
Perbincangan Rafael dan Arman pun
selesai, Dita merasa lega setelah melihat senyum di wajah Rafael
“bagus deh nggak marah, mas Arman kan
udah kayak kaka gue sendiri bisa kacau kalau Rafael sampek berantem sama mas
Arman” guman Dita yang hanya bisa didengarnya sendiri. Sementara itu Arman
nampak memperhatikan Dita dari dalam ruangan Rafael pun langsung mengubah topik
pembicaraanya
“satu lagi Rafael, Dita itu sama seperti
Intan tidak perlu cemburu” kata Arman dengan senyum jahilnya pada Rafael
“kali ini saya memberi toleransi, tapi
jika berlebihan saya tidak akan tinggal diam” jawab Rafael santai
“boleh saya membawa dia untuk makan
malam?” tanya Arman pada Rafael tatkala sudah di depan pintu ruangan Rafael
dengan senyum jahat penuh kemenangan, Rafael hanya terdiam tak banyak bicara
hanya memberikan isyarat bahwa ia mengizinkan Arman mengajak Dita keluar kantor
tanpa dirinya. Setelah berbincang sebentar kemudian Dita danArman pun
meninggalkan lantai kantor Rafael, ssesampai di lobi kantor Dita menghentikan
langkahnya
“mbak Mr Rafaelnya ada? Sampaikan Bella
mau ketemu” tanya seorang wanita dengan berpakaian seksi di depan resepsionis,
mendengar suara wanita mencari suaminya Dita pun menghentikan langkahnya dan
melihat ke arah wanita itu, diperhatikannya dari kepala hingga kaki
“sialan, ini cewek mau nggoda suami gue”
guman Dita dalam hati, diapun melangkah menuju meja resepsionis
“mbak hari ini jadwal Mr Rafael penuh
ya, nggak bisa ditemui. Dan kalau pak Bam sudah datang minta tolong untuk
mengingatkan saya ada berkas yang harus saya sampaikan” kata Dita pada
resepsionis.
“enak saja mau ketemu sama suami gue,
pakai pakain kayak gini lagi” guman Dita dalam hatinya. Sontak saja membuat
Arman tersenyum lebar
“eh baik mbak Dita, oh iya itu siapa
manis” kata resepsionis sambil melirik pada Arman
“mbak tahu kan siapa saya? Sampaikan
saja Mr Rafael pasti menghentikan meetignnya untuk saya” kata Bella yang tak
rela menunggu dan menunda pertemuannya dengan Rafael.
“ini mas Arman, kakaknya Intan, maaf bu
Bella Mr Rafael benar-benar nggak bisa di ganggu” Jawab Dita yang langsung
menjawab keduanya
“kakanya Dita juga” jawab Arman dengan
senyum yang menggoda pada resepsionis.
“bu? Nggak lihat penampilan saya? Enak
saja panggil bu” geritu Bella yang tidak terima di panggil bu oleh Dita, lagi
–lagi Arman tersenyum lebar sambil melihat kearah Dita
“kamu cemburu? Sejak kapan kamu jatuh
cinta?” bisik Arman pada Dita
“mas Arman cerewet deh, nggak jadi pergi
ya Dita masih banyak kerjaan” omel Dita pada Arman yang menggodanya.
“tunggu sebentar, mas masih mau ngobrol,
kita duduk disitu” kata Arman sambil menunjuk pada satu set kursi yang ada di
depan lobi, mereka pun duduk dan mengobrol disana
“suamiku, aku nggak jadi makan malam
sama mas Arman tapi nggak kembali kerja, pulang aku tunggu di lobi” guman
Rafael pelan dan di iringi senyum tipis tatkala membaca pesan singkat dari Dita
“handosme, senyum sendiri apa ada yang
menarik dalam ponselmu?” sapa Sean yang tiba tiba muncul dari balik pintu.
“tidak ada, oh iya kapan papi akan
berangkat?” tanya Rafael sembari menyerahkan map pada Sean
“mungkin dua hari lagi” jawab Sean
santai, mereka pun asik berbincang mengenai perusahaan masing-masing. Malam
tiba Rafael dan Dita kali ini pulang kerumah Nicholas, mereka makan malam
bersama.
