
Setelah menikmati keindahan Villa di bukit keluarga Deveraux, Dita dan Rafael memutuskan pulang ke kediaman Nicholas. Disana Dita sangat merasakan perubahan sikap mami mertuanya, Rafael yang memperhatikannya pun mencoba menenengkan Dita, dan berusaha mencari tahu sebab apa maminya mulai mengacuhkan Dita
“mami, apa yang terjadi?” tanya Rafael
“ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Febi balik
“mami mengacuhkan Dita, ini aneh mami, bukankah mami yang menginginkan Dita menjadi menantu mami?” tanya Rafeal dengan serius, Febi menarik dapas panjang seraya menatap anak bungsunya itu
“tanya pada istrimu” kata Febi datar
“Dita menceritakan semua, dan saya rasa itu tidak ada yang salah” jawab Rafael dengan yakin
“el, pernahkah kamu tanya istrimu untuk memiliki anak darimu?” tanya Febi dengan serius serta tatapan tajam pada Rafael, pernyataan Febi itu membuat Rafael tertawa namun pelan
“mami itu akan ada waktunya lagi pula saya tidak buru buru untuk segera punya anak” jawab Rafael santai
“el mami hanya tidak mau kamu merasa dikecewakan” kata Febi lagi kemudian dia berbalik dan meninggalkan Rafael, sementara Rafael yang tidak mengerti dengan kalimat Febi hanya ditanggapi dengan santai, dia tak memasukkanya kedalam hati, dia pun kembali kekamarnya dan mengobrol dengan itrinya sebelum tidur, di dalam pelukan Rafael yang hangat dia menceritakan semua yang belum dia ceritakan pada Rafael, juga perasaanya berada didalam rumahnya sejak maminya mengacuhkannya diceritaknnya kembali. Febi yang lewat didepan pintu kamar Rafael itu membuka pelan pelan, dia tak melihat Rafael maupun Dita di sofa pandangannya pun dialihkan ke tempat tidur, dia melihat anak dan menantunya terlelap dan berpelukan satu sama lain, dia pun menutup kembali pintu kamar anaknya pelan pelan.
“semoga yang aku lihat tidak salah, tapi Cindy bilang untuk uang dan kehidupan yang lebih baik Dita memainkan perasaan Rafael, ah apa mungkin Dita seperti itu?” guman Febi dalam hatinya sembari melangkah berlahan kembali kekamarnya
Rafael yang sengaja tinggal dirumah maminya bermaksud mendamaikan hati maminya namun tak berhasil itu akhirnya mengalah, dia membawa Dita kembali ke apartemenya.
“ini hari Rabu, dan aku tidak kekantor jangan lupa makan siangmu” kata Dita sembari membetulkan dasi Rafael yang hendak berangkat kekantor.
“tentu sayang, malam ini kita akan makan diluar, pulanglah lebih cepat” kata Rafael dengan meraih meraih tubuh istrinya dan melingkarkan kedua tangannya diantara pinggang istrinya.
“oh ya? Dimana?” tanya Dita penasaran sambil menatap Rafael
“kejutan” jawab Rafael lalu mencium pipi istrinya dan segera beragkat untuk kekantor, satu jam kemudian Dita bersiap untuk berangkat mengajar di taman bermain yang memanggilnya untuk mengajar, dia dikenal disana karena beberapa murid lesnya bersekolah dan bermain disana.
