Untuk istriku

Untuk istriku
Pulau Pribadi


__ADS_3

“sorry” kata Rafael sembari melepaskan kedua tangannya yang sejak beberapa saat lalu menyentuh lembut pipi Dita, sementara Dita segera memeriksa ponselnya melihat siapa yang menghubunginya


“Dimas” gumannya dengan nada kesal dan raut muka tidak senang


“siapa?” tanya Rafael yang masih menatap Dita, cepat-cepat dirijeknya panggilan itu dan Dita pun mematikan suara


ponselnya.


“bukan siapa-siapa, cuman orang nggak penting” kata Dita mencoba menenangkan Rafael yang terlihat raut wajah tidak suka dengan adanya telpon itu


“ambil ini, dan besok pulang kerumah mami sebelum jam 10” kata Rafael memberikan kunci mobil pada Dita dengan menaikkan tangan Dita setinggi dadanya, Dita hanya melihat dengaan kebingungan


lalu wajahnya terlihat tidak senang


“what happen?you can go” kata Rafael bingung melihat reaksi istrinya


“gue nggak bisa nyetir” jawab Dita lirih dengan wajah bersalah menatap Rafael, mendengar jawaban itu tawa Rafael pecah memenuhi ruangannya


“are you kidding me?” tanya Rafael yang hanya dijawab anggukan oleh Dita, Dia pun meraih kembali kunci mobil yang baru saja diberikan pada Dita


“ok, Intan pasti sudah menunggumu, pergilah, besok pagi supir akan menjemput kamu dirumah Intan” kata Rafael lembut, tetapi ada penyesalan diwajahhnya, dia berat membiarkan istrinya itu bermalam dirumah Intan.


“el kok kamu pulang sendiri,Dita mana?” tanya Febi yang celingukan mencari Dita


“menginap dirumah Intan” jawab Rafael datar lalu pergi meninggalkan maminya diruang tengah, Didalam kamarnya Rafael langsung merebahkan tubuhnya diranjangnya yang empuk, dia merasa begitu lelah, diraihnya Photo pernikahnnya yang berdiri diatas nakas debelah temapt tidurnya, dipandanginya photo itu


“Dita” katanya pada photo yang dipegangnya


“aku hampir saja menciumnya” guman Rafael sendiri, tetapi segera dia bangun dari ranjangnya itu lalu masuk kedalam kamar mandi.


“Dita minggu lalu nggak nginep disini kan? Tante kok lupa” kata mamanya Intan


“nggak tante” jawab Dita singkat dengan senyum terpaksa


“minggu lalu kakn gue persiapan nikah, jahat banget gue om Firman dan tante nggak gue


undang” guman Dita dalam hatinya


“oh iya Dita nanti kalau om sudah pulang dari dinas luar kota kamu kesini ya” pinta mamanya Intan.


“emang ada ma?” tanya Intan yang bergabung dimeja makan itu langsung menyambar buah yang ada ditengah meja dan menunggu jawaban mamanya


“ih kamu ini kepo” jawab mamanya, mereka berbincang santai seperti sedia kala ketika Dita menginap, Dita dan Intan tertidur diruang keluarga karena menonton TV karena besok hari sabtu mereka memutuskan nonton TV hingga larut.


Tepat jam 9 pagi sopir yang bertugas menjemput Dita sudah berada di rumah Intan, Dita pun berpamitan pada Intan dan mamanya, kemudian mobil yang menjemputnya berlalu dan menghilang dari pandangan.


“selamat datang mantu mamu, anak mami” sambut Febi girang sambil memeluk dan mencium pipi Dita,


“makasih mami” jawab Dita yang kemudian mengikuti mertuanya masuk kedalam rumah .


“kamu istirahat sebentar dikamar ya, mami mau masakin kamu sesuatu”kata Febi dengan lembut kemudian menuju dapur kesayangannya. Sepintas rumahnya tak seperti rumah keluarga yang ditakuti dijagat dunia bisnis, suasana rumahnya biasa, tak banyak penjagaan, hanya beberapa orang silih berganti diteras depan tak nampak sebuah penjagaan tetapi seperti sedang mengobrol biasa, ada Ryan, pak Bam dan beberapa orang lainnya. Dita masuk kedalam kamar Rafael dan mendapati Rafael masih terbaring dikasur empuknya itu.


“et dah nih bule pemalas amat, jam segini masih tidur” kata Dita sambil meraih guling yang terjatuh kelantai. Dia pun duduk di pinggir ranjang tak jauh dari nakas, dia meletakkan tas di pundaknya dan melihat pada Rafael


“Mr bangun” kata Dita sambil menggoyangkan tubuh Rafael.


