
Dengan berjalan hati-hati Olivia membawa tumpukan berkas
menuju ruangan Sean, disana Olivia berpapasan dengan Rafael yang keluar dari
ruangannya bersama Vincent dan Bam
“Vincent kamu tetap disini menjaga Dita, meski tak aka nada
yang berani disini tetapi saya masih khawatir”
“baik Tuan” jawab Vincent tegas, Olivia yang tak
memperhatikan Vincent itu tak sengaja menabrak hingga beberapa berkas yang
diabawanya berjatuhan
“aduh, maaf Tuan saya tidak sengaja”kata Olivia ketakutan
serta cepat-cepat dia mengambil berkas-berkas yang berjatuhan itu, Vincent yang
melihat Olivia kesusahan mengumpulkan berkas pun membantunya, sedangkan Rafael
yang melihat kearah meja Dita tetapi tak menemukan wanitanya di tempat dia pun
mulai cemas
“kamu melihat dimana Dita?” tanya Rafael dengan dingin pada
Olivia yang ketakutan karena kesalahan tak sengajanya itu
“a-anu Mr, mbak Dita kekantin dengan mbak Intan” jawab
Olivia sedikit terbata-bata, mendengar kegugupan Olivia Bam hanya tersenyum
tipis pada Olivia
“Vincent tugas kamu hanya satu pastikan Dita aman, saya akan
kembali dalam dua jam” kata Rafael yang kemudian diikuti oleh Bam meninggalkan
kantornya. Sementara itu Olivia hanya menatap Rafael dan Bam yang berjalan
menjauh dan menghilang dari pandangannya
“mbak Dita ini sebenarnya sama siapa sih, Mr Rafael sampek
nyuruh orang njagain dia, enak banget mbak Dita” guman Olivia dengan memasang
wajah bengong, dia pun tersadar ketika Vincent menegurnya
“apa ada yang salah?atau ada yang terluka?” tanya Vincent
dengan lembut
“oh nggak ada Mr, saya permisi” jawab Olivia dia pun
cepat-cepat menuju ruangan Sean, disana dia menyerahkan dokume-dokument yang
dibawanya.
“Olivia kamu dari bagian mana?” tanya Sean tiba-tiba tanpa
melihat kearah Olivia
“department staff Mr, bagian Dokument dan inventory” jawab
Oliva singkat. Sean yang mendapat jawaban itu hanya mengangguk-anggukan
kepalanya seolah memikirkan sesuatu
“kamu bisa kembali bekerja” jawab Sean lagi tanpa melihat
pada Olivia. Di meja kerja Olivia yang menunggu makan siang itu teringat saat
dia tak sengaja menabrak Vincent
“hari ini tumben pak Bam tersenyum sama gue, salah minum
obat kali ya” guman Olivia yang hanya didengarnya sendiri. Dia pun memeriksa
ponselnya tatkala terdengar bunyi notifikasi pesan melalui telpon selulernya
“duh lupa, mbak Intan maaf, bentar aku datang, ini gara-gara
pak Bam sih” gerutu Olivia sambil cepat-cepat merapikan meja kerjanya lalu dia
pun menyusul Intan dan Dita kekantin.
“maaf ya gue lama, habisnya tadi ada kejadian langka dan
malah bikin gue bengong di meja gue” celetuk Olivia saat tiba di meja tempat
Intan dan Dita menghabiskan waktunya untuk istirahat siang
“kejadian apa?” tanya Intan sambil menikmati jus sirsak
didepanya
“lihat pak Bam senyum” kata Oliva berbisik pada kedua teman
kerjanya itu
“simpah loe?” pekik Intan yang tidak percaya, selama dia
bekerja di The Deveraux dia tidak pernah melihat Bam tersenyum bahkan karyawan
lain pun hampir tak pernah melihat Bam berbincang dengan wanita.
“Intan suara loe kenceng banget sih, ada apaan?” tanya Dewi
yang baru saja datang dan ikut bergabung dengan mereka
“Oliv lihat pak Bam senyum” kata Intan mengulang informasi
yang ia dapat dengan setengah berbisik
“hahaha akhirnya jebol juga” celetuk Dewi membuat beberapa
orang yang ada disebelah mereka melihat kearah Dewi
“emangnya pak Bam seseram itu ya?” tanya Dita santai dan
melayangkan pandanganya pada ketiga teman kerjanya
“iya, dan kabarnya Pak Bam itu nggak suka sama perempuan”
kata Dewi menambahkan
“tau dari man aloe?” tanya Intan mendengarkan dengan seksama
“gosipnya, tapi emang apa kalian pernah lihat pak Bam pergi
kencan?” tanya Dewi penasaran serta menatap satu persatu teman satu meja makan
siangnya itu.
