Untuk istriku

Untuk istriku
Seharian Bersama Mami dan Millan


__ADS_3

Setelah menginap dua hari di rumah mami,


Dita dan Rafael kembali ke apartemen mereka. Pemandangan yang tak biasa bagi


Rafae itu dilihatnya, sore itu membuat Rafael benar benar merasa beruntung


“sayang kamu sedang apa?” tanya Rafael


pada Dita sembari memeluk mesra istrinya dari belakang


“masak sup buat kamu” jawab Dita dengan


santai


“oh, istriku baik sekali” puji Rafael


dengan lembut


“nggak usah memuji, entar nggak jadi aku


masakin sup loh” kata Dita santai menjawab pujian suaminya, Rafael pun tertawa


renyah mendengar reaksi istrinya.


“mau aku bantu?” tanya Rafael lembut dan


antusias


“Suamiku sayang, bantuan yang terbaik


adalah lepasin dulu tangan kamu, aku nggak bisa bergerak bebas” jawab Dita


dengan tertawa kecil, dia benar benar tidak bisa bergerak bebas karena Rafael


memeluknya dengan erat dan tak membiarkan Dita memasak dengan bebas. Rafale pun


melepaskan pelukannya dan membantu istrinya itu, yang sejak menikah hingga


sebelum Dita mengalami insiden penculikan, Rafael tak pernah melihat istrinya


memasak lantaran dia sendiri yang memintanya dan Dita benar benar hampir tidak


pernah memasak untuknya.


“terima kasih Dita” kata Rafael membuka


suara setelah menyantap makan malamnya, dia meraih tangan Dita dan memandunya


untuk duduk di pangkuanya


“terima kasih untuk apa?” jawab Dita


sembari menatap suaminya dan melingkarkan kedua tangannya di pundak Rafael


“terima kasih sudah membuat masakan yang


lezat untuk saya” jawab Rafael dengan tersenyum lembut serta tatapan yang


hangat


“itu sudah tugasku sebagai istri” kata


Dita menjelaskan dirinya adalah istrinya sembari mencubit manja pipi suaminya


itu


“sebelum sebelumnya tidak pernah” goda


Rafael dengan tersenyum jahil


“itu kan kamu nyuruh, katanya nggak usah


masak” jawab Dita dengan sedikit kesal serta mukanya yang cemberut membuat


Rafael tertawa


“sejujurnya saya senang bagaimanapun


kamu, karena saya tahu kamu akan mengurus suami dengan baik, seperti mami


mengurus papi, itu juga kenapa saya mau menikahi kamu” kata Rafeal menjelaskan


dan mentapa istrinya dengan penih cinta


“ada yang lain kenapa memilih aku?”


tanya Dita dengan bibirnya yang cemberut tetapi suaranya terdengar santai.


“karena Sean dan mami memilih kamu untuk


menjadi istriku, papi juga begitu” jawab Rafael lembut lalu mencium lembut bibir


mungil istrinya, Dita yang tak menolak melainkan membalas ciuman suaminya semakin


memeluk erat suaminya, Rafael yang terbuai dengan balasan ciuman dan lumatan


istrinya itu pun membawa Dita kedalam kamar mereka dan melanjutkan adegan


romantisnya di atas ranjang empuknya.


