
sejak bertemunya Dita dengan sahabatnya
Intan empat hari lalu Dita setiap hari berkunjung kerumah Intan lantaran ayah
Intan, Firman membutuhkan penerjemah, Dita yang awalnya memberikan jasanya
secara cuma-cuma tetapi Firman memaksa Dita menerima pembayaran jasanya
terlebih Dita mengenal banyak tentang bisnis, ini membuat Firman semakin salut
dan kagum pada anak mendiang sahabatnya itu, persahabatan yang mereka
sembunyikan atas permintaan Mahendra. Sahabat yang terpaksa menjauh lantaran demi menjauhkan Firman dan
keluarganya dari masalah. Hari minggu cerah membuat Intan ingin cepat-cepat menyusul Dita, dia pun berpamitan pada ayah dan ibunya yang disambut gembira dan memintanya cepat-cepat menjemput
Dita.
"Ta
gue jemput ya?" Pesan singkat Intan pada Dita
"Ok,
gue tunggu di pertigaan loe nurunin gue kapan hari ya?”
jawab Dita pada Intan melalui pesan singkatnya
"Ok “
jawab Intan.
Selang tiga puluh menit pun mobil merah
intan terlihat, disambut antusias oleh Dita dan cepat-cepat masuk kedalam
mobil.
“tan mampir ke City Hospital dulu ya”
kata Dita dan langsung meraih ponsel pintarnya dalam tas
“kenapa ta? loe sakit?” Tanya Intan
khawatir sambil melihat kearah Dita sesekali
“enggak, Cuma mau donor darah aj kok”
jawab Dita penuh semangat dan senyum tipis tersemat dibibirnya
“baik kali kau” piji Intan dengan gaya
candaan yang membuat Dita terkekeh
“loe itu selain pintar loe juga baik
banget, sumpah” puji Intan lagi pada sahabatnya yang hanya membalas kalimat
Intan dengan senyum malu lantaran pujian yang diberikan untuknya
“gue doain deh entar ada pangeran tampan
yang butuh darah loe, abis itu kan darah loe udah menyatu tuh sama darah dia,
terus dia jatuh cinta deh sama loe” kelakar Intan yang dikuti tawa mereka
berdua
“anjir, loe punya bakat juga ya jadi
novelis” kata Dita yang masih terkekeh dengan gurauan Intan. Mobil pun tiba di
halaman parker city hospital, mereka pun masuk dan mendaftar, hanya Dita yang
bisa melakukan donor darah karena Intan tidak memenuhi syarat persiapan
pendonor darah.
“mbak mbak, nanti kantong darahnya tolong
dikasih label ya” kata Intan menunjuk pada kantong darah yang mulai terisi oleh
dara Dita, dan membuat suster yang membantu proses donor darah itu kebingungan
“maksudnya mbak?” Tanya suster
“kasih label, untuk pangeran tampan,
dari Dita” seloroh Intan dengan gaya kocaknya yang sontak membuat suster itu tertawa
“mbak ini bisa saja” suster itu
menimpali dengan masih tertinggal senyum diwajahnya.
“loh bener mbak, soalnya temen saya ini,
jomblo” kata Intan lagi bergurau dengan suster yang sedang memeriksa kantung
dari pendonor lain.
“ta darah loh golongan apa ta?” Tanya
Intan mengusir kebosanan
“O negative” jawab Dita singkat, Intan
hanya menganggukkan kepalanya.
Proses donor darah selesai, intan dan
Ditan masih diruang donor darah, suster pun mberika pengarahan seperti yang
biasa dilakukan setelah melakukan donor darah.
“baik mbak Dita, terima kasih sudah
mendonorkan darahnya untuk ruma sakit kami” kata suster yang membantu proses
donor darah itu, dia pun meletakkan kantong darah Dita di atas rak berjejer dengan
kantong darah yang lainnya, Intan yang berdiri dibelakang suster itu pun usil
“sus, jangan lupa dicatat UN-TUK
PA-NGE-RAN dari DI-TA” kata Intan dengan cengegesan yang membuat suster itu
tersenyum dan geleng kepala keheranan melihat tingkah Intan, tanpa sadar suster
itu mencatatnya. Intan dan Dita pun berlalu.
