Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch. 21


__ADS_3

Huek ... huek ... huek ...


Lagi-lagi Ayesha memuntahkan seluruh isi perutnya pagi ini. Padahal akad nikah akan segera diadakan. Tak terasa 1 bulan telah berlalu. Dan para tamu pun telah mulai berdatangan memenuhi rumah Aglian. Ayesha memang meminta pesta pernikahannya dilangsungkan secara sederhana saja. Aglian dan Ghiffary pun menyetujui. Apalagi Aglian tahu, kesehatan putrinya tidak baik-baik saja. Morning sickness nya ternyata cukup parah. Ayesha menolak semua makanan yang disodorkan padanya. Dan hanya makanan pemberian Ghiffary yang bisa masuk ke dalam lambungnya. Sepertinya anak dalam kandungan Ayesha sedang berusaha menyatukan ayah dan ibunya, itu pikir Luna dan Aglian.


"Muka kamu pucat banget, nak?" tutur Luna khawatir melihat wajah Ayesha yang begitu pucat. Padahal ia sudah selesai di make up tadi, tapi karena mencuci mulutnya sehabis muntah, bibir pucat Ayesha terlihat kembali.


"Yesha nggak papa kok, Mi. Mami tenang aja. Kan acaranya nggak lama, Yesha bisa tahanin kok," tukas Ayesha mencoba menenangkan sang ibu.


Luna pun hanya bisa mengangguk pasrah, "tapi kalau kamu merasa badan kamu nggak enak, segera bilang ya, sayang!" ujar Luna mengingatkan yang dibalas Ayesha dengan anggukan.


...***...


SAH


SAH


SAH


Seruan kata SAH menggema di taman belakang rumah Aglian. Hal itu menandakan resmilah sudah Ayesha Salsabila Putri Angkasa sebagai istri dari Ghiffary Ramadhan.


Atas instruksi dari Luna, Ayesha pun mencium punggung tangan Ghiffary, kemudian Ghiffary pun mencium dahi Ayesha.


Sepanjang jalannya acara, Ayesha hanya memasang wajah datarnya. Tak ada raut bahagia sama sekali. Ghiffary hanya bisa mendesah pasrah. Entah bagaimana cara meluluhkan hati istrinya itu. Ghiffary sampai mengutuk mulut lancangnya itu. Bagaimana bisa ia justru menyebutkan nama perempuan lain saat ia sedang menggauli Ayesha. Ghiffary tak dapat menampik, di sudut hatinya terdalam memang masih ada nama perempuan lain yang kini sayangnya telah menjadi istri orang lain. Patah hati membuatnya mencoba menenggak minuman haram. Mungkin inilah sebabnya alkohol diharamkan sebab lebih banyak mudharatnya dari kebaikannya. Akibat minuman haram itu ia jadi melakukan hal yang dilarang. Dan kini, perempuan yang digaulinya itu bukan hanya mengandung benihnya, tapi juga membenci dirinya akibat mulutnya yang menyebutkan nama perempuan lain di depannya.


Meskipun mereka melakukan hal tersebut tanpa cinta, tapi namanya perempuan akan merasa sakit hati saat mendengarnya.


...***...


"Astaga, Sha, siapa yang nikah, yang hamil duluan siapa. Pantesan aja muka kamu kecut mulu waktu itu. Aku ini Abang kamu Sha, kenapa kamu rahasiain ini sih? Apa Abang udah nggak penting lagi buat kamu?" protes Damar setelah acara ijab Kabul selesai.


Ayesha menunduk seraya meremas kedua tangannya, "maaf bang, Yesha, Yesha cuma malu. Takut Abang kecewa juga," aku Ayesha yang sudah terisak.


"Tapi Abang justru lebih kecewa kayak gini. Untung aja Si Ghiffary-Ghiffary itu gentle, coba nggak, mau kamu hamil tanpa suami?" ketus Damar tak kalah kecewa.


"Maaf," cicit Ayesha.

__ADS_1


"Ya udah, mau bagaimana lagi. Abang harap cuma satu, kamu bisa berbahagia dengan suami kamu sekarang," pungkas Damar membuat Ayesha kian tertunduk.


'Insya Allah ya, bang soalnya yang dicintai kak Fary itu orang lain, bukan aku,' batin Ayesha bermonolog.


Sedangkan di ruangan lain, tampak Ghiffary, Kiandra, dan Raka sedang duduk berbincang.


"Gila bener loe Ghif, pantes aja pas di resto tempo hari di Yesha langsung cabut pas lihat loe datang, ternyata karena kalian udah bercocok tanam duluan," cibir Kiandra.


"Abang kenal sama istrinya Ghiffary ya, bang?" tanya Raka, putra dari Azam, adik sepupu Kiandra. Sedangkan Kiandra merupakan putra dari kakak Erika.


"Dia anak saudara kembar istrinya bos Abang, Ka. Makanya Abang terkejut banget pas tadi lihat ternyata si Yesha yang jadi pengantinnya si cunguk ini. Dasar loe ya, diam-diam menghanyutkan!" cibir Kiandra.


"Ck ...namanya juga nggak sengaja, bang," jawab Ghiffary malas.


"Untung aja kamu cuma dapat tonjokan dari ayah bapak mertua Abang, kalau ayah kamu dulu, udah masuk penjara ooops ... " Kiandra langsung menutup mulutnya keceplosan. Ia hampir saja membuka masa lalu ayah Ghiffary.


Ghiffary yang mendengar itu, lantas melotot dan menuntut penjelasan.


