Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 50 Happy


__ADS_3

Tak terasa seminggu telah berlalu dan Ayesha kini telah diperbolehkan pulang. Namun, duo twins baby girl belum diperbolehkan pulang. Mereka baru diperbolehkan bila berat badannya sudah normal dan alat pernapasannya telah berkembang dengan baik. Demi peningkatan berat badan bayi yang bagus, Ayesha rajin memompa asinya untuk stok apalagi bayinya ada dua dan keduanya membutuhkan asi.


Awalnya Ayesha sempat cemas sebab hari pertama melahirkan asi Ayesha tak kunjung keluar. Ayesha pun rajin merangsang agar asinya keluar dengan membersihkannya menggunakan kain yang telah dicelupkan ke air hangat dan melakukan pemijatan dibantu Ghiffary. Pertama-tama Ayesha merasa sangat malu, namun Ghiffary justru berceletuk santai bukankah ia sudah beberapa kali melakukan pemijatan baik dengan mulut maupun telapak tangannya jadi mengapa harus malu, ujarnya. Akhirnya, Ayesha terpaksa menerima bantuan dari suaminya itu. Toh apa yang dikatakannya itu memang benar kan! Namun sampai hari kedua, asi Ayesha belum juga keluar. Anggi yang mengetahui kegelisahan keponakannya lantas memasakkan sayur yang dipercaya mampu meningkatkan produksi asi dari sayur katuk, bayam, brokoli, hingga tumisan jantung pisang. Akhirnya, pada hari ketiga dada Ayesha mulai membengkak, terasa nyeri, dan perlahan tapi pasti asi Ayesha mulai keluar membuat Ayesha dan Ghiffary tersenyum dengan lega. Akhirnya mereka bisa memberikan makanan terbaik bagi bayi-bayi mereka, apalagi kalau bukan asi.


Sebelum pulang, Ayesha dan Ghiffary terlebih dahulu menghampiri ruang NICU tempat dimana bayi-bayi mereka di rawat dan dipantau pertumbuhan dan kesehatannya secara intensif. Dengan mengenakan baju khusus, pasangan suami istri itu masuk dan melihat bayi-bayi mereka yang tertidur pulas. Namun yang membuat Ayesha dan Ghiffary tersenyum, bibir mereka bergerak-gerak seperti tengah mengemut sesuatu. Ayesha dan Ghiffary rasanya tak sabar lagi ingin menggendong keduanya. Namun, mereka harus bersabar demi kesehatan bayi-bayi mereka.


"Kak, kakak udah siapin nama mereka?" tanya Ayesha tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua bayi yang kembar identik itu. Yang membedakan keduanya hanyalah tubuh si sulung sedikit lebih besar dari adiknya. Namun yang lainnya nampak sama. Tapi entah rambutnya nanti sebab untuk saat ini kedua rambutnya terlihat sama. Pun bola mata mereka berdua belum bisa dilihat dengan jelas.


"Kamu ada saran?"


Ayesha menggeleng, memang ia tidak memiliki ide apapun.


"Bagaimana kalau Gishana Wulandara dan Gishani Wulandari?" tanya Ghiffary.


Ayesha nampak berpikir, kemudian tersenyum, "baby Shana dan baby Shani, welcome to the world," serunya bahagia.


"Jadi?"


"Kok masih nanya sih Daddy?"


"Daddy?"


"Yes, Daddy. Ayah kan udah ada ayah Ken, papi udah ada papi Lian, papa udah ada papa Angga, tinggal Daddy aja yang belum. Kalau bapak, ada bapaknya si Tisya," seloroh Ayesha sambil tersenyum lebar.


"Mommy benar. Welcome to the world princess mommy and Daddy. We love you," bisiknya di depan celah kecil yang ada di inkubator. Kedua bayi itu tampak menggeliat kemudian tersenyum dengan mata terpejam, sepertinya mereka menyukai nama pemberian orang tuanya.


...***...

__ADS_1


Ayesha dan Ghiffary telah tiba di kediaman Aglian dan Luna. Mereka memilih pulang kesana sebab kesehatan Ayesha yang belum benar-benar pulih. Keberadaan Luna tentu sangat dibutuhkan untuk membantu Ayesha yang baru saja melahirkan. Rencananya mereka akan tetap berada di sana sampai Ayesha benar-benar pulih dan mampu mengurus bayi-bayi mereka.


"Selamat datang mommy Shana dan Shani. Selamat menjadi seorang ibu," seru Tisya, Arletta, dan Arditta heboh diikuti yang lainnya.


Ghiffary yang begitu overprotektif, tidak mengizinkan Ayesha berjalan. Ia justru menyiapkan kursi roda agar Ayesha tidak lelah berjalan. Ayesha mencibir Ghiffary terlalu berlebihan tapi ia pun tak dapat menolak. Mungkin ini cara Ghiffary untuk menjaga dan menunjukkan rasa cintanya.


Ayesha merasa begitu bahagia sebab dikelilingi orang-orang yang tulus menyayanginya. Bahkan Ghiffary berkaca-kaca karena bisa merasakan kebahagiaan memiliki keluarga besar seperti ini. Padahal mereka merupakan kumpulan keluarga kaya raya dan pengusaha besar, pengacara kondang, tapi mereka mau menerima dirinya yang orang biasa saja dengan begitu baik. Ah, masih ada yang lebih hebat, yaitu Damar yang mempersunting janda anak 2 tanpa keluarga. Mereka menerima Oryza dengan tangan benar-benar terbuka. Sungguh keluarga seperti ini sangat jarang ada. Biasanya mereka lebih melihat ke bibit, bebet, dan bobot terlebih dahulu sebelum menerima calon anggota baru keluarga mereka.


