Untuk istriku

Untuk istriku
Permintaan Maaf Mami


__ADS_3

Dua hari setelah terbangun dari koma, Rafael benar benar memanjakan Dita dan tak mengizinkan Dita turun dari ranjang. Nicholas yang baru bisa mengunjunginya semenjak Dita tersadar itu membawakan beberapa buah untuknya


“papi, mami mana?” tanya Dita yang melihat kearah pintu dengan penuh harap, wajah Nicholas seketika berubah


mendengar pertanyaan Dita


“mami masih ada urusan, dia akan datang nanti” Rafael menjawab pertanyaan Dita untuk papinya, dia berusaha menenangkan Dita, dia tidak ingin istrinya itu merasa diasingkan maminya, Rafael benar benar mencoba mengalihkan perhatian istrinya, dia membuat ketiganya tertawa renyah


“oh iya, bang Yuda, bagaimana dengan bang Yuda?” tanya Dita tiba tiba dengan wajah cewas


“Yuda baik baik saja, akan tetapi karena dia juga mengalami cedera jadi sementara waktu dia tidak bisa menjadi sopir kamu” jawab Nicholas santai berusaha membuat Dita tenang


“oh gitu, ya nanti kalau Dita keluar dari rumah sakit boleh ya aku jenguk bang Yuda?” tanya Dita pada Rafael, dia


merengek manja membuat Rafael tersenyum dan mengangguk dan menyetujui keinginan Dita


“papi senang kamu sudah sehat, tapi papi harus kembali kekantor, pangeran Dita sudah disini jadi harus ada yang


dikantor” kata Nicholas dengan tersenyum lebar mencoba menghibur Dita


“terima kasih papi” kata Dita, Nicholas pun keluar dan kembali kantornya


“bu guru tante” sapa seorang anak kecil yang membuka pintu


“hey Satria” jawab Dita


“bu guru tante aku bawa sesuatu untuk bu guru tante” kata Satria, anak dari Citra dan Gibran yang kebetulan adalah murid Dita di taman bermain


“terima kasih jagoan” kata Rafael yang langsung mengangkat Satria dan membantunya untuk duduk disebelah Dita


“ini untuk bu guru tante” kata Satria dengan manja dan lucu, dia memberikan sebuah sebuah amplop yang berisikan kartu ucapan, didalamnya terdapat beberapa nama murid Dita


“terima kasih Satria, kamu perhatian banget sama bu guru tante” kata Dita mencoba menyenangkan hati muridnya itu


“sama sama bu guru tante, itu dari Satria dan teman teman, semoga bu guru tante cepat sembuh” kata Satria dengan lancar, melihat Satria, Rafael tersenyum lebar, mereka bertiga nampak sangat akrab, dari kejauhan Febi yang datang hendak menjenguk Dita itu menghentikan langkahnya, pemandangan yang dilihatnya begitu menyenangkan akan tetapi jika melihat anak kecil yang bersama anak dan menantunya itu hati Febi masih tidak bisa menerima, dia masih ingat dengan video yang ditunjukkan oleh Cindy. Rafael yang duduk dikursi dan meletakkan sikunya di atas ranjang rumah sakit itu terlihat begitu gembira, dia berbicang dengan Satria dan Dita, mereka terlihat begitu hangat. Febi pun berbalik dan meninggalkan rumah sakit, Anon yang setia pada Febi itu melirik majikannya yang melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, dan berjalan menuju taman yang ada dirumah sakit


“bu guru tante, aku pergi dulu ya, waktunya mama makan siang” kata Satria dengan polos dan lucu, dia pun meloncat dari atas ranjang dan dibantu Rafael, lalu pergi meninggalkan ruangan Dita


“papa!” suara Satria berteriak memanggil Gibran yang datang membawa makanan untuknya dan Cintra


“Satria tidak boleh berlarian begitu, ini rumah sakit sayang” kata Gibran mencoba membuat anaknya mengerti


“maaf papa, karena Satria seneng karena bu guru tante sudah bangun” kata Satria dengan wajah polos membuatnya semakin lucu


“iya, sayang, tapi tetap tidak boleh berlarian dirumah sakit” kata Gibran dengan lembut lalu menuntun anaknya menuju kursi yang ada di koridor rumah sakit


“papa tunggu disini dulu ya, Satria mau ambil sesuatu” kata Satria dia lalu berlalu dari Gibran dan berjalan kearah


