Untuk istriku

Untuk istriku
Pesta Keluarga


__ADS_3

Sebelum keberangkatan Millan, Febi


mempersiapkan sebuah pesta keluarga, pesta yang sebenarnya besar tetapi di mata


keluarga Deveraux itu adalah pesta kecil. Febi yang sesekali meminta pendapat


Millan dan Dita itu telah mempersiapkan pesta untuk malam itu, Intan di panggil


khusus untuk membantu mereka dalam mendekorasi pesta


“et dah Zaenab, loe makan nggak


berhenti, nggak takut gendut loe?” kata Intan yang sedang duduk di sebuah kursi


bersama Dita yang juga membawa sepiring kentang goreng. Millan menghampiri


mereka dan ikut duduk bergabung dengan mereka, dia tersenyum melihat obrolan


Dita dan Intan


“gue udah gendut, beberapa baju sudah


sesak” kata Dita santai sembari membantu Intan dalam pekerjaanya mencari warna


untuk dekorasinya


“emang kerjaan loe selalu banyak ya ta?


sampek loe makan nggak di control” sela Intan dengan wajah kasihan


“nggak usah liatin gue kayak gitu kali


hayati” celetuk Dita dengan lirikan sinis pada Intan namun tetap menyematkan


senyum tipis di bibirnya


“ya lirikan loe nggak setajam silet”


jawab Intan dengan santai dan cengengesan


“halo Intan, Dita, kalian sedang apa?”


tanya Millan yang menghampiri dan bergabung duduk bersama


“ini Miss lagi memeriksa kelengkapan dan


warna” jawab Intan seraya tangannya mempersilahkan Millan untuk duduk


disebelahnya


“eh itu camilan gue jangan di pindah


tantan” gerutu Dita yang spontan tatkala Intan hendak memindahkan piring yang


berisi makanan ringan


“ya ampun nih bocah, loe mau jadi bulat


kayak pumkin loe?” suara Intan heran serta tidak percaya dengan reaksi spontan


sahabatnya itu


“biarin, pumkin kan lucu” jawab Dita


santai


“Dita ini tidak sehat, jangan makan


terlalu banyak snack dan gorengan” timpal Millan santai, Dita hanya menghela


napas panjang dengan teguran Millan


“mbak Intan ini bunganya sudah di


rangkai, mau diletakkan di mana?” tanya seorang pegawai menyela perbincangan


mereka.


“oh yang ini letakkan di sebelah pintu


masuk kalau yang ini di sebelah meja tapi agak jauh kira-kira satu meter ya”


jawab Intan santai namun lembut, pegawai itu pun mendekat


“tan yang ini warnanya terlalu gelap,


meski di soroti lampu tetap kurang bagus kalau paduannya warna ini” kata Dita memberikan


idenya meskipun begitu dia tetap dengan camilannya yang  tak lepas dari tangnnya.


“oh gitu ya say, boleh deh,


ngomong-ngomong entar kalau loe gendut Mr Rafael bisa jalan lagi loh sama


cewek-ceweknya yang terdahulu” goda Intan dengan tatapan jahil serta alisnya


yang naik turun


“nggak boleh, gue bakal ikat suami gue


di rumah” jawab Dita santai dan tanpa melihat kearah Intan dia sibuk dengan


desain yang diberikan intan melalui tabletnya.


“hahaha Dita, apa kamu yakin?” tanya


Millan yang tertawa mendengar jawaban Dita


“berani loe?” tanya Intan juga dengan


senyum lebar


“siapa takut” jawab Dita santai yang


kali ini pandanganya menyebar antara Intan dan Millan


“ta, suami itu kalau istrinya gendut


kalau pas lagi keluar jalan itu bawa cewek lain lebih seski loh” goda Intan


lagi, sementara Millan hanya tersenyum melihat dia wanita yang berbicang


dengannya itu


“emang Fajar juga gitu ya?” tanya Dita


polos membuat Intan berdecak


“nih bocah ngomong enak banget ya dan


kenapa larinya kesuami gue” gerutu Intan yang merasa godaanya tak mempan itu


disertai dengan tawa renyahnya


“kita dua belas dua belas hahaha”


