
Kali ini Dita hanya menggelengkan kepalanya saat melihat pada troli belanjaanya, bahkan sudah dua troli penuh dan masih ada yang belum terbeli. Dita memutuskan untuk membelinya dilain waktu, dia berpikir toh tempat tinggalnya kini tak seberapa jauh dari mall yang di adatangi sekarang, dia pun melangkahkan menuju meja kasir.
“silahkan mbak” kata kasir mempersilahkan dengan senyum yang memang harus mereka berikan pada pelanggan,
saking banyaknya Dita belanja hingga dia dibantu salah seorang security yang ada didepan meja kasir.
“mbak apa ada layanan antar?” tanya Dita pada kasir yang melayaninya
“ada mbak? Tinggal mbak catat alamatnya saja” jawab kasir dengan senyum ramah,
“yang ini saya bawa sendiri dan yang lainnya minta tolong diantar ya mbak” pinta Dita pada kasir,
“Diantar kemana mbak?” tanya kasir itu lagi yang masih menghitung belanjaan Dita
“ZersBlue Residence tower B NugoCX mbak” jawab Dita dengan senyum sopan
“baik mbak, ini belanjaanya total semua Sembilan juta tiga ratus lima belas” kata kasir dengan senyum yang sedikit
memudar
“tenang saya bisa bayar, sekarang gue punya kartu kredit tanpa limit” guman Dita dalam hati melihat senyum kasir yang sedikit memudar itu, mungkin kasir itu berpikir Dita tidak bisa membayarnya, tentu saja penampilan Dita yang
hanya menggunakan kaos santai andalanya dan celana jogger yang sudah terlihat lusuh karena memang Dita membelinya tiga tahun lalu.
“ini mbak” kata Dita sambil memberikan kertu kreditnya. Setelah pembayaran selesai Dita menjelaskan lagi pada kurir yang akan mengantarkan pembeliannya
“ini di antar kemana mbak?” tanya
seorang kurir
“ZersBlue Residence tower B NugoCX ya” jawab Dita santai tetapi langkahnya terhenti tatkala salah satu kurir yang akan membawa barangnya hanya mematung
“kenapa bang?” tanya Dita sambil melihat pada kurir itu
“mbak yakin NugoCX?” tanya kurir itu
dengan suara ragu
“iya” jawab Dita santai dan tegas, kemudian melanjutkan langkahnya
“kenapa loe? Nggak mau ngantar? Tanya kurir kedua yang dengan santai dan mengankat barang belanjaan Dita dengan entengnya, tidak peduli kepada siapa barang akan diantar
“he! Bawa yang bener, mau kamu dipecat?” bentak kurir 1 yang bengong memperhatikan Dita yang sudah berjalan meninggalkan mereka. Ya tentu saja kurir itu tahu siapa yang tinggal di alamat yang disebutkan Dita, sambil mengusung barang-barang belanjaan Dita, kurir 1 menceritakan pada kurir dua bahwa pemilik alamat itu adalah juga pemilik perusahaan jasa pengiriman yang disewa Dita, itulah yang mereka tahu, The Deveraux.
Rafael yang membuka pintu apartemen terheran mencium aroma wangi masakan, dia langsung menuju dapur, disana dia melihat Dita sedang menyiapkan makan malam
“hhmm nice” puji Rafael sambil tersenyum pada istrinya, Dita langsung melihat pada Rafael yang mendekatinya
“apa ini? Tanya Rafael
“ini tongseng, yang ini pizza” jawab Dita bangga dengan hasil masakannya, dia bangga apa yang dia pelajari saat
membantu istri mang Tohir kini berguna, dia tidak pernah berpikir akan membuat pizza sendiri, tak lupa dia mempersilahkan suaminya untuk duduk dan menikmati makan malam, tetaapi sebelum dia duduk dia memperhatikan dapur ada yang berubah, matanya menyebar melihat pada ruang dapurnya
“what this is?” tanya Rafael heran dengan perubahan dapur apartemennya, yang biasanya hanya nampak diatas serta disebelahnya terdapat beberapa barang barang perabotan lain
“rumah dan ini yang namanya dapur” jelas Dita dengan tersenyum yang dibuat-buat, dia mendorong Rafael untuk duduk dikursi dan menikmati meja makan, Rafael begitu menikmati makan malamnya yang
berbeda, mereka pun berbincang sedikit dan bercanda sesekali.
