
Rafael yang sibuk dengan laptopnya itu melirik jam dan melihat sudah pukul sembilan lebih sepuluh menit, dia terlihat khawatir mendapati istrinya tak kunjung keluar bahkan tak bersuara. Dengan susah payah akhirnya dia bisa membuka pintu kamar Dita, di dapatinya Dita yang tertidur tetapi tidak biasanya seperti itu, Rafael nampak cemas, diangkatnya istrinya itu dan dibaringkan ditempat tidur.
“Dita badanmu panas sekali” guman Rafael
yang merasakan panas tubuh istrinya lalu menempelkan tangannya pada dahi istrinya. Rafael langsung menghubungi dokter dan maminya. Tak kurang dari empat puluh menit keduanya datang
Rafael yang duduk disamping istrinya itu tak berkata apa apa
“dokter bagaimana keadaan anak mantu saya” tanya Febi dengan cemas
“nyonya tidak perlu khawatir, dia hanya merasa tertekan, demamnya tidak menghawatirkan, cukup berikan resep ini, dan buat dia senang, dia akan kembali seperti semua” kata dokter
“baik dok” jawab Febi
“apa sebelumnya Dita pernah mengalami tekana depresi?” tanya Dokter
“iya dok, kenapa dengan menantu saya?” jawab Febi
“baiklah anda bisa tebus resep yang saya berikan, buat dia untuk tidak terlalu memikirkan masalahnya dia akan baik-baik saja” kata Dokter
“terima kasih dokter, mari saya antar keluar” kata Febi mengikuti dokter keluar.
Melihat gelas kosong Rafael pun keluar dari kamar hendak mengambil air itu dicegat oleh maminya
“el, apa kalian bertengakar?” tanya Febi
“tidak mami, kami baik-baik saja” jawab Rafael
“lalu kenapa masih tidur dikamarterpisah?” tanya Febi menyelidiki
“mami sejak datang dia langsung masuk kedalam kamar dan mengunci pintu, dia bahkan tidak makam malam” jawab Rafael cemas kemudian melangkah kedalam kamar meletakkan gelas dan meraih telpon selulernya
“Ryan cari wanita itu dan bawa padaku,” kata Rafael melalui telpon selulernya memberi perintah
“mencari siapa” tanya Millan yang juga berada diapartemen Rafael.
“mami, tolong jaga istriku sebentar” kata Rafael dengan tatapan dingin dan dia pun meninggalkan apartemen dengan amarah. Rafael yang sudah duduk di ruang VIP disebuah Club miliknya itu hanya memutar memainkan ponselnya menunggu anak buahnya membawa Cindy ke hadapannya.
“lepas, lepasin gue!” teriak Cindy sambil memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua anak buah
Rafael, Cindy terhuyung ketika anak buah Rafael mendorongnya kelantai, Rafael yang melihat Cindy itu menaptapnya dengan tatapan kejam serta dingin.
“Cindy kamu tahu siapa saya?” tanya Rafael lembut tetapi dengan tatapan masih dingin dan kejam seolah ingin mencincang wanita yang ingin didepannya
“Rafael ada apa ini? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Kamu nggak seromantis dulu” tanya Cindy heran dan menyebarkan keseluruh ruangan, delapan bodyguard menyertai Rafael
“mati gue, salah apa gue sama dia?” guman
Cindy dalam hati sambil meronta berusaha melepaskan ikatan tangannya
“Raf aku cinta sama kamu, setidaknya tolong jangan perlakukan aku tidak layak seperti ini” kata Cindy lagi mengiba
yang masih dengan tatapan kebingungan
“jangan berani menganggu istri saya! Menyentuh wanita saya berate cari mati” betak Rafael pada Cindy sembari melemparkan sebuah map yang berisi kertas kertas kepangkuan Cindy yang terduduk dilantai.
