Untuk istriku

Untuk istriku
Dapur terbakar


__ADS_3

Perbincangan Rafael dan Arman pun


selesai, Dita merasa lega setelah melihat senyum di wajah Rafael


“bagus deh nggak marah, mas Arman kan


udah kayak kaka gue sendiri bisa kacau kalau Rafael sampek berantem sama mas


Arman” guman Dita yang hanya bisa didengarnya sendiri. Sementara itu Arman


nampak memperhatikan Dita dari dalam ruangan Rafael pun langsung mengubah topik


pembicaraanya


“satu lagi Rafael, Dita itu sama seperti


Intan tidak perlu cemburu” kata Arman dengan senyum jahilnya pada Rafael


“kali ini saya memberi toleransi, tapi


jika berlebihan saya tidak akan tinggal diam” jawab Rafael santai


“boleh saya membawa dia untuk makan


malam?” tanya Arman pada Rafael tatkala sudah di depan pintu ruangan Rafael


dengan senyum jahat penuh kemenangan, Rafael hanya terdiam tak banyak bicara


hanya memberikan isyarat bahwa ia mengizinkan Arman mengajak Dita keluar kantor


tanpa dirinya. Setelah berbincang sebentar kemudian Dita danArman pun


meninggalkan lantai kantor Rafael, ssesampai di lobi kantor Dita menghentikan


langkahnya


“mbak Mr Rafaelnya ada? Sampaikan Bella


mau ketemu” tanya seorang wanita dengan berpakaian seksi di depan resepsionis,


mendengar suara wanita mencari suaminya Dita pun menghentikan langkahnya dan


melihat ke arah wanita itu, diperhatikannya dari kepala hingga kaki


“sialan, ini cewek mau nggoda suami gue”


guman Dita dalam hati, diapun melangkah menuju meja resepsionis


“mbak hari ini jadwal Mr Rafael penuh


ya, nggak bisa ditemui. Dan kalau pak Bam sudah datang minta tolong untuk


mengingatkan saya ada berkas yang harus saya sampaikan” kata Dita pada


resepsionis.


“enak saja mau ketemu sama suami gue,


pakai pakain kayak gini lagi” guman Dita dalam hatinya. Sontak saja membuat


Arman tersenyum lebar


“eh baik mbak Dita, oh iya itu siapa


manis” kata resepsionis sambil melirik pada Arman


“mbak tahu kan siapa saya? Sampaikan


saja Mr Rafael pasti menghentikan meetignnya untuk saya” kata Bella yang tak


rela menunggu dan menunda pertemuannya dengan Rafael.


“ini mas Arman, kakaknya Intan, maaf bu


Bella Mr Rafael benar-benar nggak bisa di ganggu” Jawab Dita yang langsung


menjawab keduanya


“kakanya Dita juga” jawab Arman dengan


senyum yang menggoda pada resepsionis.


“bu? Nggak lihat penampilan saya? Enak


saja panggil bu” geritu Bella yang tidak terima di panggil bu oleh Dita, lagi


–lagi Arman tersenyum lebar sambil melihat kearah Dita


“kamu cemburu? Sejak kapan kamu jatuh


cinta?” bisik Arman pada Dita


“mas Arman cerewet deh, nggak jadi pergi


ya Dita masih banyak kerjaan” omel Dita pada Arman yang menggodanya.


“tunggu sebentar, mas masih mau ngobrol,


kita duduk disitu” kata Arman sambil menunjuk pada satu set kursi yang ada di


depan lobi, mereka pun duduk dan mengobrol disana


“suamiku, aku nggak jadi makan malam


sama mas Arman tapi nggak kembali kerja, pulang aku tunggu di lobi” guman


Rafael pelan dan di iringi senyum tipis tatkala membaca pesan singkat dari Dita


“handosme, senyum sendiri apa ada yang


menarik dalam ponselmu?” sapa Sean yang tiba tiba muncul dari balik pintu.


“tidak ada, oh iya kapan papi akan


berangkat?” tanya Rafael sembari menyerahkan map pada Sean


“mungkin dua hari lagi” jawab Sean


santai, mereka pun asik berbincang mengenai perusahaan masing-masing. Malam


tiba Rafael dan Dita kali ini pulang kerumah Nicholas, mereka makan malam


bersama.


