Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 26 Calon ayah yang baik


__ADS_3

"Sha," panggil Ghiffary pada Ayesha yang telah berbaring di sampingnya. Atau lebih tepatnya berbaring di tepian tempat tidur dengan dua buah guling yang berada di tengah-tengah sebagai pembatas.


"Hmmm ... " sahut Ayesha dengan gumaman tanpa membalikkan sedikit lun tubuhnya yang membelakangi Ghiffary. Sedangkan Ghiffary, ia justru berbaring dengan posisi menyamping menghadap punggung Ayesha.


"Sha, tau nggak, dosa lho tidur membelakangi suami, kecuali ... "


"Kecuali apa?" tanyanya penasaran. Sepertinya ucapan Ghiffary berhasil memancing antusiasme Ayesha sehingga mau membalikkan badannya menghadap Ghiffary.


"Kecuali ... kamu emang minta kakak peluk dari belakang," celetuknya sambil tersenyum jahil yang mendapatkan hadiah berupa pukulan bantal guling.


"Maunya," decak Ayesha sambil memutar bola matanya.


"Ya maulah, udah jadi istri juga. Masa' punya istri tapi peluknya perempuan lain, entar kamu malah ngamuk," ucap Ghiffary santai membuat Ayesha tersenyum sinis.


"Silahkan aja kalau mau!"


"Seriusan nih? Boleh? Nggak marah?" godanya sambil menaik-turunkan alisnya.


"Yaaa, silahkan aja! Tapi ... lihat aja akibatnya," ucap Ayesha santai.


"Wow, emang kamu mau ngapain?"


"Mau potong sosis kakak biar nggak bisa bangun lagi!" desis Ayesha sambil menyeringai membuat Ghiffary membelalakkan matanya.


"Astaga! Istriku ternyata seorang psyco!" serunya dengan mata membulat. "Jangan dong Sha, entar kita nggak bisa buat dedeknya bocil!" imbuhnya sambil mengulum senyum.


"Heh, yang ini aja belum lahir, udah mikirin bikin adeknya! Waras kamu, kak!" desis Ayesha kesal lalu segera membuang wajah untuk menutupi wajahnya yang ia yakin pasti telah memerah karena kata-kata Ghiffary yang menyebalkan.


Ghiffary tergelak melihat reaksi Ayesha yang menurutnya sungguh menggemaskan.

__ADS_1


"Kamu tahu nggak, Sha, kamu tuh gemesin banget! Udah cantik, smart, aku juga yakin kamu itu perempuan baik dan baik banget juga. Kalau mau jujur, aku beruntung mendapatkan kamu jadi istriku, Sha. Kamu nggak ada niatan mau jadiin pernikahan kita pernikahan sementara kan?" tanya Ghiffary tiba-tiba membuat Ayesha menoleh dengan alis berkerut.


"Itu tergantung kak Fary," ujar Ayesha membuat Ghiffary bingung.


"Kok aku? Memangnya aku kenapa?"


"Apa kak Fary lupa dengan pertengkaran kita setelah papi tahu mengenai kehamilanku?"


"Apa hubungannya?" Ghiffary masih kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan Ayesha.


Ayesha menghela nafas panjang, "gadis itu ... gadis yang kakak sebut itu. Kakak masih mencintainya kan? Bisa aja suatu hari nanti dia tiba-tiba datang kembali dan mengajak kakak untuk bersama kembali," ungkap Ayesha mengeluarkan uneg-unegnya.


Ghiffary tersenyum samar, "kau pikir aku mau kembali dengan perempuan yang sudah membuang ku?"


"Siapa tahu. Manusia itu kebanyakan lain di mulut lain di hati. Di mulut bicara nggak akan, di hati aku mau. Apalagi kalau tiba-tiba di hadir kembali, bisa jadi karena rasa cinta kakak yang masih besar itu tiba-tiba kakak setuju dan memilih ... meninggalkan kami," lirih Ayesha.


"Nggak akan. Aku pastikan aku nggak akan seperti itu dan asal kamu tahu, setelah aku menetapkan pilihan untuk menjadikan kamu istriku maka semenjak itu pula aku berusaha menghapus semua tentang perempuan itu."


"Kalau-kalau kamu lupa, aku juga menyatakan niatku menikahimu sebelum aku tahu tentang kehamilanmu," tegas Ghiffary yang memang benar adanya.


"Ya, itu karena rasa bersalah kakak kan! Jadi kakak ingin mempertanggungjawabkan perbuatan kakak yang sudah merusak kehormatanku."


