
Millan yang sudah kembali dari Singapura di kantor hanya
menyapa Dita beberapa saat saja lantaran pekerjaanya begitu padat terlebih
Nicholas dan Rafael akan mengumumkan gedung baru milik Endra Group. otomatis
beberapa karyawan lainnya pun ikut larut dalam kesibukan menyiapkan perpindahan
mereka, staff yang bekerja di the Deveraux pun tak banyak tahu mengenai
keberadaan Endra group dalam gedung perkantoran itu. Sedangkan Dita yang tengan
asik membaca dokumen-dokumen yang diberikan Rafael sebelum meninggalkan kantor
tak menyadari dengan kehadiran Arman di depan mejanya, Dita masih tetap asik
dengan memutar kursinya kekanan dan kekiri sambil membaca dokumen ditangannya.
“mas Arman ngapain jam segini udah nyamperin Dita?” tanya
Intan pada dirinya sendiri ketika hendak menuju ruangan Sean dia menemukan
kakaknya berada di depan meja kerja Dita, dia pun melangkahkan kakinya
meghampiri mereka
“mas, pagi-pagi sudah disini mau ngapain?” tanya Intan
menyelidiki
“mau ketemu Dita sekalian mau ngasih tahu kamu besok mas nggak
tinggal sama papa dan mama” jawab Arman santai
“loh mas Arman mau balik ke London?” tanya Dita yang
tiba-tiba menghentikan keseriusannya pada apa yang dipegangnya ketika mendengar
pernyataan Arman
“iya, emang mau balik?” tanya Intan penasaran
“nggak, Cuma mau pindah ke apartemen aja kok” jawab Arman
lembut sambil menatap Intan dengan
lembut
“lah mas Arman disini sejak kapan? Kok gue nggak denger
datangnya?” tanya Dita polos
“kamu serius gitu mana bisa dengar mas datang” jawab Arman
dengan senyum lebar melihat ekpresi Dita yang kebingungan
“mau ngapain nyamperin Dita? Tanya Intan menyelidiki
“jangan-jangan lama nggak ketemu mas Arman jadi suka sama
Dita, ini gawat” guman Intan dalam hatinya seraya menatap Arman dan Dita
bergantian
“hoe, ngapain loe ngliatin kita begitu amat” tegur Dita pada
Intan membuyarkan imajinasi sahabatnya itu serta menepuk pundak Intan
“hehehe nggak ada, gue keruangan Mr Sean dulu ya” kata Intan
dengan senyum terpaksa, tak lupa dia menarik tangan Arman menjauhi Dita
“loh kenapa mas ditarik kesini, kan mau ngomong sama Dita”
kata Arman lembut
“mas jujur deh sama aku, mas suka sama Dita?” tanya Intan
menghakimi dengan tatapan tajam
“hus kamu mengartikan suka itu apa?” jawab Arman spontan
serta menjentikkan telunjuknya ke dahi Intan membuat Intan meringis meski tidak
sakit
“kalau bukan suka terus ngapain pagi-pagi udah nyamperin,
pas Mr Rafael nggak di kantor lagi” timpal Intan
“memangnya salah mas ketemu Dita? Lagian sayangnya mas buat
Dita itu special dan nggak bisa digantikan” jawab Arman santai
“what! Dita disukai cowok ganteng lain lagi, kakaknya Intan,
ganjen amat si Dita” kata Claudia yang bertepatan melintas tak jauh dari Intan
dan Arman.
“Claudia kamu udah antar tamunya Miss Millan?” tanya Intan
yang melihat Claudia, resepsionis yang berharap mennjadi kekasih sekaligus bisa
tidur dengan Rafael itu
“sudah mbak, saya kembali ke bawah dulu ya mbak” jawab
Claudia lembut dan sopan
“ya, oh iya tolong catat ya kalau ada titipan untuk ibu Vina
dan pak Fajar” kata Intan megingatkan Claudia
“baik mbak” jawab Claudia lagi, dia pun bergegas meninggalkan
ruangan lantai itu saat melihat Dita Claudia melirik dengan tatapan sinis namun
tak di hiraukan oleh Dita sedangkan Vincent yang sejak awal berada di sebuah
ruangan mengawasi Dita melihat kearah Claudia, diperhatikannya dengan seksama
Vincent pun mengetahui bahwa Claudia merasa tidak senang dengan kehadiran Dita.
“dan Intan kamu tidak perlu khawatir, kamu juga adiknya mas,
sejak kecil tumbuh bersama jadi sayangnya mas juga besar buat kamu” kata Arman
menutup perbincanganya dengan Intan tatkala dia mendapati sepuah panggilan
melaui telpon selulernya. Intan hanya terdiam tidak mengerti sementara Arman
beranjak menjauh dan berjalan kearah lift, dia pun meninggalakn kantor.
