Untuk istriku

Untuk istriku
Salah Paham


__ADS_3

“selamat pagi mami” sapa Dita pada Febi yang duduk


dimeja makan sedang mengubas buah, Dita pun langsung menuju dapur


“eh ngapain non?” tanya bi Isah yang sepat-cepat


mencegah Dita menyentuh kompor


“mau buat kopi” jawab Dita dengan suara pelan dan raut wajah


keheranan


“sayang kenapa repot-repot, minta saja sama bi Isah”


kata Febi yang membalikkan badanya tanpa beranjak dari duduk itu melihat kepada


Dita, Sean yang berada disebelahnya juga melihat pada Dita


“bukan buat Dita mi” jawab Dita dengan senyum tipis


sambil melihat pada Febi yang memperhatikannya


“oh, ya sudah terserah kamu saja” kata Febi yang


kembali mengupas buah, terdengar juga Sean berdehem mencoba menggoda Dita


“napa loe, mau gue siram?” kata Dita ketus sambil


melihat pada Sean, dia masih marah pada Sean yang memaksanya menggunakan kartu


credit dan menghabiskan lebih banyak lantaran pengeluaranny jauh lebih besar


bunga kartu kredit itu sendiri. Rafael yang baru turun dari kamarnya juga


langsung bergabung di meja makan, Dita langsung menyuguhkan kopi yang


dibuatnya.


“thanks honey” kata Rafael dan langsung meminumnya.


“non Dita akhir-akhir ini sering sensi, apa non Dita


hamil? Celetuk bi Asih sambil tersenyum tipis


“what? Dita pregnant? Tanya Sean yang antusias,


sementara Dita hanya bingung mendengar itu


“bi Isah ngarang” jawab Dita mencoba tenang sambil


melihat pada Rafael


"hamil dari Hongkong, bercinta aja nggak"


guman Dita dalam hatinya dan kemudian menatap Rafael


“what?” tanya Rafael santai tetapi dengan tatapan yang


menebak nebak isi pikiran istrinya yang menarik kursi dan duduk disebelah Febi


“nggak ada, kamu tampan hari ini” kata Dita berusaha


mengalihkan perhatian, dan membuat Isah dan Sean juga Febi seketika tertawa


renyah


“napa loe tertawa” kata Dita sewot


“nothing” jawab Sean yang masih tertawa.


“good morning everybody” sapa Nicholas yang sudah rapi


dengan jas kebesarannya


“good morning papi, mau Dita buatkan kopi? Kelihatannya


mami sibuk” kata Dita menawarkan sambil melihat pada Febi


“saya datang lebih dulu kamu tidak menawarkan saya kopi”


gerutu Rafael tidak menyadari kopi yang hampir habis


adalah buatan Dita


“boleh, tentu saja, kali ini memang saya ingin


mencicipi kopi buatan menantu saya” kata Nicholas dengan santai


“itu apa kalau bukan kopi?” kata Dita menunjuk pada


secangkir kopi didepan Rafael


“apa ini kamu yang membuatnya?” tanya Rafael yang


memperhatikan Dita yang kembali ke dapur untuk membuat kopi dengan wajah


cemberut


“el kamu itu kenapa sih? Seneng banget nggodain Dita”


jawab Febi datar, Rafael hanya tersenyum


“sudah tidur disofa tapi nggak kapok” kata Febi lagi


dengan santai berusaha menyelidiki, mendengar kalimat Febi Dita berbalik dan


melihat pada Rafael dan saling memandang satu sama lain Rafael hanya bisa diam


dan saling berpandangan


“oh iya, saya ada berita bagus, kerjasama kita dengan


periklanan Singapore berjalan baik dan model untuk iklan itu sudah tiba di


kantor The Deveraux” kata Nicholas bersemangat


“dan yang kedua, akan ada Resepsi pernikahan Rafael dan


Dita dalam waktu dekat” kata Nicholas lagi dengan senyum yang benar-benar tak


nampak bahwa The Deveraux jika sudah bertindak bahkan tak ada lawan bisnis yang


bisa lolos. Semua nampak Gembira terlebih Sean dia pun cepat cepat menghabiskan


kopi dan berpamitan untuk berangkat kekantor terlebih dahulu


“Dita setelah makan siang sebaiknya kamu kekantor”


perintah Sean yang sudah berdiri hendak meninggalkan meja pada Dita yang


dijawab anggukan. Pagi itu semua berangkat dengan urusannya masing-masing


setelah mengantar Dita, Rafael menuju bandara menjemput Millan, dan langsung membawanya


kekantor menemui Nicholas dan Sean


“hello my love” sapa Nicholas pada Millan


“hello papi you look great” jawab Millan sembari


mencium pipi mertuanya itu


“look at you, looks beautifull” kata Nicholas memuji.