"Awalnya iya, tapi lama-kelamaan aku mulai sadar kalau kau memang jodohku, Sha. Bisa jadi malam itu merupakan cara untuk menyatukan kita. Pertemuan yang tak terduga. Takdir. Jadi, aku mohon jangan sesali pertemuan kita itu! Meskipun caranya salah, tapi inilah takdir kita. Mari kita jalani dengan sepenuh hati. Aku memang belum bisa menjanjikan cinta, tapi aku bisa pastikan akan selalu setia. Dan aku juga pastikan akan berusaha membahagiakan mu dan anak kita," ucap Ghiffary mantap.


"Kita lihat saja nanti kak. Aku juga nggak bisa bilang apa-apa," lirih Ayesha yang enggan membalas tatapan Ghiffary.


"Ya udah, tidurlah. Besok kita periksa kandungan ya! Kamu belum memeriksa kandunganmu lagi kan setelah insiden pingsan di lokasi proyek?" tanya Ghiffary memastikan.


Ayesha menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ya udah, besok siang aku jemput makan siang setelahnya baru kita ke dokter. Aku juga ingin melihat perkembangan anak kita," ucap Ghiffary dengan mata berbinar. Sepertinya ia memang sudah sangat menantikan kehadiran buah hatinya itu.


Ayesha sampai tertegun melihat ekspresi itu. Ia tak menyangka, Ghiffary sangat antusias dengan keberadaan calon buah hati mereka.


"Kayaknya kakak bakal jadi seorang ayah yang luar biasa. Masih dalam perut aja kakak udah kayak gini, apalagi setelah lahir entar," tukas Ayesha membuat senyum Ghiffary merekah sempurna.


"Tentu aja, kakak kan calon ayah yang baik. Kamu nggak akan nyesel punya suami kakak, Sha."


"Ih, pedenya," ejek Ayesha membuat Ghiffary tergelak dan mengacak rambut Ayesha gemas membuat jantung perempuan itu seketika berdebar kencang.


...***...


"Sha, minum susu mu dulu!" tukas Ghiffary seraya menyerahkan segelas susu khusus ibu hamil pada Ayesha. Ayesha akui, Ghiffary memang suami yang super perhatian dan siaga. Ia tak sungkan pergi ke minimarket untuk membelikannya susu ibu hamil sebab selama ini ia belum sekalipun meminumnya. Alasannya ia selalu mual setiap mencium aroma susu. Bagaimana mau minum bila baru mencium aromanya saja ia langsung muntah. Alhasil, ia pun membuang sisa susunya itu ke tong sampah. Tapi berbeda dengan susu buatan Ghiffary. Entah Ayesha pun bingung setengah mati, mengapa setiap apa saja yang Ghiffary berikan padanya, ia sanggup memakan dan meminumnya.


Ayesha menerima susu berwarna merah muda itu dengan tersenyum tipis seraya mengucapkan terima kasih. Lalu ia pun segera menenggaknya hingga tandas tanpa rasa mual sedikit pun.


'Kamu kayaknya sayang banget sama ayah kamu ya dek sampai apapun yang ayah kamu sodorkan pasti kamu terima,' batin Ayesha.


Dan sesuai rencana, Ghiffary dan Ayesha kini sudah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Ayesha. Ghiffary tampak begitu antusias ingin melihat keadaan calon buah hatinya melalui mesin USG. Ghiffary tampak tak henti-hentinya tersenyum saat melihat perkembangan bayinya yang cukup baik.


"Jadi kami belum bisa melihat jenis kelaminnya sekarang ya dok?" tanya Ghiffary pada dokter yang memeriksa Ayesha.


Dokter itu tersenyum lebar, hal ini memang kerap ditanyakan oleh pasangan calon orang tua baru. Mereka terlalu antusias menyambut kedatangan calon buah hati mereka termasuk mengetahui jenis kelaminnya.


"Belum, pak. Kita baru bisa melihat jenis kelaminnya saat usia kandungan sudah masuk bulan keempat atau lebih tepatnya sudah berusia 16 Minggu," tukas dokter itu membuat Ghiffary menghela nafasnya.


Ayesha yang melihat itu lantas terkekeh kecil, "sabar dong, sebulan lagi juga," tukas Ayesha yang diangguki Ghiffary.


Ayesha kian tersenyum lebar, meskipun pernikahan mereka tanpa cinta tapi setidaknya Ghiffary begitu menyayangi anak dalam kandungannya. Ia yakin, anaknya takkan pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Semoga.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2