Untuk istriku

Untuk istriku
di guyur hujan


__ADS_3

Dita berlari kecil dengan berpayung map


yang ada ditangannya menuju sebuah rumah makan yang lumayan tidak terlalu besar


dan tidak terlalu kecil untuk berteduh, cuaca sedang tidak menentu hujan


tiba-tiba membuat Dita sedikit kesusahan lantaran tidak punya kendaraan sendiri


satu karena tidak punya uang untuk membeli dua karena tidak bisa


mengendarainya, Dita berdiri di depan rumah makan sambil melihat keatas lagit


yang dilihatnya mendung putih yang nampaknya hujan akan semakin deras


“basah kuyup neng” kata seseorang yang


sedang duduk di sebuah motor yang diparkir didepan warung makan tempat Dita


berteduh, Dita hanya meliriknya saja dengan tatapan tidak suka yang membuat


orang itu gemas ingin menggodanya


“sini neng abang angetin” katanya lagi


diikuti tawa yang lainnya, Dita tak menanggapi hanya melirik dengan sinis serta


gerah dengan kata-kata orang itu.


“masuk aja neng, masih kena air hujan


kalau disitu” Suara pemilik warung mempersilahkan Dita untuk berteduh didalam


warung miliknya, Dilihatnay tempat ia berdiri,


"Ini


aman kok gak kena hujan, oh makasih buk, ibuk nyelametin gue dari setan alas


yang kurang kerjaan ini”gumannya dalam hati


Dita pun melangkah masuk kedalam warung,


dia melayangkan pandangan keseluruh ruangan warung tak terlihat ada meja yang


kosong, ada satu meja yang masih punya kursi kosong hanya saja Dita melihat


makhluk yang berbeda menempatinya, dia duduk sendiri, sebuah setelan jas hitam


yang dari jauh pun sudah jelas itu barang mahal tergantung dikursi lainnya,


Dita berguman dalam hati


Ah


kenapa orang seperti dia makan di tempat seperti ini, apa dia gak mampu bayar?


Setelannya Cuma buat gaya doang?


Dita masih melayangkan pandangannya tengok


kanan dan kiri barangkali ada kursi kosong dan dia bisa bergabung dengan mereka


tapi nihil, tidak ada. Makhluk berbeda itu pun tersenyum yang sedari Dita masuk


sudah memperhatikannya, rambut Dita yang setengah basah lantaran kehujanan tak


membuat percaya dirinya hilang. Tegar yang sudah dia asah sejak masih dibangku


SMA mampu dia kendalikan. Makhluk berbeda itu pun mengambil jas setelannya dan


memberikan kode kepada Dita dengan anggukan kepalanya bahwa Dita boleh duduk


satu meja dengannya, kaki Dita pun melangkah menuju meja makhluk tampan itu.


“thank you Mr” kata Dita dengan senyum


pendeknya pada makhluk berbeda yang mengizinkan Dita untuk duduk satu meja dengannya,


pria bule tampan yang meberikan kursi kepadanya itu hanya mengagguk dan


meneruskan aktivitasnya dengan ponsel ditangannya


“Ini


orang gak mesen apa-apa atau sudah selesai atau hanya berteduh sih”


kata Dita dalam hati


“buk teh hangat satu ya” kata Dita


sambil melihat pada ibu warung sudah berjalan kearahnya, diletakkannya map yang


dibawanya di atas meja, dilihatnya hujan yang semakin deras Dita pun hanya


menghela napas panjang


“kenapa” Tanya makhluk tampan didepan


Dita yang membuat Dita sedikti terkejut dan langsung menoleh kearah sumber


suara, dengan senyum terpaksa Dita menggelengkan kepalanya memberikan jawaban


kepadanya. Dia pun tersenyum pada Dita,


“Oh


tuhan dengan tersenyum malah membuat Mr ini semakin tampan, meski hujan


seharian juga gue bakal betah kalau ditemenin makhluk seganteng ini” hatiku


berkata lagi kali ini aku memujinya.