"Apa kata abang tadi? Masuk penjara? Maksud Abang ayah aku kan? Memangnya ayah pernah buat kesalahan apa sampai dipenjara?" cecar Ghiffary penasaran.


"Nggak ah, Raka juga dengar kok Abang bilang penjara. Hayo, jangan bohong!" tuntut Raka yang diangguki Ghiffary.


Kiandra menghela nafas panjang, "sorry, Ghif, bukan Abang mau rahasiain, tapi bukan kapasitas Abang buat cerita masalah ini. Menurut Abang malah lebih baik kamu nggak usah tahu karena memang masalah ini udah ditutup rapat oleh ayah mertua kamu. Abang takut hal itu malah mengungkit luka lama yang justru membuat hubungan kalian yang sudah berjarak makin merenggang," nasihat Kiandra.


Ghiffary menyetujui kata-kata Kiandra tapi satu sudut hatinya justru makin penasaran, apa kesalahan sang ayah di masa lalu sampai ia pernah masuk penjara. Ia benar-benar tak menyangka, ayahnya yang ia lihat sangat lurus-lurus saja, bahkan bertahun-tahun sepeninggal ibunya, tak pernah membuka diri untuk orang lain, hanya sibuk dengan toko bunga dan coffee shop miliknya, bisa melakukan sesuatu yang membuatnya berakhir masuk penjara.


'Aku harus mencari tahunya nanti. Bisa-bisa aku mati penasaran kalau kayak gini terus.'


...***...


Ayesha memekik kaget saat baru saja keluar dari kamar mandi, ia justru melihat Ghiffary berada di dalam kamarnya. Ayesha langsung membalikkan tubuhnya karena merasa malu sebab ia hanya mengenakan handuk sebatas dada. Ia benar-benar lupa kalau kini ia tidak sendiri lagi di kamar itu.


Ghiffary yang sedang berdiri menunggu Ayesha keluar dari kamar mandi tak kalah terkejutnya. Ia pun ikut membalikkan badannya sehingga mereka saling membelakangi.


"Ka-kau ngapain kemari?" cicit Ayesha gelagapan.

__ADS_1


"Aku ... aku disuruh Tante Luna masuk ke mari," sahut Ghiffary yang juga ikut gelagapan. "Ka-kalau begitu, saya keluar dulu. Kamu silahkan mengenakan pakaian dulu," ujar Ghiffary yang segera berlari keluar kamar Ayesha.


Ayesha mengusap dadanya yang berdegup kencang. Wajahnya merah padam, ia benar-benar malu.


"Hampir saja," gumamnya yang segera mengambil baju di dalam lemari dan mengenakannya.


Beberapa menit kemudian, tampak seseorang membuka pintu secara perlahan. Lalu dari baliknya, menyembul kepala seorang laki-laki sambil celingukan kesana-kemari. Saat ia tidak melihat keberadaan Ayesha, barulah ia masuk kemudian menutup pintunya secara perlahan.


"Ngapain kamu? Udah kayak maling?" cetus Ayesha membuat Ghiffary terlonjak dari tempatnya.


"Astaga, kaget aku!" seru Ghiffary membuat Ayesha hampir saja menyemburkan tawanya. Tapi sekuat mungkin ia tahan tawa itu. Tentunya gengsi yang menjadi alasannya.


Ayesha memasang wajah jengah, lalu ia segera menghempaskan bokongnya di sofa yang ada di kamarnya. Melihat Ayesha membuang muka, Ghiffary pun segera berjalan menuju tasnya yang teronggok di samping lemari Ayesha. Kemudian ia mengambil pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Ghiffary pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana cargo selutut berwarna hitam. Rambutnya terlihat basah membuat kadar ketampanannya naik beberapa derajat. Diam-diam Ayesha melirik apa yang tengah dilakukan Ghiffary. Ternyata kini ia sedang menyisir rambutnya di depan meja rias Ayesha.


"Kamu udah makan, Sha?" tanya Ghiffary yang kini telah duduk di samping Ayesha. Tapi Ayesha justru menggeser tubuhnya sambil mendelik tajam.


"Belum," ketus Ayesha.


"Kamu mau makan sesuatu?" tawar Ghiffary.


"Nggak."


Ghiffary menghela nafas panjang sambil beristighfar dalam hati.


"Kata Tante Luna kamu sepanjang pagi tadi muntah-muntah terus, perut kamu pasti kosong. Kalau ada yang mau kamu makan bilang aja. Nanti aku usahakan cari. Ingat, di dalam perut kamu itu ada calon anak kita. Kasihan dia bila tidak mendapatkan nutrisi yang seimbang," ujar Ghiffary mencoba bicara dengan lembut.


Ayesha mencebikkan bibirnya. Entah mengapa tiba-tiba matanya berkaca-kaca membuat Ghiffary yang melihatnya seketika gelagapan.


"Ka-kamu kenapa nangis? Aku ... apa aku ada salah ngomong?" tanya Ghiffary panik.


Ayesha menggeleng, "aku emang lapar tapi nggak tahu mau makan apa. Setiap lihat makanan bawaannya mau muntah," ujarnya membuat Ghiffary seketika iba. Tangan Ghiffary terulur untuk mengusap kepala Ayesha, namun ia urungkan. Ia takut Ayesha tak nyaman dengan sentuhannya.


"Ya udah, kamu tunggu di sini. Aku coba masakkin kamu sesuatu, semoga kamu bisa memakannya," ujar Ghiffary yang segera keluar menuju dapur untuk memasakkan sesuatu.


...***...

__ADS_1


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2