
Rafael hanya melihat Dita yang terdiam selama perjalan pulang mereka menuju apartemen, Dita sedikit kecewa
karena dia ingin bermalam dirumah mertuanya tetapi Rafael mengajaknya untuk kembali.
“sayang kamu kenapa diam saja?” tanya Rafael yang masih fokus dengan kemudi
“tidak ada apa apa” jawab Dita bersamaan dengan bunyi notifikasi ponsel pintar Dita, dia pun meraih ponsel itu dalam sakunya
“zaenab yang cantik, sepuluh hari ini loe bisa kan datang kerumah gue?” tanya Intan melalui pesan singkatnya
“ha? Kenapa ada apa?” tanya Dita dalam pesan singkatnya dengan mengerutkan keningnya
“tumben, ada apa ya?” tanya Dita dalam hatinya
“sorry gue belum sempat cerita, gue kan mau nikah sama ayang Fajar” jawab Intan dengan memberikan emoji pipi
merah membuat Dita tersenyum
“pesan dari siapa?” tanya Rafael yang ikut tersenyum tatkala istrinya itu tersenyum
“intan, ngundang aku buat datang kerumah selama sepuluh hari ini” jawab Dita polos
“sepuluh hari?” tanya Rafael dengan penuh tanda tanya dan tatapan tidak senang
“heem, dia kan mau nikah” jawab Dita singkat Rafael hanya mengangguk pelan. Setiba di apartemen Dita terus
berpikir bagaimana caranya dia bisa bersama sahabatnya itu
“karena kejadian yang terakhir pasti gue nggak boleh datang kerumah Intan” guman Dita dalam hatinya sambil
meletakkan tas belanjaanya berlahan diatas meja di ruang tengah apartemenya
“apa yang kamu pikirkan?” tanya Rafael berlahan yang tiba tiba memeluk Dita dari belakang
“nggak ada, eh lihat deh aku beli sesuatu buat kamu” kata Dita mencoba mengalihkan pembicaraan, dia pun mengambil sebuah kotak kecil dari sebuah tas dan menunjukkanya pada Rafael
“bukankah warna ini sudah ada?” tanya Rafael yang menerima kotak dasi pemberian Dita tanpa melepaskan
pelukannya pada istrinya itu
“beda sayang, ini sedikit gelap, bandingin deh nanti” kata Dita menjelaskan dengan nada manja membuat Rafael
tersenyum dan semakin erat memeluk Dita sesekali dia mencium pipi istrinya itu
“thank you sayang tapi ada yang harus kita lakukan?” kata Rafael yang mulai nakal menciumi leher istrinya
sementara Dita hanya tertawa geli
“Rafael jangan, geli tau” kata Dita berusah melepaskan pelukan Rafael, dengan terpaksa dan wajah kecewa Rafael melepaskan pelukannya, Dita pun masuk kedalam kamarnya beberapa saat dan keluar lagi membawa dasi yang pernah ia beli untuk Rafael sebelumnya, sebelum Dita keluar Rafael melihat baju apa saja yang dibeli oleh istrinya dan matanya tertuju pada gaun pendek yang berwarna senada dengan kulit Dita, dengan senyum nakalnya dia menunggu istrinya keluar
“ini lihat, warnanya beda” kata Dita sambil menunjukkan pada Rafael
“ya, dan akan lebih berbeda lagi kalau kamu pakai ini sekarang” kata Rafael dengan senyum nakalnya membuat Dita tersipu, dia menerima saran Millan untuk membeli gaun itu ternyata Rafael mengetahuinya terlebih dahulu.