“good morning Dita” sapa Rafael yang pelan-pelan membuka matanya itu dan langsung menatap pada Dita.


“Good morning, bangun nggak?udah mau siang ini” kata Dita sembari mengangkat guling hendak memukul Rafael dan itu membuat Rafael segera bangun dan tersenyum pada Dita, meski menjadi istrinya tak ada yang berubah dari sikapnya.


“ih malah senyum-senyum” gerutu Dita yang masih mengangkat guling hendak memukul Rafel itu


“nothing” jawab Rafael yang kemudian merauh tangan Dita yang masih nampak bekas cengkraman Cindy sehari sebelumnya


“ini kenapa?” tanya Rafael serius sembari menatap Dita dengan penuh tanda tanya

__ADS_1


“ini tuh gara-gara Cindy, kemarin” jawab Dita santai yang sudah tidak ingin mengingat kejadian kemarin dikantor


“oh yang dikantor kemarin” kata Rafael memperjelas pernyataan Dita, dan dijawab anggukan oleh Dita


“nih orang sebelum gue jadi istrinya juga udah perhatian sama gue tapi dingin banget nanggepinnya” guman Dita dalam hati yang melihat suaminya sedang memperhatikan pegelangan tangannya itu, Rafael meraih sesutu dilaci nakasnya dan mengoleskan salep di pergelangan Dita


“I am sorry Dita, aku tidak menjagamu dengan baik kemarin”kata Rafael menyesal, seharusnya dia tidak membiarkan Dita sendiri tanpa bodyguard


“udah nggak apa-apa” jawab Dita sambil menepuk pundak suaminya mencoba menenangkan lalu beranjak dari duduknya membuka candela kamar Rafael yang tidak pernah dibuka tirai agar sinar matahari masuk kedalam kamar Rafael, keluar dari kamar mandi Rafael pun memulai topik berbincangan mereka masih terus berjalan dan sesekali Rafael melontarkan kalimat-kalimat menjahili Dita tentang peristiwa yang terjadi kemarin, wajah Dita yang benar benar membuat Rafael gemas dan tetawa lepas karena pernyataan Dita yang tak bisa mengemudikan mobil membuat jengkel Dita dan memukul Rafael dengan guling yang diraihnya, pertengkaran kecil mereka terhenti ketika Febi membuka pintu mendengar suara gaduh dai dalam kamar


“kalian ini apa-apaan” pekik Febi terkejut melihat kamar yang sudah berantakan, bulu dari bantal yang rusak bertaburan, ranjang tak lagi terlihat seperti ranjang berantakan dimana-mana


“mami” guman Dita dengan wajah terkejut melihat pada Febi yang tiba-tiba masuk, Febi hanya menggeleng kepala, kemudian Febi meminta keduanya keluar dan turun ke meja makan, karena dia membuatkan sesuatu untuk Dita dan ingin memberikan sesuatu pada mereka berdua dari papinya, Nicholas yang masih di London. Rafael mengikuti langkah Dita, rambutnya yang acak-acakan kali ini dimata Dita Rafael terlihat imut seperti anak kecil, dengan kaos santai dan jeans pendek dan rambut acak-acakan, Dita hanya tersenyum sambil berjalan didepan Rafael menuju meja makan. Febi memanggil pelayan dan meminta membereskan kamar Rafael lalu kembali pada putra dan


menantunya, sembari berjalan menuju ruang makan Febi hanya menggeleng kepala melihat perdebatan kecil anak dan menantunya itu.


“Dita don’t take it too much” kata Rafael sambil merebut piring yang ada didepan Dita tetapi Dita tidak


memberikannya.


“mami bikin ini buat gue” selanya dan menarik kembali piringnya


“kalian ini ndak dikamar ndak di meja makan berantem aj kerjanya”kata Febi sambil menarik napas lalu duduk dimeja makan bergabung dengan Dita dan Rafael yang sudah duduk bersebelahan


“asik juga ternyata Rafael, dan nggak seperti bule yang lainnya, emang top deh didikan mami Febi” guman Dita dalam hatinya yang sering melihat Rafael mengalah untuk dirinya, terlebih Rafael tidak memaksakan kehendaknya, dia selalu menunggu persetujuan Dita


“kayak gini lucu, kayak anak kecil” guman hati Dita lagi sambil sesekali melihat pada suaminya dengan senyum yang dibuat-buat


“mami, Dita tidak mau berbagi denganku” kata Rafael merajuk pada ibunya


“mami masak ini buat siapa?” tanya Dita pada Febi sebelum Febi menjawab perkataan Rafael


“buat kamu sayang. Sejak menikah ini kan hari pertama kamu makan dirumah ini” kata Febi dengan senyum lembut


“dia sendiri yang melarang mi”jawab Dita membela dirinya spontan sebelum Febi memulai bicara sambil menunjuk Rafael


“sudah-sudah, kalian ini bertengkar terus, gimana mau punya pernikahan yang bahagia. Kata Febi menengahi. Dita dan Rafael hanya tesipu dan memandang sesekali.