“sayang, kamu kenapa?” tanya Febi pada Dita
“iya Dita, saya lihat kamu seperti tidak
senang dan tidak tenang” kata Millan menambahkan
“nggak apa-apa, cuma kepikiran pekerjaan
yang belum selesai aj” jawab Dita lirih disertai senyum tipis yang dipaksakan
Setelah makan malam, Sean dan Rafael
melanjutkan perbincangannya di kantor yang belum selesai, kali ini Nicholas
juga ikut tak ketinggalan Bam pun ikut andil dalam perbincangan mereka hingga
pukul sepuluh malam.
“sayang, apa menurut kamu Dita sampai
sekarang tidak ada cinta untuk Rafael?” tanya Millan pada Sean sambil memeluk
suaminya dari belakang
“meskipun belum ada tapi Dita perduli
dengan Rafael, apa yang ditakutkan?” jawab Sean santai
“sebagai perempuan saya merasa Dita
tidak ada perasaan untuk Rafael sedangkan Rafael begitu besar rasa cintanya”
jelas Millan pada suaminya
“itu urusan mereka, Dita juga tidak ada
pilihan, dia tidak bisa menceraikan Rafael” kata Sean memberikan penjelasan
pada Millan sembari berbalik dan memeluk istrinya
“mengenai itu, kenapa tidak dilupakan
saja?” tanya Millan polos
“jangan dipikirkan itu kami para lelaki
sudah mengurusnya” jawab Sean lembut sambil meraih dagu istrinya, diciumnya
dengan lembut bibir istrinya
“ngomong-ngomong sudah lama kamu tidak
__ADS_1
mencium saya” goda Millan pada suaminya sesaat setelah Sean melepaskan
ciumannya, Sean tersenyum tipis and tanpa menjawab Millan dia kembali mencium
istrinya itu hingga keduanya terhanyut dalam hasrat masing-masing
Seminggu sudah pernikahan Intan dan
Fajar berlalu, Dita memutusan untuk
tinggal di rumah maminya setelah melihat Bella datang menemui Rafael dikantor,
meski tak kembali lagi.
“selamat pagi Millan” sapa Febi pada
menantunya di taman yang sedang menikmati teh dan suasana pagi
“selamat pagi mami” jawab Millan yang
kemudian ikut bergabung dengan mertuanya itu dengan senyum cerianya, Rafael menghampiri
kedua wanita cantik itu dan bergabung menikmati pagi mereka
“Rafael, Dita mana?” tanya Millan pada
Rafael
“di dapur, katanya ingin menyiapkan
sesuatu” kata Rafael dengan santai sembari menikmati segelas jus yang ia bawa
“anak ini tidak mau dengar maminya,
padahal ada bi Isa” guman Febi yang bangga menantunya tidak bergantung pada
pembantu untuk menyiapkan sarapan suaminya bahkan untuk semuanya,
“saya sangat senang, seminggu ini Dita
tinggal disini, tetapi apa yang membuat Dita punya pemikiran untuk tinggal
disini?” tanya Millan dengan polos
“suasana hatinya sedang buruk” jawab
Rafael singkat
“saya akan bantu Dita” kata Millan dan
hendak berdiri tetapi di hentikan Rafael
“tidak perlu, kalau tidak sesuai hatinya
kana semakin buruk dan dia akan melampiaskannya pada saya” kata Rafael mencegah
Millan dengan muka memelas membuat Millan tersenyum bahkan Sean yang masih di
belakang Rafael berjalan kearah mereka pun tertawa mendengar pernyataan Rafael
yang memang kenyataanya mereka sering bertengkar hanya karena hal hal kecil
terlebih jika Rafael melarang Dita untuk beraktivitas didalam rumah
“seharusnya kamu berterima kasih kepasa
saya” goda Sean dengan senyum lebar
“berterima kasih? lupakanlah saya tahu
kamu menikmatinya setiap kali Dita marah kepada saya” jawab Rafael datar
“mami, mencium sesuatu?” tanya Millan
yang mencium aroma aneh Febi pun mengendus endus memeriksa
“perasaan nggak mami nggak mencium apa
apa” kata Febi berusaha memastikan
“sesuatu hangus” kata Sean yang
menyadari aroma yang diciumnya terlebih dia melihat Dita yang sibuk didapur
entah membuat apa meski di meja makan sudah siap beberapa sarapan
“Dita” suara Rafael dan Sean hampir bersamaan,
dengan wajah panik semuanya berlali masuk dan menuju dapur
basahanya” suara Dita yang panik tatkala melihat api yang semakin membesar
“non Dita, ini biar bibi saja, non Dita