“sayang aku mau makan siang omlet sama jus jeruk buatan
kamu” pesan Dita pada Rafael, mendengar notifikasi dari ponselnya Rafael
cepat-cepat memeriksanya dan tersenyum lembut setelah membaca pesan itu
“pak Jaka kita jemput Dita ke kantor tidak jadi ke bengkel”
kata Rafael dengan wajah yang nampak sekali kegembiraanya.
“baik Mr” jawab Jaka supir Rafael yang setia sekaligus
informannya itu, setiba dikantor Rafael tak segera turun dari mobil, meski
berhenti di depan pintu utama kantor. Rafael mengirim pesan pada Dita
“turunlah tuan putri, pangeran tampan sudah menunggu di
bawah” pesan Rafael pada Dita membuat Dita kegirangan
“eh busyet dah loe ngagetin gue, ada apa sih?” teriak Intan
yang sedang serius dengan laptop di atas meja kerjanya
“nggak ada, gue cabut dulu ya” kata Dita dengan senyum
lebar, teman-teman devisi Intan pun saling berpandangan
__ADS_1
“mungkin lagi janjian sama Mr Rafael” celetuk Andini salah
satu staff baru yang menjadi teamnya Intan
“huss jangan bergosip” bantah Wisnu
“siapa yang bergosip, eh kamu tahu nggak, para karyawan
pantry pada tahu semua minggu lalu Mbak Dita tiba-tiba dipeluk sama Mr Rafael”
kata Dini menjelaskan dengan bersemangat
“ehem, ekpresi loe nggak usah segitunya kali Din” kata Intan
yang memperhatikan ekpresi Dini saat bercerita
“kasian Mr Sean, padahal Mr Sean itu baik loh bahkan di
pesta waktu itu memperkenalkan mbak Dita ke beberapa staff penting” kata Wisnu
lagi dengan tatapan jauh mengingat suasana pesta beberapa hari sebelumnya
“udah jangan membicarakan Dita lagi mending kalian kerja”
kata Intan mencoba menghentikan teman-temanya
“eh iya,kasian Mr Sean, apa jangan-jangan Mr Sean sama Mr Rafael
rebutan Mbak Dita?” tanya Andini dengan serius
“apa kalian tidak ada pekerjaan selain ngobrol?” tanya Fajar
dengan suara geramnya sontak semua yang mengerubuti meja Intan pun langsung
kembali pada kursi masing-masing
“pak Fajar sudah kembali, ada perlu apa?” tanya Intan pada
suaminya itu dengan wajah santai
“perlu ngajak kamu makan siang, nanti ada mama juga” kata
Fajar santai membuat beberapa yang ada diruangan itu menyorakinya
“oh, iya aku inget kok, sepuluh menit sebelum makan siang
aku sudah selesai” jawab Intan menjelaskan pada suaminya, kemudian Fajar pun
kembali ke ruanganya sendiri sementara itu Dita yang sudah tiba di pintu masuk
kantor tak sengaja melihat Xhigee, dia pun menghentikan langkahnya tepat di
depan pintu mobil Rafael. Dita memutar otaknya kembali ke masa lalu namun tak
dapat menemukan apa-apa, dia memperhatikan Xhigee baik-baik dan berusaha
mengingat dimana dia pernah bertemu sebelumnya, Rafael yang melihat istrinya
tak kunjung masuk kedalam mobil itu cepat-cepat membuka pintu dan menarik
istrinya untuk masuk kedalam mobil.
