
Pagi-pagi Dita bangun lebih awal dari Rafael dia juga menyiapkan sarapan untuk suaminya yang masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
“duh gue durhaka banget jadi istri, udah berapa hari gue nggak nyiapin sarapan malah suami yang nyiapin buat gue” kata Dita pada dirinya sendiri dengan masih beraktifitas di dapur sementara Rafael yang mendapati
istrinya tak lagi di sampingnya dia pun beranjak dan segera bersiap setelah melihat jam dia atas nakas hampir pukul tujuh.
“hmm kelihatannya enak” kata Rafael yang langsung menyambar kopi paginya, dia melayangkan pujian untuk istrinya itu dengan senyum lembut yang dibalas ciuman selamat pagi di pipinya.
“selamat pagi sayang”kata Dita dengan suara manjanya
“oh ada apa ini? Apa ini hari mencium sedunia?” goda Rafael pada istrinya
“nggak, pingin cium kamu aja” jawab Dita santai yang kemudian menikmati sarapan bersama dengan suaminya
“oh tidak, ini asin sekali tapi kelihatannya dia menikamtinya, apa dia mengerjai saya?” tanya Rafael pada dirinya sendiri dalam hatinya, dia tak ingin membuat Dita kecewa dia pun tetap memakan nasi goreng yang dibuat istrinya itu dengan berlahan. Agar istrinya tidak bertanya dia pun mengeluarkan ponsel pintarnya dan memakan sarapannya seraya memeriksa layar ponselnya
“Raf kamu nggak ikut meeting untuk pemindahan?” tanya Dita yang heran melihat suaminya memainkan ponselnya saat makan
“hem tidak, papi yang akan mengurusnya” jawab Rafael santai serta menatap lembut pada istrinya
“kamu ini ya, aku udah susah susah masak buat kamu loh, lambat amat” kata Dita yang mengeluh lantaran dia ingin segera pergi kekantor untuk bertemu Intan
“maaf sayang, ini harus ada yang saya baca, saya tidak menolak disuapi” kata Rafael dengan senyum tipis dia berikan berharap Dita akan menyuapi nasi goreng dari piringnya dan benar Dita tak keberatan dia pun
menggeser duduknya dan menyuapi Rafael
“jangan lihat handphone dulu” gerutu Dita yang sudah duduk di sebelah Rafael
“dia tidak mengerjai saya, nasi goreng di piringnya juga asin tetapi Dita sama sekali merasakanya” guman Rafael dalam hatinya sambil menatap istrinya dalam dalam
“kenapa ngliatin aku kayak gitu?” tanya Dita yang langsung mengalihkan pandangannya
“ini sudah mau habis, bagaimana kalu kita sarapan diluar?” tanya Rafael dengan lembut
“nggak mau, aku mau habisin ini semua” kata Dita sembari melihat ke arah dua piring nasi goreng yang hampir habis. Rafael tak berani menolak atau pun mengingatkan Dita akan makanan itu, dia tidak mau istrinya itu
tiba-tiba emosinya berubah seperti hari kemarin. Setiba di kantor Dita langsung meminta izin pada Rafael untuk melihat pemotretan, dia langsung menemui Intan dan melihat seluruh proses pemotretan Millan.
“akhirnya selesai, eh udah hampir makan siang” kata Intan sembari melihat ke arah jam ditangannya
“iya, kita makan somay yuk? Udah lama banget nggak makan disana” kata Dita dengan mata berbinar-binar
“iya yah, boleh deh gue bilang dulu sama suami gue” kata Intan yang ikut bersemangat lantaran tempat itu adalah tempat dimana mereka kembali bertemu.