“sayang,  kamu kenapa?” tanya Febi pada Dita


“iya Dita, saya lihat kamu seperti tidak


senang dan tidak tenang” kata Millan menambahkan


“nggak apa-apa, cuma kepikiran pekerjaan


yang belum selesai aj” jawab Dita lirih disertai senyum tipis yang dipaksakan


Setelah makan malam, Sean dan Rafael


melanjutkan perbincangannya di kantor yang belum selesai, kali ini Nicholas


juga ikut tak ketinggalan Bam pun ikut andil dalam perbincangan mereka hingga


pukul sepuluh malam.


“sayang, apa menurut kamu Dita sampai


sekarang tidak ada cinta untuk Rafael?” tanya Millan pada Sean sambil memeluk


suaminya dari belakang


“meskipun belum ada tapi Dita perduli


dengan Rafael, apa yang ditakutkan?” jawab Sean santai


“sebagai perempuan saya merasa Dita


tidak ada perasaan untuk Rafael sedangkan Rafael begitu besar rasa cintanya”


jelas Millan pada suaminya


“itu urusan mereka, Dita juga tidak ada


pilihan, dia tidak bisa menceraikan Rafael” kata Sean memberikan penjelasan


pada Millan sembari berbalik dan memeluk istrinya


“mengenai itu, kenapa tidak dilupakan


saja?” tanya Millan polos


“jangan dipikirkan itu kami para lelaki


sudah mengurusnya” jawab Sean lembut sambil meraih dagu istrinya, diciumnya


dengan lembut bibir istrinya


“ngomong-ngomong sudah lama kamu tidak

__ADS_1


mencium saya” goda Millan pada suaminya sesaat setelah Sean melepaskan


ciumannya, Sean tersenyum tipis and tanpa menjawab Millan dia kembali mencium


istrinya itu hingga keduanya terhanyut dalam hasrat masing-masing


Seminggu sudah pernikahan Intan dan


Fajar berlalu,  Dita memutusan untuk


tinggal di rumah maminya setelah melihat Bella datang menemui Rafael dikantor,


meski tak kembali lagi.


“selamat pagi Millan” sapa Febi pada


menantunya di taman yang sedang menikmati teh dan suasana pagi


“selamat pagi mami” jawab Millan yang


kemudian ikut bergabung dengan mertuanya itu dengan senyum cerianya, Rafael menghampiri


