
Sebelum keberangkatan Millan, Febi
mempersiapkan sebuah pesta keluarga, pesta yang sebenarnya besar tetapi di mata
keluarga Deveraux itu adalah pesta kecil. Febi yang sesekali meminta pendapat
Millan dan Dita itu telah mempersiapkan pesta untuk malam itu, Intan di panggil
khusus untuk membantu mereka dalam mendekorasi pesta
“et dah Zaenab, loe makan nggak
berhenti, nggak takut gendut loe?” kata Intan yang sedang duduk di sebuah kursi
bersama Dita yang juga membawa sepiring kentang goreng. Millan menghampiri
mereka dan ikut duduk bergabung dengan mereka, dia tersenyum melihat obrolan
Dita dan Intan
“gue udah gendut, beberapa baju sudah
sesak” kata Dita santai sembari membantu Intan dalam pekerjaanya mencari warna
untuk dekorasinya
“emang kerjaan loe selalu banyak ya ta?
sampek loe makan nggak di control” sela Intan dengan wajah kasihan
“nggak usah liatin gue kayak gitu kali
hayati” celetuk Dita dengan lirikan sinis pada Intan namun tetap menyematkan
senyum tipis di bibirnya
“ya lirikan loe nggak setajam silet”
jawab Intan dengan santai dan cengengesan
“halo Intan, Dita, kalian sedang apa?”
tanya Millan yang menghampiri dan bergabung duduk bersama
“ini Miss lagi memeriksa kelengkapan dan
warna” jawab Intan seraya tangannya mempersilahkan Millan untuk duduk
disebelahnya
“eh itu camilan gue jangan di pindah
tantan” gerutu Dita yang spontan tatkala Intan hendak memindahkan piring yang
berisi makanan ringan
“ya ampun nih bocah, loe mau jadi bulat
kayak pumkin loe?” suara Intan heran serta tidak percaya dengan reaksi spontan
sahabatnya itu
“biarin, pumkin kan lucu” jawab Dita
santai
“Dita ini tidak sehat, jangan makan
terlalu banyak snack dan gorengan” timpal Millan santai, Dita hanya menghela
napas panjang dengan teguran Millan
“mbak Intan ini bunganya sudah di
rangkai, mau diletakkan di mana?” tanya seorang pegawai menyela perbincangan
mereka.
“oh yang ini letakkan di sebelah pintu
masuk kalau yang ini di sebelah meja tapi agak jauh kira-kira satu meter ya”
jawab Intan santai namun lembut, pegawai itu pun mendekat
“tan yang ini warnanya terlalu gelap,
meski di soroti lampu tetap kurang bagus kalau paduannya warna ini” kata Dita memberikan
idenya meskipun begitu dia tetap dengan camilannya yang tak lepas dari tangnnya.
“oh gitu ya say, boleh deh,
ngomong-ngomong entar kalau loe gendut Mr Rafael bisa jalan lagi loh sama
cewek-ceweknya yang terdahulu” goda Intan dengan tatapan jahil serta alisnya
yang naik turun
“nggak boleh, gue bakal ikat suami gue
di rumah” jawab Dita santai dan tanpa melihat kearah Intan dia sibuk dengan
desain yang diberikan intan melalui tabletnya.