“Sudah malam, besok kamu mengajar privat?” tanya Rafael dengan suara lembut
“iya, jam 9” jawab Dita singkat
“kamu bisa pergi tidur sekarang” perintah Rafael pada Dita yang kemudian Dita beranjak dan berjalan meninggalkan dapur tetapi rafael menghentikan langkah Dita dengan memegang tangannya
“thank you Dita, tapi kamu tidak perlu repot-repot masak untuk saya” kata Rafael dengan senyum sopan dan tatapan teduh, penyataan itu justru membuat Dita sewot
__ADS_1
“you are welcome” jawab Dita dengan memberi penekanan pada kata welcome lalu mengibaskan tangan Rafael
“udah gue capek-capek masak! terimakasihnya pake nolak, pergi belanja, dipikir semua itu nggak butuh
tenaga!” gerutu Dita dengan suara geram didalam kamar dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Rafael
“tahu gitu gue nggak usah ngabisin duit buat belanja dapur” guman Dita lagi dengan kecew dan pelan, Dita pun memejamkan matanya dan terlelap
“good morning” sapa Rafael pada Dita yang sudah duduk menikmati mie instan di meja makan, Rafael nampak sudah bersiap lengkap dengan setelan jasnya, dia melihat pada istrinya dengan senyum
lembut
“where my breakfast?” tanya Rafael dengan senyum lembutnya, hatinya merasa gembira entah karena apa, dia juga melihat pada Dita sesekali sambil membuka kulkasnya, Dita hanya melongo kesal
menatap suaminya itu
“semalam ngomong apa sekarang ngomong apa” gerutu Dita dalam hatinya dengan raut muka jengkel
“katanya nggak usah repot-repot masak loe, ya gue masak buat gue sendiri” jawab Dita lirih dengan nada kesal kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah piring dihadapanya, Rafael hanya menghela
napas disertai seringai kecil, dia kemudian membuat kopi paginya sendiri setelah meminumnya dia berpamitan pada Dita untuk berangkat kekantor. Rafael sedikit tenang karena maminya tidak lagi meributkan perihal tempat tinggal Dita, Dia sudah menjelaskan bahwa mereka sudah tinggal bersama, Dita tak lagi tinggal di kontrakan kecilnya, lain Rafael lain Dita, dia masih ingin kembali kekontraknnya karena yang dia ketahui dia menjadi istri Rafael adalah untuk menjauhkannya dari Cindy. Dita pun bersiap untuk mengajar privat seperti biasanya, dia mendapatkan murid les baru, dia nampak girang karena dia akan dibayar setiap kali selesai mengajar.
Matahari bersinar sangat terik, Dita yang sedang menunggu angkutan umum itu dikejutkan dengan suara klakson mobil dan hampir saja menabraknya dengan sengaja.
“oho ini dia siupik abu” suara Cindy dengan nada sinis
“kacian belum dapat angkot ya?” sindir Cindy dengan wajah iba yang dibuat-buat, Dita tak menoleh sedikitpun, hanya tersenyum tipis, senyum sinis penuh kemenangan
“liat aja loe, gue mau lihat reaksi loe yang sudah kalah telak” guman Dita dalam hatinya dengan senyum tipis, angkutan umum yang ditunggunya sudah berhenti didepannya, Dita pun naik tanpa memperdulikan Cindy yang membuat Cindy sewot gak kepalang.
