
Dita berlari kecil dengan berpayung map
yang ada ditangannya menuju sebuah rumah makan yang lumayan tidak terlalu besar
dan tidak terlalu kecil untuk berteduh, cuaca sedang tidak menentu hujan
tiba-tiba membuat Dita sedikit kesusahan lantaran tidak punya kendaraan sendiri
satu karena tidak punya uang untuk membeli dua karena tidak bisa
mengendarainya, Dita berdiri di depan rumah makan sambil melihat keatas lagit
yang dilihatnya mendung putih yang nampaknya hujan akan semakin deras
“basah kuyup neng” kata seseorang yang
sedang duduk di sebuah motor yang diparkir didepan warung makan tempat Dita
berteduh, Dita hanya meliriknya saja dengan tatapan tidak suka yang membuat
orang itu gemas ingin menggodanya
“sini neng abang angetin” katanya lagi
diikuti tawa yang lainnya, Dita tak menanggapi hanya melirik dengan sinis serta
gerah dengan kata-kata orang itu.
“masuk aja neng, masih kena air hujan
kalau disitu” Suara pemilik warung mempersilahkan Dita untuk berteduh didalam
warung miliknya, Dilihatnay tempat ia berdiri,
"Ini
aman kok gak kena hujan, oh makasih buk, ibuk nyelametin gue dari setan alas
yang kurang kerjaan ini”gumannya dalam hati
Dita pun melangkah masuk kedalam warung,
dia melayangkan pandangan keseluruh ruangan warung tak terlihat ada meja yang
kosong, ada satu meja yang masih punya kursi kosong hanya saja Dita melihat
makhluk yang berbeda menempatinya, dia duduk sendiri, sebuah setelan jas hitam
yang dari jauh pun sudah jelas itu barang mahal tergantung dikursi lainnya,
Dita berguman dalam hati
Ah
kenapa orang seperti dia makan di tempat seperti ini, apa dia gak mampu bayar?
Setelannya Cuma buat gaya doang?
Dita masih melayangkan pandangannya tengok
kanan dan kiri barangkali ada kursi kosong dan dia bisa bergabung dengan mereka
tapi nihil, tidak ada. Makhluk berbeda itu pun tersenyum yang sedari Dita masuk
sudah memperhatikannya, rambut Dita yang setengah basah lantaran kehujanan tak
membuat percaya dirinya hilang. Tegar yang sudah dia asah sejak masih dibangku
SMA mampu dia kendalikan. Makhluk berbeda itu pun mengambil jas setelannya dan
memberikan kode kepada Dita dengan anggukan kepalanya bahwa Dita boleh duduk
satu meja dengannya, kaki Dita pun melangkah menuju meja makhluk tampan itu.
“thank you Mr” kata Dita dengan senyum
pendeknya pada makhluk berbeda yang mengizinkan Dita untuk duduk satu meja dengannya,
pria bule tampan yang meberikan kursi kepadanya itu hanya mengagguk dan
meneruskan aktivitasnya dengan ponsel ditangannya
“Ini
orang gak mesen apa-apa atau sudah selesai atau hanya berteduh sih”
kata Dita dalam hati
“buk teh hangat satu ya” kata Dita
sambil melihat pada ibu warung sudah berjalan kearahnya, diletakkannya map yang
dibawanya di atas meja, dilihatnya hujan yang semakin deras Dita pun hanya
menghela napas panjang
“kenapa” Tanya makhluk tampan didepan
Dita yang membuat Dita sedikti terkejut dan langsung menoleh kearah sumber
suara, dengan senyum terpaksa Dita menggelengkan kepalanya memberikan jawaban
kepadanya. Dia pun tersenyum pada Dita,
“Oh
tuhan dengan tersenyum malah membuat Mr ini semakin tampan, meski hujan
seharian juga gue bakal betah kalau ditemenin makhluk seganteng ini” hatiku
berkata lagi kali ini aku memujinya.
