Untuk istriku

Untuk istriku
Mami Berubah


__ADS_3

Cindy yang mendapati laporan mengenai kedekatan Rafael dan Dita semakin menjadi, dia membuntuti Dita kemana pun Dita pergi dan mencari cela untuk menjatuhkan Dita dihadapan keluarga suaminya


“Dita saya mau kamu menjelelaskan ini” kata Nicholas yang menujukkan sebuah video kedekatannya dengan Gibran mantan pacar Dita dibagku kuliah


“ini Gibran papi, senior Dita di kampus” jawab Dita santai sambil emnyerahkan kembali ponsel Nicholas


“senior? Saya pikir dia adalah pacar kamu waktu dikampus” kata Nicholas mencoba menyelidiki


“iya, tapi kami sudah lama putus bahkan sebelum dia lulus” jawab Dita polos, dia tidak tahu maksud dibalik pertanyaan mertuanya itu


“ok, kamu bisa kembali bekerja” kata Nicholas dengan senyum lembut dan berwibawa


“bagus kamu berkata jujur Dita, saya tahu ini hanya rekayasa” guman Nicholas dalam hatinya.


Febi yang berjalan jalan di mall menghubungi Dita dan Millan hanya sekedar bertanya apakah mereka ingin membeli sesuatu, sementara anak dan menatunya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing


“makan di café ini saja, sudah bertahun tahun café ini masih sama” guman Febi yang kemudian masuk kedalam sebuah café, di ikuti Anon yang senantiasa menjaganya


“pelayan saya pesan ini dan ini, dan kopi satu ya” kata Febi pada seorang pelayan dengan sopan, kemudian melanjutkan pembicaraanya dengan Anon, tak selang berapa lama Anon pun beranjak dari duduknya setelah meneguk kopi yang telah dipesan Febi untuknya. Tiba tiba Cindy datang menghampiri Febi


“halo tante, lama tidak bertemu, boleh saya duduk?” sapa Cindy pada Febi kemudian meminta diri untuk bergabung disatu meja


“kamu, silahkan, ini kan tempat umum” jawab Febi datar dan masih meneruskan aktifitas makan yang tak mau iya lewatkan hanya karena kedatangan Cindy


“apa kabar tante?” tanya Cindi dengan suara sopan yang di sengaja untuk menarik perhatian Febi


“baik, seperti yang kamu lihat” jawab Febi santai tanpa melihat pada Cindy


“iya, yang aku lihat tante makin cantik” puji Cindy yang masih berusaha mendapatkan simpati dan perhatian Febi


“apa yang kamu mau dari saya?” tanya Febi sigkat dan tegas serta menatap Cindy dengan tatapan tajam, matanya


mengatakan seolah tidak ingin diganggu oleh Cindy


“aku cuma mau tante lihat ini, laki laki itu namanya Gibran, mantan pacar Dita” jawab Cindy seraya memberikan ponsel pintarnya kepada Febi menunjukkan video rekaman Dita dan Gibran, Dua bulan terakhir Dita memang sering bertemu dengan Gibran setiap hari minggu di taman bermain lantaran Dita mendapatkan panggilan untuk mengajar bahasa asing pada anak anak yang bermain disana, Dita terlihat akrab sekali dengan Gibran, tentu saja mereka putus bukan karena karena pertengkaran, mereka memutuskan untuk menjadi teman.


“dengan Dita?” tanya Febi penasaran, dia pun menatap Cindy dalam dalam  mencoba mencari tahu apa yang di inginkan Cindy


“tante sudah dibohongi oleh Dita, tante lihat sendiri dia sangat dekat dengan anak itu, bisa jadi itu adalah anaknya


Dita dengan mantan pacarnya itu” kata Cindy menjelaskan mencoba meyakinkan Febi. Cindy juga menunjukkan video yang kedua dan membuat ekspresi wajah Febi berubah, karena merasa makannya sudah selesai Febi pun beranjak lebih dulu, dia meraih ponsel pintarnya dan menghubungi Anon, Febi meninggalkan tempat itu dan


kembali kerumahnya


“tante tante, bagaimana pun Cindy tidak bisa dikalahkan” guman Cindy dengan tertawa setelah Febi menghilang dari pandangannya, dia pun beranjak dan ikut meninggalkan café dimana dia bertemu


dengan Febi.


