
Setelah menginap dua hari di rumah mami,
Dita dan Rafael kembali ke apartemen mereka. Pemandangan yang tak biasa bagi
Rafae itu dilihatnya, sore itu membuat Rafael benar benar merasa beruntung
“sayang kamu sedang apa?” tanya Rafael
pada Dita sembari memeluk mesra istrinya dari belakang
“masak sup buat kamu” jawab Dita dengan
santai
“oh, istriku baik sekali” puji Rafael
dengan lembut
“nggak usah memuji, entar nggak jadi aku
masakin sup loh” kata Dita santai menjawab pujian suaminya, Rafael pun tertawa
renyah mendengar reaksi istrinya.
“mau aku bantu?” tanya Rafael lembut dan
antusias
“Suamiku sayang, bantuan yang terbaik
adalah lepasin dulu tangan kamu, aku nggak bisa bergerak bebas” jawab Dita
dengan tertawa kecil, dia benar benar tidak bisa bergerak bebas karena Rafael
memeluknya dengan erat dan tak membiarkan Dita memasak dengan bebas. Rafale pun
melepaskan pelukannya dan membantu istrinya itu, yang sejak menikah hingga
sebelum Dita mengalami insiden penculikan, Rafael tak pernah melihat istrinya
memasak lantaran dia sendiri yang memintanya dan Dita benar benar hampir tidak
pernah memasak untuknya.
“terima kasih Dita” kata Rafael membuka
suara setelah menyantap makan malamnya, dia meraih tangan Dita dan memandunya
untuk duduk di pangkuanya
“terima kasih untuk apa?” jawab Dita
sembari menatap suaminya dan melingkarkan kedua tangannya di pundak Rafael
“terima kasih sudah membuat masakan yang
lezat untuk saya” jawab Rafael dengan tersenyum lembut serta tatapan yang
hangat
“itu sudah tugasku sebagai istri” kata
Dita menjelaskan dirinya adalah istrinya sembari mencubit manja pipi suaminya
itu
“sebelum sebelumnya tidak pernah” goda
Rafael dengan tersenyum jahil
“itu kan kamu nyuruh, katanya nggak usah
masak” jawab Dita dengan sedikit kesal serta mukanya yang cemberut membuat
Rafael tertawa
“sejujurnya saya senang bagaimanapun
kamu, karena saya tahu kamu akan mengurus suami dengan baik, seperti mami
mengurus papi, itu juga kenapa saya mau menikahi kamu” kata Rafeal menjelaskan
dan mentapa istrinya dengan penih cinta
“ada yang lain kenapa memilih aku?”
tanya Dita dengan bibirnya yang cemberut tetapi suaranya terdengar santai.
“karena Sean dan mami memilih kamu untuk
menjadi istriku, papi juga begitu” jawab Rafael lembut lalu mencium lembut bibir
mungil istrinya, Dita yang tak menolak melainkan membalas ciuman suaminya semakin
memeluk erat suaminya, Rafael yang terbuai dengan balasan ciuman dan lumatan
istrinya itu pun membawa Dita kedalam kamar mereka dan melanjutkan adegan
romantisnya di atas ranjang empuknya.
