Untuk istriku

Untuk istriku
Ancaman Anton


__ADS_3

Dengan berjalan hati-hati Olivia membawa tumpukan berkas


menuju ruangan Sean, disana Olivia berpapasan dengan Rafael yang keluar dari


ruangannya bersama Vincent dan Bam


“Vincent kamu tetap disini menjaga Dita, meski tak aka nada


yang berani disini tetapi saya masih khawatir”


“baik Tuan” jawab Vincent tegas, Olivia yang tak


memperhatikan Vincent itu tak sengaja menabrak hingga beberapa berkas yang


diabawanya berjatuhan


“aduh, maaf Tuan saya tidak sengaja”kata Olivia ketakutan


serta cepat-cepat dia mengambil berkas-berkas yang berjatuhan itu, Vincent yang


melihat Olivia kesusahan mengumpulkan berkas pun membantunya, sedangkan Rafael


yang melihat kearah meja Dita tetapi tak menemukan wanitanya di tempat dia pun


mulai cemas


“kamu melihat dimana Dita?” tanya Rafael dengan dingin pada


Olivia yang ketakutan karena kesalahan tak sengajanya itu


“a-anu Mr, mbak Dita kekantin dengan mbak Intan” jawab


Olivia sedikit terbata-bata, mendengar kegugupan Olivia Bam hanya tersenyum


tipis pada Olivia


“Vincent tugas kamu hanya satu pastikan Dita aman, saya akan


kembali dalam dua jam” kata Rafael yang kemudian diikuti oleh Bam meninggalkan


kantornya. Sementara itu Olivia hanya menatap Rafael dan Bam yang berjalan


menjauh dan menghilang dari pandangannya


“mbak Dita ini sebenarnya sama siapa sih, Mr Rafael sampek


nyuruh orang njagain dia, enak banget mbak Dita” guman Olivia dengan memasang


wajah bengong, dia pun tersadar ketika Vincent menegurnya


“apa ada yang salah?atau ada yang terluka?” tanya Vincent


dengan lembut


“oh nggak ada Mr, saya permisi” jawab Olivia dia pun


cepat-cepat menuju ruangan Sean, disana dia menyerahkan dokume-dokument yang


dibawanya.


“Olivia kamu dari bagian mana?” tanya Sean tiba-tiba tanpa


melihat kearah Olivia


“department staff Mr, bagian Dokument dan inventory” jawab


Oliva singkat. Sean yang mendapat jawaban itu hanya mengangguk-anggukan


kepalanya seolah memikirkan sesuatu


“kamu bisa kembali bekerja” jawab Sean lagi tanpa melihat


pada Olivia. Di meja kerja Olivia yang menunggu makan siang itu teringat saat


dia tak sengaja menabrak Vincent


“hari ini tumben pak Bam tersenyum sama gue, salah minum


obat kali ya” guman Olivia yang hanya didengarnya sendiri. Dia pun memeriksa


ponselnya tatkala terdengar bunyi notifikasi pesan melalui telpon selulernya


“duh lupa, mbak Intan maaf, bentar aku datang, ini gara-gara


pak Bam sih” gerutu Olivia sambil cepat-cepat merapikan meja kerjanya lalu dia


pun menyusul Intan dan Dita kekantin.


“maaf ya gue lama, habisnya tadi ada kejadian langka dan


malah bikin gue bengong di meja gue” celetuk Olivia saat tiba di meja tempat


Intan dan Dita menghabiskan waktunya untuk istirahat siang


“kejadian apa?” tanya Intan sambil menikmati jus sirsak


didepanya


“lihat pak Bam senyum” kata Oliva berbisik pada kedua teman


kerjanya itu


“simpah loe?” pekik Intan yang tidak percaya, selama dia


bekerja di The Deveraux dia tidak pernah melihat Bam tersenyum bahkan karyawan


lain pun hampir tak pernah melihat Bam berbincang dengan wanita.


“Intan suara loe kenceng banget sih, ada apaan?” tanya Dewi


yang baru saja datang dan ikut bergabung dengan mereka


“Oliv lihat pak Bam senyum” kata Intan mengulang informasi


yang ia dapat dengan setengah berbisik


“hahaha akhirnya jebol juga” celetuk Dewi membuat beberapa


orang yang ada disebelah mereka melihat kearah Dewi


“emangnya pak Bam seseram itu ya?” tanya Dita santai dan


melayangkan pandanganya pada ketiga teman kerjanya


“iya, dan kabarnya Pak Bam itu nggak suka sama perempuan”


kata Dewi menambahkan


“tau dari man aloe?” tanya Intan mendengarkan dengan seksama


“gosipnya, tapi emang apa kalian pernah lihat pak Bam pergi


kencan?” tanya Dewi penasaran serta menatap satu persatu teman satu meja makan


siangnya itu.


