Untuk istriku

Untuk istriku
Terror Dimas


__ADS_3

Dita yang sudah kembali seperti biasanya, kembali pada aktivitas ngajar privat dan sudah melupaka kejadian dua


hari lalu. Dia nampak sedang berjalan santai pulang dari mengajarnya, dia berhenti di taman biasanya dia menunggu angkutan umum tetapi kali ini dia menunggu Intan. Dita setia menunggu temannya itu sambil menggambar sesuatu di bukunya, dengan santai tangannya bermain diatas kertas membuat gambar hitam


putih yang apik.


“wah neng pinter gambar juga ya” Kata penjual es yang memang mangkal di taman itu.


“nggak bang, ini masih belajar” jawab Dita merendah.


“ini es nya neng” kemudian penjula es itu menyodorkan segelas es campur dan meletakknya pada meja beton tempat Dita duduk. Dari kejauhan seseorang yang sedang mengendarai mobil hitam nampak


mengurangi kecepatan mobilnya, dia memperhatikan pada Dita, dan kemudian mobilnya benar-benar berhenti


“Dita” gumannya dengan senyum sinis dan terlihat senyum yang tidak menyenangkan


“akhirnya kutemukan juga kamu, sudah lama tidak melihatmu menderita” guman laki-laki itu yang memperhatikan Dita dari jauh itu


“kita lihat apa nomor telpon yang aku dapat ini benar” gumannya yang kemudian meraih ponsel pintarnya dari saku. Dia masih tersenyum sinis dan jahat kearah Dita. Dilihatnya Dita mencari-cari


ponselnya dari tasnya dan segera mengangkat telponnya.


“halo. Selamat siang” jawab Dita pada telpon yang di angkatnya itu


“halo” katanya lagi karena tidak ada suara yang dia dengar dari seberang telpon yang tiba-tiba diputus oleh orang


yang memperhatikan Dita


“hahahaha Dita Dita, kali ini aku akan


benar-benar membuatmu ketakutan, tidak ada lagi yang melindungi kamu. Ayahmu


itu sudah dineraka” guman laki-laki yang mengawasi Dita dari kejauhan dan


kemudian mobilnya melaju menjauhi taman.


“Intan lamaaaaa” gerutu Dita sambil melihat pada ponselnya yang tak kunjung mendapatkan pesan dari Intan membuat Dita mulai bosan tetapi dia tetap sabar menunggu, dia tahu sahabatnya itu pasti


tidak mudah untuk pulang cepat, belum dita beranjak ingin mesan somay yang


mobil Intan sudah namapak dan berhenti di ujung taman.


“elo zaenabbb bebeb maaf ya nunggu lama” Intan yang masih melangkahkan kaki itu menyapa dengan gaya centilnya.


“nggak apa-apa, gue tau kok kerja kantoran itu nggak bisa sembarangan pulang cepet” jawab Dita dengan senyum


lebarnya


“aw hayati kamu baek sekali” canda Intan dengan mengedipkan matanya berkali-kali membuat Dita tergelak melihat tingkah Intan, mereka pun berjalan menuju mobil dan pergi dari taman. Setelah membeli


apa yang di cari Intan untuk kado ulang tahun kekasihnya, dia pun mengantar Dita pulang.


“suara apaan itu?” Tanya Dita dan melihat pada Intan yang berada di belakang kemudi, Intan pun melihat perutnya


dengan senyum yang ditahan kemudian melihat kearah Dita


“gue laper” kata Intan dengan meringis geli karena lapar hingga perutnya protes lantaran belum makan dari siang,


ekpresi Intan pun membuat Dita tertawa geli.


“gue pingin makan bakso, ada bakso enak nggak sekita sini” Tanya Dita sembari memperhatikan kanan kiri jalan, tak lupa dia memelankan laju mobilnya.


“ada sebelah rumah gue” Tanya Dita meyakinkan, dia juga menceritakan betapa enaknya daging iga bakso yang ada disebelah kontrakan kecilnya, membuat Intan semakin berasa lapar.


“gue parkir dimana ini ta”  Tanya Intan memperhatikan tempat yang memungkinkan bisa dia gunakan untuk parker.


“disana” kata Dita sambil menunjuk sebuah warung makan yang biasa dia datangi.


