Unperfect Wedding

Unperfect Wedding
Ch.12 Aku tak butuh pertanggungjawabanmu


__ADS_3

Ayesha baru saja tiba di gedung Angkasa Grup. Baru saja Ayesha hendak membuka pintu ruangannya, tiba-tiba pintu sudah terlebih dahulu terbuka dari dalam lalu keluarlah Defri dari dalamnya.


"Kamu ... " seru Ayesha bingung mengapa pagi-pagi seperti ini Defri telah keluar dari dalam ruangannya.


"Ah, maaf nona!" ucap Defri yang juga terkejut.


"Kenapa pagi-pagi kamu sudah ada di ruangan saya?" tanya Ayesha bingung.


"Itu nona, pak Ghiffary telah tiba dari beberapa menit yang lalu. Katanya ia ingin melanjutkan pembahasan mengenai proyek Savior Hotel. Jadi saya baru saja mengantarkan kopi untuknya," ujar Defri menjelaskan.


"Apa?" seru Ayesha tak suka dengan dahi berkerut.


"Ya sudah biar saya temui dia. Kamu segera siapkan berkas untuk meeting kita dengan Alvaro Grup siang nanti," titah Ayesha tegas yang langsung diiyakan Defri tanpa banyak berbasa-basi lagi.


Setelah mengatakan itu, Ayesha masuk ke dalam ruangannya dengan wajah datar. Tak ada gurat ramah tamah sama sekali. Ghiffary hanya diam sambil memperhatikan gerak-gerik Ayesha yang sedang berjalan lalu meletakkan tas tangannya di atas meja. Kemudian ia segera duduk dan membuka laptopnya.


Sebenarnya Ayesha merasa tak nyaman dengan keberadaan Ghiffary. Apalagi ia sadar, sejak ia masuk ke dalam ruangan itu, Ghiffary terus memperhatikan dirinya dengan mulut terkatup rapat.


"Tolong kondisikan mata Anda. pak Ghiffary! Sungguh tak sopan memperhatikan wanita sampai nyaris tak berkedip seperti itu!" ketus Ayesha sambil mendengus.


Mendengar ucapan Ayesha, tanpa sadar Ghiffary tersenyum tipis.


"Akhirnya kau mau bersuara juga. Apa aku harus selalu memperhatikanmu supaya kau mau bicara dengan ku? Atau setidaknya mengeluarkan suara emasmu itu?" ujar Ghiffary seraya menyunggingkan senyum usilnya.


"Jangan banyak tingkah kau! Pergi sana! Aku sudah muak melihat keberadaanmu," ketus Ayesha dengan jemari sibuk menekan tombol di papan keyboard laptopnya.


"Pergi? Jadi kau ingin menyuruhku pergi, begitu?"


"Telingamu masih berfungsi dengan baik kan!" hardik Ayesha sambil memutar bola matanya jengah.


"Bukan hanya baik, tapi sangat baik. Termasuk otakku yang kini justru mencerna pengusiranmu sebagai undangan agar aku lebih sering datang kemari," jawab Ghiffary sambil menipiskan bibir. Lalu tangannya membuka tas jinjing yang ia bawa dan mengeluarkan laptop miliknya.


Ayesha mengerutkan keningnya saat mendengar kata-kata Ghiffary yang membuatnya seketika bingung. Memangnya apa kata-katanya yang membuat Ghiffary menganggap pengusirannya sebagai undangan agar lebih sering datang? Sungguh narsis pikirnya.


"Dasar orang aneh!" cibir Ayesha tetap berlagak acuh tak acuh.


"Hmmm ... kelak orang aneh ini akan menjadi seseorang yang penting dalam hidupmu," sahut Ghiffary yang kini telah siap dengan laptopnya.


"Sebenarnya apa maumu sih? Pulang sana! Aku sibuk."

__ADS_1


"Kau pikir aku tak sibuk? Kemarin kemari, tapi hasilnya nihil. Lalu pagi-pagi kemari sampai melewatkan sarapanku sendiri, kau masih saja acuh tak acuh. Ah, aku semakin yakin, tujuanmu pasti agar aku makin sering ke sini! Benar bukan?" cibir Ghiffary dengan mode percaya diri tinggi membuat Ayesha menganga mendengarnya.


Ayesha lantas tertawa sumbang kemudian menyahutinya dengan sinis.


"Andai kau bukan arsitek pilihan om Sanusi, sudah sejak kemarin aku tendang kau dari hadapanku!"


"Kau mau menendangku? Ayo, tendang!" cibir Ghiffary menantang. Ia bahkan sampai berdiri membelakangi lalu menepuk-nepuk bokongnya seolah begitu menunggu ditendang oleh Ayesha.


Ayesha mengepalkan tangannya lalu ia berdiri dengan senyum pongah di bibirnya.


"Baiklah bila itu yang kau mau. Kebetulan aku sudah lama tidak latihan menendang." Ucap Ayesha dengan tersenyum miring.


Lalu Ayesha mendekat sambil sedikit menaikkan roknya sehingga memamerkan paha putih mulusnya yang bertepatan dengan Ghiffary yang menoleh. Belum sempat Ghiffary mengagumi paha putih mulus Ayesha sebuah tendangan cukup keras telah lebih dahulu menghantam bokong Ghiffary sehingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Di saat bersamaan pintu ruangan terbuka dan Aglian pun muncul dari baliknya dengan mata yang melotot sebab Ghiffary jatuh tepat di ujung sepatunya.


Brakkk ....


"Aaaargh ... "


"Ayesha Salsabila Putri Angkasa, jelaskan apa maksudnya ini?" tanya Aglian dengan mata melotot tajam dan suara sedikit meninggi.