“gue juga, loe tahu sendiri gue nggak boleh jauh-jauh dari dia” kata Dita yang sembari berdiri hendak pergi ke ruangan Rafael
“suami gue ada di lantai yang sama, kita bisa pergi bareng” kata Intan sambil menggandeng tangan Dita dan tertawa cekikikan bersama. Sementara itu di depan ruangan Sean yang pintunya terbuka berdiri Xhigee Rafael serta Millan yang berdiri di depan Sean yang masih dalam ruangannya. Melihat Xhigee
ada disana Dita yang tadinya tersenyum riang itu berubah menjadi kekesalan
“Xhigee Hakinamaru” panggil Dita pada Xhigee dengan lantang membuat Xhigee serta yang lainnya menatap kearah Dita yang berjalan ke arah Xhigee dengan cepat. Tanpa banyak kata Dita langsung menampar Xhigee dengan kencangnya
“bagus ya, setelah bertahun-tahun kamu kembali bahkan menyapaku pun nggak” kata Dita dengan penuh kekesalan tak hanya suaranya bahkan pandangannya pun sangat di penuhi rasa kesal, melihat kakak angkatnya di tampar oleh Dita tanpa sebab Millan hanya mengangah serta menutup mulutnya karena terkejut. Sean dan Rafael tidak berkata apa apa mereka berdua tercengang dan tak percaya Dita berani menampat Xhigee
“Dita! Apa yang kamu lakukan?” Pekik Millan
“Busyet Zaenab, tiba-tiba nampar orang emang loe kenal?” tanya Intan yang kebingungan
“tanya saja sama dia!”jawab Dita dengan kesal dan lantang
“Dita, ada apa dengan kamu?”tanya Rafael penuh keheranan serta menarik lengan Dita
“maaf” kata Xhigee yang meski terlihat memerah karena tamparan Dita namun dia tetap tenang. Ketenangan Xhigee mampu menyembunyikan kepanikan serta kepucatannya tatkala Dita mendengar Dita mengucapkan namanya dengan sempurna. Disisi lain Xhigee merasa bersalah karena pergi tanpa berpamitan datang pun tak menyapa Dita sama sekali.
“maaf? Sudah basi baru minta maaf! telat” jawab Dita cuek dan sinis sementara Rafael yang melihat perunaban istrinya hanya bisa menatap pada Sean dan Xhigee bergantian.
__ADS_1
“jangan-jangan Dita tahu kebenaran beberapa tahun yang lalu” guman Sean dalam hatinya
“Xhigee kenapa kamu yang meminta maaf? Dita yang bersalah sama kamu” kata Millan membela kakak angkatnya itu.
“ini berawal dari salah saya, kamu jangan khawatir” jawab Xhigee tenang lalu mengikuti Rafael yang menarik tangan Dita untuk menuju ruang kerjanya
“gue berada di tempat yang salah, permisi” kata Intan dengan gugup dan segera berlalu dari tempat itu.
“Dita apa yang terjadi?” tanya Rafael mencoba meminta penjelasan Dita di ruang kerjanya. Nicholas yang melihat Rafael menarik tangan Dita dan berjalan cepat-cepat pun langsung menghampiri anak dan menantunya itu
diruang kerja Rafael.
“ada apa?” tanya Nicholas yang merasa heran karena sebelumnya tak pernah melihat ekspresi anaknya yang begitu dingin terhadap Dita
“tidak ada apa-apa papi” jawab Dita lirih dan langsung berjalan menuju kursi kerja Rafael
“papi ini antara kami” jelas Rafael dengan suara dingin juga tatapannya yang dingin tak seperti biasanya
“bisa-bisanya kamu menampar Xhigee dan mengatakan bertahun tahun tidak bertemu, apa hubungan kamu dengan Xhigee? Apakah karena itu kamu memikirkannya beberapa hari ini”
“sayang, aku mau cerita sama kamu” kata Dita seraya beranjak lalu menarik tangan Rafael dan memandunya untuk duduk di kursi kerja suaminya itu, dia sendiri duduk di bibir meja, sedangkan Nicholas pun tak ingin
ketinggalan cerita Dita, dia masuk kedalam ruang kerja Rafael lalu duduk di kursi di depan dimana Dita duduk di kursi di belakangnya
“jadi bertahun-tahun lalu setelah ayah meninggal yang membeli setiap lukisan aku itu Xhigee, karena proses penerimaan dana kematian juga warisan ayah belum bisa aku terima” jelas Dita yang memahami sikap dingin
Rafael
“kamu? Melukis?” tanya Nicholas berusaha mencairkan suasan karena melihat putra sulungnya belum mengubah tatapan dinginnya itu.