“makasih ya mami, ini enak” kata Dita memuji masakan mertuanya Febi hanya mengangguk dan senyum lembut pada Febi


“Diana, putrimu akan mendapatkan kebahagiaanya mulai sekarang, suamiku dan anakku Sean akan memperjuangkan milik Dita yang direbut oleh kakak tiri kamu” kata Febi dalam hatinya sambil menatap Dita dalam-dalam, tatapan lembut dan penuh kasih sayang.


“mami punya sesuatu, ini hadiah dari papi untuk pernikahan kalian” kata Febi sambil menyerahkan sebuah map,


diraihnya Map itu oleh Rafael dan dilihatnya bersama Dita, tak cukup sulit karena kursi mereka bersebelahan


“kalian berangkat besok” kata Febi dengan senyum lebar


“besok mi!” Dita terbelalak, bagaimana bisa dia pergi besok, dia ada murid les baru dan sudah dibayar dimuka, tidak mungkin dia mengembalikan uangnya, dia sudah menggunakannya sedikit untuk


membayar kontrakannya.


“bulan madu?” tanya Rafael dengan santai kemudian meletakkan kembali map yang diterimanya beberapa detik yang lalu itu, disambut tatapan penuh tanda tanya oleh Dita


“resepsi belum udah bulan madu, katanya nunggu papi” dalam tatapan Dita hatinya berkata, ingin dia bersuara tetapi dia tidak ingin mengecewakan Febi yang sudah mempersiapkannya


“itu pulau pribadi keluarga Deveraux Dita, yang mami kelola untuk tempat wisata, kamu bebas kapan saja bisa kesana kalau kamu mau” kata Febi menjelaskan


“Dita mau mi, tapi Dita ada murid les baru” jawab Dita datar dan ragu, takut kalau kalimatnya membuat Febi tidak


senang


“itu kamu tidak perlu khawatir, Sean sudah mengatur semuanya, sepulang kamu dari sana kamu bisa kembali mengajar privat kok sayang” bujuk Febi dengan lembut


“lets go” kata Rafael sambil melihat pada Dita dengan senyum lebar yang seolah ada niat jahil didalamnya, Dita hanya diam tidak bisa menolak.

__ADS_1


Pesawat jet pribadi yang ditumpangi Dita dan Rafael sudah mendarat di pulau pribadi keluarga Deveraux. Tempat yang sangat indah, Dita menyukainya, dia pun mengambil selfi, tak tagu dia juga mengajak suaminya berselfi, Sean hanya tersenyum tatkala melihat notifikasi ponselnya dari akun media social Dita


“hah, bukannya aku privat semua? Kok ada yang like photo gue” Dita terperanjak dari berbaringnya, dia terkejut ada yang memberikan like pada photonya dan Rafael sejak kebangkrutan ayahnya dan berita tidak sedap mengenai ayahnya dia mengunci akun social medianya, tak satu orang pun bisa mengakses photonya, setelah melihat siapa yang memberikan like Dita hanya geram dan langsung membanting kepalanya dikasur yang empuk dan segera bangun ketika seseorang membuka pintu dari luar, Rafael dengan dua koper satu milik Dita masuk kedalam kamar mereka, kamar yang luas dan minimalis.


“kamu tidak ingin jalan-jalan?” tanya Rafael yang sedang merapikan koper milik mereka


“pingin, tapi untuk hari ini pergi sendiri boleh?” tanya Dita sembari melihat Rafael yang berdiri didepan lemari


merapikan pakainnya dan juga pakaian Dita, melihat itu Dita cepat-cepat berlari mendekat dan berusaha menahan Rafael yang hendak membuka kopernya


“biar aku sendiri” kata Dita dengan raut muka sedikit panic


“huh jangan sampek liat isi koper gue, kan malu klo dia liat onderdil dalaman gue” guman Dita dalam hati sambil


melihat pada Rafael dengan senyum yang dibuat-buat namun tak tampak, hanya terlihat lucu menurut Rafael, dia tahu istrinya merasa malu


“iya memang hari ini kamu bisa pergi sendiri karena saya harus menemui pak Bam di tempat lain” kata Rafael dengan senyuma teduh


