
“selamat pagi mami” sapa Dita pada Febi yang duduk
dimeja makan sedang mengubas buah, Dita pun langsung menuju dapur
“eh ngapain non?” tanya bi Isah yang sepat-cepat
mencegah Dita menyentuh kompor
“mau buat kopi” jawab Dita dengan suara pelan dan raut wajah
keheranan
“sayang kenapa repot-repot, minta saja sama bi Isah”
kata Febi yang membalikkan badanya tanpa beranjak dari duduk itu melihat kepada
Dita, Sean yang berada disebelahnya juga melihat pada Dita
“bukan buat Dita mi” jawab Dita dengan senyum tipis
sambil melihat pada Febi yang memperhatikannya
“oh, ya sudah terserah kamu saja” kata Febi yang
kembali mengupas buah, terdengar juga Sean berdehem mencoba menggoda Dita
“napa loe, mau gue siram?” kata Dita ketus sambil
melihat pada Sean, dia masih marah pada Sean yang memaksanya menggunakan kartu
credit dan menghabiskan lebih banyak lantaran pengeluaranny jauh lebih besar
bunga kartu kredit itu sendiri. Rafael yang baru turun dari kamarnya juga
langsung bergabung di meja makan, Dita langsung menyuguhkan kopi yang
dibuatnya.
“thanks honey” kata Rafael dan langsung meminumnya.
“non Dita akhir-akhir ini sering sensi, apa non Dita
hamil? Celetuk bi Asih sambil tersenyum tipis
“what? Dita pregnant? Tanya Sean yang antusias,
sementara Dita hanya bingung mendengar itu
“bi Isah ngarang” jawab Dita mencoba tenang sambil
melihat pada Rafael
"hamil dari Hongkong, bercinta aja nggak"
guman Dita dalam hatinya dan kemudian menatap Rafael
“what?” tanya Rafael santai tetapi dengan tatapan yang
menebak nebak isi pikiran istrinya yang menarik kursi dan duduk disebelah Febi
“nggak ada, kamu tampan hari ini” kata Dita berusaha
mengalihkan perhatian, dan membuat Isah dan Sean juga Febi seketika tertawa
renyah
“napa loe tertawa” kata Dita sewot
“nothing” jawab Sean yang masih tertawa.
“good morning everybody” sapa Nicholas yang sudah rapi
dengan jas kebesarannya
“good morning papi, mau Dita buatkan kopi? Kelihatannya
mami sibuk” kata Dita menawarkan sambil melihat pada Febi
“saya datang lebih dulu kamu tidak menawarkan saya kopi”
gerutu Rafael tidak menyadari kopi yang hampir habis
adalah buatan Dita
“boleh, tentu saja, kali ini memang saya ingin
mencicipi kopi buatan menantu saya” kata Nicholas dengan santai
“itu apa kalau bukan kopi?” kata Dita menunjuk pada
secangkir kopi didepan Rafael
“apa ini kamu yang membuatnya?” tanya Rafael yang
memperhatikan Dita yang kembali ke dapur untuk membuat kopi dengan wajah
cemberut
“el kamu itu kenapa sih? Seneng banget nggodain Dita”
jawab Febi datar, Rafael hanya tersenyum
“sudah tidur disofa tapi nggak kapok” kata Febi lagi
dengan santai berusaha menyelidiki, mendengar kalimat Febi Dita berbalik dan
melihat pada Rafael dan saling memandang satu sama lain Rafael hanya bisa diam
dan saling berpandangan
“oh iya, saya ada berita bagus, kerjasama kita dengan
periklanan Singapore berjalan baik dan model untuk iklan itu sudah tiba di
kantor The Deveraux” kata Nicholas bersemangat
“dan yang kedua, akan ada Resepsi pernikahan Rafael dan
Dita dalam waktu dekat” kata Nicholas lagi dengan senyum yang benar-benar tak
nampak bahwa The Deveraux jika sudah bertindak bahkan tak ada lawan bisnis yang
bisa lolos. Semua nampak Gembira terlebih Sean dia pun cepat cepat menghabiskan
kopi dan berpamitan untuk berangkat kekantor terlebih dahulu
“Dita setelah makan siang sebaiknya kamu kekantor”
perintah Sean yang sudah berdiri hendak meninggalkan meja pada Dita yang
dijawab anggukan. Pagi itu semua berangkat dengan urusannya masing-masing
setelah mengantar Dita, Rafael menuju bandara menjemput Millan, dan langsung membawanya
kekantor menemui Nicholas dan Sean
“hello my love” sapa Nicholas pada Millan
“hello papi you look great” jawab Millan sembari
mencium pipi mertuanya itu
“look at you, looks beautifull” kata Nicholas memuji.
