
"Yah, ayah kenal dengan ibunya Ayesha ya?" tanya Ghiffary straight to the point. Ia kadung penasaran semenjak di rumah Ayesha tadi. Ghiffary yakin mereka bukan hanya sekedar dekat saja, tapi ada sesuatu. Entah apa itu, Ghiffary pun penasaran.
Kentaro yang ditanyai tiba-tiba oleh putranya pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia tampak salah tingkah.
"Oh, itu, eee ... dia ... dia teman SMA ayah. Oh ya, dia juga sempat jadi model pengganti di agensi tempat ayah dan ibu bekerja dulu," ujar Kentaro tak ingin terlalu menjelaskan secara detil mengenai hubungan mereka. Bukan tak mungkin, Ghiffary akan kecewa padanya yang sudah hampir memperk*sa Luna saat itu.
Ghiffary mengangkat kedua alisnya, "benarkah? Hanya itu?" Ada rasa kurang yakin dalam kalimat Ghiffary. Entah mengapa ia merasa ada yang disembunyikan ayahnya darinya.
"Iya, hanya itu. Memangnya apa yang kau harapkan? Kami pernah jadi sepasang kekasih, begitu?" dengus Kentaro sengit yang justru makin membuat Ghiffary berspekulasi yang tidak-tidak.
"Bukan begitu, tapi ... dari yang Fary lihat ada binar yang tidak biasa di mata ayah saat melihat Tante Luna. Jangan-jangan ... "
"Jangan-jangan apa?" potong Kentaro dengan mata melotot.
Ghiffary terkekeh kemudian membisikkan sesuatu yang sukses membuat Kentaro salah tingkah sendiri.
"Jangan-jangan ayah pernah ditolak Tante Luna! Benarkan!"
"Dasar, anak nakal!" desis Kentaro dengan mata memicing.
"Apa? Apa aku benar, yah? Ckckck ... ingat yah, Tante Luna itu calon besan ayah, calon ibu mertuaku. Bisa-bisa ayah kena sikat om Lian kalau tahu calon besannya menyukai istrinya. Cari perempuan lain aja yah buat dijadiin istri. Fary nggak masalah kok. Ibu juga pasti mengikhlaskan di sana. Ayah udah kelamaan sendiri, butuh pendamping biar nggak jadi duda karatan kayak gini!" cibir Ghiffary sambil terkekeh.
__ADS_1
"Dasar anak nakal! Siapa juga yang mau ngedeketin calon mertua kamu. Ayah cukup tahu diri. Cukup sekali ayah masuk penjara gara-gara mau berbuat nekat dan ayah nggak mau ngulangin perbuatan yang sama. Tapi kenapa ayah malah bersyukur kamu menikah dengan anak Luna ya! Mungkin ini yang namanya jodoh yang tertunda. Kalau dulu ayah gagal dapetin Luna, maka kali ini kamu malah berhasil dapetin anak gadisnya. Entah ini berkah atau musibah, yang pasti ayah bersyukur," gumam Kentaro sambil senyum-senyum sendiri.
"Ayah kenapa senyum-senyum? Hayo, jujur deh sama Fary! Cerita dong yah tentang masa lalu ayah sama Tante Luna?" tuntut Ghiffary tapi Kentaro justru melengos.
"Ayah ngantuk, mau tidur. Daripada sibuk mengorek masa lalu ayah, mending kamu mikir gimana cara meluluhkan hati calon menantu ayah. Kayaknya dia benci banget sama kamu," pungkas Kentaro membuat Ghiffary yang tadinya cengengesan jadi terdiam. Pikirnya benar juga, tapi bagaimana caranya, dia sendiri bingung.
...***...
"Hiks ... hiks ... hiks ... "
"Udah dong, Mi, jangan nangis lagi! Itukan masa lalu, papi yakin, Ghiffary benar-benar tak sengaja melakukan ini. Papi yakin sekali, ia berbeda dengan ayahnya di masa lalu," ujar Aglian mencoba menenangkan Luna yang terus saja terisak semenjak kepulangan Kentaro dan keluarganya. Aglian mendekap tubuh Luna seraya mengusap punggungnya.
