
Dita terbangun dan tangan kekar Rafael merangkulnya dari
belakang, Dita tersenyum dan merasa ada kesenangan tersendiri, dilihatnya jam
di atas nakas yang menunjukkan pukul empat pagi, Dita pun berbalik dan
menghadap suaminya yang tak membiarkannya beranjak, lengan kekarnya meraih
tubuh Dita yang tanpa sehelai benang dibawah selimut itu untuk kembali dalam
pelukan Rafael.
“sudah bangun ya? Lepasin dulu aku mau ke kamar mandi” bisik
Dita sambil menyentuh pipi suaminya serta memberikan ciuman lembut disana
“jangan lama-lama” kata Rafael yang masih menutup matanya,
Dita pun beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, didalam kamar
mandi Dita termenung sambil menatap dirinya sendiri di cermin, dia tersenyum
sendiri mengingat apa yang terjadi padanya semalam
“kenapa gue jadi mesum banget ya, gue juga ingin terus di
sentuh sama Rafael” guman Dita pada dirinya sendiri
“ah dia kan suami gue nggak apa apa kali” gumannya lagi
sembari meraih piyama kimono yang ia beli bersama Febi dan Millan, Kimono pink
bermotif bulu merak yang imut dan sedikit transparan, Dita benar benar ingin
memakainya dan berharap suaminya akan memujinya. Dia pun keluar dari kamar
mandi dan dilihatnya Rafael yang sudah terbangun sedang memeriksa ponselnya. Di
liriknya istrinya yang menatapnya manja dan melangkah keluar kamar. Dita
memeriksa isi kulkas dia mengeluarkan beberapa makanan, kemudian memanaskan
sebagian yang ia keluarkan
“ini belum jam enam sayang, untuk apa kamu menyiapkan
sarapan?” tanya Rafael yang menghampiri Dita sambil mengeringkan rambutnya
dengan handuk, Dita pun melayangkan pandangannya kearah sumber suara
“aku lapar sayang, semalaman kamu nafsu banget sih” goda
Dita pada Rafael yang mendekatinya, jantung Dita berdetak dengan cepat terlebih
melihat suaminya yang bertelanjang dada hanya memakai celana piyamanya itu.
“sumpah, gue kenapa
deg degan, gue udah tinggal sama nih orang hampir setahun, dan dia suami gue
bercinta pun semalam bukan pertama kali” gerutu Dita dalam hatinya
“kenapa melihat saya seperti itu?” tanya Rafael yang hanya
berjarak satu centi dengan Dita
“Raf.. ehm kamu mau makan juga?” tanya Dita berusaha
mengalihkan perhatian Rafael yang menatapnya dengan dalam dan lembut
“cake yang ini saja boleh” kata Rafael sambil menunjuk kue
brownis coklat, Rafael tersenyum lembut melihat istrinya yang nampak gugup, dia
pun berusaha mencairkan suasana
“berikan pada saya, biar saya yang menyiapkannya” kata
Raafel dengan santai serta suara yang lembut
Dita memberikan brownis pada Rafael sedangkan dia sendiri
menyiapkan dua piring kue serta teh hangat juga kopi kesukaan suaminya, tak
lupa pula dia menyiapkan buah buahan dan diletakkan berjejer di atas meja,
mereka berbincang santai, Rafael berhasil membuat Dita santai yang sebelumnya
nampak gugup, semua telah siap diatas meja, Rafael meletakkan handuk yang sejak
beberapa saat menggantung di antara lehernya diatas sebuah kursi, dia
meletakkannya begitu saja, dan duduk di kursi yang lainnya.
“nah sudah diap, mari kita makan” kata Dita bersemangat dan
meraih kursi yang ada didepannya, tetapi Rafael yang duduk di sebelah kursi
yang hendak di tempati Dita langsng meraih tangan Dita dan memandu Istrinya itu
untuk duduk di pangkuannya
“mati gue, kalo ketahuan gue deg degan bisa tengsin dong
gue” guman Dita dalam hatinya tetapi dia tetap tersenyum manis pada suaminya
“Dita kamu makan ini, ini tidak akan membuat kamu kenyang
dan kamu bisa menghabiskan semua ini” kata Rafael dengan lembut dan menyuapi
Dita, yang disuapi pun tidak menolak
“hmm, makasih sayang” kata Dita dengan manja, dia juga
menyuapi suaminya dengan lembut. Rafael yang menyadari istrinya gugup
didepannya itu berhasil mencairkan suasa. Dita tak merasa canggung atau gugup
lagi, mereka menikmati makanan mereka dengan santai dan sesekali tawa renyah
Dita mengiringi perbincangan membuat Rafael semakin jatuh kedalam cintanya pada
istrinya itu
“Dita, apa semalam itu untuk pergi kerumah Intan?” tanya
Rafael santai
“boleh ya? Please, Intan itu sahabat aku Raf boleh ya?” kata
Dita dengan manja dan wajah memelas. Rafael hanya menatapnya dalam dalam dan
dalam tatapan itu Dita kembali melancarkan rayuannya, di kalungkannya tangannya
di antara pundak suaminya serta mencium bibir suaminya dengan lembut.
