Untuk istriku

Untuk istriku
Rafael Jatuh Cinta


__ADS_3

“Semua sudah beres tuan, pemuda itu tidak akan menginjakkan kakinya lagi dipulau anda” jawab Ryan yang menghadap pada Rafael yang terduduk dikursi besarnya itu hanya terdiam mengingat wajah lelaki yang berani menyentuh wanitanya, sekaligus berkata tidak sopan, dia hanya mengerutkan dahinya, Sean yang masuk kedalam ruangannya dan langsung menutup pintu itu pun langsung menambahkan


“dan pastikan dia tidak mengikuti Dita, aku diam saja saat dia menteror Dita adalah kesalahan besarku” kata Sean yang kemudian menuju kursi yang ada didepan meja Rafael


“kamu tahu itu tetapi kenapa tidak mengatakannya pada saya ” kata Rafael dengan tatapan tajam


“maaf, itu kesalahan, dan aku akan membayar untuk itu” kata Sean dengan yakin.


“aku akan menempatkan orang-orang terbaik yang langsung dibawah pelatihan Ryan untuk menjadi bodyguardnya Dita” kata Sean menegaskan


“jangan terlalu mencolok, Dita tidak menyukai itu, dia akan merasa tidak bebas” Rafael menambahkan dengan tatapan berbeda ketika menyebutkan Dita, Sean yang tahu dan hafal betul pada adiknya dia hanya tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan bahagia


“kamu jangan khawatir, aku juga mengenalnya, dia adikku, aku yang mengajarinya berjalan” kata Sean dengan senyum lebar penuh kemenangan meningat masa kecilnya, Rafael hanya menghela napas kekalahan, dia tahu bahwa kakaknya itu sangat menyayangi Dita dan lebih dulu mengawasi Dita sehingga kakanya itu banyak mengetahui tenatng Dita, Rafael pun tahu masa itu masa dimana saat Dita masih belajar berjalan adalah masa dimana kakanya menghabiskan waktu hanya untuk Dita karena sedang berada di Indonesia mengikuti ayahnya, Nicholas, tentu saja membuat Rafael tersenyum sendiri mengingat ketika Sean kembali ke Negara dimana ayahnya berasal untuk sekolahnya, ingatan itu membuat Rafael tertawa geli serta tidak percaya bahwa dia melakukannya.


“apa? Apa yang kau tertawakan?” tanya Sean dengan senyum tipis keheranan mendadak Rafael terstawa kecil


“tidak ada, hanya mengingat permintaanmu, dan kamu sudah mendapatkan itu” kata Rafael yang masih tersenyum


serta melihat pada kakanya yang menatapnya kebingungan


“kau ingat saat kembali kepolandia?” tanya Rafael dengan menatap pada kakaknya, Sean pun seketika tertawa dia


sepertinya tahu apa yang dipikirkan adiknya, saat itu Sean mengunci Rafael didalam kamar ayahnya yang ingin pergi bermain dengan teman sekelasnya, saat itu Rafael belum mengerti apa-apa tetapi sudah bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi, dia juga mengingat ayah Dita yang pernah dia temui.  Sean mengurung Rafael karena dia ingin menjadikan Dita bagian keluarganya dan memaksa Rafael menikah dengan Dita.


Kehidupan Dita yang aneh, takdir seolah mempermainkannya, kesuksesan bisnis ayahnya yang bekerja sama dengan Nicholas membuatnya harus kehilangan ibunya, selang lima tahun kemudian dia harus kehilangan ayahnya, bahkan sebelum dia lulus SMA, dan keinginan Sean itu terjadi ketika tahu siapa yang bergerak ingin mengusik keluarga dan bisnis keluarganya, ya siapa lagi kalau bukan Anton subrata, ayah Cindy.