Jam empat pagi Dita terbangun di dalam
pelukan suaminya didalam selimut yang menutupi tubuh mereka yang tak lagi ada
pakaian yang melekat pada mereka, di lihatnya suaminya yang masih tertidur
pulas, Dita megusap lembut pipi suaminya serta menatap dalam dalam
“pangeran tampan untuk Dita” guman Dita dengan
suara yang hanya bisa didengarnya sendiri itu, Rafael yang merasakan tangan
lembut istrinya itu tak membuka matanya hanya tersenyum tipis ,melihat Rafael
yang tersenyum tipis Dita pun bergerak dan bangun dari tidurnya lalu masuk
kedalam kamar mandi. Rafael yang merasa
istrinya tak kunjung keluar dari kamar mandi itu mulai bergerak dan bangun
“Dita, apa kamu baik baik saja?” tanya
Rafael sembari mengetuk pintu kamar mandi tetapi tak ada jawab, dilihatnya jam
beker yang ada di atas nakas, hampir satu jam Dita didalam kamar mandi, Rafael
yang mulai cemas sangat terlihat diwajahnya
“Dita, buka pintunya” suara Rafael
mencoba mengetuk pintu kamar mandi yang kali ini sangat terdengar ada
kekhawatiran, tetapi tak mendapati jawaban dari Dita semakin membuatnya
khawatir
“sayang, apa kamu baik baik saja, buka
pintunya” katanya lagi dan mencoba mendobrak pintu kamar mandi bersamaan dengan
Dita yang membuka pintu hingga menabrak dahinya, Dita pun meringis
“ih nggak sabaran banget sih, lagian
diluar juga ada kamar mandi kan” gerutu Dita dengan wajah cemberut dan mengusap
keningnya, Rafael yang melihat Dita meringis itu segera mengusap dahi istrinya
“maaf, saya khawatir sayang, kamu begitu
lama di kamar mandi, hampir satu jam” kata Rafael yang masih panik itu sembari
melihat ke arah jam yang ada di atas nakasnya.
“hmm baru tahu ya aku suka berlama lama
di kamar mandi” kata Dita pada suaminya dengan pandangan yang menggoda membuat
Rafael gemas dan hendak menciumnya
“kamu..” kata Rafael yang meraih pipi
istirnya dengan kedua tangannya dan hendak mencium istrinya
“ih nggak mau, mandi dulu” kata Dita dan
mendorong tubuh Rafael yang tanpa memakai sehelai baju pun lalu dia sendiri pun
berjalan menuju meja rias yang tak jauh dari tempatnya berdiri Rafael hanya
tertawa renyah lalu dia pun masuk kedalam kamar mandi. Kali ini Dita menyiapkan
sarapan dengan penuh ketulusan, dia menghentikan aktivitasnya sejenak lantaran
melihat ponsel pintarnya berdering.
“halo Millan selamat pagi” sapa Dita
dari panggilan telponya
“selamat pagi Dita, lagi apa?” tanya
Millan basa basi dan terdengar antusias
“lagi bikin sarapan” jawab Dita santai
sembari menyiapkan hidangan di meja makan
“oh iya Dita hari ini tidak usah ke kantor,
minta Rafael mengantarkanmu kesini, kita akan belanja” kata Millan yang
bersemangat diseberang telpon
__ADS_1
“belanja lagi? Ya udah deh” jawab Dita
yang sebenarnya dia sudah tidak ingin membeli sesuatu lantaran dia merasa sudah
banyak yang dia beli saat di Korea.
“Ok Dita sampai ketemu dirumah” kata
Millan mengakhir pembicaraanya
“siapa yang menelpon?” tanya Rafael yang
menghampiri istrinya dan meminum jus yang telah disiapkan istrinya, tak lupa
tangannya melingkar di pinggang Dita
“Millan” jawab Dita singkat, sembari
mencoba merapikan dasi suaminya setelah Rafael meletakkan gelas jus kembali
ketempatnya
“sayang, mulai hari ini kamu hanya boleh
kekantor bersamaku, tidak ada lagi mengajar privat” kata Rafael tegas tetapi
disambut dengan muka cemberut Dita yang merasa dikekang tak bisa melakukan
aktivitasnya
“hey, jangan cemberut, saya hanya tidak
kamu dalam bahaya” kata Rafael sambil meraih dagu istrinya
“ngajar privat apa bahayanya” guman Dita
lirih dan membuang pandangannya, Rafael hanya tersenyum tipis
“bagaimana kalau kamu menjadi mengajari
saya?” tanya Rafael menggoda istrinya sambil mendekatkan tubuh Dita semakin
kedalam pelukannya
“ kamu kan sudah bisa bahasa Indonesia”
jawab Dita dengan bibirnya yang semakin cemberut.