Ayesha yang melihat kedatangan Aglian sontak saja menegang kaku.


'Astaga, kenapa papi harus muncul di saat yang tak tepat seperti ini?'


...***...


Ayesha yang kini telah duduk berhadapan dengan ayahnya, hanya bisa menunduk sambil meremas kedua belah tangannya. Ia bingung harus mengatakan apa. Mana mungkin ia menceritakan perihal Ghiffary yang terus memprovokasinya karena ia terus mengabaikannya.


Ghiffary yang tak tega melihat Ayesha merasa bingung bercampur takut lantas berdeham dan mencoba membantunya.


"Ekhem ... emm ... maaf tuan, itu ... tidak seperti yang tuan duga. Saya pernah membuat kesalahan sebelumnya pada nona Ayesha, jadi biar impas saya meminta nona Ayesha membalas ... "


"Dengan menendangmu, begitu?" sambung Aglian yang raut tegangnya telah sedikit mereda.


"I-iya, tuan. Saya mohon agar Anda tidak salah paham."


"Oh jadi sebenarnya kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aglian.


"Eh, i-iya, tuan. Pernah satu kali. Dan hari ini merupakan pertemuan yang ketiga kalinya," jawab Ghiffary membuat Ayesha sedikit menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Aglian menganggukkan kepalanya.


"Tapi bokong dan bagian depan tubuhmu tidak apa-apa kan? Soalnya mau terjatuh cukup keras tadi."


"Saya ... ti ... aargh ... " desis Ghiffary seraya menggosok dagunya yang belum ia sadari sebenarnya memar.


Aglian menyadari itu lantas sedikit memicingkan matanya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sha, lihat ulah kamu! Dagu Ghiffary jadi memar. Sekarang papi minta kamu segera obati. Selesaikan masalah kalian baik-baik, tak perlu memakai kekerasan. Kekerasan takkan menyelesaikan masalah kalian berdua," ujar Aglian memberikan nasihat. Lalu ia segera berdiri hendak berlalu dari sana. "Mengapa masih diam?" tanya Aglian dengan dahi yang berkerut.


"Eh, i-iya, pi. Yesha akan segera mengobatinya," sahut Ayesha gelagapan takut kalau sang papi jadi marah padanya.


Setelah Aglian keluar, Ayesha segera mencari kotak obat lalu mengeluarkan kapas dan alkohol untuk membersihkan dagu Ghiffary yang memar.


"Aaakh ... " pekik Ghiffary saat Ayesha Tania sengaja menekan memar itu cukup keras.


"Ah, aduh, so-sorry," ucapnya dengan memasang wajah menyesal, "gue sengaja," lanjutnya datar membuat Ghiffary melongo kalau mantan gadis itu bisa bersikap usil seperti itu.


"Sha, apa yang aku ucapin kemarin itu serius. Aku ingin bertanggung jawab padamu. Aku benar-benar ingin menikahimu," ujar Ghiffary dalam mode serius sambil menatap lekat wajah Ayesha yang sangat cantik dari jarak begitu dekat ini.


"Aku tak butuh pertanggungjawabanmu," sahut Ayesha acuh.


"Kenapa? Apa karena aku tidak sekaya dirimu?"


Ayesha membalas tatapan mata Ghiffary membuat Ghiffary menelan ludahnya saat mata mereka saling bersirobok. Bola mata itu begitu jernih dan bersinar. Seolah ada daya magnet yang begitu besar menarik dirinya masuk ke dalam pusaran pesona seorang Ayesha Salsabila.


"Karena aku tidak mau menikah hanya atas dasar pertanggungjawaban. Kau pasti tahu, orang yang menikah atas dasar cinta saja bisa berpisah, apalagi yang menikah hanya karena rasa ingin bertanggung jawab. Aku ingin menikah satu kali seumur hidup. Dan menikah denganmu adalah pilihan terakhir bila sudah tak ada lagi yang bisa ku lakukan," ucapnya lalu ia segera mengambil salep memar dan memoleskan dengan lembut.


"Tidak semua pernikahan yang tidak didasari cinta akan berakhir dengan perceraian. Cinta bisa tumbuh karena biasa. Jadi apa salahnya kita menikah? Aku yakin, perlahan rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu," jawab Ghiffary diplomatis.


Ayesha tersenyum sinis, "bila tidak kunjung tumbuh?"


Ghiffary terdiam. Ayesha lantas segera membereskan obat-obatan yang ia pakai dan mengembalikannya ke tempat semula.


...***...


Ghiffary tampak gelisah di tempat tidurnya. Setiap ingin memejamkan matanya, dirinya selalu terbayang tatapan kecewa Ayesha saat pertengkaran pertama mereka di London. Rasa bersalah itu kian menggelayuti benak Ghiffary. Sungguh ia tidak bisa tenang sebelum bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dirinya merasa menjadi lelaki paling breng-sek sejagad raya karena sikap bodohnya tempo lalu. Mengapa ia bisa menilai perempuan sembarangan seperti itu Sangat wajar kalau Ayesha bersikap ketus dan terus melakukan penolakan padanya sebab itu berawal dari kebodohannya sendiri. Kenapa juga ia menuduhnya sembarangan dan memberikannya uang. Padahal dari bercak merah yang ada di seprai tempo hari bisa menjadi bukti kalau Ayesha telah menjaga dirinya selama ini, sebelum sesuatu yang paling berharga itu ia reguk seorang diri.


"Arrghhh ... sial! Bego' loe , Ghif! Bisa-bisanya loe mau bayar perempuan yang bahkan kekayaannya jauh di atas loe!" gumam Ghiffary seraya menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°...


__ADS_2