Untuk istriku

Untuk istriku
Kecelakaan


__ADS_3

sejak bertemunya Dita dengan sahabatnya


Intan empat hari lalu Dita setiap hari berkunjung kerumah Intan lantaran ayah


Intan, Firman membutuhkan penerjemah, Dita yang awalnya memberikan jasanya


secara cuma-cuma tetapi Firman memaksa Dita menerima pembayaran jasanya


terlebih Dita mengenal banyak tentang bisnis, ini membuat Firman semakin salut


dan kagum pada anak mendiang sahabatnya itu, persahabatan yang mereka


sembunyikan atas permintaan Mahendra.  Sahabat yang terpaksa menjauh lantaran demi menjauhkan Firman dan


keluarganya dari masalah.  Hari minggu cerah membuat Intan ingin cepat-cepat menyusul Dita, dia pun berpamitan pada ayah dan ibunya yang disambut gembira dan memintanya cepat-cepat menjemput


Dita.


"Ta


gue jemput ya?" Pesan singkat Intan pada Dita


"Ok,


gue tunggu di pertigaan loe nurunin gue kapan hari ya?”


jawab Dita pada Intan melalui pesan singkatnya


"Ok “


jawab Intan.


Selang tiga puluh menit pun mobil merah


intan terlihat, disambut antusias oleh Dita dan cepat-cepat masuk kedalam


mobil.


“tan mampir ke City Hospital dulu ya”


kata Dita dan langsung meraih ponsel pintarnya dalam tas


“kenapa ta? loe sakit?” Tanya Intan


khawatir sambil melihat kearah Dita sesekali


“enggak, Cuma mau donor darah aj kok”


jawab Dita penuh semangat dan senyum tipis tersemat dibibirnya


“baik kali kau” piji Intan dengan gaya


candaan yang membuat Dita terkekeh


“loe itu selain pintar loe juga baik


banget, sumpah” puji Intan lagi pada sahabatnya yang hanya membalas kalimat


Intan dengan senyum malu lantaran pujian yang diberikan untuknya


“gue doain deh entar ada pangeran tampan


yang butuh darah loe, abis itu kan darah loe udah menyatu tuh sama darah dia,


terus dia jatuh cinta deh sama loe” kelakar Intan yang dikuti tawa mereka


berdua


“anjir, loe punya bakat juga ya jadi


novelis” kata Dita yang masih terkekeh dengan gurauan Intan. Mobil pun tiba di


halaman parker city hospital, mereka pun masuk dan mendaftar, hanya Dita yang


bisa melakukan donor darah karena Intan tidak memenuhi syarat persiapan


pendonor darah.


“mbak mbak, nanti kantong darahnya tolong


dikasih label ya” kata Intan menunjuk pada kantong darah yang mulai terisi oleh


dara Dita, dan membuat suster yang membantu proses donor darah itu kebingungan


“maksudnya mbak?” Tanya suster


“kasih label, untuk pangeran tampan,


dari Dita” seloroh Intan dengan gaya kocaknya yang sontak membuat suster itu tertawa


“mbak ini bisa saja” suster itu


menimpali dengan masih tertinggal senyum diwajahnya.


“loh bener mbak, soalnya temen saya ini,


jomblo” kata Intan lagi bergurau dengan suster yang sedang memeriksa kantung


dari pendonor lain.


“ta darah loh golongan apa ta?” Tanya


Intan mengusir kebosanan


“O negative” jawab Dita singkat, Intan


hanya menganggukkan kepalanya.


Proses donor darah selesai, intan dan


Ditan masih diruang donor darah, suster pun mberika pengarahan seperti yang


biasa dilakukan setelah melakukan donor darah.


“baik mbak Dita, terima kasih sudah


mendonorkan darahnya untuk ruma sakit kami” kata suster yang membantu proses


donor darah itu, dia pun meletakkan kantong darah Dita di atas rak berjejer dengan


kantong darah yang lainnya, Intan yang berdiri dibelakang suster itu pun usil


“sus, jangan lupa dicatat UN-TUK


PA-NGE-RAN dari DI-TA” kata Intan dengan cengegesan yang membuat suster itu


tersenyum dan geleng kepala keheranan melihat tingkah Intan, tanpa sadar suster


itu mencatatnya. Intan dan Dita pun berlalu.