seloroh Dita membuat dua karyawan yang tak jauh di tempat mereka duduk itu pun


ikut tertawa


“tapi kalau mbak Dita mau gemuk juga


mana mungkin suaminya berpaling, kan mbak Dita cantik” kata salah satu karyawan


itu


“nah loe dengar sendiri, suami gue nggak


bakal berpaling” spontan Dita menanggai kalimat karyawan itu dengan bangga


“hello ladies” sapa Nicholas dengan


lembut serta senyum tipis tersemat di bibirnya. Lelaki paruh baya yang


berkarakter tenang namun kejam dan dingin dibalik sikap tenangnya itu berdiri


dengan gagah.


“papi” suara Dita dan Millan yang hampir


bersamaan, keduanya pun berdiri dan memeluk lembut ayah mertua mereka.


“papi kapan pulang? Kok nggak ngasih


kabar?” tanya Dita


“semalam, sengaja tidak memberi kabar


karena ingin memberi kejutan pada kalian” jawab Nicholas


“saya pikir papi tidak bisa bergabung di


pesta” kata Millan dengan sopan


“mana mungkin saya melewatkan pesta ini,


saya datang untuk kalian” jawab Nicholas dengan senyum lembutnya


“oh ya Mr, ada proposal desain baru


sudah saya kirim di meja Mr” kata Intan menyampaikan


“itu nanti saja, hari ini waktunya


pesta” jawab Nicholas santai


“nanti keburu lupa Mr” seloroh Intan


dengan wajah datar membuat Millan dan Dita tersenyum lebar


“permisi mbak Dita, ada kiriman makan


siang dari bu Febi” kata seorang karyawan yang mengantarkan makanan


“apa ini? Tanya Intan bersemangat


“sup jagung dan ada makan siangnya buat


Tuan Rafael” jawab pelayan tiu, dia pun meletakkan rantang yang dibawanya di


atas meja


“kalian nikmati saja makan siang kalian,


papi masih ada urusan” kata Nicholas berpamitan


“ok papi” jawab Dita lugas


“Intan ayo ikut makan, ini banyak


sekali” kata Millan yang mulai membuka rantang


“wih, ada perkedel juga ta, dan ini sup


jagung kayaknya enak juga” seloroh Intan yang tak memperhatikan Dita


“enak darimana?, baunya aja udah bikin


nggak nafsu” kata Dita dengan raut muka tidak senang, sementraa itu Rafael yang


menghampiri mereka dan langsung bergabung itu hanya menatap istrinya


dalam-dalam


“Dita kamu tidak makan?” tanya Millan


“nggak ah, udah kenyang, kasih Rafael


aja” jawab Dita sambil menunjukkan camilan yang ia bawa dan senyum tipis yang


dipaksakan dengan pandangan yang menyebar pada ketiga orang yang berada di satu


meja dengannya.


“berhenti makan makanan ringan itu” kata


Rafael dengan santai, meski yang sebenarnya dia tidak senang melihat Dita makan


makanan ringan dan snack sejak pagi


“iya ini berhenti karena gue udah


kenyang” jawab Dita datar membuat Intan dan Rafael hanya menarik napas panjang


dengan jawaban datar Dita.

__ADS_1


“gue ke belakang dulu ya” kata Dita yang


sengaja menghindari makan siangnya itu langsung beranjak dan pergi begitu saja


“ni anak dari tadi nyemil katanya lapar


begitu ada makanan bilang kenyang langsung pergi” kata Intan ngedumel sendiri.


