Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 35 Tak pernah berubah


__ADS_3

Ayesha dan Ghiffary baru saja pulang dari lokasi proyek pembangunan Savior Hotel. Setibanya di kamar, Ayesha langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kehamilannya membuat Ayesha kini begitu mudah kelelahan. Mata Ayesha terpejam setelah ia menemukan kenyamanannya. Ghiffary yang melihat itu, melepas simpul dasinya terlebih dahulu, kemudian membuka kancing di pergelangan tangannya. Setelahnya, tanpa sungkan ia duduk di lantai dan membantu Ayesha melepaskan sepatunya membuat Ayesha berjengit kaget.


"Kak," pekik Ayesha terkejut saat merasakan kakinya bersentuhan dengan jemari milik suaminya itu.


"Rebahan aja dulu. Biar kakak yang bantu lepasin sepatu kamu," ujar Ghiffary penuh perhatian.


Ayesha justru menarik kakinya, tak elok rasanya membiarkan suami melepaskan sepatu istri meskipun itu kehendak suaminya sendiri.


"Nggak usah kak. Aku bisa sendiri. Kakak jangan duduk di situ ih, nggak enak lihatnya," ujar Ayesha yang dijawab gelengan kepala oleh Ghiffary.


"Udah, nggak usah nggak enakan gitu, Sha. Kakak senang kok melakukannya. Kakak tahu, pasti kamu merasa lelah banget kan. Apalagi kondisi kamu sedang hamil kayak gini. Sebagai seorang suami, kakak harus bisa bertanggung jawab. Bukan hanya bisa membuat kamu mengandung aja, tapi juga bisa meringankan beban kamu, membantu kamu juga. Selagi kakak mampu, kakak akan lakukan apapun untuk kenyamanan kamu. Jadi nggak perlu ngerasa nggak enakan gitu, oke!" ucap Ghiffary sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Tapi Yesha kan istri kak. Nggak elok rasanya membiarkan seorang suami kayak gini. Yah, walaupun Papi pun nggak jauh berbeda dari kakak. Papi pun begitu perhatian dan super romantis sama mami. Kadang Yesha jadi iri, mungkinkah bisa mendapatkan pasangan seperti papi ke mami?"


"Terus sekarang masih iri? Katanya sikap kakak nggak jauh beda dari sikap papi ke mami?"


"Masih iri lah. Biar kakak sikapnya udah kek papi ke mami, tetap ada yang beda."


"Apa? Apa bedanya?" tanya Ghiffary penasaran. Anggap saja Ghiffary sedang belajar menjadi seorang suami yang baik terhadap istrinya. Mau belajar dari sang ayah, ayahnya saja single parent. Ia tak pernah melihat bagaimana cara sangat ayah memperlakukan mendiang ibunya selama ini. Jadi ia tidak memiliki cerminan sama sekali untuk belajar.


"Mau tau bedanya?"

__ADS_1


Ghiffary mengangguk pasti, kemudian Ayesha pun menjawab dengan lugas membuat Ghiffary terdiam.


"Cinta. Papi sangat mencintai mami. Papi bahkan tak pernah membiarkan seorang pun menyakiti mami. Papi merupakan garda terdepan sebagai pelindung mami. Bahkan papi nggak pernah sekalipun membentak mami. Perjalanan cinta mami dan papi pun nggak mulus. Sama kayak mama Anggi, perjalanan cintanya pun nggak mulus. Setelah dikhianati, dapat pengganti yang jauh lebih baik. Tapi ujian masih aja ada. Baik mami maupun mama Anggi pernah hampir celaka. Tapi keduanya mampu bertahan karena ada sosok yang begitu mencintai mereka dan selalu bersedia berkorban jiwa dan raga demi dua wanita hebat itu. Karena itu, kalau banyak para cewek ngidolain artis dan aktor Korea, kalau Yesha justru mengidolakan mami, papi, mama Anggi, dan papa Angga. Mereka emang yang terbaik," seru Ayesha dengan binar penuh kebanggaan. "Nah, sekarang kakak paham kan perbedaannya. Hanya satu kata, tapi efeknya begitu berbeda. Satu kata yang tidak ada dalam hubungan kita," sambungnya lagi.


Ghiffary terdiam mendengarkan setiap tutur yang terucap dari bibir Ayesha. Kemudian Ghiffary meraih tangan Ayesha dan menggenggamnya erat seraya mengatakan sesuatu yang mampu membuat jantung Ayesha bergemuruh seperti genderang yang sedang ditabuh.


