Untuk istriku

Untuk istriku
Merayu Suami 2


__ADS_3

Dita terbangun dan tangan kekar Rafael merangkulnya dari


belakang, Dita tersenyum dan merasa ada kesenangan tersendiri, dilihatnya jam


di atas nakas yang menunjukkan pukul empat pagi, Dita pun berbalik dan


menghadap suaminya yang tak membiarkannya beranjak, lengan kekarnya meraih


tubuh Dita yang tanpa sehelai benang dibawah selimut itu untuk kembali dalam


pelukan Rafael.


“sudah bangun ya? Lepasin dulu aku mau ke kamar mandi” bisik


Dita sambil menyentuh pipi suaminya serta memberikan ciuman lembut disana


“jangan lama-lama” kata Rafael yang masih menutup matanya,


Dita pun beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, didalam kamar


mandi Dita termenung sambil menatap dirinya sendiri di cermin, dia tersenyum


sendiri mengingat apa yang terjadi padanya semalam


“kenapa gue jadi mesum banget ya, gue juga ingin terus di


sentuh sama Rafael” guman Dita pada dirinya sendiri


“ah dia kan suami gue nggak apa apa kali” gumannya lagi


sembari meraih piyama kimono yang ia beli bersama Febi dan Millan, Kimono pink


bermotif bulu merak yang imut dan sedikit transparan, Dita benar benar ingin


memakainya dan berharap suaminya akan memujinya. Dia pun keluar dari kamar


mandi dan dilihatnya Rafael yang sudah terbangun sedang memeriksa ponselnya. Di


liriknya istrinya yang menatapnya manja dan melangkah keluar kamar. Dita


memeriksa isi kulkas dia mengeluarkan beberapa makanan, kemudian memanaskan


sebagian yang ia keluarkan


“ini belum jam enam sayang, untuk apa kamu menyiapkan


sarapan?” tanya Rafael yang menghampiri Dita sambil mengeringkan rambutnya


dengan handuk, Dita pun melayangkan pandangannya kearah sumber suara


“aku lapar sayang, semalaman kamu nafsu banget sih” goda


Dita pada Rafael yang mendekatinya, jantung Dita berdetak dengan cepat terlebih


melihat suaminya yang bertelanjang dada hanya memakai celana piyamanya itu.


“sumpah, gue kenapa


deg degan, gue udah tinggal sama nih orang hampir setahun, dan dia suami gue


bercinta pun semalam bukan pertama kali” gerutu Dita dalam hatinya


“kenapa melihat saya seperti itu?” tanya Rafael yang hanya


berjarak satu centi dengan Dita


“Raf.. ehm kamu mau makan juga?” tanya Dita berusaha


mengalihkan perhatian Rafael yang menatapnya dengan dalam dan lembut


“cake yang ini saja boleh” kata Rafael sambil menunjuk kue


brownis coklat, Rafael tersenyum lembut melihat istrinya yang nampak gugup, dia


pun berusaha mencairkan suasana


“berikan pada saya, biar saya yang menyiapkannya” kata


Raafel dengan santai serta suara yang lembut


Dita memberikan brownis pada Rafael sedangkan dia sendiri


menyiapkan dua piring kue serta teh hangat juga kopi kesukaan suaminya, tak


lupa pula dia menyiapkan buah buahan dan diletakkan berjejer di atas meja,


mereka berbincang santai, Rafael berhasil membuat Dita santai yang sebelumnya


nampak gugup, semua telah siap diatas meja, Rafael meletakkan handuk yang sejak


beberapa saat menggantung di antara lehernya diatas sebuah kursi, dia


meletakkannya begitu saja, dan duduk di kursi yang lainnya.


“nah sudah diap, mari kita makan” kata Dita bersemangat dan


meraih kursi yang ada didepannya, tetapi Rafael yang duduk di sebelah kursi


yang hendak di tempati Dita langsng meraih tangan Dita dan memandu Istrinya itu


untuk duduk di pangkuannya


“mati gue, kalo ketahuan gue deg degan bisa tengsin dong


gue” guman Dita dalam hatinya tetapi dia tetap tersenyum manis pada suaminya


“Dita kamu makan ini, ini tidak akan membuat kamu kenyang


dan kamu bisa menghabiskan semua ini” kata Rafael dengan lembut dan menyuapi


Dita, yang disuapi pun tidak menolak


“hmm, makasih sayang” kata Dita dengan manja, dia juga


menyuapi suaminya dengan lembut. Rafael yang menyadari istrinya gugup


didepannya itu berhasil mencairkan suasa. Dita tak merasa canggung atau gugup


lagi, mereka menikmati makanan mereka dengan santai dan sesekali tawa renyah


Dita mengiringi perbincangan membuat Rafael semakin jatuh kedalam cintanya pada


istrinya itu


“Dita, apa semalam itu untuk pergi kerumah Intan?” tanya


Rafael santai


“boleh ya? Please, Intan itu sahabat aku Raf boleh ya?” kata


Dita dengan manja dan wajah memelas. Rafael hanya menatapnya dalam dalam dan


dalam tatapan itu Dita kembali melancarkan rayuannya, di kalungkannya tangannya


di antara pundak suaminya serta mencium bibir suaminya dengan lembut.


