Untuk istriku

Untuk istriku
Ingatan Dita


__ADS_3

Millan yang sudah kembali dari Singapura di kantor hanya


menyapa Dita beberapa saat saja lantaran pekerjaanya begitu padat terlebih


Nicholas dan Rafael akan mengumumkan gedung baru milik Endra Group. otomatis


beberapa karyawan lainnya pun ikut larut dalam kesibukan menyiapkan perpindahan


mereka, staff yang bekerja di the Deveraux pun tak banyak tahu mengenai


keberadaan Endra group dalam gedung perkantoran itu. Sedangkan Dita yang tengan


asik membaca dokumen-dokumen yang diberikan Rafael sebelum meninggalkan kantor


tak menyadari dengan kehadiran Arman di depan mejanya, Dita masih tetap asik


dengan memutar kursinya kekanan dan kekiri sambil membaca dokumen ditangannya.


“mas Arman ngapain jam segini udah nyamperin Dita?” tanya


Intan pada dirinya sendiri ketika hendak menuju ruangan Sean dia menemukan


kakaknya berada di depan meja kerja Dita, dia pun melangkahkan kakinya


meghampiri mereka


“mas, pagi-pagi sudah disini mau ngapain?” tanya Intan


menyelidiki


“mau ketemu Dita sekalian mau ngasih tahu kamu besok mas nggak


tinggal sama papa dan mama” jawab Arman santai


“loh mas Arman mau balik ke London?” tanya Dita yang


tiba-tiba menghentikan keseriusannya pada apa yang dipegangnya ketika mendengar


pernyataan Arman


“iya, emang mau balik?” tanya Intan penasaran


“nggak, Cuma mau pindah ke apartemen aja kok” jawab Arman


lembut  sambil menatap Intan dengan


lembut


“lah mas Arman disini sejak kapan? Kok gue nggak denger


datangnya?” tanya Dita polos


“kamu serius gitu mana bisa dengar mas datang” jawab Arman


dengan senyum lebar melihat ekpresi Dita yang kebingungan


“mau ngapain nyamperin Dita? Tanya Intan menyelidiki


“jangan-jangan lama nggak ketemu mas Arman jadi suka sama


Dita, ini gawat” guman Intan dalam hatinya seraya menatap Arman dan Dita


bergantian


“hoe, ngapain loe ngliatin kita begitu amat” tegur Dita pada


Intan membuyarkan imajinasi sahabatnya itu serta menepuk pundak Intan


“hehehe nggak ada, gue keruangan Mr Sean dulu ya” kata Intan


dengan senyum terpaksa, tak lupa dia menarik tangan Arman menjauhi Dita


“loh kenapa mas ditarik kesini, kan mau ngomong sama Dita”


kata Arman lembut


“mas jujur deh sama aku, mas suka sama Dita?” tanya Intan


menghakimi dengan tatapan tajam


“hus kamu mengartikan suka itu apa?” jawab Arman spontan


serta menjentikkan telunjuknya ke dahi Intan membuat Intan meringis meski tidak


sakit


“kalau bukan suka terus ngapain pagi-pagi udah nyamperin,


pas Mr Rafael nggak di kantor lagi” timpal Intan


“memangnya salah mas ketemu Dita? Lagian sayangnya mas buat


Dita itu special dan nggak bisa digantikan” jawab Arman santai


“what! Dita disukai cowok ganteng lain lagi, kakaknya Intan,


ganjen amat si Dita” kata Claudia yang bertepatan melintas tak jauh dari Intan


dan Arman.


“Claudia kamu udah antar tamunya Miss Millan?” tanya Intan


yang melihat Claudia, resepsionis yang berharap mennjadi kekasih sekaligus bisa


tidur dengan Rafael itu


“sudah mbak, saya kembali ke bawah dulu ya mbak” jawab


Claudia lembut dan sopan


“ya, oh iya tolong catat ya kalau ada titipan untuk ibu Vina


dan pak Fajar” kata Intan megingatkan Claudia


“baik mbak” jawab Claudia lagi, dia pun bergegas meninggalkan


ruangan lantai itu saat melihat Dita Claudia melirik dengan tatapan sinis namun


tak di hiraukan oleh Dita sedangkan Vincent yang sejak awal berada di sebuah


ruangan mengawasi Dita melihat kearah Claudia, diperhatikannya dengan seksama


Vincent pun mengetahui bahwa Claudia merasa tidak  senang dengan kehadiran Dita.


“dan Intan kamu tidak perlu khawatir, kamu juga adiknya mas,


sejak kecil tumbuh bersama jadi sayangnya mas juga besar buat kamu” kata Arman


menutup perbincanganya dengan Intan tatkala dia mendapati sepuah panggilan


melaui telpon selulernya. Intan hanya terdiam tidak mengerti sementara Arman


beranjak menjauh dan berjalan kearah lift, dia pun meninggalakn kantor.