“non Dita ini langsung ke tempat mengajar?” tanya Yuda yang berada dibelakang kemudi
“iya bang, pelan nggak apa apa jam ngajarnya masih lama kok”jawab Dita
“baik non” jawab Yuda yang fokus dengan kemudinya itu, ketika hampir tiba di taman bermain, mobil mereka di hentikan oleh sebuah mobil yang dari dalam keluar empat orang dengan tampang garang, Dita merasa panik dia langsung meraih ponsel dalam tasnya dan bermaksud untuk menghubungi siapa saja yang dia pikirkan
“non Dita jangan keluar” kata Yuda tegas
“bang Yuda hati hati” kata Dita mengingatkan Yuda dengan wajah panik, melihat terjadi adu mulut Dita yang mencoba menghubungi Rafael itu semakin panik karena suaminya tak kunjung menerima panggilannya
“angkat telponya Rafael” kata Dita dengan wajah ketakutan, Dita mengenal salah satu tukang pukul yang menghadangnya, berkali kali mencoba menghubungi Rafael tapi tak mendapat respon dari Rafael, sementara diluar mobil Dita melihat Yuda berkelahi dengan empat orang yang menghadang mereka, sekuat tenaga Yuda berusaha menjauhkan empat orang itu dari mobil, akan tetapi satu dari empat orang itu berusaha membuka pintu dan memaksa Dita keluar dengan memecahkan kaca mobil yang ditumpangi Dita. Melihat itu Yuda langsung menarik orang yang mendekati mobil yang dikendarainya dan berrkelahi dengannya, Dita tak punya pilihan dan langsung keluar dari mobil dan berlari sesuai arahan Yuda dan terus berusaha menghubungi Rafael, dia juga berusaha menghubungi Sean namun sama tak mendapati jawaban, sama sekali tak ada yang mengangkat telpon darinya. Dita tertangkap oleh salah satu penjahat penjahat itu karena berontak penjahat itu memukul Dita hingga tersungkur dan terluka, telpon genggamnya yang masih ditangnnya itu menunjukkan satu nama yang tanpa pikir panjang Dita langsung mengubungi nomor itu,
“pak Bam, aah!” suara Dita berteriak dari seberang telpon ketika Bam mengangkat telpon pintarnya
“non Dita” suara pak Bam yang berada diruang Rapat bersama itu meski pelan membuat Sean dan beberapa staff lainnya itu melihat pada pak Bam yang sedang berdiri di samping pintu memantau rapat karena suasana hening sehingga suara pelan Bam itu terdengar
“Dita? Kenapa pak Bam?” tanya Sean dengan wajah penasaran serta mengerutkan dahinya
“maaf tuan Sean saya akan kembali nanti, Fajar tolong kamu catat semua hasil rapat dan letakkan di meja tuan Rafael” kata Pak Bam pada Fajar yang menjadi wakil Rafael didalam rapat, Fajar tak berkata apa apa hanya mengangguk, Bam langsung keluar dari ruangan rapat, Sean yang masih berdiri dengan penuh tanda tanya itu meraih ponselnya dan hendak menghubungi seseorang akan tetapi dia mendapati miscall lebih dari dua puluh kali dari Dita
“rapat selesai, tolong dijadwal ulang” kata Sean dengan suara tegas dan langsung keluar ruang Rapat mengejar Bam
“pak Bam, dimana Rafael?” tanya Sean yang sudah menghampiri pak Bam di depan lift
“sedang keluar bersama David tuan” jawab Bam dengan wajah yang penuh kecemasan, dia tahu jika sesuatu terjadi pada Dita maka dia yang akan repot membereskan semua urusan yang dilakukan oleh majikannya.
__ADS_1
“saya akan menghubungi David dan Ryan, pak Bam lakukan yang perlu dilakukan” kata Sean dengan suara yang tegas namun ada kecemasan didalamnya.