Jam empat pagi Dita terbangun di dalam


pelukan suaminya didalam selimut yang menutupi tubuh mereka yang tak lagi ada


pakaian yang melekat pada mereka, di lihatnya suaminya yang masih tertidur


pulas, Dita megusap lembut pipi suaminya serta menatap dalam dalam


“pangeran tampan untuk Dita” guman Dita dengan


suara yang hanya bisa didengarnya sendiri itu, Rafael yang merasakan tangan


lembut istrinya itu tak membuka matanya hanya tersenyum tipis ,melihat Rafael


yang tersenyum tipis Dita pun bergerak dan bangun dari tidurnya lalu masuk


kedalam kamar mandi. Rafael yang  merasa


istrinya tak kunjung keluar dari kamar mandi itu mulai bergerak dan bangun


“Dita, apa kamu baik baik saja?” tanya


Rafael sembari mengetuk pintu kamar mandi tetapi tak ada jawab, dilihatnya jam


beker yang ada di atas nakas, hampir satu jam Dita didalam kamar mandi, Rafael


yang mulai cemas sangat terlihat diwajahnya


“Dita, buka pintunya” suara Rafael


mencoba mengetuk pintu kamar mandi yang kali ini sangat terdengar ada


kekhawatiran, tetapi tak mendapati jawaban dari Dita semakin membuatnya


khawatir


“sayang, apa kamu baik baik saja, buka


pintunya” katanya lagi dan mencoba mendobrak pintu kamar mandi bersamaan dengan


Dita yang membuka pintu hingga menabrak dahinya, Dita pun meringis


“ih nggak sabaran banget sih, lagian


diluar juga ada kamar mandi kan” gerutu Dita dengan wajah cemberut dan mengusap


keningnya, Rafael yang melihat Dita meringis itu segera mengusap dahi istrinya


“maaf, saya khawatir sayang, kamu begitu


lama di kamar mandi, hampir satu jam” kata Rafael yang masih panik itu sembari


melihat ke arah jam yang ada di atas nakasnya.


“hmm baru tahu ya aku suka berlama lama


di kamar mandi” kata Dita pada suaminya dengan pandangan yang menggoda membuat


Rafael gemas dan hendak menciumnya


“kamu..” kata Rafael yang meraih pipi


istirnya dengan kedua tangannya dan hendak mencium istrinya


“ih nggak mau, mandi dulu” kata Dita dan


mendorong tubuh Rafael yang tanpa memakai sehelai baju pun lalu dia sendiri pun


berjalan menuju meja rias yang tak jauh dari tempatnya berdiri Rafael hanya


tertawa renyah lalu dia pun masuk kedalam kamar mandi. Kali ini Dita menyiapkan


sarapan dengan penuh ketulusan, dia menghentikan aktivitasnya sejenak lantaran


melihat ponsel pintarnya berdering.


“halo Millan selamat pagi” sapa Dita


dari panggilan telponya


“selamat pagi Dita, lagi apa?” tanya


Millan basa basi dan terdengar antusias


“lagi bikin sarapan” jawab Dita santai


sembari menyiapkan hidangan di meja makan


“oh iya Dita hari ini tidak usah ke kantor,


minta Rafael mengantarkanmu kesini, kita akan belanja” kata Millan yang


bersemangat diseberang telpon

__ADS_1


“belanja lagi? Ya udah deh” jawab Dita


yang sebenarnya dia sudah tidak ingin membeli sesuatu lantaran dia merasa sudah


banyak yang dia beli saat di Korea.


“Ok Dita sampai ketemu dirumah” kata


Millan mengakhir pembicaraanya


“siapa yang menelpon?” tanya Rafael yang


menghampiri istrinya dan meminum jus yang telah disiapkan istrinya, tak lupa


tangannya melingkar di pinggang Dita


“Millan” jawab Dita singkat, sembari


mencoba merapikan dasi suaminya setelah Rafael meletakkan gelas jus kembali


ketempatnya


“sayang, mulai hari ini kamu hanya boleh


kekantor bersamaku, tidak ada lagi mengajar privat” kata Rafael tegas tetapi


disambut dengan muka cemberut Dita yang merasa dikekang tak bisa melakukan


aktivitasnya


“hey, jangan cemberut, saya hanya tidak


kamu dalam bahaya” kata Rafael sambil meraih dagu istrinya


“ngajar privat apa bahayanya” guman Dita


lirih dan membuang pandangannya, Rafael hanya tersenyum tipis


“bagaimana kalau kamu menjadi mengajari


saya?” tanya Rafael menggoda istrinya sambil mendekatkan tubuh Dita semakin


kedalam pelukannya


“ kamu kan sudah bisa bahasa Indonesia”


jawab Dita dengan bibirnya yang semakin cemberut.