“jalan pak” kata Rafael santai sementara Dita yang berada di
pangkuan Rafael karena ditarik tiba-tiba itu meronta dan mengomel pada suaminya
“ih Rafael ganggu aja deh, aku tuh lagi mengingat sesuatu”
gerutu Dita tidak senang
“mengingat apa?” tanya Rafael dengan lembut tak lupa ia
mengalungkan kedua tangannya di antara pinggang istrinya ketika Dita yang tanpa
sadar mengalungkan tangannya di antara pundaknya
“ada pokoknya, aku kasih tau nanti” jawab Dita dengan senyum
manja, seperjalanan pulang ke apartement mereka Dita mengintrogasi banyak hal
pada Rafael mengenai kepergianya keluar kantor di pagi hari, sesekali Dita
tertawa dengan beberapa gombalan-gombalan Rafael
meyiapkan makan siang untuk istrinya dan untuknya itu menyajikan dengan penuh
cinta, dia sangat senang melihat istrinya kembali dekat denganya setelah
beberapa hari terakhir emosinya yang berubah-ubah sekaligus hampir tak pernah
lagi bermesraan denganya. Dita yang duduk lesehan tepat didepan jendela balkon
apartemen meraka itu membuat Dita nampak bahagia menikmati makan siangnya,
dengan senyuman lembut, Rafael memperhatikan istrinya dari jarak dua puluh
langkah darinya, dia menyandarkan pundaknya pada dinding denga melipat kedua
tangannya
“I love you Dita” gumannya dengan pelan”
“sayang, kenapa berdiri disitu? Sini dong” panggil Dita pada
suaminya, Rafael pun berjalan mendekat lalu duduk disamping Dita dengan tanpa
jarak
“bagaiaman makan siangnya?” tanya Rafael yang meletakkan
dagunya di pundak Dita
“enak, makasih ya sayang dan nggak usah balik kantor ya”
kata Dita sambil menyentuh lembut pipi suaminya serta meminta dengan manja
membuat Rafael tak bisa menolak,dia memeluk istrinya dari belakang dan
berbincang banyak hal, hembusan angin membuat keduanya tertidur, Rafael
yang bersandar diantara bantal-bantal
itu memeluk istrinya dengan lembut.
Belum satu jam Dita pun terbangun dan kembali memikirkan Xhigee yang ia lihat
sebelum pulang dari kantor, dia merangkak meraih laci yang tak jauh dari
tempatnya dan Rafael tertidur, dia mencari kertas skets nya dan pencil,
digambarnya wajah orang itu dengan sempurna seperti saat terakhir kali ia
mengingat Xhigee. Setelah selesai menggambarnya Dita menyimpanya kembali,
Rafael yang mehyadari Istrinya tak lagi dipelukanya ia pun terbangun dan
melihat isrtrinya menyimpan sesuatu di laci
“eh kamu udah bangun?” tanya Dita ketika melihat Rafael
membuka matanya memperhatikan dia dengan tatapan lembut dan sejuk
“kamu sedang apa?” tanya Rafael dengan suara pelan
“nggak ada apa-apa cuma menyimpan buku” jawab Dita santai
dia pun kembali kedalam pelukan Rafael kali ini detak jantung Rafael kembali
berdetak kencang terlebih setelah pelukan Dita semakin erat
“Rafael” panggil Dita dengan pelan
“ya” jawab Rafael singkat serta tanganya bergerak memeluk
tubuh istrinya yang tanpa jarak denganya itu
“jangan tinggalkan aku” kata Dita tiba-tiba kali ini dengan
suara yang terasa penuh dengan kepedihan Rafael pun melepaskan tubuh Dita dari
pelukannya, Rafael tidak mengerti kenapa tiba-tiba Dita mengatakan itu, dia pun
__ADS_1
terbangun dan dengan perasaan tidak menentu ditariknya tubuh istrinya llau
dipeluknya dengan hangat
“tidak akan, saya akan selalu ada untuk kamu, untuk istriku”
jawab Rafael menenangkan Dita
“bener ya, jangan tinggalin aku” kata Dita lagi kali ini
dengan suara yang sangat jelas penuh dengan kesedihan, dia memeluk suaminya
dengan erat
“benar, saya tidak akan meninggalkan kamu” jawab Rafael, dia
benar-benar hancur mendengar suara istrinya yang penuh dengan kesedihan itu
“Dita, apa yang terjadi pagi ini, kenapa kamu tiba-tiba
begitu sedih” guman Rafael dalam hatinya, dia pun menggendong istrinya ala
bridal style dan memindahkannya kedalam kamar mereka ketika istrinya itu
tertidur dalam pelukannya.