“hah pak Bam ikut?” tanya Dita dengan heran


“yes, ada meeting yang harus dilakukan” kata Rafael menjelaskan, Dita hanya mengangguk, Rafael pun meraih jasnya kemudian mencum tangan istrinya lalu pergi meninggalkan Dita. Sementara Dita pergi keluar melihat-lihat disekita pantai tak jauh dari rumah Villa kediaman Deveraux di pulau itu, banyak toko dan beberapa café berjejer, Dita memutuskan untuk masuk kesebuah café dan membeli minuman disana, dari jauh ada seseorang yang memperhatikannya, orang itu tidak tahu dari mana Dita datang, tetapi muncul senyum jahat dibibir orang yang memperhatikan Dita dari jauh itu, Dita meraih ponselnya dan mencari nomor telpon Intan dia ingin menunjukkan diaman dia berada saat ini.


“hai Intan” sapa Dita dari video call


“hai Dita, mmuahh” jawab Intan diseberang telpon


“lagi jalan-jalan loe? Gue ganggu nggak?” tanya Dita yang melihat background Intan seperti sedang di mall


“nggak, ini kebetulan weekend bareng camer” jawabnya sambil cekikikan


“eh loe dimana?kayak dipantai?” tanya Intan meyakinkan dirinya sendiri


“iya lagi dipulau X” jawab Dita dengan senyum tipis


“ah so sweet, honeymoon ya ta? Rafaelnya mana?” tanya Intan dengan genit


“meeting sama pak Bam


“et dah bocah, kasian amat loe zubaedah, honeymoon ditinggal meeting, emang gitu kali ya kali jadi istrinya pemilik


perusahaan” kata Intan protes sekaligus merasa kasian pada Rafael yang tidak bisa bersenang-senang lantaran meeting yang menghadangnya setiap saat serta kasian pada Dita yang ditinggal sendiri. Setelah berbincang agak lama, Dita juga menyapa calon mertua Intan dan jug Fajar yang ada bersama Intan, Dita pun menyudahi panggilannya. Dita beranjak dari duduknya dan memutuskan kembali ke Villa, menunggu Rafael yang tak kunjung tiba Dita pun tertidur diruang tengah Villa itu.


Sinar mentari pagi yang mulai mengintip itu membangunkan Dita, dia mendapati dirinya berada dikamar, dia pun


terperanjak dan memeriksa dirinya masih berpakaian lengkap dia bernapas lega, tercium aroma kopi, Dita pun beranjak dari ranjang dan keluar kamar, dilihatnya Rafael yang sedang membuatu sesuatu, kemudian membawanya kemeja makan, dan melihat kearah Dita


“good morning my wife” sapa Rafael yang sudah Rapi berpakain kantornya dan dasi biru dongker yang membuat Rafael terlihat semakin tampan.


“rapi amat, meeting lagi?” tanya Dita dengan emnarik kursi lalu duduk dimeja makan


“heem” jawab Rafael lalu menyuguhkan secangkir teh dan juga sepiring nasi goreng, tak lupa jus jeruk dan susu juga disiapkan Rafael


“aku nemenin aj ya? Aku kan belum mandi, sarapannya nanti aja” kata Dita dengan nada manja berharap dia tidak disuruh makan bareng bersama suaminya itu, Rafael mengangguk dan tersenyum lebar pada istrinya, setelah sarapan selesai pun Rafael berpamitan namun dia meminta Dita menunggunya di sebuah café karena meetingnya tidak akan lama, Dita hanya mengangguk, tangan Rafael yang hendak membuak pintu itu terhenti lalu berbalik


pada Dita yang menubruk Rafael lantaran berhenti yang tiba-tiba


“eh kenapa?” tanya Dita terkejut, Rafael menatap Dita dengan tatapan dalam dan mencari sesuatu pada tatapannya itu


“Dita, apa boleh? Tanya Rafael dengan senyum jail yang tipis membuat Dita mengankat satu alisnya


“apa?” tanya Dita tidak memahami pertanyaan suaminya itu, tiba-tiba Rafael mencium pipinya membuat Dita terkejut


“iih curang, udah sana berangkat” teriak Dita sambil mendorong Rafael agar segera pergi, Rafael hanya terkekeh dan dia pun melangkah menjauhi pintu menuju mobil yang sudah menunggunya.


Dibalik pintu Dita bersandar pada pintu dan memegangi pipinya dia tersipu mengingat yang terjadi beberapa detik lalu dia pun melangkahkan kakinya kekamar mandi dan bersiap.

__ADS_1


__ADS_2