“hahaha Dita, apa kamu yakin?” tanya
Millan yang tertawa mendengar jawaban Dita
“berani loe?” tanya Intan juga dengan
senyum lebar
“siapa takut” jawab Dita santai yang
kali ini pandanganya menyebar antara Intan dan Millan
“ta, suami itu kalau istrinya gendut
kalau pas lagi keluar jalan itu bawa cewek lain lebih seski loh” goda Intan
lagi, sementara Millan hanya tersenyum melihat dia wanita yang berbicang
dengannya itu
“emang Fajar juga gitu ya?” tanya Dita
polos membuat Intan berdecak
“nih bocah ngomong enak banget ya dan
kenapa larinya kesuami gue” gerutu Intan yang merasa godaanya tak mempan itu
disertai dengan tawa renyahnya
“kita dua belas dua belas hahaha”
seloroh Dita membuat dua karyawan yang tak jauh di tempat mereka duduk itu pun
ikut tertawa
“tapi kalau mbak Dita mau gemuk juga
mana mungkin suaminya berpaling, kan mbak Dita cantik” kata salah satu karyawan
itu
“nah loe dengar sendiri, suami gue nggak
bakal berpaling” spontan Dita menanggai kalimat karyawan itu dengan bangga
“hello ladies” sapa Nicholas dengan
lembut serta senyum tipis tersemat di bibirnya. Lelaki paruh baya yang
berkarakter tenang namun kejam dan dingin dibalik sikap tenangnya itu berdiri
dengan gagah.
“papi” suara Dita dan Millan yang hampir
bersamaan, keduanya pun berdiri dan memeluk lembut ayah mertua mereka.
“papi kapan pulang? Kok nggak ngasih
kabar?” tanya Dita
“semalam, sengaja tidak memberi kabar
karena ingin memberi kejutan pada kalian” jawab Nicholas
“saya pikir papi tidak bisa bergabung di
pesta” kata Millan dengan sopan
“mana mungkin saya melewatkan pesta ini,
saya datang untuk kalian” jawab Nicholas dengan senyum lembutnya
“oh ya Mr, ada proposal desain baru
sudah saya kirim di meja Mr” kata Intan menyampaikan
“itu nanti saja, hari ini waktunya
pesta” jawab Nicholas santai
“nanti keburu lupa Mr” seloroh Intan
dengan wajah datar membuat Millan dan Dita tersenyum lebar
“permisi mbak Dita, ada kiriman makan
siang dari bu Febi” kata seorang karyawan yang mengantarkan makanan
“apa ini? Tanya Intan bersemangat
“sup jagung dan ada makan siangnya buat
Tuan Rafael” jawab pelayan tiu, dia pun meletakkan rantang yang dibawanya di
atas meja
“kalian nikmati saja makan siang kalian,
papi masih ada urusan” kata Nicholas berpamitan
“ok papi” jawab Dita lugas
“Intan ayo ikut makan, ini banyak
sekali” kata Millan yang mulai membuka rantang
“wih, ada perkedel juga ta, dan ini sup
jagung kayaknya enak juga” seloroh Intan yang tak memperhatikan Dita
“enak darimana?, baunya aja udah bikin
nggak nafsu” kata Dita dengan raut muka tidak senang, sementraa itu Rafael yang
menghampiri mereka dan langsung bergabung itu hanya menatap istrinya
dalam-dalam
“Dita kamu tidak makan?” tanya Millan
“nggak ah, udah kenyang, kasih Rafael
aja” jawab Dita sambil menunjukkan camilan yang ia bawa dan senyum tipis yang
dipaksakan dengan pandangan yang menyebar pada ketiga orang yang berada di satu
meja dengannya.
“berhenti makan makanan ringan itu” kata
Rafael dengan santai, meski yang sebenarnya dia tidak senang melihat Dita makan
makanan ringan dan snack sejak pagi
“iya ini berhenti karena gue udah
kenyang” jawab Dita datar membuat Intan dan Rafael hanya menarik napas panjang
dengan jawaban datar Dita.
__ADS_1
“gue ke belakang dulu ya” kata Dita yang
sengaja menghindari makan siangnya itu langsung beranjak dan pergi begitu saja
“ni anak dari tadi nyemil katanya lapar
begitu ada makanan bilang kenyang langsung pergi” kata Intan ngedumel sendiri.
