
Dita membuka pintu kontrakannya, dia sudah bersiap hendak mengajat privat seperti biasanya, ditutupnya pintu
kontrakannya, dia berdiri didepan pintu
“huuuhhhh” Dita mengatur napasnya
“loe bisa melewati semuanya Dita, sebelumnya loe mengalami yang lebih buruk dari ini dan loe sukses melewatinya, jadi sekarang loe pasti bisa” katanya pada dirinya sendiri menyemangati membuat tetangganya yang melihat tingkahnya itu geli sekaligus penuh tanda tanya, setelah Dita menyapa semuanya dia pun berangkat. Di bengkel yang sama saat dia menangis dia bertemu lagi dengan Yuda, tukang ojek online abal-abal, dia menawari Dita untuk diantarkan olehnya tanpa membayar tetapi diganti dengan belajar bahasa mandarin, Dita pun menyanggupinya.
“neng Dita kenape bang?” tanya istri mang Tohir yang mematung memperhatikan Dita hingga menghilang dari pandangan
“mana tau saya buk, cuman kemarin matanya sembab” kata mang Tohir santai
“iya, kayak neng Dita abis nangis” kata Mbak Ruminah yang tiba-tiba nimbrung lantaran beberapa ibu-ibu sedang memilih dagangnnya.
“iye, kapan hari tuh kate suami aye, neng Dita nagis kenceng dibengkel” kata tetangga depan mang Tohir
“yang bener lu ” bentak mbak Ruminah
“iye, masak gue bo’ong, terus infonya lagi katanye dulu neng Dita itu anaknye orang kaye” katanya lagi tetangga depan mang Tohir
“elu mah ngarang” kata Istri mang Tohir sambil menunjuk dengan telunjuk tangannya,
“ehem” dehem bang Tohir melihat istrinya menggunjingkan Dita, tentu saja mendengar deheman suaminya dia pun menoleh, dengan muka kesal dan melotot
“iye iye, iye bang iye, kagak nggibah” katanya lalu kembali merapikan beberapa bumbu yang akan dia persiapkan
sebelumnya
“rumahnye gedong?” tanya mbak Ruminah semangat dan semringah
“kate laki aye sih iye, ni kontrakan ma kagak ade ape-apenye” kata tetangga depan mang Tohir
“nggak nyangka neng Dita” guman mbak Ruminah dengan decak kagum, dia membayangkan hidup mewah Dita berubah di kontrakan, kok bisa bertahan dan dengan santainya Dita menempati kontrakan kecilnya. Dimata Ruminah Dita adalah orang baik, orang yang menyemangatinya ketika anaknya menderita penyakit dan butuh biaya besar, Dita menggalang dana untuk membantunya, hingga anaknya sembuh dan kini bekerja disebuah percetakan.
Rafael yang sudah duduk dikursi kebesarannya terus berpikir, dia mengingat pertama kali bertemu Dita, kemudian
kedua kalinya, saat itu dia menatap dalam pada mata Dita yang berusaha meniup luka di keningnya saat dia merasakan sakit dikepalanya, ada kedamaian didalamnya, itu yang dirasakan Rafael, dia mengabaikan dokumen didepannya dan beranjak meninggalkan kantornya.
“yes Mr Rafael can I Help you?” tanya seorang suster pada Rafael
“suster pernah melihat dia?” tanya Rafael dengan menunjukkan photo Dita pada suster yang berjaga di meja
resepsionis
“maaf Mr tidak pernah, sebentar saya tanyakan” suster itu pun bertanya pada suster yang lainnya
“oh mbak Dita, dia itu rutin mendonorkan darahnya kerumah sakit ini, coba saja tanya di bagian donor darah” kata suster itu pada suster jaga, tanpa menunggu Rafael yang mendengar penjelasan suster itu langsung pergi dan mencari ruang donor darah
“ah Mr Rafael, senang bertemu anda disini” kata dokter yang sempat menanganinya ketika dia kecelakaan beberapa bulan lalu.