“saya hanya tidak mau orang orang
menyakiti kamu” kata Rafael sambil memegang dagu Dita dan mendekatkan bibirnya
untuk bersipa ******* bibir istrinya yang tak menolak berada dalam pelukannya. Menyadari
itu Dita berusaha menghentikan Rafael dengan menampis pipi Rafael dengan
tangannya untuk mengarahkan Rafael agar melihat ke arah lain, Dita sangat
menyadari jika dilanjutkan suaminya akan memakannya pagi itu terlebih dia
merasakan bagian sensitive suaminya mulai menegang.
“nggak ada cium cium, udah lepasin” kata
Dita sedikit sewot dan berusaha melepaskan pelukan Rafael serta mendorong tubuh
Rafael.
“Dita …” belum Rafael mengutarakan
kalimatnya Dita memotong dan dengan nada kesal
“habiskan sarapanmu lalu kita kerumah
mami” kata Dita yang sambil meraih piring dan menyiapkan nasi goreng untuk
suaminya. Jam tujuh lebih mereka pun berangkat ke kediaman Deveraux, sesampai Dita
di rumah mertuanya Rafael pun berpamitan untuk berangkat kekantor, Millan Dita
dan Febi menghabiskan waktu bersama sebelum belanja dengan acara membuat kue
“mami pernikahan Dita dan Rafael sudah
delapan bulan, dan resepsi juga selalu tertunda, apa tidak sebaiknya kita
merencanakan lagi pesta resepsi?” tanya Millan pada Febi
“oh iya, kamu benar, karena kejadian
akhir akhir ini mami sampai lupa” jawab Febi dengan suara terkejutnya lantaran
melupakan hari penting anaknya
“maaf mami, tapi aku dan Rafael sepakat
tidak perlu pesta resepsi” kata Dita dengan hati hati memberitahukan
“loh nggak bisa sayang, mami ingin pesta
“mami pernikahan megah tidak akan
membantu, Dita tidak tertarik dengan itu” kata Millan yang mulai memahami Dita
“kalau pesta keluarga Dita mau mami,
ulang tahun pernikahan Millan dan kak Sean juga nggak dirayakan karna kejadian
akhir akhir ini” kata Dita mencoba menengahi
“oh iya, Millan sayang maaf ya mami juga
melupakan itu, ya sudah setelah ini semua mami yang bayarin” kata Febi
menghibur dua menatunya itu
“terimakasih mami” kata Millan dan Dita
bersamaan sembari memeluk mertuanya itu. Mereka bertiga pun berangkat belanja
bersama setelah makan siang, di kesempatan itu Dita bertemu dengan Cindy yang
sedang berbelanja di tempat yang sama, Millan yang mengetahui keberadaan Cindy
berbisik kepada Febi, dan memang benar keinginan Cindy bahwa Dita dibenci oleh
Febi itu terlihat saat Cindy mendekati Febi
“halo tante” sapa Cindy dengan ramah
“halo juga Cindy” jawab Febi santai dan
kembali memilih baju yang cocok untuk Millan
“halo Millan” sapa Cindy yang berusaha
tersenyum
“halo” jawab Millan datar
“nggak nyangka ketemu tante disini,
barang barang disini bagus loh tante” kata Cindy berusaha menarik perhatian
“tentu saja, saya mengenal pemiliknya,
dan saya juga menjad brand ambassador toko ini di cabang Singapura” jawab
Millan dengan semangat tetapi tatapan sinis pada Cindy
“eh ini bagus, cocok buat menantu mami”
kata Febi yang berusaha acuh pada Cindy dia memilih satu baju yang pas dengan
Dita dan mencari Dita untuk meminta mencoba baju yang dipeganganya, sementara
Dita mencoba memilih kemeja untuk suaminya
“sayang, kenapa kamu belanja di baju
laki laki?” tanya Febi pada Dita, sementara Cindy yang melihat Febi bersikap
baik terhadap Dita itu terbelalak,
“kok