“apa mungkin anak itu memang anaknya Dita dengan lelaki itu seperti kata Cindy, apa karena itu Dita dan Rafael bahkan tidur terpisah” tanya Febi pada dirinya sendiri dalam hati, dia tak henti hentinya berpikir. Sementara itu di kantor The Deveraux


“Sean lakukan apa yang perlu dilakukan, jangan sampai ada yang tahu dengan tindakan Rafael, itu akan berdampak buruk jika saingan kita memanfaatkannya untuk menjatuhkan kita” kata Nicholas pada Sean dengan suara tegas


“tentu papi, apa ada yang tidak saya tahu?” jawab Sean seraya bertanya jika ada perintah yang akan dia terima dari


ayahnya itu, kemudian Nicholas menyodorkan map yang berisi beberapa lembar informasi kepada Sean, setelah dibacanya dia pun menyerahkan kepada Ryan dan meminta Ryan untuk mengatur apa apa yang diperlukan


“tuan kita perlu menyingkirkan orang ini” kata Ryan memberitahukan dengan menunjukkan sebuah photo dari ponselnya.


“Dimas, apa dia membuat masalah lagi?” tanya Sean dengan tatapan serius pada Ryan


“sepertinya begitu, terakhir kali kami hanya memberi peringatan, untung saja pak Bam belum mendengar ini, kami sudah menutupnya rapat rapat” kata Ryan menjelaskan tentang kejadian dimana Dita hampir diculik oleh Dimas.


“siapa dia? Dan mendengar apa? Apa mengenai Dita yang hampir diculik?” tanya Nicholas


“Dimas, teman SMA Dita, ya mengenai itu, papi sudah tahu?” jawab Sean sembari memberi pertanyaan pada papinya


“ya, Rafael juga sudah tahu akan hal itu, Millan dan Febi mencegahnya untuk melakukan sesuatu” jawab Nicholas yakin. Sementara itu diluar pintu Fajar mengetuk pintu


“permisi Mr Nicholas, ada berkas yang perlu Mr baca dan juga tanda tangan” kata Fajar pelan yang kemudian dipersilahkan masuk oleh Nicholas


“apa ada yang lain?” tanya Nicholas dengan santai tetapi terdengar tegas itu


“ini saja Mr, terima kasih” jawab Fajar kemudian berbalik hendak meninggalkan ruangan


“oh ya Fajar jangan lupa undangan untuk kami” kata Sean yang menghentikan langkah Fajar dan menoleh pada Sean serta melemparkan senyum dan mengangguk, dia kemudian keluar dan menutup pintu kembali.

__ADS_1


“bang Yuda kita mampir ke kontrakan lama ya” kata Dita pada Yuda supir sekaligus Bodyguardnya itu kemudian diraihnya ponsel pintarnya dari dalam tas


“tantan udah pulang kantor? Susulin gue ke kontrakan dong” kata Dita melalui telpon seluler meminta intan untuk


menemuinya


“et dah zaenab loe pulang ke kontrakan lagi? Loe berantem lagi sama suami loe?” tanya Intan dari seberang telpon


sembari memutar mobilnya menuju kontrakan Dita


“nggak, tapi mau nraktir loe makan bakso” jawab Dita santai


“baek bener loe, ada maunya ya?” tanya Intan kegirangan


‘udah cepetan gue udah nyampek nih” kata Dita yang sudah duduk di teras kontrakannya, dia juga berbicara beberapa menit dengan pemilik kontrakan yang kemudian pemilik kontrakan itu tersenyum puas dan


pergi meninggalkan Dita.


