
“dua bulan ini ikatan kita tidak sangat kuat, karena itu aku datang menemuimu untuk membuat kamu sengsara” katanya lagi dengan tertawa jahat, tertawa yang penuh kepuasan. Dita yang terdiam dan dipenuhi kesal dan takut dimatanya itu membuat Intan takut dan cemas, pelan-pelan Dita menurunkan tangannya yang menggenggam telponnya itu, telpon sudah terputus, orang yang dilihatnya pun sudah berlalu.
“ta, Dita, telpon dari siapa ta?” Tanya Intan sembari meletakkan tangannya di pundak Dita
“bu-bukan siapa-siapa” Suara Dita serak dan terbata menjawab pertanyaan Intan. Tetapi Intan tahu bahwa pasti ada sesuatu, dan berusaha menenangkan sahabatnya. Intan pun mengantar Dita pulang
sebelum kembali kekantornya, Intan juga bingung kenapa dia meminta untuk mengantar kerumahnya dan bilang ingin bermalam.
“gue yakin ada sesuatu, nggak mungkin Dita minta pulang kerumah gue kalau nggak ada apa-apa” gerutu Intan saat mengemudikan mobilnya menuju kantor.
“tapi kenapa dia nggak mau cerita sama gue” suara Intan sedikit kecewa, dia berpikir sahabatnya itu tidak percaya padanya, tetapi dia menepis pemikiran itu, dia teringat semenjak ketemu lagi dengannya sahabatanya seolah mendapatkan keluarganya lagi, akhirnya Intan memutuskan menelpon Firman
“ah coba telpon papa siapa tahu pap bisa membantu”kata Intan pada dirinya sendiri, kemudian diraihnya telpon pintar yang ada disakunya, mobil sudah berhenti di area parkir Deveraux Intan pun segera cepat-cepat menelpon papanya, Dia merasa lega setelah mendengar kalau Dita baik-baik saja dan sudah ngobrol dengan papanya.
“tan dicari Mr Nicholas tuh” kata teman sekantornya
“ha mau ngapain” dengan muka terkejutnya dia melihat pada temannya yang menyampaikan bossnya itu, Intan pun beranjak dan menuju ruang kerja Nicholas
“oh baby kamu lama sekali” kata Cindy pada Rafael yang sejak lama keluar ruangan dan meminta Cindy menunggu, Cindy yang duduk di sofa yang berada diruangan itupun beranjak mendekati Rafael yang berdiri didepan meja kerjanya, dia meletakkan berkas didepan kursi kekuasannya dan duduk dibibir meja. Cindy yang mendekatinya itu mulai mengalungkan tangannya dileher Rafel dengan manja dan senyum manis yang sengaja diciptakan untuk membuat lelaki tampan nan kaya raya itu hanya beralih melihatnya saja, Rafael pun mengalungkan kedua tangannya diantar pinggang Cindy dan mendekatkan tatapanya pada wanita yang selalu datang untuk menanti sentuhannya itu, semakin dekat dan akhirnya mencium bibir Cindy. Dilumatnya bibir yang berlipstik merah yang dia tahu sengaja untuk menggodanya, dia memberikan kemenangan kepada gadis
yang ada didekapnnya itu. Ciuman yang berlangsng selama lima menit membuat muka Cindy memerah, ada senyum tipis yang menandakan kemenangannya menaklukan hati Rafael hingga dia lupa niat kedatangnnya, dia pun berpamitan setelah diminta Rafael untuk meninggalkan kantor dengan dijanjikan akan ditelpon begitu urusannya selesai.
Intan yang baru saja keluar dari ruang Nicholas itu langsng bergegas menuju memanggil beberapa OB dan meminta untuk membersihkan Ruangan, Ruangan yang berbeda, terdapat banyak buku disana, dirapikannya buku-buku yang ada di ruangan itu, didesain kembali ruangan itu dengan ciri khas yang tenang tetapi mengandung unsur tajam.
“Ryan apa kau sudah dibandara” suara Nicholas melalui telpon selulernya
“sudah Tuan, sebentar lagi Tuan Sean akan segera tiba” jawab Ryan.