“jangan sekarang” kata Dita dengan wajah merahnya meraih gaun itu dan memasukkan kembali kedalam tas tetapi
di cegah oleh Rafael
“pagi ini kamu begitu menggoda tetapi kamu meminta saya menahannya” kata Rafael pelan sambil memeluk istrinya itu dan kemudian melum** bibir mungil Dita
“tadi pagi? Gawat tadi pagi dia nafsu banget tapi gue tolak, duh gue basti di makan habis malam ini” guman Dita
dalam hatinya yang sambil membalas lumatan bibir suaminya itu
“pakailah” kata Rafael dengan lembut dan penuh kemesraan membuat Dita tak bisa menolaknya dia pun melangkah kedalam kamar dan berganti baju, Rafael mengikuti Dita berlahan
“jangan masuk dulu sayang” goda Dita yang berusaha menghentikan Rafael tetapi dia tak menghiraukan Dita, dia
bersandar pada bibir pintu dengan melipat tangannya dan menatap punggung Dita yang hendak masuk kedalam kekamar mandi
“tunggu, ganti disini saja” kata Rafael dengan senyuman nakalnya yang penuh kemenangan
“apa? yang benar aja masak disini?” kata Dita memprotes
“memangnya kenapa? Saya sudah melihat tubuh kamu bahkan juga saya sudah mencium setiap lekuk tubuh kamu” kata Rafael dengan semringah
“dasar mesum” jawab Dita dengan wajah memerah, dia pun melepas pakainnya satu persatu dan menggantinya dengan gaun pendek berwarna senada dengan kulitnya itu dan tipis yang di pilih oleh Millan untuknya. Dita
menerima saran Millan untuk membelinya dan akan memakainya untuk Rafael saat hari ulang tahun pernikahan mereka tetapi Rafael terlebih dulu melihat gaun dan meminta Dita memakainya. Rafael dengan senyum semringah dan menahan hasratnya saat melihat istrinya berganti baju didepannya itu hanya berdecak kagum, gaun
itu benar benar pas di tubuh Dita
“cantik” puji Rafael saat Dita sudah memakai gaun itu dan berjalan menghampirinya
“gila ini baju tipis banget sampek tembus pandang meski samar tapi tetep aja pucuk gunung kembar gue
kelihatan” kata Dita dalam hatinya
“makasih, kata Dita dengan senyum tipis dan wajah merahnya masih terlihat membuat Rafael gemas dibuatnya, sementara Rafael memperhatikan dari atas hingga bawah senyum puas tetapi senyum itu berangsur hilang dia pun duduk bertumpu pada lutunya
__ADS_1
“ini kenapa bisa sampai memar?” tanya Rafael yang panic melihat paha kanan Dita ada bekas memar
“nggak tau juga, mungkin waktu jalan sama mami dan Millan kebentur sesuatu” jawab Dita menjelaskan, Rafael
yang panik langsung menarik tangan Dita masuk kedalam kamar dan meminta Dita untuk duduk di bibir ranjang
“kamu diam disini, tunggu saya ambil air hangat” kata Rafael dengan tegas dan panik
“Rafael nggak perlu panik kayak gitu, ini nggak apa apa” kata Dita yang menjelaskan tetapi Rafael yang tidak
ingin mendegarkan itu kembali dengan dengan membawa air panas lalu mengompres paha Dita yang memar itu.
“nggak apa apa kamu bilang? Ini memar Dita” kata Rafael serius
“iya tapi nggak sakit kok, lebai amat suami gue” kata Dita mencoba menenangkan suaminya
“semoga aja memar ini bikin dia lupa sama keinginannya bercinta” guman Dita dalam hati dengan senyum lembut
menatap suaminya yang berdiri bertumpu pada lututnya sedang mengompres memarnya itu
“sampai luka ini hilang kamu tidak boleh kemana-mana” kata Rafael yang kemudian hendak membaringkan Dita
“buset dah gimana gue kerumah intan kalau nggak boleh kemana-mana” guman Dita dalam hatinya, Rafael yang
hendak menarik selimut untuknya itu tiba-tiba Dita memikirkan ide yang begitu saja keluar di otaknya, sebelum Rafael menyelimutinya dia langsung menarik tangan suaminya hingga berada diatasnya
“bukankah aku harus membayar yang tadi pagi tertunda?” tanya Dita dengan manja, Rafael yang sempat teralihkan itu kembali nafsunya bergejolak, dia pun tersenyum lembut serta tatapan yang berharap pada Dita
“tapi kamu …” kata Rafael yang tak bisa melanjutkan lantaran Dita yang langsung mencium suaminya itu hingga terhempas dan membuat Rafael jatuh kesamping, Dita tak menghentikan ciumannya membuat Rafael semakin liar. Rafael memeluk istrinya dengan penuh cinta, tak henti hentinya dia menatap istrinya yang sudah terlelap setelah olahraga malam mereka.
“I love you Dita” katanya dengan pelan lalu dia pun tertidur sambil memeluk istrinya.
Sinar matahari belum menampakkan cahayanya tetapi hari suda pagi, berlahan Dita terbangun dan mengeliat kecil
dalam pelukan suaminy. Di pandanginya wajah Rafael dengan tersenyum tipis
“kamu manis banget sih” guman Dita sambil mengusap pipi suaminya, Rafael yang merasakan tangan lembut istrinya itu tersenyum dalam tidurnya
“ih ternyata udah bangun” gerutu Dita dalam hatinya
“suami gue ini cinta banget sama gue, kayaknya gue rayu aja seperti semalam siapa tahu gue dikasih izin buat pergi kerumah Intan” kata Dita dalam hatinya dia pun tersenyum sambil terus menatap Rafael yang masih menutup matanya meski pelukannya semakin erat. Semakin Dita menatap suaminya semakin hatinya berdetak kencang dia pun segera melepaskan pelukan Rafael lalu beranjak ke kamar mandi.