“Stop


Dita, jangan berhayal”bantahnya Dalam hati pada apa yang


dipikirkannya


“ini neng tehnya” ibu pemilik warung


menyuguhkan teh hangat pesanan Dita


“makasih buk” kata Dita sambil menggeser


gelas sedikit ketengah agar tepat berada di hadapannya


“tea Mr” kata Dita menawarkan tak lupa


dengan senyum ia sematkan dibibir mungilnya


“thanks, enjoy it” kata makhluk tampan


itu dengan santai dan tersenyum yang membuatnya semakin tampan, Dita pun


meminum teh yang yang sudah dipesanya itu pelan-pelan untuk menghangattkan


tubuhnya.


“buk saya coffee satu, coffee instan its


ok, cappuccino” suara makhluk tampan itu membuat Dita menaikkan satu alisanya


karena Bahasa yang dipakainya, belum Dita membuka suara untuk bertanya dia


sudah bicara lagi


“melamar kerja?” Tanya nya kepada Dita sambil


menunjuk map yang ada didepan Dita


“no Mr, itu soal latihan untuk


murid-murid saya” jawab Dita dengan senyum tentunya. Dia hanya mengangguk


“guru, bagus” katanya lagi sambil


menganggukkan kepala


“hanya privat teacher kok Mr” kata Dita


menerangkan sambil diletakkannya gelas teh kembali ke tempatnya semula.


“no, its Good,really” katanya lagi


dengan santai yang berusaha memberikan semangat pada Dita. Dita pun hanya


tersenyum.


“ah yeah, aku Rafael” katanya

__ADS_1


memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya kepada dita. Tanpa ragu Dita


membalas uluran tangannya dan mereka berjabat tangan saling memperkenalkan


diri.


“I’am Dita, Dita Ayura” jawab Dita


dengan yakin memperkenalkan dirinya


“nice name” tambahnya memuji Dita dengan


senyumnya yang membuat perempuan mana saja pasti meleleh dibuatnya


“Mr disini berteduh juga” Tanya Dita


polos seraya memandang Rafael mencari tahu


“iya, mobil saya mogok jadi saya


menunggu disini karena mendung dan ternyata hujan turun, so saya disini bertemu


kamu” katanya menjelaskan yang dicampur dengan sedikit gombalannya itu.


“ah


ngasih gue tempat duduk paling juga cuman mau gombalin gue” batin Dita


Tapi memang benar mereka bertemu


ditempat itu, yang dimasa depan membawa mereka pada kehidupan yang tidak mereka


duga sebelumnya. Mereka pun berbincang banyak seputar guru privat, Dita


menceritakan pengalamannya sebagai guru privat, Rafael juga memberikan banyak


pengetahuan tentang bagaimana mengajar Bahasa asing pada Dita


“oh iya Mr disini tinggal dengan


keluarga?” tanya Dita menyelidiki


“iya, ada mami, papi, grandma and grandpa,


mami orang Indonesia jadi saya membuka cabang bisnis disini” jelasnya, Dita


hanya menaggukkan kepala mendengar penjelasannya. Dua jam mereka berbincang


dengan topik yang berbeda-beda, sesekali mereka tertawa lepas karena obrolan


mereka,  akhirnya hujan pun reda, Dita


berpamitan untuk pulang.


“tunggu, saya akan antar kamu” kata


Rafael menghentikan Dita yang akan beranjak dari kursinya itu dengan raut muka


terkejut


“ah gak usah Mr, say bisa pulang


sendiri” jawab Dita dengan senyum terpaksa dan menggelengkan kepalanya


“saya ingin tahu kamu tinggal dimana,


just it” Rafael menambahkan


“because you are my friend now, please”


ucap Rafael lagi kali ini dengan wajah memelas


Akhirnya Dita pun mengiyakan, dan mereka


berjalan keluar warung setelah memebayar pesanan mereka masing-masing tak lupa


Dita menjelaskan bahwa tempat tinggalnya tak jauh dibelakang warung itu, dan


mobil juga tidak bisa masuk, hanya motor saja. Sambil melangkahkan kaki menuju


kontrakan Dita mereka melanjutkan obrolan mereka, Dita pun menjelaskan tempat


mereka tidak banjir tapi hanya lampu padam jika hujan turun lebih dari tiga


jam. Mereka tiba di gang sempit yang membuat Rafael menaikkan alisnya dengan


raut muka heran, segudang pertanyaan memenuhi pikiranya


the place like this”batin Rafael yang tidak percaya dengan


apa yang dia lihat.