'Benar kata ayah, aku benar-benar beruntung bisa masuk ke dalam keluarga ini. Di sini, aku benar-benar dihargai tanpa melihat siapa aku dan siapa ayahku.'


Ya, saat di rumah sakit, Kentaro telah menceritakan masa lalu dirinya pada putra semata wayangnya itu. Ia bahkan menceritakan keburukannya dahulu baik dengan Luna maupun Jelita, ibu kandung Ghiffary. Ghiffary awalnya kecewa, tapi mengingat bagaimana keluarga Ayesha tetap menerimanya dengan setulus hati membuatnya berpikir, mereka yang disakiti saja mau memaafkan, sungguh tak pantas bila ia harus ikut marah dengan sang ayah yang selama ini telah berjuang membesarkan dirinya seorang diri tanpa didampingi seorang istri.


Kadang Ghiffary iba melihat sang ayah. Ia pernah memintanya menikah lagi saja agar ada yang mengurus, tapi Kentaro menolak. Ia lebih memilih hidup sendiri karena percuma menikah lagi bila hanya akan menorehkan luka di hati pasangannya sebab hatinya telah terkunci pada satu nama.


"Wah, mbak Ryza kayaknya bentar lagi lahiran nih! Kembar juga kan mbak?" tutur Ayesha sambil mengusap perut Oryza yang membukit.


"Gen kembar mama sama papi emang top markotop ya mbak. Rasanya udah nggak sabar pingin gendong baby Shana dan Shani terus mik cucu secara langsung. Ih, pasti rasanya menyenangkan ya mbak!"


"Iya Sha. Bahagia banget saat melihat di kecil menyusu secara langsung. Rasanya belum lama nyusuin Ratu, eh bentar lagi udah lahir adeknya Ratu. Para pembaca pasti seneng banget pas tau keponakan onlinenya bentar lagi lahir," seloroh Oryza membuat Ayesha tergelak.


"Iya ya mbak, bahagia banget. Bukan cuma pas liat si kecil yang nyusu, tapi bapaknya juga. Bisa-bisa mereka rebutan dong mbak," bisik Ayesha serraya tergelak apalagi saat melihat wajah Oryza yang memerah.


"Ck ... otakmu sama abangmu sama-sama mesyum. Untung udah ada laki, kalau nggak ck ck ck ..."


"Kan satu gen, mbak," timpal Ayesha santai.


"Heh, ngobrol berdua nggak ngajak-ngajak, dasar sahabat nyebelin," cetus Tisya yang baru saja duduk di samping Ayesha.

__ADS_1


"Yee, nyalahin orang. Bukannya kamu sendiri yang salah, dari tadi ngekorin kak Kian mulu. Katanya ogah sama cowok ganteng, eh sekarang malah kayak amplop sama lemnya, nggak bisa pisah," cibir Ayesha tepat sasaran membuat Tisya tersenyum masam.


"Ketulah tu Sha, sok-sokan nolak eh sekarang malah bucin," ejek Oryza membuat Ayesha tak mampu menahan tawanya.


"Hayolooo, tertawa terus! Tertawalah ayo terus tertawa aja sepuas kalian sebelum tertawa itu dilarang!" seloroh Tisya jengkel karena apa yang dikatakan kedua sahabatnya itu memang benar adanya. Tisya pun bingung dengan dirinya sendiri. Awal-awal ia kekeh menolak Kiandra sebagai suaminya. Tapi setelah hari dimana ia merasakan nikmatnya bercinta, sejak hari itu juga ia menjatuhkan dirinya pada pesona seorang Kiandra. Sejak itulah ia dan Kiandra seolah enggan terpisah walaupun sebentar. Karena itu, kemanapun Kiandra pergi, di sana pasti ada Tisya. Entah itu muncul secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.


"Udah ketularan virus-virus bucin tuh! Makanya jangan sembarang ngomong. Untung aja yang dibucinin orang kayak kak Kian, kalau nggak wassalam deh," cibir Ayesha yang mendapat pelototan dari Tisya. Sedangkan Oryza hanya terkekeh mendengarnya.


"Ya deh, iya, aku ngaku salah. Puas kalian!" Mata Tisya mendelik, bukannya takut, keduanya justru tergelak kencang.


"Sayang, minum gih! Ini kakak buat sendiri," ujar Ghiffary seraya menyerahkan segelas jus kurma susu pada Ayesha.


Ayesha pun menerimanya dengan mata berbinar, "makasih Daddy," ucapnya seraya mengerlingkan sebelah matanya membuat Ghiffary tersipu menggemaskan.


"Cie .... Daddy cuy! Aku entar panggilannya apa ya?" seloroh Tisya sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Kamu ... udah isi juga, Sya?" celetuk Oryza sambil tersenyum lebar.


"Iya, dong! Rajin ditaburin benih jadi ya gini! Hahaha ... "


"Astaga, calon ibu satu ini nggak ada malunya ketawa kayak gitu," cibir Oryza sambil geleng-geleng kepala. "Tapi ... selamat ya, Sya."


"Aku juga, selamat ya. Senang akhirnya kita bertiga udah sold out semua," imbuh Ayesha. Mereka bertiga pun kemudian saling berpelukan dengan penuh kebahagiaan.


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


__ADS_2