“Mr. Rafael pesawat sudah siap mari kita berangkat” kata salah satu staff sekaligus tangan kanan Rafael, pak Bam, dia sudah bekerja lama pada The Deveraux, dia juga sangat memahami trio Deveraux, hanya dengan tatapan mata saja pak Bam langsung mengerti apa yang harus dikerjakan. Rafael pun berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruang kerjanya, hari ini dia ada jadwal meeting ke luar propinsi
“kenapa Dita ada daerah sini, ini kan nggak jauh dari apartemennya Rafael” guman Cindy yang masih kesal
“sebaiknya gue samperin aja Rafae, tapi gue makan dulu aj kali ya” kata Cindy pada dirinya sendiri, dia pun mengemudikan mobilnya menuju sebuah Café yang tak jauh dari kantor Rafael. Cindy yang tahu pemilik café itu masih ada sangkut pautnya dengan The Deveraux dengan sombongnya duduk disebuah meja dan memerintah pelayan se-enaknya. Dita juga berada didalam café itu ada janji temu dengan calon murid privatnya. Melihat
“ini café mahal, mana bisa dia bayar makan disini”
“mas mas, apa wanita yang disebelah sana itu pesan makanan juga atau hanya air putih?” tanya Cindy dengan sombong serta menunjuk pada tempat duduk Dita
“yang mana mbak? Yang pakai baju kotak-kotak itu?”tanya pelayan itu dengan sopan
“iya siapa lagi!” bentak Cindy pada pelayan yang membuat pelayan itu membuang senyumannya
“oh nona Dita, dia belum pesan makanan atau minuman mbak” jawab pelayan itu
“kamu panggil apa dia? Nona? Harusnya gue yang loe panggil nona, gue ini bentar lagi pacaran sama Rafael dan akan menjadi istrinya” suara Cindy geram menjelaskan kepada pelayan café.
Cindy memperhatikan Dita, dengan siapa Dita bertemu, dan mau apa orang itu dari Dita, tetapi dia tidak memahami
lantaran Dita berbicara bahasa mandarin dengan orang itu, orang yang akan menjadi murid les Dita, setelah orang itu beranjak, Dita pun bersiap, tetapi dia ingin memesan minuman sebelum pergi, dia pun melihat apa ada pelayan yang bisa dia panggil.
***
“selamat pagi setengah siang nona Dita”jawab seseorang yang menghampiri Dita sebelum dia sempat memanggil pelayan, seorang laki-laki berbaju setelan jas terlihat sekali itu golongan baju mahal, Dita pun menjawab dengan senyum pada orang itu.
“maaf bapak siapa?” tanya Dita yang tersenyum ramah
“saya manager café ini nona, apa anda membutuhkan sesuatu?” tanya laki-laki yang mengaku sebagai manager itu,
“nona Dita tidal perlu sungkan kalau memerlukan sesuatu, kami akan menyiapkannya dengan segera” kata laki-laki itu lagi menambahka, Dita hanya menatap dengan heran
“et dah, gak salah nih orang ngomong gitu ke gue, ini orang salah penglihatan pasti, tapi namanya bener, Dita, itu kan gue” guman Dita dalam hati yang masih menatap laki-laki itu dengan tatapan heran, Dita pun tersenyum tipis, senyum yang sengaja dibuat untuk menutupi keheranannya.
Melihat dan mendengar kata-kata manager itu dari jauh membuat Cindy terbelalak, dia yang sering datang bersama Rafael ke café ini tidak pernah ditanya atau diperlakukan lebih seperti pada Dita,
melihat itu Cindy merasa cemburu, dia benar-benar marah pada Dita
__ADS_1
“saya pesan teh hangat aja pak” kata Dita sopan
"nggak salah lagi, orang ini kan ikut hadir di pernikahan rahasia gue, oh pasti disuruh papi nih" guman Dita dalam hatinya
“cih ditempat kayak gini loe bisanya memang cuma teh, itu udah bagus” gerutu Cindy dari kejauhan dengan suara lirih dan tidak suka
“kenapa hanya teh nona, apa nona tidak mau makan?” tanya lelaki yang memang manager café itu beratnya, Dita hanya
bingung
“kalau gue pesen makan, abis dong duit gue, eh gue kan ada kartu kredit, pakai aja kali ya” guman Dita dalam
hatinya, dia pun tersenyum pada manager café
“nggak apa-apa saya sudah sarapan tadi pagi” jawab Dita
“bilang aja loe nggak bisa bayar” kata Cindy yang berpindah tempat duduknya di meja yang tak jauh dengan Dita
“sialan kenapa ini nenek sihir muncul disini, pasti gue dihina habis-habisan” gerutu Dita dalam hatinya dengan wajah kesal, manager café yang masih berdiri dua langkah didepan kursi Dita itu tersenyum tipis tatkala dia mendengar suara perut Dita yang berbunyi yang hanya didengar olehnya dan Dita, sambil tersipu
Dita hanya melihat kearah manager itu.