Hampir sepuluh menit Dita tak kunjung kembali membuat Rafael gusar akan tetapi


diurungkannya niatnya untuk beranjak lantaran Febi datang menghampiri mereka


“halo semua, gimana makanannya enak?”


tanya Febi


“enak bu, bu Febi emang jago buat


makanan enak” puji Intan dengan senyum tulusnya


“loh Dita mana? Kok nggak ikut makan?”


tanya Febi yang tak mendapati Dita, dia pun melayangkan pandangannya keseluruh


ruangan juga tak mendapati Dita


“masih ke kamar mandi mi, katanya tidak


lapar” jawab Millan yang sudah menyelesaikan makan siangnya itu, Rafael yang


menatap maminya pun menambahkan


“sejak pagi hanya makanan ringan dan


snack, mungkin makan siang akan sedikti terlambat mi” jelas Rafael


“ya sudah, oh ya Intan sudah sampai mana


dekorasinya?” tanya Febi santai dan lembut


“oh ini bu, silahkan di periksa lagi”


kata Intan yang seraya beranjak dan menunjukkan setiap dekorasi pesta pada Febi.


Sementara itu di sebuah penginapan jauh dari area pesta


“Xhigee senang melihat kamu disini” sapa


Arman yang memang datang khusus menemui Xhigee


“Arman, terimakasih sambutannya,


bagaimana apa kamu sudah mengajukan kontraknya?” tanya Xhigee


“belum, masih sekedar janji temu” jawab


Arman serius


“baiklah, seorang perempuan sudah


mengubungi saya, rencananya setelah sepuluh hari” jelas Xhigee


“kalau begitu akan akan mengulur waktu,


sisanya aku sudah berbincang dengan Rafael” kata Arman menambahkan


“jangan terburu-buru istri Rafael


kemungkinan akan merusak rencanaku” jawab Xhigee ragu-ragu


“itu kita pikirkan setelah kamu kembali


dari Singapura, disini tidak aman kita bicara lagi nanti aku harus pergi” kata


Arman yang kemudian beranjak meninggalkan tempat itu sementara Xhigee kembali


kedalam kamar tempat dia menginap.


Setelah dua jam Dita baru kembali dan


itu membuat Rafael lega, dia merasa khawatir jika tak melihat Dita di


jangkauan  pandangannya. Febi juga puas


dengan desain pesta yang dikerjakan Intan


“ok Intan, terimakasih kamu sudah


bekerja keras ini bagus saya suka” kata Febi memuji pekerjaan Intan


“terimakasih bu, saya senang sekali


karena bu Febi puas, kalau begitu saya permisi” kata Intan kemudian berbalik dan


meraih ponsel pintarnya dia mengirim pesan pada Rafael untuk meminta waktu


berbicara sebentar,


“ya Intan ada apa?” tanya Rafael yang


menghampiri Intan di lobi hotel


“ok langsung pada Intinya, Mr apa nggak


merasa aneh dengan Dita akhir akhir ini?” tanya Intan pada Rafael


“tidak ada, memangnya apa yang salah?”


tanya Rafael dengan sedikit heran dengan pertanyaan Intan.


“Mr, satu hal tentang Dita dia itu kalau


otaknya di suruh bekerja keras dia tidak akan berhenti makan, jadi suami nggak


peka amat” kata Intan menjelaskan dengan sedikit dongkol, Intan tahu dengan


benar bahwa nafsu makan Dita akan bertambah ketika dia sedang bekerja yang


menguras energi otaknya


“seperti itu? Ya mungkin aku terlalu


membebaninya dengan beberapa pekerjaan” jawab Rafael


“ela dala Mr berapa hari jadi suaminya masih


pernikahan yang hampir setahun itu Rafael masih belum mengenal Dita dengan baik


“kamu bicaralah yang baik atau mau saya


pecat” kata Rafael yang tidak mau kalah lantaran dia yang akhir-akhir ini tidak


bisa memahami istrinya itu mencoba mencari pembelaan dengan mengancam Intan


“nggak nggak Mr, sudah itu saja, oh iya,


kalau Dita ngambek sampek dua hari penawarnya jagung bakar, permisi” kata Intan


dengan senyum terpaksa takut kalau kalau dia benar benar di pecat, Intan pun


berlalu meninggalkan Rafael


“jagung bakar, tidak buruk” kata Rafael


kemudian dia ke tempat dimana Dita dan maminya berada.


