lama Ghiffary perhatikan, wajah Ayesha di foto itu tampak begitu familiar hingga ia menemukan foto Ayesha yang memegang piala juara 1 olimpiade matematika beserta tahun dan asal sekolah. Mata Ghiffary terbelalak saat menyadari mereka ternyata bersekolah di satu sekolah yang sama. Bahkan saat olimpiade itu berlangsung, ia turut serta sebagai peserta namun ia gagal untuk maju ke babak final.


Mata Ghiffary mengerjap tak percaya. Ia masih ingat, saat itu ia kerap saling bertukar sapa dengan Ayesha. Meskipun usianya lebih muda dari dirinya, tapi kelas Ayesha lebih tinggi. Hingga suatu hari, Ayesha mengirimkan sebuah surat padanya. Belum sempat ia membalas surat itu, tiba-tiba Ayesha menghilang begitu saja. Tidak ada yang tahu siapa Ayesha sebenarnya, dimana rumahnya, maupun nama orang tuanya. Sejak itu, Ayesha benar-benar menghilang bagai ditelan bumi.


"Kak," panggil Ayesha saat masuk ke dalam kamar. Tapi karena terlalu sibuk dengan lamunannya, Ghiffary tidak menyadari kedatangan Ayesha maupun mendengar panggilannya.


Penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya hingga tidak menyadari kedatangannya, Ayesha pun mendekat dan seketika membelalakkan matanya.


Greppp ...


Secepat kilat, Ayesha menarik album foto itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya.


"Sha-Yang." Ghiffary tersentak saat album foto di pangkuannya tiba-tiba diambil. "Lho, kok album foto diambil sih, Yang?" protes Ghiffary tak terima album foto itu diambil begitu saja sebab ia belum selesai melihat semua foto-foto istrinya di dalamnya.


"Nggak, kakak nggak boleh lihat," sergah Ayesha seraya mendelik tajam.


Mata Ghiffary memicing, "kenapa nggak boleh lihat? Apa kamu merahasiakan sesuatu dari kakak, hm?" Ghiffary telah berdiri dan perlahan mendekati Ayesha yang ikut mundur perlahan.


"Nggak kok, nggak ada," kilah Ayesha. "Yesha, Yesha cuma malu..Ya, malu. Yesha dulu jelek banget kan kak! Pake kacamata tebal, pipi jerawatan,"tukasnya. Memang benar, saat itu kulit wajahnya tumbuh banyak jerawat dan beruntusan membuatnya kerap insecure untuk berteman.


"Jelek? Kata siapa? Kamu manis kok. Cantik juga dan menggemaskan. Apalagi saat kamu sedang berpikir, kamu kelihatan berkali-kali lebih cantik," tukas Ghiffary membuat Ayesha kian membelalakkan matanya.


'Apa kata kak Fary tadi? Saat aku sedang berpikir, aku kelihatan berkali-kali lebih cantik. Apa mungkin kak Fary ingat tentangku?'


Gleg ...

__ADS_1


Ayesha menelan ludahnya, was-was. Ia mendadak cemas. Apalagi saat memorinya terlempar ke masa lalu. Memori patah hati pertamanya yang membuatnya memilih pindah sekolah demi ketenangan batinnya.


"Kenapa? Heran akhirnya kakak ingat? Kenapa kamu makin mundur? Ada yang perlu kamu jelaskan kenapa kamu nggak cerita ke kakak kalau kita dulu satu sekolah?" cecar Ghiffary sambil terus melangkah hingga Ayesha kini tersudut di dinding kamarnya.


"Nggak. Ingat apa? Memangnya kenapa Yesha harus cerita kalau kita pernah satu sekolah? Apa pentingnya coba?" sahut Ayesha gugup.


"Penting. Tentu sangat penting. Ternyata kita pernah mengenal satu sama lain sebelumnya tapi kamu nggak cerita. Pantas aja di pertemuan dan pertengkaran pertama kita di London, kamu panggil aku kak Fary. Kakak sempat heran dan penasaran saat itu. Kakak sempat ingin menanyakannya, tetapi lupa. Ternyata ... itu karena memang kita saling mengenal. Tapi kenapa kamu pura-pura tidak kenal? Kenapa kamu nggak bilang? Dan ... kenapa kamu saat itu tiba-tiba saja menghilang?" cecar Ghiffary membuat Ayesha kian gugup.


"Itu ... itu karena ... "


Ayesha kian gelagapan apalagi kini wajah Ghiffary tepat berada di depan wajahnya. Nafas hangatnya menyapu wajahnya membuat Ayesha kian gugup.