“you living here?” Tanya Rafael pada


Dita yang sudah berdiri didepan teras kontrakannya.


“yes” jawab Dita singkat seraya membuka


pintu rumah kontrakannya


“this is not good, and very small” kata


Rafael protes dengan tempat tinggal Dita yang dijawab Dita dengan senyuman sambil


menatap Rafael Rafael


“iya kecil, ini aja udah bagus gue punya tempat tinggal” gerutu


Dita dalam hatinya


“eh neng Dita sudah pulang” sapa mang


Tohir, penjual bakso yang sekaligus ngontrak di sebelah kontrakan Dita.


“iya mang, mang Tohir gak jualan? Kok


belum buka?” Dita menjawab sekaligus memberi pertanyaan pada mang Tohir,


diperhatikannya kursi-kursi plastik yang ada di teras mang Tohir, teras yang


lebih luas daripada teras Dita itu masih dalam posisi tengkurap di atas meja.


“jualan neng, tapi baru mau buka, ini


habis dari rumah sakit” jelas mang Tohir yang mulai merapikan rombong baksonya.


“bang sudah buka belum, aye beli satu


porsi bang, di bungkus ye” Tanya seorang pembeli yang datang ke kontrakan


sekaligus dijadikan warung kecil mang Tohir sembari melihat kearah Dita, mbak


Rumina namanya, penjual sayur keliling dikampung tempat tinggal Dita. Mbak


Rumina melihat dan Rafael bergantian disertai senyum-senyum jailnya


“pacarnya neng” Tanya mbak Rumina dengan


senyum jailnya yang lebar dan alisnya yang naik turun.


“ah bukan, ini teman aja mbak” jawab Dita


singkat disertai senyum tipis, senyum terkejut dengan pertanyaan mbak Ruminah


“yaelah neng pacar juga gak apa” kata


mbak Rumina menambahkan masih dengan senyum jahilnya, dia juga memukul manja


pada lengan Dita yang hanya berdiri dan tersenyum tak berdosa yang dibuat-buat


sementara Rafael hanya tersenyum melihat tingkah tetangga kontrakan Dita itu.


Pintu kontrakan yang sudah terbuka membuat Rafael penasaran dan segera


memeriksanya kedalam, dilihatnya sekeliling Ruangan hanya ada dua ruangan,


kamar tamu dan kamar tidur yang sempit, kemudian dibelakang ada kamar mandi,


didepan kamar ada meja panjang kecil yang diatasnya terdapat ricecooker dan


beberapa perangkat makan yang tersimpan rapi didalam rak piring mini. Melihat


itu membuat Rafael mengangkat satu alisnya dan berbalik melihat Dita yang


ngobrol dengan tetangganya diluar pintu. Rafael kembali keteras dan mengobrol


sebentar dengan Dita.


“Ok Dita, I have to go now” pamit Rafael

__ADS_1


lagi-lagi dengan senyuman yang kali ini entah setan dari mana membuat Dita


keceplosan


“ok Mr ganteng thanks udah di antar


pulang” jawab Dita dengan senyum centil nantipis menghiasi bibirnya.


“oh saya ganteng?” kata Rafael menjawabi


pujian Dita yang kali ini dengan senyuman lebar membuat Dita tersadar dengan


kalimatnya


“ya iya lah Mr, masak cantik” jawab Dita


mengalihkan pujian dengan senyum malu yang disembunyikannya.


“not Mr, just Rafael” kata Rafael dengan


mengerlingkan mata pada Dita


“ok Rafael” kata Dita mengulang nama


Rafael yang kemudian dia pun berlalu keluar gang sempit dengan bantuan warga


sekitar yang diminta Dita untuk membantu menunjukkan jalan keluar kearah jalan


besar.


“pacaran juga gak apa-apa neng Dita,


siapa tahu nasib neng Dita berubah, gak lagi tinggal di kontrakan sempit kayak


gini” kata mang Tohir yang tengah menyiapkan bakso pesanan mbak Rumina,


“iya bener neng, neng Dita itu kan


pinter, terpelajar, dilihat dari cara neng Dita menyapa orang juga neng itu


cocok jadi orang kaya,” tambah seorang warga lagi yang tinggal di depan


kontrakan, yang sedari tadi melongo melihat kedatangan Rafael, terang saja


laki-laki berwajah tampan berbadan atlethis berdarah indo-polandia itu menarik


perhatian para tetangga Dita, lantaran tak pernah ada warga asing yang datang


ke perkampungan itu.


