
Intan masih menjelaskan pada Dita bahwa menerima permintaan maaf itu adalah perbuatan baik. Dia tak henti-hentinya menasehati sahabatnya yang masih dipenuhi amarah kesal dihatinya itu membuat
Dita jengah
“ok gue terima kartu itu” kata Dita dengan tatapan tajam disambut senyum kemenanga Intan, dia tidak lagi takut akan dipecat oleh atasannya meski itu bukan ancaman serius, Dita menyimpan kartu kredit itu
“loe masih sering diteror Dimas ta?” Tanya Intan pada Dita yang sudah mereda emosinya itu
“masih, tapi gue nggak ambil pusing karena dia nggak disini” jawab Dita dengan wajah tidak suka, bukan pada Intan
tapi Dimas, Fajar yang sedari tadi hanya menddengarkan pun angkat bicara
“Dimas, siapanya Dita?” Tanya Fajar membuka suara sambil menatap Dita dengan wajah serius
“mantan” jawab Dita singkat dan Fajar pun mengangguk-anggukan kepalanya
“ngomong-ngomong kamu kapan hari bisa makan siang bareng Mr Rafael bagaimana ceritanya” Tanya Fajar dengan senyum jail serta dua alisnya yang bergerak naik turun
“sumpeh loe?” Tanya Intan melotot tidak percaya
“heem sayang, waktu dari kantor bantuin loe, gue liat sendiri” jelas Fajar sambil menempelkan sedotan kemulutnya. Dita hanya diam dan santai melihat kedua temannya
“ketemu dijalan “ jawab Dita singkat tanpa menoleh pada Fajar karna telpon selulernya bergetar, dilihatnya nomor
yang tidak tersimpan dan itu nomor Dimas, Dita memilih mengabaikannya
“eh Cindy kasian loe, dia diusir sama Mr. Sean” jelas Intan dengan wajah senang
“Cindy? Emang dia ngapain kesana?” Tanya Dita dengan wajah penasaran
“nyari Mr Rafael,tapi yang dicari sudah pergi menyusul Dita” jawab Fajar menerangkan
“nenek sihir itu nggak ada kapoknya, sama kayak Marisa si ondel-ondel” gerutu Intan dengan muka manyun,Fajar tersenyum lalu melihat pada Dita
“ni anak apa nggak ada rasa penasarannya sama Rafael” Tanya Fajar dalam hati
“ceritain dong ta” pinta Intan dengan manja, dia penasaran dengan makan siang sahabatnya bersama salah satu
atasannya.
“dia nawarin makan siang, ya udah gue iya-in kemudian nganter gue ke tempat ngajar” jawab Dita santai tanpa ekpresi senang atau senyum keberuntungan, reaksinya biasa aja
"Mr Rafael juga bantu kamu ngompres pipi kamu yang, ngomong ngomong kok bisa sampek memar? tanya Fajar penasaran
"ditampar Cindy" jawab Dita Datar dan menatapa pada Fajar
"et dah lampir berani juga dia, makin jadi gila tu bocah" kata Intan dengan emosi
"sepertinya aku harus laporann sama Mr Nicholas, anak ini begitu dispesialkan" kata Fajar dalam hatinya
“terus loe kok biasa aj? Seneng kek bangga kek, reaksi loe gitu amat ta diajak makan siang bule ganteng” suara Intan protes karena Dita hanya biasa saja tentu saja itu membuat Dita tertawa terbahak-bahak
“loe mau gue gimana zubaedah yang cantik” kata Dita yang masih terkekeh
“bangga kek, seneng kek bisa jalan sama Rafael, jangan-jangan loe nggak normal, Mr Rafael sempat tanya mengenai loe, jangan kuatir gue bilang yang baik baik kok” jawab intan nbersemangat sekaligus geregetan lantaran sahabatnya tidak tertarik pada Rafael
“banyak loh cewek yang mau sama Rafael, terutama Cindy dan Marrisa, mereka tergila-gila pada Rafael” Fajar mencoba memancing Dita dengan penjelasannya
“itu mereka bukan gue, lagian gue sadar diri” kata Dita yang masih tersenyum melihat raut muka kekecewaan Intan.
