
Dita melihat dirinya sendiri dicermin pipiny terlihat merona, dia masih merasa malu dengan apa yang dilakukan Rafael, meski dulu dengan mantan kekasihnya juga pernah mendapatkn ciuman dipipi tapi tak seperti dia mendapat ciuman dari Rafael, Dita segera membuang lamunannya dan meraih tas slempang kecil miliknya lalu keluar dan berjalan kaki melihat-lihat beberapa tempat yang tak jauh dari Villa, di pun menyewa sepeda kecil untuk melihat ke sekitar yang lebih jauh, dua bodyguard yang mengikutinya berpakaian seperti orang biasa dan berbaur membuat Dita tak curiga sama sekali, Dita berhenti disebuah café yang disebutkan Rafael, tak terlalu jauh dari villa, jika dia mengambil jalan pintas hanya sepuluh menit saja. Dita pun masuk dan duduk di kursi yang sudah dipilih oleh Rafael
“Dita, akhirnya kamu mendekat kepadaku, aku tidak salah melihatmu kemarin” kata Dimas dengan seringai jahatnya, ya Dimas ada di pulau itu lantaran membantu orang tuanya bekerja mengelola sebuah restaurant dan hotel yang ada di pulau itu, Dimas pun melangkah diikuti dua pengawalnya menuju meja yang berada di ruangan khusus tempat Dita menunggu Rafael.
“maaf pak ruangan ini sudah dipesan dan tidak ada siapapun boleh mendekat kecuali nona itu” kata seorang pelayan laki-laki
“Diam, kamu tidak tahu siapa saya?” kata Dimas membentak pelayan itu, dan tak bisa membantah, Dita yang mendengar keributan kecil itu pun memalingkan mukanya melihat kearah kerubutan.
“Dimas” gumannya, suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri, wajah Dita mendadak berubah antara kesal dan takut, Dita masih ketakutan lantaran Dimas pernah berbuat yang tidak baik padanya, kalau saja ayahnya dan anak buah ayahnya tidak datang mungkin Dita sudah hancur kala itu. Dengan seringai kejamnya Dimas melangkah mendekati Dita yang tersirat rasa takut diwajahnya,membuat seringai Dimas makin keras
“Halo Dita sayang” sapa Dimas yang langsung duduk disebelah Dita, Dita hanya diam tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya melihat keluar café, berharap melihat bodyguard Rafael yang dia tahui atau sekedar melihat pak Bam, tapi tak menemukan siapapun, bodyguard yang bertugas mengikutinya pun tak nampak, lantaran tempat yang dikunjungi Dita dirasa aman.
“jangan membuang muka pada ku sayang” kata Dimas yang masih dengan seringai jahatnya
“mau apa kamu? Sebaiknya kamu pergi”kata Dita dengan ketus berusaha menyembuyikan rasa takutnya.
“aku tidak menyangka kamu bisa datang kepulau ini hahahaha” kata Dimas meremehkan Dita
“berapa tahun kau menabung untuk bisa kesini? Uangmu pasti habis setelah ini” kata Dimas lagi dengan nada mengejek
“terlebih tempat-tempat disini sangat mahal” kat Dimas yang masih memperhatikan Dita dengan tatapan tak senonoh dan berusaha menyentuh pipi Dita yang selalu ditampis oleh Dita setiap kali Dimas
ingin menyentuhnya.