“neng Dita makin cantik aja” kata istri mang Tohir menggoda Dita dengan senyum lembut


“ah mpok bisa aj” jawab Dita santai dengan senyum tipis yang memang membuatnya terlihat cantik


“neng Dita!” teriak mbak Ruminah memanggil Dita dari kejauhan setelah berkeliling menjajakan jualannya. Dia


menghampiri Dita dan langsung memeluk Dita


“ya elah neng, lama bener nggak pernah kesini, ampek kangen sama neng Dita” kata mbak Ruminah dengan mata yang berkaca kaca. Mbak Ruminah memang sangat menyayangi Dita karena menurutnya Dita benar benar berjasa untuknya jauh sebelum Dita tinggal di tempat itu, setelah Dita pindah untuk tinggal di apartemen bersama Rafael dia merasa kehilangan.


“iya Dita juga kangen sama kalian semua” jawab Dita dngan senyum lembut, sementara Ruminah masih memeluknya dengan erat


“eh Rum, inget baju kamu itu kotor jangan peluk peluk neng Dita kayak gitu” kata tetangga kontrakan depan rumah


mang Tohir yang kebetulan sedang membeli bakso.


“eh iya, maap ya neng, pan sekarang orang kaya ya, bajunya mahal nanti kotor” kata mbak Ruminah kemudian melepaskan pelukannya


"mbak Rum biasa aja kali, masih sama kok kayak Dita yang dulu" jawab Dita mencoba membuat Ruminah yang terkejut itu untuk tenang, mereka pun berbincang dan berbagai guyonan mereka juga terdengar membuat mereka semakin akrab, ditambah kedatangan Intan yang semakin membuat tempat itu ramai. Hampir dua jam Yuda pun mengingatkan Dita untuk pulang, Intan juga berpamitan pada semuanya


“oh ya mbak Rum, mulai besok nggak usah jualan keliling, mbak Rum bisa jualan di sini” kata Dita sambil menunjuk teras kontrakanya


“mbak Rum, tempat ini memang Dita sewa, tapi karena Dita nggak tinggal disini, mbak Rum bisa pakai untuk jualan” jawab Dita sopan dan senyum tipis


“ya ampun neng Dita makasih neng, lagi lagi neng Dita nolongin mbak Rum, nggak tahu gimana nanti ngebalas kebaikan non Dita” kata Ruminah yang menangis bahagia itu, dia pun mencium kedua tangan Dita yang digenggamnya, beberapa saat kemudian Dita meninggalkan tempat itu bersama Intan dan diikuti Yuda dibelakang mereka. Sesuai perintah Rafael Dita pulang ke kediaman Deveraux, disana Dita disambut Millan dengan suka cita


“ini buat Millan” kata Dita sambil memberikan tas kertas kepada Millan


“terima kasih Dita’ jawab Millan dengan senyum lebar


“mami mana?” tanya Dita pada Millan yang berjalan beriringan masuk kedalam ruang keluarga


“mami belum datang, ada urusan dengan beberapa manajer café” jawab Millan dengan lembut, tak selang berapa lama Febi tiba, melihat Dita, Febi tak banyak bicara, terlihat jelas perubahan sikapnya, dia lebih banyak berbicara dengan Millan dan mengeacuhkannya


“ada yang aneh dengan mami” kata Millan pada Sean didalam kamar mereka


“aneh? Aneh bagaiamana?” tanya Sean lembut tanpa berbalik melihat istrinya, dia masih sibuk dengan dirinya didepan cermin


“hari ini mami seperti tidak senang dengan keberadaan Dita” jawab Millan menjelaskan


“tidak mungkin, mami sangat mengiginkan Dita untuk menjadi bagian dari keluarga ini, bahkan membujuk papi untuk mengutaraknnya kepada Dita” kata Sean menjelaskan, dia berbalik dan melihat istrinya yang nampak cemas


“ya Dita gadis yang baik, mami tidak salah memilihnya, tetapi sungguh sore ini benar benar berbeda sayang” kata


Millan memberikan pengertian kepada suaminya itu.