“aku berteri makasih padamu Sean, karena saat itu aku sangat membencinya hingga aku berusaha mencari tahu dia setelah aku mengenalnya” kata Rafael dengan wajah berseri


“aha you fall in love” kata Sean lalu gelak tawanya mengisi ruangan Rafael hanya tersenyum tipis menerima kekalahannya, Sean bisa menebak hatinya. Rafael pun meraih ponselnya dan menelpon Dita


“hello baby, where are you? Tanya Rafael dengan lembut


“kontrakan istirahat siang” jawab Dita diseberang telpon santai


“what? jangan bilang kamu ingin menginap disana” kata Rafael cemas, bukan karena apa-apa melainkan informasi anak buahnya Dita sedang diikuti oleh orang suruhan Anton dan juga maminy apasti tidak akan berrhenti mengomel padanya


“what happen?” tanya Sean yang mendadak bewajah serius. Tanpa menjawab saudaranya itu dia buru-buru meninggalkan ruangan seraya menelpon pak Bam, Sean hanya bingung lalu melihat pada Ryan yang masih berdiri disamping kursinya.


“neng Dita kemana aja, jarang pulang sekarang, denger-denger mau pindah ye neng?” tanya istri mang Tohir, beberapa tetangga yang mengenal Dita dengan baik itu ikut bergabung ngobrol bareng Dita yang sedang duduk di teras sempit kontrakannya.


“sebenarnya berat pok, tapi mau gimana lagi” kata Dita dengan senyum bersalah melihat kearah istri mang Tohir, mbak Ruminah pun langsung berteriak begitu dia melihat Dita dari jauh


“neng Ditaaaa, et dah lama nggak keliatan neng, ampek kangen” kata mbak Ruminah yang cetar membahan menambah keramaian kontrakan Dita, mereka saling berbagi cerita dan mengutarakan betapa mereka merindukan Dita, ditengah-tengah perbincangan mereka semakin riuh lantaran Rafael tiba di kontrakan Dita


“hello, saya boleh bergabung?” tanya Rafael yang baru tiba, langsung Mbak Ruminah berdiri dan berpindah kursi


“boleh Mr, duduk sini biar lebih dekat” goda mbak Ruminah, mereka pun kembali mengobrol santai, entah apa yang merasuki Rafael dia tak canggung sekali dengan tempat sempit kontrakan Dita, rumah maupun apartemen mewahnya tak lagi menjadi bandingan, dimana Dita berada kini dia menikmatinya, tak nampak sama sekali kebengisan dan tangan dingin keluarganya, bahkan orang-orang disana tak ada yang tahu siapa Rafael, itu yang membuat Dita cukup tenang dan sedikit bersalah. Tanpa terasa hampir empat bulan pernikahan mereka, keseharian Dita yang tak banyak berubah, hanya jam mengajarnya yang dia kurangi, kini Dita hanya mengajar tiga kali dalam seminggu, selebihnya dia datang kekantor jika Intan memintanya untuk membantu mengerjakan beberapa desain, Dita pun masih sering tinggal dikontrakannya, Cindy yang juga masih sering datang kekantor Rafael itu hanya sewot dan marah-marah melihat Dita yang dekat dengan manager setiap Devisi dikantor The Deveraux


“hey baby” sapa Cindy yang datang menemui Rafael dan langsung mencium pipi Rafael yang sedang berdiri di depan mejanya


“kok kamu dingin banget sih sama ku sayang?” kata Cindy manja, sambil mengusap dada bidang Rafael,


“Cindy I don’t have time and married” kata Rafael lalu menepis tangan Cindy serta mendorong Cindy menjauh darinya, pak Bam pun datang dan mengingatkan dia ada meeting dan harus berangkat.


“say makan siang bareng yuk” sapa Intan melalui pesan singkatnya


“boleh, gue juga lagi bete di apartemen nggak ngapa-ngapain” jawab Dita melalui pesan singkatnya, setelah dia menunjuk tempat yang dia pilih Dita pun meraih tasnya dan pergi. Ditempat yang sudah ditentukan mereka pun memilih meja, Intan datang bersama Fajar sementara Dita datang sendiri.