“Stop
Dita, jangan berhayal”bantahnya Dalam hati pada apa yang
dipikirkannya
“ini neng tehnya” ibu pemilik warung
menyuguhkan teh hangat pesanan Dita
“makasih buk” kata Dita sambil menggeser
gelas sedikit ketengah agar tepat berada di hadapannya
“tea Mr” kata Dita menawarkan tak lupa
dengan senyum ia sematkan dibibir mungilnya
“thanks, enjoy it” kata makhluk tampan
itu dengan santai dan tersenyum yang membuatnya semakin tampan, Dita pun
meminum teh yang yang sudah dipesanya itu pelan-pelan untuk menghangattkan
tubuhnya.
“buk saya coffee satu, coffee instan its
ok, cappuccino” suara makhluk tampan itu membuat Dita menaikkan satu alisanya
karena Bahasa yang dipakainya, belum Dita membuka suara untuk bertanya dia
sudah bicara lagi
“melamar kerja?” Tanya nya kepada Dita sambil
menunjuk map yang ada didepan Dita
“no Mr, itu soal latihan untuk
murid-murid saya” jawab Dita dengan senyum tentunya. Dia hanya mengangguk
“guru, bagus” katanya lagi sambil
menganggukkan kepala
“hanya privat teacher kok Mr” kata Dita
menerangkan sambil diletakkannya gelas teh kembali ke tempatnya semula.
“no, its Good,really” katanya lagi
dengan santai yang berusaha memberikan semangat pada Dita. Dita pun hanya
tersenyum.
“ah yeah, aku Rafael” katanya
__ADS_1
memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya kepada dita. Tanpa ragu Dita
membalas uluran tangannya dan mereka berjabat tangan saling memperkenalkan
diri.
“I’am Dita, Dita Ayura” jawab Dita
dengan yakin memperkenalkan dirinya
“nice name” tambahnya memuji Dita dengan
senyumnya yang membuat perempuan mana saja pasti meleleh dibuatnya
“Mr disini berteduh juga” Tanya Dita
polos seraya memandang Rafael mencari tahu
“iya, mobil saya mogok jadi saya
menunggu disini karena mendung dan ternyata hujan turun, so saya disini bertemu
kamu” katanya menjelaskan yang dicampur dengan sedikit gombalannya itu.
“ah
ngasih gue tempat duduk paling juga cuman mau gombalin gue” batin Dita
Tapi memang benar mereka bertemu
ditempat itu, yang dimasa depan membawa mereka pada kehidupan yang tidak mereka
duga sebelumnya. Mereka pun berbincang banyak seputar guru privat, Dita
menceritakan pengalamannya sebagai guru privat, Rafael juga memberikan banyak
pengetahuan tentang bagaimana mengajar Bahasa asing pada Dita
“oh iya Mr disini tinggal dengan
keluarga?” tanya Dita menyelidiki
“iya, ada mami, papi, grandma and grandpa,
mami orang Indonesia jadi saya membuka cabang bisnis disini” jelasnya, Dita
hanya menaggukkan kepala mendengar penjelasannya. Dua jam mereka berbincang
dengan topik yang berbeda-beda, sesekali mereka tertawa lepas karena obrolan
mereka, akhirnya hujan pun reda, Dita
berpamitan untuk pulang.
“tunggu, saya akan antar kamu” kata
Rafael menghentikan Dita yang akan beranjak dari kursinya itu dengan raut muka
terkejut
“ah gak usah Mr, say bisa pulang
sendiri” jawab Dita dengan senyum terpaksa dan menggelengkan kepalanya
“saya ingin tahu kamu tinggal dimana,
just it” Rafael menambahkan
“because you are my friend now, please”
ucap Rafael lagi kali ini dengan wajah memelas
Akhirnya Dita pun mengiyakan, dan mereka
berjalan keluar warung setelah memebayar pesanan mereka masing-masing tak lupa
Dita menjelaskan bahwa tempat tinggalnya tak jauh dibelakang warung itu, dan
mobil juga tidak bisa masuk, hanya motor saja. Sambil melangkahkan kaki menuju
kontrakan Dita mereka melanjutkan obrolan mereka, Dita pun menjelaskan tempat
mereka tidak banjir tapi hanya lampu padam jika hujan turun lebih dari tiga
jam. Mereka tiba di gang sempit yang membuat Rafael menaikkan alisnya dengan
raut muka heran, segudang pertanyaan memenuhi pikiranya
the place like this”batin Rafael yang tidak percaya dengan
apa yang dia lihat.