“bodoh amat, gue nggak


akan berhenti sampek loe bilang boleh” guman Dita dalam hatinya sambil


melu**t bibir suaminya


“boleh ya sayang” suara Dita dengan setengah berbisik di


telinga Rafael setelah melepaskan ciumannya


“Dita, saya tidak bisa


bilang tidak jika kamu seperti ini setiap hari” kata Rafael dalam hatinya


yang menikmati sekaligus membalas l*matan istrinya. Di tatapnya dalam dalam istrinya


dan mencium lembut bibir mungil DIta, tangannya pun mulai nakal bergerak menyentuh


paha istrinya yang berada di pangkuannya itu. Sesekali tangannya berusaha masuk


dibalik piyama kimono istrinya, dengan napas yang tersenggal keduanya


melepaskan ciuman mereka yang sedikit lebih lama dari biasanya. Dita yang


merasakan desiran dalam darahnya seolah tak ingin berhenti, dia benar benar  tak ingin melewatkan setiap sentuhan suaminya,


Rafael beralih mencium leher jenjang istrinya yang membuat Dita mendesah manja


“Rafael … “ panggil Dita pada suaminya serta menghentikan


aktifitas suaminya yang mencium setiap lekuk leher jenjangnya. Dita memegang


kedua pipi suaminya, menempelkan dahinya pada dahi suaminya lalu kembali


menghujani ciuman di bibir suaminya, Dita menjadi semakin liar membuat Rafael


tak mampu menolak, tangannya pun tak hanya bermain manja di paha istrinya


tetapi juga dua gunung kembar istrinya yang membuat Dita semakin tak bisa


menahan diri. Berlahan Dita melepas piyama kimononya, dia juga mengubah posisi


duduknya, kedua kakinya yang berada di antara pinggang suaminya itu membuat

__ADS_1


Rafael leluasa. Di angkatnya tubuh istrinya menuju kamar mereka, dan pagi yang


cerah itu di sambut dengan kemesraan keduanya.


“Selamat pagi” sapa Rafael pada Dita yang mengeliat kecil


dalam pelukannya, Dita pun melihat jam diatas nakas menunjukkan pukul tujuh


kurang lima menit


“selamat pagi, kamu nggak siap siap kekantor?” sapa Dita


balik pada suaminya dengan pipi yang memerah


“ini hari sabtu untuk apa saya kekantor” jawab Rafael dengan


senyum lembut serta membelai rambut istrinya


“oh iya ini hari sabtu” kata Dita membenarkan sembil meraih


pipi Rafael dengan kedua tangannya


“Dita kamu pagi ini begitu liar, apa kamu menginginkan sesuatu,


katakan saja” kata Rafael yang lupa akan permintaan Dita istrinya


“aku mau kerumahnya Intan Raf, boleh ya? Dia kan mau menikah


dan sebelum tiga hari menjelang pernikahan dia juga mulai besok senin masuk


kantor hanya setengah hari” kata Dita menjelaskan, kedua tangannya pun kini


melingkar di antara leher suaminya yang sudah bergerak berada diatasnya


“Dita, saya tidak mau kejadian buruk itu terulang, karena


itulah saya tidak mau kamu pergi tanpa pengawasan saya” jelas Rafael, dia masih


mengingat dengan benar bagaimana keadaan Dita di gudang terpencil saat ia dan


papinya menemukan istrinya itu.


“tidak akan ada yang berani menyentuh wanitamu ini Raf” kata


Dita dengan setengah berbisik dan kembali dia melayangkan ciuman rayuannya,


mereka pun kembali berolaraga ranjang lagi dan lagi.


“uh sial terlalu lama jadinya sakit” guman Dita dalam


hatinya saat merasakan sakit dibagian kewanitaanya, dia bahkan kesusahan


berjalan menuju kamar mandi, dia harus berjalan berlahan dan berpegangan pada


nakas dan tembok yang ada. Melihat istrinya yang kesusahan berjalan itu Rafael


tersenyum lalu dia pun beranjak dari ranjangnya yang penuh cinta itu dan berjalan


menghampiri istrinya, di gendongnya istrinya bak bridal style, dia juga


membantu istrinya untuk mandi.


