
Ayesha tampak sedang sibuk berkutat dengan beberapa dokumen. Siang ini ia akan pergi meninjau proyek di kota Bekasi. Sebelum itu, ia harus merampungkan beberapa dokumen agar sepulangnya dari Bekasi, ia bisa langsung pulang ke apartemen dan beristirahat.
Sepanjang pagi ini, ia merasa tak enak hati dengan Defri karena telah menyusahkannya kemarin. Entah dimana pikirannya kemarin karena meminta Defri membelikannya bubur ayam di tempat yang sangat jauh. Defri bahkan sampai mengabaikan makan siangnya demi membelikannya bubur ayam untuk ia sarapan. Dan anehnya, saat bubur ayam itu telah terhidang di depan matanya, ia justru merasa mual dan enggan memakannya. Membuat rasa bersalah kian menjadi. Berbeda dengan bubur ayam yang dibelikan Ghiffary. Ia bahkan memakannya dengan lahap dan tanpa bersisa sama sekali.
"Hah, aku sebenarnya kenapa sih? Duh ... " tiba-tiba perutnya kembali bergemuruh. "Kok aku jadi pingin makan bubur ayam kayak kemarin ya? Kira-kira kak Fary beli dimana?" gumam Ayesha seraya mengusap perutnya yang berbunyi krucuk -krucuk.
Ayesha berusaha mengabaikan perutnya yang kian bergemuruh, tapi tak bisa. Konsentrasinya pecah dan ambyar begitu saja.
Ayesha mengacak rambutnya dengan wajah ditekuk masam.
"Astaga, perut oh perut, kamu sabar ya! Kita makan setelah beres memeriksa dokumen ini dulu. Kamu sabar ya, oke!" ujarnya mengajak bicara perutnya sendiri. Kalau ada yang melihat, pasti mereka akan mengira Ayesha mulai tak 2arqs karena mengajak cacing-cacing dalam perutnya bicara.
Kruuuukkk ... kruuuukkk ...
Lagi-lagi perutnya bergemuruh membuat Ayesha frustasi sendiri. Lalu ia menelpon OB di pantry untuk membelikannya bubur ayam yang ada di sekitar Angkasa Grup. Tak sampai 30 menit kemudian, seorang OB datang membawa kantong yang berisi bubur ayam beserta mangkok, sendok, dan segelas teh hangat sesuai permintaan Ayesha.
Setelah OB itu pergi, Ayesha segera memasukkan bubur ayam itu ke dalam mangkok. Belum sempat Ayesha memakannya, Ayesha justru langsung mual saat mencium aromanya. Ayesha pun bergegas berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
Defri yang baru masuk ke dalam ruangan Ayesha terkejut saat mendengar suara Ayesha yang muntah-muntah. Saat melihat pintu kamar mandi terbuka, tanpa permisi Defri masuk dan membantu memijit tengkuk Ayesha untuk meringankan muntahnya. Ayesha tersentak saat tangan Defri menyentuh tengkuknya. Defri yang sadar Ayesha merasa tidak nyaman, lantas segera menarik kembali tangannya.
Setelah muntahnya mereda, Ayesha segera mencuci mulutnya lalu keluar dari kamar mandi setelah Defri keluar lebih dahulu.
"Nona kenapa? Apa nona sakit? Kalau iya, kita batalkan saja untuk meninjau proyek di Bekasi," ujar Defri yang tampak begitu mengkhawatirkan keadaan Ayesha.
"Tidak, tidak perlu. Ini pasti karena sakit maghku."
Lalu ia teringat dengan bubur ayam yang dibelikan Ghiffary kemarin. Entah mengapa ia sangat menginginkannya. Tapi bagaimana ia tahu dimana Ghiffary membelinya.
"Def, kau tahu nomor ponsel Ghiffary?" tanya Ayesha membuat Defri mengerutkan keningnya.
"Ada, apa nona ... "
"Bisa tolong hubungi dia dan tanyakan dimana kemarin dia membeli bubur ayam?" potong Ayesha cepat membuat Defri kian merasa aneh dengan apa yang dialami Ayesha.
"Bisa," jawabnya. Lalu Defri segera menghubungi Ghiffary dan menanyakan dimana ia membeli bubur ayam itu.
__ADS_1
"Bagaimana? Dimana ia membelinya?" tanya Ayesha saat panggilan telah ditutup.
Defri menggeleng, "dia tidak mau memberitahukannya," ucapnya membuat Ayesha mendengus kasar.
"Kau keluarlah dan tolong minta OB bawa pergi bubur ini," tukas Ayesha yang dipatuhi Defri.
Satu jam kemudian, pintu ruangan Ayesha diketuk kemudian pintu terbuka sebelum sempat Ayesha mempersilahkan, seseorang telah masuk terlebih dahulu membuat Ayesha mendengus saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
Belum sempat Ayesha ingin mengusirnya, laki-laki itu sudah lebih dahulu duduk di hadapan Ayesha seraya menyerahkan kantong yang entah apa isinya.
"Ini, makanlah! Kau mau makan bubur seperti yang aku belikan kemarin kan!" ujar lelaki yang ternyata itu adalah Ghiffary.
Ayesha mendengus. Ia sangat ingin mengambil kantong berisi bubur ayam itu, tapi ego dan gengsinya terlampau tinggi membuatnya enggan mengambil bubur itu.