“pak Bam, percepat pemindahan gedung sebisa mungkin” kata
Rafael melalui telpon selulernya, dia berdiri di balkon dengan tatapanyang
penuh dengan ambisi
“jika dipercepat itu akan merugikan kita, bagaimana?” tanya
Bam pada Rafael dari seberang telpon
“kalau begitu lanjutkan yang ada, dan beri tahu David untuk
mengatur semuanya” kata Rafael lagi lalu menutup telponya, dia berdiri di
balkon cukup lama hingga terdengar Dita memanggilnya
“sudah bangun?” tanya Rafael dengan senyum lembut
“kirain balik kekantor” gerutu Dita ketika mendapati
suaminya muncul di depan pintu
“kalau kembali kekantor aku harus kembali dengan istriku”
goda Rafael yang masih berdiri di pintu dengan menyandarkan pundaknya pada
bibir pintu
“ini jam berapa? Kalau kamu mau balik nggak apa-apa tapi aku
nggak mau” kata Dita setelah melihat jam yang ada di atas nakas
“sebentar lagi jam empat untuk apa saya kembali kekantor”
jawab Rafael yang kali ini berjalan mendekat serta dengan tatapan mesranya
“kamu mau ngapain? sana jauh-jauh” kata Dita setelah Rafael
berada disampingnya
“mau bercinta” jawab Rafael singkat serta senyum lembut dan
tatapan yang begitu dalam pada Dita
“nggak mau, sana jauh-jauh atau aku yang pergi nih” kata
Dita serta mendorong tubuh kekar Rafael menjauhinya, karena Rafael yang tak
bergeming dari tempatnya Dita pun beranjak tanpa berkata apa-apa, sementara
rafael langsung membantiing tubuhnya di atas tanjang. Dita menuju ruang kerja
Rafael disana dia hanya memandangi pensil dan kertasnya, dia mengingat
masa-masa dimana seminggu setelah ayahnya meninggal, dia bertemu dengan seorang
lelaki bermata sipit, laki-laki itu meminta Dita untuk menggambar dirinya lalu menggambar
apa saja yang menarik untuk dikirim kepadanya lelaki yang hanya dia temui tak
lebih dari tiga kali itu berjanji untuk tak meninggalkan Dita tetapi setelah
dua bulan dia tak pernah lagi datang ataupun mengirim pesan, Dita yang merasa
masih ada yang peduli padanya membuatnya bersemangat menjalankan sisa
pendidikan SMA nya kembali merasa tersingkir dari orang-orang disekilingnya, di
sekolah dia hanya punya Goerge yang peduli padanya pun setelah lulus tak pernah
lagi bertemu. Hari –hari semasa dia menggambar untuk laki-laki sipit itu adalah
hari yang benar-benar penuh dengan penderitaan baginya, namun dengan datangnya
laki-laki itu Dita merasa ada harapan untuknya bisa berdiri dengan tenang
karena masih ada orang yang percaya kepadanya. Tetapi semua itu hilang begitu
saja laki-laki itu menghilang begitu saja, bahkan tak pernah lagi memintanya
untuk menggambar lagi, dengan penuh kekecewaan Dita hanya terdiam dan lebih
memilih menghindari orang-orang yang tak menerima kehadiranya, terlebih
orang-orang yang mencemooh dirinya lantaran terhasut oleh orang-orang yang
tidak bertanggung jawab. Dita benar-benar tenggelam dalam kesedihan namun
sebuah photo masa kecilnya memberikannya semangat, photo saat dia masih sangat
kecil, duduk di rerumputan bersama ayahnya dan seorang anak laki-laki serta
photo lainya bersama kedua orang tuanya.
“Xhigee” guman Dita lirih dan kemudian dia beranjak dari
kursi empuk di belakang meja kerja Rafael. Penggalan ingatan masa lalu Dita itu
benar-benar menyakitkan untuknya tetapi dia tak ingin menunjukkan itu pada
suaminya. Dia pu tak ingin larut dalam kesedihan masa lalu, dia sudah memiliki
Rafael yang begitu peduli dan mencintainya dia tak membutuhkan apa-apa lagi.
Dia hanya ingin bahagia bersama dengan leluarga barunya keluarga kecilnya.
Tetapi Xhigee, kehadiran Xhigee benar-benar mengusik ketenangan Dita, dimanapun
Dita melihatnya dia merasa seakan kembali pada potongan-potongan penderitaanya
dimasa lalu. Ditinggalkannya ruangan kerja suaminya itu dan berjalan menuju
kamarnya, diraihnya ponsel pintarnya dan berlahan melangkah ke arah sofa yang
ada didalam kamarnya dan mengetikkan pesan untuk seseorang.
“zubaedah, pengambilan gambar besok jam berapa? Gue boleh
ikut?” tanya Dita pada Intan melalui pesan singkatnya
“besok jam 9, di ruangan rapat G9 sudah selesai di dekorasi,
loe nggak kesini nab?” tanya Intan dari pesan singkatnya
“gue udah pulang, besok aja gue ikut gue mau lihat Millan
didepan kamera” kata Dita menerangkan keinginannya melalui pesan singkatnya
“ok, besok langsung ke ruangan gue aja, tapi jangan telat
ya, jam setengah Sembilan gue udah di ruang pemotretan” jawab Intan
memberitahukan
“makasih hayati aku mencintaimu” balas Dita dengan
__ADS_1
menyematkan emoji manja dan kiss membuat
Intan tertawa sendiri menatap layar ponselnya.