“apa ada yang bisa saya bantu Mr?” tanya dokter itu dengan cepat Rafael menunjukkan gambar Dita yang ada diponselnya.
“kalau tidak salah dia ..” dokter itu masih berpikir mencoba mengingat nama Dita, tetapi suster yang bersama dokter itu memang sering bertemu dan berbincang pada Dita itu mengenalnya, dan mencoba meminta ponsel Rafael
“sepertinya saya kenal, boleh saya lihat Mr?” pinta suster yang bersama dokter itu
“oh ini mbak Dita, ini yang waktu itu bersedia mendonorkan dua kantong pada Mr, saya sendiri yang menghubunginya Dok” jelas suster itu
“Dia juga rutin mendonorkan darahnya
sebulan sekali” suster itu menambahkan dengan yakin
“kamu yakin” tanya dokter memastikan
“yakin dok, karena hari itu jadi bahan omongan dan candaan para suster hingga dua minggu yang ada di ruang donor darah” jelas suster dengan tersenyum
“maksudnya? Tanya dokter dan Rafael hampir bersamaan
“itu karena teman mbak dita menyuruh suster Farah untuk menulis kantong darahnya mbak Dita itu untuk pangeran dari Dita, dan itu ditulis sama persis dok pakai huruf besar pula” jelas suster itu
dengan tersenyum lebar
“thank you” kata Rafael dengan senyum kemenangan dia pun langsung meninggalkan dokter dan suster itu hingga
kebingungan kenapa tiba-tiba bertanya, dia meninggalkan rumah sakit, dia mengingat betul dia mendengar suara tawa renyah dan kata-kata gadis itu yang membangunkannya, dia pun ingat ada kantong darah yang bertulisakan seperti kata suster, dia sempat membaca itu meski dengan susah payah saat dia tersadar.
“Fine” kata Rafael pada dirinya sendiri sambil menganggukkan kepala memahami sesuatu, dia mengemudikan mobilnya melaju menuju kantor, dia ingin menyelesaikan semua pekerjaanya agar segera pulang dan meminta saran pada ibunya.
“Dita” suara Nicholas memanggil Dita, tanpa menoleh Dita mempercepat langkahnya
“Dita saya datang untuk meminta maaf” kata Nicholas yang berhasil menghentikan langkah kakinya, Dita pun berbalik
“saya maafkan, dan jauhi saya” jawab Dita ketus kemudian kembali memalingkan badannya dan berjalan menjauhi Nicholas
“Dita nanti sore saya akan berangkat ke London karena sebuah urusan, tetapi sebelum itu saya ingin kamu tahu
Dita” kata Nicholas mencoba menjelaskan
"itu bukan urusan saya, mau pergi ya pergi aja" jawab Dita ketus dan tidak bersahabat
“Dita saya dan ayah kamu adalah teman baik” kata Nicholas berusaha meyakinkan Dita, setidaknya agar dia mau dekat kembali dengan Febi istrinya, itu harapan terakhir Nicholas dia tak berani meminta permintaan istrinya
“jangan membawa ayahku, itu tidak akan berpengaruh” jawab Dita ketus dengan memalingkan wajahnya agar suaranya didengar Nicholas
“saya ingin menjaga dan melindungi kamu Dita, dan itu permintaan terakhir ayah kamu” jelas Nicholas yang berjalan pelan mendekati Dita yang terhenti langkahnya lantaran kalimat Nicholas,
“kalau kamu tidak percaya pada saya, kamu bisa percaya pada ayah kamu” kata Nicholas pada
Dita yang sudah membalikkan badannya menghadap padanya itu, dia menunjukkan
sebuah amplop, terlihat sekali itu adalah amplop lama, Dita berjalan mendekat
dan mengambil amplop itu, kemudian membuka dan membacanya, seketika tangis Dita
pecah, Nicholas merai kepala gadis itu dan menenagkannya
“ayah, kenapa semuanya jadi seperti ini” kata Dita dalam tangisnya ketika membaca surat dari ayahnya itu, Nicholas memberi pengertian kepada Dita beberapa hal, kemudian mengajak Dita kesuatu tempat, sebuah café yang sepi pengunjung, nampak pengunjungnya pun orang-orang berkantong tebal.