“where is Dita? Saya sudah banyak mendengar tentangnya
saya sangat penasaran ingin langsung berbincang dengannya” tanya Millan sambil
menatap Nicholas dan Rafael bergantian [notes author, Millan ini tidak bisa
bahasa Indonesia, sengaja ditulis pakai bahasa Indonesia biar enak bacanya, soalnya
kalimatnya panjang, terlebih Author Danisa Khan masih sibuk jadi nggak sempat
ngasih terjemahan]
“setelah makan Siang dia akan datang, dia masih
mengajar” kata Rafael dengan senyum manis tersemat dibibirnya.
“dia tidak ikut bekerja disini?” tanya Millan
keheranan, dia benar benar ingin bertemu dan berbincang dengan Dita, terakhir
bertemu dia tidak bisa berbincang karena saat itu ditengah pesta dia hanya
datang untuk menghadiri pesta dan kemudian harus kembali dengan pekerjaanya di
negara lain
“Dita adalah wanita mandiri sepertimu Millan, kamu akan
bisa belajar bahasa Indonesia dengannya” kata Nicholas memuji Dita
“mari aku akan mengantarmu keruangan devisi advertising
dan membicarakan semuanya” kata Nicholas sambil membimbing Millan menuju lantai
dasar gedung The Deveraux, diikuti pula oleh Rafael
“Sean, kamu tidak merindukanku?” tanya Millan
diseberang pintu tatkala melihat Sean diruang devisi advertising, Millan
tersenyum dan girang melihat Sean
“Seriously?” tanya Sean yang tidak percaya melihat
Millan, dia pun menghampiri Millan dan mencium bibir wanita
cantik bermata hijau itu.
“tentu saja aku merindukanmu dan tidak menyangka kamu
yang akan menjadi model kami” jawab Sean dengan lembut
“oh jadi ini nona Millan model kita? Tidak salah
karyawan yang menjadi tim dalam pekerjaan mereka
"ya Mr Rafael yang mengusulkan” kata Olive dan beberapa kru yang sedang
berdiskusi di ruang devisi itu, Intan pun tergabung dalam project itu. Mereka
semua pun saling berjabat tangan dan membahas project mereka, tetapi seperti
biasanya, Olive dan Intan tanpa campur tangan Dita sangat buruk dalam
memberikan deskripsi dari hasil karya mereka di mata Nicholas
“Mr Sean, Dita sudah tiba didepan, katanya malas masuk
karena ada Cindy” kata Intan pada yang mendapati pesan singkat Dita
“katanya telpon Mr tapi tidak diangkat” kata Intan lagi
menjelaskan, Sean pun melihat pada ponselnya dan benar ada panggilan tak
__ADS_1
terjawab dari Dita. Mendengar nama Cindy membuat Rafael menghela napas dan
hendak beranjak, tetapi dihentikan oleh Sean
“biar aku yang menghentikan wanita itu, kau disini saja
temani Millan” kata Sean lalu beranjak dari tempatnya.