Febi


“anak ini tidak banyak kemiripan dengan laki laki itu” guman Febi dalam hatinya, melihat raut muka Febi yang


menunjukkan kekesalan itu Anon bisa menebak dengan apa yang ada dipikiran majikannya itu


“mas, sudah lama? Kenapa disini?” tanya Citra pada Gibran yang menunggu Sastria


“baru saja, tadi mengobrol sebentar dengan Satria, dia bilang mau mengambil sesuatu dan berlari kearah sana” kata Gibran dengan menunjukkan arah Satria berlari


“itu Satria” kata Citra dengan tersenyum lebar


“ayo kita makan dikantin saja” kata Gibran pada Citra dengan senyum lembut, Satria pun melompat dalam gendongan Gibran. Melihat Gibran dan keluarga kecilnya berlalu Febi menarik napas panjang dia pun beranjak dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya


“Anon apa ada jadwal berkunjung ke cafe hari ini?”tanya Febi pada Anon supir sekaligus pengawal pribadinya itu


“tidak nyonya, apa anda mau pergi ke suatu tempat?” tanya Anon yang duduk di belakang kemudi, dia tak segera


menyalakan mobilnya, dia mennggu untuk mengutarakan pendapatnya


“saya bingung mau kemana” guman Febi lesu


“nyonya maaf kalau saya lancang, apa anda meragukan non Dita?” tanya Anon hati hati


“Anon ini bukan urusan kamu” jawab Febi sopan, dia berusaha untuk tidak terpancing

__ADS_1


“maaf nyonya, saya bekerja dengan nyonya tidak sebentar, saya bisa memahami nyonya, nona Dita tidak seperti yang dikatakan Cindy, saya sendiri sudah menyelidikinya” kata Anon menjelaskan


“jangan merusak suasana hatiku Anon” jawab Dita datar


“saya tidak bermaksud nyonya, akan tetapi say ahanya tidak ingin nyonya menyesal dikemudian hari karena mengabaiakan sekaligus meragukan nona” Anon menambahkan dengan yakin dan hati hati


“Anon aku memang tidak bisa menyembunyikan dari kamu, tapi jangan merusak suasan hatiku” jawab Febi mencoba menghetikan Anon


“nyonya saya perlu meberitahukan nyonya, jangan percaya pada anak tuan Subrata” kata Anon dengan penuh keyakinan


“pikirkan saja tempat yang bisa aku kunjungi hari ini” kata Febi mengalihkan pembicaraan


“ruangan nona Dita dirawat nyonya" kata Anon singkat dengan senyum lembut pada majikannya itu


"Anon" Febi mulai tidak sabar dengan sikap Anon yang membela Dita.


"nyonya, anda percaya dengan anak Subrata sama saja anda menjatuhkan diri kedalam jurang, saya sudah menyelidikinya sendiri dan mengawasi nyonya" kata Anon menjelaskan


"sudahlah lupakan itu kita pergi dari sini" kata Febi berusaha mengelak


"nyonya, video yang diperlihatkan kepada anda saat itu ada nona Dita pergi bersama nona Millan, anda juga harus melihat ini" Anon menjelaskan pada Febi, dia juga memberikan ponsel pintarnya yang berisikan video Cindy dan Marrisa yang berbincang bincang, mereka membahas bagaimana menjauhkan dirinya dengan


Dita, di video itu juga terdengar dengan jelas bahwa Cindy sengaja menggunakan Gibran mantan pacar Dita sebagai kambing hitam.


“sialan, wanita ini benar benar telah memperdayaku” kata Febi dalam hatinya dia geram dengan rencana licik Cindy untuk membuat Dita sengsara, Febi menyerahkan kembali ponsel pintar Anon dan menarik napas panjang, nampak ada air mata yang tipis di matanya


“Anon kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku sejak awal” tanya Febi dengan menyesal


“maaf nyonya, saat itu nona Dita masuk rumah sakit jadi saya tidak berani menambah kekacauan dan juga ada beberapa hal yang perlu dibereskan” jawab Anon dengan tegas teapi bernada santai


“iya kamu benar, ada banyak yang harus diselesaikan” kata Febi menambahkan


“dan anak itu adalah anak dokter Citra, saya mencari tahu dan memastikannya setelah dari taman bermain waktu itu, saat itu juga ada nona Millan disana” kata Anon menambahkan


“terima kasih Anon, kerja bagus” kata Febi dengan menepuk pundak Anon, Febi pun keluar dari mobil dan berjalan


kembali masuk kedalam rumah sakit


“Satria jangan berlarian” suara Citra berusaha mencegah anaknya itu berlari


“wah dokter Citra, anaknya lucu” kata seorang suster pada Cinta yang disambut dengan senyum oleh Citra