“where is Dita? Saya sudah banyak mendengar tentangnya


saya sangat penasaran ingin langsung berbincang dengannya” tanya Millan sambil


menatap Nicholas dan Rafael bergantian [notes author, Millan ini tidak bisa


bahasa Indonesia, sengaja ditulis pakai bahasa Indonesia biar enak bacanya, soalnya


kalimatnya panjang, terlebih Author Danisa Khan masih sibuk jadi nggak sempat


ngasih terjemahan]


“setelah makan Siang dia akan datang, dia masih


mengajar” kata Rafael dengan senyum manis tersemat dibibirnya.


“dia tidak ikut bekerja disini?” tanya Millan


keheranan, dia benar benar ingin bertemu dan berbincang dengan Dita, terakhir


bertemu dia tidak bisa berbincang karena saat itu ditengah pesta dia hanya


datang untuk menghadiri pesta dan kemudian harus kembali dengan pekerjaanya di


negara lain


“Dita adalah wanita mandiri sepertimu Millan, kamu akan


bisa belajar bahasa Indonesia dengannya” kata Nicholas memuji Dita


“mari aku akan mengantarmu keruangan devisi advertising


dan membicarakan semuanya” kata Nicholas sambil membimbing Millan menuju lantai


dasar gedung The Deveraux, diikuti pula oleh Rafael


“Sean, kamu tidak merindukanku?” tanya Millan


diseberang pintu tatkala melihat Sean diruang devisi advertising, Millan


tersenyum dan girang melihat Sean


“Seriously?” tanya Sean yang tidak percaya melihat


Millan, dia pun menghampiri Millan dan mencium bibir wanita


cantik bermata hijau itu.


“tentu saja aku merindukanmu dan tidak menyangka kamu


yang akan menjadi model kami” jawab Sean dengan lembut


“oh jadi ini nona Millan model kita? Tidak salah


karyawan yang menjadi tim dalam pekerjaan mereka


"ya Mr Rafael yang mengusulkan” kata Olive dan beberapa kru yang sedang


berdiskusi di ruang devisi itu, Intan pun tergabung dalam project itu. Mereka


semua pun saling berjabat tangan dan membahas project mereka, tetapi seperti


biasanya, Olive dan Intan tanpa campur tangan Dita sangat buruk dalam


memberikan deskripsi dari hasil karya mereka di mata Nicholas


“Mr Sean, Dita sudah tiba didepan, katanya malas masuk


karena ada Cindy” kata Intan pada yang mendapati pesan singkat Dita


“katanya telpon Mr tapi tidak diangkat” kata Intan lagi


menjelaskan, Sean pun melihat pada ponselnya dan benar ada panggilan tak

__ADS_1


terjawab dari Dita. Mendengar nama Cindy membuat Rafael menghela napas dan


hendak beranjak, tetapi dihentikan oleh Sean


“biar aku yang menghentikan wanita itu, kau disini saja


temani Millan” kata Sean lalu beranjak dari tempatnya.