“jadi benar bule yang tadi siang itu istrinya”
guman Cindy yang masih belum tahu dalam hatinya dengan sorot mata benci dan kecewa bercampur menjadi satu
“aku nggak percaya kamu sudah menikah, dan kalaupun iya aku tidak menggaggu istrimu” kata Cindy mengelak dan menjelaskan dengan memperhatikan lembaran lembaran kertas yang berserakan di pangkuannya kebingungan
“bagaimana Rafael bisa tahu semua gerak gerik gue dan orang orang yang gue perintahin” guman Cindy dalam harinya ketika melihat kertas serta beberapa photo dirinya
“jangan kamu pikir saya tidak tahu kenapa kamu mendekati saya” kata Rafael dingin dan tatapan membunuh tersirat disorot matanya dia pun mencengkram pipi Cindy
“karena aku cinta sama kamu dan aku tidak tahu kamu sudah menikah” kata Cindy mencoba mempengaruhi dengan wajah melas ditunjukkannya pada Rafael yang menatapnya
“pak Bam bereskan, dan ingatkan wanita ini” kata Rafael sambil beranjak dari tempatnya, dia pun meninggalkan tempat itu
“mbak Cindy saya harap mbak Cindy kedepanya tidak mencari masalah, karena kalau sampai Mr Rafael mengurusnya langsung, kami tidak bisa membantu banyak” kata Bam pada Cindy menjelaskan dengan tatapan yang tidak menyenangkan “iya gue tahu” jawab Cindy ketus, dia berusaha bangkit dari duduknya
“anda bisa bersenang-senang di club ini tuan Rafael masih berbaik hati” kata Bam lalu keluar dari ruangan di ikuti pengawal yang lainnya
“sial, kenapa bia apes gue, ternyata dia begitu cinta sama istrinya” gerutu Cindy dengan raut muka pucat sekaligus emosi, dia pun beranjak dari ruangan itu dan langsung pergi
“papa Cindy butuh bantuan papa” kata Cindy melalui telpon selulernya, tak lama kemudian sebuah mobil menjemputnya dan pergi dari club.
“good morning sayang” kata Rafael lembut pada Dita, sarapan pun sudah tersedia di nakas sebelah tempat tidurnya, Dita sama sekali tidak menjawab bahkan mengacuhkan Rafael yang berusaha membantunya untuk turun dari tempat tidur dengan menampis tangan Rafael
Seminggu sudah Dita tak banyak bicara pada Rafael, dia hanya menjawab setiap pertanyaan dengan geleng kepala atau menggangguk.
“ta, loe kenapa gue liat semenjak Cindy mau ngusir loe dari kantor loe jadi pendiam gini” tanya Intan dengan wajah penasaran
“nggak apa-apa, udah ayo habisin somaynya udah hampir jam satu ini” jawab Dita sambil mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan
“oh iya, Mr Sean mau ketemu loe mau ngasih kursi jabatan sama loe?” tanya Intan lagi dengan wajah jail
__ADS_1
“nggak, lagian gue nggak mau” jawab Dita datar dan cepat-cepat menghabiskan somay yang ada di depannya. Mereka berdua pun cepat-cepat menuju kantor
“nah sudah sampai” kata Intan dengan semangat yang sambil menggandeng lengan Dita
“mbak Dita di tunggu Mr Sean di ruangan Mr Nicholas” kata resepsionis
“hah! Ruangan Mr Nicholas?” Dita terbelalak dan sedikit takut, dia pun cepat-cepat menuju lift khusus dan segera
menemui Sean
“mati gue, kalau papi sudah datang, gue
kan nggak boleh ke kontrakan lagi sedangkan hari ini gue mau pulang ke kontrakan” guman Dita sendiri dengan perasaan khawatir
“Me Sean” sapa Dita yang masih di balik pintu yang dia buka, dilihatnya ada Sean dan dua orang dari devisi advertising serta Millan dan Rafael pun ada di ruangan itu, di sebarkannya pandangan ke seluruh ruangan tetapi tak di dapatinya Nicholas di ruangan itu Dita pun bernapas lega.
“kenapa musti mereka berdua ada disini sih” guman Dita dalam hati
“Dita, come in” kata Sean yang kemudian mempersilahkan Dita untuk duduk di kursi yang diseretnya dari depan meja kerja ayahnya, sementara Rafael dan beberapa orang lainnya keluar ruangan hanya tinggal Millan yang tidak beranjak dari tempat duduknya.