Selesai makan malam mereka pun bergegas pulang
***
“Sialan bibir gue sampek kayak gini tapi nggak ada acara nginep” gerutu Cindy yang memperhatikan bibirnya melalui kaca, dia kesal dan kecewa lantaran hanya menghabiskan sore dan makan malam saja
dirumah danau milik keluarga Deveraux
“kapan luka ini akan hilang” tanyanya pada dirinya sendiri dengan wajah kesal lagi, luka dibibirnya yang dibuat oleh Rafael ketika ******* habis bibirnya. Dia tak berani bertemu dengan orang lain luka dibibirnya itu hilang, terlebih jika dia ingin bertemu dengan Aliando atau Jeremy, dua laki-laki yang bersedia mengeluarkan uang untuknya hanya demi ciuman, wajah Cindy sangat kesal karena mereka tidak bisa bertemu dengan mereka dan
memoroti uang mereka.
“tidak masalah kalau gue belum bisa ngedapetin loe, tapi sebentar lagi gue bakal bikin loe tidur sama gue, dan gue
bakal jadi istri loe, setelah itu gue akan menguasai semua saham loe” kata Cindy pada dirinya sendiri dicermin dengan senyum licik menghiasi bibirnya.
“sebaiknya gue nyusul papa aja ke bangkok” gumannya lagi dengan tersenyum lalu meraih tasnya dan keluar dari
apartemennya.
Weekend usai Dita pun kembali ke kontrakan kecilnya. Hari ini dia ada rencana untuk pergi kemana-mana. Jadwal
les sengaja dia kosongkan selama dua hari, dia memutuskan untuk membantu istrimang Tohir untuk membuat kue yang dititipkan di warung-warung. Kontrakan Dita merupakan kontrakan yang paling kecil diantara kontrakan lainnya yang berjejer, beberapa ada yang bisa digunakan untuk usaha seperti yang ditempati mang Tohir.
Dita banyak belajar dari istri mang Tohir, belajar membuat kue maupun masakan. Sementara itu kediaman Deveraux
“Honey, I want to talking about our son” kata Febi yang membantu memakaikan dasi keberasan suaminya itu.
__ADS_1
“what happen? Are they fight each other?” Tanya Nicholas dengan suara lembut tak lupa kedua tangannya melingkar diantara pinggang istrinya
“no” jawab Febi singkat
“lalu?” Tanya Nicholas dengan penasaran sambil menatap istrinya yang ada dipelukannya, tatapan yang menyejukkan membuat Febi yang meski tidak muda lagi tetap mesra dengan suami bulenya.
“bagaimana kalau kita nikahkan anak kita dengan Dita” jawab Febi mantap disertai senyum menghias bibirnya, Nicholas hanya mengeryitkan dahinya
“apa kau yakin anak manja itu akan setuju?” Tanya Nicholas dengan tatapan ragu pada Febi, dia tahu putranya sering bergonta ganti wanita tetapi diruang kerjanya sering mendapati Marrisa.
“ada kakanya yang akan menasehatinya” jawab Febi dengan antusias, keinginannya yang diutarakan pada putra sulungnya itu mendapat dukungan penuh, kini dia meminta pada suaminya untuk memberikan
restu.
“bagaimana dengan Dita, apa dia akan setuju? Dia bahkan tidak tahu kalau kamu adalah istriku” Tanya Nicholas mencoba memberi tahukan bahwa Dita masih belum bisa menerima keberadaan mereka,
lantaran kesalahn kecil Nicholas
“Sean akan membereskan semua, dan mengatur semua” jawab Febi seolah tahu apa yang di pikirkan suaminya.
“sudah siap, ayo aku antar kedepan sudah jam Sembilan dan waktunya berpamitan pada karyawan” kata Febi mengingatkan suaminya itu, mereka pun berjalan beriringan keluar kamar dan menuju halaman depan dimana mobil mewah sudah menunggu.
