Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 25 Lagi-lagi


__ADS_3

Sore ini Ghiffary secara khusus datang ke Angkasa Grup untuk menjemput Ayesha. Sesuai permintaan istrinya itu, mulai hari ini mereka akan menempati apartemen Ayesha. Sebenarnya Aglian telah menghadiahkan sebuah rumah untuk anak dan menantunya itu. Tapi karena masih tahap renovasi, mereka baru akan menempatinya setelah selesai.


Sebenarnya Ghiffary ingin menolak rumah itu sebab ia merasa sudah tanggung jawabnya untuk menyediakan tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk istri dan anaknya kelak, tapi Luna terus membujuk dengan berbagai alasan hingga akhirnya Ghiffary pun mengalah.


Ghiffary tampak telah menunggu di basement Angkasa Grup. Ia berdiri sambil menyandarkan punggungnya dengan kaki kiri ia tekuk menempel pada sisi mobil. Dengan kacamata hitam yang bertengger di atas hidungnya dan kedua telapak tangan di dalam saku celana, membuatnya terlihat begitu mengagumkan. Beberapa karyawan wanita yang memang belum mengetahui perihal siapa itu Ghiffary tampak berdecak kagum. Bahkan mereka tanpa sungkan menebar senyum mencari perhatian kalau-kalau saja Ghiffary mau berkenalan dengan salah satu dari mereka. Tapi Ghiffary justru tampak acuh tak acuh sama sekali. Ia justru lebih suka menatap layar ponselnya seraya memperhatikan arloji di pergelangan tangannya.


Tak lama kemudian, yang ditunggu pun akhirnya tiba. Beberapa karyawan wanita yang melihat Ghiffary yang membukakan mobil untuk atasan mereka pun lantas membulatkan matanya. Berbagai spekulasi pun mulai bermunculan dan dugaan terkuat mereka adalah Ghiffary merupakan kekasih atasan mereka sebab pernikahan Ayesha memang belum dipublikasikan ke khalayak ramai.


"Sha, kamu mau makan sesuatu? Mumpung kita sedang di luar jadi kota bisa membelinya terlebih dahulu," tukas Ghiffary bertanya pada istrinya.


Ayesha nampak berpikir, tapi ia justru tidak terpikir sama sekali ingin membeli apa jadi ia hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Ya udah, kita makan di apartemen kamu aja nanti. Tapi ... kulkas kamu kira-kira ada isinya nggak?" tanya Ghiffary yang kini masih fokus dengan stir mobilnya.


Ayesha menggaruk kepalanya, "ada ... air mineral sama jus kemasan," selorohnya santai membuat Ghiffary melongo lantas terkekeh.


"Emangnya kamu nggak pernah masak?" tanya Ghiffary lagi. Ia sedang berusaha mencairkan suasana dan mendekatkan diri dengan Ayesha. Ia tahu, mereka menikah karena keadaan. Tak ada cinta dalam pernikahan mereka, tapi bukan berarti mereka akan menganggap pernikahan ini sebagai permainan ataupun sandiwara. Sedapat mungkin mereka akan berusaha saling mendekatkan diri. Entah mau dibawa kemana pernikahan mereka, tapi yang pasti mereka akan mencoba menjalaninya saja dahulu. Mau bagaimana ke depannya, ia serahkan pada sang penguasa semesta. Apapun yang akan terjadi pada akhirnya, mereka hanya bisa berusaha menjalani sebaik mungkin.


"Yesha nggak bisa masak, kak," ujar Ayesha seraya menyengir, memamerkan deretan giginya yang putih bersih seperti pemeran iklan pasta gigi.


"Seriusan?" tanya Ghiffary memastikan.


"Nggak. Aku bohong biar kak Fary yang jadi tukang masak," ketus Ayesha kembali ke mode ketus bin jutek.


"Yeee, cantik cantik kok jutek sih! Entar cantiknya hilang lho!" goda Ghiffary sambil menoel pipi Ayesha yang mulai membulat.


"Biarin yang penting udah laku juga," jawab Ayesha enteng tapi Ghiffary yang mendengar justru tergelak.


"Oh, jadi kamu bangga dong udah laku jadi istri kakak,"sahut Ghiffary yang sudah membiasakan diri menyebutkan dirinya kakak.


"Yeee, GR!" ketus Ayesha seraya membuang muka ke sisi jendela menutupi rona merah di pipi agar tidak terlihat oleh Ghiffary.


"Cie cie, ada yang pipinya merah tuh!"

__ADS_1


"Apa sih ah kak Fary! Fokus aja nyetir sana," sengit Ayesha membuat Ghiffary kian tergelak.