“you living here?” Tanya Rafael pada
Dita yang sudah berdiri didepan teras kontrakannya.
“yes” jawab Dita singkat seraya membuka
pintu rumah kontrakannya
“this is not good, and very small” kata
Rafael protes dengan tempat tinggal Dita yang dijawab Dita dengan senyuman sambil
menatap Rafael Rafael
“iya kecil, ini aja udah bagus gue punya tempat tinggal” gerutu
Dita dalam hatinya
“eh neng Dita sudah pulang” sapa mang
Tohir, penjual bakso yang sekaligus ngontrak di sebelah kontrakan Dita.
“iya mang, mang Tohir gak jualan? Kok
belum buka?” Dita menjawab sekaligus memberi pertanyaan pada mang Tohir,
diperhatikannya kursi-kursi plastik yang ada di teras mang Tohir, teras yang
lebih luas daripada teras Dita itu masih dalam posisi tengkurap di atas meja.
“jualan neng, tapi baru mau buka, ini
habis dari rumah sakit” jelas mang Tohir yang mulai merapikan rombong baksonya.
“bang sudah buka belum, aye beli satu
porsi bang, di bungkus ye” Tanya seorang pembeli yang datang ke kontrakan
sekaligus dijadikan warung kecil mang Tohir sembari melihat kearah Dita, mbak
Rumina namanya, penjual sayur keliling dikampung tempat tinggal Dita. Mbak
Rumina melihat dan Rafael bergantian disertai senyum-senyum jailnya
“pacarnya neng” Tanya mbak Rumina dengan
senyum jailnya yang lebar dan alisnya yang naik turun.
“ah bukan, ini teman aja mbak” jawab Dita
singkat disertai senyum tipis, senyum terkejut dengan pertanyaan mbak Ruminah
“yaelah neng pacar juga gak apa” kata
mbak Rumina menambahkan masih dengan senyum jahilnya, dia juga memukul manja
pada lengan Dita yang hanya berdiri dan tersenyum tak berdosa yang dibuat-buat
sementara Rafael hanya tersenyum melihat tingkah tetangga kontrakan Dita itu.
Pintu kontrakan yang sudah terbuka membuat Rafael penasaran dan segera
memeriksanya kedalam, dilihatnya sekeliling Ruangan hanya ada dua ruangan,
kamar tamu dan kamar tidur yang sempit, kemudian dibelakang ada kamar mandi,
didepan kamar ada meja panjang kecil yang diatasnya terdapat ricecooker dan
beberapa perangkat makan yang tersimpan rapi didalam rak piring mini. Melihat
itu membuat Rafael mengangkat satu alisnya dan berbalik melihat Dita yang
ngobrol dengan tetangganya diluar pintu. Rafael kembali keteras dan mengobrol
sebentar dengan Dita.
“Ok Dita, I have to go now” pamit Rafael
__ADS_1
lagi-lagi dengan senyuman yang kali ini entah setan dari mana membuat Dita
keceplosan
“ok Mr ganteng thanks udah di antar
pulang” jawab Dita dengan senyum centil nantipis menghiasi bibirnya.
“oh saya ganteng?” kata Rafael menjawabi
pujian Dita yang kali ini dengan senyuman lebar membuat Dita tersadar dengan
kalimatnya
“ya iya lah Mr, masak cantik” jawab Dita
mengalihkan pujian dengan senyum malu yang disembunyikannya.
“not Mr, just Rafael” kata Rafael dengan
mengerlingkan mata pada Dita
“ok Rafael” kata Dita mengulang nama
Rafael yang kemudian dia pun berlalu keluar gang sempit dengan bantuan warga
sekitar yang diminta Dita untuk membantu menunjukkan jalan keluar kearah jalan
besar.
“pacaran juga gak apa-apa neng Dita,
siapa tahu nasib neng Dita berubah, gak lagi tinggal di kontrakan sempit kayak
gini” kata mang Tohir yang tengah menyiapkan bakso pesanan mbak Rumina,
“iya bener neng, neng Dita itu kan
pinter, terpelajar, dilihat dari cara neng Dita menyapa orang juga neng itu
cocok jadi orang kaya,” tambah seorang warga lagi yang tinggal di depan
kontrakan, yang sedari tadi melongo melihat kedatangan Rafael, terang saja
laki-laki berwajah tampan berbadan atlethis berdarah indo-polandia itu menarik
perhatian para tetangga Dita, lantaran tak pernah ada warga asing yang datang
ke perkampungan itu.