“aku ingin ketemu Dita, boleh aku ikut?” tanya Millan
pada Sean, dia merengek ingin segera menemui Dita akhirnya Sean pun mengizinkan
untuk ikut, sementara itu dimeja resepsionis
“maaf mbak Cindy, Mr Rafael sedang meeting, dan mbak
Cindy tidak bisa masuk ruangannya begitu saja, nanti ada
istrinya” kata resepsionis yang sudah mendengar bahwa Rafael sudah menikah
“persetan sama istrinya, apa bagusnya dia” kata Cindy
menyela yang kemudian melihat pada seseorang yang baru datang, Dita yang
langsung dengan langkah malas dan menarik napas panjang melihat Cindy
“Sean. Biarkan aku saja” suara Millan menghentikan
langkah Sean yang sudah di pintu itu, terlebih seorang karyawan memberikan
sebuah map kepadanya untuk diperiksa kembali, Rafale pun berdiri dan melihat
map yang dibaca oleh Sean. Millan pun berjalan menuju Resepsionis dan
melihat Dita dengan gembira
“Mr Sean ini dokumen yang perlu di periksa lagi sebelum
saya tambah untuk dicetak” kata seoarang karyawan pada Sean, melihat dokumen
ditangan Sean yang sudah tahu itu adalah garis besar iklan yang akan mereka
buat, mereka memeriksa dokumen itu di tempat dimana Sean berdiri
“oh rupanya simiskin punya nyali juga datang kesini,
dasar nggak tau malu” kata Cindy dengan wajah tak acuh dan
sombong seperti biasanya
“yang nggak tau malu itu loe, bukan gue” jawab Dita
dengan malas dan tetap melangkah dengan malas tanpa memperhatikan Cindy, tentu
saja membuat Cindy kesal dan memegang lengan Dita.
“eh, dasar cewek sialan, mau kemana loe? siapa
loe berani ngelawan gue!” bentak Cindy pada Dita
“gue Dita ayura, apa kurang keras gue nyebutin nama
gue” kata Dita dengan teriak dan menepis tangan Cindy yang
memegang lengannya
“berani loe teriak sama gue”kata Cindy geram dengan
menahan suaranya tak lupa dia melotot pada Dita
“minggir loe, gue males ngladenin loe yang nggak bisa
tobat” kata Dita dengan santai dan hendak berlalu
“Dita” guman Millan dengan senyum lebar, yang berjalan
menghampiri Dita dan Cindy itu
“ada apa ini kenapa ribut-ribut” tanya Millan pada
mereka serta melihat pada resepsionis dengan senyum lembut, membuat
wanita-wanita lain pun ikut terpesona
"ini Miss mbak Cindy menghalangi mbak Dita" jawab resepsionis dengan
ramah
"Cindy? siapa Cindy? berani sekali menghalangi Dita" kata Millan
dengan nada tidak suka
“siapa nih cewek berani banget ngebalin si gembel
pula, tapi bule ini cantik juga, ngapain disini” guman Cindy
dalam hatinya
“miss bukan urusan kamu, sebaiknya jangan ikut
campur" kata Cindy dengan sok manis
“Dita apa kabar?” sapa Millan pada Dita serta senyum lembut yang langsung
mencium pipi Dita dan memeluknya sesaat, Dita hanya kebingungan mendapati orang
yang tidak dikenalnya itu memeluknya, Dita ingat dia pernah melihatnya sekali
di pesta
“kabar saya baik” jawab Dita yang masih tidak mengerti
pada Rafael tetapi Rafael tidak melihat kepadanya sama sekali, dia sibuk
berbincang pada Sean dan pak Bam serta manager periklanan yang berjarak sekitar
tigapuluh langkah darinya.
“miss, bagaimana bisa kenal sama wanita gembel dan
nggak tau diri ini” guman Cindy pada Millan lirih
“apa? Aku tidak mengerti? Wanita gembel? Dia wanita
yang baik dan pemilik separuh gedung Devaraux” jawab Millan pada Cindy yang
membuat Cindy semakin tidak suka pada Dita terlebih Millan mengatakan Dita
pemilik gedung the Deveraux, Cindy benar benar menatap Dita dengan tatapan
hina. sementara Dita menatap Millan dengan penuh keheranan karena mengenalnya
bahkan pernikahannya dengan Rafael tak banyak yang tahu tetapi Millan