“ini kenapa nggak ada bodyguard nya Rafael sih, duh bisa mati berdiri gue kalo nggak ada yang datang” guman Dita dalam hatinya
“ayolah Dita katakan sesuatu? Dengan siapa kamu datang kesini?” aku akan menggantikan orang itu hahaha” kata Dimas dengan sinis dan tertawa yang menyeramkan
“bukan urusan loe gue datang sama siapa” jawab Dita lirih serta tersirat nada tidak suka
“hahaha Dita, aku bisa memberikan kamu apa saja ditempat ini, ayahku penguasa tempat ini” kata Dimas dengan
sombongnya, Dita yang ingin beranjak itu tak bisa melakukannya karena Rafael sudah memintanya menunggu dimeja yang ia tempati, Dita hanya menggeser duduknya saja, Dimas pun sama berusaha mendekat pada Dita, akhirnya Dita menarik kursi yang ia duduki sehingga terpisah jarak sekitar lima belas centi disebelah kanan Dimas, Dita juga bisa leluasa jika ingin berdiri dan melangkah pergi
“kalau kamu pergi denganku kamu akan mendapatkan apa saja yang kamu mau Dita” kata Dimas dengan tatapan tajam tetapi terlihat sekali dia memandang dengan pandangan yang tidak sopan
“kalau Sean atau papi tahu loe berusaha melecehkan gue, loe pasti mati Dimas, kenapa loe nggak pergi aja, sebentar lagi Rafael akan datang” guman Dita dalam hatinya dengan menatap Dimas penuh dengan kebencian
“ayolah sayang, jangan sok jual mahal” kata Dimas dengan seringai jahatnya dia berusaha memegang dagu Dita serta memegang pipi Dita namun selalu ditampis oleh Dita, Rafael yang melangkah cepat pun melamban ketika melihat ada laki-laki dan dua orang yang berdiri tetapi bukan bodyguardnya itu, dia memperhatikan apa yang dilakukannya pada Dita
“Dimas, jaga tangan loe” bentak Dita membuat Dimas tertawa keras
*“gue berharap papi disin*i, Rafael loe dimana sih?” kata Dita dalam hatinya yang sudah ingin segera bangkit itu.
“ayahmu itu sudah dineraka, tidak ada lagi yang akan menolong kamu” kaat Dimas dengan geram
“ayolah sayang, ini tempat elite, aku akan membawamu kemana saja kamu mau asalkan malam ini kamu tidur dengan saya” katanya kemudian tertawa keras, Dita hanya membuang pandangan dengan tatapan
jijik. Rafael yang mendengar itu begitu marah dan begitu cepat dia mendekat dan sudah didepan meja mencengkram pipi Dimas
“haw Dare you! Bentak Rafael dengan tatapan kejam bak pembunuh yang ingin mencincang korbannya
"si-siapa kamu" kata Dimas yang tak mengenali atasannya itu, dua bodyguardnya tak mendekat lantaran orang orang Rafael terlebih dahulu menghalangi mereka
“how dare you touch my wife” bentaknya lagi dengan geram dan amarah yang tak bisa dibendung, gerakan cepatnya membuat Dita langsung berdiri, dan melihat Rafael yang datang Dita tanpa sadar memeluk
Rafael begitu pula Rafael tangan kirinya langsung merangkul istrinya yang merasa takut dengan Dimas itu”
__ADS_1
“hahaha wife, Mr who are you? Dan dia itu bukan istri anda dia ini wanita mainan saya” bantah Dimas yang dengan suara masih jelas terdengar meski mulutnya dalam cengkraman tangan kekar Rafael
“apa dia orang yang tidak penting itu? Yang selalu menggangu mu melalui telpon selulermu?” tanya Rafael yang menatap pada Dita, Dita yang ada dipelukan Rafael itu mendongakkan kepalanya dan
mengangguk, amarah Rafael pun menjadi ketika dilihat mata istrinya itu
berkaca-kaca karena ketakutannya pada Dimas
“kau tidak tahu siapa aku Mr” gertak Dimas yang masih dalam cengkraman Rafael, dengan tangannya berusaha memerintah anak buahnya tetapi dengan cepat dua orang bodugyard Rafael menghajar mereka dengan babak belur, sementara bodyguard yang lainnya berdiri menjaga dan melihat sekitar
“hahaha, I know who you are” suara Rafael yang geram itu dengan tawa yang terdengar menakutkan bagi Dimas
“anda tidak tahu saya jangan macam macam saya akan mendepak anda dari sini, bahkan dari negara ini” gertak Dimas lagi, rafael pun menarik wajah Dimas mendekat padanya
