Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 33 Rancana bulan madu tipis-tipis


__ADS_3

"Kamu kenapa, Sha? Apa ayahku ada kesalahan padamu sampai kau seperti menghindarinya?" tanya Ghiffary tiba-tiba sekeluarnya Ayesha dari dalam kamar mandi.


Deg ...


'Haruskah aku menceritakan apa yang sudah aku dengar itu?'


Perasaan Ayesha tiba-tiba gamang. Namun bukankah setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan pernah melakukan kekhilafan. Sehebat dan sebaik apapun kita pasti tetap terlihat aib dan cacatnya di mata Allah SWT. Sebab, kesempurnaan hanya milik Allah SWT.


Tiba-tiba ia ingat sebuah hadist yang mengingatkan kita untuk menutup aib seseorang.


"Barangsiapa menutupi aib orang lain, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR Ibnu Majah)


Orang tuanya saja menutupi aib tersebut, lantas apa kuasanya untuk memberitahukan perihal masa lalu ayah mertuanya itu pada suaminya yang meskipun adalah anaknya sendiri. Tapi Ayesha merasa tidak memiliki hak tersebut. Ia juga khawatir, Ghiffary menjadi merasa bersalah karena ia justru berbuat hal yang lebih keji lagi. Seakan-akan ia tengah menuai karma atas apa yang diperbuat sang ayah di masa lalu. Ayesha tak sejahat itu. Ia tak sekejam itu untuk menguak rahasia ayah mertuanya. Apalagi melihat bagaimana mami dan papinya bersikap biasa saja, artinya mereka pun sebenarnya telah saling memaafkan. Artinya pula, mereka telah berhasil berdamai dengan masa lalu.


Melihat Ayesha yang justru melamun, membuat Ghiffary mengikis jarak. Mata Ayesha mengerjap polos membuat Ghiffary menelan ludahnya.


"Ekhem ... " Ghiffary berdeham untuk memecah keheningan sekaligus menyadarkan Ayesha dari keterpakuannya.


"Sha, kamu ngelamunin apa sih sampai bengong gitu?" tanya Ghiffary seraya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Ayesha.


"Eh," Ayesha tersentak kaget hingga reflek mundur ke belakang. "Kak ... Kak Fary ngapain? Kak Fary tadi nanya apa? Maaf, Yesha ... Yesha ... " Ayesha dibuat kikuk sendiri.


"Aaakh ... " Ayesha terpekik kaget saat tiba-tiba Ghiffary justru merengkuh pinggangnya hingga tubuh mereka saling merapat.


Jantung Ayesha sampai tak bisa dikondisikan. Degupannya terdengar nyaring membuat Ghiffary terkekeh.


"Gugup, hm?" goda Ghiffary membuat rona merah terbit di pipi Ayesha.


"Kak Fary, lepas!" cicit Ayesha pelan tapi terdengar menggemaskan.


"Kalau aku nggak mau, kamu mau apa?" tantang Ghiffary membuat Ayesha merengek sambil sedikit meronta.


"Kak Fary, jangan usil deh!" rentak Ayesha yang justru membuat Ghiffary makin merekatkan rengkuhannya.


Lalu sebelah tangannya naik ke pipi Ayesha dan mengusapnya pelan. Begitu pelan menggunakan ujung-ujung jemarinya menghantarkan rasa yang membuat desir-desir tak kasat mata menjalari setiap sendi dan aliran darahnya.


"Kak ... "


"Kenapa, hm?"

__ADS_1


"Kakak kok ... gini sih?"


"Aku gimana?"


"Itu ... "


"Aku tanya sekali lagi, kenapa kamu seperti menghindar ayahku? Apa ayahku telah berbuat salah sehingga kamu menghindarinya?"


"Mana ada. Yesha ... Yesha cuma canggung aja, nggak lebih," kilah Ayesha. Ia lebih memilih menutup rapat masa lalu ayah mertuanya. Baginya, mengungkap rahasia kelam sang ayah mertua hanya akan membuat hubungan ayah dan anak itu renggang. Apalagi setahunya, Ghiffary merupakan anak tunggal. Mertuanya pun telah menduda sekian tahun lamanya jadi bila hubungan keduanya merenggang, bagaimana nasib ayah mertuanya kelak? Ayesha tekankan sekali lagi, ia tidak setega dan sejahat itu. Kalaupun suatu hari nanti rahasia ini akan terungkap, ia harap bukan dirinya maupun orang-orang terdekatnya yang mengungkapkan sebab hal tersebut hanya akan menorehkan luka baik bagi Ghiffary maupun Kentaro.


Biarlah semua berjalan apa adanya. Biarlah rahasia itu tetap berada di tempatnya. Ia yakin, ayah mertuanya telah berubah dan takkan mengulangi kebodohannya lagi.


"Canggung? Bukannya karena kau tahu rahasia mamimu dan ayahku di masa lalu?" tanyanya santai dan acuh tak acuh membuat Ayesha sukses membolakan matanya.


"Kakak ... "


"Ya, kakak hanya menebak-nebak saja."


"Menebak?" beo Ayesha yang masih bingung sebanyak apa Ghiffary mengetahui tentang rahasia ibunya dan ayah Ghiffary. "Emangnya mereka dulu punya hubungan?"