"Apa papi yakin? Gimana kalau dia sengaja karena dendam di masa lalu nggak berhasil memiliki mami?" cecar Luna sedu sedan.
"Jadi papi mau bunuh calon menantu kita, gitu? Entar Yesha jadi janda dong, Pi. Kasian dong putri kita dan calon anaknya nanti. Mereka juga pasti bakal marah sama papi apalagi cucu kita kalau tahu atau mereka dibunuh oppanya," ujar Luna membuat Aglian menghela nafasnya.
"Itu kan kalau mami, sayang. Papi bilang gitu sebab papi yakin Ghiffary nggak kayak gitu."
"Tapi mami masih aja khawatir, Pi. Mami nggak habis pikir kok kejadiannya bisa kayak gini. Di masa lalu Kentaro mencoba memperko*sa mami demi memiliki mami, tapi gagal karena ada papi. Tapi di masa kini justru anak Kentaro yang membuat putri kita hamil," desah Luna sambil menyeka air matanya.
"Sebenarnya papi sedikit kecewa dengan diri Papi sendiri sebab papi gagal menjaga putri kita sehingga hal ini sampai terjadi. Tapi ya namanya manusia, tak ada yang sempurna. Mau bagaimana pun kita berusaha bila takdir putri kita memang seperti itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin ini takdir putri kita. Jodoh itu terkadang datangnya dengan cara yang tak terduga dan tak disangka-sangka, dan papi hanya berharap mereka akan segera saling mencintai dan membangun rumah tangga yang bahagia," keluh Aglian tak kalah sedihnya membuat Luna mendongak lalu mengecup bibir Aglian. Karena terlalu bersedih, ia sampai lupa kalau suaminya pun pasti tak kalah terpukul. Namun seperti biasa, Aglian selalu menunjukkan raut wajah tenang dan tegarnya. Ia tahu, hal itu dilakukan Aglian semata-mata agar ia tak makin terpukul. Bila mereka berdua sama-sama hancur, lalu siapa yang akan menguatkan putrinya nanti.
__ADS_1
Keduanya kemudian saling melempar senyum. Dalam hati, Luna mengaaminii doa dan harapan sang suami sebab ia pun mengharapkan hal yang sama.
Saat mereka berbincang berdua, tanpa mereka sadari, Ayesha telah mencuri dengar perbincangan mereka dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Ayesha cukup terkejut mengenai fakta masa lalu ibunya dan ayah Ghiffary membuat Ayesha berpikir, apakah mungkin Ghiffary sengaja menjebaknya untuk membalas kegagalan di masa lalu?
Ayesha menggelengkan kepalanya, ia harap itu tidak benar. Namun, biarpun begitu, Ayesha tetap tak dapat memungkiri ia marah mengetahui fakta itu.
...***...
"Nona, apa kau yakin akan menikah dengan Ghiffary?" terdapat nada ketidaksenangan dalam suara Defri. Ayesha mengerutkan keningnya, mengapa makin hari asisten pribadinya itu makin berani ikut campur dalam urusannya. Defri telah mengetahui perihal pernikahan Ayesha dan Ghiffary yang akan dihelat satu bulan dari sekarang sebab ia pun diberikan tugas oleh Aglian untuk membantu menyiapkan segala keperluan persiapan pernikahan itu.
"Memang kenapa?"
"Maaf nona kalau aku terlalu ikut campur. Aku hanya ... aku hanya tidak ingin kau tersakiti," tukas Defri dengan sorot mata sendu.
Ayesha tersenyum manis membuat Defri mematung, "terima kasih atas perhatianmu, tapi kau tak perlu khawatir. Aku tidak selemah itu untuk disakiti. Lagipula aku tidak bisa menolak perintah orang tuaku."
"Kenapa? Kenapa tidak bisa?" tanya Defri penasaran sebab ia belum tahu alasannya.
"Karena ... dia ayah biologis anakku," pungkas Ayesha membuat Defri mematung tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun. Namun dalam hati ia bertanya-tanya, kapan dan dimana hal itu terjadi? Apakah memang benar mereka telah memiliki hubungan selama ini dan mereka bersikap seperti saling tidak mengenal karena sedang bertengkar?
...***...
__ADS_1
...Happy Reading π₯°ππ₯°...