“ini sudah malam, besok aku akan berbicara pada mami”kata Sean menenangkan istrinya


“baiklah” jawab Millan lesu, dia meresa akan kehilangan teman dalam rumah suaminya karena sejak dia datang hanya Dita lah yang lebih banyak menghabiskan waktu dengannya.


“sejak kapan kamu suka memakai warna pink?” tanya Sean menggoda istrinya dengan senyum tipis, yang kemudian menarik selimut dan memeluk erat istrinya.


Sinar mentari belum menembus tirai yanga da dikamar Dita dan Rafael tetapi Dita sudah bangun lebih awal, cepat cepat dia mandi dan bersiap untuk turun, dan membantu didapur, dia membuat kopi dan teh


untuk semua


“selamat pagi mami” sapa Dita sopan dan senyum menghiasi bibirnya

__ADS_1


“ya pagi” jawab Febi datar


“mami, ini the hijau mami” kata Dita kemudian menyuguhkan secangkir teh diatas meja didepan Febi, hanya mengucapkan terima kasih setelah itu tidak berkata apa apa, dan hanya sibuk dengan ponselnya sembari menunggu sarapan bersama. Millan yang memperhatikan suasana itu dari atas tangga merasa yakin ada sesuatu yang disembunyikan mertuanya.


“selamat pagi semuanya” sapa Sean pada semua yang sudah duduk di meja makan dengan senyum ceria pagi itu


“apa ada pesta? Hari ini semua makanan enak” kata Nicholas yang juga baru tiba sembari menarik kursi”


“ini semua Dita yang memasak” jawab Millan dengan antusias, Febi tak banyak bicara hanya mengambil sedikit sekali untuk sarapan, Dita yang memperhatikan Febi mulai bertanya tanya ada apa dengan


Febi


“mami kenapa ya? Nggak biasanya begitu, dan juga sikapnya ke gue berubah” guman Dita dalam hatinya membuat dia tidak berselera untuk makan. Setelah sarapan pun semua berangkat pada aktifitas mereka masing masing, Sean dan Nicholas kekantor sedangkan Febi memeriksa beberapa café miliknya sementara Millan yang tidak ada kegiatan hari itu langsung menemui Dita yang akan segera berangkat juga kekantor,tetapi karena ada urusan lain dia berangkat sedikit terlambat


“Dita hari ini aku akan ikut dengan kamu” kata Millan dengan kegirangan, karena dia tidak ada yang dikerjakan dan


jika tidak keluar dia akan meresa bosan dirumah, Dita pun mengagguk dan senyum gembira pada Millan, mereka pun keluar bersama


“selamat pagi mbak Dita” kata staff taman bermain menyapa Dita


“selamat pagi bu, oh iya kenalkan ini kakak ipar saya Millan” kata Dita menyamput uluran tangan untuk berjabat tangan staff yang diketahui bernama Riana itu dengan senyum ramah, sembari mengenalkan Millan yang ikut bersamanya, mereka pun berjalan menuju ruang kerja Riana


“maaf sekali mbak Dita, karena kami kekurangan pengajar jadi kami meminta mbak Dita untuk menambah jam mengajarnya disini” kata Riana menjelaskan


“tapi maaf bu Riana, saya hanya bisa mengajar di hari sabtu atau les tambahan di hari minggu” jawab Dita sopan dan tegas, mendengar itu Riana berusaha membucuk Dita, yang akhirnya Dita menjanjikan akan menjawabnya di hari minggu. Mereka pun keluar ruangan Riana dan hendak pergi menuju kantor dimana Dita bekerja sebagai asisten Sean yang sebelumnya bekerja untuk Rafael akan tetapi langsung diminta oleh Sean agar tidak mendapat bahaya dimasa depan.