kedua wanita cantik itu dan bergabung menikmati pagi mereka


“Rafael, Dita mana?” tanya Millan pada


Rafael


“di dapur, katanya ingin menyiapkan


sesuatu” kata Rafael dengan santai sembari menikmati segelas jus yang ia bawa


“anak ini tidak mau dengar maminya,


padahal ada bi Isa” guman Febi yang bangga menantunya tidak bergantung pada


pembantu untuk menyiapkan sarapan suaminya bahkan untuk semuanya,


“saya sangat senang, seminggu ini Dita


tinggal disini, tetapi apa yang membuat Dita punya pemikiran untuk tinggal


disini?” tanya Millan dengan polos


“suasana hatinya sedang buruk” jawab


Rafael singkat


“saya akan bantu Dita” kata Millan dan


hendak berdiri tetapi di hentikan Rafael


“tidak perlu, kalau tidak sesuai hatinya


kana semakin buruk dan dia akan melampiaskannya pada saya” kata Rafael mencegah


Millan dengan muka memelas membuat Millan tersenyum bahkan Sean yang masih di


belakang Rafael berjalan kearah mereka pun tertawa mendengar pernyataan Rafael


yang memang kenyataanya mereka sering bertengkar hanya karena hal hal kecil


terlebih jika Rafael melarang Dita untuk beraktivitas didalam rumah


“seharusnya kamu berterima kasih kepasa


saya” goda Sean dengan senyum lebar


“berterima kasih? lupakanlah saya tahu


kamu menikmatinya setiap kali Dita marah kepada saya” jawab Rafael datar


“mami, mencium sesuatu?” tanya Millan


yang mencium aroma aneh Febi pun mengendus endus memeriksa


“perasaan nggak mami nggak mencium apa


apa” kata Febi berusaha memastikan


“sesuatu hangus” kata Sean yang


menyadari aroma yang diciumnya terlebih dia melihat Dita yang sibuk didapur


entah membuat apa meski di meja makan sudah siap beberapa sarapan


“Dita” suara Rafael dan Sean hampir bersamaan,


dengan wajah panik semuanya berlali masuk dan menuju dapur


basahanya” suara Dita yang panik tatkala melihat api yang semakin membesar


“non Dita, ini biar bibi saja, non Dita


minggir dulu” suara pekikan Isa sambil meraih hydrant yang tak jauh dari dapur


“cepetan bi “ teriak Dita dengan wajah


mulai pucat, Isa dengan cepat berlari menuju tempat yang terbakar hendak


menyemprotkan hydrant yang ada ditangnnya, sementara Rafael, Sean dan Febi juga


Millan yang sudah berada di area dapur itu ikut panik


“ada apa ini! Dita kamu dimana?” teriak


Febi dengan wajah panik karena tidak melihat Dita


“mami kebakaran” teriak Dita yang


mendengar suara Febi, Rafael yang begitu khawatir lansgung mendekati Dita dan


menarik tangan Dita untuk menjauh dari sumber api, Sean yang membawa Hydrant


dari luar dapur itu segera mematikan api bersama Isa, lalu dengan cepat mematikan


kompor


“kamu tidak apa-apa?” tanya Rafael pada


Dita yang sudah berada dalam pelikannya, wajah Dita nampak pucat hanya


menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rafael


“sayang kamu kenapa repot-repot kan ada


bi Isa” suara Febi yang nampak sekali kepanikannya belum hilang


“Dita kamu masak apa? kenapa tidak


meminta bi Isa saja?” tanya Millan yang sambil mengibaskan tangannya karena


asap yang tebal, dia pun melangkah membuka cendela serta menyalakan penyedit


asap


“Dita pingin masak buat Rafael” jawab


Dita pelan merasa bersalah juga kecewa lantaran membuat dapur terbakar


“sudah padam tidak perlu panik” kata Sean menenangkan


“maaf nyonya, tuan, saya yang tidak


hati-hati” kata Isa yang juga merasa bersalah membiarkan Dita memasak sendiri


“kamu bisa meminta bi Isa, kenapa kamu


memasak sendiri” kata Rafael dengan suara tegas membuat ekspresi Dita berubah


“iya, kamu masak apa? Kenapa nggak minta


bi Isa yang menyiapkan” tanya Febi dengan suara yang masih panik,


“Dita Cuma mau masak buat Rafael mi”


jawab Dita lirih


“terima kasih, tapi kamu tidak perlu


repot ada bi Isa” jawab Rafael sambil menatap istrinya yang masih berada dalam


pelukannya itu


“sudah mulai sekarang tidak usah


memasak, ada bi Isa, biar semua dikerjakan bi Isa, kamu tidak perlu repot


repot” kata Febi dengan suara tinggi yang masih belum hilang paniknya


“tuh kan jadi nggak boleh masak” kata


Dita jengkel dan menepis kedua tangan Rafael yang memeluknya dengan longgar


itu, Dita meninggalkan dapur dengan wajah yang kecewa semua yang ada didapur

__ADS_1


pun saling berpandangan tidak mengerti dengan apa yang di inginkan Dita


“el apa kamu yang menyuruhnya?” tanya


Febi pada Rafael


“saya tidak menyuruhnya tetapi semalam


dia bertanya makanan apa yang sering saya makan sebelum saya datang kesini”


kata Rafael menjelaskan dengan santai dan tak menyangka Dita akan mencoba


membuatkan untuknya


“kamu tenangkan Dita” kata Millan pada


Rafael, dia tahu mertuanya itu pasti akan menyalahkan Rafael dan tidak berhenti


mengomel hingga sore, lebih baik Rafael dengan Dita, Rafael pun menaiki tangga


dan menuju kamarnya tetapi tak menemukan Dita dikamarnya.


“Dita kamu disini, saya mencari kamu”


kata Rafael pada Dita saat menemukan Dita sedang berdiri di balkon samping,


dipeluknya istrinya itu dari belakang


“sayang, akan ada pesta minggu depan,


mau aku temani belanja?” tanya Rafael lembut


“nggak usah, sana pergi saja saja sama


Bella” jawab Dita ketus


“Bella? Saya tidak ada urusan dengan


Bella, apa kamu cemburu?” jawab Rafael serta pertanyaan yang langsung menancap


bak busur panah di dada Dita


“nggak, cuma nggak suka aja dia tiap


hari nyariin kamu ke kantor” jawab Dita masih dengan nada ketus


“siapa yang mencari Rafael setiap hari?”


tanya Millan yang tiba-tiba muncul dengan Sean dan Febi


“el, kamu sudah punya istri loh, jangan


melihat wanita lain, contoh papi kamu” kata Febi yang menangkap sinyal


kecemburuan pada Dita


“Dita apa kamu sudah ada gaun untuk


pesta minggu depan?” tanya Millan dengan santai mengubah topik pembicaraan


“oh iya gue belum mikirin itu” jawab


Dita tiba-tiba serta raut wajah yang berubah drastis.