“loe mau pesen apa?” tanya Intan sambil memanggil pelayan


“gue pesen ini aja” kata Dita sambil menunjuk pada buku menu


“serius Dit kamu cuma makan ini aja?” tanya Fajar


“iya, takut kalau-kalau dipanggil buat makan siang” kata Dita sambil berbisik lalu tawa kecil terdengar dari mulutnya


“cie cie yang masih pengantin baru” goda Intan dengan suara yang setengah berbisik membuat Dita tersipu


“empat bulan mah bukan baru lagi, ngomong-ngomong kapan kalian nyusul” kata Dita menggoda Intan balik dengan senyum jail

__ADS_1


“iya nih sidoi kagak nglamar-nglamar” kata Intan dengan genitnya sambil melihat pada Fajar


“kamu sendiri kapan resepsinya Dit?” tanya Fajar sambil menyiapkan piring yang diberikan pelayan.


“belum tahu” jawab Dita


“oh iya tan, gue butuh pendapat loe buat milih baju” kata Dita sambil melihat pada Intan yang mulai memakan makan siangnya itu


“itu gampang, oh iya entar sore loe mau nggak nemein gue nyari kado buat papa” kata Intan dengan semangat


“boleh, om Firman ulang tahun kan?” tanya Dita yang dijawab anggukan.


“gue udah beli hadiah, jadi gue nganter aj” kata Dita memberikan penjelasan


“yah et dah zubaedah loe cepet amat kalau nyari kado buat bokap gue” gerutu Intan yang mengingat Dita terlambat


memberikan hadia untuk ulang tahunnya. Dita hanya menaikkan alisnya menjawab kalimat Intan


“maaf, jangan ngambek ya” kata Dita merayu Intan, yang kemudian tersenyum pada Dita, tak jauh dari tempat mereka duduk Rafael yang sudah selesai dengan meetingnya teralihkan pada Dita, dia pun seperti biasa melihat pada Dita dengan menyandarkan bahunya dengan santai pada pintu yang agak jauh dari tempat Dita, Intan dan Fajar, mereka tak menyadari kehadiran Rafael, mereka tetap asik menghabiskan makanannya dan Rafael dapat mendengar jelas percakapan mereka.


“coba liat ini” kata Dita sambil menunjukkan ponselnya pada Intan


“entar sore jadi kan?” tanya Intan memastikan sambil menerima ponsel Dita


“iya jadi, tapi loe jemput gue sekalin loe traktir gue ya” kata Dita memelas


“duit gue menipis” kata Dita menambahkan dengan wajah memelas


“et dah serius loe ta? Suami loe kan kaya masak loe nggak punya duit” gerutu Intan tanpa melihat kearah Dita yang tak percaya dengan jawaban sahabatnya, dia masih asik dengan gambar yang ditunjukkan Dita melalui


ponselnya, Dita hanya tersenyum tipis mendengar seloroh Intan.


"yakin loe nggak ada duit?" tanya Fajar dengan tatapan santai teapi ada ketidak percayaan pada pernyataan Dita


"iya" jawab Dita santai


pada meja melihat pada Dita, dalam benaknya dia berpikir kenapa Dita tidak menggunakan kartu kredit yang diberikan Nicholas dan justru bilang tidak punya uang. Rafael cepat cepat meraihnya ponsel pintarnya dari sakunya, dia pun menstransfer sejumlah uang pada Dita, perkara yang gampang bagi Rafael untuk


tahu rekening Dita.


“kasian amat ta idup loe, suami kaya tapi loe nggak di kasih duit” kata Intan yang gini menatapnya dengan wajah melas untuk sahabatnya


“serius kamu Dita” tanya Fajar, Dita hanya tersenyum santai, Intan memeriksa ponsel Dita yang terdengar bunyi pesan singkta masuk


“SMS dari siapa? Suami gue? Tanya Dita polos


“Ditaaaaa dita dita” kata Intan yang hanya terpaku melihat pesan singkat yang masuk kedalam ponsel Dita sambil


mengayunkan tangannya berkali kali seolah memanggil Dita yang berada dari kejauhan


