Untuk istriku

Untuk istriku
Rahasia Dita Terkuak


__ADS_3

Minggu pagi Dita sudah berada dirumah Intan, mereka berbincang ringan sambil menikmati


camilan. Pertemuannya kembali dengan Intan membuat dia seperti memiliki


keluarga,selama ini dia menghindar dari orang-orang yang dia kenal karena takut


mereka akan membencinya seperti pamannya. Ternyata pendapat Dita selama ini


salah, masih ada beberpa orang yang benar-benar mencitainya seperti keluarga,


dia benar-benar merasakan hidup ditengah tengah keluarga. Makan siang telah


usai, Dita dan Intan memutuskan untuk jalan-jalan ke salah satu mall sekedar


cuci mata.


Mereka berputar-putar hingga 2 jam tanpa mendapatkan satu barang pun untuk dibeli.


Akhirnya mereka memutuskan berhenti disebuah toko baju yang sedikit luas, ada


casual, formal dan dress didalamnya, mereka memutuskan masuk untuk membeli


sesuatu.


“tan lihat ini deh, ini bagus buat loe” kata Dita sambil menunjukkan sebuah dress


simple yang cocok untuk acara formal, Intan pun mendekat pada Dita, yang


kemudian ditempelkannya dress itu pada Intan.


“cantik nggak gue?” Tanya Intan dengan genitnya.


“iya cantik” jawab Dita puas melihat sahabatnya suka dengan pilihannya. Intan pun


memilihkan sebuah kaos casual untuk Dita. Setelah mereka menghabiskan waktu


berputar-putar dan keluar masuk toko dan hanya beli satu ptong baju di sebuah


toko, mereka pun memutuskan makan disebuah café.


“Dita,hari ini gue yang traktir loe makan, karena gue udah dapat bonus dari kerjaan


yang loe bantuin, jadi loe gak boleh nolak ya hayati cantik” kata Intan


menjelaskan sekaligus menggoda sahabatnya itu.


“ya iya lah loe yang traktir gue, kalau gue yang traktir loe disini bisa-bisa gue


gak makan tiga hari” jawab Dita yang ikuti gelak tawanya.


“et dah, gini amat nasib loe tak” dengan wajah lucunya Intan menanggapi kalimat sahabatnya yang membuat lawan bicaranya itu terkekeh.


“bentar tlp” kata Intan yang kemudian meraih telpon pintarnya dan berbicara pada


seseorang diseberang telpon.


“tak sorry  gue tinggal bentar, cowok gue sama


nyokapnya lagi ada disekitar sini, nggak apa-apa ya?” kata Intan menjelaskan


sekaligus meminta izin yang dijawab anggukan  oleh Dita. Sepeninggalan Intan Dita pun meraih ponselnya dan mengambil photo selfie sejenak kemudian membagikan photonya di social media, Dia hanya


tersenyum tipis, senyum yang tak terlihat senang itu selalu tersemat ketika dia


melihat Photo photo di social medianya, dia tidak pernah membagikan kepada


siapapun setiap moment yang dia alami, dia hanya membagikannya untuk dirinya sendiri.


“Dita” sapa seseorang ketika dia sedang asik dengan ponselnya yang langsung


mendongakkan kepalanya melihat siapa yang mengenalnya


“mas Fajar, disini juga, sama siapa? Jawab Dita yang langsung berdiri dari duduknya


“sama mami, cuman nggak tahu kemana mami,kamu sendiri? Jawab Fajar sekaligus bertanya


kepada Dita, dia juga menyebarkan pandangannya keseluruh arah mencari maminya.


“enggak mas, tadi sama Intan” jawab Dita singkat yang ikut melihat kesana kemari


mencari sahabatnya.


“kayaknya itu mami, bentar ya” kata Fajar kemudian meninggalkan Dita, dia pun duduk lagi


ditempatnya semula.


“hello zubaedah, lama ya” Intan yang kembali menghampirinya dengan gaya centilnya


“udah?” Tanya Dita pada Intan yang sudah diposisi duduknya, dijawab anggukan dengan


senyum lebar. Dari kejauhan Fajar berjalan kearahnya dengan seorang wanita


paruh baya.