“he’em bener itu neng, kulit neng Dita
juga nggak kayak kita-kita ya, kayak neng Dita itu orang kaya dari lahir” kata
Mbak Ruminah menambahkan sambil melongok kanan kiri mencari dukungan pada
orang-orang yang diajaknya bicara
“kalau diperhatikan bener kata kamu Rum”
kata ibu-ibu depan kontrakan yang ikut nimbrung perbincangan di warung mang
Tohir menambahkan yang sontak membuat wajah Dita pucat, dia pun berpamitan
untuk masuk kedalam kontrakannya.
“padahal sudah lama banget, lebih dari 5
tahun gue gak menyentuh aneka perawatan kulit, atau bahkan kesalon untuk masker
tubuh” guman Dita berbicara sendiri, gadis itu dengan malas berjalan dalam
kamarnya, kamar yang hanya ada ranjang kecil, nakas disamping ranjang dan satu
lemari itu, dia langsung merebahkan dirinya dikasur sempitnya, dia mengingat
masa-masa dimana Dia masih bersama Ayahnya. Tak terasa jam menunjukkan pukul
enam sore, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“neng Dita” suara mbak Ruminah memanggil
dengan lembut
“Mbak
Rumina, ngapain jam segini kesini, aku kan gak pesan makanan” kata Dita
dalam hatinya yang tidak segera bangun dan masih asik dengan ponselnya.
Terdengar lagi ketukan pintu dan namanya sekali lagi Dipanggil, kali ini
suaranya berbeda.
“hampir lupa, kan ini waktunya mbak
Rumina sama bu RT privat Bahasa inggris” kata Dita yang melupakan jadwal
rutinitasnya itu segera melompat dari ranjangnya dan cepat-cepat mengganti baju
pendeknya dengan celana panjang, iya segera berlari kearah pintu dan membuka
serta mempersilahkan masuk pada mbak Rumina dan bu RT.
***
“Mami besok ada acara dengan teman-teman
sosialita mami?” Tanya Nicholas pada istrinya
“ tidak ada honey, kenapa? Kata Febi
yang membantu suaminya itu melepaskan setelan jas yang melekat pada tubuh
Nicholas
“saya mau mengajak mami untuk melihat
apartement” kata Nicholas lagi yang sudah menghadap pada istrinya.
“apartememt? For what? We have a big
House with many rooms” Tanya Feby mencari tahu
“I don’t know, just want to buy new one”
kata Nicholas lagi yang berusaha membatu tangan istrinya melepas dasi yang
mengikat dilehernya.
“Honey, kita sudah tinggal dirumah
besar, untuk apa beli apartement, nanti saja kalau anak kesayanganku menikah”
kata Febi mencegah suaminya yang ingin memberli apartemant baru, dia berusaha
menjelaskan pada suaminya bahwa saat ini yang mereka tempati sudah cukup.
Nicholas pun pasrah dan mengalah pada pendapat itrinya karena memang benar
adanya perkataan istrinya itu.
“apa dia pulang hari ini?” Tanya
Nicholas sambil memeluk pinggang istrinya yang dijawabnya dengan geleng kepala.
“baiklah, I am hungry, what you have for
dinner?” Tanya Nicholas pada istrinya dengan senyuman mesra
“steak with penyetan, special from
Indonesia” kata Feby yang kemudian menarik tangan suaminya untuk turun lantai
bawah menuju meja makan.
Dita yang sudah duduk bersandar di
kamarnya sibuk dengan dengan ponselnya, membaca berita di sosial media dan
mencari tahu perkembangan tentang bisnis yang sedang ramai dibicarakan, buku
jadwal rutinitasnya tergeletak di atas nakas. Dita membaca dengan seksama
berita-berita yang dia dapatkan dan mengingat berita itu, Dita memiliki ingatan
yang tajam, itu yang membuatnya mampu mendapatkan nilai terbaik di kampusnya.
Malam semakin larut Dita pun merebahkan tubuhnya untuk tidur berharap paginya
__ADS_1
akan merasa lebih segar.