“saya hanya tidak mau orang orang


menyakiti kamu” kata Rafael sambil memegang dagu Dita dan mendekatkan bibirnya


untuk bersipa ******* bibir istrinya yang tak menolak berada dalam pelukannya. Menyadari


itu Dita berusaha menghentikan Rafael dengan menampis pipi Rafael dengan


tangannya untuk mengarahkan Rafael agar melihat ke arah lain, Dita sangat


menyadari jika dilanjutkan suaminya akan memakannya pagi itu terlebih dia


merasakan bagian sensitive suaminya mulai menegang.


“nggak ada cium cium, udah lepasin” kata


Dita sedikit sewot dan berusaha melepaskan pelukan Rafael serta mendorong tubuh


Rafael.


“Dita …” belum Rafael mengutarakan


kalimatnya Dita memotong dan dengan nada kesal


“habiskan sarapanmu lalu kita kerumah


mami” kata Dita yang sambil meraih piring dan menyiapkan nasi goreng untuk


suaminya. Jam tujuh lebih mereka pun berangkat ke kediaman Deveraux, sesampai Dita


di rumah mertuanya Rafael pun berpamitan untuk berangkat kekantor, Millan Dita


dan Febi menghabiskan waktu bersama sebelum belanja dengan acara membuat kue


“mami pernikahan Dita dan Rafael sudah


delapan bulan, dan resepsi juga selalu tertunda, apa tidak sebaiknya kita


merencanakan lagi pesta resepsi?” tanya Millan pada Febi


“oh iya, kamu benar, karena kejadian


akhir akhir ini mami sampai lupa” jawab Febi dengan suara terkejutnya lantaran


melupakan hari penting anaknya


“maaf mami, tapi aku dan Rafael sepakat


tidak perlu pesta resepsi” kata Dita dengan hati hati memberitahukan


“loh nggak bisa sayang, mami ingin pesta


“mami pernikahan megah tidak akan


membantu, Dita tidak tertarik dengan itu” kata Millan yang mulai memahami Dita


“kalau pesta keluarga Dita mau mami,


ulang tahun pernikahan Millan dan kak Sean juga nggak dirayakan karna kejadian


akhir akhir ini” kata Dita mencoba menengahi


“oh iya, Millan sayang maaf ya mami juga


melupakan itu, ya sudah setelah ini semua mami yang bayarin” kata Febi


menghibur dua menatunya itu


“terimakasih mami” kata Millan dan Dita


bersamaan sembari memeluk mertuanya itu. Mereka bertiga pun berangkat belanja


bersama setelah makan siang, di kesempatan itu Dita bertemu dengan Cindy yang


sedang berbelanja di tempat yang sama, Millan yang mengetahui keberadaan Cindy


berbisik kepada Febi, dan memang benar keinginan Cindy bahwa Dita dibenci oleh


Febi itu terlihat saat Cindy mendekati Febi


“halo tante” sapa Cindy dengan ramah


“halo juga Cindy” jawab Febi santai dan


kembali memilih baju yang cocok untuk Millan


“halo Millan” sapa Cindy yang berusaha


tersenyum


“halo” jawab Millan datar


“nggak nyangka ketemu tante disini,


barang barang disini bagus loh tante” kata Cindy berusaha menarik perhatian


“tentu saja, saya mengenal pemiliknya,


dan saya juga menjad brand ambassador toko ini di cabang Singapura” jawab


Millan dengan semangat tetapi tatapan sinis pada Cindy


“eh ini bagus, cocok buat menantu mami”