“where you get it? Tanya Rafael pada Sean dengan tatapan kosong, dia tidak menyangka dengan dokumen yang dia abaikan ternyata adalah dokumen yang tidak boleh dilewatkan
“anywhere, and you also have to check this on ” jawab Sean singkat, dia dengan santai duduk dibibir meja ruang kerja Rafael serta menyerahkan satu map lagi pada Rafael
“sebaiknya kamu mencari wanita lain atau terima tawaran saya” kata Sean, sambil memandangi Rafael yang mematung didepannya, yang terduduk disofa yang tak jauh dari meja kerjanya
“they are just for fun” kata Rafael seolah memberitahukan bahwa dia tidak serius dengan gadis-gadis yang dekat
dengannya.
“and this one want to destroy our family” jelas Sean dengan tegas lalu menoleh pada pintu yang terbuka
“hello my boys” Suara Nicholas disertai senyum lebar yang membuat Rafael berdiri dan melangkah pelan, dipeluknya Rafael yang berdiri menghampirinya kemudian Sean. Mereka pun berbincang serius
mengenai perkembangan The Deveraux Group hingga bagaiamana menjauhkan Cindy
dari Rafael serta bagaimana membawa Dita bersama mereka.
“ini sangat penting, membawa Dita adalah yang harus kita lakukan" kata Nicholas menjelaskann
"yang terpenting adalah kita harus memberikan apa yang menjadi milik Dita" Sean menambahkan
“Rafael saya tidak memaksa kamu tetapi kamu harus memilih wanita yang tepat, jangan sampai apa yang sudah kita bangun ini hancur berkeping-keping seperti DGreen Group ” kata Nicholas lagi sambil menatap dalam pada Rafael, dia hanya mengagguk mendengar penjelasan Nicholas. Perbincangan mereka pun terputus disebabkan meeting yang sudah menjadi rutinitas kantor.
“halo tante” sapa Dita dengan senyum lebar dan menghampiri wanita yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu lalu memeluknya hangat
“halo sayang, apa kabar?” Tanya Febi
“Dita baik tante” jawab Dita singklat dengan suara manja
“oh iya kamu mau minum apa sayang?” Tanya Febi sambil melambaikan tangan memanggi pelayan.
“jus alpukat aja tante” katanya sambil membenahi duduknya
“mas jus alpukat satu susunya yang banyak dan satu lagi jus sirsak” pesan Febi dengan senyum manis yang membuatnya semakin anggun
“jadi malu, tante inget aja Dita suka jus alpukat dengan susu yang banyak” kata Dita dengan senyum malu serta pipinya memerah, membuat Febi geli dan senang melihatnya
“oh iya Dita, mulai sekarang Dita panggil tante mami ya” pinta Febi pada Dita dengan wajah yang penuh harap,
membuat dita yang menatapanya bengong tidak percaya
“mami? Ini beneran gue nggak mimpi kan? Orang yang hadir didepan gue yang ngingetin gue sama ibu nyuruh gue manggil mami”kata Dita dalam hatinya
“dia juga sayang banget sama gue, langsung hafal apa kesukaan gue” kata Dita lagi dalam hatinya, tanpa Dita sadari mata Dita berkaca-kaca dan menagis
“loh Dita kenapa? Sini sayang peluk mami” kata Febi kemudian menarik Dita untuk lebih dekat dengannya.