Ryan adalah orang kepercayaan Nicholas, keamanan sekaligus mata Nicholas diluar. Tak hanya itu Ryan adalah tangan kanan The Deveraux, lelaki itu mengabdikan hidupnya untuk keluarga Deveraux karena telah menyelamatkan nyawanya sekaligus menampung hidupnya hingga ia bisa bersekolah dan mengikuti pendidikan militer dan agent rahasia, kemampuannya mencari orang tak diragukan. Dia dari seorang anak yang di asingkan karena wabah yang melanda dipedesaan terpencil di tempat kelahirannya, dia diambil oleh Deveraux karena dia satu-satunya anak 8 tahun yang masih bertahan kala itu, Deveraux yang menyelamatkan anak kecil itu akhirnya memberikan pendidikan serta kehidupan layak, dan memerintahkannya untuk belajar dengan baik, Ryan yang memiliki kecerdasan itu mempelajari computer pemograman serta bahasa, meski yang sebenarnya Deveraux berharap Ryan akan memiliki kehidupannya sendiri itu tidak menyangka bahwa anak kecil yang dia bawa dari
sebuah pedesaan yang terisolasi dari wabah itu mengikutinya, setelah menyelesaikan pendidikanya dengan baikk dia menjalani pendidikan militer dan pelatihan menjadi agen rahasia pemerintah, dia mendapatkan semuanya dan kembali pada keluarga Deveraux
“hello Ryan” sapa Sean yang sudah keluar dari pintu keluar bandara, seraya menengadahkan kedua tengannya seolah ingin menyambut pelukan Ryan
“hello Sir” jawab Ryan dan kemudian memeluk Sean sejenak, mereka beranjak dari tempatnya dan mobil pun meluncur yang akan langsung menuju kantor Deveraux
“bagaiman keadaan disini? Apa semua baik-baik saja?” Tanya Sean pada Ryan yang fokus pada kemudi
“semua terkendali tuan” jawab Ryan singkat
“bagaimana dengan wanita ****** yang dikirim Subrata?” Tanya Sean lagi kali ini dengan wajah yang serius
“belum menunjukkan apa-apa tuan sepertinya dia masih bermain-main” jawab Ryan
“tapi tuan ada sedikit masalah” Ryan menambahkan dengan nada serius seolah tak ada jalan keluar dari masalah yang akan dia sampaikan
“apa itu?” tanya Sean, dia pun mengerutkan dahinya berharap ini bukan masalah yang serius
“nona Dita, seseorang mengganggu nona Dita” jawab Sean yang masih fokus dengan kemudinya
“lakukan tindakan jika dia dalam bahaya. Lalu bagaimana dengan adikku?” Sean memberi perintah sekaligus bertanya mengenai adiknya.
“Tuan muda hanya bermain-main saja, sedangkan dengan Marrisa tak lagi dihiraukannya sudah sejak lama sejak setelah kecelakaan” jawab Ryan dengan lancar mengenai informasinya
“siapa yang berani mengganggu Dita?” Tanya Sean dengan tatapan garang keaeah Ryan yang tidak melihat kepadanya, dia hanya sesekali melirik melalui kaca spion
“informasi saya masih kurang lengkap tuan, sore ini akan ada di meja anda” jawab Ryan dengan yakin
“baiklah, lakukan dengan baik, sekarang aku ingin melihat peri kecilku, dimana Dita?” sean menambahkan dnegan senyum tipis dan antusias
__ADS_1
“hari ini dia di taman hiburan” jawab Ryan singkat dan tahu maksud tuannya itu, dia pun membawa mobil yang
dikendarainya melaju kearah taman hiburan. Sean yang duduk dibangku belakang memperhatikan ponsel pintarnya dengan seksama, dia melihat setiap photo yang ada di akun media social Dita, cukup mudah bagi Sean untuk membuka password akun gadis itu. Dilihatnya setiap photo
“bahkan dia punya selera yang bagus dalam mengabadikan setiap momemnnya” guman Sean dengan senyum tipis dibibirnya, senyum kebanggan yang masih didengar oleh Ryan
“Dita aku akan membantumu, dunia akan melihat semua yang kau ungkapkan di akun media socialmu, semua akan tahu bahwa kamulah yang benar, yang kau katakana beberapa tahun yang lalu, bahwa ayahmu Uncle Hendra tidak melakukan apa yang dituduhkan dia bersih”, suara Sean dalam hati, matanya dipenuhi dengan amarah jika mengingat saat itu.