***


“Sialan Sapto sudah mengilang begitu lama,


untung saja masih bisa mendapatkan beberpa data penting yang dia simpan” guman


Anton di ruangan kantornya


“pak menurut informasi pak Sapto udah


tidak pulang kerumahnya sejak dia menghilang” kata Vivi sekertaris Anton


“apa kamu yakin?” tanya Anton dengan


wajah panik


“iya pak, seperti yang bapak perintahkan


saya menghubungi keluarganya, mereka bahkan tidak pernah mendapatkan telpon


lagi di hari sejak pak Sapto menghilang


“Vivi kamu hubungi Darwis dan suruh dia


menemui saya disini sore ini” kata Anton dengan tatapan penuh amarah


“baik pak, ada lagi pak?” tanya Vivi


pada atasannya


“tidak ada kamu boleh pergi” kata Anton,


dia kemudian menghubungi anak semata wayangnya


“iya papa” jawab Cindy dari seberang


terlpon


“sebaiknya kamu waspada karena ada


kemungkinan Sapto dilenyapkan” kata Anton memperingatkan putrinya


“tidak mungkin pa, Sean sendiri


mengundang makan malam ke hotel dan tidak ada tanda tanda mereka melenyapkan om


Sapto” kata Cindy menjelaskan


“kalau bukan mereka siapa lagi, dengan


hilangnya Sapto papa sudah rugi enam milyar” kata Anton menjelaskan


“papa tenang saja, saya sudah mencoba


bernegosiasi dengan Sean untuk mempertemukan anak papa ini dan pemilik Endra


Group” kata Cindy dengan bangga di seberang telpon


“bagus, kalau begitu segeralah pulang


dan bantu papa di perusahaan mulai sekarang” kata Anton pada anaknya


“baik pa, sekarang juga aku akan pesan


tiket untuk pulang” kata Cindy kemudian menutup telponya, sore itu Darwis orang


kepercayaan Anton sekaligus pembersih yang bekerja untuknya itu menemuinya, dia


memerintahkan Darwis untuk menggerakkan anak buahnya untuk mencari kelemahan


keluarga Deveraux sekaligus mencelakakan Dita. Sementara itu di sebuah hotel


yang dipesan oleh keluarag Deveraux, dekorasi pesta yang benar benar mewah,


tamu dari dalam perusahaan Deveraux sendiri sudah mulai berdatangan dan semua undangan


telah hadir ketika menunjukkan pukul tujuh, beberapa yang yang datang adalah


orang orang penting dari pihak Deveraux.


“om Herman” sapa Dita pada sosok lelaki


yang dikenalnya


“Dita” sapa Herman balik dan menatap


dengan tatapan yang berbeda, dalam benaknya dia berpikir tidak disangka yang


dulu adalah anak dari saingan bisnisnya kini telah tumbuh menjadi wanita cantik


dan memang menarik tak heran anaknya begitu memujinya dan mengejarnya mati


matian tapi entah kenapa sejak dua bulan terakhir dia tak lagi bisa menghubungi


putranya dan juga tak pernah ada kabar dari putranya.


“om Herman apa kabar?” tanya Dita dengan


santai

__ADS_1


“saya baik, tak disangka kamu terlihat


begitu cantik mala mini Dita, pantas saja Dimas tergila gila pada kamu” kata Herman