“Rafael Deveraux! Do that if you can!! Bentaknya dengan suara yang sangat keras hingga beberapa karyawan café melihat pada mereka dengan wajah pucat ketakutan, mendengar nama Deveraux membuat Dimas lemas, selama ini yang dia tahu hanya Nicholas saja, dia memang mendengar dua anak lelaki Nicholas pun tak kalah bengis jika berani menyentuh miliknya tetapi tak pernah melihat anak-anak Nicholas, Dita yang berada dalam pelukan Rafael itu sangat merasakan kemarahan Rafael. Dihempaskannya wajah Dimas yang terlihat pucat itu, Rafael memeluk
istrinya dengan kedua tangannya lalu memerintah pada dua bodyguardnya untuk memegangi Dimas
“you ok? Tanya Rafael pada Dita yang membisu melihat kemarahan suaminya itu, dia tak pernah melihat itu sebelumnya, Dita hanya mengangguk menjawab pertanyaan suaminya, Dimas yang melihat sekilas jari Dita yang memakain cincin itu pun menyesali tindakannya, seharusnya mencari tahu dulu siapa suaminya, karena untuk bisa datang kepulau pribadi Deveraux tak mungkin bagi Dita yang hanya bekerja sebagai guru privat
“ampun Tuan, saya tidak mengenali anda” kata Dimas memohon
“terlambat” kata Rafael dingin, dia yang masih memeluk Dita itu meraih ponsel dan menghubungi Ryan lalu menutup kembali telponnya,
“come on” kata Rafael sambil memandu Dita yang masih dirangkulnya itu menjauh
“hajar mereka” kata Rafael dingin, lalu membawa Dita pergi dari tempat itu. Dita yang tak lagi berselera jalan-jalan
itu memilih untuk kembali ke villa, dia hanya diam yang tentu saja membuat Rafael kerepotan karena tidak mengerti apa yang harus dilakukannya agar Dita tak lagi mendiamkannya
terhenti oleh tangan Dita yang memegang tangannya, Rafael langsung memutar tubuhnya berharap istrinya mengatakan sesuatu, tetapi hanya isak tangis yang dia dengar serta Dita yang tiba-tiba memeluknya,
“hey Dita kenapa menangis” tanya Rafael yang membalas pelukan istrinya itu
“its ok, dia tidak akan disini lagi, besok pagi dia akan meninggalkan pulau ini Ryan sudah mengatur semuanya” kata
Rafael lagi menenangkan istrinya
“makasih sudah ada buat gue” kata Dita yang isakanya semakin menjadi
“dulu ada ayah, tapi ayah sudah nggak ada, dan dia terus menggangguku” kata Dita menjelaskan dalam isakannya, Rafael semakin erat memeluk istrinya
“makasih udah nolong gue” kata Dita lagi sambil sesekali menyeka air matanya, Rafael melepaskan pelukannya dan menarik dagu Dita agar istrinya itu melihat padanya, disekany aiar mata Dita
“dia tidak akan mengganggumu, kalau sampai itu terjadi, tanganku sendiri yang akan membunuhnya” kata Rafael dengan senyum lembut sambil mengusap air mata Dita
“papi sudah memberitahukan padamu bukan bagaiman The Deveraux bekerja menyingkirkan orang-orang yang berani menyentuh wanitanya? Tanya Rafael memberitahukan bahwa kini dia aman, Dita hanya mengangguk,
“janji nggak akan ninggalin gue” kata Dita dengan suara manja yang terlihat manis bagi Rafael ditengah isakan tangis istrinya itu dan dia pun mengangguk sambil menatap istrinya dalam-dalam dan kembali memeliknya
Rafael yang masih memegang dagu istrinya itu pun berlahan mendekat, tangan satunya masih memeluk istrinya itu
memudahkannya untuk semakin dekat, diciumnya bibir Dita dengan lembut, Dita berusaha melepaskan diri dari pelukan Suaminya tetapi sangat kuat, meski hanya dengan satu tangan Dita hanya abisa berontak tapi tak mampu melepaskan diri, Rafael melepaskan ciumannya dan melihat pipi Dita yang memerah dan mengalihkan
pandangannya
“kok dicium sih” guman Dita dengan malu
__ADS_1
“kenapa? I kiss my wife” kata Rafael dengan senyum penuh kemenangan
“iya tapi kan bisa minta izin dulu, jangan main cium seenaknya aja” kata Dita membantah suaminya, wajahnya memerah karena malu dan suara manja, membuat Rafael geli dan kembali memeluk Istrinya tetapi cepat-cepat ditampis oleh Dita
“aku lapar” kata Dita memelas, membuat Rafael menepuk jidatnya, dia lupa bahwa istrinya hanya makan nasi goreng saat sarapan, dan ini sudah jam makan siang.
Dita masih nampak murung, tetapi dia berusah menepis kemurungannya itu dengan hal yang lain, kali ini Dita begitu lama dikamar mandi, dia melihat pada dirinya sendiri.