“nggak pernah, kayaknya tiap hari nempel sama Mr Rafael atau
nggak Mr Nicholas, apa jangan-jangan pak Bam itu gay?” kata Intan dengan suara
berbisik serta memajukan kepalanya untuk lebih dekat dengan Olivia dan Dewi,
sementara Dita nampak cuek meski mendengarkan teman-temannya menggunjingkan
tangan kanan suaminya
“hah, masak iya?” tanya Dewi dengan mendelik tak percaya
“eh tapi beberapa hari lalu gue lihat pak Bam sama ank
kecil, kalau gay mana bisa punya anak” celetuk Olivia dengan polosnya
“pe-ak, bisa aja adopsi” kata Intan menengahi serta mencubit
lengan Olivia hingga dibuatnya meringis sakit
“emang pak Bam punya anak, di asuh sama adiknya”jelas Dita
santai membuat ketiga temannya menoleh kepadanya dengan tak percaya
“loe tahu dari mana?” suara Clarisa yang tiba-tiba muncul
dibelakang Dita
“yang penting gue tahu, kepo amat” kata Dita dengan nada
yang tak bersahabat, dia pun beranjak dari duduknya
“eh mau kemana, Oliv belum selesai” kata Intan sembari
melongo melihat kearah Dita
“gerah gue disini” gerutu Dita, dia memang beberapa hari ini
tak begitu suka dengan kehadiran Clarisa lantaran sering memergoki Clarisa
diam-diam melihat dan menggoda Rafael dengan sengaja.
“Ta, tunggu gue ikut” kata Intan sambil berdiri dan
cepat-cepat mengejar Dita.
***
“papa Investor kita selain dua relasi
__ADS_1
papa, aku telah menemukan satu orang lagi pa” kata Cindy dengan bangga
“anakku, kita masih jauh dibawah tuan
Deveraux, kita perlu tiga perusahaan asing untuk bisa diatasnya” kata Anton
menjelaskan
“papa jangan kuatir, tinggal satu lagi
investor asing yangkita butuhkan” jawab Cindy meyakinkan ayahnya.
“bagus, kamu sudah benar-benar mengerti
tanggung jawab dikantor, papa senang” kata Anton bangga pada putrinya.
“minggu depan akan ad pameran
arsitektur, papa mau datang?” tanya Cindy pada ayahnya
“tentu, disana kita bbisa mencari relasi
sekaligus investor, kamu temani papa” kata Anton meminta pada anak gadisnya
“tentu papa” jawab Cindy dengan
tersenyum lebar pada papanya.
“baiklah kirimkan semua filenya pada
papa sore ini biar Darwis memeriksanya” kata Anton dengan bangga melihat
kinerja putrinya
“lalu bagaimana dengan Dita, apa papa
masih ingin menyingkirkan dia?” tanya Cindy
“ya, karena tidak ada jalan lain setelah
Darwis mengurus beberapa surat yang diperlukan maka kita bisa menyingkirkannya”
kata Anton
“surat apa pa?” tanya Cindy dengan
penasaran
“saham kepemilikan 14% DGreen Company,
jika kita dapatkan itu maka Handoko tidak akan bisa mengusik kita” kata Anton
menjelaskan dengan antusias
“papa berikan padaku 4% saja sisanya
boleh untuk papa” kata Cindy dengan suara jahatnya, mereka pun tertawa
membayangkan kemenangannya.
“maaf tuan menganganggu anda” kata
Darwis yang masuk kedalam ruangan Anton
“selamat datang Darwis, bagaiamana
dengan pekerjaan yang saya perintahkan” kata Anton dengan senyum masih menghias
dibibirnya
“tuan untuk mendapatkan 14% itu kita harus
menunggu atau jalan pintas, jika Dita meninggal maka akan otomatis jatuh
ketangan tuan Anton” kata Darwis menginformasikan
“begitu rupanya, tetapi melenyapkan Dita
sedikit sulit jika kita lakukan sendiri” kata Anton dengan berpikir dan
memegangi dagunya memikirkan cara.
“papa, serahkan saja itu padaku, ada
orang lain yang akan melakukannya” kata Cindy dengan tatapan serta senyum
jahatnya
“baiklah pertemukan aku dengan orang
itu” kata Anton dengan yakin dan bersemangat, setelah pertemuan Cindy dengan ayahnya
pun Cindy mengubungi Herman, ayah Dimas dan membuat janji bertemu
“dua hari lagi Cindy akan bawa papa
seringai jahatnya di ikuti pulah oleh Anton.