yang membuat wajah Dita berubah, tak lagi nampak senyum dimatanya yang ada


hanya takut dan kebencian, Sean yang mengenal Herman selain managernya yang


bertugas mengurus hotel di pulau pribadi mereka Sean juga tahu bahwa Dimas


adalah anaknya yang selalu berusaha mencelakai Dita, Sean pun melangkah


mendekati Dita dan bergabung dalam pembicaraan Dita dan Herman


“ada apa sayang? Ini pesta juga untukmu


kenapa kamu tak terlihat senang” kata Sean dengan senyum tipis, laki laki itu


benar benar menunjukkan kharismatiknya pada setiap wanita yang hadir dipesat


itu, terlebih rumor yang menjadi perbincangan antara Sean dan Dita di kantor


membuat para wanita yang tak begitu mengenal Dita itu merasa iri, Herman


sendiri langsung teringat pada pemindahan putranya yang tiba tiba terlebih


setelah Dita memegang lengan Sean


“ternyata Dita kini memiliki orang yang


melindunginya” kata Herman dalam hatinya


“oh jadi ini wanita tuan Sean Deveraux”


kata Herman dengan senyum palsunya, meski dia berharap Dita menjadi menantunya


itu tapi dia tak bisa melakukan itu lantaran Herman adalah saingan bisnis


almarhum ayah Dita


“ya, dia adalah wanitanya Deveraux” kata


Sean dengan bangga


“Dita om senang, semoga kamu bahagia”


kata Hendra mencoba menghibur dirinya sendiri sekaligus dia juga berbahagia


melihat Dita berdiri dengan orang yang tepat untuk melindunginya


“tentu om, Dita sangat bahagia” jawab


Dita dengan senyum manis meski dalam tatapan mata Dita ada kebencian yang tak


terhingga


“maaf Tuan Herman kami permisi untuk


menemui tamu yang lain” kata Sean yang dengan sengaja menjauhkan Dita dari


Herman, Sean tak ingin Dita berurusan dengan Herman yang ada sangkut paut dengan


kematian ibu Dita. Setelah membawa Dita pada para manajer kepercayaan The


Devaraux serta permintaan Sean agar para manajer tidak keberatan untuk


mengajari Dita jika ada kesulitan dalam menangani pekerjaanya, sesekali mereka


bercanda lantaran para manajer itu tahu dengan benar bahwa saat jam kerja


Rafael tak melihat statusnya sebagai istri melainkan asisten,, para manajer


yang mengetahui status Dita itu sempat memberikan usul bagaimana kalau Dita


berpindah menjadi asisten Sean sebelum kemunculan Endra Group. Dimana itu akan


baik untuk Dita dan juga membantu Dita untuk belajar banyak mengenai perusahaan


milik ayahnya itu. Akan tetapi Nicholas menolak itu mengingat Dita kerap kali


mendapatkan ancaman dari Anton sehingga menurut Nicholas berada di samping Rafael


adalah hal yang terbaik. Setelah perbincangan serius dengan Nicholas dan


beberapa manajer kepercayaanya Sean  menyerahkan Dita kembali pada Rafael yang


sedang berbincang dengan Fajar dan Intan itu tak membuat karyawan lain curiga,


mereka tetap bergunjing mengenai hubungan Dita dengan Sean, sementara itu Sean


menghampiri Millan dan mencium pipi wanitanya itu yang sejak mulai pesat


keduanya sibuk dengan tamu mereka masing masing, Sean pun mengajak Millan untuk


menemui seseorang


“ikut denganku, ada fans kamu yang


sangat ingin bertemu” kata Sean yang berdiri tak jauh dari Rafael dan Dita juga


Intan beserta suaminya itu, mereka berempat melihat kearah Sean membawa Millan


“Xighee” teriak Millan dengan suara yang


tertahan dia kegirangan bertemu dengan kakaknya itu, Millan pun memeluk lembut


penuh dengan kasih sayang pada Xighee


“apa kabar adikku?” tanya Xighee dengan


senyum bahagia


“aku baik baik saja” jawab Millan dengan


mata berbinar binar bahagia, kakak yang meski bukan kakak kandungnya itu lama


tak ditemuinya,


“oh my God, ini cowok tampan banget”