“lah sus, ini beneran suster catat


begini?” Tanya suster yang lain yang merapikan kantong darah dengan wajah panik


“ya Tuhan, saya nggak sadar sus waktu


nulis itu” suster yang menangani Dita itu panik dan disambut tawa suter yang


lainnya.


“sudah biarkan saja, yang penting


keterangan golongan darah terlihat dengan jelas” kata suster lain yang


memeriksa kebenaran keterangan kantong dara Dita.


Mobil berhenti di depan rumah, Intan dan


Dita pun masuk rumah dan langsung duduk di meja depan pintu samping dirumah


Intan


“eh Dita, sudah datang” sapa mamanya


Intan, Dita pun berdiri dan memberikan salam pada wanita paruh baya itu.


“kamu lama sekali jemputnya” gerutu


Firman yang langsung keluar dari ruang kerjanya begitu mendengar suara Dita dan


Intan.


“iya om maaf, soalnya Dita ngajak Intan


ke city hospital dulu” kata Dita menjelaskan agar sahabatnya itu tidak


dimarahi.


“loh kamu sakit” Tanya mama Intan yang


merangkul bahunya itu dengan langsung memeriksa kening Dita


“enggak tante, Dita baik-baik aj” jawab


Dita sambil menurunkan tangan mamanya Intan dari keningnya


“Dita abis ngasih darah buat tuan vampire ma


pa” Intan menjelaskan sambil cengegesan yang membuat mamanya yang merangkul


Dita itu memasang raut muka kebingungan

__ADS_1


“bicara yang jelas Intan” suara Firman


santai sembari melangkahkan kakinya menuju kursi disamping pintu sampinr


rumahnya.


“donor darah papaaaaa” jelas Intan setengah berteriak


Mereka pun bercengkrama sembari memakan


camilan yang sudah disiapkan oleh istri Firman, Intan yang sibuk memeriksa


desainnya itu pun sesekali menyahut pada cerita papanya, suasana dirumah Intan


pun berubah lebih ramai semenjak Dita sering berkunjung lagi kerumah itu,


“Waktunya makan siang, Intan bantu mama


dulu gih” pinta mamanya Intan, yang disambut antusis lantaran dia sendiri sudah


mulai lapar, sementara Firman dan Dita masih berbincang-bincang, telpon pintar


Firman pun berbunyi dan ia beranjak meninggalkan Dita


“Dita Om tinggal sebentar ya” pamit


Firman yang mententeng ponsel pintarnya yang masih berbunyi


“baik om” jawab Dita disertai anggukan


Firman pun berlalu, Dita meraih Laptop Intan yang masih menyala, diperiksanya


sedikit kerjaan Intan yang membuat dia tertarik, yakni apalagi kalau bukan gambar


menggambar.


“nich anak dari dulu gak berubah kalau


bermain warna” guman Dita yang kemudian mengerjakan kerjaan Intan itu.


Sementara didapur


“ma, papa kok gitu amat ya sama Dita”


Tanya Intan menyelidiki


“Gitu gimana maksud kamu?” Tanya mamanya


balik sambil sesekali memperhatikan Intan


“perhatian banget sama Dita, kuatir


banget sama Dita” Intan menjelaskan tentang apa yang dirasakan tentang papanya


terhadap sahabatnya Dita


“memangnya kamu nggak suka?” Tanya mama


pada anaknya itu sembari menyiapkan meja makan


“suka aj, tapi kayak ada sesuatu gitu


yang di tutupi papa” jawab Intan bimbang


Istri Firman itu pun menarik napas


dalam-dalam dan melihat pada Intan yang sepertinya mulai curiga dengan


perhatian Firman terhadap Dita, yang maksudnya hanyalah supaya bisa melindungi


Dita sekaligus menebus kesalahannya, kesalahan yang tidak membantu Mahendra


tetapi mengiyakan untuk sembunyi dan tidak mengakui persahabatan mereka.


“Intan, kamu dengarkan mama, jangan


sekali-kali mengungkit atau berpikiran aneh-aneh, karena papa melakukan yang


seharusnya perlu dilakukan” kata istri Firman itu sembari memandang dengan


tatapan tajam pada putrinya yang dijawab anggukan oleh Intan, tatapan mata


mamany aitu membuatnya takut dan tidak berani membicarakan itu.