“lah sus, ini beneran suster catat
begini?” Tanya suster yang lain yang merapikan kantong darah dengan wajah panik
“ya Tuhan, saya nggak sadar sus waktu
nulis itu” suster yang menangani Dita itu panik dan disambut tawa suter yang
lainnya.
“sudah biarkan saja, yang penting
keterangan golongan darah terlihat dengan jelas” kata suster lain yang
memeriksa kebenaran keterangan kantong dara Dita.
Mobil berhenti di depan rumah, Intan dan
Dita pun masuk rumah dan langsung duduk di meja depan pintu samping dirumah
Intan
“eh Dita, sudah datang” sapa mamanya
Intan, Dita pun berdiri dan memberikan salam pada wanita paruh baya itu.
“kamu lama sekali jemputnya” gerutu
Firman yang langsung keluar dari ruang kerjanya begitu mendengar suara Dita dan
Intan.
“iya om maaf, soalnya Dita ngajak Intan
ke city hospital dulu” kata Dita menjelaskan agar sahabatnya itu tidak
dimarahi.
“loh kamu sakit” Tanya mama Intan yang
merangkul bahunya itu dengan langsung memeriksa kening Dita
“enggak tante, Dita baik-baik aj” jawab
Dita sambil menurunkan tangan mamanya Intan dari keningnya
“Dita abis ngasih darah buat tuan vampire ma
pa” Intan menjelaskan sambil cengegesan yang membuat mamanya yang merangkul
Dita itu memasang raut muka kebingungan
__ADS_1
“bicara yang jelas Intan” suara Firman
santai sembari melangkahkan kakinya menuju kursi disamping pintu sampinr
rumahnya.
“donor darah papaaaaa” jelas Intan setengah berteriak
Mereka pun bercengkrama sembari memakan
camilan yang sudah disiapkan oleh istri Firman, Intan yang sibuk memeriksa
desainnya itu pun sesekali menyahut pada cerita papanya, suasana dirumah Intan
pun berubah lebih ramai semenjak Dita sering berkunjung lagi kerumah itu,
“Waktunya makan siang, Intan bantu mama
dulu gih” pinta mamanya Intan, yang disambut antusis lantaran dia sendiri sudah
mulai lapar, sementara Firman dan Dita masih berbincang-bincang, telpon pintar
Firman pun berbunyi dan ia beranjak meninggalkan Dita
“Dita Om tinggal sebentar ya” pamit
Firman yang mententeng ponsel pintarnya yang masih berbunyi
“baik om” jawab Dita disertai anggukan
Firman pun berlalu, Dita meraih Laptop Intan yang masih menyala, diperiksanya
sedikit kerjaan Intan yang membuat dia tertarik, yakni apalagi kalau bukan gambar
menggambar.
“nich anak dari dulu gak berubah kalau
bermain warna” guman Dita yang kemudian mengerjakan kerjaan Intan itu.
Sementara didapur
“ma, papa kok gitu amat ya sama Dita”
Tanya Intan menyelidiki
“Gitu gimana maksud kamu?” Tanya mamanya
balik sambil sesekali memperhatikan Intan
“perhatian banget sama Dita, kuatir
banget sama Dita” Intan menjelaskan tentang apa yang dirasakan tentang papanya
terhadap sahabatnya Dita
“memangnya kamu nggak suka?” Tanya mama
pada anaknya itu sembari menyiapkan meja makan
“suka aj, tapi kayak ada sesuatu gitu
yang di tutupi papa” jawab Intan bimbang
Istri Firman itu pun menarik napas
dalam-dalam dan melihat pada Intan yang sepertinya mulai curiga dengan
perhatian Firman terhadap Dita, yang maksudnya hanyalah supaya bisa melindungi
Dita sekaligus menebus kesalahannya, kesalahan yang tidak membantu Mahendra
tetapi mengiyakan untuk sembunyi dan tidak mengakui persahabatan mereka.
“Intan, kamu dengarkan mama, jangan
sekali-kali mengungkit atau berpikiran aneh-aneh, karena papa melakukan yang
seharusnya perlu dilakukan” kata istri Firman itu sembari memandang dengan
tatapan tajam pada putrinya yang dijawab anggukan oleh Intan, tatapan mata
mamany aitu membuatnya takut dan tidak berani membicarakan itu.
