Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch.15 Aku bersedia menikahimu ...


__ADS_3

Setelah hampir 1 jam lamanya Ayesha pingsan, akhirnya ia sadarkan diri juga. Mata Ayesha mengerjakan beberapa kali. Aroma desinfektan yang begitu kuat membuat dahi Ayesha mengernyit. Matanya memindai sekeliling, di saat bersamaan Defri muncul dari ambang pintu dengan wajah paniknya.


"Nona, Anda sudah sadar? Syukurlah. Saya tadi benar-benar panik saat tahu Anda tiba-tiba pingsan," serunya dengan wajah penuh kelegaan.


"Saya pingsan?" tanya Ayesha yang sudah membulatkan matanya.


"Iya nona, saat di lokasi proyek tadi Anda tiba-tiba saja pingsan. Jadi saya membawa Anda kemari. Untung saja rumah sakit tidak terlalu jauh dari lokasi proyek jadi Anda bisa segera mendapatkan penanganan," ujar Defri seraya tersenyum simpul.


"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot membawaku ke rumah sakit. Aku yakin, ini hanya karena sakit maghku yang kambuh," ujar Ayesha merasa tak enak hati karena terus merepotkan Defri. Meskipun Defri merupakan asisten pribadinya, tapi ia bukanlah seseorang yang gemar menyusahkan orang lain.


Defri terdiam dengan raut wajah tak terbaca. Ia bingung bagaimana cara menyampaikan tentang kehamilan sang atasan yang entah sejak kapan telah mencuri hatinya itu. Apalagi setahu Defri, Ayesha tidak memiliki kedekatan dengan siapapun. Tapi bagaimana ia bisa hamil, sedangkan suami saja ia tidak punya. Defri sibuk dengan pikirannya sendiri.


Menyadari asistennya tampak sedang gelisah, Ayesha pun jadi penasaran. Sebenarnya apa yang membuat Defri terlihat begitu cemas. Apakah ia memiliki penyakit yang berbahaya pikirnya.


"Def, kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Ayesha.


Defri tampak ragu ingin menyampaikan apa kata dokter tadi, tapi Ayesha terus menuntut penjelasan hingga Defri pun terpaksa mengatakan apa yang ia ketahui.


"Nona, Anda-Anda hamil," ujar Defri terbata.


Ayesha yang mendengar hal tersebut sontak saja menegang kaku. Matanya mengerjap beberapa kali. Mencoba mencerna apa yang barusan ia dengar. Berharap apa yang barusan didengarnya itu salah.


"Hahaha ... kau ... kau pasti sedang bercanda kan, Def! Itu nggak mungkin. Mana mungkin aku ... "


"Tapi itulah kenyataannya, nona. Anda sedang hamil karena itu kepala Anda sering sakit, mengalami gejala mual-mual, dan susah makan. Keinginan Anda makan bubur ayam juga merupakan bagian dari ngidam," tukas Defri menjelaskan membuat nafas Ayesha seketika tercekat.


Tangannya mengepal seraya meremas ujung selimut. Ayesha memejamkan matanya, 'mengapa aku harus hamil? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Oh Tuhan, apa salah Dan dosaku sehingga aku harus mengalami hal ini? Hamil di luar nikah?'


Kepala Ayesha seketika sakit membuat Defri panik kemudian segera memanggil dokter untuk memeriksanya.


"Ibu tidak boleh stres atau banyak pikiran sebab itu akan berakibat kurang baik pada kandungan ibu," ujar seorang dokter menasihati setelah memeriksa Ayesha. "Saya nanti akan meresepkan vitamin dan obat penguat kandungan. Harap Anda meminumnya dengan rutin untuk menjaga kesehatan baik ibu dan janin yang ada di dalam kandungan ibu," imbuh dokter tersebut.


...***...


Dddrrt ...

__ADS_1


Ayesha yang sedang melamun, seketika tersentak saat mendengar getaran ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Ayesha pun segera beringsut untuk mengambilnya. Ayesha melebarkan senyumnya saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Mi," ucap Ayesha setelah ia mengangkat panggilan itu.


"Wa'alaikum salam, sayang. Apa kabar anak mami? Mentang tinggal sendiri kayak lupa sama mami dan papi di sini," protes Luna membuat Ayesha terkekeh. Seketika perasaannya berangsur membaik setelah mendengar suara sang ibu.