kata Febi yang berusaha acuh pada Cindy dia memilih satu baju yang pas dengan


Dita dan mencari Dita untuk meminta mencoba baju yang dipeganganya, sementara


Dita mencoba memilih kemeja untuk suaminya


“sayang, kenapa kamu belanja di baju


laki laki?” tanya Febi pada Dita, sementara Cindy yang melihat Febi bersikap


baik terhadap Dita itu terbelalak,


“kok


bisa sih tante Febi masih baik sama Dita, ini nggak boleh terjadi” guman


Cindy dalam hatinya


“kenapa


terkejut? Mami tidak percaya dengan tipu dayamu yang tidak rendahan” kata


Millan menatap dengan tatapan tegas pada Cindy yang terlihat terkejut melihat


Febi masih peduli pada Dita


“Millan, tolong jangan begitu dengan


saya, lagi pula kamu belum tahu sifat Dita yang sebenarnya” jawab Cindy masih


mencari pembelaan, dan Millan hanya memalingkan muka dia berjalan menghampiri


Febi dan Dita yang sudah berpindah pada baju baju wanita, disana Millan mencoba


mencari sebuah baju yang cocok untuk Dita, Millam juga menggoda Dita dengan


memberikan baju baju sexy serta disertai candaan


“Dita kamu pakai ini nanti malam,


dijamin Rafael tidak akan berkedip” canda Millan

__ADS_1


“ih nggak ah” elak Dita yang merasa


malu, pipiny aterlihat mereha, Febi hanya terkekeh melihat kedua menantunya


itu, sementara itu Cindy semakin membenci Dita, dengan kesal Cindy meninggalkan


mereka dengan berbagai rencana.


Puas berbelanja mereka pun menuju sebuah


café dan duduk melepas lelah mereka setelah keluar masuk dari toko ke toko yang


ada di sebuah pusat perbelanjaan,mereka memesan minuman dan camilan lalu


kembali mengelilingi pusat perbelanjaan yang besar dan luas itu.  Febi menghabiskan waktunya hingga sore dengan


dua menantunya, setelah puas dan mendapatkan barang yang mereka cari mereka


berhenti disebuah café lagi hendak mengisi perut mereka


“mami kaki saya sudah pegal, ayo kita


pulang” kata Millan dengan wajah manja dan memelas


“sini aku pijat” goda Dita dengan


tersenyum lebar serta memberi isyarat pada Millan untuk meletakkan kakinya di


kursi empuk tempat ia duduk


“apa? Disini? Dita ini bisa membuatku


tak lagi terlihat elegan” jawab Millan sedikti terkejut tetapi masih tersenyum


manis


“iya iya seorang model tidak bisa


sembarangan” guman Dita sembari menganggukkan kepalanya berkalia kali dengan


pelan, Febi hanya tersnyum melihat keakraban dua menantunya


“di masa depan kalian berdua harus


rukun, dan sudah menjadi tugas kalian untuk melerai pertengkaran” kata Febi


dengan tatapan serius, kedua menantunya pun mengangguk mengerti


“mami kita cari makan, berjalan


berkeliling membuatku lapar” kata Millan yang memang perutnya sudah berbunyi


itu


“kamu mau makan apa sayang?” tanya Febi


pada Millan dengan lembut dan mencoba melihat lihat pada buku menu


“ini mami bagus untuk diet” kata Dita


yang memang mengetahui Millan harus menjaga pola makannya


“iya, ini juga boleh” kata Febi dengan


santai yang masih melihat lihat


“saya mau makan yang lain, kebetulan


tidak bersama Sean saya mau makan banyak” kata Millan dengan semangat, karena


jika ada suaminya dia benar benar mencegah pola makan karena disamping dia


seorang model dia tidak mau mendengar Sean yang complain saat dia mengeluh


merasa kegemukan. Febi dan Dita saling berpandangan mendengar kata kata Millan


“kamu yakin?” tanya Febi masih penasaran


“iya mami, saya mau yang lain, kata Intan


ada makanan yang bikin bersemangat dan saya ingin sekali mencobanya” kata


Millan dengan bersemangat


“kamu mau makan apa?” tanya Dita dan


Febi hampir bersamaan


“daging bulat dengan soup merah, sepeti


ini” kata Millan menunjukkan pada Febi dan Dita sebuah gambar di ponsel


pintarnya.