minggir dulu” suara pekikan Isa sambil meraih hydrant yang tak jauh dari dapur
“cepetan bi “ teriak Dita dengan wajah
mulai pucat, Isa dengan cepat berlari menuju tempat yang terbakar hendak
menyemprotkan hydrant yang ada ditangnnya, sementara Rafael, Sean dan Febi juga
Millan yang sudah berada di area dapur itu ikut panik
“ada apa ini! Dita kamu dimana?” teriak
Febi dengan wajah panik karena tidak melihat Dita
“mami kebakaran” teriak Dita yang
mendengar suara Febi, Rafael yang begitu khawatir lansgung mendekati Dita dan
menarik tangan Dita untuk menjauh dari sumber api, Sean yang membawa Hydrant
dari luar dapur itu segera mematikan api bersama Isa, lalu dengan cepat mematikan
kompor
“kamu tidak apa-apa?” tanya Rafael pada
Dita yang sudah berada dalam pelikannya, wajah Dita nampak pucat hanya
menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rafael
“sayang kamu kenapa repot-repot kan ada
bi Isa” suara Febi yang nampak sekali kepanikannya belum hilang
“Dita kamu masak apa? kenapa tidak
meminta bi Isa saja?” tanya Millan yang sambil mengibaskan tangannya karena
asap yang tebal, dia pun melangkah membuka cendela serta menyalakan penyedit
asap
“Dita pingin masak buat Rafael” jawab
Dita pelan merasa bersalah juga kecewa lantaran membuat dapur terbakar
“sudah padam tidak perlu panik” kata Sean menenangkan
“maaf nyonya, tuan, saya yang tidak
hati-hati” kata Isa yang juga merasa bersalah membiarkan Dita memasak sendiri
“kamu bisa meminta bi Isa, kenapa kamu
memasak sendiri” kata Rafael dengan suara tegas membuat ekspresi Dita berubah
“iya, kamu masak apa? Kenapa nggak minta
bi Isa yang menyiapkan” tanya Febi dengan suara yang masih panik,
“Dita Cuma mau masak buat Rafael mi”
jawab Dita lirih
“terima kasih, tapi kamu tidak perlu
repot ada bi Isa” jawab Rafael sambil menatap istrinya yang masih berada dalam
pelukannya itu
“sudah mulai sekarang tidak usah
memasak, ada bi Isa, biar semua dikerjakan bi Isa, kamu tidak perlu repot
repot” kata Febi dengan suara tinggi yang masih belum hilang paniknya
“tuh kan jadi nggak boleh masak” kata
Dita jengkel dan menepis kedua tangan Rafael yang memeluknya dengan longgar
itu, Dita meninggalkan dapur dengan wajah yang kecewa semua yang ada didapur
__ADS_1
pun saling berpandangan tidak mengerti dengan apa yang di inginkan Dita
“el apa kamu yang menyuruhnya?” tanya
Febi pada Rafael
“saya tidak menyuruhnya tetapi semalam
dia bertanya makanan apa yang sering saya makan sebelum saya datang kesini”
kata Rafael menjelaskan dengan santai dan tak menyangka Dita akan mencoba
membuatkan untuknya
“kamu tenangkan Dita” kata Millan pada
Rafael, dia tahu mertuanya itu pasti akan menyalahkan Rafael dan tidak berhenti
mengomel hingga sore, lebih baik Rafael dengan Dita, Rafael pun menaiki tangga
dan menuju kamarnya tetapi tak menemukan Dita dikamarnya.
“Dita kamu disini, saya mencari kamu”
kata Rafael pada Dita saat menemukan Dita sedang berdiri di balkon samping,
dipeluknya istrinya itu dari belakang
“sayang, akan ada pesta minggu depan,
mau aku temani belanja?” tanya Rafael lembut
“nggak usah, sana pergi saja saja sama
Bella” jawab Dita ketus
“Bella? Saya tidak ada urusan dengan
Bella, apa kamu cemburu?” jawab Rafael serta pertanyaan yang langsung menancap
bak busur panah di dada Dita
“nggak, cuma nggak suka aja dia tiap
hari nyariin kamu ke kantor” jawab Dita masih dengan nada ketus
“siapa yang mencari Rafael setiap hari?”
tanya Millan yang tiba-tiba muncul dengan Sean dan Febi
“el, kamu sudah punya istri loh, jangan
melihat wanita lain, contoh papi kamu” kata Febi yang menangkap sinyal
kecemburuan pada Dita
“Dita apa kamu sudah ada gaun untuk
pesta minggu depan?” tanya Millan dengan santai mengubah topik pembicaraan
“oh iya gue belum mikirin itu” jawab
Dita tiba-tiba serta raut wajah yang berubah drastis.