“bodoh amat, gue nggak
akan berhenti sampek loe bilang boleh” guman Dita dalam hatinya sambil
melu**t bibir suaminya
“boleh ya sayang” suara Dita dengan setengah berbisik di
telinga Rafael setelah melepaskan ciumannya
“Dita, saya tidak bisa
bilang tidak jika kamu seperti ini setiap hari” kata Rafael dalam hatinya
yang menikmati sekaligus membalas l*matan istrinya. Di tatapnya dalam dalam istrinya
dan mencium lembut bibir mungil DIta, tangannya pun mulai nakal bergerak menyentuh
paha istrinya yang berada di pangkuannya itu. Sesekali tangannya berusaha masuk
dibalik piyama kimono istrinya, dengan napas yang tersenggal keduanya
melepaskan ciuman mereka yang sedikit lebih lama dari biasanya. Dita yang
merasakan desiran dalam darahnya seolah tak ingin berhenti, dia benar benar tak ingin melewatkan setiap sentuhan suaminya,
Rafael beralih mencium leher jenjang istrinya yang membuat Dita mendesah manja
“Rafael … “ panggil Dita pada suaminya serta menghentikan
aktifitas suaminya yang mencium setiap lekuk leher jenjangnya. Dita memegang
kedua pipi suaminya, menempelkan dahinya pada dahi suaminya lalu kembali
menghujani ciuman di bibir suaminya, Dita menjadi semakin liar membuat Rafael
tak mampu menolak, tangannya pun tak hanya bermain manja di paha istrinya
tetapi juga dua gunung kembar istrinya yang membuat Dita semakin tak bisa
menahan diri. Berlahan Dita melepas piyama kimononya, dia juga mengubah posisi
duduknya, kedua kakinya yang berada di antara pinggang suaminya itu membuat
__ADS_1
Rafael leluasa. Di angkatnya tubuh istrinya menuju kamar mereka, dan pagi yang
cerah itu di sambut dengan kemesraan keduanya.
“Selamat pagi” sapa Rafael pada Dita yang mengeliat kecil
dalam pelukannya, Dita pun melihat jam diatas nakas menunjukkan pukul tujuh
kurang lima menit
“selamat pagi, kamu nggak siap siap kekantor?” sapa Dita
balik pada suaminya dengan pipi yang memerah
“ini hari sabtu untuk apa saya kekantor” jawab Rafael dengan
senyum lembut serta membelai rambut istrinya
“oh iya ini hari sabtu” kata Dita membenarkan sembil meraih
pipi Rafael dengan kedua tangannya
“Dita kamu pagi ini begitu liar, apa kamu menginginkan sesuatu,
katakan saja” kata Rafael yang lupa akan permintaan Dita istrinya
“aku mau kerumahnya Intan Raf, boleh ya? Dia kan mau menikah
dan sebelum tiga hari menjelang pernikahan dia juga mulai besok senin masuk
kantor hanya setengah hari” kata Dita menjelaskan, kedua tangannya pun kini
melingkar di antara leher suaminya yang sudah bergerak berada diatasnya
“Dita, saya tidak mau kejadian buruk itu terulang, karena
itulah saya tidak mau kamu pergi tanpa pengawasan saya” jelas Rafael, dia masih
mengingat dengan benar bagaimana keadaan Dita di gudang terpencil saat ia dan
papinya menemukan istrinya itu.
“tidak akan ada yang berani menyentuh wanitamu ini Raf” kata
Dita dengan setengah berbisik dan kembali dia melayangkan ciuman rayuannya,
mereka pun kembali berolaraga ranjang lagi dan lagi.
“uh sial terlalu lama jadinya sakit” guman Dita dalam
hatinya saat merasakan sakit dibagian kewanitaanya, dia bahkan kesusahan
berjalan menuju kamar mandi, dia harus berjalan berlahan dan berpegangan pada
nakas dan tembok yang ada. Melihat istrinya yang kesusahan berjalan itu Rafael
tersenyum lalu dia pun beranjak dari ranjangnya yang penuh cinta itu dan berjalan
menghampiri istrinya, di gendongnya istrinya bak bridal style, dia juga
membantu istrinya untuk mandi.