“Dita terharu tante, karena sejak Dita SMP Dita cuma bisa lihat photonya ibuk” kata Dita
“mami” kata Febi tegas dengan tersenyum lembut pada Dita
“tante ngingetin Dita sama ibuk, dan semakin hari Dita ketemu sama tante eh mami, Dita ngerasa ibuk hadir disini
dalam diri tante eh mami” kata Dita menjelaskan ditengak isakan tangisnya
“Diana, seharusnya aku tidak melihat saja tetapi menghampiri Dita, maafin aku Diana, aku terlalu lambat untuk memeluknya”kata Febi dalam hati sambil mengelus lembut pundak Dita
“kalau begitu fix ya, mulai sekarang manggil mami” kata Febi menegaskan dengan senyum manis kepada dan dijawab anggukan oleh Dita yang tersenyum sembari mengusap air matanya
Pesanan mereka pun diantar dan mereka membicarakan banyak hal, mereka selalu menemukan topik untuk pembicarannya
“Diana, gadis ini persis seperti kamu, pintar dan baik, tegar juga berkepala batu”kata Febi dalam hati sambil melihat pada Dita dengan tatapan lembut yan bercerita masa kuliahnya itu
Seseorang menghampiri meja Febi dan Dita
__ADS_1
“Dita? Kamu Dita kan?tanya orang yang mendekatinya, berpenampilan wah, high heels rok span diatas lutut dengan baju lengan terbuka warna pink
“Kikan” sapa Dita dengan wajah santai, dia tidak pernah mengaggap lagi gadis itu sejak membully nya di sekolah, Kikan juga terlalu jahat padanya setelah ayahnya bangkrut. Dita pun berdiri dan menghadapi Kikan yang masih manja dan menyombongkan diri lantaran dia anak orang kaya, Dita menghadapinya dengan kepala tegap
“siapa sayang?” Tanya Febi yang masih duduk tenang melihat Dita dan Kikan bergantian, Dia memberikan aba-aba pada Anon sopir sekaligus bodyguardnya yang mengambil tempat duduk tak jauh dari mejanya itu untuk tetap diam.
“teman SMA Dita mi” jawab Dita tanpa melihat pada Kikan yang tersenyum sinis kepadanya
“loe makan disini memangnya mampu bayar?” ledek kikan, mendengar ledekan Kikan itu membuat Dita teringat dengan kartu kredit yang diberikan Intan
“anjir gue lupa mulangin itu kartu kredit” katanya dalam hati dengan menutup mata dan memalingkan sedikit mukanya dari Kikan
“kenapa muka loe? Beneran loe nggak bisa bayar makan disini? Gue bayarin tapi loe lap sepatu gue” kata Kikan
menyombongkan diri
“gue bisa bayar kok, lagian gue makan dimana kenapa loe yang repot” jawab Dita santai dan wajah malas ia kembali menatap Kikan dengan tatapan laser yang membuat Kikan sendiri sedikit menciut, bagaimana tidak gadis ini lebih baik darinya, meski mengalami kebangkrutan tapi bisa bertahan dan mendapatkan nilai terbaik dikelulusan. Febi pun bangkit dari duduknya
“Dita, ini benar teman kamu?tidak sopan sekali dia, ada orang tua nggak permisi” taya Febi disertai kalimat yang
memberi sebuah pelajaran tetapi tak dihiraukan oleh Kikan
“iya mami, dia teman SMA Dita, dia memang tidak punya sopan santun” jawab Dita tegas
“heh mami, jadi sekarang loe jadi *******, dan ini germo loe?” kata Kikan yang menghina dan sinis serta senyuman
yang merendahkan
Plakkkkk
“upss” suara Dita terkejut menyaksikan tamparan Febi yang spontan itu dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya
“jaga bicara kamu gadis tidak punya sopan santun, dia ini menantu saya, calon menantu saya” bentak Febi dengan
sorot mata yang penuh amarah, teman Kikan sedari tadi bersamanya yang melihat itu melangka mundur satu langka
“maaf ada apa ini mbak Kikan?” Tanya seorang pelayan yang sepertinya kepala pelayan
“diem loe mau gue pecat” bentak Kikan setengah teriak dan meloto pada karyawan itu
“oh jadi ini café milik kamu?” Tanya Febi dengan tatapan tajam dan suara geram
“iya, dan lebih tepatnya milik bokap gue” jawab Kikan dengan nada kesal karena ditampar keras oleh Febi dan masih memegangi pipinya itu
“siapa nama bapak kamu” bentak Febi dengan meloto pada Kikan, kikan pun menyebutkan nama bapaknya, kemudian Febi menelpon, menelpon Ryan tentunya
“hallo” kata Febi tegas
“sudah baca pesan singkat saya? Itu alamat cafe dan nama pemiliknya, sekarang juga saya mau café ini menjadi milik saya” perintah Febi tegas dan suaranya masih terlihat penuh dengan amarah. Orang-orang yang kebetulan sedang berada dicafe itu semuanya menatap pada Febi dan Kikan bergantian sambil berbisik-bisik
“kamu, tetap ditempatmu berdiri dan tunggu saja” kata Febi memberi peringatan
“mami tadi bilang saya calon mantu mami” Tanya Dita pad Febi yang tidak percaya, dia berpikir dia diminta untuk
memanggilnya mami karena sayang padanya seperti anaknya sendiri.
