Untuk istriku

Untuk istriku
Tinggal Bersama Rafael


__ADS_3

Mentari pagi mulai menampakkan diri, Dita sudah bangun dan menyiapkan materi untuk bahan mengajar kelas privatnya, dia tersenyum tatkala melihat dirinya dicermin, semua baik-baik saja hanya menjengkelkan ketika telpon dari Dimas yang mengganggunya itu datang, dia sudah bisa mengatasi ketakutannya dan bahkan jika bertemu dengan Dimas dia bisa menjawabnya dengan santai. Dita yang datang kepesta itu membuat Intan kagum


karena ini pertama kalinya melihat sahabatnya mengenakan gaun, terlihat


minimalis karena Dita sendiri tidak mau terlihat mencolok.


“hello Dita” sapa Sean dengan senyum lembut tak lupa dia sematkan


“Mr Deveraux” balas Dita dambil melirik pada wanita yang digandengnya


"hello Dita" sapa wanita yang digandeng Sean dengan lembut dan memeluk Dita


“nice to see you here” kata Sean yang kemudian Intan menghampiri mereka


“aje gile zubaedah cantik kali kau” puji Intan melihat penampilan Dita mengenakan gaun simple, Intan pun mengangkat alisnya dan berbisik pada Dita, sementara Sean berpamitan untuk menemui


kolega-koleganya, Intan berbincang-bincang dengan Dita tak lupa dia menyapa Febi, hubungan Dita dengan Febi kembali seperti semula, Febi dan Intan lebih banyak menghabiskan pesta bertiga, Febi meminta Ryan untuk mengantarkan Dita pulang setelah pesta, Rafael yang tertidur pulas dikamarnya di kediaman


Deveraux itu terbangun ketika melihat telpon pintarnya berdering, tetapi hanya dilihatnya saja dia kembali untuk tidur.


"seharusnya saya tak hanya menyapanya tetapi saya terlalu sibuk dengan tamu" kata Millan yang kecewa


"nanti juga kamu akan ada waktu untuk itu" jawab Sean dengan senyum tipis


Hari-hari Dita berjalan seperti sebelumnya, weekend menginap dirumah Intan, terkadang Intan mampir kekontrakan


Dita, mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka, sesekali Intan bergabung dengan Dita dan Febi.


Hari itu hari rabu dan seperti biasa Dita makan siang dengan Intan di taman somay, Dita melirik telpon selularnya


yang bergetar, dirainya telpon itu untuk menerima panggilan


“halo” jawab Dita ketus


“halo sayang” kata Dimas diseberang telpon dengan seringai jahatnya


“Dimas ini peringatan buat loe, mulai sekarang loe harus hari-hati sama gue” kata Dita tegas dan langsung menutup


telponya


“hahahaha Dita Dita, loe itu cuma cewek yang nggak berguna, sudah miskin sombong” kata Dimas dengan seringai kejam


“tunggu aku dapat izin untuk bisa keluar dari pulau ini Dita” gumannya dengan penuh dendam


“aku akan membuat kamu bertekuk lutut dihadapanku, ayahku saja bisa menjadi orang penting disini di pulau ini,


mendapatkanmu itu hal yang gampang, kamu akan menerima akibatnya jika menolakku” guman Dimas lagi dengan geram.


“Dimas masih sering nelponin loe?” tanya Intan mencari tahu, Dita hanya menjawab anggukan


“kenapa loe nggak bilang aj sama bu Febi” kata Intan memberi ide untuk solusi  sahabatnya masih dengan tatapan mencari tahu


“gue rasa nggak perlu tan, udah loe tenang aj, habisin aja tu somay” kata Dita menenangkan Intan yang menghawatirkannya, mereka pun menghabiskan somay dan kemudian beranjak, Intan menunggu sahabatnya itu mendapatkan ojek online dan kemudian mereka berpisah.


“gue lihat postingan-postingan Cindy di social media, gue tahu itu nggak tulus” guman Dita yang sudah merebahkan


dirinya di kasur sempitnya itu.