“kenapa loe? Sms dari siapa?” tanya Dita penasaran denga reaksi Intan


“sayang, kenapa sih” tanya Fajar keheranan karena tingkah Intan yang gembira yang menurutnya tanpa sebab


“satu dua tiga satu dua tiga aaaahhhh Ditaaa loe kaya ta loe kaya banyak duit “ kata Intan kegirangan melihat


notifikasi uang masuk melalui pesan singkat di ponsel Dita


“sayang ini bener kan angkanya, Ditaaa dua ratus juta Ditaaa” kata Intan kegirangan sembari menunjukkan ponsel pintar Dita pada Fajar karena sahabatnya tak lagi miskin sambil menunjukkan pesan singkat yang dibacanya pada kekasihnya yang duduk disebelahnya itu.


“apa sih dua ratus juta? tanya Dita penasaran dan langsung merebut ponselnya lalu melihat pesan singkatnya, Dita pun terbelalak melihat notifikasi itu.


“gila, kenapa nggak bilang sama gue” gerutu Dita melihat nominal dua ratus juta masuk dalam rekeningnya dikirim oleh Rafael


“jadi nanti sore kita pergi, fix” kata Intan semangat  dan tersenyum lebar Dita hanya mengangguk saja tidak mengerti dengan yang terjadi pada Rafael yang tiba tiba mengirimkan sejumlah uang kepadanya


Jam kantor sudah usai, Dita dan Intan pun berangkat, menunggu Intan yang berpamitan pada Fajar itu Dita meraih


ponselnya yang berdering.

__ADS_1


“berbelanjalah sesukamu, bersenang-senanglah” kata Rafael dari seberang telpon yang masih memperhatikan Dita dari dalam mobilnya yang tak terlihat oleh Dita. Akhirnya Intan dan Dita pun berangkat menuju pusat perbelanjaan yang terbilang tidak jauh tetapi karena rute jalan membuatnya terasa jauh, Dita kali ini berbelanja beberapa baju untuk dirinya dan juga untuk Rafael, Dita berharap Rafael akan menyukai pilihannya. Setelah puas belanja Dita dan Intan mencari sebuah café dan mencari makan karena sudah kelaparan. Rafael yang menuju ketempat lain dengan mobil yang  dikendarai Bam itu hanya tersenyum sendiri mengingat setiap saat tentang Dita, otaknya benar benar dipenuhi oleh Dita


“mbak” kata Intan memanggil pelayan


“mbak saya pesen jus jeruk satu, kamu apa?” tanya Dita sambil melihat pada Intan yang duduk didepannya.


“sama jus jeruk, kalau makannya aku ini” jawab Intan sembari menunjukkan buku menu pada pelayan,


“kalau gue yang ini , oh iya mbak minumnya dulu ya, udah aus” kata Dita pada pelayan café


“baik mbak” jawab pelayan dengan senyum ramah, tak selang berapa lama ada pelayan yang membawa jus jeruk pesanan mereka


“gue nggak jadi minta ditraktir tapi gue yang traktir” kata Dita malu-malu


“et dah Zaenab baik kali kau, iya percaya yang abis dapat jatah dari suami” canda Intan dengan disertai cekikikan girang,sahabatnya menikah dengan orang yang tepat, setidaknya itu menurut Intan


“apa sih loe” elak Dita dengan muka cemberut tetapi masih tampak senyum tipis


“ini mbak minumannya” kata pelayan yang menyuguhkan minumannya terlebih dahulu sesuai pesannnya


“btw kapan loe program hamil” kata Intan spontan membuat Dita bengong dan terkejut mendengar pertanyaan Intan


“apa? Hamil?” tanya Dita memastikan pertanyaan Intan


“he zaenab moka loe napa? loe kan udah nikah, pertanyaan gue wajar kali” jawab Intan sambil menepuk tangan Dita


“orang gue nggak ngapa-ngapain” jawab Dita lirih karena ada pelayan yang mendekati mereka mengantarkan makanannya.