Hampir sepuluh menit Dita tak kunjung kembali membuat Rafael gusar akan tetapi
diurungkannya niatnya untuk beranjak lantaran Febi datang menghampiri mereka
“halo semua, gimana makanannya enak?”
tanya Febi
“enak bu, bu Febi emang jago buat
makanan enak” puji Intan dengan senyum tulusnya
“loh Dita mana? Kok nggak ikut makan?”
tanya Febi yang tak mendapati Dita, dia pun melayangkan pandangannya keseluruh
ruangan juga tak mendapati Dita
“masih ke kamar mandi mi, katanya tidak
lapar” jawab Millan yang sudah menyelesaikan makan siangnya itu, Rafael yang
menatap maminya pun menambahkan
“sejak pagi hanya makanan ringan dan
snack, mungkin makan siang akan sedikti terlambat mi” jelas Rafael
“ya sudah, oh ya Intan sudah sampai mana
dekorasinya?” tanya Febi santai dan lembut
“oh ini bu, silahkan di periksa lagi”
kata Intan yang seraya beranjak dan menunjukkan setiap dekorasi pesta pada Febi.
Sementara itu di sebuah penginapan jauh dari area pesta
“Xhigee senang melihat kamu disini” sapa
Arman yang memang datang khusus menemui Xhigee
“Arman, terimakasih sambutannya,
bagaimana apa kamu sudah mengajukan kontraknya?” tanya Xhigee
“belum, masih sekedar janji temu” jawab
Arman serius
“baiklah, seorang perempuan sudah
mengubungi saya, rencananya setelah sepuluh hari” jelas Xhigee
“kalau begitu akan akan mengulur waktu,
sisanya aku sudah berbincang dengan Rafael” kata Arman menambahkan
“jangan terburu-buru istri Rafael
kemungkinan akan merusak rencanaku” jawab Xhigee ragu-ragu
“itu kita pikirkan setelah kamu kembali
dari Singapura, disini tidak aman kita bicara lagi nanti aku harus pergi” kata
Arman yang kemudian beranjak meninggalkan tempat itu sementara Xhigee kembali
kedalam kamar tempat dia menginap.
Setelah dua jam Dita baru kembali dan
itu membuat Rafael lega, dia merasa khawatir jika tak melihat Dita di
jangkauan pandangannya. Febi juga puas
dengan desain pesta yang dikerjakan Intan
“ok Intan, terimakasih kamu sudah
bekerja keras ini bagus saya suka” kata Febi memuji pekerjaan Intan
“terimakasih bu, saya senang sekali
karena bu Febi puas, kalau begitu saya permisi” kata Intan kemudian berbalik dan
meraih ponsel pintarnya dia mengirim pesan pada Rafael untuk meminta waktu
berbicara sebentar,
“ya Intan ada apa?” tanya Rafael yang
menghampiri Intan di lobi hotel
“ok langsung pada Intinya, Mr apa nggak
merasa aneh dengan Dita akhir akhir ini?” tanya Intan pada Rafael
“tidak ada, memangnya apa yang salah?”
tanya Rafael dengan sedikit heran dengan pertanyaan Intan.
“Mr, satu hal tentang Dita dia itu kalau
otaknya di suruh bekerja keras dia tidak akan berhenti makan, jadi suami nggak
peka amat” kata Intan menjelaskan dengan sedikit dongkol, Intan tahu dengan
benar bahwa nafsu makan Dita akan bertambah ketika dia sedang bekerja yang
menguras energi otaknya
“seperti itu? Ya mungkin aku terlalu
membebaninya dengan beberapa pekerjaan” jawab Rafael
“ela dala Mr berapa hari jadi suaminya masih
pernikahan yang hampir setahun itu Rafael masih belum mengenal Dita dengan baik
“kamu bicaralah yang baik atau mau saya
pecat” kata Rafael yang tidak mau kalah lantaran dia yang akhir-akhir ini tidak
bisa memahami istrinya itu mencoba mencari pembelaan dengan mengancam Intan
“nggak nggak Mr, sudah itu saja, oh iya,
kalau Dita ngambek sampek dua hari penawarnya jagung bakar, permisi” kata Intan
dengan senyum terpaksa takut kalau kalau dia benar benar di pecat, Intan pun
berlalu meninggalkan Rafael
“jagung bakar, tidak buruk” kata Rafael
kemudian dia ke tempat dimana Dita dan maminya berada.