Yuda yang berkelahi dikeroyok empat orang itu jatuh terkapar lantaran salah seorang dari penjahat memukul kepalanya. Seorang lagi mengejar Dita yang berontak dan lolos dari sergapannya. Luka dikening Dita dan lebam pipinya lantaran pukulan dari para tukang pukul itu tak membuat Dita menyerah dia terus berusaha kabur dan bersembunyi tetapi nasib sial Dita tertangkap, penjahat itu memukul Dita hingga pingsan
“tuan Rafael saya berharap anda bisa memasok barang seminggu sekali karena suku cadang anda sangat bagus dan banyak pelanggan saya yang menyukainya” kata seorang pemilik bengkel besar yang menjadi client Rafael
“itu tidak masalah asalkan harga yang kami tawarkan diterima” jawab Rafael
“apa anda baik baik saja tuan?” tanya client Rafael yang memperhatikan Rafael sepertinya tidak nyaman
“tidak, saya baik baik saja” kata Rafael dengan tersenyum berusaha menyembunyikan kehawatiran yang tiba tiba menyerangnya
“Tuan ada kabar dari tuan Sean” kata David lalu berbisik pada Rafael dan tanpa permisi Rafael langsung keluar dari kantor clientnya itu
“maaf tuan jika tidak sopan tuan Rafael ada urusan mendadak yang mendesak” kata David pada klienya dan dia langsung berbalik meninggalkan ruangan mengejar Rafael, didalam mobilnya Rafael memeriksa ponselnya yang tertinggal itu ada panggilan tak terjawab hingga empat puluh delapan kali dari Dita
“sial! kenapa bisa ponselku tertinggal” suara Rafael geram dan marah bersatu, David berusaha menghubungi Yuda tetapi tak kunjung ada yang menjawabnya bahkan panggilan dari Rafael tak ada jawaban dari Yuda. David langsung membawa mobil yang dikendarainya menuju lokasi dimana Dita dihadang oleh penjahat, disana sudah ada Bam yang mengamankan mobil yang ditumpangi Dita, Bam juga menanyai warga sekitar apakah sudah ada yang menghubungi polisi
“tuan ponsel non Dita kami temukan agak jauh dari lokasi” kata Bam pada Rafael yang sudah lebih dulu tiba di tempat penculikan Dita
“bagaimana dengan Yuda?” tanya Rafael dengan tatapan yang sangat menyeramkan
“warga membawanya kerumah sakit terdekat satu jam yang lalu” kata Bam dengan yakin
“cari semuanya sebelum polisi” kata Rafael dengan suara yang terdengar seram serta tatapan yang penuh dengan amarah dan mematikan, dipandanginya ponsel Dita yang terdapat bercak darah itu dengan tatapan setan meski terdapat air mata yang tipis.
Yuda tiba tiba terbangun dari pingsanya, meski meringis kesakitan dia berusaha meraih ponselnya yang masih berada disakunya
“dari tadi berdering terus mas” kata suster yang merawatnya, tak banyak berpikir Yuda langsung menghubungi Rafael, tetapi Yuda mendengar nada dering ponsel milik Rafael didepan pintu
“maafkan saya tuan yang tidak bisa menjaga non Dita” kata Yuda menyesali kegagalanya
“bangunlah, ini bukan salahmu” kata Rafael tenang meski ada kemarahan didalamnya, dia membantu Yuda untuk berdiri dan meminta perawat meindahkannya ke ruang inap.
“apa kerja kalian hingga kecolongan! Bentak Nicholas pada beberapa orang yang ditugaskan mengawasi Dita, Nicholas terlihat sangat marah dan memukul salah satu dari para pengawal itu.
“maafkan kami tuan ini kesalahan kami” kata sesorang pengawal yang menerima pukulan
“tidak ada maaf, cari menantuku sekarang juga jangan kembali sebelum menantuku ditemukan!” bentak Nicholas yang membuat siapa saja gemetar ketakutan
Dua hari Dita disekap oleh penjahat yang membawanya itu, disana dia disiksa karena berusaha kabur, lebam sangat di pipi atas dan dibawah bibir Dita, lengan Dita yang mendapat pukulan dengan benda keras itu hingga megeluarkan darah
“halo Dita sayang” suara seseorang yang sangat dikenalnya
“Dimas, ternyata benar kamu” guman Dita dengan suara lemah
“ya sayang, maaf jika aku menyakitimu, ini pelajaran untuk orang yang menolak Dimas” kata Dimas sembari mencengkram pipi Dita yang membuat Dita merintih kesakitan, sementara Bam yang sudah mengetahui dimana Dita berangkat bersama Nicholas dan Rafael dan beberapa anak buah mereka, Sean meminta Ryan untuk mengumpulkan semua informasi siapa saja yang terlibat dalam penculikan Dita.