“Dita maafkan saya kalau saya menyakiti perasaan kamu pada pertemuan pertama kita, saya tidak tahu kamu begitu tertekan” kata Nicholas lagi meminta maaf pada Dita
“tidak apa-apa Mr, saya sudah memafkan Mr” jawab Dita singkat dengan senyum tulus menghiasi bibirnya.
“no Mr, kamu panggil saya …” kata Nicholas berpikir
“kamu panggil saya om, atau papi” katanya dengan senyum lembut, Dita pun megangguk pertanda mengerti, mereka menikmati makanan mereka, Nicholas menceritakan banyak tentang ayah Dita dan
Dita menyukai cerita setip cerita mengenai orang tuanya, Nicholas juga menceritakan bagaimana dia menjalankan binisnya serta kedua anaknya, mulai dari Sean yang suka sekali pada Dita dan ingin menjadikan adiknya, hingga saat saat Dita kecil mulai belajar berjalan Sean yang pertama kali menuntunnya untuk melangkahkan kaki dan belajar berjalan hingga anak bungsunya yang mengikuti caranya dalam menyingkirkan orang orang yang mengusik mereka.
"kenapa om tidak datang saat ayah mengalami kesulitan" tanya Dita pada Nicholas
"itu keinginan ayahmu, dia sudah memprediksi semuanya dia benar benar melarang kami untuk terlibat" kata Nicholas menjelaskan
"bagaimana jika dimasa depan kalian tidak bisa lepas dari musuh musuh ayah yang sudah menikam ayah dari belakang?" tanya Dita bak seorang reporter
"Dita kami sudah terlibat, Sean menngatur semuanya dan sekarang diberikan kepada adiknya, kami menyimpannya rapat rapat"jelas Nicholas yang sedikit membingungkan untuk Dita
"saat ini Dita tidak tertarik om, dan maaf Dita harus pergi sekarang" kata Dita hendak perpamitan
“Dita, saya harap kamu tidak keberatan menerima ini” kata Nicholas dan menyerahkan sebuah kartu, kartu kredit yang di kembalikannya beberapa hari lalu
"tapi ini bukan milik Dita om. Dita nggak bisa menerimanya" kata Dita menolak
“ itu milik kamu boleh menggunakannya sesukamu” kata Nicholas menambahkan, Dita pun menerima dengan terpaksa.
__ADS_1
“thanks Mr”
“hmm” Suara Nicholas geram
“om – papi ” kata Dita mengulang perintah Nicholas dengan senyum yang dibuat-buat, mereka pun beranjak meninggalakan cafe
“Dita saya mau kamu menjadi menantu saya, well saya tidak memaksa tetapi saya berharap” kata Nicholas sambil
menatap Dita penuh harap
“et dah banyak amat permintaanya, anaknya yang mana, Sean? Katanya sayang sama gue kayak sayang adik, aneh” guman hati Dita
“maaf om papi, saya tidak bisa memberikan jawaban itu sekarang” kata Dita mencoba menolak
“kamu tahu Cindy? Anak paman kamu? Dia mencoba menghancurkan The Deveraux, dan kamu tahu The Deveraux adalah buah pemikiran ayah kamu” jelas Nicholas membuat Dita berpikir dan hanya tersenyum
pada Nicholas. Dita memberi penjelasan dia meminta waktu untuk menjawabnya. setelah mobil berhenti di tempat tujuan Dita mereka pun berpisah disana
“Claudia, apa kamu melihat Mr Rafael? Tanya Sean pada resepsionis
“Mr Sean sudah pulang Mr” jawab Claudia singkat dengan senyum tipis dan lembut seperti biasanya dia menyambut tamu atau siapa saja yang menghampirinya.