***
“Sialan Sapto sudah mengilang begitu lama,
untung saja masih bisa mendapatkan beberpa data penting yang dia simpan” guman
Anton di ruangan kantornya
“pak menurut informasi pak Sapto udah
tidak pulang kerumahnya sejak dia menghilang” kata Vivi sekertaris Anton
“apa kamu yakin?” tanya Anton dengan
wajah panik
“iya pak, seperti yang bapak perintahkan
saya menghubungi keluarganya, mereka bahkan tidak pernah mendapatkan telpon
lagi di hari sejak pak Sapto menghilang
“Vivi kamu hubungi Darwis dan suruh dia
menemui saya disini sore ini” kata Anton dengan tatapan penuh amarah
“baik pak, ada lagi pak?” tanya Vivi
pada atasannya
“tidak ada kamu boleh pergi” kata Anton,
dia kemudian menghubungi anak semata wayangnya
“iya papa” jawab Cindy dari seberang
terlpon
“sebaiknya kamu waspada karena ada
kemungkinan Sapto dilenyapkan” kata Anton memperingatkan putrinya
“tidak mungkin pa, Sean sendiri
mengundang makan malam ke hotel dan tidak ada tanda tanda mereka melenyapkan om
Sapto” kata Cindy menjelaskan
“kalau bukan mereka siapa lagi, dengan
hilangnya Sapto papa sudah rugi enam milyar” kata Anton menjelaskan
“papa tenang saja, saya sudah mencoba
bernegosiasi dengan Sean untuk mempertemukan anak papa ini dan pemilik Endra
Group” kata Cindy dengan bangga di seberang telpon
“bagus, kalau begitu segeralah pulang
dan bantu papa di perusahaan mulai sekarang” kata Anton pada anaknya
“baik pa, sekarang juga aku akan pesan
tiket untuk pulang” kata Cindy kemudian menutup telponya, sore itu Darwis orang
kepercayaan Anton sekaligus pembersih yang bekerja untuknya itu menemuinya, dia
memerintahkan Darwis untuk menggerakkan anak buahnya untuk mencari kelemahan
keluarga Deveraux sekaligus mencelakakan Dita. Sementara itu di sebuah hotel
yang dipesan oleh keluarag Deveraux, dekorasi pesta yang benar benar mewah,
tamu dari dalam perusahaan Deveraux sendiri sudah mulai berdatangan dan semua undangan
telah hadir ketika menunjukkan pukul tujuh, beberapa yang yang datang adalah
orang orang penting dari pihak Deveraux.
“om Herman” sapa Dita pada sosok lelaki
yang dikenalnya
“Dita” sapa Herman balik dan menatap
dengan tatapan yang berbeda, dalam benaknya dia berpikir tidak disangka yang
dulu adalah anak dari saingan bisnisnya kini telah tumbuh menjadi wanita cantik
dan memang menarik tak heran anaknya begitu memujinya dan mengejarnya mati
matian tapi entah kenapa sejak dua bulan terakhir dia tak lagi bisa menghubungi
putranya dan juga tak pernah ada kabar dari putranya.