“hah, nggak ngapa-ngapain? nggak pelukan atau ciuman gitu sama suami loe? tanya Intan polos dan dengan rasa tidak percaya, Dita menggangguk kemudian menggelengkan kepala


“yang bener loe sama suami loe gak ngapa-ngapain loe?nggak gitu gitu …” tanya Intan pada Dita sambil tangannya bergerak mengisyaratkan ciuman yang mengarah pada hubungan intim


“gue nggak ngapa-ngapain, dicium juga seminggu minggu belum tentu dia cium gue sekali” kata Dita santai sambil memakan makan malamnya


“et dah, ta suami loe kan bule, masa nggak ngapa-ngapain? bule loh ta bule” tanya Intan sekaligus menegaskan siapa suaminya serta menekankan pada kata bule


“emang nggak ngapa-ngapain kok” jawab Dita sedikit sewot tetapi masih dengan suara santai


“eh zaenab jangan bilang loe masih perawan?” tanya Intan pelan dengan wajah ragu dan cemas sahabatnya marah dengan pertanyaan itu serta dengan suara pelan,


“masih” jawab Dita dan mengagguk menjawab pertanyaan Intan


“aduh Ditaaa, terus loe ngapain aja empat bulan, nganggur loe?” kata Intan dengan setengah tertawa dan sesekali menyantap makananya.


“ya seperti yang gue bilang, gue nggak ngapa ngapain” jawab Dita masih dengan santai


“eh awas loe entar berpaling sama Cindy” goda Intan ingin melihat reaksi sahabatnya itu cemburu atau tidak.


“apa!! Nggak boleh, kalau masih deket-deket sama itu cewek, sia-sia dong gue nikah sama dia, kan tujuannya juga biar itu cewek jauh jauh dari suami gue” jawab Dita sedikit tinggi karena memang dia menerima lamaran Rafael adalah karena ingin menjauhkan dari Cindy serta rencana jahat pamannya.


"nah tuh sadar suami, kalo nggak dikasih entar nyari diluaran" goda Intan pada Dita


"jangan sampek, loe juga doanya jelek banget tega loe sama gue" jawab Dita dengan memasang wajah cemberut


“maaf nona Dita apa makan anda sudah selesai?” tanya seorang berbadan tegap yang menghampirinya, terlihat Ryan berada diluar café sedang memperhatikan sekitar, Dita menyadari ada yang tidak beres, karena begitulah selama empat bulan pernikahnnya, jika dirinya dalam bahaya Ryan dan bodyguard lainnya akan mendekatinya.


“iya sudah selesai” jawab Dita tegas dan segera membawa belanjaanya, laki-laki itu mengambil belanjaan dari tangan Dita.


‘mereka siapa ta?” tanya Intan takut dan cemas serta melihat kesekeliling nampak beberapa orang memang berbeda sedang berada didalam café dan tiga orang diluar café.


“nggak apa-apa, loe jangan khawatir, oh iya pak, tolong kawal mobil temen saya juga ya sampai rumah” kata Dita sambil memandang Intan yang memang terlihat heran dan takut dengan kemunculan para bodyguardnya lalu memberi perintah,


“yuk kita pulang” kata Dita sambil menggandeng Intan keluar café, Intan masih bingun dengan yang terjadi


“sorry ya tan loe pulang sendiri, jangan khawatir mereka orang-orangnya papi” kata Dita menenangkan Intan, mereka pun bergi dari tempat itu, Intan lega dengan jawaban Dita tetapi masih bingung kenapa Dita harus dijaga dengan ketat, sesuai perintah Dita mobil Intan pun ada yang mengawal hingga sampai dirumah.


Rafael yang lebih dulu tiba diapartemen, tak langsung menuju kamarnya, dia membaringkan tubuhnya disofa, dilihatnya photo Dita yang ada diponselnya sambil tersenyum


“I love you Dita” kata Rafael pelan, terlalu lelah dengan aktivitasnya dia pun tertidur di sofa.

__ADS_1


__ADS_2