“nggak pernah, kayaknya tiap hari nempel sama Mr Rafael atau


nggak Mr Nicholas, apa jangan-jangan pak Bam itu gay?” kata Intan dengan suara


berbisik serta memajukan kepalanya untuk lebih dekat dengan Olivia dan Dewi,


sementara Dita nampak cuek meski mendengarkan teman-temannya menggunjingkan


tangan kanan suaminya


“hah, masak iya?” tanya Dewi dengan mendelik tak percaya


“eh tapi beberapa hari lalu gue lihat pak Bam sama ank


kecil, kalau gay mana bisa punya anak” celetuk Olivia dengan polosnya


“pe-ak, bisa aja adopsi” kata Intan menengahi serta mencubit


lengan Olivia hingga dibuatnya meringis sakit


“emang pak Bam punya anak, di asuh sama adiknya”jelas Dita


santai membuat ketiga temannya menoleh kepadanya dengan tak percaya


“loe tahu dari mana?” suara Clarisa yang tiba-tiba muncul


dibelakang Dita


“yang penting gue tahu, kepo amat” kata Dita dengan nada


yang tak bersahabat, dia pun beranjak dari duduknya


“eh mau kemana, Oliv belum selesai” kata Intan sembari


melongo melihat kearah Dita


“gerah gue disini” gerutu Dita, dia memang beberapa hari ini


tak begitu suka dengan kehadiran Clarisa lantaran sering memergoki Clarisa


diam-diam melihat dan menggoda Rafael dengan sengaja.


“Ta, tunggu gue ikut” kata Intan sambil berdiri dan


cepat-cepat mengejar Dita.


***


“papa Investor kita selain dua relasi

__ADS_1


papa, aku telah menemukan satu orang lagi pa” kata Cindy dengan bangga


“anakku, kita masih jauh dibawah tuan


Deveraux, kita perlu tiga perusahaan asing untuk bisa diatasnya” kata Anton


menjelaskan


“papa jangan kuatir, tinggal satu lagi


investor asing yangkita butuhkan” jawab Cindy meyakinkan ayahnya.


“bagus, kamu sudah benar-benar mengerti


tanggung jawab dikantor, papa senang” kata Anton bangga pada putrinya.


“minggu depan akan ad pameran


arsitektur, papa mau datang?” tanya Cindy pada ayahnya


“tentu, disana kita bbisa mencari relasi


sekaligus investor, kamu temani papa” kata Anton meminta pada anak gadisnya


“tentu papa” jawab Cindy dengan


tersenyum lebar pada papanya.


“baiklah kirimkan semua filenya pada


papa sore ini biar Darwis memeriksanya” kata Anton dengan bangga melihat


kinerja putrinya


“lalu bagaimana dengan Dita, apa papa


masih ingin menyingkirkan dia?” tanya Cindy


“ya, karena tidak ada jalan lain setelah


Darwis mengurus beberapa surat yang diperlukan maka kita bisa menyingkirkannya”


kata Anton


“surat apa pa?” tanya Cindy dengan


penasaran


“saham kepemilikan 14% DGreen Company,


jika kita dapatkan itu maka Handoko tidak akan bisa mengusik kita” kata Anton


menjelaskan dengan antusias


“papa berikan padaku 4% saja sisanya


boleh untuk papa” kata Cindy dengan suara jahatnya, mereka pun tertawa


membayangkan kemenangannya.


“maaf tuan menganganggu anda” kata


Darwis yang masuk kedalam ruangan Anton


“selamat datang Darwis, bagaiamana


dengan pekerjaan yang saya perintahkan” kata Anton dengan senyum masih menghias


dibibirnya


“tuan untuk mendapatkan 14% itu kita harus


menunggu atau jalan pintas, jika Dita meninggal maka akan otomatis jatuh


ketangan tuan Anton” kata Darwis menginformasikan


“begitu rupanya, tetapi melenyapkan Dita


sedikit sulit jika kita lakukan sendiri” kata Anton dengan berpikir dan


memegangi dagunya memikirkan cara.


“papa, serahkan saja itu padaku, ada


orang lain yang akan melakukannya” kata Cindy dengan tatapan serta senyum


jahatnya


“baiklah pertemukan aku dengan orang


itu” kata Anton dengan yakin dan bersemangat, setelah pertemuan Cindy dengan ayahnya


pun Cindy mengubungi Herman, ayah Dimas dan membuat janji bertemu


“dua hari lagi Cindy akan bawa papa


seringai jahatnya di ikuti pulah oleh Anton.