“aku ingin ketemu Dita, boleh aku ikut?” tanya Millan


pada Sean, dia merengek ingin segera menemui Dita akhirnya Sean pun mengizinkan


untuk ikut, sementara itu dimeja resepsionis


“maaf mbak Cindy, Mr Rafael sedang meeting, dan mbak


Cindy tidak bisa masuk ruangannya begitu saja, nanti ada


istrinya” kata resepsionis yang sudah mendengar bahwa Rafael sudah menikah


“persetan sama istrinya, apa bagusnya dia” kata Cindy


menyela yang kemudian melihat pada seseorang yang baru datang, Dita yang


langsung dengan langkah malas dan menarik napas panjang melihat Cindy


“Sean. Biarkan aku saja” suara Millan menghentikan


langkah Sean yang sudah di pintu itu, terlebih seorang karyawan memberikan


sebuah map kepadanya untuk diperiksa kembali, Rafale pun berdiri dan melihat


map yang dibaca oleh Sean.  Millan pun berjalan menuju Resepsionis dan


melihat Dita dengan gembira


“Mr Sean ini dokumen yang perlu di periksa lagi sebelum


saya tambah untuk dicetak” kata seoarang karyawan pada Sean, melihat dokumen


ditangan Sean yang sudah tahu itu adalah garis besar iklan yang akan mereka


buat, mereka memeriksa dokumen itu di tempat dimana Sean berdiri


“oh rupanya simiskin punya nyali juga datang kesini,


dasar nggak tau malu” kata Cindy dengan wajah tak acuh dan


sombong seperti biasanya


“yang nggak tau malu itu loe, bukan gue” jawab Dita


dengan malas dan tetap melangkah dengan malas tanpa memperhatikan Cindy, tentu


saja membuat Cindy kesal dan memegang lengan Dita.


“eh, dasar cewek sialan, mau kemana loe?  siapa


loe berani ngelawan gue!” bentak Cindy pada Dita


“gue Dita ayura, apa kurang keras gue nyebutin nama


gue” kata Dita dengan teriak dan menepis tangan Cindy yang


memegang lengannya


“berani loe teriak sama gue”kata Cindy geram dengan


menahan suaranya tak lupa dia melotot pada Dita


“minggir loe, gue males ngladenin loe yang nggak bisa


tobat” kata Dita dengan santai dan hendak berlalu


“Dita” guman Millan dengan senyum lebar, yang berjalan


menghampiri Dita dan Cindy itu


“ada apa ini kenapa ribut-ribut” tanya Millan pada


mereka serta melihat pada resepsionis dengan senyum lembut, membuat


wanita-wanita lain pun ikut terpesona


"ini Miss mbak Cindy menghalangi mbak Dita" jawab resepsionis dengan


ramah


"Cindy? siapa Cindy? berani sekali menghalangi Dita" kata Millan


dengan nada tidak suka


“siapa nih cewek berani banget ngebalin si gembel


pula, tapi  bule ini cantik juga, ngapain disini” guman Cindy


dalam hatinya


“miss bukan urusan kamu, sebaiknya jangan ikut


campur"  kata Cindy dengan sok manis


“Dita apa kabar?” sapa Millan pada Dita serta senyum lembut  yang langsung


mencium pipi Dita dan memeluknya sesaat, Dita hanya kebingungan mendapati orang


yang tidak dikenalnya itu memeluknya, Dita ingat dia pernah melihatnya sekali


di pesta


“kabar saya baik” jawab Dita yang masih tidak mengerti


pada Rafael tetapi Rafael tidak melihat kepadanya sama sekali, dia sibuk


berbincang pada Sean dan pak Bam serta manager periklanan yang berjarak sekitar


tigapuluh langkah darinya.