“hahahah itu namanya bakso sayang, tapi


di café ini tidak ada, kita cari ditempat lain” kata Febi yang girang lantaran


ini kali pertama menantu pertamanya itu benar benar tertarik pada makanan


Indonesia


“mami bakso di kontrakan aja, tapi apa


Millan mau makan ditempat kayak gitu?” tanya Dita pada mertuanya, Febi nampak


berpikir sejenak


“kalau rasanya memuaskan nggak akan menolak,


lagi pula mami kan sudah pernah mencobanya dan memang enak, tidak kalah dengan


restoran” jawab Febi dengan yakin, mereka bertiga pun beranjak dan pergi ke


kontrakan lama Dita


“mbak Rum” suara Dita menyapa Ruminah


yang kini membuka kios buah dan rujak di tempat kotrakan Dita tanpa mengurangi


ruang pada teras kecil di kontrakan Dita


“neng Dita! Ya ampun neng Dita lama


nggak main kesini, kita kita kangen neng, juga mau belajar lagi bahasa inggris”


sapa Ruminah yang langsung menghajar Dita dengan kalimat panjangnya


“Dita juga kengen, bang bakso spesialnya


tiga” kata Dita yang langsung duduk begitu pula Febi sedangkan Millan hanya


melihat tidak percaya


“neng Dita itu siapa? Cantik bener”


seloroh Ruminah melihat Millan yang berkulit putih dan mata grey Millan


membuatnya terlihat sempurna


“itu Millan, kakak ipar Dita”  jawab Dita dengan bangga memperkenalkan


Millan


“bu Febi maaf tempatnya kotor” kata Mpok


Ira istri mang Tohir


“nggak apa-apa Mpok, ini bersih kok”


kata Febi, lalu meminta Millan untuk duduk di kursi yang disiapkan Ruminah


disebelahnya, Millan pun tak lagi memikirkan suasan tempat itu ketika dia


mencicipi bakso yang disuguhkan mang Tohir kepadanya, mereka pun berbincang


bincang banyak, Pengalaman pertaman Millan itu benar benar berbeda, disana dia


mendapatkan dari mana Dita bergaya hidup hemat dan sederhana, dia semakin


menyukai Dita yang meski sudah mampu membeli segalanya itu tetap rendah diri


bahkan dia juga mendengar sendiri dari Ruminah bahwa Dita membayar uang sewa


kontrakan untuknya hingga beberapa tahun lalu Dita juga yang membantu Ruminah,


hari itu orang orang banyak yang memuji kebaikan Dita dan merasa kehilangan


Dita karena tak lagi tinggal bersama mereka. Sementara orang orang yang tidak


menyukainya hanya melihatnya dari jauh, mereka mencibir dan menggosipkan yang


tidak tidak, akan tetapi banyak yang tidak menghiraukan cibiran cibiran dari orang


orang yang tidak menyukai Dita lantaran Dita menjadi terkenal saat membantu


biaya operasi anak Ruminah beberapa tahun lalu. Hari sudah gelap Dita pun


berpamitan untuk kembali begitu juga Febi dan Millan, Mereka kembali ke


kediaman Deveraux sementara ketiga tuan Deveraux hanya menatap kepada ketiganya


yang begitu tiba dengan banyak tas belanjaanya di tangan masing masing wanita


Deveraux dan masih asik memilah belanjaan mereka diruang tengah


“kita hidup untuk bekerja untuk mereka


yang siap menghabiskan uang kita” guman Sean dengan datar dan wajah polos seraya


menatap ketiga wanita yang dia sayangi sedang memilah apa apa yang sudah mereka


beli, ketiga Tuan Deveraux itu melanjutkan makan malam mereka tanpa istri istri

__ADS_1


mereka.


__ADS_2