“Tuan sudah sampai” kata Ryan yang menoleh kearah Sean
“hmm baiklah” kata Sean yang kemudian turun dari mobil hitamnya, dia menarik napas panjang, dia tak sabar ingin
bertemu dengan Dita, gadis yang hanya bisa dilihatnya dari photo sejak bertahun-tahun kini akan ditemuinya secara langsung.
tak butuh waktu lama Sean sudah menemukan wahana dimana Dita berada, dia pun memperhatikan Dita dari jauh dengan tersenyum sendiri. Dita yang tak menyadari keberadaan sean di terus asik dengan permainan lempar bola,
dia berhenti ketoka dirasa hingga bola kesepuluh dia tidak bisa menjatuhkan semua botol yang ada dia pun beralih, berjalan dengan menoleh kebelakang membuat Dita terjatuh karena beberapa kerumunan orang yang tiba-tiba
menabraknya membuat dia tidak seimbang dan jatuh. Sean yang melihat berlari menghampiri Dita
“hey are you ok?” Tanya Sean, sementara Dita meringis kesakitan, dia merasa sepertinya lututnya terbentur hingga
terluka, Dita yang melihat pada Sean dia tertegun melihat paras tampan Sean.
“gue nggak mimpi kan oh zainudin tampan sekali?” kata Dita dalam hatinya. Mata biru Sean membuatnya terdiam,
begitu damai tatapanya. Sadar dia masih di posisinya saat terjatuh dia langsung menutup mata dan menggelengkan kepalanya berusaha menyadarkan dirinya
“apa kamu baik-baik saja?” Tanya Sean lagi yang langsung membuat bibir Dita monyong dan menjawab Sean dengan nada setengah sewot
“baik baik saja dari mana, jatuh yang ada sakit Mr” kata Dita dengan sedikit manja dan menatap pada sean lalu
“ya ela, bukannya bantuin bediri malah ngetawain, kalau lutut gue nggak sakit udah gue tendang loe” kata hati Dita dengan wajah kesal yang ditunjukkanya pada Sean. Dita pun berusaha berdiri tapi dia tidak sanggup karena lutunya sangat sakit
“ayo, saya bantu berdiri” kata Sean menawarkan dan memberikankedua telapak tangannya pada Dita yang langsung disambut begitu saja oleh Dita. Sean membatu Dita berjalan menuju sebuah bangku yang tak jauh dari mereka, Sean menuntun Dita sepeti mengajari bayi yang sedang belajar berjalan, Senyum sean tak henti-hentinya menikamti moment dia membantu Dita berjalan dan Dita pun duduk di kursi, sambil mengelus lututnya itu berusaha menghilangkan rasa sakit, Sean yang sudah duduk disebelah Dita dia hanya tesenyum lebar dan menggelengkan kepalanya keheranan.
“Mr, are you ok?” Tanya Dita dengan memandang Sean penasaran karena Sean terus tersenyum
“yes I am ok” jawab Sean singkat dan menganggukkan kepala.
“Sean” kata Sean memperkenalkan diri, dia mengulurkan tangannya mengajak Dita untuk berjabat tangan.
“Dita” jawab Dita Singkat.
“mau berapa lama disini?” Tanya Sean sambil menapat Dita
“sampek sore” jawab Dita santai dan datar, dia masih mengusap lututnya
“well saya harus pergi karena masih ada urusan, supir saya akan kembali dan mengantarkanmu kemana saja kau mau” kata Sean sambil menunjuk pada mobil yang terparkir agak jauh, dia pun pergi meninggalkan Dita
“ah sok pedulu, kenal aja baru” gerutu Dita yang masih berusaha menghilangkan rasa sakit dilututnya
“masih jam dua, coba gue tunggu balik gak itu supir” guman Dita dengan senyum jail meski ada keraguan disana sembari melihat jam yang melingkar ditangannya.
Mobil hitam yang membawa Sean sudah sampai di halaman kantor Deveraux, para karyawan di lobi menyambut kedatangan Sean, dia hanya tersenyum pada para karyawan, dia berjalan kearah lift dan menuju keruang kantornya yang sudah siap, dengan cepat Intan menyiapkan ruangan untuk Sean. Nampak Rafael sudah di dalam ruangan baru Sean memeriksa beberapa buku yang tertata rapi di rak yang bersandar pada dinding.