“miss, bagaimana bisa kenal sama wanita gembel dan


nggak tau diri ini” guman Cindy pada Millan lirih


“apa? Aku tidak mengerti? Wanita gembel? Dia wanita


yang baik dan pemilik separuh gedung Devaraux” jawab Millan pada Cindy yang


membuat Cindy semakin tidak suka pada Dita terlebih Millan mengatakan Dita


pemilik gedung the Deveraux, Cindy benar benar menatap Dita dengan tatapan


hina. sementara Dita menatap Millan dengan penuh keheranan karena mengenalnya


bahkan pernikahannya dengan Rafael tak banyak yang tahu tetapi Millan


mengatakan dia pemilik separuh gedung The Deveraux, Millan segera memahami


kebingungan Dita


“oh maaf, saya Millan, Millan Deveraux, istril dari lelaki


tampan yang ada disana” kata Millan memperkenalkan diri pada Dita sembari


menunjuk pada Sean dan Rafael yang berdiri bersebalahan membaca map untuk iklan


mereka dan masih berdiskusi dengan beberapa orang lainnya


“Dita Ayura” jawab Dita dengan senyum terpaksa


“apa? Tidak mungkin? Millan baru saja mengatakan


dia istrinya dan menunjuk pada suami gue”kata Dita dalam hati yang


langsung membuatnya lesu. Cindy yang memperhatikan Millan menunjuk pada Sean


dan Rafael itu pun langsung memasang muka imut dan berusaha berkenalan dengan


Millan


"jadi yang dikatakan resepsionis istri itu ini istrinya Rafael,


lumayan juga" guman Cindy dalam hatinya


“hello saya Cindy” kata Cindy dengan lembut dan penuh


kepura puraan


"saya tahu, saya sudah dengar juga tentang


kamu" jawab Millan datar


“wanita ini sepertinya mudah untuk disingkirkan,


gue bakal bikin perhitungan” guman Cindy dalam hatinya. Mereka


bertiga berbincang sebentar tetapi Millan langsung tidak menyukai Cindy, dia


melihat senyum Cindy yang palsu, terlebih setelah berusaha mengusir Dita


“Millan kalau kamu butuh teman untuk keliling kota aku


bisa menjadi teman sekaligus guide kamu” kata Cindy dengan manis tetapi


tersembuyi senyum jahat


“terima kasih tapi saya sudah punya guide saya sendiri”


jawab Millan singkat dan senyum lembut serta mengalungkan tangannya pada lengan


Dita


“he loe wanita tidak tahu diri, ngapain loe masih


berdiri disini, sebaiknya loe keluar, ini bukan tempat kamu” bentak Cindy pada


Dita dengan menggunakan bahasa inggrisnya, tentu saja agar Millan mengerti yang


dia ucapkan, Millan semakin tidak suka mendengarnya


“kamu siapa? Apa kamu pegawai dikantor ini?” tanya


Millan tegas dan pandangan tidak suka yang begitu kentara pada Cindy


“saya datang kesini untuk bertemu sesorang” kata Cindy


santai


“urusan bisnis?” tanya Millan lagi pada Cindy, Dita


hanya diam saja dia tidak bisa beranjak lantaran tangannya


digandeng oleh Millan, dia hanya bernapas panjang


“bukan, tapi ..” jawab Cindy, belum selesai dia


mengucapkan kalimatnya Millan sudah memotongnya


“tidak ada urusan bisnis atau pekerjaan you get out

__ADS_1


from here” bentak Millan pada Cindy, tentu saja membuat Sean dan Rafael juga


yang lainnya melihat pada Millan Cindy dan Dita.


“loe ngapain masih berdiri diem kayak


patung!” bentak Cindy pada Dita


“dia disini untuk bekerja kamu pegawai bukan beranai


mengusirnya, kamu keluar, tidak dengar? Kata Millan lagi


menambahkan


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


“yang disuruh pergi loe bukan gue” jawab Dita santai tak bersalah  sambil


melihat pada lengannya yang dirangkul oleh Millan. Cindy pun mengumpat dan pergi


meninggalkan gedung The Deveraux. Intan yang keluar dari ruangan dimana diskusi


diadakan itu langsung berlari kecil menghampiri Dita


“et dah Zubaedah, loe nggak apa-apa? Tanya Intan


khawatir serta memperhatikan pipi Dita  kanan dan kiri


“gue baik-baik aja. Untung ada miss Millan” jawab Dita


dengan senyum, lalu mereka bertiga berjalan menuju ruang


diskusi, setelah diskusi selesai beberap kru terlihat sangat sibuk dengan


Millan, karena Intan juga nampak sibuk Dita pun memutuskan untuk masuk ke


ruangan Rafael. disana Dita hanya duduk diam dilantai, disandarkannya kepalanya


pada meja diantara sofa yang berada diruangan itu, beberapa kertas berserakan


di meja dan lantai, kertas yang penuh guritan pencil namun penuh karya seni itu


digambar pelan-pelan oleh Dita sambil menunggu jam pulang kantor.