“lalu bagaimana dengan rencana kamu?”


tanya Anton kembali pada pembicaraan awal mereka


“Pengusaha kaya selain tiga relasi papa


itu dan juga keluarga Deveraux akan kita dapatkan, aku sudah mendapatkan satu


diantaranya” kata Cindy dengan senyum kemenangan jahatnya


“anakku, kalau dia masih dibawah bayang


bayang Deveraux maka jangan harap untuk bisa menang yang ada kita di bantai”


kata Anton dengan suara lantang


“jangan khawatir papa, dia tidak ada


hubungannya dengan keluarga Deveraux” kata Cindy dengan yakin


“perusahaan asing mana yang kamu


sarankann pada papa” kata Anton bersemangat


“ada satu perusahaan jepang dan satu


lagi dari German” kaat Cindy meyakinkan papanya


“bagus, akan ada satu lagi yang sudah


pasti perusahaan Asing dari London” tambah Anton


“oh ya? Bagus dong pa” kata Cindy


bersemangat. Setelah berbincang Cindy pun meninggalkan kantor papanya diikuti


Darwis, Anton juga meninggalkan kantornya


“tuan Rafael Deveraux senang bertemu


anda disini” kata Anton dengan senyum lebar pada Rafael yang bertemu secara


tidak sengaja disebuah bengkel besar milik klien Rafael


“Tuan Subrata tak disangka anda berumur


panjang” jawab Rafael dengan senyum jahatnya namun dengan suara yang dingin


“anda terlalu sungkan jika bergurau,


saya hanya sekedar mampir saja disini” kata Anton yang masih dengan senyum


lebarnya


“saya tidak sungkan sedikit pun tuan


Subrata” kata Rafael yakin dengan tatapan santai tetapi ada kejahatan


didalamnya


“oh ya, saya dengar anda menolak putri


saya, mohon untuk tidak begitu pada wanita, maafkan juga kelancangan putri


saya” kata Anton mencoba mengalah


“saya tidak tertarik dengan putri anda,


tetapi saya tertarik dengan aset anda” kata Rafael yang langsung pada intinya


itu


“apa yang bisa saya berikan pada anda


tuan Rafael, anda memiliki lebih besar dari pada DGreen Company yang saya


bangun” kata Anton menyombongkan diri


“59% saham DGreen Company jika kamu


ingin saya menikahi putrimu” kata Rafael menantang Anton


“sialan, berani sekali Rafael meminta


saham ini” guman Anton dalam hatinya


“tuan Rafael, berhati hatilah ketika

__ADS_1


anda meminta, jika tidak istri anda yang akan menjadi taruhannya” kata Anton


mengancam dengan tatapan dan seringai jahatnya


“tuan Subrata, anda pasti tahu bagaiaman


nasib anda jika menyentuh wanita Deveraux” kata Rafael dengan tegas dan


berjalan meninggalkan Anton


“ saya pikir ancaman saya seminggu ini


tidak anda hiraukan tuan, saya harap anda tidak menyesal” kata Anton percaya


diri,


“simpan saja ancamanmu itu tuan Subrata”


jawab Rafael sambil berlalu meninggalkan Anton. Rafael yang melanjutkan


langkahnya itu langsung menghubungi Vincent menanyakan keberadaan Dita. Setiba


di Gedung Deveraux, Rafael langsung mencari Dita yang tak ditemuinya di meja


kerjanya.


“mbak Dita kenapa nggak bilang aja,


nanti aku bikinin kalau mau kopi” kata seorang OG di pantry


“nggak apa-apa mbak, lagi pingin bikin


sendiri” jawab Dita santai, sementara Intan yang asik dengan ponselnya itu


cekikikan sendiri sembari menatap layar ponselnya. Rafael yang tiba-tiba muncul


di pantry itu langsung memeluk Dita dengan hangat membuat OB dan OG yang ada di


pantry saling berpandangan dan berbisik serta membuyarkan konsetrasi Intan yang


tengah asik dengan ponselnya


“eh kapan munculnya Mr?” tanya Intan


yang melihat Rafael memeluk Dita


“apa kamu baik-baik saja?” tanya Rafael pada


Dita dengan cemas serta menyentuh kedua pipi Dita dengan lembut setelah


melepaskan pelukannya, Intan yang merasa di abaikan hanya berdecak sinis


“gue baik-baik aja, emang ada apa?”


tanya Dita bingung


“kalian keluar dulu deh” kata Intan


memerintahkan pada OB dan OG yang ada di pantry sembari mengayunkan tangannya


memberi isyarat, Intan memandu pada karyawan pantry untuk keluar sejenak.