“dulu pas gue dicium Gibran dipipi biasa aja, kenapa kemarin gue dicium Rafael gue malu” guman Dita
“ahh Dita jangan mikir aneh-aneh, yang sekarang ini suami loe, jadi loe bebas mau ngapain aja, mau loe cium dia kek atau dia cium loe itu hal bisa, kalau Gibran dulu wajar Cuma dipipi, dia Cuma pacar” katanya lagi sembari menggelangkan kepalanya berusaha membuang ingatan-ingatan yang ada dalam otaknya
“huh relax” katanya pada dirinya sendiri dicermin, menyadari istrinya begitu lama didalam kamar mandi membuat Rafael sedikti khawatir.
“Dita, honey are you ok?” tanya Rafael yang mulai cemas, Dita pun membuka pintu kamar mandi dan tersenyum pada Rafael.
“I am fine” jawab Dita dengan senyum manisnya, Rafael hanya melihat kepadanya lantaran tak pernah melihat Dita
memakai dress, Dita yang mengenakan Dress santai yang dibelinya sebelum pesta itu terlihat cocok dengannya, lengan sebahu dan panjang dibawah lutut dan style santai membuat Dita terlihat manis, Rafael hanya menyandarkan bahunya di pintu dan memperhatikan Dita yang mengeringkan rambutnya lalu berdadan tipis, Rafael
pun mendekat dan memeluknya dari belakang membuat Dita terkejut
“where you want to go?” tanya Rafael lembut
“sabar Dita, dia suami loe jadi jangan sewot biarkan saja dia memeluk loe” gumannya dalam hati dengan senyum yang dibuat-buat melihat pada Rafael melalui cermin
“kita jalan-kalan ya” pinta Dita dengan manja, Rafael pun mengiyakan kemudian dia mencium pipi istrinya dan
menggandengnya keluar menikmati setiap pemandangan
Hampir Dua minggu menghabiskan waktu berdua mengunjungi setiap café yang nampak ramai pengunjung dan mencicipi makanan serta bermain di laut membuat Rafael semakin mengenal Dita dan menyukai sifat Dita yang baik dan tak melihatnya hanya karena harta dan dia sebagai warga Negara asing yang bisa menjadi sumber uangnya. Dia melihat wanita yang bersamanya sama seperti maminya yang tak berpikir mengenai harta, sementara
Dita merasa menemukan orang yang benar-benar peduli padanya, sejak ayahnya meningal tak ada lelaki yang begitu perhatian padanya, sejak sebelum menikah Dita sudah merasa Rafael adalah teman yang baik dan menjaga, setelah menjadi istrinya dia merasa benar-benar aman disamping Rafael, Minggu siang pun mereka
memutuskan untuk kembali, Dita pun memohon pada Rafael lantaran dia sudah lama tidak mengajar privat dan entah apa dia masih bisa mengajar karena sudah ditinggalkannya para murid lesnya selama dua minggu, setiba di apartemen Dita menghubungi Intan yang hampir dua minggu hanya tiga kali dia mengirim pesan
singkat.
“what is that?” tanya Sean melihat tagihan kartu kredit yang diberikan Nicholas pada Dita
“Fajar tolong keruangan saya” kata Sean melalui telpon kemudian munculah Fajar dalam ruangan
“ya Mr Sean, ada yang bisa saya lakukan?” tanya Fajar,
Diserahkannya tagihan kartu kredit pada Fajar dan diterima oleh Fajar dengan wajah heran, bertanya-tanya apa ada yang salah dengan tagihan itu.
“what is that?” tanya Sean, kemudian Fajar memeriksa
“ini tagihan kartu kredit Mr, Tuan Nicholas meminta saya untuk membuatnya untuk diberikan kepada Dita” jawab Fajar tegas
“ok, lalu kau lihat berapa tagihannya?” tanya Sean, Fajar memeriksa lagi, menurutnya tidak ada yang aneh dengan tagihan itu
“Fajar itu limit tak terhingga dan dia hanya menggunkan sedikit sekali itu pun yang terakhir hanya untuk belanja perangkat masak” kata Sean sambil menggaruk kepalanya keheranan dan senyum tipis sesekali melihat Fajar yang hanya tersenyum
"Dita sepertinya tak begitu suka belanja tuan, setahu saya dia memang hanya membeli seperlunya" kata Fajar menjelaskan dengan santai
"ya, itulah Dita" jawab Sean santai yang semakin menyadari keserhanaan Dita, sebelumnya dia hanya mengetahui dari informasi yang didapat dari orang orangnya kini dia menemukan buktinya sendiri
__ADS_1