Rafael yang telah bersiap hendak kekantor berjalan menghampiri Dita yang menyiapkan sarapan untuk mereka di
dapur dan langsung memeluk Dita dari belakang
“dimana ciuman selamat pagi saya?” tanya Rafael dengan lembut serta manja membuat Dita tersenyum dia pun melihat ke arah Rafael lalu mencium pipi suaminya itu
“ini sarapan pagi ini dan ini kopinya, oh ya papi pesan kalau survey lokasi nanti biar pak Bam sama Vincent
yang pergi” kata Dita memulai obrolan mereka sambil menyajikan sarapan mereka di meja makan
“oh baiklah, bersiaplah kamu ikut kekantor” kata Rafael memberi perintah pada istrinya seraya meraih kursi dan
mulai menikmati kopi paginya
“aku malas, dirumah aja ya?”pinta Dita dengan manja serta melemparkan senyum semanis mungkin
“sayang, saya tidak mau kamu dirumah sendiri, dan juga saya ingin kamu menemani saya” kata Rafael mencoba
merayu Dita, dengan terpaksa karena Dita ingin mendapat izin berkunjung dan membantu Intan untuk persiapan pernikahannya Dita pun mengiyakan Rafael.
Setiba di kantor Nicholas memanggil Dita dan Rafael untuk ikut Rapat direksi, disana Nicholas mengumumkan
bahwa The Deveraux resmi berkolaborasi dengan Endra Group, Nicholas juga membenarkan bahwa akan ada gedung sendiri untuk Endra Group dan para direksi menyetujuinya. Dita yang merasa kebingungan kenapa final keputusan harus berada di tangannya hanya meminta waktu untuk mempelajari beberapa dokumen terkaitnya, akhirnya meeting pun ditunda.
Rafael mengantarkan Dita pulang setelah makan siang sementara dia sendiri kembali kekantor dan melanjutkan
aktifitas kerjanya
“say kok gue tadi nggak lihat loe di kantor?” sapa intan melalui pesan singkat
“iya, maaf soalnya gue langsung ikut meeting, setelah meeting gue makan siang lalu diantar pulang” jawab Dita
di pesan singkatnya
“wah wah zaenab, kau ini manja sekali pakai diantar” goda Intan lagi dari pesan singkatnya
“bukan begitu, gue nggak boleh pergi pergi sendiri sama Rafale, dia nggak ngebiarin gue sedetik pun luput dari
pandangannya” jawab Dita dengan bangga sekaligus ada rasa kesal karena tidak
bisa bertemu Intan
“oh gitu, loe nggak bisa ke rumah gue dong?” tanya Intan dari pesan singkatnya
“gue masih merayu suami nih supaya dapat izin” kata Dita yang curhat melalui pesan singkatnya
“ah kau ini, cium aja suami loe pasti di izinkan, atau bercinta tiap malam hahaha” goda Intan dengan sedikit
__ADS_1
nakal
“ah itu udah gue pikirin tapi kalau nggak mempan gimana?” tanya Dita meminta solusi
“rayuan loe kurang mematukan say, coba aja pakai pakain yang tipis sexy bila perlu telanjang didepan suami loe hahaha dijamin pasti dikabulkan” kata Intan dengan santai seraya menyematkan emoji
girang dan nakal
“sumpah loe nyuruh gue telanjang? Yang bener aja tantan” jawab Dita
“Dita dia itu suami loe, jangan bilang loe nggak pernah tidur sama dia, bercinta sama dia? Lagian ya kata Fajar
kalau siami senang dengan apa yang dilakukan istrinya di atas ranjang bakal dikabulkan apa aja yang diminta terlebih Mr Rafael cinta mati sama loe” kata Intan memberikan solusi, membuat Dita berpikir
“ya gue coba deh, tapi kalau masih nggak di izinkan buat kerumah loe, jangan marah ya? Jawab Dita di pesan
singkatnya dengan memelas
“ok say, gue tunggu kabar baiknya, ingat telanjang hahahaha” goda intan lagi, Dita hanya tersipu dan meletakkan ponselnya. Dita melihat jam di atas nakas menunjukkan pukul empat dia pun cepat cepat kedapur dan menyiapkan makanan untuk Rafael, setelah selesai memasak dia pun membersihkan diri dan sesuai saran Intan kali ini dia
memakai pakain yang terbuka. Hingga jam tujuh malam Rafael tak kunjung tiba bahkan tidak mengirim pesan padanya. Dita mulai jenuh dan mengomel sendiri
“ih udah dandan cantik pakai pakain sexy suami nggak datang datang nggak ada kabar juga” kata Dita
menggerutu sendiri, dia pun meraih ponselnya dan mencoba menguhubungi Rafael, Dita merasa gusar karena pesan mesra terakhirnya juga tidak ada jawaban.