bisa sih tante Febi masih baik sama Dita, ini nggak boleh terjadi” guman
Cindy dalam hatinya
“kenapa
terkejut? Mami tidak percaya dengan tipu dayamu yang tidak rendahan” kata
Millan menatap dengan tatapan tegas pada Cindy yang terlihat terkejut melihat
Febi masih peduli pada Dita
“Millan, tolong jangan begitu dengan
saya, lagi pula kamu belum tahu sifat Dita yang sebenarnya” jawab Cindy masih
mencari pembelaan, dan Millan hanya memalingkan muka dia berjalan menghampiri
Febi dan Dita yang sudah berpindah pada baju baju wanita, disana Millan mencoba
mencari sebuah baju yang cocok untuk Dita, Millam juga menggoda Dita dengan
memberikan baju baju sexy serta disertai candaan
“Dita kamu pakai ini nanti malam,
dijamin Rafael tidak akan berkedip” canda Millan
__ADS_1
“ih nggak ah” elak Dita yang merasa
malu, pipiny aterlihat mereha, Febi hanya terkekeh melihat kedua menantunya
itu, sementara itu Cindy semakin membenci Dita, dengan kesal Cindy meninggalkan
mereka dengan berbagai rencana.
Puas berbelanja mereka pun menuju sebuah
café dan duduk melepas lelah mereka setelah keluar masuk dari toko ke toko yang
ada di sebuah pusat perbelanjaan,mereka memesan minuman dan camilan lalu
kembali mengelilingi pusat perbelanjaan yang besar dan luas itu. Febi menghabiskan waktunya hingga sore dengan
dua menantunya, setelah puas dan mendapatkan barang yang mereka cari mereka
berhenti disebuah café lagi hendak mengisi perut mereka
“mami kaki saya sudah pegal, ayo kita
pulang” kata Millan dengan wajah manja dan memelas
“sini aku pijat” goda Dita dengan
tersenyum lebar serta memberi isyarat pada Millan untuk meletakkan kakinya di
kursi empuk tempat ia duduk
“apa? Disini? Dita ini bisa membuatku
tak lagi terlihat elegan” jawab Millan sedikti terkejut tetapi masih tersenyum
manis
“iya iya seorang model tidak bisa
sembarangan” guman Dita sembari menganggukkan kepalanya berkalia kali dengan
pelan, Febi hanya tersnyum melihat keakraban dua menantunya
“di masa depan kalian berdua harus
rukun, dan sudah menjadi tugas kalian untuk melerai pertengkaran” kata Febi
dengan tatapan serius, kedua menantunya pun mengangguk mengerti
“mami kita cari makan, berjalan
berkeliling membuatku lapar” kata Millan yang memang perutnya sudah berbunyi
itu
“kamu mau makan apa sayang?” tanya Febi
pada Millan dengan lembut dan mencoba melihat lihat pada buku menu
“ini mami bagus untuk diet” kata Dita
yang memang mengetahui Millan harus menjaga pola makannya
“iya, ini juga boleh” kata Febi dengan
santai yang masih melihat lihat
“saya mau makan yang lain, kebetulan
tidak bersama Sean saya mau makan banyak” kata Millan dengan semangat, karena
jika ada suaminya dia benar benar mencegah pola makan karena disamping dia
seorang model dia tidak mau mendengar Sean yang complain saat dia mengeluh
merasa kegemukan. Febi dan Dita saling berpandangan mendengar kata kata Millan
“kamu yakin?” tanya Febi masih penasaran
“iya mami, saya mau yang lain, kata Intan
ada makanan yang bikin bersemangat dan saya ingin sekali mencobanya” kata
Millan dengan bersemangat
“kamu mau makan apa?” tanya Dita dan
Febi hampir bersamaan
“daging bulat dengan soup merah, sepeti
ini” kata Millan menunjukkan pada Febi dan Dita sebuah gambar di ponsel
pintarnya.