“lalu bagaimana dengan rencana kamu?”
tanya Anton kembali pada pembicaraan awal mereka
“Pengusaha kaya selain tiga relasi papa
itu dan juga keluarga Deveraux akan kita dapatkan, aku sudah mendapatkan satu
diantaranya” kata Cindy dengan senyum kemenangan jahatnya
“anakku, kalau dia masih dibawah bayang
bayang Deveraux maka jangan harap untuk bisa menang yang ada kita di bantai”
kata Anton dengan suara lantang
“jangan khawatir papa, dia tidak ada
hubungannya dengan keluarga Deveraux” kata Cindy dengan yakin
“perusahaan asing mana yang kamu
sarankann pada papa” kata Anton bersemangat
“ada satu perusahaan jepang dan satu
lagi dari German” kaat Cindy meyakinkan papanya
“bagus, akan ada satu lagi yang sudah
pasti perusahaan Asing dari London” tambah Anton
“oh ya? Bagus dong pa” kata Cindy
bersemangat. Setelah berbincang Cindy pun meninggalkan kantor papanya diikuti
Darwis, Anton juga meninggalkan kantornya
“tuan Rafael Deveraux senang bertemu
anda disini” kata Anton dengan senyum lebar pada Rafael yang bertemu secara
tidak sengaja disebuah bengkel besar milik klien Rafael
“Tuan Subrata tak disangka anda berumur
panjang” jawab Rafael dengan senyum jahatnya namun dengan suara yang dingin
“anda terlalu sungkan jika bergurau,
saya hanya sekedar mampir saja disini” kata Anton yang masih dengan senyum
lebarnya
“saya tidak sungkan sedikit pun tuan
Subrata” kata Rafael yakin dengan tatapan santai tetapi ada kejahatan
didalamnya
“oh ya, saya dengar anda menolak putri
saya, mohon untuk tidak begitu pada wanita, maafkan juga kelancangan putri
saya” kata Anton mencoba mengalah
“saya tidak tertarik dengan putri anda,
tetapi saya tertarik dengan aset anda” kata Rafael yang langsung pada intinya
itu
“apa yang bisa saya berikan pada anda
tuan Rafael, anda memiliki lebih besar dari pada DGreen Company yang saya
bangun” kata Anton menyombongkan diri
“59% saham DGreen Company jika kamu
ingin saya menikahi putrimu” kata Rafael menantang Anton
“sialan, berani sekali Rafael meminta
saham ini” guman Anton dalam hatinya
“tuan Rafael, berhati hatilah ketika
__ADS_1
anda meminta, jika tidak istri anda yang akan menjadi taruhannya” kata Anton
mengancam dengan tatapan dan seringai jahatnya
“tuan Subrata, anda pasti tahu bagaiaman
nasib anda jika menyentuh wanita Deveraux” kata Rafael dengan tegas dan
berjalan meninggalkan Anton
“ saya pikir ancaman saya seminggu ini
tidak anda hiraukan tuan, saya harap anda tidak menyesal” kata Anton percaya
diri,
“simpan saja ancamanmu itu tuan Subrata”
jawab Rafael sambil berlalu meninggalkan Anton. Rafael yang melanjutkan
langkahnya itu langsung menghubungi Vincent menanyakan keberadaan Dita. Setiba
di Gedung Deveraux, Rafael langsung mencari Dita yang tak ditemuinya di meja
kerjanya.
“mbak Dita kenapa nggak bilang aja,
nanti aku bikinin kalau mau kopi” kata seorang OG di pantry
“nggak apa-apa mbak, lagi pingin bikin
sendiri” jawab Dita santai, sementara Intan yang asik dengan ponselnya itu
cekikikan sendiri sembari menatap layar ponselnya. Rafael yang tiba-tiba muncul
di pantry itu langsung memeluk Dita dengan hangat membuat OB dan OG yang ada di
pantry saling berpandangan dan berbisik serta membuyarkan konsetrasi Intan yang
tengah asik dengan ponselnya
“eh kapan munculnya Mr?” tanya Intan
yang melihat Rafael memeluk Dita
“apa kamu baik-baik saja?” tanya Rafael pada
Dita dengan cemas serta menyentuh kedua pipi Dita dengan lembut setelah
melepaskan pelukannya, Intan yang merasa di abaikan hanya berdecak sinis
“gue baik-baik aja, emang ada apa?”
tanya Dita bingung
“kalian keluar dulu deh” kata Intan
memerintahkan pada OB dan OG yang ada di pantry sembari mengayunkan tangannya
memberi isyarat, Intan memandu pada karyawan pantry untuk keluar sejenak.