Ghiffary menghela nafas panjang, "ayolah, tak perlu gengsi berlebihan kayak gitu! Atau perlu aku suapi, heh?" ujar Ghiffary seraya menaik-turunkan alisnya membuat Ayesha memutar bola matanya. Sedangkan tangannya, tampak sibuk membuka kantong berisi bubur itu.
Lalu pintu ruangan Ayesha diketuk. Ghiffary segera beranjak menuju pintu yang ternyata seorang OB telah berdiri seraya memegang nampak berisi mangkok kosong, sendok, dan segelas teh hangat. Ghiffary pun segera mengambil alihnya kemudian mengucapkan terima kasih.
Ayesha bersikap acuh Tak acuh seakan tak menganggap keberadaan Ghiffary sama sekali.
"Memangnya siapa yang mau makan ini? Ambil sana!" ketus Ayesha sambil melengos.
Kruak ... kruak ...
Tiba-tiba perut Ayesha berbunyi dengan begitu nyaring membuat Ghiffary tergelak karenanya.
"Masih mau sok jual mahal? Gengsi jangan digedein, nona! Makanlah! Setelah itu kita bahas rancangan Savior hotel. Aku sudah membuat rancangan sesuai dengan lokasi dan letak geografisnya. Tinggal kau katakan saja, apa yang ingin kau tambahkan biar aku bisa merancangnya sesuai keinginanmu," tukas Ghiffary yang sudah pindah duduk di sofa. Lalu ia mengeluarkan laptop dan mengetikkan sesuatu di sana. Ia sengaja menyibukkan diri agar Ayesha mau memakan bubur ayam itu.
Ghiffary pun bingung sendiri, mengapa ia mesti repot-repot mempedulikan Ayesha yang belum sarapan dan ingin makan bubur ayam. Bubur ayam itu sendiri ia beli di dekat kantornya.
Ayesha sebenarnya merasa enggan memakan bubur itu. Tapi suwiran ayam dan kerupuk beserta sambalnya seolah melambai-lambai memanggil dirinya untuk minta segera disantap. Ayesha sampai menelan ludahnya sendiri.
'Astaga! Ah sudahlah, yang penting aku makan dulu! Masalah dengan si breng-sek itu biar jadi urusan nanti!' batinnya.
Melihat Ghiffary tampak sibuk, Ayesha pun segera menyantap bubur ayam itu secepat mungkin.
__ADS_1
"Ini." Ayesha menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke arah Ghiffary membuat Ghiffary mengerutkan keningnya. "Uang untuk bubur kemarin dan hari ini," ketus Ayesha. Tapi Ghiffary justru mendorong tangan Ayesha.
"Saya tidak mau berhutang pada orang lain," ucapnya datar.
"Tidak perlu. Ayo, lekaslah!" tolak Ghiffary membuat Ayesha kesal.
"Bisa kita bicarakan design itu besok saja. Saya harus pergi ke lokasi proyek sekarang," ujar Ayesha.
"Dimana?"
"Bukan urusanmu!" ketus Ayesha yang segera membalikkan badannya kemudian membereskan barang-barangnya sebab ia harus segera berangkat ke Bekasi.
Ghiffary hanya bisa menghela nafas panjang. Sebenarnya Ghiffary sedang berjuang mendekati Ayesha untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya malam itu. Ia tahu, perbuatannya malam itu salah. Kata-katanya juga keterlaluan jadi ia ingin menebusnya. Tapi ternyata, Ayesha tak semudah itu untuk didekati. Bahkan hingga sekarang ia masih ketus saat berbicara padanya.
Tak mempedulikan keberadaan Ghiffary, Ayesha langsung saja meninggalkan ruangannya menuju meja Defri yang ternyata juga telah bersiap.
...***...
Matahari terasa begitu terik membakar kulit. Dengan menggunakan helm dan romli safety, Ayesha memasuki kawasan proyek yang sedang ditanganinya. Sudah hampir satu jam berlalu, kepala Ayesha yang memang sejak tadi pusing terasa kian berdentum. Tiba-tiba terdengar teriakan panik banyak pekerja proyek membuat Defri yang sedang berbincang dengan beberapa pengawas lapangan sontak berlari.
"Nona?" serunya terkejut saat melihat tubuh Ayesha telah terkulai lemah di tangan salah seorang petugas proyek. "Apa yang terjadi padanya?" tanyanya panik.
"Kami tidak tahu, tuan. Tadi tiba-tiba saja, nona Ayesha pingsan. Entah apa penyebabnya," ujar salah seorang pekerja.
Lalu dengan sigap, Defri menggendong Ayesha menuju mobil dan membaringkannya di kursi belakang. Lalu ia berpamitan dengan staf dan pekerja yang ada di sana untuk membawa Ayesha ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Defri segera meminta dokter memeriksanya.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Defri pada dokter yang baru saja memeriksa Ayesha.
"Apa Anda suaminya?" tanya dokter itu membuat Defri mengerutkan keningnya. Belum sempat Defri menjawab tiba-tiba dokter kembali melanjutkan ucapannya, "selamat tuan, istri Anda sedang hamil," ujarnya membuat Defri membelalakkan matanya.
...***...
...Happy Reading π₯°ππ₯°...
__ADS_1