mengatakan dia pemilik separuh gedung The Deveraux, Millan segera memahami
kebingungan Dita
“oh maaf, saya Millan, Millan Deveraux, istril dari lelaki
tampan yang ada disana” kata Millan memperkenalkan diri pada Dita sembari
menunjuk pada Sean dan Rafael yang berdiri bersebalahan membaca map untuk iklan
mereka dan masih berdiskusi dengan beberapa orang lainnya
“Dita Ayura” jawab Dita dengan senyum terpaksa
“apa? Tidak mungkin? Millan baru saja mengatakan
dia istrinya dan menunjuk pada suami gue”kata Dita dalam hati yang
langsung membuatnya lesu. Cindy yang memperhatikan Millan menunjuk pada Sean
dan Rafael itu pun langsung memasang muka imut dan berusaha berkenalan dengan
Millan
"jadi yang dikatakan resepsionis istri itu ini istrinya Rafael,
lumayan juga" guman Cindy dalam hatinya
“hello saya Cindy” kata Cindy dengan lembut dan penuh
kepura puraan
"saya tahu, saya sudah dengar juga tentang
kamu" jawab Millan datar
“wanita ini sepertinya mudah untuk disingkirkan,
gue bakal bikin perhitungan” guman Cindy dalam hatinya. Mereka
bertiga berbincang sebentar tetapi Millan langsung tidak menyukai Cindy, dia
melihat senyum Cindy yang palsu, terlebih setelah berusaha mengusir Dita
“Millan kalau kamu butuh teman untuk keliling kota aku
bisa menjadi teman sekaligus guide kamu” kata Cindy dengan manis tetapi
tersembuyi senyum jahat
“terima kasih tapi saya sudah punya guide saya sendiri”
jawab Millan singkat dan senyum lembut serta mengalungkan tangannya pada lengan
Dita
“he loe wanita tidak tahu diri, ngapain loe masih
berdiri disini, sebaiknya loe keluar, ini bukan tempat kamu” bentak Cindy pada
Dita dengan menggunakan bahasa inggrisnya, tentu saja agar Millan mengerti yang
dia ucapkan, Millan semakin tidak suka mendengarnya
“kamu siapa? Apa kamu pegawai dikantor ini?” tanya
Millan tegas dan pandangan tidak suka yang begitu kentara pada Cindy
“saya datang kesini untuk bertemu sesorang” kata Cindy
santai
“urusan bisnis?” tanya Millan lagi pada Cindy, Dita
hanya diam saja dia tidak bisa beranjak lantaran tangannya
digandeng oleh Millan, dia hanya bernapas panjang
“bukan, tapi ..” jawab Cindy, belum selesai dia
mengucapkan kalimatnya Millan sudah memotongnya
“tidak ada urusan bisnis atau pekerjaan you get out
__ADS_1
from here” bentak Millan pada Cindy, tentu saja membuat Sean dan Rafael juga
yang lainnya melihat pada Millan Cindy dan Dita.
“loe ngapain masih berdiri diem kayak
patung!” bentak Cindy pada Dita
“dia disini untuk bekerja kamu pegawai bukan beranai
mengusirnya, kamu keluar, tidak dengar? Kata Millan lagi
menambahkan
“yang disuruh pergi loe bukan gue” jawab Dita santai tak bersalah sambil
melihat pada lengannya yang dirangkul oleh Millan. Cindy pun mengumpat dan pergi
meninggalkan gedung The Deveraux. Intan yang keluar dari ruangan dimana diskusi
diadakan itu langsung berlari kecil menghampiri Dita
“et dah Zubaedah, loe nggak apa-apa? Tanya Intan
khawatir serta memperhatikan pipi Dita kanan dan kiri
“gue baik-baik aja. Untung ada miss Millan” jawab Dita
dengan senyum, lalu mereka bertiga berjalan menuju ruang
diskusi, setelah diskusi selesai beberap kru terlihat sangat sibuk dengan
Millan, karena Intan juga nampak sibuk Dita pun memutuskan untuk masuk ke
ruangan Rafael. disana Dita hanya duduk diam dilantai, disandarkannya kepalanya
pada meja diantara sofa yang berada diruangan itu, beberapa kertas berserakan
di meja dan lantai, kertas yang penuh guritan pencil namun penuh karya seni itu
digambar pelan-pelan oleh Dita sambil menunggu jam pulang kantor.