“sudah siap, panggil papa sama Dita
sana” perintah mamanya sembari memukul pelan pantat putrinya
“ih mama genit ah” seloroh intan sambil
terkekeh dan berlalu dari meja makan
“busyet onde mande bambank, loe apain
kursi itu, sementara Intan duduk dilantai memeriksa laptopnya, tatapan matanya
berbinar-binar melihat layar laptopnya
“Ditaaaa” suara Intan kegirangan
“napa loe? Kesambet?” Tanya Dita santai
sambil melihat kearah temannya yang tersenyum lebar seperti sedang menemukan
harta karun itu.
“loh loh Intan, suruh manggil papa sama
Dita buat makan siang kok malah duduk menghadap laptop” mamanya intan yang
tiba-tiba datang itu membuat Intan mendongakkan kepalanya sambil tersenyum
bersalah pada mamanya
“sudah ayo makan siang dulu” kata
mamanya memerintah, mereka pun berjalan kearah meja makan dan berkumpul disana.
Makan siang itu terasa asing untuk Dita, dia hanya tersenyum tipis, tersirat
rasa sedih diwajahnya yang dia tutupi dengan gelak tawa karena candaan Intan.
“kok tumben tante kali ini menyiapkan
sendiri” Tanya Dita
“iya, bi ati kerumah sakit menjenguk
teman sekampungnya yang lagi sakit” jawab mamanya Intan
“oh” jawab Dita,
“oh iya Dita, kamu apa tidak ingin
bekerja di kantor atau perusahaan besar? Om rasa kamu cukup mampu dengan
pengetahuan kamu soal bisnis” kata Firman mencoba mencari tahu ketertarikan
Dita pada bisnis, Dita hanya menjawab dengan gelengan kepala dan senyum yang
ditahan, berusaha menyembunyikan apa yang ada di benaknya tentang bekerja
diperusahaan.
“tan, telpon kamu bordering itu bok ya
di angkat” kata Firman begitu mendengar ponsel Intan bordering dua kali
“iya iya pa” jawab Intan sambil mengkerucutkan
bibirnya
“ajir, boss, ini minggu” kata Intan yang
terkejut melihat nama yang terlihat dilayar monitor dia pun segera mengangkat
telponya itu
“Intan where are you?, tolong kamu
datang city hospital segera, putra saya kecelakaan dan saya butuh kamu segera”
suara Nicholas dari seberang telpon yang langsung membuat Intan melotot kaget,
telpon langsung terputus, terdengar suara Nicholas sangat sangat khawatir.
Intan pun bergegas mencari tasnya dan kunci mobil
“anjir bueleh bambank napa gue yang
ditelpon bukannya Fajar” gerutu Intan yang tergesah gesah meraih tas, kunci
mobil serta jaketnya itu,
“ta sorry ya, gue pergi dulu” katanya
sambil mengulurkan tangganya pada semua yang masih duduk di meja makan.
“aduh, ini kursi perasaan tadi nggak
disini, suara Intan setengah berteriak lantaran dia menabrak kursi yang membuat
__ADS_1
Firman geleng kepala
“hati hati intan” teriak mamanya
Mobil Intan pun meluncur dan Firman
beserta istrinya juga Dita melanjutkan perbincangannya
“oh Dita kenapa kamu gak tinggal disini
saja, semenjak Arman ke London rumah ini jadi kekurangan penghuni” kata mamanya
Intan mencoba merayu Dita untuk tinggal bersama
“nggak usah tante, lagipula Dita udah
bayar sewa kontrakan”
“benar kata tante, kamu tinggal disini
saja, kan kamu juga bisa ngirit, kamu bisa bantu-bantu tante sebagai ganti sewa
kamar kamu” bujuk Firman, dia tahu benar Dita akan menolak jika diberikan
tinggal cuma-cuma.
“nggak apa-apa om, Dita pingin mandiri,
kalau nanti Dita butuh bantuan nanti Dita nemuin om” sahut Dita menjelaskan dan
disertai anggukan kepala
“ya sudah, jangan sungkan kalau kamu
butuh bantuan om” kata Firman lembut
“yaAllah Zubaedaaaaah tolong ini kenapa
pake macet begini yak” gerutu Intan yang belum juga tiba di city hospital meski
jarak dari rumahnya tidak terlalu jauh, dia juga membunyikan klaksonnya
cepat-cepat
“gerbang city hospital berpindahlah “
suara Intan lagi menggerutu pada lalu lintas yang ia lewati, beruntung tak
telalu lama, mobilnya pun masuk kehalam city hospital. Cepat cepat dia mencari
atasannya dan bertemu didepan ruang UGD
“Mr sorry macet” suara Intan yang sudah
menemukan keberadaan atasannya itu
“Intan tolong bantu saya untuk ini”
Nicholas menyerahkan sebuah berkas yang berbahasa Indonesia itu, berkas daftar
pasien. Intan pun menerima berkas itu dan mengisi kekurangan datanya.