“tidak ada apa-apa hanya saya sangat
merindukan kamu” kata Rafael pada istrinya dengan tatapan lembut serta berlahan
mendekat dan mencium lembut bibir istrinya hingga beberapa saat
“eh udah lama loh suamiku ini nggak
mencium istrinya” goda Dita setelah Rafael melepaskan ciumannya sambil
menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. Tentu saja reaksi itu membuat
Rafael tertawa kemudian Rafael pun menggandeng tangan Dita keluar dari ruang
itu, semua karyawan yang melihat pun berbisik satu sama lain
“kalian lihat apa? balik kerja sana”
kata Intan dengan santai namun nada tinggi membuat semuanya bubar
“wah nggak nyangka mbak Dita bisa
menggaet kedua boss kita” kata salah satu karyawan bergosip
“iya, ih amit-amit pasti demi kerjaan
rela ditiduri, lihat aja disini belum setahun udah bisa jadi asisten, mbak
Clarisa yang udah lama kerja disini aja belum pernah di tatap dengan lembut
kayak gitu” kata seorang karyawan satunya lagi.
“huss kalau ngomong yang bener, mau
kalian dipecat? Kata Olivia yang tak sengaja mendengar percakapan dua karyawan
pantry. Kejadian di ruang pantry membuat beberapa yang tak suka dengan
kedekatan Dita dan trio Deveraux selalu melirik dengan tatapan sinis tatkala
bersimpangan dengan Dita. Sementara itu setelah dua hari Darwis menemui Herman
sesuai dengan rencana Cindy, dengan tipu dayanya dan ayahnya, Cindy berhasil
mempengaruhi Herman. Kebencian Herman terhadap Dita benar-benar terkumpul
sempurna, Anton yang selalu memberikan Ancaman baik secara langsung maupun
tidak langsung membuat Rafael semakin waspada akan keselamatan istrinya. Kecemasan
Rafael membuat Dita gusar karena dia merasa tak terjadi apa-apa dan tak ada
yang mengikutinya selain Vincent dan Yuda.
“selamat pagi tuan Rafael” sapa Anton
dengan senyum lebar
“selamat pagi tuan Subrata” jawab Rafael
angkuh
“tidak menyangka sepagi ini bisa bertemu
dengan tuan Rafael disini” kata Anton dengan senyum lebar namun menantang
lawannya.
“tak disangka bisa bertemu dengan tuan
Anton disini” kata Nicholas yang menghampiri Rafael dan Anton di sebuah lobi
hotel
“tuan Deveraux, senang bertemu anda, ada
bisnis apa yang membuat tuan besar Deveraux turun tangan?” tanya Anton
basa-basi dengan santai
“bisnis lama milik keluarga lama” jawab
Nicholas santai namun terasa dingin membuat Anton sedikit panik karena Nicholas
yang nampak tenang itu terlihat begitu dingin
“oh, mungkin kita bisa menjalin kerja
sama di masa depan” Anton mencoba mencari tahu dengan berbasa-basi serta senyum
tipis dia sematkan di bibirnya untuk menyembunyikan kepanikannya
“itu tergantung dari pada direktur utama
serta pemegang saham utama, bagaimana Rafael?” kata Nicholas menjelaskan seraya
menatap Anton sekilas lalu mengalihkan pandanganya pada putra bungsunya
“saya rasa The Deveraux sudah sangat
kuat dan untuk saat ini tidak perlu bekerja sama dengan perusahaan manapun,
lagi pula hanya akan menembus investor asing” jelas Rafael tegas namun
tatapanya yang bak tatapan dewa maut itu membuat Anton tak menemukan kata-kata
untuk membalas kalimat Rafael
“Mr Rafael memang pandai bergurau, tapi
karena saya ada urusan lain saya permisi dulu” kata Anton menghindari kekalahan
debatnya. Dia pun berlalu dari hadapan Rafael dan Nicholas menuju meja
reservasi sementara ayah dan anak itu pergi meninggalkan hotel. Dalam
perjalanan kembali ke kantor Rafael hanya terdiam, dia memikirkan setiap
ancaman Anton yang sudah dilancarkan sejak beberapa hari, kehawatiranya begitu
besar saat Dita tak ada bersamanya, pernikahannya yang dulu tak dia harapakan
itu justru membuatnya tenggelam dalam cintanya pada Dita dan keinginannya
__ADS_1
melindungi Dita membuat Rafael seakan tak bisa hidup tanpa istrinya.