“I am waiting you in my office” kata Rafael pada Dita dengan pelan saat sebelum keluar ruangan Sean
“Dita, saya ingin menawarkan kamu untuk menjadi translator Millan” kata Sean dengan senyum dan raut muka bahagia
“maaf Sean aku nggak bisa” jawab Dita tegas, penolakan Dita membuat Sean bertanya tanya ada apa dengan Dita, sejak beberapa hari seperti tidak bergairah setiap kali ada dikantor, berbincang tak lama akhirnya Sean pun menyerah untuk tidak mendesak Dita. Millan beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan setelah meeting mereka selesai begitu juga Dita
“Dita” Sean memangil membuat langkah Dita terhenti
“kamu ada masalah? Dita saya kakak kamu
kalau kamu ada masalah kamu bisa cerita pada saya” kata Sean sambil memengi dua pundak Dita, dia merasa khawatir dengan Dita
“nggak ada, makasih udah mau jadi kakaknya Dita” jawab Dita dengan senyum tulus. Dia pun berpamitan untuk pergi. Di depan ruangan Rafael Dita mengetuk pintu dan membukanya tanpa berkata apa apa, dia hanya berdiri di pintu menunggu Rafael bicara
“apa hari ini kamu pulang ke kontrakan?” tanya Rafael sembari berjalan kearah Dita dan menutup pintu, akan tetapi di halang oleh Dita
“enak aja mau nutup pintu, entar istri loe datang, gue yang repot” guman Dita dalam hati dengan tatapan tidak suka, tetapi Rafael memaksa pintu itu pun tertutup
“sialan, ngapain pake nutup pintu segala” guman Dita lagi dalam hatinya, tidak terima dengan kekalahannya menghadang pintu.
“Dita sampai kapan kamu akan marah dan tidak bicara?” tanya Rafael yang tiba-tiba memeluk Dita dari belakang.
“saya tidak senang melihat kamu seperti ini” kata Rafael lagi dengan lembut
“lepasin gue” kata Dita sambil berontak, dan menginjak kaki Rafael dan akhirnya pelukan Rafael pun terlepas, Dita buru-buru untuk keluar ruangan Rafael.
“ada apa? Kenapa Dita berlari” tanya Sean yang tiba-tiba masuk keruangannya
“tidak ada, kami hanya bertengkar” jawab Rafael singkat, mereka pun berbincang sebentar kemudian meninggalkan kantor bersama-sama, di ikuti beberapa pengawalnya
***
“neng Dita” teriak mbak Ruminah yang melihat Dita duduk santai di depan kontakan kecilnya
“mbak Rum” sapa Dita dengaan senyum gembira dan langsung berhamburan keluar teras untuk menghampiri mbak Ruminah yang sedang menjajakan dagannya
“idih neng Dita, makin cakep aj, nyalon ya neng?” goda mbak Ruminah, dan memang benar, semenjak menikah dengan Rafael, Dita bisa kesalon untuk sekedar creambath
“ah mbak Rum bisa aja dari dulu Dita kan udah cakep, saya mau buah dong mbak” jawab Dita dengan suara bercandanya di samping gerobak mbak Ruminah
“neng Dita, betah bener di rumahnya mbak Intan, ampek jarang pulang” tanya mbak Ruminah dengan wajah kecewa lantaran tidak bisa bercanda dengan Dita
“iya, jarang pulang ya” jawab Dita dengan senyum bersalah, setelah membayar belanjaanya, Dita pun kembali ke teras kecilnya.
“tumben siang ini panas amat ya, mang Tohir, es nya bang satu” kata Mbak Ruminah dengan suaranya yang cetar membahana kemudian bergabung dengan Dita duduk di kursi palstik di eras kontrakan Dita
“asik nih di temenin, kalo gitu Dita mau bakso special bang” kata Dita mengikuti sambil memberi isyarat pada mang Tohir. Dita yang seolah kembali pada kehidupannya sebelum bersama Rafael itu benar-benar tidak punya beban
“el kamu dirumah?” tanya Febi dan langsung masuk kedalam apartement, didapati Rafael sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya, dia yang tak bersemangat dikantor lantaran Dita sudah meninggalkan kantor terlebih dahulu dia pun memillih membawa pekerjaanya pulang, melihat mami dan papinya datang membuat wajah terkejut Rafael terlihat.
“oh no, Dita sudah dua hari belum pulang, dia masih di kontrakan, mami pasti tidak berhenti mengomel” guman Rafael dalam hatinya.