kata Olivia yang begerak menempel pada Intan


“loe suka? Dia orang jepang” kata Intan


santai menanggapi kalimat Olivia yang dengan begitu saja keluar dari mulutnya


“tapi dia pasti pacaranya Model cantik


kita Millan” kata Olivia yang dengan wajah kecewa


“nggak juga” jawab Fajar dengan senyum


tipis serta menatap pada Olivia


“oh ya aku kenalkan pada beberapa orang


yang bekerja bersamaku” kata Millan dengan semangat tetapi langkahkanya


terhenti ketika Xighee tak melangkahkan kakinya tetapi justru mematung melihat


kedepan


“gadis


ini, tidak mungkin! Tidak mungkin gadis yang waktu itu yang aku temui beberapa


tahun lalu” kata Xighee dalam hatinya dengan mengerutkan


alisnya


“Xighee selamat datang” sapa Nicholas


yang melihat Xighee, dia pun berjalan mendekati Xighee dan memeluk lelaki yang


menjadi kakak menantunya itu


“tuan Nicholas terimakasih sambutannya,


kalau boleh apa wanita itu adalah wanitanya Deveraux?” tanya Xighee yang


langsung menunjuk pada Dita


“ya , dan kamu tahu dia wanita siapa”


kata Millan menjelaskan dengan bangga


“tidak


mungkin, ini bukan kebetulan pasti Nicholas merencanakan sesuatu”kata Xighee dalam hatinya membuat tatapan matanya penuh dengan keraguan akan


apa yang dipikirkannya. Tetapi dia mengacuhkan pikirannya dia datang kepesta


itu adalah untuk adiknya, adik yang hampir dua tahun tidak dia temui itu, pesta


meriah itu berjalan dengan baik tanpa ada gangguan, Nicholas dan Rafael


menempatkan beberapa orang untuk menjaga hal hal yang tidak diinginkan dan


memang benar ada beberapa orang yang mengincar Dita dan Sean.


“Xighee aku senang sekali kamu mau


datang, dan berapa hari kamu akan tinggal?” tanya Millan yang mengantarkan


Xighee menuju rumah istirahat keluarga Deveraux


“satu minggu dan aku akan mengawalmu


selama seminggu itu, aku harap suamimu tidak keberatan” kata Xighee


“dia tidak akan keberatan, itu akan


bagus menurutnya karena aku selalu dikelilingi oleh bodyguard yang dia kirim


untuk menjagaku” kata Millan yang menampakkan wajah kebosanan


“hahaha kenapa dengan wajahmu,


sepertinya kamu tidak senang” kata Xighee yang melihat wajah Millan terlihat


lucu baginya


“ya, sebenarnya saya ingin jalan jalan


tanpa ada bodyguard seperti mami, hanya di ikuti Anon saja” kata Millan dengan


nada memelas


“maksud mereka baik kenapa kamu terlalu


memikirkan itu, atau datanglah ke jepang kamu bisa jalan jalan sesukamu tanpa


pengawal” kata Xighee


“tentu setelah pemotretan di Singapura


saya akan datang” kata Millan dengan bersemangat


“apa? Kamu akan ke Singapura? Tidak


mereka tidak boleh mengirimmu ke sana untuk saat ini” kata Xighee dengan


tatapan tajam dan nada tinggi


“saya yang meminta untuk kesana, saya


bosan jadi saya merayu Sean untuk meberikan poyek itu untu saya ” kata Millan


menjelaskan dengan sedikit manja


“seharusnya kamu mengikuti apa kata


suamimu, aku lega jika ini bukan keinginannya sendiri tapi keinginanmu pantas


saja dia memintaku datang, apa kamu tahu kalau Finn Xavier sedang ada di


Singapura?” kata Xighee menjelaskan juga memberikan pertanyaan yang membuat


pucat wajah Millan seketika


“tidak” jawab Millan dengan wajah  pucatnya, Xighee menarik napas dalam dalam,


dia pun menenangkan adiknya itu


“jangan khawatir aku dan adik iparmu

__ADS_1


akan mengurusnya” kata Xighee sambil menepuk lembut kepala adik angkatnya itu,


Millan pun kembali ke kediaman Deveraux setelah mengantarkan Xighee.


__ADS_2