“hahahah itu namanya bakso sayang, tapi
di café ini tidak ada, kita cari ditempat lain” kata Febi yang girang lantaran
ini kali pertama menantu pertamanya itu benar benar tertarik pada makanan
Indonesia
“mami bakso di kontrakan aja, tapi apa
Millan mau makan ditempat kayak gitu?” tanya Dita pada mertuanya, Febi nampak
berpikir sejenak
“kalau rasanya memuaskan nggak akan menolak,
lagi pula mami kan sudah pernah mencobanya dan memang enak, tidak kalah dengan
restoran” jawab Febi dengan yakin, mereka bertiga pun beranjak dan pergi ke
kontrakan lama Dita
“mbak Rum” suara Dita menyapa Ruminah
yang kini membuka kios buah dan rujak di tempat kotrakan Dita tanpa mengurangi
ruang pada teras kecil di kontrakan Dita
“neng Dita! Ya ampun neng Dita lama
nggak main kesini, kita kita kangen neng, juga mau belajar lagi bahasa inggris”
sapa Ruminah yang langsung menghajar Dita dengan kalimat panjangnya
“Dita juga kengen, bang bakso spesialnya
tiga” kata Dita yang langsung duduk begitu pula Febi sedangkan Millan hanya
melihat tidak percaya
“neng Dita itu siapa? Cantik bener”
seloroh Ruminah melihat Millan yang berkulit putih dan mata grey Millan
membuatnya terlihat sempurna
“itu Millan, kakak ipar Dita” jawab Dita dengan bangga memperkenalkan
Millan
“bu Febi maaf tempatnya kotor” kata Mpok
Ira istri mang Tohir
“nggak apa-apa Mpok, ini bersih kok”
kata Febi, lalu meminta Millan untuk duduk di kursi yang disiapkan Ruminah
disebelahnya, Millan pun tak lagi memikirkan suasan tempat itu ketika dia
mencicipi bakso yang disuguhkan mang Tohir kepadanya, mereka pun berbincang
bincang banyak, Pengalaman pertaman Millan itu benar benar berbeda, disana dia
mendapatkan dari mana Dita bergaya hidup hemat dan sederhana, dia semakin
menyukai Dita yang meski sudah mampu membeli segalanya itu tetap rendah diri
bahkan dia juga mendengar sendiri dari Ruminah bahwa Dita membayar uang sewa
kontrakan untuknya hingga beberapa tahun lalu Dita juga yang membantu Ruminah,
hari itu orang orang banyak yang memuji kebaikan Dita dan merasa kehilangan
Dita karena tak lagi tinggal bersama mereka. Sementara orang orang yang tidak
menyukainya hanya melihatnya dari jauh, mereka mencibir dan menggosipkan yang
tidak tidak, akan tetapi banyak yang tidak menghiraukan cibiran cibiran dari orang
orang yang tidak menyukai Dita lantaran Dita menjadi terkenal saat membantu
biaya operasi anak Ruminah beberapa tahun lalu. Hari sudah gelap Dita pun
berpamitan untuk kembali begitu juga Febi dan Millan, Mereka kembali ke
kediaman Deveraux sementara ketiga tuan Deveraux hanya menatap kepada ketiganya
yang begitu tiba dengan banyak tas belanjaanya di tangan masing masing wanita
Deveraux dan masih asik memilah belanjaan mereka diruang tengah
“kita hidup untuk bekerja untuk mereka
yang siap menghabiskan uang kita” guman Sean dengan datar dan wajah polos seraya
menatap ketiga wanita yang dia sayangi sedang memilah apa apa yang sudah mereka
beli, ketiga Tuan Deveraux itu melanjutkan makan malam mereka tanpa istri istri
__ADS_1
mereka.