“Dimas lepasin gue” kata Dita yang lemah tak berdaya itu
“lepasin? Tidak bisa Dita, melepaskanmu pada suami kontrakmu itu? Jangan pikir aku tidak tahu” kata Dimas dengan penuh percaya diri membuat Dita yang masih bisa tertawa meski dalam keadaan yang
lemah
“bodoh, dari dulu tetap bodoh, dia bukan suami kontrak tetapi benar benar suamiku” jawab Dita dengan menatap Dimas penuh kebencian serta tawa cemooh pada dimas, mendengar tawa Dita yang merasa mengejeknya itu Dimas langsung memukul pipi Dita yang sudah lebam hingga Dita tersungkur
__ADS_1
“begini kamu bilang cinta? cinta itu nggak menyakiti Dimas, kamu masih bodoh seperti dulu” kata Dita dengan tegas,
“aku menyakiti kamu agar kamu membayar setiap sentuhan suami kontrakmu itu” kata Dimas dengan suara pelan sembari menyentuh pipi Dita dan melanjutkan tanganny amenggerayangi tubuh Dita
“lepaskan gue bajing*n! atau loe bakal mati ditangan suami gue” kata Dita berusaha berontak dengan menendang Dimas, tetapi usahanya sia sia dia tak punya banyak tenaga untuk melawan
“bagaimana kalau kamu menurut saja agar mereka tidak terpancing untuk ikut menikmatimu sayang” kata Dimas dengan tatapan bernafsu berusaha mencium Dita, empat orang yang bersama Dimas itu
tertawa terbahak bahak,
“kalian semua kurang ajar bangs*t! tunggu saja suami gue menemukan kalian, dia akan mengirim kalian ke neraka” teriak Dita berusaha berontak tetapi tangan Dimas lebih kuat, Dimas mengambil sebuah handuk basah dan membersihkan lengan Dita tetapi Dita berontak, dia tidak sudi di sentuh oleh Dimas yang hanya ingin melecehkannya itu, penolakan Dita membuat Dimas semakin gemas dia berusaha merobek baju Dita dia juga mencengkram pipi Dita dan mencium paksa. Tangannya mulai masuk kedalam baju Dita dan menggerayangi punggung Dita, semakin Dita berontak Dimas semakin menjadi
“tidak aku tidak boleh pingsang, tapi sakit ini aku tidak bisa tahan lagi,apa aku akan mati disini, Rafel dimana kamu tolong aku” guman Dita dalam hatinya, dia berusaha berontak sebisa yang ia lakukan tetapi dia merasa semakin lemah tak berdaya. Terdengar pintu didobrak dan beberpa orang berkelai, pandangan Dita murai buram tetapi dia masih bisa mengenali bahwa Rafael datang dan mendekat padanya sementara cengkraman yang ia rasakan berangsur hilang, dia hanya melihat suaminya menghajar seseorang dan seorang lagi melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan dan kakinya,
“Rafael” suara Dita memanggil suaminya dengan lemah dan senyum tipis, Dita masih bisa melihat dari pintu beberapa orang masuk dan berkelahi, orang yang melepaskan ikatan tali itu juga nampak ikut memukul seseorang yang mendekat, antara sadar dan tidaknya Dita yang berada di pelukan Nicholas itu melihat suaminya mengayunkan pisau memotong tangan seseorang laki laki yang sudah berlutut dihadapanya suaminya, dan beberapa orang tergeletak tak berdaya,
“bukankah kamu tahu siapa saya?” tanya Rafael dengan suara yang menakutkan dan tatapan setan menatap Dimas
“maafkankan saya tuan Rafael, saya salah menangkap orang” kata Dimas berusaha mengelak