“loe yakin? Bisa?" Tanya Intan yang masih ragu


“bisa disebelahnya,  orang-orang depan sana sama orang bengkel pojok itu parkir mobil disitu” jawab Dita dengan yakin, akhirnya Intan pun memarkirkan mobilnya, mereka pun melangkahkan kakinya menuju kontrakan Dita.


“mang Tohir baksonya ya dua, yang satu pake daging” kata Dita memesan setelah tiba di kontrakan kecilnya


“iya neng, tapi tunggu bentar ya neng, baru nambahin air” jawab mang Tohir dengan senyum tipis dan merasa bersalah karena dia telah menambahkan air keadalam kuah baksonya.


“iya gak apa-apa” jawab dita dengan mengaggukkan kepalanya.


“duduk tan, maaf ya tempatnya sempit” kata Dita mempersilahkan Intan


“ela zaenab loe nggak permisi maen duduk aja” kata Intan yang ragu, dia takut pemilik kontrakan akan mearah lantaran mereka duduk diteras sempit kontrakan itu. Dita pun berdiri dan membuka pintu


membuat Intan melotot dan keheranan

__ADS_1


“neng baksonya sudah siap, ini mau paket special atau biasa neng?” Tanya mang Tohir


“paket sepesial bang” jawab Dita yang berbalik dan mengintip dari dalam kontrakannya sementara Intan hanya diam melihat suasana ruangan yang ada didepannya, dan menerima mangkok yang diberikan oleh mang Tohir masih dengan wajah tidak percaya. Dita yang kembali kekursi plastik diteras kontakannya itu membawa sebotol air mineral dan dua gelas, lalu melahap baksonya.


“loe tinggal disini ta?” tanya Intan dengan raut muka iba dijawab anggukan oleh Dita yang asik memakan baksonya.


“udah ayo makan, tu bakso dah teriak-teriak tuh minta dimakan” kata Dita singkat, karena Intan tak segera


memakan baksonya, Intan hanya melihat iba dan kasihan dengan sahabatnya, Dita yang dulu dia tahu lemari pakainnya saja masih kurang luas dari kontrakannya sekarang. Menyadari Intan tak segera bergerak meraih sendoknya Dita pun melihat kearah Intan


“tan, kok loe liatin gue kayak gitu, napa?” Tanya Dita sambil menatap sahabatnya yang bengong, seraya melambaikan tangannya didepan muka Intan


“loe tinggal disini” Tanya Intan hati-hati, dia masih menatap Dita dalam-dalam dengan rasa iba


“heem” jawab Dita singkat dan santai  kemudian melanjutkan menikmati baksonya. Intan berdiri dan melihat-lihat kedalam.


“terus kalau masak dimana?” Tanya Intan yang sudah berdiri di pintu


“itu, di ricecooker” jawab Dita singkat sambil menunjuk sebuah meja kecil yang terdapat ricecooker dan rak piring mini diatasnya, Intan semakin terharu dan iba pada sahabatnya, dia mematung di pintu kontrakan Dita. Dulu Dita yang dia kenal memilik kamas yang luas, kamar mandinya saja seluas kamarnya, sekarang Dita yang dilihat tinggal di tempat yang sempit, bahkan mungkin mang Tohir dan tetangga lainnya tidak akan percaya


jika dia bercerita.


“loe kenapa zubaedah, bakso loe mulai beku, woe putri duyung” kata Dita yang melihat sahabatnya mematung, dia juga memukul tangan Intan dan membuat Intan tersadar.


“nggak apa” jawab Intan dengan senyum yang disematkan di bibirnya berharap bisa menutupi rasa iba yang nampak diraut  mukanya, Intan pun menikmati baksonya, dia tidak lagi ingin memikirkan bagaiamana sahabatnya bertahan seorang diri selama ini, yang dia lakukan hanya memujinya, dengan kalimat yang dia hati-hati dan masih dengan gaya cengengesannya dia memuji Dita.


“masak iya neng” Tanya mang Tohir yang mendengar mereka berbincang


“ah mang Tohir kepo aja” jawab Dita yang mengalihkan perhatian agar taka da tetangganya yang tahu bahwa beberapa tahun lalu dia adalah anak seorang pengusaha sukses.