“he’em bener itu neng, kulit neng Dita


juga nggak kayak kita-kita ya, kayak neng Dita itu orang kaya dari lahir” kata


Mbak Ruminah menambahkan sambil melongok kanan kiri mencari dukungan pada


orang-orang yang diajaknya bicara


“kalau diperhatikan bener kata kamu Rum”


kata ibu-ibu depan kontrakan yang ikut nimbrung perbincangan di warung mang


Tohir menambahkan yang sontak membuat wajah Dita pucat, dia pun berpamitan


untuk masuk kedalam kontrakannya.


“padahal sudah lama banget, lebih dari 5


tahun gue gak menyentuh aneka perawatan kulit, atau bahkan kesalon untuk masker


tubuh” guman Dita berbicara sendiri, gadis itu dengan malas berjalan dalam


kamarnya, kamar yang hanya ada ranjang kecil, nakas disamping ranjang dan satu


lemari itu, dia langsung merebahkan dirinya dikasur sempitnya, dia mengingat


masa-masa dimana Dia masih bersama Ayahnya. Tak terasa jam menunjukkan pukul


enam sore, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“neng Dita” suara mbak Ruminah memanggil


dengan lembut


“Mbak


Rumina, ngapain jam segini kesini, aku kan gak pesan makanan” kata Dita


dalam hatinya yang tidak segera bangun dan masih asik dengan ponselnya.


Terdengar lagi ketukan pintu dan namanya sekali lagi Dipanggil, kali ini


suaranya berbeda.


“hampir lupa, kan ini waktunya mbak


Rumina sama bu RT privat Bahasa inggris” kata Dita yang melupakan jadwal


rutinitasnya itu segera melompat dari ranjangnya dan cepat-cepat mengganti baju


pendeknya dengan celana panjang, iya segera berlari kearah pintu dan membuka


serta mempersilahkan masuk pada mbak Rumina dan bu RT.


***


“Mami besok ada acara dengan teman-teman


sosialita mami?” Tanya Nicholas pada istrinya


“ tidak ada honey, kenapa? Kata Febi


yang membantu suaminya itu melepaskan setelan jas yang melekat pada tubuh


Nicholas


“saya mau mengajak mami untuk melihat


apartement” kata Nicholas lagi yang sudah menghadap pada istrinya.


“apartememt? For what? We have a big


House with many rooms” Tanya Feby mencari tahu


“I don’t know, just want to buy new one”


kata Nicholas lagi yang berusaha membatu tangan istrinya melepas dasi yang


mengikat dilehernya.


“Honey, kita sudah tinggal dirumah


besar, untuk apa beli apartement, nanti saja kalau anak kesayanganku menikah”


kata Febi mencegah suaminya yang ingin memberli apartemant baru, dia berusaha


menjelaskan pada suaminya bahwa saat ini yang mereka tempati sudah cukup.


Nicholas pun pasrah dan mengalah pada pendapat itrinya karena memang benar


adanya perkataan istrinya itu.


“apa dia pulang hari ini?” Tanya


Nicholas sambil memeluk pinggang istrinya yang dijawabnya dengan geleng kepala.


“baiklah, I am hungry, what you have for


dinner?” Tanya Nicholas pada istrinya dengan senyuman mesra


“steak with penyetan, special from


Indonesia” kata Feby yang kemudian menarik tangan suaminya untuk turun lantai


bawah menuju meja makan.


Dita yang sudah duduk bersandar di


kamarnya sibuk dengan dengan ponselnya, membaca berita di sosial media dan


mencari tahu perkembangan tentang bisnis yang sedang ramai dibicarakan, buku


jadwal rutinitasnya tergeletak di atas nakas. Dita membaca dengan seksama


berita-berita yang dia dapatkan dan mengingat berita itu, Dita memiliki ingatan


yang tajam, itu yang membuatnya mampu mendapatkan nilai terbaik di kampusnya.


Malam semakin larut Dita pun merebahkan tubuhnya untuk tidur berharap paginya

__ADS_1


akan merasa lebih segar.


__ADS_2