“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area” suara notifikasi ponsel Dita yang
membuat Dita memonyongkan bibirnya.
“ih nggak aktif, bagus deh gue nggak perlu deg degan, tapi kenapa ya sekarang gue dekat dekat Rafael malah deg
degan” guman Dita yang kemudian menoleh kerah sumber suara, didengarnya seseorang masuk kedalam apartemennya, Dita pun berdiri dan berjalan berlahan hendak mencari tahu apakah suaminya yang datang atau orang lain yang mencoba menerobos masuk.
“maaf sayang, macet dan ponselmati” kata Rafael yang langsung menghampiri istrinya dan mencium kening Dita
dengan lembut, dia pun segera masuk kedalam kamarnya dan mencari charger ponselnya, diletakkanya ponselnya di atas nalas sementara Rafael kembali keluar kamarnya dan langsung menghampiri meja makan
“sudah dingin, mau aku panaskan lagi?” tanya Dita dengan sedikit kecewa karena masakan yang ia siapkan tak lagi
hangat
“tidak perlu, kamu menyiapkan saya makan malam saja saya sudah senang” kata Rafael memuji istrinya dan tak
ingin melihat kekecewaan istrinya, dia pun menyantap makan malamnya dengan lahap. Setelah makan malam Rafael yang belum berganti baju kantornya itu langsung menuju ranjang bagian sisi dimana dia mencharger ponselnya
“Rafael kamu nggak mandi dulu atau ganti baju gitu” gerutu Dita yang melihat suaminya asik bersandar diatas
ranjang sambil melihat ponselnya
“sayang saya belum membaca pesan terakhir dari kamu, ponsel sudah mati” kata Rafael yang memang penasaran dengan pesan Dita membuat si pengirim pesan tersipu
“oh ya, hari ini kamu cantik sekali” puji Rafael pada istrinya seraya memperhatikan istrinya yang berjalan
menghampirinya
“aku cantik buat kamu” kata Dita yang sudah duduk disamping Rafael dengan tatapan yang sengaja menggoda
suaminya, tentu saja Rafael terkekeh melihat istrinya yang tidak biasa bersikap seperti itu
“kamu menggoda saya seharian, apa kamu sedang bernafsu?” tanya Rafael dengan senyum lebar
“pokoknya gue harus berhasil dapat kata boleh” guman Dita dalam hatinya, sambil tersenyum manja pada Rafael
Dita beranjak dan duduk di pangkuan suaminya seraya berusah melepaskan dasi
yang masih mengikat di kerah baju Rafael
“kenapa? Tidak suka?” tanya Dita dengan santai, Rafael menggelengkan kepalanya dia pun menarik punggungnya dan memeluk istrinya itu yang sudah berhasil melepaskan dasinya
“ Dita dengan kamu manja dan duduk disini membuatku tidak bisa menahan diri, kamu ingin apa?” tanya Rafael yang memahami istrinya mengiginkan sesuatu dengan setengah berbisik
“yes, akhirnya tanya juga” guman Dita girang dalam hatinya
“Intan kan mau menikah, aku boleh ya kerumahnya sebelum hari pernikahan, please ya sayang please boleh ya?” tanya Dita dengan manja, Rafael hanya menghela napas panjang karena sebenarnya dia tidak ingin Dita pergi tanpanya, dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya seperti kejadian sebelumnya
“Dita, saya tidak mau kamu dalam bahaya” kata Rafael hendak menjelaskan tetapi dia tak lagi bisa menambahkan
kalimatnya selain menahan dirinya karena Dita yang berada di pangkuannya sekaligus pelukannya itu Dita tiba tiba
mencium lembut bibirnya,
“Dita jangan bergerak,kalau tidak..”kata Rafael setelah Dita melepaskan ciumannya sambil menunduk menatap
kebawa, Dita hanya tersenyum
“kalau tidak kenapa?” tanya Dita dengan senyum menggodanya membuat Rafael terseyum dan langsung membanting lembut tubuh istrinya keranjangnya
“semalaman, kamu siap?” tanya Rafael sambil tetawa kecil di ikuti dengan tawa Dita, mereka pun menghabiskan
__ADS_1
malam mereka dengan penuh kemesraan berkali kali. Rafael benar benar terhipnotis oleh cintanya kepada istrinya, Rafael merasa telah mendapatkan hati istrinya, kini dia hanya ingin mendengar tiga kata terucap dari bibir mungil istrinya itu.