“Oh itu maminya, cantik” guman Dita dalam hati


“Intan sayang, mami sama pangeran mami gabung boleh ya” kata maminya Fajar pada Dita


dan Intan dengan senyuman tipis


“tante mau makan juga?” Tanya Intan yang membantu ibu dari kekasihnya itu menarik


kursi


“silahkan tante” kata Dita singkat dengan melihat pada wanita yang datang bersama Fajar


itu


“kamu sudah makan?” Tanya mami Fajar pada Intan, dan hanya dijawab anggukan itu


“oh ya mi, ini Dita sahabatnya Intan” kata Fajar memperkenalkan sahabat kekasihnya


itu


“halo Dita, saya tante sofia” kata mamanya fajar dengan mengulurkan tangan, yang


disambut Dita tak lupa dia menyebutkan namanya dan tersenyum tipis pada sofia,


Intan hanya bengong heran melihat pemandangan didepannya.


“kok kalian udah kenal” katanya dengan heran dan raut muka penasaran


“kita udah ketemu dikantor loe kapan hari” jawab Dita dengan senyum lebar penuh


kemenangan, Intan lupa untuk mengenalkan kekasihnya sesuai kesepakatan mereka


karena beberapa pekerjaan yang sempat membuatnya ketakutan akan benar-benar


dipecat oleh atasannya.


“et dah bambannk gue ketinggalan info” gerutu Intan dengan menggerakkan bibirnya


kekanan dan kekiri, membuat sofia terkekeh, mereka pun ngobrol hingga beberapa


saat.


“oh iya Dita tinggal dimana?” Tanya sofia yang masih menikmati makananya


“saya tinggal dikampung lebar tante” jawab Dita sopan.


“orang tua Dita kerja dimana” Tanya sofia lagi yang langsung membuat raut muka Dita


berubah pucat, ketakutan besar melanda pikirannya

__ADS_1


“apa tante sofia akan tetep baik sama gue


kalau gue bilang yang sebenarnya” guman Dita dalam hati


“atau tante sofia juga ikut mengutuk


dengan tuduhan yang dituduhkan orang-orang pada ayah” kata hati Dita berkecamuk dan merasa cemas


“ah nggak sebaiknya gue pergi aja,


gue nggak mau mendengar hinaan lagi, ayah nggak kmelakukan semua itu”


Melihat


kebungakaman Dita dengan raut wajah yang sangat terlihat tidak nyaman itu Intan


menyadari kegelisahan Dita. Dia langsung memegang tangan Dita yang mencengkram


kursi hingga sofia tak melihatnya.


“Dita


sebatang kara tante, sejak SMA dia sudah hidup sendiri tanpa siapa-siapa” kata


Intan menjelaskan dengan wajah cemas akan perasaan yang berkecamuk didalam hati


sahabatnya


“duh maafin tante sayang, tante nggak tahu” kata sofia yang menyesali pertanyaanya.


Dia pun mengulurkan tangannya mengusap pipi Dita yang tersenyum dengan paksa.


“set dah ni hp tulit tulit mulu, hari minggu nih hp ah hayati terusik” seloroh Intan


mengalihkan perhatian yang kebetulan ponsel pintarnya berbunyi terdapat pesan


singkat yang masuk


“siapa sayang?” Tanya Fajar


“Mr Nicholas, minta kamu besok siang datang ke kantor ta” kata Intan meberitahukan.


“hah! Kagak salah? Karyawannya bukan, ngapain gue kesana” Tanya Dita heran dan penuh


tanda Tanya.


“mungkin butuh penerjemah, kan Dita pinter Bahasa asing” kata sofia menebak yang membuat


Dita sedikit bernapas lega


Mungkin tante sofia benar, nggak ada salahnya


aku datang, aku juga siang tidak ada jam ngajar” guman Dita dalam hati


“Dateng ya, gue jemput” kata Intan dengan muka manja sambil melihat pada Dita yang


sepertinya masih ada keraguan yang menggagunya


“gue tunggu di taman somay” tambahnya lagi kali ini tak hanya wajah manjanya tapi


juga dengan suara manja yang membuat Fajar tergelak mendengar kata taman somay


“hmm taman somay? Dimana itu? Tanya sofia dengan raut muka keheranan. Mendengar


jawaban Intan sofia pun terkekeh.


***


“ah pain” Rafael meringis menahan sakit ketika tak sengaja tangannya menyenggol


keningnya yang masih terdapat perban.


“Ryan, disini, what he doing here” guman Rafael yang melihat Ryan sekilas dari dalam


ruang kantornya, Rafael bisa melihat jelas dia membawa sebuah berkas dan pasti


“I will find out later” katanya pada dirinya sendiri yang kemudian menyibukkan


dirinya dengan beberpa berkas didepannya. Sementara Ryan sudah diruangan


Nicholas


“areyou sure” Tanya Nicholas pada Ryan dengan menunjuk mengankat dokumen yang


diberikan oleh Ryan kepadanya.