“Claudia mulai besok kamu tidak akan sendirian, akan ada respsionis baru, tolong kamu ajari dia” kata Sean dengan santai dan lembut, tak lupa dia mengerlinkan mata pada resepsionis itu, tentu saja membuat jantung gadis itu dag dig dug tak menentu, dia hanya tersipu
“mom” suara dari luar dengan lantang dan bersemangat
“el kamu sudah pulang nak, mami seneng kamu pulang kesini” sambut Febi dengan memeluk putranya itu, kemudian memandunya menuju meja makan menyuguhkan beberapa kue,
“mom saya meminta restu” kata Rafael pada ibunya
“restu? Restu apa? Tanya Febi tetapi tidak mendapat jawaban dari putranya
“menikah?” tanya Febi lagi dia pun memegang tangan putranya
"dengan siapa?" tanya Febi mencari tahu
"Dita, seperti keinginan mami" jawab Rafael yakin
“kamu yakin dengan keputusan kamu?” tanya Febi
“yes mom, I will Marry her” jawab Rafael sekali lagi dengan yakin
“ atas dasar apa? Mami tahu kamu tidak mencintainya el?
“ hanya saya tidak suka Marrisa terus mengganggu saya, jadi saya pikir saya menikah saja saya juga sudah menemukan calonnya” Jawab Rafael
“Dia yang menyelamatkan nyawa saya, kalau tidak ada dia mungkin saya masih koma” jawab Rafael sambil menatap ibunya.
“apa kamu jatuh cinta padanya atau ada ketertarikan padanya?” tanya Febi memastikan
“no, I don’t love her” jawab Rafael singkat, Febi hanya menatapnya dan bernapas panjang
“I don’t know mom, setelah kecelakaan saya suka berbicara dengannya, saya merasa nyaman seperti saya sudah
mengenalnya. Jelas Rafael dengan raut muka bingung, mendengar jawaban Rafael membuat Febi tersenyum senang
“mungkin ada darah Dita yang mengalir didalam tubuh kamu” goda Febi pada putranya
“tidak masuk akal mami” bantah Rafael yang kemudian dia beranjak dari duduknya melangkah menuju ruang tengah dan duduk disofa
“bisa saja” kata Febi dengan tersenyum lebar dan menyandarkan lengannya di tembok sambil menatap pada anaknya itu
“hello beautifull” sapa Sean yang tiba-tiba datang lalu mencium pipi Febi
“why he coming here” tanya Sean dengan wajah penasaran disertai senyum lebar seolah sengaja menggoda Rafael
“ini rumah mami dan papinya, itu artinya rumah dia juga tampan” kata Febi sambil mengacak-acak rambut Sean dan mengambil setelan Jas yang ada di tangan Sean
“ask her permission” jawab Rafael datar sambil mengarahkan tangannya pada ibunya
“what permission ? tanya Sean penasaran yang terlihat dari raut mukanya
“marry” jawab Rafael singkat tanpa melihat Sean
“are you serius? Dita?” tanya Sean memastikan
“yes” jawab Rafael dan melihat pada Sean yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya, tentu saja jawaban itu membuat Sean melompat kearah Rafael dan bergulat dengan adiknya, dia pun mencium pipi adik
kesayangannya itu
__ADS_1
“thank you bro I love you” katanya dengan gelak tawa keduanya karena sudah lama mereka tidak bergulat bercanda bersama, sejak Sean masuk keperguruan tinggi.
“I love you too” jawab Rafael
\*\*\*
Tan, makan siang di taman somay yuk” pesan singkat Dita pada Intan, membuat Intan melompat kegirangan akhirnya selama beberapa hari dia tidak bisa mendengar kabar atau suara dari sahabatnya itu kini bisa makan siang dan bertanya apa yang terjadi, karena melompat kegirangan membuat Sean yang sedang berada tak jauh darinya itu terkejut, juga beberapa karyawan yang ada dalam satu ruangan itu.