“nice to see you in my new office” suara Sean yang membuat Rafael membalikkan badannya, dia tersenyum kepada Sean yang sudah membuka tangannya berharap segera memeluk Rafael.
“how are you handsome?” Tanya Sean pada Rafael
__ADS_1
“I am fine” seperti yang kamu lihat” jelas Rafael yang sudah melepaskan pelukan Sean, dia membuka tangannya dan memberitahukan bahwa dia baik-baik saja.
“saya harus menemui papi” kata Sean setelah melihat ruangan yang dia ingin didekorasi sesuai keinginannya, dia puas dengan hasilnya. Dia pun menuju ruangan Nicholas, tapi tak menemukan ayahnya disana, segera dia berbalik dan sudah melihat ayahnya berdiri dipintu dengan tangan terbuka, dia merindukan putranya itu. Mereka berbincang-bincang serius hingga satu jam, pintu terkunci dari dalam bahkan ruangan itu mengaktifkan
system kedap suara.
“Sean we must tell her” kata Nicholas di penghujung dengan tatapan tajam
“Sure Dad, but not now, we need to wait” kata Sean menjelaskan
“Dita need to know everything” kata Nicholas memaksa
“not easy bring her back Dad Dita mungkin terlihat kuat tapi hatinya rapuh, dia memendam semua sendiri, rasa
trauma dan sakit” kata Sean menjelaskan
“ok you can manage all I will talk to Febi” kata Nicholas dengan mengangguk memahami maksud anaknya. Sean pun beranjak dan segera melangkahkan kakinya hendak keluar ruangan
“and I miss your wife so much” katanya dengan tertawa bahagia, dia hendak menemui Febi. Sebelum pergi dia menemui Rafael
“may I come in?” Tanya Sean
“ya masuklah” jawab Rafael santai yang duduk di kursi kerjanya
“seberapa jauh hubunganmu dengan Cindy?” Tanya Sean pada Rafael
“just for fun”jawab Rafael santai
“I hope you not fall in love with here” kata Sean seolah mengancam dengan tatapan tajam Pada Rafael, pernyataan itu membuat Rafael tertawa
“no, saya merasa dia tidak tulus, saya hanya bermain-main saja” kata Rafael menambahkan dengan santai dan masih tersisnya senyum dibibirnya.
“berhati-hatilah dengannya” kata Sean mengingatkan lelaki yang tak kalah tampan darinya itu yang sangat dia sayangi. Sean pun meninggalkan ruangan dan bergegas pulang menuju rumah dimana ayah dan
ibunya tinggal.
“my darling my cute boy” kata Febi menyambut putranya diciumnya pipi anak sulungnya itu
“I miss you mom” kata Sean yang kemudian merangkul Febi dan berjalan ke dalam rumah
“kamu tinggal disini? Atau memilih apartemen seperti adikmu?” tanay Febi sambil melihat anaknya yang tengah
berpikir dengan pertanyaanya
“saya tinggal disini” kata Sean menghibur dan mereka duduk di sebuah meja di taman rumah besar keluarga
Deveraux. Sean menceritakan banyak hal pada Febi, anak dan ibu berbicara panjang lebar dan sesekali diiringi tawa mereka. Terlihat tak menampakkan kegarangan keluarga itu.
“sebentar mami telpon adik kamu” kata Febi sambil menekan ponsel pintarnya dan meletakkannya ditelinga
“halo el, apa kamu hari ini tidak keberatan dinner dirumah nak?” Tanya Febi
“el” guman Sean pelan yang tak terdengar ibunya diiringi dengan senyum geli ketika mendengar maminya memanggil adiknya seperti itu.
“no mam, saya sedang tidak berselera, saya pulang ke apartemen saja” jawab yang diseberang terlpon dan kemudian mematikan telponnya.
“ini anak, maminya belum selesai ngomong sudah dimatikan” gerutunya dengan memandangi layar ponselnya, Sean tertawa kecil geli dan lucu melihat maminya ngomong sediri
“biarkan saja, mungkin dia sedang berpikir, karena kami baru saja bicara,dan lagi dia bukan anak kecil lagi mami masih memanggilnya El” kata Sean menjelaskan dengan masih tersenyum lebar, Febi hanya menghela napas pasrah
__ADS_1