“yes Sir” jawab Ryan tegas dan yakin


“semua yang anda butuhkan ada disana, bagaimana dia melanjutkan sekolah, kuliah dan


menyembunyikan diri dari orang-orang yang mengenalnya.” Kata Ryan melanjutkan


informasinya yang membuat Nicholas mengagguk.


“Sir still have one problem” kata Ryan lagi, pria itu berdiri tegap seperti seorang


tentara. Orang suruhan Nicholas sekaligus kepala keamanan kantornya itu


terkenal bengis dan mengetahui informasi siapa saja dalam waktu singkat dia


juga tangan kanan Nicholas.


“what is that” Tanya Nicholas dengan cemas


“Cindy, anak Anton Subrata menggunakan anaknya untuk menopang kelangsungan perusahannya


melirik kepada putra anda” kata Ryan dengan lancar dan tegas. Mendengar itu


Nicholas menghela napas.


“awasi saja putrinya, sekarang kau boleh pergi” kata Nicholas memerintah Ryan.


“baik Sir” kata Ryan yang kemudian melangkan meninggalkan ruangan Nicholas. Sedangkan


Nicholas memeriksa halaman demi halaman dokumen yang didapatnya dari Ryan.


“Ditaaaaa” suara Intan yang berlari  menuju arahnya


dan memeluknya


“lihat gue cantik kan” kata Intan lagi yang menggerakkan badannya menunjukkan baju


yang dikenakannya


“cantik banget” jawab Dita memuji temannya itu, yang disambut peluk oleh Intan


“kita berangkat sekarang” ajak Dita pada Intan


“kamu yakin ta?” Tanya Intan tidak percaya dengan ajakan sahabatnya, yang dijawab


anggukan dan senyum oleh Dita, mobil pun melaju menuju kantor Intan.


Orang-orang kantor yang keluar makan siang pun sudah berangsur kembali satu


persatu.


Dita mengikuti langkah Intan menuju ruangan Nicholas.


“permisi Mr, Dita sudah disini” kata Intan meminta izin untuk masuk kedalam ruangan


Nicholas yang langsung keduanya dipersilahkan masuk, Nicholas yang sedang duduk


dikursinya itu berdiri dan bergerak kedepan meja dan duduk dibibir meja,

__ADS_1


tangannya meraih sebuah map yang ada di depan kursi kerjanya


“good afternoon Sir” kata Dita memberi salam, disambut senyum danggukan oleh


Nicholas, Intan berdiri mematung didekat pintu dan memperhatikan keduanya yang


entah ingin mebicarakan apa.


“Dita” suara Nicholas membaca berkas ditangannya yang kemudian melihat kearah Dita


yang ada dihadapannya


“Dita Ayura Mahendra” Suara Nicholas yang menyebutkan nama lengkapnya seketika membuat


sekujur tubuh Dita berketingat dingin, kakinya mulai lemas, tangannya


menggengam kencang


“lulusan terbaik sarjana komunikasi bisnis, bersembunyi dari orang-orang yang


mengenalnya” kata Nicholas membaca berkas yang ada ditangannya itu. Intan yang


mendengar pernyataan atasannya tentang Dita sahabatnya, bagaimana juga


atasannya bisa tahu mengenai Dita, Intan mulai cemas pandangannya bergantian menatap Dita dan Nicholas.


“putri Evan Mahendra pebisnis sukses yang meninggal karena serangan jantung sebelum


ditangkap polisi, menggelapkan uang dua perusahaan, menghabisi rekan bisnisnya,


tak cukup itu saja keluarga rekan bisnisnya juga dibantai” kata Nicholas lagi yang


membaca berkas ditangannya itu kemudian melihat kepada Dita yang sudah pucat


pasih yang meskipun begitu tersirat kebencian dan dendam dalam pucatnya,


matanya tertutup yang tanpa disadarinya meneteskan air mata


“dia juga dituduh menghamili dua wanita, satu istri sahabatnya dan satu lagi asistennya"


kalimat Nicholas lagi yang dengan menatap pada Dita.