“gue benar benar beruntung punya suami kayak dia, pengertian


banget, bercintanya juga nggak kasar tapi kapan dia bilang iya, busyet dah”


guman Dita dalam hatinya disela sela Rafale menggantikan baju untuknya, setelah


dia sendiri juga berpakaian


“udah, aku udah bisa jalan sendiri kok” kata Dita dengan


lembut


“yakin? Maaf sayang kalau saya membuat kamu sakit” kata


Rafael dengan wajah menyesalnya


“kalau gitu boleh ya, kalau nggak gue godain lagi nih” kata


Dita dengan senyum lebar dan memeluk erat Rafael membuat Rafael terkekeh lalu


mencium kening istrinya


“semalam dan seharian masih kurang?” goda Rafael sambil


menatap lembut mata istrinya lalu tersenyum lebar


“jawab napa, huh, kamu yang masak ya, gue mogok masak kalau


nggak di kasih izin pergi kerumah Intan” gerutu Dita dengan memasang wajah


menyiapkan makanan, Rafael begitu puas menatap istrinya dia menemukan cinta di


dalam tatapan Dita.


***


“mami, Dita tidak kesini? Apa hari minggu pun dia harus


terkurung di apartement?” tanya Millan polos pada Febi


“hus,terkurung bagaimana?” tanya Febi balik


“Rafael tidak mengizinkan Dita keluar” kata Millan lagi


mencoba memberi tahu


“ah yang bener? Perasaan tadi pagi mereka berdua keluar kok”


kata Febi yang memang melihat Dita dan Rafael keluar di minggu pagi


“coba saya telpon mereka” kata Nicholas santai, dia pun


meraih ponselnya


“halo Dita, apa kabar sayang” sapa Nicholas melalui ponsel


pintarnya


“halo papi, aku baik papi sendiri gimana kabarnya?” tanya


Dita balik


“papi baik Dita, kamu dimana? Apa kamu tidak kangen mami?


Datanglah kerumah” kata Nicholas mencaritahu


“Dita lagi keluar pi sama Rafael, nanti setelah selesai kami


mampir” jawab Dita santai


“baiklah sayang kami tunggu” kata Nicholas dengan senyum


lebar lalu menutup telponnya


“mereka masih ada urusan nanti akan mampir kesini” kata


Nicholas santai. Setelah urusan Rafael selesai mereka pun mampir ke rumah Febi


dan Nicholas, Millan yang sudah menunggu kedatangan Dita menyambut dengan


gembira. Dita menghabiskan siangnya bersama Millan dan Febi, mereka berbincang


banyak hal terlebih mengenai Fashion, Millan begitu antusias mengarahkan Dita


mengenai Fashion. Jam tiga sore Dita dan Rafael berpamitan untuk kembali ke


apartmemen mereka, terlebih Rafael yang tidak sabar, Dita benar benar membuat


Rafael tidak bisa sabar, dia menggoda suaminya terus menerus melalui pesan


singkatnya.


“sayang, apakah sakit?” tanya Rafael yang memeluk istrinya


dibalik selimut tebal mereka


“sedikit” jawab Dita pelan seraya memainkan telunjuk jarinya


diatas lengan kekar suaminya, Rafael hanya menarik napas panjang. Dia begitu


bernafsu untuk menyentuh istrinya terlebih godaan demi godaan di lancarkan Dita


sedangkan dia tidak ingin membuat istrinya itu kesakitan, ada raut penyesalan


di wajahnya


“maafkan saya karena saya tidak bisa menahan diri, saya


terlalu mencintai kamu Dita” kata Rafael datar


“bener kamu cinta sama aku?” tanya Dita dengan manja


“ya, saya sangat mencintai kamu Dita” jawab Rafael, dia


meraih dagu istrinya yang berada dipelukannya itu dan menatap matanya dalam


dalam

__ADS_1


“bagus, yang gue


tunggu, tapi gue kenapa menatap mata suami gue jadi deg degan” guman Dita


dalam hatinya


“kalau gitu kabulkan permintaanku” kata Dita to the point


membuat Rafael menaikkan alis kanannya dan menarik dapas dalam dalam


“baiklah kamu boleh pergi, tapi harus dengan saya” kata


Rafael dengan tegas, Dita pun tersenyum lebar lalu mencium pipi suaminya


“makasih pangeranku Dita yang tampan” jawab Dita yang merasa


senang


“saya sudah kenyang memakan kamu tiga hari ini sekarang


giliran kamu mengenyangkan perut saya” kata Rafael dengan senyum lembut mencoba


mengalihkan Dita agar tidak menggodanya lagi, mendengar kalimat Rafael itu Dita


terkekeh


“ya udah lepasin dulu pelukannya” kata Dita dengan manja,


Rafael pun melepaskan pelukannya dan memperhatikan istrinya yang beranjak dari


tempat tidur mereka tanpa busana, Dita meraih bajunya yang dilempar ke


sembarang arah oleh suaminya saat tiba di apartmenent dan memakainya lalu


melangkahkan kakinnya ke dapur.