“baik nona, kami akan segera siapkan menu special kami” kata manager itu dengan senyum yang sopan, dia pun memerintahkan beberapa pelayan untuk menyuguhkan makanan spesial dan tentu saja harganya bisa menguras kantong Dita.
“pak saya juga ya” kata Cindy memberi perintah dengan muka sombong terpasang diwajahnya.
“baik mbak” jawab manajer itu membuat Cindy terbelalak,
“apa? Mbak? He! pak yang seharusnya bapak panggil nona itu gue bukan dia” bentak Cindy dengan menunjuk pada Dita, lelaki itu hanya bisa menghela napas panjang
“loe kenapa berdiri saja, taruh pesanan saya dimeja! Bentak Cindy pada seorang pelayan wanita yang hendak meletakkan pesanannya dimeja tetapi terhalang oleh Cindy yang berdiri membelakangi meja, pelayan itu pun kemudian meletakkan pesanan Cindy
“baru dekat sama Mr Deveraux aja sombong, gue kerjain loe” guman pelayan itu dengan senyum tipis sambil berjalan menuju meja karyawan, pelayan itu meminta kepada sang manager untuk melayani
Dita kalau-kalau Dita membutuhkan sesuatu
“sumpeh loe, ini mah duit yang gue terima tadi bisa abis” guman Dita dalam hatinya, tetapi dia tidak bisa menolak
karena sudah disajikan dimejanya, dengan terpaksa Dita memamakannya, setelah selesai Dita pun memanggil pelayan, seorang pelayan wanita datang dan memberikan buku bill pada Dita
nona Dita semua sudah dibayar di bayar oleh tuan Deveraux
Dita yang membaca tulisan itu bengong dan memandang heran pada pelayan itu, sang pelayan hanya tersenyum tipis sembari memberikan kode menunjuk pada Cindy yang asik menikmat makanannya, Dita mengerti tetapi dia masih tidak memahami siapa yang membayar makananya, pelayan itu pun membalik kertas yang ada didalam buku bill yang dipegang Dita, Dita memahami dan tertawa kecil, dia tidak membayangkan bagaimana reaksi Cindy
“terimakasih ya mbak” jawab Dita dengan senyumnya, manager itu pun mendekati meja Dita, Cindy melirik pada Dita, tak ada tanda-tanda Dita mengeluarkan uang untuk membayar membuat Cindy mengerutkan dahinya. Dita pun berpamitan dan segera pergi dari café karena dia mendapatkan pesan dari Intan untuk menemuinya di kantor. Cindy yang sudah selesai makan juga beranjak tetapi dicegat oleh pelayan wanita yang dibetaknya dan satu pelayan laki-laki.
“mbak mbak maaf mbak belum bayar” kata pelayan wanita
“what! loe nyuruh gue bayar?” tanya Cindy pada pelayan itu dengan suara lantang yang membuat beberapa orang yang ada dicafe melihat kepadanya, manager pun menghampirinya
“pak manager, bapak tahu kan siapa saya?” kata Cindy dengan kepala yang diangakt semakin terlihat kesombongannya
“pak, mbak ini belum bayar mau pergi gitu aja” jawab pelayan wanita yang membawa bill makanan Cindy
“maaf mbak Cindy, semua yang makan disini harus bayar” kata manager itu dengan tegas
“he! Gue ini sering kesini dengan siapa bapak tahu kan? Saya sebetar lagi akan pacaran dan akan menikah sama dia” suara Cindy meninggi sambil melotot kepada manager café
“kan baru akan menikah mbak, nanti kalau sudah jadi istrinya mbak bisa tidak membayar makanan disini” jawab manager santai, dua pelayan yang disebelah manajer itu menutup mulutnya menahan tawa
“mana billnya!” bentak Cindy lalu membayarnya dan segera pergi dari café
“sialan, kenapa Dita mendapat perlakuan manis sementara gue?, gue nggak percaya ini” gerutu Cindy yang sudah
mengemudikan mobilnya
“lihat aja loe Dita, gue bakal ngancurin loe, gue abisin sekalian” kata Cindy mengancam pada Dita. Dia pun mengemudikan mobilnya menuju gedung The Deveraux , setelah tiba digedung The Deveraux dia
__ADS_1
mengurungkan niatnya karena melihat Sean yang sedang berada di pintu masuk gedung berbicara pada satpam, Intan dan Dita berpamitan meninggalkan kantor.