“Dita kamu disini, saya mencari kamu kemana-mana, kamu
juga tidak mengangkat telpon saya” kata Rafael yang melangkah mendekati
istrinya, diperhatikannya gambar-gambar pada kertas yang berserakan dimeja, dia
tertegun dengan hasil karya yang dihasilkan oleh Dita, dia menggambar persis
ruangannya, ruangan apartemenya, kamarnya, bahkan kontrakan kecilnya. Rafael
pun duduk disebelah Dita dan hendak bertanya
“aku mau pulang” kata Dita
“baiklah aku akan mengantarkanmu ke apartemen” jawab
Rafael
“ke kontrakan” kata Dita menambahkan
“kenapa? Ini bukan hari senin” tanya Rafael pada Dita
“Tuan, Tuan Sean memanggil anda” kata seorang OB
yang datang untuk mengantarkan kopi itu menyampaikan
“aku akan datang kesana” kata Rafael yang berbalik
melihat pada OB itu yang kemudian berlalu dan menutup pintu
“kamu baik-baik saja?” tanya Rafael sembari memeriksa
dahi Dita, tetapi ditampis oleh Dita
“tunggu, setelah itu aku akan mengantarmu” kata Rafael
dengan lembut lalu bergegas menuju ruangan Sean, Dita
meraih ponselnya yang berbunyi
“mami” gumannya, lalu meletakkan ponselnya mendekat
ketelinganya
“sayang, hari ini mami sudah merapikan beberapa barang
barang diapartemen, mami juga sudah memindahkan baju-baju kamu ke kamar Rafael”
kata Febi
“mami!, gawat, artinya mami tahu dong kalau aku
sama Rafael pisah kamar sejak awal” guman Dita dalam hati yang terbelalak
tidak menyangka Febi akan tahu
“iya mi” jawab Dita pasrah
“mami juga beli beberpa baju buat kamu, besok kerumah
mami dipakai ya” kata Febi diseberang telpon
“iya mi, makasih ya mami” jawab Dita singkat dan
terdengar lesu
“kamu kenapa sayang?” tanya Febi diseberang telpon
“nggap apa-apa mi, cuma capek aja” jawab Dita pelan
tetapi sambungan telpon langsung terputus. Tak selang berapa lama Rafael dan
Millan datang
“Dita apa kamu baik-baik saja” tanya Millan yang
menghampiri Dita, Dita hanya menjawab dengan anggukan sementara Millan
memeriksa keningnya melihat itu Dita hanya menarik napas panjang dan
beranjak dari duduknya
“aku mau pulang” kata Dita pada Rafael tanpa menoleh,
hanya berdiri disampingnya
“ok, apa perlu kita kedokter?”tanya Rafael dengan
mebut, raut mukanya benar-benar khawatir melihat perubahan Dita
"nggak usah gue nggak sakit" jawab Dita pelan dan tak berselera
“Ryan perintahkan security untuk tidak membiarkan Cindy
masuk kedalam kantor, sekalipun itu area parker” kata Rafael yang melalui
telpon selularnya pada Ryan.
“Dita, ada apa? Apa kamu sakit?” tanya Sean yang juga
langsung menghampirinya, Dita hanya menggelangkan kepala
“Sean bisakah aku meminta tolong untuk meminta orang
yang dulu menggantikan aku mengajar privat itu menggantikanku beberapa
pertemuan seperti waktu itu?” kata Dita meminta pada Sean
“tentu, kalau kamu sakit sebaiknya kamu beristirahat
saja” kata Sean yang menatap Dita mencari ada apa dengan Dita yang tiba-tiba
benar-benar seperti tidak berselera bahkan untuk bertemu orang dia juga
terlihat pucat, Dita pun berjalan yang kemudian diikuti Rafael yang meraih
tangan Dita dan mengantrakannya pulang
Setiba di apartemnnya Dita pun tak kunjung berkata
sepata kata pun dia langsung masuk kedalam kamar yang biasa dia tempati.
“Dita saya membuatkanmu makan malam, ayo keluarlah”
kata Rafael, dia terlihat begitu cemas karena tidak biasanya Dita mengunci
pintu kamarnya. Didalam kamar Dita duduk didepan nakas dan bersandar pada
ranjangnya, duduk dengan merangkul lututnya benaknya bertanya-tanya dan menduga
“apakah setelah ini mami, papi akan membuangku,
bukankah mereka ingin aku menikahi anaknya karena tidak ingin The Deveraux jatuh”
“lalu kenapa, kenapa ada istri lain selain aku, apa
salah jika aku berharap hanya aku istrinya”
“dan jika begitu,sudah berapa lama mereka menikah”
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu membuat Dita
meneteskan air mata, disekanya air mata itu, tak selang berapa lama dia pun
__ADS_1
tertidur