“papa!” seorang anak kecil berteriak memanggil ayahnya sambil berlari di koridor, membuat Dita dan Millan yang berjalan hendak memasuki koridor itu terkejut karena anak itu hampir menabrak mereka


“satria jangan lari seperti itu, kalau menabrak dua tante itu bagaimana?” kata Gibran menasehati anaknya


“iya papa, maaf” kata Satria dengan wajah menyesal namun menggemaskan


“kak Gibran” sapa Dita yang berjalan kearah Satria dan Gibran


“hai Dita, tumben bukannya kamu hanya mengajar hari minggu?” tanya Gibran dengan senyum ramah


“iya, tapi ini tadi ada panggilan mendadak, oh iya kenalkan ini Millan kakak ipar gue” jawab Dita sembari mengenalkan Millan pada Gibran


“pa papa mama mana?” tanya Satria sambil menarik tangan Gibran


“mama sebentar lagi sayang, masih mengurus SPP kamu kamu” jawab Gibran lembut sembari berjongkok memberi penjelasan pada anaknya.


“hai sayang” sapa istri Gibran pada Satria dan mencium anaknya itu


“eh Dita, tumben bukanya ngajar hari minggu?” tanya Citra istri Gibran dengan senyum lembut


“iya, ini tadi dapat panggilan mendadak ada jam tambahan” jawab Dita menjelaskan


“mama aku nggak nakal nanti dapat ice cream kan” kata Satria menjelaskan serta wajah memelas dan lucu membuat Millan tersenyum


“oh kamu lucu sekali” kata Millan seraya mengulurkan tangannya menyentuh pipi Satria, melihat Millan Citra melongo tidak percaya


“tungu dulu, ini beneran? Millan model terkenal itu kan?” tanya Citra yang langsung hilang kendali dan tidak peduli dengan Satria untuk segera pergi dari tempat itu.


“iya saya, tetapi saya bukan model yang terkenal hanya model biasa” jawab Millan ramah dan senyum yang menambah kecantikannya


“papa handphone mama mana, cepetan” kata Citra dengan tergesa-gesa dia segera meraih tasnya yang sejak beberapa saat lalu di bawa oleh Gibran, Citra meminta selfie pada Millan dia juga menarik Millan agak menjauh mencari sudut yang menurutnya pas untuk berselfi, melihat itu Satria hanya bengong dan mematung, Dita pun tertawa kecil tetapi ditahannya


“ternyata kak Citra lucu juga” kata Dita sambil menutupi bibirnya


“mama aneh” kata Satria yang melihat tingkah mamanya itu,


Menunggu Citra puas berphoto mereka bertiga duduk di kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, dari kejauhan diluar taman bermain nampak mobil Febi, dia memperhatikan Dita Gibran dan Satria yang terlihat akrab, Febi semakin geram ketika melihat Dita mencium pipi Satria dari kejauhan, mereka tertawa berdua sementara Gibran yangsedang asik dengan ponselnya sesekali ikut tertawa tatkala anaknya menghadap kepadanya


“Anon kita pergi” kata Febi singkat, terlihat jelas ada kemarahan dalam suaranya


“apa perlu saya menyelidinya nyonya?” tanya Anon yang berada dibelakang kemudi


“tidak perlu, yang saya lihat sudah cukup” kata Febi datar, ada kemarahan dan kekecewaan dalam hatinya


“tante guru, besok minggu aku nggak masuk les” kata Satria dengan manja


“kenapa?” tanya Dita dengan memperlihatkan ekspresi heran meski dia sudah tahu


“soalnya Satria mau ke kampung halamannya mama” jawab Satria polos dan tersenyum

__ADS_1


“oh liburan, baik baik ya disana” kata Dita yang kemudian Citra menggandeng tangan Satria untuk pergi meninggalkan tempat itu, Millan dan Dita pun menuju mobil mereka yang disana sudah ada Yuda menunggu, dalam perjalanan menuju kantor Millan bertanya mengenai Gibran dan Citra, Dita pun menceritakannya dengan santai.


__ADS_2