“tapi mami, Dita nganggap mami sudah seperti ibu Dita sendiri” kata Dita dengan wajah pasrah
“sayang, mami sayang sama kamu seperti sayang sama anak mami sendiri, dan memang niat mami ingin menjodohkan kamu dengan anak mami” Jelas Febi samba mengelus lembut pipi Dita yang masih memancarkan sedikti kekecewaan diwajahnya, dia bahkan tidak tahu seperti apa anaknya wanita yang sekarang dipanggil mami itu. Selang satu jam beberapa orang datang dan menghampiri Febi memberikan surat-surat resmi
kepemilikan café yang sudah berubah menjadi milik Febi
“ini lihat” kata Febi sambil menyerahkan surat-surat dengan gaya yang, Kikan menerima surat-surat itu dan memeriksanya
“ini nggak mungkin, kok bisa” pekik Kikan yang memeriksa surat-surat itu berkali-kali dan tidak percaya
“ini pasti cuma akal-akalan tante” bentak Kikan lagi yang tidak percaya dan masih mencoba memeriksa surat-surat yang ada ditangannya
“ini bukan akal-akalan, ini kenyataan gadis tidak punya sopan santun, detik ini juga cefe ini sudah menjadi milik saya” jawab Febi dengan tegas serta dengan suara keras
“gue yakin ini cuma akal-kalan tante dan gue nggak terima, gue bakal balas tamparan barusan” kata Kikan dengan
mengangkat tangan hendak menampar Febi itu langsung ditepis dan digenggam erat oleh Febi yang penuh amarah
“dengarkan aku baik-baik nona tidak tahu sopan santun, ini bukan akal-akalan” kata Febi dengan suara tegas dan lantang
“berani loe sama gue!, nggak tau loe siapa gue ”teriak Kikan yang mencoba melapaskan tangannya tetapi Febi
mencengkram erat-erat pergelangan tangannya
“harusnya kamu dan bapakmu yang takut sama saya wanita tidak punya sopan santun!” bentak Febi dengan tatapan yang penuh dengan amarah dan semakin mengeratkan cengkramannya, Febi memajukan
langkahnya dan mendekati muka gadis itu.
“Febi Deveraux, tanyakan itu pada bapakmu, dan setelah ini kalu sampai saya mendengar kamu mengganggunya, kamu akan tahu akibatnya” kata Febi sambil menunjuka Dita dengan tatapanya yang kemudian kembali menatap tajam pada Kikan, dia hanya meringis kesakitan, mendengar nama Deveraux Dita terbelalak
“De-de Deveraux” suara Dita parau penuh setelah mendengar nama itu, dia melangkah mundur pelan-pelan, Dita pun meneteskan air mata kekecewaanya, kemudian berlari menjauh dan keluar café. Sementara teman Kikan yang bersamanya mendengar nama Deveraux langsung melangkah mundur bersembunyi dan mengintip dari balik tembok, dia mengenal siapa Deveraux,
__ADS_1
Febi begitu marah pada Kikan dan langsung mengusirnya dari cafe karena membuat dia harus menyebutkan nama belakangnya yang tentu saja membuat Dita menjauhinya ~~~~