“eh bentar tlp” kata Dita sambil meraih  ponsel disakunya


“halo” kata Dita yang menerima telpon, dia mengerutkan keningnya lantaran tak mendengar suara dari seberang telpon


“halo, maaf ini siapa ya?” Tanya Dita mencoba mencari tahu tapi tidak ada jawaban dan telpon terputus.


“siapa ta?” Tanya Intan yang masih dengan menikmati baksonya, Dita hanya menggeleng kepala


“dari tadi gue nungguin loe ditaman gue dapat telpon dari nomor yang disembunyikan” jawab Dita, dia menggerakkan bibirnya kekanan dan kekiri berusaha mencari tahu dalam otaknya


“penggemar loe mungkin?” Tanya Intan mencoba menghilangkan penasaran sahabatnya


“feeling gue nggak enak” kata Dita dengan ragu-ragu.


“di warung depan, sebelah loe parker mobil” jawab Dita santai dia masih berpikir nomor tidak dikenal yang


menghubunginya.


“what? Serous loe?” Tanya Intan tak percaya


“serius, dia bilang mobilnya rusak, dan makhluk itu nunggu mobilnya sekalian berteduh” jawab Dita dengan pandangan jauh, dia berusaha mengingat pertemuan pertamanya dengan Rafael


“hahahahaha loe panggil apa? Makhluk” gelak tawa Intan tak terindahkan begitu mendengar Dita menyebut atasannya dengan kata makhluk.


“eh peak, namanya Rafael” kata Intan


yang masih dengan tawanya, dia juga mengarahkan hari telunjuknya ke kepala Dita


dan mendorongnya pelan.


“dia itu juga salah satu atasan gue dikantor” kata Intan menambahkan berusaha memberi tahu Dita


“pantas gue ketemu lagi disana” Dita menambahkan dengan santai dan datar


“cuman ya, gue tuh liat wajahnya pucat waktu liat loe pingsan” kata intan memberitahukan dengan mendekat pada telinga Dita


“eh hayati semua bule emang kulitnya pucat, gimana sich loe” bantah Dita.


“hmm dibilangin tidak percaya” kata dita dengan ekpresi jailnya, mereka bersamaan melihat pada handphone Dita yang berdering.


“halo, siapa ini?” Tanya Dita yang mulai dengan suara tegasnya,


“halo” Dita mengulang sapanya, karena hingga satu menit tak didengarnya suara dari seberang, Dita pun memutus


sambungan telponnya, kali ini dengan wajah serius dia menebak-nebak


“siapa ta?” Tanya Intan penasaran


“nggak tau gue, orang bisu nggak bisa ngomong” jawab Dita kesal. Tanpa memperdulikan telpon yang baru saja diterimanya, Dita kembali asik berbincang dengan Intan sesekali mendengar sahutan mang Tohir dan pembeli yang datang ke warung bakso mang Tohir.


Hampir dua bulan Dita mendapati telpon dengan nomor yang disembunyikan, dia pun tak lagi menghiraukan, dia


mendengarkan nasehat Intan sahabatnya, selama ini dia bisa melewati hari-harinya untuk apa risau dengan telpon yang tidak jelas. Dia nampak baik-baik saja dan sudah terbiasa mendapat telpon yang tidak pernah bicara itu.

__ADS_1


“Hello baby” sapa Cindy yang tanpa permisi langsung masuk kedalam ruangan Rafael, diliriknya wanita itu tanpa


menjawab sapaanya, Rafel pun melihat kepada cindy dengan senyum tipis


“what happen? You look happy today” Tanya Rafael pada Cindy yang sudah menempel pada rafael, dia mengalungkan tangannya di leher Rafael dengan manja.


“I miss you baby” kata Cindy dengan mendesah di telinga Rafael, melihat rafael tersenyum tipis dia pun tersenyum tipis tetapi didalamnya ada kelicikan. Rafael langsung mengalungkan tangannya di


pinggang Cindy, menariknya kedalam pangkuannya.


“you look sexy” kata Rafael memuji Cindy dengan tatapan santai tentu saja membuat Cindy semakin berani, dia mencium bibir Rafael tanpa bertanya.