“sudah siap, panggil papa sama Dita


sana” perintah mamanya sembari memukul pelan pantat putrinya


“ih mama genit ah” seloroh intan sambil


terkekeh dan berlalu dari meja makan


“busyet onde mande bambank, loe apain


kursi itu, sementara Intan duduk dilantai memeriksa laptopnya, tatapan matanya


berbinar-binar melihat layar laptopnya


“Ditaaaa” suara Intan kegirangan


“napa loe? Kesambet?” Tanya Dita santai


sambil melihat kearah temannya yang tersenyum lebar seperti sedang menemukan


harta karun itu.


“loh loh Intan, suruh manggil papa sama


Dita buat makan siang kok malah duduk menghadap laptop” mamanya intan yang


tiba-tiba datang itu membuat Intan mendongakkan kepalanya sambil tersenyum


bersalah pada mamanya


“sudah ayo makan siang dulu” kata


mamanya memerintah, mereka pun berjalan kearah meja makan dan berkumpul disana.


Makan siang itu terasa asing untuk Dita, dia hanya tersenyum tipis, tersirat


rasa sedih diwajahnya yang dia tutupi dengan gelak tawa karena candaan Intan.


“kok tumben tante kali ini menyiapkan


sendiri” Tanya Dita


“iya, bi ati kerumah sakit menjenguk


teman sekampungnya yang lagi sakit” jawab mamanya Intan


“oh” jawab Dita,


“oh iya Dita, kamu apa tidak ingin


bekerja di kantor atau perusahaan besar? Om rasa kamu cukup mampu dengan


pengetahuan kamu soal bisnis” kata Firman mencoba mencari tahu ketertarikan


Dita pada bisnis, Dita hanya menjawab dengan gelengan kepala dan senyum yang


ditahan, berusaha menyembunyikan apa yang ada di benaknya tentang bekerja


diperusahaan.


“tan, telpon kamu bordering itu bok ya


di angkat” kata Firman begitu mendengar ponsel Intan bordering dua kali


“iya iya pa” jawab Intan sambil mengkerucutkan


bibirnya


“ajir, boss, ini minggu” kata Intan yang


terkejut melihat nama yang terlihat dilayar monitor dia pun segera mengangkat


telponya itu


“Intan where are you?, tolong kamu


datang city hospital segera, putra saya kecelakaan dan saya butuh kamu segera”


suara Nicholas dari seberang telpon yang langsung membuat Intan melotot kaget,


telpon langsung terputus, terdengar suara Nicholas sangat sangat khawatir.


Intan pun bergegas mencari tasnya dan kunci mobil


“anjir bueleh bambank napa gue yang


ditelpon bukannya Fajar” gerutu Intan yang tergesah gesah meraih tas, kunci


mobil serta jaketnya itu,


“ta sorry ya, gue pergi dulu” katanya


sambil mengulurkan tangganya pada semua yang masih duduk di meja makan.


“aduh, ini kursi perasaan tadi nggak


disini, suara Intan setengah berteriak lantaran dia menabrak kursi yang membuat

__ADS_1


Firman geleng kepala


“hati hati intan” teriak mamanya


Mobil Intan pun meluncur dan Firman


beserta istrinya juga Dita melanjutkan perbincangannya


“oh Dita kenapa kamu gak tinggal disini


saja, semenjak Arman ke London rumah ini jadi kekurangan penghuni” kata mamanya


Intan mencoba merayu Dita untuk tinggal bersama


“nggak usah tante, lagipula Dita udah


bayar sewa kontrakan”


“benar kata tante, kamu tinggal disini


saja, kan kamu juga bisa ngirit, kamu bisa bantu-bantu tante sebagai ganti sewa


kamar kamu” bujuk Firman, dia tahu benar Dita akan menolak jika diberikan


tinggal cuma-cuma.


“nggak apa-apa om, Dita pingin mandiri,


kalau nanti Dita butuh bantuan nanti Dita nemuin om” sahut Dita menjelaskan dan


disertai anggukan kepala


“ya sudah, jangan sungkan kalau kamu


butuh bantuan om” kata Firman lembut


“yaAllah Zubaedaaaaah tolong ini kenapa


pake macet begini yak” gerutu Intan yang belum juga tiba di city hospital meski


jarak dari rumahnya tidak terlalu jauh, dia juga membunyikan klaksonnya


cepat-cepat


“gerbang city hospital berpindahlah “


suara Intan lagi menggerutu pada lalu lintas yang ia lewati, beruntung tak


telalu lama, mobilnya pun masuk kehalam city hospital. Cepat cepat dia mencari


atasannya dan bertemu didepan ruang UGD


“Mr sorry macet” suara Intan yang sudah


menemukan keberadaan atasannya itu


“Intan tolong bantu saya untuk ini”


Nicholas menyerahkan sebuah berkas yang berbahasa Indonesia itu, berkas daftar


pasien. Intan pun menerima berkas itu dan mengisi kekurangan datanya.