"Apa karena kamu malu sudah kirim surat ke kakak? Atau ... karena kakak belum sempat membalas surat darimu? Jelaskan, Sha-Yang! Jangan ada yang ditutup-tutupi! Sumpah, kakak benar-benar penasaran."


Ayesha mengerutkan keningnya, "belum sempat membalas?"


Ghiffary mengangguk pasti, "ya, maaf, saat itu ayah kecelakaan jadi aku nggak sempat balas surat darimu. Sepulang sekolah, kakak langsung ke rumah sakit untuk menjaga ayah. Kakak baru ingat surat itu di hari ke tiga setelah ayah diizinkan pulang ke rumah. Memang kenapa? Apa kamu pindah begitu saja karena kakak belum sempat membalas?"


Mata Ayesha membola. Lalu ia mendorong tubuh Ghiffary agar memberinya jalan. Kemudian, ia membuka laci nakas dan mengambil sebuah amplop yang ia selipkan di ujung laci bagian paling bawah. Ghiffary bingung melihat sikap Ayesha yang tiba-tiba aneh. Kemudian Ayesha meletakkan amplop itu ke atas tangan Ghiffary.


"Apa ini?" tanya Ghiffary bingung.


"Baca saja dan ini alasan Yesha tiba-tiba saja menghilang saat itu," tukas Ayesha membuat Ghiffary penasaran dan segera membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas yang ada di dalamnya.


Heh, gadis culun, berhenti kirim-kirim surat! Loe pikir loe itu cantik. Cupu aja sok kecantikan. Jangan hanya karena gue suka negur loe jadi loe ke'geeran! Gadis cupu bin culun kayak loe, nggak pantes buat gue. Nggak perlu kirim-kirim surat lagi, ingat. Muak gue liat muka loe!


Ghiffary meremas surat itu dan menatap sendu bola mata Ayesha.


"Jadi karena ini kamu pergi?" tanya Ghiffary lirih.


Ayesha menunduk seraya mengangguk lemah.


"Sha-Yang, kamu percaya aku bisa berkata seperti itu?"


"Mana Yesha tau. Surat itu aja dikirim cewek yang selalu ngekorin kakak kemanapun, gimana untuk nggak percaya coba," ketus Ayesha memalingkan wajahnya. Mengingat hal tersebut, ia benar-benar kesal.


"Jadi surat ini dari Restya?"


"Restya?"


"Iya, perempuan yang selalu ngekorin aku itu dia."

__ADS_1


Ayesha mencebikkan bibirnya. Wajahnya berubah masam. Ternyata Ghiffary telah berhubungan dengan Restya sejak SMA. Pantas saja Restya yang membalas surat darinya, ternyata itu karena mereka telah menjalin hubungan masa itu. Wajar saja Restya cemburu dan mengirimkannya surat itu.


"Heh, kenapa wajahmu mendadak ditekuk gini? Cemburu, hm?" goda Ghiffary.


"Dih, ngapain cemburu! Rugi banget," ketus Ayesha seraya memalingkan wajahnya.


"Udah, ngaku aja. Kamu cemburu kan? Maafkan Restya ya! Kakak benar-benar nggak tahu dia sampai nekat kayak gitu."


"Yalah, Yesha ngerti kok. Mana ada perempuan yang terima kekasihnya dapat surat cinta dari perempuan lain."


"Kekasih? Waktu itu kami belum pacaran kok. Justru sebenarnya kakak mau balas surat kamu, tapi sayang, saat kakak mau serahin suratnya, kamu udah nggak ada," ucap Ghiffary sungguh-sungguh membuat Ayesha membulatkan matanya.


"Bohong. Nggak percaya. Nggak usah ngibul deh!" sahut Ayesha tak percaya.


"Kakak serius, Sha-Yang. Kalau nggak percaya, nanti pas kita pulang ke rumah ayah, kakak tunjukkin," ujar Ghiffary mencoba meyakinkan.


"Kakak serius?"


"Sepuluh rius malah," sahut Ghiffary seraya terkekeh.


"Kak Fary, Yesha serius. Malah bercanda," protes Ayesha yang sudah mencebikkan bibirnya.


Ghiffary terkekeh geli lalu mengecup bibir Ayesha yang candu baginya, "kakak serius Sha-Yang. Jadi, dulu sebenarnya perasaan kamu itu nggak bertepuk sebelah tangan."


Sontak saja wajah Ayesha bersemu merah. Ia tak menyangka, perasaannya dulu bersambut. Tapi sayang, karena kecemburuan Restya, ia salah paham dan pergi begitu saja.


"Kalau sekarang? Perasaan kakak kayak gimana?" tanya Ayesha lagi yang kadung penasaran.


"Kalau sekarang ... "


*


*


*


*


*


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2