“gue nggak mau om Anton menghancurkan The Deveraux yang merupakan hasil pemikiran ayah” Guman Dita lagi  pada dirinya sendiri kemudian menarik napas panjang dan meraih ponselnya yang bergetar,


"apa gue terima aja ya permintaan tante Febi sama om papi, gue yakin Dimas nggak akan berani ganggu dan om papi akan membantu gue"  guman Dita lagi dan berpikir serta membayangkan beberapa kemungkinan antara menerima dan tidak menerima. seberapa banyak perlindungan yang akan dia dapatkan dari Nicholas jika dia mendapat ancaman dari Dimas


“halo zaenab, besok loe kekantor ya ada kerjaan” kata Intan diseberang telpon dengan semangat


“boleh” jawab Dita singkat


“kalau loe nggak keberatan loe juga bisa datang sekarang sih” kata Intan lagi dengan tertawa kecil, tawa yang dibuat manja untuk merayu sahabatnya itu


“ya udah gue datang, tapi tunggu gue dilobi ya, gue ganti baju langsung on the way” kata Dita memastikan, dia tidak


mau dipersulit oleh Claudia, resepsionis yang sok cantik dan sok akrab pada trio Deveraux terutama pada Sean.


“gue heran sama Mr Sean, request desainnya selalu saja desain nggak normal, untung ada Dita” gerutu Intan yang


bingung koreksi atasannya itu. Empat puluh menit Dita pun tiba di The Deveraux, Intan sudah menunggunya,  mereka pun bergegas menuju meja kerja Intan dan membuat desain sekaligus deskripsi sesuai permintaan Sean, sementara itu diruangan Sean dia sedang melakukan video call dengan ayahnya, mengabarkan bahwa putra bungsunya bersedia menikah dengan Dita, itu membuat Nicholas bahagia nampak wajahnya berseri-seri. Rafael yang masuk kedalam ruang Sean itu mendapat ucapan selamat dari ayahnya


“dad, saya belum melamarnya” jelas Rafael datar tak bersemangat


“kenapa? Apa yang kau tunggu?” tanya Nicholas


“he don’t have her number” canda Sean yang membuatnya Nicholas juga tertawa


“ini pertama kalinya seorang Rafael tidak menyimpan nomor elpon wanita yang ditemuinya bahkan makan siang dengannya ckckckck” puji Sean sambil memukul pelan lengan kekar Rafael.

__ADS_1


“kenapa kamu tidak temui saja dirumahnya” kata Nicholas yang justru memberikan ide pada Rafael untuk membawa Dita kerumah Danau


“I know” katanya dengan tersenyum lalu dia beranjak


“kamu mau kemana? Tanya Nicholass dalam panggilan video call nya


“menjemputnya” jawabnya dengan santai dan berjalan menjauhi Sean


“tunggu saja di loby, mungkin dia sudah selesai dengan pekerjaanya” kata Sean ringan memberitahukan bahwa Dita ada dikantor mereka, mendengar itu Rafael berbalik melihat Sean yang memberikan


isyarat bahwa Dita berada di lantai bawah tempat dimana Intan bekerja.


“hey brother, you need this” kata Sean yang diiringi dengan tawa renyahnya, dia menunjukkan ponsel pada Rafael,


akhirnya Rafael pun kembali mendekati Sean yang tahu maksudnya, iya dia membutuhkan nomor telpon Dita


“Dita, saya ingin mengajak kamu ke suatu tempat – Rafael” pesan singkat Rafael tetapi tak kunjung dijawab oleh Dita yang masih asik dengan Intan berdiskusi deskripsi produk untuk produknya. setelah selesai Dita pun berpamitan pada Intan. Diloby diraihnya ponselnya yang berada didalam tasnya sambil menjauh keluar gedung, dilihatnya ada pesan


“Rafael, gue kan nggak share nomor gue. Kok dia tahu” guman Dita penasaran tetapi cepat-cepat dia membalas pesan Rafael


“kemana?” tanya Dita di pesan singkatnya, tetapi bukan jawabn yang dia dapat melainkan klakson mobil Rafael, Dita punnmenoleh