“om Herman apa kabar?” tanya Dita dengan
santai
__ADS_1
“saya baik, tak disangka kamu terlihat
begitu cantik mala mini Dita, pantas saja Dimas tergila gila pada kamu” kata Herman
yang membuat wajah Dita berubah, tak lagi nampak senyum dimatanya yang ada
hanya takut dan kebencian, Sean yang mengenal Herman selain managernya yang
bertugas mengurus hotel di pulau pribadi mereka Sean juga tahu bahwa Dimas
adalah anaknya yang selalu berusaha mencelakai Dita, Sean pun melangkah
mendekati Dita dan bergabung dalam pembicaraan Dita dan Herman
“ada apa sayang? Ini pesta juga untukmu
kenapa kamu tak terlihat senang” kata Sean dengan senyum tipis, laki laki itu
benar benar menunjukkan kharismatiknya pada setiap wanita yang hadir dipesat
itu, terlebih rumor yang menjadi perbincangan antara Sean dan Dita di kantor
membuat para wanita yang tak begitu mengenal Dita itu merasa iri, Herman
sendiri langsung teringat pada pemindahan putranya yang tiba tiba terlebih
setelah Dita memegang lengan Sean
“ternyata Dita kini memiliki orang yang
melindunginya” kata Herman dalam hatinya
“oh jadi ini wanita tuan Sean Deveraux”
kata Herman dengan senyum palsunya, meski dia berharap Dita menjadi menantunya
itu tapi dia tak bisa melakukan itu lantaran Herman adalah saingan bisnis
almarhum ayah Dita
“ya, dia adalah wanitanya Deveraux” kata
Sean dengan bangga
“Dita om senang, semoga kamu bahagia”
kata Hendra mencoba menghibur dirinya sendiri sekaligus dia juga berbahagia
melihat Dita berdiri dengan orang yang tepat untuk melindunginya
“tentu om, Dita sangat bahagia” jawab
Dita dengan senyum manis meski dalam tatapan mata Dita ada kebencian yang tak
terhingga
“maaf Tuan Herman kami permisi untuk
menemui tamu yang lain” kata Sean yang dengan sengaja menjauhkan Dita dari
Herman, Sean tak ingin Dita berurusan dengan Herman yang ada sangkut paut dengan
kematian ibu Dita. Setelah membawa Dita pada para manajer kepercayaan The
Devaraux serta permintaan Sean agar para manajer tidak keberatan untuk
mengajari Dita jika ada kesulitan dalam menangani pekerjaanya, sesekali mereka
bercanda lantaran para manajer itu tahu dengan benar bahwa saat jam kerja
Rafael tak melihat statusnya sebagai istri melainkan asisten,, para manajer
yang mengetahui status Dita itu sempat memberikan usul bagaimana kalau Dita
berpindah menjadi asisten Sean sebelum kemunculan Endra Group. Dimana itu akan
baik untuk Dita dan juga membantu Dita untuk belajar banyak mengenai perusahaan
milik ayahnya itu. Akan tetapi Nicholas menolak itu mengingat Dita kerap kali
mendapatkan ancaman dari Anton sehingga menurut Nicholas berada di samping Rafael
adalah hal yang terbaik. Setelah perbincangan serius dengan Nicholas dan
beberapa manajer kepercayaanya Sean menyerahkan Dita kembali pada Rafael yang
sedang berbincang dengan Fajar dan Intan itu tak membuat karyawan lain curiga,
mereka tetap bergunjing mengenai hubungan Dita dengan Sean, sementara itu Sean
menghampiri Millan dan mencium pipi wanitanya itu yang sejak mulai pesat
keduanya sibuk dengan tamu mereka masing masing, Sean pun mengajak Millan untuk
menemui seseorang
“ikut denganku, ada fans kamu yang
sangat ingin bertemu” kata Sean yang berdiri tak jauh dari Rafael dan Dita juga
Intan beserta suaminya itu, mereka berempat melihat kearah Sean membawa Millan
“Xighee” teriak Millan dengan suara yang
tertahan dia kegirangan bertemu dengan kakaknya itu, Millan pun memeluk lembut
penuh dengan kasih sayang pada Xighee
“apa kabar adikku?” tanya Xighee dengan
senyum bahagia