“good morning zaenab, cie gimana misi loe?” sapa Intan pada


Dita dengan cengengesan seketika Dita langsung manyun sekaligus pipinya memerah


“loe bikin gue sengsara tau nggak” jawab Dita santai meski


dengan muka sebalnya


“kenapa? Nggak berhasil?” tanya Intan penasaran?


“gue di makan habis semalaman penuh nggak cuman itu paginya


juga sampai sore gue bercinta mulu”gerutu Dita membuat tawa Intan lepas


seketika


“hahhaha ***** kuat banget loe, Tapi entar loe dapat izin


kan buat dateng bantu bantu gue dirumah” kata Intan dengan penuh harap


“dengan terpaksa dikabulkan karena suami gue nggak tega


kalau gue sakit” kata Dita lagi dengan berbisik pada Intan


“cie cie gue bilang juga apa, dia itu cinta mati sama loe,


be te we sakit emang dia main kasar?” tanya Intan mencoba mengintrogasi, Dita


hanya menggeleng kepala


“bukanya kasar cuman loe bayangin aja tiga hari” bisik Dita


sambil memutar bola matanya membuat intan tergelak tak bisa menahan tawanya,


tetapi seketika dia tersadar


“nih anak ngomongin suaminya kayak dulu ngomongin Gibran pas


jatuh cinta” guman Intan dalam hatinya sambil manatap  Dita dengan memicingkan matanya


“napa loe? Bentar lagi loe ngarasaian sendiri nggak usah


liatin gue kayak gitu” gerutu Dita sambil memeriksa laptop di depannya sesekali


“nggak apa- apa, loe jadi kan ke rumah gue entar?” tanya


Intan memastikan


“jadi dong, tapi habis meeting” jawab Dita dengan senyum


gembira karena bisa menemani sahabatnya itu


“be te we loe jatuh cinta? loe baik baik aja kan?” tanya


Intan sambil memeriksa kening Dita


“jatuh cinta? nggak ah,gue baik baik aja tantan” jawab Dita


sembari menepis tangan Intan yang memeriksa dahinya


“yakin loe baik baik aja? Gue perhati-in loe semangat banget


ngomongin suami loe, nggak kayak biasanya” guman Intan yang masih memperhatikan


Dita dengan seksama


“gue biasa aja, ada yang aneh? Emang kelihatan kalau gue


habis bercinta” jawab Dita yang sembari setengah berbisik sesekali dia


memeriksa dirinya sendiri


“hahahaha zainab tercinta loe lucu banget sih, nggak kliatan


kok cuma ekpresi loe saat ngomongin suami loe, beda, kayak gimana gitu” kata


Intan menjelaskan dengan menekankan pada kata beda


“nggak tahu  gue,tapi


pas gue balas sms loe jumat kemarin abis itu gue godain suami gue cuman tiba


tiba gue deg degan apalagi pas gue lihat tuch tatapan matanya” kata Dita curhat


pada sahabatnya itu


“peak loe, itu namanya jatuh cinta Dita” kata Intan dengan


suara penekanan pada kalimatnya


“eh siapa yang jatuh cinta?” tanya Hilda sekertaris Nicholas


yang sedang berjalan menuju meja kerjanya yang tak jauh dari meja kerja Dita


sebagai asisten Rafael


“hmm nih sih biang kerok nggak ada bensin nyahut aja”


seloroh Intan yang memang dari awal tidak suka dengan Hilda yang sok tahu dan


sok memerintah


“Dita? Kamu yang jatuh cinta? sama Mr Rafael? Hahahaha mana


mau Rafael sama kamu” kata Hilda mengejek membuat Intan terkekeh


“yang bener mana mau Mr Rafael sama loe, orang dia udah


cinta mati kok sama Dita” ejek Intan yang menjadi satu satunya karyawan biasa


yang tahu hubungan Rafael dengan Intan.


“udah tan jangan di ladein, entar kalo papi tahu kasian dia


bisa dipecat” bisik Dita pada Intan


“ah yang bener loe?” sontak Intan mendelik mendengar


pernyataan Dita


“heem soalnya dia nggodain Rafael meski udah di peringati,


kata papi sebelumnya pernah nggodain kak Sean juga” bisik Dita pada Intan


“oh gitu” kata Intan memahami penjelasan Dita dia juga


mengangguk mengerti


“Intan, keruangan saya sekarang” kata Sean yang tiba tiba


muncul dibelakang Intan membuat Intan dan Dita terkejut


“ba-baik Mr, laporan sudah siap” jawab Intan yang terkejut


namun masih dijawab dengan tegas


“mati gue, kenapa gue


nggak langsung masuk keruangan aja tadi, pake ngobrol sama Dita” gerutu


Intan dalam hatinya sambil berjalan cepat cepat mengikuti Sean menuju ruang


kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2