"Kamu kalo lagi marah-marah gitu malah makin gemesin tau nggak, Sha. Rasanya kakak jadi pingin ... "


"Pingin apa?" cetus Ayesha dengan mata memicing tepat saat mereka berhenti di lampu merah.


Lalu Ghiffary sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ayesha dan berbisik, "pingin cium kamu lagi."


Sontak saja Ayesha membulatkan matanya dengan pipi yang sudah seperti kepiting saos Padang.


Lalu Ghiffary segera menarik wajahnya kembali seraya menatap lekat pipi Ayesha yang kini kembali bersemu merah membuat Ghiffary tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.


"Cie cie, pipinya merah-merah lagi tuh! Mau dicium beneran nih kayaknya. Benar nggak anak ayah, bunda mau minta cium lagi kan katanya?" goda Ghiffary seraya berpura-pura bicara dengan perut Ayesha.


"Aaah, kak Fary udah deh! Jahil bener sih godain mulu. Jangan-jangan ini sifat asli kak Fary ya? Udah berapa banyak cewek yang kakak godain?" ketus Ayesha dengan tatapan menyelidik membuat Ghiffary tersenyum menyeringai.


"Oh itu ... banyak. Banyak banget malahan. Sampai-sampai nggak kehitung lagi," dusta Ghiffary mencoba mengerjai Ayesha.


Sontak saja, Ayesha membulatkan matanya, ia benar-benar tak menyangka, suaminya ternyata seorang playboy.


...***...


"Terserah," ketus Ayesha membuat Ghiffary frustasi.


"Kok terserah sih? Kamu masih marah ya?" tanya Ghiffary. Bahkan gara-gara Ayesha yang sudah kadung kesal, rencana Ghiffary ingin menghampiri supermarket untuk membeli kebutuhan dapur pun terpaksa dibatalkan.


"Nggak marah kok. Cuma kesal aja, kenapa?"


"Ck ... itu sama aja Marimar!" desis Ghiffary yang memutar bola matanya.


"Marimar? Siapa itu? Mantan kakak yang mana lagi? Ck ... ngakunya cuma pernah dekat dengan 2 perempuan dan salah satunya Yesha, tapi nyatanya ..."


"Nyatanya apa?"

__ADS_1


"Itu, ada nama cewek lain lagi yang disebut," ketus Ayesha yang sudah berkacak pinggang.


Bukannya marah, Ghiffary justru tergelak karena Ayesha menyangka Marimar merupakan nama kekasihnya.


"Astaga, iya deh, bocil mana tahu telenovela," ejek Ghiffary.


"Apa? Bocil? Mana ada bocil bisa hamil kak! Masa' bocil hamil bocil."


"Oh iya, ya! Kamu kan udah jadi bakal bundanya bocil," sahut Ghiffary seraya tergelak. "By the way, kita kan buat bocilnya dalam keadaan nggak sadar, Sha. Gimana kalau kita lakukan lagi secara sadar? Biar lebih afdol gitu?" goda Ghiffary seraya mengerlingkan sebelah matanya.


"Nggak mau," pekik Ayesha spontan membuat Ghiffary kian senang menggoda istrinya itu.


"Ayolah, Sha. Kan kita udah nikah, udah halal, yuk!" bujuk Ghiffary seraya melipat bibir, menahan tawa yang hampir saja lepas.


"Tuh, di kamar mandi banyak sabun. Main tuh sama sabun!"


"Ya ampun, teganya istriku! Ayolah, Sha!"


Ghiffary lantas meringsek tubuh Ayesha hingga menempel ke dinding. Tangannya ia tempelkan ke sisi kanan dan kiri Ayesha, mengurung perempuan itu agar tak bisa lari kemana-mana.


"Ka-kak ma-u ngapain? Aku ... aku ... "


Cup ...


"Dah, kayak gitu aja dulu! Lain kali baru kita coba kunjungi dedeknya ya, Sha! Kakak orangnya sabar kok, kamu tenang aja. Kakak nggak akan nerkam kamu sebelum kamu ikhlas mengizinkannya," bisik Ghiffary di telinga Ayesha membuat wajah wanita itu bersemu merah dan jantungnya tak henti-hentinya berdebar kencang. Lagi-lagi, Ghiffary berhasil mencuri ciuman dari bibirnya.


'Astaga, gimana bisa aku membentengi diri kalau perlakuannya manis kayak gini! Sikapnya 11 12 sama bang Damar ke Ryza nih. Jangan-jangan dia udah berguru sama bang Damar!'


...***...


...Udah ya double up!...


...Ditunggu like, komen, vote, nonton iklannya ya kak!...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2