“lets go dinner” pinta Cindy dengan berani, dia yakin dengan hubungannya sebulan ini akan berlanjut pacaran,


setelah berusaha mendapatkan perhatian Rafael sejak setahun akhirnya dia bisa sering berduaan, kesempatan itu tak dilewatkan oleh Cindy semakin Rafael menyentuhnya dia semakin berani. Rafael tidak menjawab kalimat Cindy tetapi dia menurunkan Cindy dari pangkuannya. Rafael merapikan berkas yang ada dimejanya


dan berlalu dari hadapan Cindy, sebelum menutup  pintu ruangannya dia memutar badak kekarnya itu dan melihat pada Cindy


“wait a moment, I’ll be back” katanya sambil mengerlinkan matanya, Cindy membalasnya dengan anggukan dan kecupan jauh pada Rafael.


***


“ih ini handphone rasanya pingin gue banting” gerutu Dita


“kenapa sayang?” Tanya Febi


“ini tante, nggak tahu, telpon tapi nggak mau ngomong” jawab Dita mengadu, dengan menunjukkan wajah melas


“mau tante bantu mencari siapa yang telpon?” Tanya Febi menawarkan, dia berharap tidak ada yang mengganggu Dita.


“nggak usah tante, lagian paling juga orang iseng, telpon nggak penting” jawab Dita dengan yakin dan senyum tipis


menghiasi bibirnya


“hai hai hai, embak-embak rempong siudiyah datang” sapa Intan yang baru saja datang itu,


“maaf nunggu lama ya” katany alagi menambahkan disertai senyum centil, berharap tidak mendapat komentar, memang benar dia hanya melihat tawa geli Dita dan Febi, telpon Dita bergetar lagi dia


pun mnejawab telpon terror itu dan seperti sebelum-sebelumnya tidak ada jawaban


dari seberang.


“siapa ta? No number lagi?” Tanya Intan yang langsung berwajah serius, Dita hanya mengangguk pasrah


“sejak kamu cerita ke tante loh ta, nggak coba lapor polisi?” kata Febi memberi solusi


“Nggak usah tante, nanti juga bosen sendiri” jawab Dita, nanti  juga bosen sendiri


“iya, ta, nggak usah di ladein” timpal Intan yang kemudian melambaikan tangan memanggil pelayan, dia hendak memesan


makanan.


“Dita Intan, saya pergi dulu ya, kalian baik-baik makannya” kata Febi sambil beranjak dan pergi


“iya te, eh te,  bu” jawab Intan yang reflek jemari tangannya memukul mulutnya, dia juga langsung melihat pada


handphone Dita yang berdering lagi


“tu hp sehari bedering berapa kali ta?” Tanya Intan penasaran dengan ekspresi sok polos menghiasi wajah manisnya


“bisa tiap jam, kadang sehari lebih dari sepuluh kali” jawab Dita sembari mencoba mengangkat telponnya, Intan


menggelengkan kepala heran dengan jawaban Dita


“halo” sapa Dita


“Halo Dita sayang, aku sangat merindukanmu” kata lelaki diseberang telphon.


“siapa ini?” Tanya Dita langsung dengan wajah kesal dan marah serta tatapan laser lurus kedepan.


“ini aku, orang yang menginginkanmu” suaranya lagi, kali ini dengan tawa yang membuat Dita bergidik


“loe siapa dan loe mau apa?” Tanya Dita tegas, Intan hanya menatap Dita dengan serius dan cemas, karena dia juga mendengar suara tapi tidak bisa mendengar jelas yang dikataknnya.


“aku akan datang padamu sayang, kali ini tidak ada ayahmu yang akan membelamu” kata laki-laki siseberang telphon. Mendadak wajah Dita pucat dipenuhi kebencian yang sangat. Tangannya menggenggam erat.


“loe..” kata Dita yang masih berpikir dan menebak, tetapi belum sempat dilanjutkan kalimatnya Dita melihat sosok yang dia kenal berdiri menghadap padanya, bersandar pada tembok dan melambaikan


tangan kepadanya.


“iya sayang ini aku, mantanmu yang tersayang, Dimas” katanya dengan suara geram, membuat Dita tidak meneruskan kalimatnya juga tidak bicara apa-apa


“dua bulan ini ikatan kita tidak sangat kuat, karena itu aku datang menemuimu untuk membuat kamu sengsara”katanya lagi ~~~~dengan tertawa jahat, tertawa yang penuh kepuasan.

__ADS_1


__ADS_2