“tidak ada apa-apa hanya saya sangat


merindukan kamu” kata Rafael pada istrinya dengan tatapan lembut serta berlahan


mendekat dan mencium lembut bibir istrinya hingga beberapa saat


“eh udah lama loh suamiku ini nggak


mencium istrinya” goda Dita setelah Rafael melepaskan ciumannya sambil


menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. Tentu saja reaksi itu membuat


Rafael tertawa kemudian Rafael pun menggandeng tangan Dita keluar dari ruang


itu, semua karyawan yang melihat pun berbisik satu sama lain


“kalian lihat apa? balik kerja sana”


kata Intan dengan santai namun nada tinggi membuat semuanya bubar


“wah nggak nyangka mbak Dita bisa


menggaet kedua boss kita” kata salah satu karyawan bergosip


“iya, ih amit-amit pasti demi kerjaan


rela ditiduri, lihat aja disini belum setahun udah bisa jadi asisten, mbak


Clarisa yang udah lama kerja disini aja belum pernah di tatap dengan lembut


kayak gitu” kata seorang karyawan satunya lagi.


“huss kalau ngomong yang bener, mau


kalian dipecat? Kata Olivia yang tak sengaja mendengar percakapan dua karyawan


pantry. Kejadian di ruang pantry membuat beberapa yang tak suka dengan


kedekatan Dita dan trio Deveraux selalu melirik dengan tatapan sinis tatkala


bersimpangan dengan Dita. Sementara itu setelah dua hari Darwis menemui Herman


sesuai dengan rencana Cindy, dengan tipu dayanya dan ayahnya, Cindy berhasil


mempengaruhi Herman. Kebencian Herman terhadap Dita benar-benar terkumpul


sempurna, Anton yang selalu memberikan Ancaman baik secara langsung maupun


tidak langsung membuat Rafael semakin waspada akan keselamatan istrinya. Kecemasan


Rafael membuat Dita gusar karena dia merasa tak terjadi apa-apa dan tak ada


yang mengikutinya selain Vincent dan Yuda.


“selamat pagi tuan Rafael” sapa Anton


dengan senyum lebar


“selamat pagi tuan Subrata” jawab Rafael


angkuh


“tidak menyangka sepagi ini bisa bertemu


dengan tuan Rafael disini” kata Anton dengan senyum lebar namun menantang


lawannya.


“tak disangka bisa bertemu dengan tuan


Anton disini” kata Nicholas yang menghampiri Rafael dan Anton di sebuah lobi


hotel


“tuan Deveraux, senang bertemu anda, ada


bisnis apa yang membuat tuan besar Deveraux turun tangan?” tanya Anton


basa-basi dengan santai


“bisnis lama milik keluarga lama” jawab


Nicholas santai namun terasa dingin membuat Anton sedikit panik karena Nicholas


yang nampak tenang itu terlihat begitu dingin


“oh, mungkin kita bisa menjalin kerja


sama di masa depan” Anton mencoba mencari tahu dengan berbasa-basi serta senyum


tipis dia sematkan di bibirnya untuk menyembunyikan kepanikannya


“itu tergantung dari pada direktur utama


serta pemegang saham utama, bagaimana Rafael?” kata Nicholas menjelaskan seraya


menatap Anton sekilas lalu mengalihkan pandanganya pada putra bungsunya


“saya rasa The Deveraux sudah sangat


kuat dan untuk saat ini tidak perlu bekerja sama dengan perusahaan manapun,


lagi pula hanya akan menembus investor asing” jelas Rafael tegas namun


tatapanya yang bak tatapan dewa maut itu membuat Anton tak menemukan kata-kata


untuk membalas kalimat Rafael


“Mr Rafael memang pandai bergurau, tapi


karena saya ada urusan lain saya permisi dulu” kata Anton menghindari kekalahan


debatnya. Dia pun berlalu dari hadapan Rafael dan Nicholas menuju meja


reservasi sementara ayah dan anak itu pergi meninggalkan hotel. Dalam


perjalanan kembali ke kantor Rafael hanya terdiam, dia memikirkan setiap


ancaman Anton yang sudah dilancarkan sejak beberapa hari, kehawatiranya begitu


besar saat Dita tak ada bersamanya, pernikahannya yang dulu tak dia harapakan


itu justru membuatnya tenggelam dalam cintanya pada Dita dan keinginannya

__ADS_1


melindungi Dita membuat Rafael seakan tak bisa hidup tanpa istrinya.


__ADS_2