“aku baik baik saja” jawab Millan dengan
mata berbinar binar bahagia, kakak yang meski bukan kakak kandungnya itu lama
tak ditemuinya,
“oh my God, ini cowok tampan banget”
kata Olivia yang begerak menempel pada Intan
“loe suka? Dia orang jepang” kata Intan
santai menanggapi kalimat Olivia yang dengan begitu saja keluar dari mulutnya
“tapi dia pasti pacaranya Model cantik
kita Millan” kata Olivia yang dengan wajah kecewa
“nggak juga” jawab Fajar dengan senyum
tipis serta menatap pada Olivia
“oh ya aku kenalkan pada beberapa orang
yang bekerja bersamaku” kata Millan dengan semangat tetapi langkahkanya
terhenti ketika Xighee tak melangkahkan kakinya tetapi justru mematung melihat
kedepan
“gadis
ini, tidak mungkin! Tidak mungkin gadis yang waktu itu yang aku temui beberapa
tahun lalu” kata Xighee dalam hatinya dengan mengerutkan
alisnya
“Xighee selamat datang” sapa Nicholas
yang melihat Xighee, dia pun berjalan mendekati Xighee dan memeluk lelaki yang
menjadi kakak menantunya itu
“tuan Nicholas terimakasih sambutannya,
kalau boleh apa wanita itu adalah wanitanya Deveraux?” tanya Xighee yang
langsung menunjuk pada Dita
“ya , dan kamu tahu dia wanita siapa”
kata Millan menjelaskan dengan bangga
“tidak
mungkin, ini bukan kebetulan pasti Nicholas merencanakan sesuatu”kata Xighee dalam hatinya membuat tatapan matanya penuh dengan keraguan akan
apa yang dipikirkannya. Tetapi dia mengacuhkan pikirannya dia datang kepesta
itu adalah untuk adiknya, adik yang hampir dua tahun tidak dia temui itu, pesta
meriah itu berjalan dengan baik tanpa ada gangguan, Nicholas dan Rafael
menempatkan beberapa orang untuk menjaga hal hal yang tidak diinginkan dan
memang benar ada beberapa orang yang mengincar Dita dan Sean.
“Xighee aku senang sekali kamu mau
datang, dan berapa hari kamu akan tinggal?” tanya Millan yang mengantarkan
Xighee menuju rumah istirahat keluarga Deveraux
“satu minggu dan aku akan mengawalmu
selama seminggu itu, aku harap suamimu tidak keberatan” kata Xighee
“dia tidak akan keberatan, itu akan
bagus menurutnya karena aku selalu dikelilingi oleh bodyguard yang dia kirim
untuk menjagaku” kata Millan yang menampakkan wajah kebosanan
“hahaha kenapa dengan wajahmu,
sepertinya kamu tidak senang” kata Xighee yang melihat wajah Millan terlihat
lucu baginya
“ya, sebenarnya saya ingin jalan jalan
tanpa ada bodyguard seperti mami, hanya di ikuti Anon saja” kata Millan dengan
nada memelas
“maksud mereka baik kenapa kamu terlalu
memikirkan itu, atau datanglah ke jepang kamu bisa jalan jalan sesukamu tanpa
pengawal” kata Xighee
“tentu setelah pemotretan di Singapura
saya akan datang” kata Millan dengan bersemangat
“apa? Kamu akan ke Singapura? Tidak
mereka tidak boleh mengirimmu ke sana untuk saat ini” kata Xighee dengan
tatapan tajam dan nada tinggi
“saya yang meminta untuk kesana, saya
bosan jadi saya merayu Sean untuk meberikan poyek itu untu saya ” kata Millan
menjelaskan dengan sedikit manja
“seharusnya kamu mengikuti apa kata
suamimu, aku lega jika ini bukan keinginannya sendiri tapi keinginanmu pantas
saja dia memintaku datang, apa kamu tahu kalau Finn Xavier sedang ada di
Singapura?” kata Xighee menjelaskan juga memberikan pertanyaan yang membuat
pucat wajah Millan seketika
“tidak” jawab Millan dengan wajah pucatnya, Xighee menarik napas dalam dalam,
dia pun menenangkan adiknya itu
“jangan khawatir aku dan adik iparmu
__ADS_1
akan mengurusnya” kata Xighee sambil menepuk lembut kepala adik angkatnya itu,
Millan pun kembali ke kediaman Deveraux setelah mengantarkan Xighee.