“bagaimana kalau kita belanja?” tanya
Febi dengan senyum lebar tatakala melihat waut wajah Dita yang tak lagi merasa
sedih dan bersalah karena kejadian kebakaran di dapur rumah mereka. Dita dan
Millan pun mengangguk pada pernyataan Febi
“istriku susah di mengerti” guman Rafael
yang berdiri disamping Sean
“wanita Deveraux ditakdirkan untuk menghabiskan uang” kata Sean dengan tersenyum
“yang gue pakai belanja juga uangnya
papi sama uangnya Rafael bukan uang kak Sean” jawab Dita dengan lirikan jengkel
mendengar kata kata Sean, Millan pun ikut protes dengan argument Sean yang
sebenarnya bangga itu.
Suasana hati Dita yang akhir akhir ini
tak bisa ditebak membuat Febi dan Sean meminta Rafael sebaiknya membatalkan
untuk melakukan perjalan bisnisnya dan menemani Dita, Rafael yang tidak punya
pilihan lantaran Dita tak mau ikut bersamanya, dia mengutus orang kepercayaanya
Bam untuk mengurus semuanya, dan minggu cerah itu Rafael pergi bersama Dita ke
beberapa tempat
“sayang, kita mampir ke mall ya mau
shopping” kata Dita merayu sembali memeluk lengan Rafael manja
“shopping lagi?” tanya Rafael dengan
raut muka heran
“iya, soalnya baju di rumah mami banyak
yang kekecilan” jawab Dita melas tetapi memasang muka manja pada suaminya,
Rafael pun tersenyum lalu mengajak istrinya pergi untuk membeli baju untuk
Dita, Sesampai di pusat perbelanjaan Dita memilih beberapa untuk dirinya
sendiri juga untuk suaminya, sementara Rafael memilih beberapa untuk istrinya.
“mbak semuanya jadi enam juta delapan
ratus” kata kasir kemudian Rafael mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu
kreditnya pada kasir, Dita yang merasa kecapekan itu meminta Rafael untuk
segera pulang terlebih sudah waktunya makan malam
“kami pulang” kata Dita di depan mintu
dan berjalan masuk kedalam rumah
“gitu ya belanja nggak ngajak mami”
jawab Febi dengan tersenyum ketika melihat belanjaan Dita yang begitu banyak
“maaf mami, soalnya Dita ingat kalau
beberapa baju Dita mulai kekecilan” jawab Dita dengan senyum bersalahnya
“masak sih? Perasaan kamu nggak gemuk
kok” kata Febi sembari memperhatikan Dita dari atas hingga kebawa
“mungkin karena non Dita akhir akhir ini
makan banyak” jawab Isa yang menerima tas belanjaan Dita yang di bawa oleh
Rafael
“iya kali ya, Rafael juga sih yang
nyuruh makan banyak” kata Dita melempar kesalahan pada suaminya.
“ya sudah kamu istirahat dulu biar nanti
pelayan menyiapkan makan malam buat kalian” kata Febi sambil memandu Dita masuk
kedalam ruang keluarga sementara Rafael menemui David yang sudah menunggunya.
“nggak usah mami, Dita belum lapar minum
susu coklat aja” jawab Dita sopan dia pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya
“Isa, kamu antar susu coklat kekamar
Dita ya” kata Febi dengan santai dan lembut pada pembantunya itu
“boleh nggak kalau Millan sama kak Sean
yang nganterin ke kamar Dita” kata Dita manja sembari melihat pada Sean dan Millan ketika mendengar mertuanya
meminta Isa untuk mengantar susu coklat untuknya
“tentu saja” kata Millan dengan senyum
manis, Dita pun berjalan menaiki tangga, dan bergegas menuju kamarnya untuk
beristirahat.
__ADS_1