“iya papi, karena seminggu setelah ayah meninggal, aku harus tinggal sama mbok Nur sampai lulus SMA, nggak enak numpang sama mbok Nur akhirnya aku putuskan buat cari kerja” Jelas Dita dengan yakin
“bagaimana kamu bertemu Xhigee?” tanya Nicholas menyelidiki, dia juga ingin tahu dibalik kematian sahabatnya yakni Mahendra yakni ayah Dita
“waktu itu ayah masih hidup, Xhigee berencana membeli beberapa ukiran dari ayah, lalu dia tahu aku bisa menggambar dia tertarik, dan seminggu setelah ayah meninggal dia order banyak lukisan” jelas Dita lagi tanpa
“oh jadi begitu, lalu siapa mbok Nur?” tanya Nicholas
“dulunya pembantu kami, setelah ayah bangkrut dan meninggal aku tinggal sama mbok Nur, tapi mereka juga membunuh mbok Nur” jelas Dita yang matanya mulai berkaca-kaca, Rafael yang terdiam dalam dingin sikapnya yang sejenak itu berdiri dan memeluk Dita, dia tak mampu dan tidak suka melihat istrinya itu bersedih
“maaf sayang, saya tidak seharusnya berkata kasar padakamu” kata Rafael menenangkan Dita
“mereka membakar rumah mbok Nur waktu aku pergi sekolah, saat itu kalau bukan karena Xhigee yang membeli lukisan dariku mungkin aku akan tinggal di kolong jembatan” cerita Dita dalam isak tangisanya yang tertahan.
Millan yang berada diluar pintu dan mendengar cerita Dita itu segera masuk ketika Sean pun berada dibelakangnya.
“Dita, maaf aku telah membantakmu” kata Millan yang masuk dan segera mengampiri Dita, di peluknya Dita dengan lembut.
“dan beberapa hari ini aku berusaha mengingat dimana aku pernah bertemu dengan Xhigee, begitu aku ingat aku langsung kesal jadi aku melampiaskan kesalku” jelas Dita lagi dengan cemberut dan matanya yang masih
berkaca-kaca
“Dita, papi minta maaf saat itu tidak ada bersama kamu, itu juga karena ayah kamu yang mengikat papi dengan kontrak yang tidak bisa di tinggalkan” jelas Nicholas dengan kecewa, dia pun berdiri dan meraih ponselnya
mencoba menghubungi sesorang dengan berjalan keluar ruangan Rafael.
"kamu juga, bukannya kamu mengawasiku sejak lama, kenapa pake acara cemburu sih" geritu Dita sembari mukul manja dada suaminya, membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa.
“Dita mulai saat ini ada Rafael yang akan mendampingi kamu, dan seperti janji saya pada om Hendra saya sudah mencarikan laki-laki yan bisa melindungi kamu” kata Sean dengan santai. Dia yang mengenal Dita sejak kecil
meski tak pernah bertemu tetapi dia selalu memantau kabar Dita. Sean yang juga menyesal karena saat itu dia belum mampu untuk melakukan banyak hal.
“Rafael aku lapar” celetuk Dita dengan senyum manja yang di buat-buat, dia yang sebenarnya datang untuk meminta izin untuk pergi makan siang dengan Intan tetapi karena Xhigee dia lupa semuanya.
“baiklah, kamu mau makan apa?” tanya Rafael dengan lembut
__ADS_1
“aku mau somay, bang Yuda tahu dimana tempatnya” kata Dita dengan antusias dan senyum kemenangan, Dita juga meminta beli untuk Millan dan Intan, dia dengan manja memohon pada Rafael agar Intan bisa datang dan menikmati somay di kantor Rafael. Karena merasa bersalah telah berprasangka Dita ada main dengan Xhigee
tanpa berpikir panjang Rafael menizinkannya, bahkan dia sendiri yang pergi bersama Yuda untuk membelikan Dita somay yang diminta.
“tumben-tumbenan Mr Rafael baik, tapi selama gue kerja disini perhatian Mr Rafael sama perempuan lain sangat jauh berbeda” jelas Intan pada Dita dan Millan sembari menikmati somay nya.
“oh ya? Seperti apa?” tanya Millan dengan serius dan senyum lebar, Intan menjelaskan semuanya mengenai apa yang dia tahu. Di ruangan Rafael mereka bertiga bercerita satu sama lain.
“by the way nab, loe tadi tiba-tiba nampar Mr Xhigee loe kesambet apaan? Loe jadi omongan orang sekantor tau nggak” kata Intan menjelaskan
“jangan di dengarkan, itu hanya salah paham” kata Millan sambil mengelus pundak Dita, dia mendengar beberapa karyawan yang tidak suka pada Dita sedang menggunjingkan Dita.