“bagaimana dengan istri Mr, apa dia
sudah dikabari?” Tanya Intan hari-hati yang dijawab anggukan oleh Nicholas,
wajahnya terlihat kalut, dan takut, dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan
pada anaknya itu.
“dia sedang perjalanan kesini,
menggunakan jet pribadi dari bali” jelasnya yang tanpa melihat pada Intan.
“saya juga sudah menghubungi Fajar Mr,
sebentar lagi dia sampai” kata Intan
Nampak dua suter tak jauh dari lorong,
yang baru keluar dari sebuah ruangan yang ditemuinya pagi mendorong sebuah
lemari, melihat kerahnya dengan tersenyum, Intan pun tersenyum pada dua suster
itu. Diikuti Fajar dibelakang dua suster itu yang tergesah-gesah untuk segera
menghampiri Nicholas dan Intan.
“maaf mbak” kata suster yang
menghampirinya, yang masih memakai sarung tangan itu yang kemudian Fajar sudah
berada di tengah-tengah mereka
“iya sus, bagaiaman keadaan boss saya”
Tanya Intan,
“hows my Son?” Tanya Nicholas yang
langsung terperanjak dan berdiri itu setelah melihat suster menghampiri mereka
“Mr deveraux membutuhkan transfusi
darah” kata suster
“what?” tanya Intan kaget yang hampir
bersamaan dengan Nicholas
“iya mbak, Mr Deveraux kehilangan banyak
darah, kami membutuhkan pendonor yang begolongan darah sama” kata suster menjelaskan, spontan Intan menayakan
golongan darah yang dibutuhkan.
“golongan darah apa sus?” Tanya Intan
dengan wajah cemas
“kami butuh darah O negative, kalau ada
diantara kalian ada yang O negative bisa ikut saya keruang” kata suter itu
“gue AB positif” kata Firman yang tiba tiba datang dan berada dibelakang Intan juga
bermuka cemas itu, Intan yang ingat pagi ini dia mengunjungi ruang donor darah
langsung menjawab
“saya sus disitu” kata Intan spontan,
dia pun menoleh dan menunjuk pada dua suster yang mendorong lemari kecil yang
baru saja melintasinya, Intan berlari menuju dua suter itu, diikuti langkah
kaki pelan suster yang menangani putra Nicholas,
“mbak suster mana darah Dita yang tadi
pagi?” Tanya Intan tiba-tiba
“oh yang untuk pangeran tampan ini
mbak?” kata suster yang mendorong lemari kecil berisi darah hasil donor darah
itu sambil tersenyum dan menunjukkan kantong dara paling atas.
“iya iya bener banget, tolong kasih
kesaya mbak” pinta Intan dengan memohon
“suster membawa darah O negative? Tanya
suster yang menangani putra Nicholas”
“iya sus, kami hanya ada satu kantong
ini saja untuk O negative” kata suster itu memberi keterangan
“baik sus, kantong darahnya saya bawa,
untuk prosedurnya mbak silahkan ikut suster ini” kata suster yang menangani
anak Nicholas itu serta mengarahkan Intan untuk mengikuti dua suster yang pagi
ini ditemuinya.
“ah yaAllah makasih telah menolong baim
ya Allah” guman Intan sambil menngadahkan kedua tangannya, tentu saja membuat Fajar
geleng kepala, dua suster itu pun ikut tersenyum
“mari mbak ikut saya” kata suster itu
sambil mengarahkan tangannya menunjukkan jalan
“jar kamu disini dulu ya, paling bentar
lagi juga nyonya nyampek sini, gue urus ini dulu” kata Intan berpamitan. Intan
__ADS_1
pun berlalu, dan Fajar kembali menemui Nicholas, dia menenangkan dan
menyemangati Nicholas bahwa putranya akan baik-baik saja.