“gue benar benar beruntung punya suami kayak dia, pengertian
banget, bercintanya juga nggak kasar tapi kapan dia bilang iya, busyet dah”
guman Dita dalam hatinya disela sela Rafale menggantikan baju untuknya, setelah
dia sendiri juga berpakaian
“udah, aku udah bisa jalan sendiri kok” kata Dita dengan
lembut
“yakin? Maaf sayang kalau saya membuat kamu sakit” kata
Rafael dengan wajah menyesalnya
“kalau gitu boleh ya, kalau nggak gue godain lagi nih” kata
Dita dengan senyum lebar dan memeluk erat Rafael membuat Rafael terkekeh lalu
mencium kening istrinya
“semalam dan seharian masih kurang?” goda Rafael sambil
menatap lembut mata istrinya lalu tersenyum lebar
“jawab napa, huh, kamu yang masak ya, gue mogok masak kalau
nggak di kasih izin pergi kerumah Intan” gerutu Dita dengan memasang wajah
menyiapkan makanan, Rafael begitu puas menatap istrinya dia menemukan cinta di
dalam tatapan Dita.
***
“mami, Dita tidak kesini? Apa hari minggu pun dia harus
terkurung di apartement?” tanya Millan polos pada Febi
“hus,terkurung bagaimana?” tanya Febi balik
“Rafael tidak mengizinkan Dita keluar” kata Millan lagi
mencoba memberi tahu
“ah yang bener? Perasaan tadi pagi mereka berdua keluar kok”
kata Febi yang memang melihat Dita dan Rafael keluar di minggu pagi
“coba saya telpon mereka” kata Nicholas santai, dia pun
meraih ponselnya
“halo Dita, apa kabar sayang” sapa Nicholas melalui ponsel
pintarnya
“halo papi, aku baik papi sendiri gimana kabarnya?” tanya
Dita balik
“papi baik Dita, kamu dimana? Apa kamu tidak kangen mami?
Datanglah kerumah” kata Nicholas mencaritahu
“Dita lagi keluar pi sama Rafael, nanti setelah selesai kami
mampir” jawab Dita santai
“baiklah sayang kami tunggu” kata Nicholas dengan senyum
lebar lalu menutup telponnya
“mereka masih ada urusan nanti akan mampir kesini” kata
Nicholas santai. Setelah urusan Rafael selesai mereka pun mampir ke rumah Febi
dan Nicholas, Millan yang sudah menunggu kedatangan Dita menyambut dengan
gembira. Dita menghabiskan siangnya bersama Millan dan Febi, mereka berbincang
banyak hal terlebih mengenai Fashion, Millan begitu antusias mengarahkan Dita
mengenai Fashion. Jam tiga sore Dita dan Rafael berpamitan untuk kembali ke
apartmemen mereka, terlebih Rafael yang tidak sabar, Dita benar benar membuat
Rafael tidak bisa sabar, dia menggoda suaminya terus menerus melalui pesan
singkatnya.
“sayang, apakah sakit?” tanya Rafael yang memeluk istrinya
dibalik selimut tebal mereka
“sedikit” jawab Dita pelan seraya memainkan telunjuk jarinya
diatas lengan kekar suaminya, Rafael hanya menarik napas panjang. Dia begitu
bernafsu untuk menyentuh istrinya terlebih godaan demi godaan di lancarkan Dita
sedangkan dia tidak ingin membuat istrinya itu kesakitan, ada raut penyesalan
di wajahnya
“maafkan saya karena saya tidak bisa menahan diri, saya
terlalu mencintai kamu Dita” kata Rafael datar
“bener kamu cinta sama aku?” tanya Dita dengan manja
“ya, saya sangat mencintai kamu Dita” jawab Rafael, dia
meraih dagu istrinya yang berada dipelukannya itu dan menatap matanya dalam
dalam
__ADS_1
“bagus, yang gue
tunggu, tapi gue kenapa menatap mata suami gue jadi deg degan” guman Dita
dalam hatinya
“kalau gitu kabulkan permintaanku” kata Dita to the point
membuat Rafael menaikkan alis kanannya dan menarik dapas dalam dalam
“baiklah kamu boleh pergi, tapi harus dengan saya” kata
Rafael dengan tegas, Dita pun tersenyum lebar lalu mencium pipi suaminya
“makasih pangeranku Dita yang tampan” jawab Dita yang merasa
senang
“saya sudah kenyang memakan kamu tiga hari ini sekarang
giliran kamu mengenyangkan perut saya” kata Rafael dengan senyum lembut mencoba
mengalihkan Dita agar tidak menggodanya lagi, mendengar kalimat Rafael itu Dita
terkekeh
“ya udah lepasin dulu pelukannya” kata Dita dengan manja,
Rafael pun melepaskan pelukannya dan memperhatikan istrinya yang beranjak dari
tempat tidur mereka tanpa busana, Dita meraih bajunya yang dilempar ke
sembarang arah oleh suaminya saat tiba di apartmenent dan memakainya lalu
melangkahkan kakinnya ke dapur.