“bukan kesambet, tapi gue inget kalau gue pernah kenal dulu, dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar” jelas Dita sambil menatap pada Intan
“sumpah loe? Kenal dari dulu?” tanya Intan dengan suara agak kencang, Dita hanya mengangguk
“ya Dita saya minta maaf ya, Xhigee sudah menjelaskannya pada saya” kata Millan dengan tulus
“nggak apa apa Millan, dan lagi pula dulu gue ngerasa Xhigee tuh menyembuyikan sesuatu” guman Dita berlahan dengan memicingkan matanya mengingat saat terakhir kali bertemu dengan Xhigee
“ya, karena kamu sudah di pastikan sebagai wanita Rafael” Millan menanggapi kalimat Dita dengan tersenyum jail pada Dita
“Dita, gue seneng banget akhirnya loe sekarang lepas dari kesusahan yang dulu” kata Intan seraya melebarkan kedua tanganya dan memeluk sahabatnya itu
“iya, telat banget datangnya Rafael, gue udah hampir mau menerima pinangan kakek-kakek tahu nggak karena dia kaya” seloroh Dita yang membuat ketiganya tertawa
“ehem, siapa yang telat?” tanya Rafael yang masuk kedalam ruangan bersama Xhigee
“kamu, ngapain kesini?” tanya Dita ketus pada Xhigee
“ingin berbicara dengan kamu” jawab Xhigee santai dan langsung duduk di sofa yang ada di ruangan Rafael,tepat di samping Dita, melihat Xhigee yang duduk disebelahnya Dita pun langsung berdiri
“sepertinya gue harus sudah balik nih “ kata Intan yang melihat suasana hati Dita yang tiba tiba berubah, terlebih dia tidak nyaman dengan tatapan Xhigee kepadanya.
“nggak perlu, gue mau pulang” jawab Dita masih dengan ketusnya
“Dita saya minta maaf, saat itu saya harus benar benar pergi” kata Xhigee menjelasakan
“udah nggak penting, lagi pula gue juga maish bisa bertahan dan hidup sampai sekarang, nggak perlu dari lukisan yang kamu beli” jawab Dita dengan sinis
“ayolah sayang, dia sudah meminta maaf, apa kamu mau selamanya menyimpan dendam sama dia?” tanya Rafael yang sudah memahami permasalahnnya itu
“atau Dita kamu sempat ada perasaan untuk kakakku?” tanya Millan mencoba menggoda Rafael dan benar, mendengar pertanyaan Millan ekpresi wajah Rafael berubah
“perasaan? Nggak ada, cuman waktu itu yang masih peduli dan nggak melihat masalah yang gue hadapi cuman dia” jelas Dita sambil menunjuk pada Xhigee
“ya, saya sangat terpikul dengan kejadian yang menimpa kamu, ayah kamu adalah orang baik” kata Xhigee mengenang mendiang ayah Dita
“ya, ayah gue memang baik, nggak kayak loe, datang nggak di undang, pergi nggak pamit” gerutu Dita
“hahahaha apa kamu begitu kecewa dengan kepergianku?” goda Xhigee sambil melihat pada Rafael yang sedang sibuk sendiri di belakang meja kerjanya
“ya, karena loe belum bayar lukisan yang udah gue buat” kata Dita dengan lantang dan membuat Millan dan Xhigee langsung tertawa, Rafael yang mendengar hanya tersenyum serta melayangkan pandangannya pada istrinya itu.
“baiklah, akan saya bayar hari ini” jelas Xhigee dengan tulus
“nggak perlu lukisanya udah kebakar gue juga udah lupa seperti apa lukisanya waktu itu” jelas Dita dengan tatapan jauh kedepan mengingat masa masa dimana penderitaanya berawal.
“saya sungguh minta maaf Dita, saya memutuskan untuk kembali ke jepang juga karena sudah ada orang lain yang selalu membantu kamu” jelas Xhigee
“Dita, banyak yang masih peduli dengan kamu, dan sekarang kamu punya Rafael, kita keluarga Deveraux juga sahabat-sahabat kamu” jelas Millan yang merasa Iba dengan nasib Dita jauh sebelum Dia mengenalnya melalui
cerita.
“ya, meskipun gue kehilangan calon teman yang tampan, sipit, kulit putih dan juga selalu mendukung gue waktu itu tapi gue beruntung sekarang gue punya pangeran tampan yang peduli dan mencitai gue” kata Dita mencoba
__ADS_1
melupakan semuanya sembari menatap Rafael dengan lembut dan penuh Cinta. Akhirnya Rafael pun bergabung pada pembicaraan mereka.