“Dita kamu disini, saya mencari kamu kemana-mana, kamu


juga tidak mengangkat telpon saya” kata Rafael yang melangkah mendekati


istrinya, diperhatikannya gambar-gambar pada kertas yang berserakan dimeja, dia


tertegun dengan hasil karya yang dihasilkan oleh Dita, dia menggambar persis


ruangannya, ruangan apartemenya, kamarnya, bahkan kontrakan kecilnya. Rafael


pun duduk disebelah Dita dan hendak bertanya


“aku mau pulang” kata Dita


“baiklah aku akan mengantarkanmu ke apartemen” jawab


Rafael


“ke kontrakan” kata Dita menambahkan


“kenapa? Ini bukan hari senin” tanya Rafael pada Dita


“Tuan, Tuan Sean memanggil anda”  kata seorang OB


yang datang untuk mengantarkan kopi itu menyampaikan


“aku akan datang kesana” kata Rafael yang berbalik


melihat pada OB itu yang kemudian berlalu dan menutup pintu


“kamu baik-baik saja?” tanya Rafael sembari memeriksa


dahi Dita, tetapi ditampis oleh Dita


“tunggu, setelah itu aku akan mengantarmu” kata Rafael


dengan lembut lalu bergegas menuju ruangan Sean, Dita


meraih ponselnya yang berbunyi


“mami” gumannya, lalu meletakkan ponselnya mendekat


ketelinganya


“sayang, hari ini mami sudah merapikan beberapa barang


barang diapartemen, mami juga sudah memindahkan baju-baju kamu ke kamar Rafael”


kata Febi


“mami!, gawat, artinya mami tahu dong kalau aku


sama Rafael pisah kamar sejak awal” guman Dita dalam hati yang terbelalak


tidak menyangka Febi akan tahu


“iya mi” jawab Dita pasrah


“mami juga beli beberpa baju buat kamu, besok kerumah


mami dipakai ya” kata Febi diseberang telpon


“iya mi, makasih ya mami” jawab Dita singkat dan


terdengar lesu


“kamu kenapa sayang?” tanya Febi diseberang telpon


“nggap apa-apa mi, cuma capek aja” jawab Dita pelan


tetapi sambungan telpon langsung terputus. Tak selang berapa lama Rafael dan


Millan datang


“Dita apa kamu baik-baik saja” tanya Millan yang


menghampiri Dita, Dita hanya menjawab dengan anggukan sementara Millan


memeriksa keningnya melihat itu Dita hanya menarik napas panjang dan


beranjak dari duduknya


“aku mau pulang” kata Dita pada Rafael tanpa menoleh,


hanya berdiri disampingnya


“ok, apa perlu kita kedokter?”tanya Rafael dengan


mebut, raut mukanya benar-benar khawatir melihat perubahan Dita


"nggak usah gue nggak sakit" jawab Dita pelan dan tak berselera


“Ryan perintahkan security untuk tidak membiarkan Cindy


masuk kedalam kantor, sekalipun itu area parker” kata Rafael yang melalui


telpon selularnya pada Ryan.


“Dita, ada apa? Apa kamu sakit?” tanya Sean yang juga


langsung menghampirinya, Dita hanya menggelangkan kepala


“Sean bisakah aku meminta tolong untuk meminta orang


yang dulu menggantikan aku mengajar privat itu menggantikanku beberapa


pertemuan seperti waktu itu?” kata Dita meminta pada Sean


“tentu, kalau kamu sakit sebaiknya kamu beristirahat


saja” kata Sean yang menatap Dita mencari ada apa dengan Dita yang tiba-tiba


benar-benar seperti tidak berselera bahkan untuk bertemu orang dia juga


terlihat pucat, Dita pun berjalan yang kemudian diikuti Rafael yang meraih


tangan Dita dan mengantrakannya pulang


Setiba di apartemnnya Dita pun tak kunjung berkata


sepata kata pun dia langsung masuk kedalam kamar yang biasa dia tempati.


“Dita saya membuatkanmu makan malam, ayo keluarlah”


kata Rafael, dia terlihat begitu cemas karena tidak biasanya Dita mengunci


pintu kamarnya. Didalam kamar Dita duduk didepan nakas dan bersandar pada


ranjangnya, duduk dengan merangkul lututnya benaknya bertanya-tanya dan menduga


“apakah setelah ini mami, papi akan membuangku,


bukankah mereka ingin aku menikahi anaknya karena tidak ingin The Deveraux jatuh”


“lalu kenapa, kenapa ada istri lain selain aku, apa


salah jika aku berharap hanya aku istrinya”


“dan jika begitu,sudah berapa lama mereka menikah”


Pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu membuat Dita


meneteskan air mata, disekanya air mata itu, tak selang berapa lama dia pun

__ADS_1


tertidur


__ADS_2