“mami”sapa Rafael yang masih terkejut dan langsung meletakkan laptopnya di atas meja
“kamu lihat mami kok kayak gitu, istri kamu mana?” tanya Febi sambil membuka pintu kamar Rafael
“papi kapan datang?” tanya Rafael sambil memeluk Nicholas
“tadi malam” kata Nicholas yang masih berdiri sambil menyebarkan pandanganya mengikuti Febi melangkah
“Dita, Dita sayang, mami datang sama papi” kata Febi sambil mencari Dita keseluruh Ruangan
“mami Dita tidak di rumah” kata Rafael lemas dan duduk kembali sambil melihat pada maminya
“tidak di rumah lalu kemana?” tanya Febi penasaran
“dua hari ini Dita kembali di kontrakan” jawab Rafael lemas, dia tahu maminya atau Sean jika mengetahui ini pasti akan mengomel tanpa henti
__ADS_1
“what!” suara Nicholas dengan suara tinggi dan terkejut.
“el, kamu ini bagaiama sihkebangetan, istri nggak di rumah kok kamu tenang-tenang di rumah” kata Febi dengan kesal dan khawatir, dia pun langsung meraih ponselnya
“Intan kamu kasih lokasi kontrakan Dita pada saya sekarang” kata Febi melalui telpon dengan tegas dan langsung menutup telponnya
“busyet dah bu Febi, gue belum jawab udah di matikan” kata Intan kebingungan dan tanpa berpikir panjang dia memberikan alamat kontrakan Dita
“kenapa sayang?” tanya Fajar yang sedang bersama Intan, dan hanya di jawab dengan mengankat pundak
“neng, dagingnya belum matang”kata istri mang Tohir memberitahukan
“nggak pake daging nggak apa-apa deh” jawab Dita dengan senyum kecewa. Mbak Ruminah yang berdiri disebelah gerobaknya melayani pembelinya itu sesekali bercanda dengan Dita. Setelah menghabiskan baksonya, Dita masih asik dengan tetangga kontrakannya itu dikejutkan dengan kedatangan seseorang
“Anon” guman Dita, mengenali supir pribadi supir pribadi Nicholas dan Febi sekaligus orang kepercayaan Febi
“mati gue! papi udah balik,” guman Dita dalam hati, wajahnya dipenuhi rasa khawatir akan dimarahi, dan benar Febi berjalan bergandengan dengan Nicholas terlihat mendekat, Dita hanya berdiri mematung
“halo” sapa Febi pada semua yang ada di teras kontrakan Dita dan mang Tohir membuat semua melihat pada Febi dan Nicholas yang baru saja datang itu keheranan
“neng Dita mereka siapa?” tanya mbak Ruminah bingung sambil memegangi lengan Dita
“mami, papi” sapa Dita dengan wajah pucat dan khawatir, disambut dengan pelukan hangat Febi dan diciumnya pipi kanan dan kiri Dita oleh Febi, mbak Ruminah auto menjauh satu langkah, Nicholas pun mendekat dan memeluk Dita dengan lembut dan penuh kasih sayang
“mbak Rum, mpok Ira, mang Tohir, kenalin ini mertua Dita” kata Dita dengan senyum getir dan merasa bersalah karena tidak memberi tahu mereka jika dia sudah menikah
“hah mertua!” jawab mereka bersamaan terkejut dan setengah meloto
“jadi neng nggak pulang kesini itu karena tinggal di rumah mertua?” tanya istri mang Tohir dengan wajah polos
“kapan nikahnya neng?” tanya Ruminah dengan terbelalak
“iya mpok, maaf ya Dita nggak kasih kabar karena menikahnya juga nggak dirame-in” jawab Dita pada istri mang Tohir, kemudian mempersilahkan Febi dan Nicholas untuk masuk tetapi mereka berdua memilih untuk duduk di kursi plastik yang ada di teras dan berbincang bincang dengan tetangga kontrakan Dita, tak lupa Febi meminta maaf pada tetangga kontrakan Dita serta menjelaskan kenapa Dita tidak menceritakan pernikahannya
“mami, papi maafin Dita karena nggak ngasih kabar” jata Dita dengan muka melas berharap untuk tidak disalahkan
“seharusnya kamu pulang kerumah mami, dan mami sama papi kesini mau jemput kamu sayang” hibur Febi pada Dita, Febi dan NIcholas berbaur dengan tetangga kontrakan Dita dia juga mencicipi bakso mang Tohir kemudian Febi mengajak Dita untuk kembali, Dita pun berpamitan pada tetangga kontakannya selama empat tahun itu untuk pulang kembali pada keluarga suaminya, mobil mereka tiba di kediaman Deveraux
“nah sayang kamu tinggal disini dulu” kata Febi yang mengantarkan Dita menuju kamar Rafael
“kenapa Dita? Sepertinya kamu tidak suka dengan kamar ini, kamar Rafael juga kamar kamu” kata Nicholas yang memperhatikan ekspresi kecewa Dita.