“Dita maukah kamu ikut saya kesuatu tempat?” tanya Rafael dengan senyum lembut menghiasi bibirnya, Dita menjawab dengan anggukan dan masuk kedalam mobil dan melaju menuju pinggiran kota. Tempat itu sudah didekorasi sesuai keinginan Rafael, mereka berbincang seperti biasa tetapi kali ini Rafael sedikit canggung sedangkan Dita tidak ada beban, masih seperti sebelum-sebelumnya saat dia bertemu Rafael. Dita menikmati pemandangan dari teras rumah, Rafael mendekatinya dan kemudian berlutut didepan


Dita dengan satu lutunya


“Dita will you marry me?” tanya Rafael dengan menunjukkan cincin indah pada Dita, gadis itu hanya tertegun dan


mematung, dia tidak menyangka makhluk tampan ini akan melamarnya, meski kenal dia jarang


bertemu dan baru dua hari dia tahu bahwa dia adalah salah satu dari Deveraux yang meski jika bertemu mereka akan menghabisakan dua hingga tiga jam untuk berbincang Dita menatap Rafael yang sudah berwajah cemas menunggu jawabannya, dia hanya mematung memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan, dia mengingat


kembali alasannya kenapa dia harus menerima dan jika dia menolak, akhirnya dita mengangguk dengan senyum tipis yang dipaksakan.


“dengan syarat, aku boleh pulang kekontrakan” kata Dita setelah anggukan setuju yang ia berikan


“fine, saya tidak masalah”jawab Rafael tanpa pikir panjang


Rafael pun tersenyum melihat anggukan Dita, segera mereka menuju meja untuk makan malam dan kemudian diantarkannya Dita pulang. Rafael langsung memberikan berita persetujuan Dita kepada Sean dan bersiap menyiapkan semua yang diperlukan untuk pernikahan, pernikahan yang tertutup hanya dihadiri oleh jajaran direksi, manager setiap devisi, dan staf terpercaya lainnya, dari pihak Dita hanya Fajar dan Intan, ini dikarenakan


Nicholas tidak bisa menghadiri pernikahan itu karena harus mengurus bisnisnya di London.


Hari kedua pernikahan Dita kembali ke kontrakannya seperti yang sudah disepakatinya dengan Rafael. Dia tetap mengajar privat seperti hari-hari biasa, tak seperti pernikahan orang lain, tak ada yang berubah sesuai keinginan Dita, hampir seminggu Dita pulang ke kontrakan bukan apartemen Rafael tanpa sepengetahuan Febi. Dita juga sering mendapat kabar siapa-siapa wanita yang berkunjung menemui Rafael.


“itu keinginannya mi” jawab Rafael, dia tahu jika berdebat dengan maminya tidak akan menang, bahkan Sean yang bisa mengambil hati maminya itu pun dibuat geleng kepala jika sudah menyangkut Millan


“nggak bisa, pokoknya kamu jemput Dita besok, kalau nggak tinggal sama kamu, tinggal sama mami disini” kata Febi dengan tegas Rafael hanya diam dan kemudian berlalu dari hadapan maminya, dia menuju kamar dan beristirahat, tetapi dia tidak tenang, dia ingat seperti apa kontrakan Dita, tetapi lama-lama Rafael pun tertidur.


Pagi ini Rafael hanya diam, mood paginya terganggu oleh panggilan Marrisa melalui telpon pintanya, dia kemudian menghapus nomor Marrisa tetapi gadis itu masih saja mengejar Rafael.


“Dita kamu bisa kekantor?” tanya Rafael melalui pesan singkatnya


“bisa” jawab Dita singkat


“hmm pasti butuh bantuan gue” desah Dita yang hampir lupa kalau Rafael adalah suaminya, lantaran semenjak dia kembali kekontrakan dia tidak bernah berbincang dengan Rafael meski dari pesan singkat,


tetapi dia ingat setelah melihat cincin yang melingkar dijarinya, Dita pun bersiap dan berangkat


“eh mbak mau kemana?” tanya Claudia yang kebetulan berjaga di meja resepsionis


“mau naik” kata Dita singkat sambil menunjuk dengan telunjuknya


“nggak bisa mbak, jangan seenaknya” kata Claudia ketus dia pun kekuar dari mejanya dan menghalangi langkah Dita