“Intan” tegur Sean dengan wajah terkejutnya itu masih nampak
“sorry Mr, Dita” jawab Intan kegirangan sambil menujukkan layar ponselnya.
“Dita?” tanya Sean dengan antusias dan senyum menghiasi bibirnya, membuat karyawan wanita lainnya terpesona.
“iya Mr, Dita ngajak makan siang bareng” jelas Intan,
“ok kamu boleh pergi” kata Sean memberi izin
“masih jam sepuluh Mr” jawab Intan sedikit lantang lantaran belum waktunya makan siang.
"kamu pergi sekarang atau saya pecat" ancam Sean dengan senyum jahilnya yang jahat
"i-iya Mr, et dah babon sama anak ngancamnya sama" jawab Intan dengan menggerutu
“oh iya besok saya mengadakan pesta
penyambutan untuk model baru kita, kalian harus datang” kata Sean memberikan
informasi. Jam makan siang pun tiba, Intan meluncur sejak satu jam lalu itu membawa mobilnya dengan lambat menuju tempat Dita menunggunya, mereka makan somay sambil bercerita banyak, Dita juga berkeluh kesah tentang Dimas yang tak henti-hentinya meneror dia, sementara Intan merengek merasa kehilangan Dita yang beberapa hari mengacuhkannya, kini kedaan kembali seperti sebelum Dita mengenal Nicholas bedanya kini Dita lebih dekat dengan keluarga Deveraux, Dita juga diundang kepesta yang diadakan Sean, setelah makan siang karena Intan sudah kembali ke kantor untuk bekerja Dita memutuskan untuk membeli baju dan sepatu untuk pesta. Untuk selera baju jangan tanya, Dita punya selera yang bagus, kini dia membeli baju dan sepatu pestanya tanpa pikir
panjang.
“mbak saya ambil ini dan ini” kata Dita pada kasir toko dengan tersenyum
“itu kan baju mahal mana bisa dia bayar, dia itu Cuma guru privat” guman seorang pelayan toko yang kebetulan
mengenalnya, dilihatnya Dita dengan sinis
Kasir toko itu kemudia menerimanya
“semuanya empat juta seratus mbak” kata kasir itu dengan lembut
“mau dibayar debit atau ..?” tanya kasir itu belum dia menyelsaikan kalimatnya Dita sudah menyodorkan kartu kredit
pemberian Nicholas
“ini mbak” kata Dita dengan yakin. Setelah membayar dia pun pergi dan pulang ke kontrakan kecilnya
“malam neng Dita” sapa mbak Ruminah dengan senyum lebar,
“malam mbak Rum” jawab Dita dengan sopan
“abis belanje neng?” tanya istri mang
Tohir
“iya pok, mumpung abis gajian" canda Dita menutupi pertanyaan lainya yang akan muncul dia pun bergegas berpamitan untuk masuk
“mami apa kabar?” pesan singkat Dita pada Febi lalu melemparkan handphonenya keranjang, dia bergegas mengganti bajunya dengan baju santai, Febi yang menerima pesan itu kaget dan girang
“mami baik sayang” kamu sudah makan?” jawab Febi sekaligus bertanya pada Dita
“sudah mi” jawab pesan Dita singkat
“Dita mami minta maaf tidak memberi tahu kamu” pesan Febi pada Dita,
“Dita sudah maafin mami kok” jawab Dita dengan emoji senyum
“dan mengenai kata-kata mami waktu itu, mami serius Dita” pesan Febi yang langsung ditangkap oleh Dita, kata-kata yang mana, itu adalah kata-kata Febi saat mengatakan dia adalah calon menantunya, Dita pun mengetik dilayar ponselnya dengan cepat dan mantap
“maaf mami Dita belum bisa menjawab yang itu, Dita butuh waktu untuk mengambil keputusan” jawab pesan singkat Dita yang kemudian dia berpamitan untuk tidur. Dia berharap besok bisa dilaluinya dengan
baik seperti bisanya meski ada rasa gundah dihatinya
__ADS_1