“good morning zaenab, cie gimana misi loe?” sapa Intan pada
Dita dengan cengengesan seketika Dita langsung manyun sekaligus pipinya memerah
“loe bikin gue sengsara tau nggak” jawab Dita santai meski
dengan muka sebalnya
“kenapa? Nggak berhasil?” tanya Intan penasaran?
“gue di makan habis semalaman penuh nggak cuman itu paginya
juga sampai sore gue bercinta mulu”gerutu Dita membuat tawa Intan lepas
seketika
“hahhaha ***** kuat banget loe, Tapi entar loe dapat izin
kan buat dateng bantu bantu gue dirumah” kata Intan dengan penuh harap
“dengan terpaksa dikabulkan karena suami gue nggak tega
kalau gue sakit” kata Dita lagi dengan berbisik pada Intan
“cie cie gue bilang juga apa, dia itu cinta mati sama loe,
be te we sakit emang dia main kasar?” tanya Intan mencoba mengintrogasi, Dita
hanya menggeleng kepala
“bukanya kasar cuman loe bayangin aja tiga hari” bisik Dita
sambil memutar bola matanya membuat intan tergelak tak bisa menahan tawanya,
tetapi seketika dia tersadar
“nih anak ngomongin suaminya kayak dulu ngomongin Gibran pas
jatuh cinta” guman Intan dalam hatinya sambil manatap Dita dengan memicingkan matanya
“napa loe? Bentar lagi loe ngarasaian sendiri nggak usah
liatin gue kayak gitu” gerutu Dita sambil memeriksa laptop di depannya sesekali
“nggak apa- apa, loe jadi kan ke rumah gue entar?” tanya
Intan memastikan
“jadi dong, tapi habis meeting” jawab Dita dengan senyum
gembira karena bisa menemani sahabatnya itu
“be te we loe jatuh cinta? loe baik baik aja kan?” tanya
Intan sambil memeriksa kening Dita
“jatuh cinta? nggak ah,gue baik baik aja tantan” jawab Dita
sembari menepis tangan Intan yang memeriksa dahinya
“yakin loe baik baik aja? Gue perhati-in loe semangat banget
ngomongin suami loe, nggak kayak biasanya” guman Intan yang masih memperhatikan
Dita dengan seksama
“gue biasa aja, ada yang aneh? Emang kelihatan kalau gue
habis bercinta” jawab Dita yang sembari setengah berbisik sesekali dia
memeriksa dirinya sendiri
“hahahaha zainab tercinta loe lucu banget sih, nggak kliatan
kok cuma ekpresi loe saat ngomongin suami loe, beda, kayak gimana gitu” kata
Intan menjelaskan dengan menekankan pada kata beda
“nggak tahu gue,tapi
pas gue balas sms loe jumat kemarin abis itu gue godain suami gue cuman tiba
tiba gue deg degan apalagi pas gue lihat tuch tatapan matanya” kata Dita curhat
pada sahabatnya itu
“peak loe, itu namanya jatuh cinta Dita” kata Intan dengan
suara penekanan pada kalimatnya
“eh siapa yang jatuh cinta?” tanya Hilda sekertaris Nicholas
yang sedang berjalan menuju meja kerjanya yang tak jauh dari meja kerja Dita
sebagai asisten Rafael
“hmm nih sih biang kerok nggak ada bensin nyahut aja”
seloroh Intan yang memang dari awal tidak suka dengan Hilda yang sok tahu dan
sok memerintah
“Dita? Kamu yang jatuh cinta? sama Mr Rafael? Hahahaha mana
mau Rafael sama kamu” kata Hilda mengejek membuat Intan terkekeh
“yang bener mana mau Mr Rafael sama loe, orang dia udah
cinta mati kok sama Dita” ejek Intan yang menjadi satu satunya karyawan biasa
yang tahu hubungan Rafael dengan Intan.
“udah tan jangan di ladein, entar kalo papi tahu kasian dia
bisa dipecat” bisik Dita pada Intan
“ah yang bener loe?” sontak Intan mendelik mendengar
pernyataan Dita
“heem soalnya dia nggodain Rafael meski udah di peringati,
kata papi sebelumnya pernah nggodain kak Sean juga” bisik Dita pada Intan
“oh gitu” kata Intan memahami penjelasan Dita dia juga
mengangguk mengerti
“Intan, keruangan saya sekarang” kata Sean yang tiba tiba
muncul dibelakang Intan membuat Intan dan Dita terkejut
“ba-baik Mr, laporan sudah siap” jawab Intan yang terkejut
namun masih dijawab dengan tegas
“mati gue, kenapa gue
nggak langsung masuk keruangan aja tadi, pake ngobrol sama Dita” gerutu
Intan dalam hatinya sambil berjalan cepat cepat mengikuti Sean menuju ruang
kerjanya.
__ADS_1