“ternyata anak itu mirip ibunya, aku telah salah, Dita maafkan mami” guman Febi dalam hatinya dia pun cepat cepat melangkahkan kakinya menuju ruang rawat inap  tempat Dita dirawat


“Dita sayang” suara Febi dari pintu


“mami” suara Dita begitu gembira melihat Febi datang, Febi langsung memeluknya dan mencium kening Dita


“maafin mami ya sayang, mami baru bisa  menjenguk kamu setelah kamu sadar ” kata Febi dengan penuh kasih sayang, dan juga rasa penyesalan ada didalam sorot matanya, dia membelai kepala Dita


“nggak apa apa mi, Dita tahu mami juga sibuk, sekarang mami sudah datang Dita seneng” jawab Dita yang kemudian memeluk mertuanya itu, Rafael yang melihat dua waniita didepanya itu berpelukan dia pun


ikut memeluk keduanya, dan tertawa bersama


“ah sakit, Rafael” suara Dita dengan sedikti bergetar, saat Rafael menyentuh lengan Dita yang sebelumnya terluka


parah itu, ada bekas jahitan yang masih belum sembuh benar.


“el kamu gimana sih, nanti bisa berdarah lagi loh” kata Febi dengan wajah panik


“maaf sayang, apa perlu aku panggilkan dokter?” tanya Rafael sembari melihat pada lengan Dita


“nggak usah” jawab Dita dengan sedikit manja


“menantuku masih belum sembuh, jangan membuatnya tambah sakit” suara Febi protes, dia memang tidak ingin menantu menantunya di abaikan, tetapi dia telah mengabaikan Dita beberapa minggu dan Febi sangat menyesalinya. Kali ini Febi menyuapi Dita dengan penuh kasih sayang, sore harinya pun dia kembali dengan membawakan bubur untuk Dita


“Sayang, ada apa dengan mami?” tanya Millan pada Sean yang sore itu sudah dirumah


“ada apa?” tanya Sean balik pada Millan dengan wajah polos dan tak mengeti maksud Millan


“mami memasak sendiri dan pergi lagi, padahal mami baru tiba dua jam yang lalu” kata Millan keheranan


“mungkin untuk papi” jawab Sean santai dan meraih tangan istrinya mencoba untuk memeluk istrinya itu, tetapi Millan berontak dan melepaskan pelukan Sean

__ADS_1


“papi ada diatas dengan dua koleganya” jawab Millan dengan wajah datar , sean pun memperhatikan Millan, lalu keduanya depat cepat berlari keluar dan mengejar mobil yang di tumpangi Febi


“apa mami selingkuh?” tanya Millan dengan penasaran


“aku akan menembak laki laki itu jika mami selingkuh” kata Sean berapi api, mereka berdebat didalam mobil mengenai maminya,Sean sangat hafal bagaimana maminya jika sedang senang hatinya, dia mengingat bagaimana ketika sering ditinggal oleh papinya untuk beberapa waktu saat kembali maminya akan membuat makanan untuk papinya dengan tangannya sendiri, ya begitulah Febi jika bertemu dengan lelaki yang dicintainya, yakni suaminya, Nicholas. Mereka tidak menyadari jika mereka masuk ke halaman parkir rumah sakit,


 


“sayang kamu perlu membawa pistolmu “ kata Millan polos


“saat ini tidak, akan kuhajar saja jika mami selingkuh” kata Sean dengan wajah serius, tetapi saat Millan keluar dari


mobil tak sengaja menabrak suster yang hendak pulang setelah jam kerjanya habis


itu tersadar


“apa rumah sakit” kata Millan dengan wajah terkejut serta bersalah, dia pun menahan tawa


“ya ini rumah sakit, kebetulan orang itu akan saya hajar hingga kakinya patah” kata masih belum menyadari


"sayang, mami bukan bertemu lelaki lain tetapi Dita" kata Millan dengan terkekeh


“sial! kamu tahu sayang, bersamamu aku melupakan semuanya, bahkan aku tidak menyadari dimana aku berdiri” kata Sean mengakui kekonyolannya saat bersama Millan, gadis itu benar benar membuat Sean terlihat konyol. Sean pun meraih tangan Millan dan berjalan masuk kedalam rumah sakit


“ini mami suapin ya sayang, ini khusus buat kamu, supaya kamu cepet sembuh” kata Febi memanjakan Dita, dia pun melihat kearah pintu ketika Sean dan Millan masuk