“mbak Mr Rafael sudah datang?” tanya Dita pada yang lain resepsionis


"belum mbak" jawab resepsionis itu dengan lembut dan senyum ramah


"mbak Dita, mbak nggak boleh masuk kalau nggak ada kepentingan" kata Claudia dengan sinis


“mbak Mr Rafael sendiri yang meminta saya datang kesini” jawab Dita santai dan menarik napas kesal, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak karena memang pernikahannya dengan Rafael tidak banyak


karyawan yang tahu


“mbak tidak perlu mencari alasan, mbak biasanya kan ketemu mbak Intanm, tidak boleh masuk mbak” jawab Claudia bersi keras dengan nada setengah membentak


“good morning Mr” sapa satpam yang bertugas di pintu masuk, Rafael hanya tersenyum kepadanya, dia mendengar suara Claudia dan langsung mendekati Dita, dia mengalungkan tangannya di atas


pinggang Dita


“from now she don’t need your permission” kata Rafael tegas dan menatap tajam pada Claudia, kemudian manatap


Dita dengan lembut dan senyum tipis yang membuat semua wanita yang ada diloby pun iri pada Dita, terlebih pada Claudia yang terbelalak melihat tangan Rafael yang melingkar dipinggang Dita, Intan yang menyaksikan itu saat dia hendak meninggalkan pesan ke meja resepsionis hanya berguman

__ADS_1


“oh pangeran Dita so sweet” dengan raut muka manja dan suara manja


“dare to stop her, I will fire you” ancam Rafael yang kemudian melangkah menuju lift khusus yang langsung menuju


ruangannya itu. Keluar dari lift Dita menampis tangan Rafael, dan melangkah menuju ruangan Rafael, mereka berbincang sedikit, Rafael menanyakan kabarnya dan aktivitasnya tak lupa Rafael mengingatkan Dita untuk menjaga kesehatan, Dita ingat, dia ingin bertanya kenapa dia harus datang kekantor


“kenapa kamu mau aku datang kesini?” tanya Dita


“untuk menyelamatkanku lagi” jawab Rafael dengan terkekeh, entah kenap dia tidak pernah bosan untuk berbincang ringan atau bercanda dengan Dita


“maksudnya?” tanya Dita kebingungan dengan pernyataan Rafael


“kali ini aku tidak butuh darahmu untuk menyelamatkan aku, tetapi aku butuh istriku” jawabnya tegas tetapi dengan nada santai, dan baru saja kalimatnya berhenti ada pesan masuk ke ponsel Rafael


“Marrisa” gumannya dengan kesal, Dita yang masih mendengar suara suaminya itu meyadari, Dita mendengar banyak dari Intan dan Fajar bahwa Rafael capek dengan marrisa yang selalu mengejarnya dan


meminta dibelikan ini itu.  Dia pun mencerna kata-kata Rafael bahwa dia membutuhkan istrinya, Rafael yang yang


bersandar pada mejanya itu hanya menarik napas kesal setelah membaca pesan singkat Marrisa dan langsung menghapusnya. Dita langsung mendekati Rafael dan meminta ponsel Rafael lalu meletakkannya dimeja


“what are you doing” tanya Rafael pada istrinya


“sssttt I will help you” jawab Dita dengan menutup mulutnyya dengan telunjuk jari, kemudian dia semakin mendekat


pada Rafael dan mengalungkan kedua tangannya diantara leher Rafael.


“apa dia tahu kalau kita sudah menikah?” tanya Dita pelan yang membuat tatapan Rafael berubah, ada rasa sejuk didalamnya, dia hanya mengangguk dan tanpa sadar dia mengalungkan kedua tangannya diatas


pinggang Dita


“itu artinya dia akan melihat kita” kata Dita pelan dan dengan bahasa tubuhnya dia menunjukkan apa yang sedang mereka lakukan mendengar itu Rafael tertawa memecah keheningan ruangannya


“kamu tahu Dita, aku sangat berterimakasih kamu sudah menyelamatkan nyawaku” kata Rafael dengan lembut,