“bagaimana dengan istri Mr, apa dia


sudah dikabari?” Tanya Intan hari-hati yang dijawab anggukan oleh Nicholas,


wajahnya terlihat kalut, dan takut, dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan


pada anaknya itu.


“dia sedang perjalanan kesini,


menggunakan jet pribadi dari bali” jelasnya yang tanpa melihat pada Intan.


“saya juga sudah menghubungi Fajar Mr,


sebentar lagi dia sampai” kata Intan


Nampak dua suter tak jauh dari lorong,


yang baru keluar dari sebuah ruangan yang ditemuinya pagi mendorong sebuah


lemari, melihat kerahnya dengan tersenyum, Intan pun tersenyum pada dua suster


itu. Diikuti Fajar dibelakang dua suster itu yang tergesah-gesah untuk segera


menghampiri Nicholas dan Intan.


“maaf mbak” kata suster yang


menghampirinya, yang masih memakai sarung tangan itu yang kemudian Fajar sudah


berada di tengah-tengah mereka


“iya sus, bagaiaman keadaan boss saya”


Tanya Intan,


“hows my Son?” Tanya Nicholas yang


langsung terperanjak dan berdiri itu setelah melihat suster menghampiri mereka


“Mr deveraux membutuhkan transfusi


darah” kata suster


“what?” tanya Intan kaget yang hampir


bersamaan dengan Nicholas


“iya mbak, Mr Deveraux kehilangan banyak


darah, kami membutuhkan pendonor yang  begolongan darah sama” kata suster menjelaskan, spontan Intan menayakan


golongan darah yang dibutuhkan.


“golongan darah apa sus?” Tanya Intan


dengan wajah cemas


“kami butuh darah O negative, kalau ada


diantara kalian ada yang O negative bisa ikut saya keruang” kata suter itu


“gue AB positif” kata Firman yang tiba tiba datang dan berada dibelakang Intan juga


bermuka cemas itu, Intan yang ingat pagi ini dia mengunjungi ruang donor darah


langsung menjawab


“saya sus disitu” kata Intan spontan,


dia pun menoleh dan menunjuk pada dua suster yang mendorong lemari kecil yang


baru saja melintasinya, Intan berlari menuju dua suter itu, diikuti langkah


kaki pelan suster yang menangani putra Nicholas,


“mbak suster mana darah Dita yang tadi


pagi?” Tanya Intan tiba-tiba


“oh yang untuk pangeran tampan ini


mbak?” kata suster yang mendorong lemari kecil berisi darah hasil donor darah


itu sambil tersenyum dan menunjukkan kantong dara paling atas.


“iya iya bener banget, tolong kasih


kesaya mbak” pinta Intan dengan memohon


“suster membawa darah O negative? Tanya


suster yang menangani putra Nicholas”


“iya sus, kami hanya ada satu kantong


ini saja untuk O negative” kata suster itu memberi keterangan


“baik sus, kantong darahnya saya bawa,


untuk prosedurnya mbak silahkan ikut suster ini” kata suster yang menangani


anak Nicholas itu serta mengarahkan Intan untuk mengikuti dua suster yang pagi


ini ditemuinya.


“ah yaAllah makasih telah menolong baim


ya Allah” guman Intan sambil menngadahkan kedua tangannya, tentu saja membuat Fajar


geleng kepala, dua suster itu pun ikut tersenyum


“mari mbak ikut saya” kata suster itu


sambil mengarahkan tangannya menunjukkan jalan


“jar kamu disini dulu ya, paling bentar


lagi juga nyonya nyampek sini, gue urus ini dulu” kata Intan berpamitan. Intan

__ADS_1


pun berlalu, dan Fajar kembali menemui Nicholas, dia menenangkan dan


menyemangati Nicholas bahwa putranya akan baik-baik saja.


__ADS_2