“nggak pi, Dita suka kok” jawab Dita dengan senyum getir
Di meja makan Dita tak banyak bicara, dia hanya melihat Sean dan Millan begitu akrab
“Millan juga akrab banget dengan Sean kayak bukan kakak dan adik ipar” guman Dita dalam hatinya, tak selang berapa lama setelah makan malam selesai Rafael pun tiba tiba, tak langsung menyapa dirinya tetapi menghampiri Millan yang sedang asik ngobrol dengan Sean dan Febi, Millan yang memperhatikan Dita berjalan menuju dapur membawa gelas kosong dia pun mengikuti Dita
“Dita ada apa dengan kamu?” tanya Millan penasaran karena tak menyambut Rafael
“nggak apa apa, kalian sudah berapa lama menikah?” jawab Dita yang juga langsung melontarkan pertanyaan pada Millan.
“lima tahun dan minggu depan adalah ulang tahun pernikahan kami” jawab Millan senang dan bangga, Dita hanya mengangguk, menyadari Rafael yang berada di belakang mereka Millan pun menyapa
“Rafael aku senang kamu mau menginap disini” kata Millan yang menggoda Rafael sambil melirik kepada Dita yang tak memperhatikannya, Millan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
“Dita, kamu masih marah kepada saya?” tanya Rafael
“menurutmu?” jawab Dita dengan pertanyaan
“Dita, katakan kesalahan saya dan saya akan memperbaikinya” kata Rafael mendekat dan mencoba memeluk istrinya itu
“tidak ada kesalahan, yang bodoh itu gue” kata Dita dengan suara tinggi dan mengibaskan tangan Rafael dan hendak berlari meninggalkan dapur, Rafael meraih tangan Dita dan menarik Dita dalam pelukannya
“honey aku tidak mengerti apa yang terjadi” kata Rafael bingung dengan pernyataan Dita, di pandanginya istrinya melihat tatapan Rafael Dita pun membuang muka dan berusaha melepasakan pelukan Rafael, cepat-cepat Dita menuju kamar hendak mengambil tasnya, dan pergi tetapi Rafael yang tak membiarkannya lepas itu mengikutinya.
“Dita saya butuh penjelasan, kamu tiba-tiba mendiamkan saya” kata Rafael
“dia sudah disini jadi loe nggak butuh gue” kata Dita dengan nada kesal dan penuh sesal, kemudian berlari turun
“Dita tunggu, Dita” Rafael memanggil Dita dan hendak menghentikannya
“jangan ikutin gue, jauh jauh dari gue” kata Dita sembari mendorong Rafael untuk menjauh darinya, melihat pemandangan itu, Sean, Millan, Nicholas dan istrinya hanya saling berganti pandang satu sama lain lalu melihat apa yang terjadi dengan mengikuti Rafael
“ada apa? Apa yang terjadi” tanya Sean pada Dita dan Rafael bingung
“mami, papi maafin Dita, Dita nggak mau disini” kata Dita dengan suara yang jelas sekali memendam kesedihan
“iya sayang, kamu bisa pulang ke apartemant, Rafael akan disini sampai kamu mau bicara” jawab Febi mencoba
mengerti
“saya antar kamu pulang" kata Rafael
“nggak usah” jawab Dita ketus dan berbalik masuk kedalam mobil
“pak Hendra tolong antar saya” kata Dita yang melihat Hendra sopir pribadi Sean sedang berdiri didekat mobil, setelah mendapat persetujuan Nicholas, Hendra pun masuk kedalam mobil lalu mengemudikan mobilnya itu dengan kecepatan sedang.
__ADS_1