"Suatu hari nanti, kakak akan membuat nama kakak jadi salah satu idolamu itu. Kakak akan buktikan, kakak pun dapat kamu banggakan. Dan kakak akan tunjukkan kalau cinta kakak pun layak untuk kamu banggakan dan perjuangkan," ucap Ghiffary tanpa ada keraguan sedikitpun.


Setelah mengatakan itu, Ghiffary pun berdiri dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ayesha sambil mengusap pipinya lembut membuat Ayesha menegang kaku.


"Kalau begitu kakak mandi dulu ya!"


Ghiffary mengecup sudut bibir Ayesha, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Ayesha yang sudah jedag-jedug karena sikapnya yang ... sungguh manis.


Ayesha menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya. Wajahnya bersemu merah dengan senyum yang tercetak jelas di bibirnya.


"Astaga, bisa-bisa aku kena diabetes kalo kak Fary terus-terusan kayak gitu. Mami, papi, jantung Yesha kok jedag-jedug kayak gini sih?" gumamnya sambil guling-guling di kasur.


Tak jauh berbeda dengan Ayesha, setelah masuk ke kamar mandi, Ghiffary langsung menyandarkan punggungnya di pintu. Dirabanya jantungnya yang sudah seperti pintu yang sedang digedor-gedor. Dug .... dug ... dug ... dug ... dug ...


"Astaga, jantungku! Apa mungkin sebenarnya aku sudah jatuh cinta padanya ya? Yesha, Ayesha ... Awalnya ku pikir mungkin aku takkan pernah lagi jatuh hati setelah dikhianati. Tapi nyatanya ... kehadiranmu dan calon buah hati kita bagaikan oase di padang tandus. Menyegarkan."

__ADS_1


...***...


Ghiffary dan Ayesha baru saja menyelesaikan makan malamnya. Karena kelelahan, mereka memilih layanan kamar untuk membantu menyiapkan makan malam mereka. Setelah makan malam, Ghiffary pun mengajak Ayesha duduk bersantai di balkon kamar yang teoqy menghadap ke arah pantai.


"Kak Fary mau kemana?" tanya Ayesha saat melihat Ghiffary beranjak hendak masuk kembali. Padahal mereka saja baru beberapa menit yang lalu duduk di sana.


Tak menjawab, Ghiffary justru meneruskan langkahnya masuk ke dalam membuat Ayesha mengerucutkan bibirnya kesal. Namun tak lama kemudian, Ghiffary keluar lagi dengan sebuah selimut tebal di tangannya.


Kemudian, Ghiffary menyelimuti tubuh Ayesha membuat perempuan itu terkejut dengan perlakuannya.


"Di sini dingin. Aku nggak mau kamu dan calon anak kita jadi sakit," ujar Ghiffary sambil mengusap puncak kepala Ayesha.


Setelahnya, Ghiffary pun ikut merebahkan punggungnya di samping Ayesha. Melihat Ghiffary, pelan-pelan Ayesha beringsut memeluk lengan suaminya itu. Ghiffary sampai terkesima dengan inisiatif Ayesha. Ini merupakan pertama kalinya Ayesha berinisiatif mendekatkan diri padanya. Rasa bahagia membuncah di dalam dada. Ternyata perlahan, Ayesha mulai mencair. Ia mulai menerima keberadaan dirinya sebagai seorang suami. Ghiffary pun tanpa ragu merengkuh pundak Ayesha hingga kepala Ayesha kini sudah merebah di pundak Ghiffary. Dengan tangan satunya, Ghiffary mengusap perut Ayesha yang tertutup selimut. Ayesha merasakan kenyamanan yang tiada terkira. Ayesha makin menyadari, kalau ternyata perasaannya tak pernah berubah untuk laki-laki itu. Ya, sejak dahulu Ayesha telah menyukai Ghiffary. Ia pikir, karena kejadian di masa lalu, ia sudah mulai melupakan sosok Ghiffary. Namun nyatanya saat ia kembali dipertemukan, rasa itu tetap sama. Debar itupun juga tetap sama. Satu nama yang tak pernah sirna.


Diliriknya Ghiffary dengan ekor matanya. Dan ternyata Ghiffary pun rupanya tengah memperhatikannya juga. Ingin rasanya Ayesha bersembunyi karena ketahuan memperhatikan suaminya itu, tapi Ghiffary justru menahan dagunya hingga ia kembali mendongak.


Netra keduanya bertemu. Seakan tahu apa yang diinginkan sang suami, Ayesha pun memejamkan matanya.


Dan ....


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2