Dita tersenyum mendengar itu


“sudah tugas istri menyelamatkan suaminya dari wanita seperti Marrisa” jawab Dita santai dan dengan senyum


kemenangan menghiasi wajahnya, sementara Rafael berubah cemberut dan memalingkan muka, Dita pun memegang pipi Rafael dan menariknya untuk melihat kepadanya, belum Dita mengatakan sesuatu pintu ruangan terbuka dengan kasar dan Marrisa datang dengan suara keras membentak Dita


“he! dasar wanita tidak tahu diri” bentak Marisa dengan


Dita yang terkejut lantaran posisinya dengan Rafael yang sangat dekat dan menyadari kedua tangan Rafael merangkulnya itu spontan memeluk Rafael, tanganRafael yang melingkar diantara tubuh Dita itu langsung menariknya mendekat hingga hampir tak ada jarak. Marrisa semakin sewot melihat posisi mereka


“lepasin nggak tangan loe itu” bentak Marrisa


“mbak gue meluk suami gua kenapa harus dilepas, dan ini sah sah aja bukannya nggak tahu diri” jawab Dita santai dengan senyum yang dibuat semanis mungkin lalu kembali manatap Rafael


"suami? jangan mimpi loe" kata Marrisa


"ini bukan mimpi, dia memang istri saya" kata Rafael dengan santai


“Raf, gue cinta sama loe dan loe mementingkan dan menikahi wanita sialan ini?” pekik Marrisa


"dimana kamu saat saya mengalami kecelakaan? Marrisa saya sadar dan masih bisa mengenali kamu saat itu, kamu justru meninggalakan saya" jelas Rafael yang sudah muak dengan Marrisa yang hanya ingin uangnya saja itu


"Rafael aku nggak tahu kalau itu kamu, dan kenapa kamu lebih mentingin wanita nggak tau diri ini" jawab marrisa mengelak serta berusaha mencela Dita


“mbak tentu aja gue lebih penting, gue kan istrinya” jawab Dita dengan senyum tipis


“sayang kamu siap-siap  pindah ke apartemen, sore ini aku akan menjemputmu” kata Rafael yang masih memeluk istrinya itu dengan lembut, dia mengajak Dita tinggal bersama karena ingin Marrisa tak lagi mengejarnya serta tidak ingin mendengar omelan maminya, mendengar itu Marrisa semakin sewot, dan apa-apa yang dikatakannya dibantah dengan apik oleh Dita begitu Marrisa keluar dan terdengar Suara Lift sudah menandakan Lift sudah turun, gelak tawa Rafael dan Dita mengisi ruangan melihat reaksi Marrisa


“jam makan siang aku akan mengantarmu ke apartement” kata Rafael yang masih berseringai itu dengan posisi yang masihsama seperti beberapa menit lalu ketika Marrisa mendatanginya. Tanpa bertanya atau


menyela Dita mengiyakan kalimat Rafael.


“welcome home” kata Rafael dengan senyuman lembut menghiasi bibirnya


“that’s my room” kata Rafael menunjukkan kamarnya


“kamu bisa memilih kamar mana saja yang kamu suka” jelas Rafael. Dia pun berpamitan untuk kembali kekantor.


“seleranya bagus”guman Dita sambil berjalan keseluruh ruangan melihat-lihat setelah dia memilih kamarnya


“tapi kenapa gue mau aja diajak tinggal bersama, gue kan udah bilang tinggal dikontrakan” gerutu Dita yang merasa kalah dengan wajah kesal. Setelah melihat-lihat seluruh ruangan yang ada di apartemen Dita pun masuk ke kamarnya dan merapikan lemarinya, merasa lapar dia menuju dapur


“et dah nih dapur bersih, tak hanya dari debu tapi juga dari perabotan masak” katanya pada dirinya sendiri


“ada Cuma Teflon sama teko buat ngrebus air, coba lihat kulkasnya ada apa” kata Dita pada dirinya sendiri


“apa! Cuma ada kentang!” Dita terbelalak karena tak ada makanan sama sekali


“hmm, kalau begitu aku harus belanja” kata Dita pada dirinya sendiri dengan senyum lebar, dia pun meraih tasnya

__ADS_1


kemudian keluar dari apartemen


__ADS_2