Ghiffary mengedikkan bahunya acuh tak acuh, "aku hanya menebak saja. Soalnya saat hari pernikahan kita, aku lihat mami dan ayah ngobrol berdua. Tak lama kemudian, mami pergi sama papi meninggalkan ayah yang menatap kepergian mami dengan binar penuh cinta sekaligus penyesalan. Entah bagaimana masa lalu mereka, aku tak tahu. Ingin bertanya, tapi ayah sepertinya enggan membahasnya," ucap Ghiffary sambil menarik tangan Ayesha agar ikut duduk dengannya sambil bersandar di kepala ranjang.


Kemudian Ghiffary melingkarkan tangannya melewati pinggang Ayesha dan meletakkan telapak tangannya di depan perut. Tangannya bergerak-gerak seraya mengusap. Ayesha yang awalnya tegang seketika menjadi rileks dan nyaman.


Ghiffary mengangguk paham. Ia pun menyetujui pemikiran Ayesha. Lalu tanpa sungkan ia mengecup pipi Ayesha membuat Ayesha menoleh dengan tatapan mendelik.


Ghiffary menyengir lebar, "kenapa? Nggak boleh?"


Lalu Ayesha menoyor jidad Ghiffary dengan jari telunjuknya.


"Makin lama kayaknya makin berani aja ni Kang sosor," ejek Ayesha sambil menyunggingkan senyum sinis.


Ghiffary justru terkekeh dan mendekatkan wajahnya. Ayesha ingin mundur tapi tangan Ghiffary di pinggang justru menahannya.


"Sha, kita coba lagi yuk!" bisik Ghiffary sambil meniup-niup rongga telinga Ayesha membuat tubuhnya seketika meremang.


"Co-coba apa lagi sih?" ketus Ayesha untuk menutupi kegugupannya akibat ulah Ghiffary. Apalagi jemari tangan lainnnya telah mulai bermain di area wajahnya. Menyusuri setiap inci kulit wajahnya, rahang, hidung, hingga berakhir di bibir. Ayesha sampai menelan ludahnya sendiri karena tangan suaminya yang sudah kian berani.


"Coba yang kayak di rumah sakit aja dulu. Atau mau cobain yang ... "

__ADS_1


"Yang apa?" potong Ayesha cepat.


"Yang bisa bikin dedek tumbuh di dalam sini," tunjuk Ghiffary pada perutnya membuat Ayesha kian melotot.


"Kenapa? Kan kita udah suami istri jadi wajar dong," ucap Ghiffary.


"Nggak mau," ketus Ayesha cepat sambil membuang muka ke samping.


"Kenapa? Kenapa kamu nggak mau? Kita udah suami istri lho. Kamu tahu kan Sha, dosa nolak suami," ujar Ghiffary mengingatkan kalau-kalau Ayesha lupa.


"Yesha tau. Tapi ... "


"Tapi kenapa, Sha?" lirih Ghiffary pelan sambil menangkup kedua pipi Ayesha dengan telapak tangannya. Mata Ayesha tampak memerah membuat Ghiffary merasa bersalah. Apa tindakannya dulu membuat wanita yang telah berganti status menjadi istrinya itu trauma?


"Yesha ... Yesha takut," cicit Ayesha sambil menundukkan wajahnya. Tapi Ghiffary justru mengangkat kembali wajahnya dengan menarik dagunya hingga mereka kini kembali saling berhadapan.


"Takut? Takut apa? Kakak nggak akan kasar kok. Kakak akan melakukannya dengan pelan-pelan," ucap Ghiffary mengira Ayesha takut ia bersikap kasar saat melakukan hubungan itu.


Ayesha menggeleng cepat, "bukan itu. Tapi ... " Ayesha menghela nafas berat, "Yesha takut kak Fary lagi-lagi mengucap nama perempuan lain. Yesha nggak suka," akunya dengan bibir maju 5 senti. Ayesha mencebik membuat Ghiffary gemas dan ingin sekali melu*mat bibir indah itu.


"Kalau nggak lagi, gimana? Gimana kita bisa tahu kalau nggak dicoba."


"Tapi Yesha tetap aja takut."


Akibat hormon kehamilan membuat emosinya jadi tak stabil. Ia menjadi perempuan labil. Sebentar marah, sebentar biasa saja, sebentar sedih, sebentar ngambek. Beruntung, Ghiffary merupakan tipe lelaki yang sabar jadi mau Ayesha bersikap bagaimana pun, ia tetap bisa bersabar.


"Oh ya, Minggu depan kan kita akan ke Lombok buat peninjauan proyek Savior hotel. Gimana kalau kita sekalian bulan madu tipis-tipis."


"Bulan madu tipis-tipis? Cih, cari kesempatan dalam kesempitan, heh!" ejek Ayesha.


"Biarin. Manfaatin momen gitu lho. Kakak juga akan buktikan kalau ketakutan kamu itu salah. Kakak berani jamin, nama yang bakal kakak sebut tidak lain dan tidak bukan adalah Ayesha Salsabila. Istri kakak tersayang," ucapnya penuh percaya diri.


"Terserah kak Fary aja deh mau gimana," ucap Ayesha yang kini sudah merebahkan tubuhnya.


"Beneran? Yessss!" soraknya bahagia.


"Tapi awas ya, kalo sampai salah ucap nama, Yesha tinggal saat itu juga. Terus Yesha akan minta anak buah papi potong-potong sosis kakak jadi 10 bagian terus Yesha kasiin ke ikan arwana punya Gatra, biar kapok sekalian," ucap Ayesha tanpa rasa bersalah membuat Ghiffary mendadak ketar-ketir.


'Gimana kalau nggak sengaja salah sebut? Bisa innalilahi dong si Jeki,' batin Ghiffary yang sudah ketar-ketir akibat ucapan Ayesha yang bak psikopat.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2