“apa ini, jadi manggil gue kesini cuma mengingatkan tragedi itu”kata Dita dalam


hatinya, dia menyesal menyanggupi untuk datang,


Bodoh banget gue, kenapa gue datang, ini terjadi lagi Dita, setelah setelah om loe sendiri kini orang dari negera


asing pun menyakiti loe, dan loe tahu itu semua nggak bener, ayah loe nggak


melakukan semua itu" suara hati Dita dengan penuh kemarahan


“Dita Ayura Mahendra, berpindah-pindah dan mengasingkan diri terlebih setelah


lulus dari perguruan tinggi” Nicholas melanjutkan kata-katanya lagi, Intan yang


mendengar itu hanya bisa melihat sahabatnya menahan sakit didadanya itu memasang


wajah melas dia berharap atasannya segera menghentikan kalimatnya tapi itu tudak


terjadi. Dita yang tak lagi mendengar kalimat-kalimat Nicholas berdiri mematung


tak merasakan apa-apa kakinya yang tak kuat menahan beban dirinya itu pun tak


dirasakannya, pandangannya buram dan kemudian menjadi gelap. Nicholas berdiri


dari bibir meja dan hendak duduk dikursinya


“Ditaaaa” teriak Intan seketika melihat sahabatnya ambruk di pun berlari menghampiri


sabahatnya yang tak sadarkan diri, Nicholas langsung memutar badannya dan


terkejut melihat Dita pingsan diruang kerjanya


“Ditaaaa bangun ta, sorry harusnya gue gak usah nyuruh loe datang” suara Intan penuh


penyesalan, Nicholas yang sudah berlutut disebelah Intan itu menepuk pipi Dita


berusaha menyadarkan Dita


“Mr jahat jahat banget sih, jadi manggil Dita cuma buat ngungkit masa lalunya gitu!”


Intan yang tak sadar membentak dengan terisak menghawatirkan sahabatnya


“I did’nt know this would happen” suara Nicholas panik, dia tidak menyangka ada


kerapuhan dalam batin Dita hingga tak sadarkan diri tatkala seseorang


mengingatkan nasibnya yang menimpanya dimasa lalu


“call someone hurry up” kata Nicholas memerintah sementara Intan masih menggerutu dan


berusaha mmebangunkan Dita, dia tak memperdulikan perintah Nicholas


“I damn sure someone call her name from here” Rafael yang berada diluar ruangan


Nicholas mendengar teriakan Intan dia pun langsung membuka pintu bersamaan Intan


dari dalam membuat Intan terkejut bukan kepalang.


“What happen?” Tanya Rafael memperhatikan Intan yang panic dan kemudian melihat kearah Dita


yang pingsan, terlihat Nicholas yang panik mencoba menyadarkan Dita dengan


menepuk pipinya sesekali dia menggosok telapak tangan Dita tak henti


“oh God, Dita” Rafael yang mengenali Dita langsung berlari dan tanpa memperdulikan


Intan dan Nicholas dia menggendong Dita dibaringkannya disofa yang ada didalam


ruangan Nicholas.


“Dita wake up” suara Rafael mencoba membangunkan Dita, terlihat kecemasan menyelimuti


wajah Rafael. Tak henti hentinya dia mencoba membangunkan Dita. Dalam suasana


itu Nicholas yang masih panik melihat sikap Rafael yang menghawatirkan Dita


itu membuatnya mengerutkan dahi, Intan segera menghampiri Dita yang terbaring


di sofa di damping Rafael membawa minyak kayu putih, berharap sahabatnya cepat


sadar dengan itu. Dua puluh menit Dita tak sadarkan diri membuat Rafael semakin


panik.


“Mr please I hope you don’t mind to go from here” kata Intan sambil melipat


tangannya mengahadap kearah Nicholas


“what?” Tanya Nicholas heran dan tidak mengerti maksud Intan


“I know well my best friend Mr, saya harap anda tidak menampakkan diri dulu saat


dia sadar Mr” lagi suara Intan memohon pada Nicholas dan Nicholas pun


memahaminya, dia keluar dari ruangan sementara beberapa karyawan berkumpul di


pintu melihat apa yang terjadi.


“kenapa kalian disini?” Tanya Nicholas yang keluar dari ruangannya  sambil menatap satu persatu karyawan yang


berkumpul didepan ruangnnya yang mematung melihat keluar

__ADS_1


“kalian mau saya pecat?” suara Nicholas dengan nada tinggi membuat karyawannya


tersadar dan mereka meniggalkan pintu ruangan dimana mereka berkumpul.


__ADS_2