“bagaimana kalau kita belanja?” tanya


Febi dengan senyum lebar tatakala melihat waut wajah Dita yang tak lagi merasa


sedih dan bersalah karena kejadian kebakaran di dapur rumah mereka. Dita dan


Millan pun mengangguk pada pernyataan Febi


“istriku susah di mengerti” guman Rafael


yang berdiri disamping Sean


“wanita Deveraux ditakdirkan untuk menghabiskan uang” kata Sean dengan tersenyum


“yang gue pakai belanja juga uangnya


papi sama uangnya Rafael bukan uang kak Sean” jawab Dita dengan lirikan jengkel


mendengar kata kata Sean, Millan pun ikut protes dengan argument Sean yang


sebenarnya bangga itu.


Suasana hati Dita yang akhir akhir ini


tak bisa ditebak membuat Febi dan Sean meminta Rafael sebaiknya membatalkan


untuk melakukan perjalan bisnisnya dan menemani Dita, Rafael yang tidak punya


pilihan lantaran Dita tak mau ikut bersamanya, dia mengutus orang kepercayaanya


Bam untuk mengurus semuanya, dan minggu cerah itu Rafael pergi bersama Dita ke


beberapa tempat


“sayang, kita mampir ke mall ya mau


shopping” kata Dita merayu sembali memeluk lengan Rafael manja


“shopping lagi?” tanya Rafael dengan


raut muka heran


“iya, soalnya baju di rumah mami banyak


yang kekecilan” jawab Dita melas tetapi memasang muka manja pada suaminya,


Rafael pun tersenyum lalu mengajak istrinya pergi untuk membeli baju untuk


Dita, Sesampai di pusat perbelanjaan Dita memilih beberapa untuk dirinya


sendiri juga untuk suaminya, sementara Rafael memilih beberapa untuk istrinya.


“mbak semuanya jadi enam juta delapan


ratus” kata kasir kemudian Rafael mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu


kreditnya pada kasir, Dita yang merasa kecapekan itu meminta Rafael untuk


segera pulang terlebih sudah waktunya makan malam


“kami pulang” kata Dita di depan mintu


dan berjalan masuk kedalam rumah


“gitu ya belanja nggak ngajak mami”


jawab Febi dengan tersenyum ketika melihat belanjaan Dita yang begitu banyak


“maaf mami, soalnya Dita ingat kalau


beberapa baju Dita mulai kekecilan” jawab Dita dengan senyum bersalahnya


“masak sih? Perasaan kamu nggak gemuk


kok” kata Febi sembari memperhatikan Dita dari atas hingga kebawa


“mungkin karena non Dita akhir akhir ini


makan banyak” jawab Isa yang menerima tas belanjaan Dita yang di bawa oleh


Rafael


“iya kali ya, Rafael juga sih yang


nyuruh makan banyak” kata Dita melempar kesalahan pada suaminya.


“ya sudah kamu istirahat dulu biar nanti


pelayan menyiapkan makan malam buat kalian” kata Febi sambil memandu Dita masuk


kedalam ruang keluarga sementara Rafael menemui David yang sudah menunggunya.


“nggak usah mami, Dita belum lapar minum


susu coklat aja” jawab Dita sopan dia pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya


“Isa, kamu antar susu coklat kekamar


Dita ya” kata Febi dengan santai dan lembut pada pembantunya itu


“boleh nggak kalau Millan sama kak Sean


yang nganterin ke kamar Dita” kata Dita  manja sembari melihat pada Sean dan Millan ketika mendengar mertuanya


meminta Isa untuk mengantar susu coklat untuknya


“tentu saja” kata Millan dengan senyum


manis, Dita pun berjalan menaiki tangga, dan bergegas menuju kamarnya untuk


beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2