“hai Dita” sapa Millan dengan senyum manisnya, Millan menyebarkan pandangannya, dilihatnya Rafael tertidur di sofa yangada didalam ruang rawat inap itu


“Millan Sean, kesini  juga” kata Febi menyapa


“Millan kak Sean” Sapa Dita


“iya kami mengikuti mami” jawab Millan polos


“mengikuti mami? Kenapa? Mami kan baik baik saja dan lagi ada Anon “ jawab Febi dengan santai


“mami tiba tiba memasak makanan dan kemudian pergi jadi kami mengikuti mami” jawab Millan polos dengan wajah datar tak berdosa


“wajar mami masak, memang ada yang salah dengan masak?” kata Febi sembari meberikan pertanyaan


“kami pikir mami selingkuh jadi kami mengikuti mami” jawab Sean keceplosan


“hahahaha Millan, mami hanya mencintai papi, kalau ada lelaki lain pun keduanya ada di ruangan ini" kata Febi menjelaskan, dia benar benar dibuat terkejut sekaligus lucu oleh tingkah menantu pertamanya itu.


"maaf mami" kata Millan dengan bersalah


"tidak apa-apa, oh ya jangan berisik, pangeran baru saja tidur" kata Febi dengan menutup mulutnya dengan telunjuk jarinya akan tetapi orang yang dimaksud pun terbangun, setelah membasuh mukanya Rafael pun kembali ke kursi yang berada di samping ranjang Dita, dia melanjutkan menyuapi Dita sementara Febi menasehati Sean karena kekonyolan mereka berdua mengikutinya karena menyangka berselingkuh. Sean yang membantah pun mendapat omelan Febi membuat Dita tersenyum melihat itu. Rafael yang menyuapi Dita itu kembali duduk di sofa setelah bubur yang di mangkuk telah habis.


“mami sudah habis” kata Sean sembari menunjukkan mangkuk yang ada disebelah Dita


“oh sudah habis, ya sudah, sayang sekarang kamu istirahat ya, mami mau ada perlu dulu, besok pagi mami kesini


lagi” kata Febi yang sudah tenang karena teralihkan oleh mangkuk itu


“mami Dita mau pulang saja, Dita bosan di kamar terus” pinta Dita dengan merengek pada Febi


“tidak, kamu harus disini sampai sembuh” kata Rafael yang duduk di sofa


“tinggal ini saja, aku sudah sembuh” kata Dita sembari menunjuk pada lengannya, dia pun merengek pada Rafael,


akhirnya Rafael pun mengiyakan


“mami sebaiknya Dita tinggal bersama kita sampai lukanya benar benar sembuh” kata Millan yang menatap pada Rafael


“iya kamu benar sayang, dan memang mami juga tidak mau Dita sendirian di apartement, kalau dirumah mami bisa merawat Dita” kata Febi dengan lembut sambil membelai Rambut Dita, Febi pun meminta pada dokter untuk mengizinkannya pulang, setiba dirumah Febi benar benar merawat Dita, seblum Dita membutuhkan sesuatu Febi sudah ada di sebelah Dita, dia tidak mau menantunya itu memanggil.


“Dita mami benar benar minta maaf sayang” kata Febi yang duduk disebelah Dita yang duduk di ranjanganya dan bersandar itu


“mami, mami nggak salah, bahkan Dita juga nggak ngerti mami minta maaf untuk apa” jawab Dita dengan lembut


“mami akan menebus hari hari mami yang tidak memperdulikan kamu, dengan merawat kamu sampai sembuh” kata Febi dengan antusias


“mami, Dita tidak merasa ridak diperhatikan sama mami, Dita tahu mami sayang sama Dita” kata Dita mencoba melupakan keacuhan Febi padanya, dia tidak ingin Febi merasa bersalah, meskipun Dita tidak tahu apa sebabnya tapi Dita tahu mertuanya itu tidak sengaja, Febi benar benar menebus kesalahnhya, tak satu pun luput dari mata

__ADS_1


Febi mengenai perawatan Dita, hingga Dita sembuh dengan cepat, bahkan Febi membawa Dita pada dokter bedah plastik terbaik di Korea untuk memulihkan lengannya, Febi tidak ingin menantunya itu mendapatkan bekas luka dari kejadian yang menimpanya, menurutnya akan lebih baik jika tidak ada bekas yang tertinggal sehingga tidak meninggalkan trauma, setelah operasi selesai Febi Millan dan Dita berjalan jalan di Korea sebelum kembali ke Indonesia


__ADS_2