“saya tidak menerima alasan tidak masuk akalmu itu” kata Rafael dengan suara dingin dan menakutkan, tak peduli Dimas yang merintih kesakitan memegangi tangannya yang terpotong itu, darah berkucuran
“saya sudah memperingatkamu sebelumnya seharusnya kamu tidak membuat kesalahan” kata Rafael lagi sembari mengeluarkan sebuah pistol dan memasangkan kedap suara pada pistolnya
“tuan tolong ampuni saya” kata Dimas memohon dengan hampir menangis, dia berusaha membujuk Rafael agar mengampuninya, dia tidak mau mati konyol
“Rafael tubuhnya sangat dingin” kata Nicholas yang berada disisi Dita itu memeriksa leher Dita
“Rafael..” suar Dita memanggil Rafael sembari mengulurkan tangannya seolah meminta Rafael menyambut tangannya, melihat istrinya yang begitu lemah Rafael langsung menembak kepala Dimas dan dua kali tembakan didadanya, Dimas mati seketika.
“Dita, jangan khawatir kamu akan baik baik saja” kata Rafael langsung mengangkat Dita dan membawanya pergi
“pak Bam bersihkan semua tanpa bekas” perintah Rafael kemudian dia meninggalkan gudang sempit itu. Nicholas menginjak pedal gas mobil yang dikendarainya melaju menuju rumah sakit, dilihatnya melalui kaca spion Rafael memeluk Dita dengan wajah marah dan cemas.
“tuan Deveraux, kami minta maaf” kata dokter yang menangani Dita
“dokter kenapa minta maaf? Apa yang terjadi dengan sahabat saya?” kata Intan yang juga berada dirumah sakit setelah mendengar kabar Dita ditemukan
“mbak jangan khawatir, maksud saya adalah maaf pasien mengalami koma ini disebabkan luka dikepala yang lambat menerima penanganan” kata dokter dengan sopan dan berlahan, tetapi Rafael yang tidak menerima jawaban itu langsung mencengkran baju dokter itu
“sembuhkan istri saya jangan memberi alasan” kata Rafael dengan tatapan penuh amarah
“Rafael tenanglah” kata Sean menenangkan adiknya dan berusaha melepaskan cengkram Rafael yang mencengkram baju dokter itu, Nicholas yang duduk di kursi sebelah pintu ruang IGD itu menarik napas panjang itu
“tuan tuan jangan khawatir, rumah sakit ini banyak dokter terbaik dibidangnya, akan ada dokter Citra yang akan menangani nyonya Deveraux” kata dokter yang menangani Dita sebelumnya
“apa ada dokter dari luar negeri dirumah sakit ini?” tanya Sean penuh harap
“anda jangan khawatir, dokter Citra lulusan luar negeri juga dia lulusan terbaik” kata dokter itu
“dokter mau dibawa kemana Dita?” tanya Intan dan Rafael hampir bersamaan
“dokter mau dibawa kemana istri saya” suara Rafael sembari menatap pada Dita dan bergantian pada dokter yang akan membawanya
“jangan khawatir yang kami bisa lakukan adalah pemeriksaan lanjutan, untuk operasi luka dikepala sudah tidak perlu khawatir tetapi karena pasien masih koma kami tidak bisa berbuat banyak, setelah pemeriksaan lanjutan pasien akan kami pindahkan ke rawat inap dan memantau kondisi pasien” kata dokter itu dengan yakin dan jelas. Dua suster membawa Dita menuju pemeriksaan lanjutan, sementara itu Rafael dengan wajah penuh sesal dan cemas duduk lemas di kursi seberang ruangan pemeriksaan, dia benar benar menyesali ketidak bersamaan Dita bersamanya tiga hari lalu.
__ADS_1