"Kabar Yesha baik kok, Mi. Mami gimana?" tanya Ayesha balik.


"Mami kesepian nggak ada kamu sama papi," aku Luna seraya menghela nafas.


"Lusa juga papi udah pulang, Mi. Jangan galau ih! Salah mami sendiri nggak mau ikut papi jadinya galau sendiri kan!"


"Ih kamu ya, salahin mami. Salah papi tuh kasi tau mau pergi mendadak. Nggak mungkin kan mami tinggalin ulang tahun Luna's Entertaintment. Coba papi kasih tau dari sebelumnya, pasti mami akan atur jadwal biar bisa ikutan."


"Cie ... cie ... yang kangen sama papi," goda Ayesha.


"Tau aja kamu. Hehehe ..."


"Yesha seneng liat mami dan papi bahagia kayak gini. Selalu saling mencintai dan menyayangi. Semoga selalu seperti ini ya, Mi. Yesha sayang banget sama mami dan papi. Sama si duo ganggang juga," lirih Ayesha. Entah mengapa, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ia khawatir, orang tuanya akan marah dan membencinya saat tahu kebenaran yang tengah ia sembunyikan saat ini.


"Aamiin," ucap Ayesha tulus.


...***...


Ayesha dapat bernafas dengan lega setelah sang ibu menghubunginya. Ia bersyukur, Defri tidak mengungkapkan tentang kehamilannya pada kedua orang tuanya seperti permintaannya. Diusapnya perutnya yang datar.


"Kenapa kau hadir di saat seperti ini, sayang. Apa yang harus mama lakukan?" gumamnya seraya tersenyum miris.


Keesokkan harinya, masih seperti kemarin-kemarin, wajah Ayesha justru kian pucat. Mual muntah membuatnya kesulitan konsentrasi dalam mengerjakannya beberapa dokumen yang ada di hadapannya.


"Nona, ini minumlah. Minuman jahe ini akan membuat tubuh Anda menghangat juga mengurangi rasa mual," ujar Defri seraya menyodorkan segelas minuman jahe pada Ayesha.


Ayesha sontak saja terkejut dengan apa yang dilakukan Defri, "terima kasih. Ini ... kau membuatnya sendiri?"


"I-iya," jawab Defri seraya mengulas senyum.

__ADS_1


"Nona, maaf kalau aku lancang, tapi sampai kapan Anda akan menyembunyikan kehamilan Anda? Bukankah Anda tahu, semakin hari perut Anda pasti akan kian membesar dan status Anda bukan tidak mungkin akan membuat berbagai spekulasi muncul sebab Anda hamil tanpa suami," ujar Defri dengan begitu hati-hati.


"Entahlah, aku pun masih bingung. Tapi terima kasih atas perhatianmu. Minumannya enak. Kau tahu dari mana tentang minuman jahe ini?"


"Oh itu, ibu saya suka membuatkan ini saat adik saya sedang hamil jadi saya tahu."


"Apa Anda tidak ingin memberitahukan perihal kehamilan Anda dengan ayahnya? Maksud saya ayah dari calon buah hati Anda?"


Ayesha tersenyum miris.


"Ah, maaf kalau aku terlalu lancang mencampuri privasi Anda," ujar Defri merasa bersalah.


Ayesha menggeleng, "tak apa. Lagipula kau orang pertama yang mengetahuinya. Terima kasih kau mau menjaga rahasia ini." ujar Ayesha seraya tersenyum sendu. "Perihal memberitahukan tentang kehamilanku ini, apakah harus? Aku sendiri masih bingung."


"Memangnya siapa dia?" tanya Defri penasaran.


"Kau tak perlu tahu."


"Maaf."


"Nona ... "


"Hmmm ... " sahut Ayesha seraya menyesap minuman jahenya.


"Bila kau butuh sesuatu atau bantuan, katakan saja. Aku akan selalu sedia membantumu. Dan bila perlu, aku bersedia menjadi ayah dari anakmu."


Sontak saja ucapan Defri membuat Ayesha terbatuk-batuk dengan mata membulat.


"Mak-maksudmu?"


"Ya, aku bersedia menikahimu dan menjadi ayah dari calon anakmu," ucap Defri tegas dan tanpa keraguan sama sekali membuat Ayesha ternganga tak percaya.


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...

__ADS_1


"


__ADS_2