“sayang aku mau makan siang omlet sama jus jeruk buatan


kamu” pesan Dita pada Rafael, mendengar notifikasi dari ponselnya Rafael


cepat-cepat memeriksanya dan tersenyum lembut setelah membaca pesan itu


“pak Jaka kita jemput Dita ke kantor tidak jadi ke bengkel”


kata Rafael dengan wajah yang nampak sekali kegembiraanya.


“baik Mr” jawab Jaka supir Rafael yang setia sekaligus


informannya itu, setiba dikantor Rafael tak segera turun dari mobil, meski


berhenti di depan pintu utama kantor. Rafael mengirim pesan pada Dita


“turunlah tuan putri, pangeran tampan sudah menunggu di


bawah” pesan Rafael pada Dita membuat Dita kegirangan


“eh busyet dah loe ngagetin gue, ada apa sih?” teriak Intan


yang sedang serius dengan laptop di atas meja kerjanya


“nggak ada, gue cabut dulu ya” kata Dita dengan senyum


lebar, teman-teman devisi Intan pun saling berpandangan

__ADS_1


“mungkin lagi janjian sama Mr Rafael” celetuk Andini salah


satu staff baru yang menjadi teamnya Intan


“huss jangan bergosip” bantah Wisnu


“siapa yang bergosip, eh kamu tahu nggak, para karyawan


pantry pada tahu semua minggu lalu Mbak Dita tiba-tiba dipeluk sama Mr Rafael”


kata Dini menjelaskan dengan bersemangat


“ehem, ekpresi loe nggak usah segitunya kali Din” kata Intan


yang memperhatikan ekpresi Dini saat bercerita


“kasian Mr Sean, padahal Mr Sean itu baik loh bahkan di


pesta waktu itu memperkenalkan mbak Dita ke beberapa staff penting” kata Wisnu


lagi dengan tatapan jauh mengingat suasana pesta beberapa hari sebelumnya


“udah jangan membicarakan Dita lagi mending kalian kerja”


kata Intan mencoba menghentikan teman-temanya


“eh iya,kasian Mr Sean, apa jangan-jangan Mr Sean sama Mr Rafael


rebutan Mbak Dita?” tanya Andini dengan serius


“apa kalian tidak ada pekerjaan selain ngobrol?” tanya Fajar


dengan suara geramnya sontak semua yang mengerubuti meja Intan pun langsung


kembali pada kursi masing-masing


“pak Fajar sudah kembali, ada perlu apa?” tanya Intan pada


suaminya itu dengan wajah santai


“perlu ngajak kamu makan siang, nanti ada mama juga” kata


Fajar santai membuat beberapa yang ada diruangan itu menyorakinya


“oh, iya aku inget kok, sepuluh menit sebelum makan siang


aku sudah selesai” jawab Intan menjelaskan pada suaminya, kemudian Fajar pun


kembali ke ruanganya sendiri sementara itu Dita yang sudah tiba di pintu masuk


kantor tak sengaja melihat Xhigee, dia pun menghentikan langkahnya tepat di


depan pintu mobil Rafael. Dita memutar otaknya kembali ke masa lalu namun tak


dapat menemukan apa-apa, dia memperhatikan Xhigee baik-baik dan berusaha


mengingat dimana dia pernah bertemu sebelumnya, Rafael yang melihat istrinya


tak kunjung masuk kedalam mobil itu cepat-cepat membuka pintu dan menarik


istrinya untuk masuk kedalam mobil.


“jalan pak” kata Rafael santai sementara Dita yang berada di


pangkuan Rafael karena ditarik tiba-tiba itu meronta dan mengomel pada suaminya


“ih Rafael ganggu aja deh, aku tuh lagi mengingat sesuatu”


gerutu Dita tidak senang


“mengingat apa?” tanya Rafael dengan lembut tak lupa ia


mengalungkan kedua tangannya di antara pinggang istrinya ketika Dita yang tanpa


sadar mengalungkan tangannya di antara pundaknya


“ada pokoknya, aku kasih tau nanti” jawab Dita dengan senyum


manja, seperjalanan pulang ke apartement mereka Dita mengintrogasi banyak hal


pada Rafael mengenai kepergianya keluar kantor di pagi hari, sesekali Dita


tertawa dengan beberapa gombalan-gombalan Rafael


meyiapkan makan siang untuk istrinya dan untuknya itu menyajikan dengan penuh


cinta, dia sangat senang melihat istrinya kembali dekat denganya setelah


beberapa hari terakhir emosinya yang berubah-ubah sekaligus hampir tak pernah


lagi bermesraan denganya. Dita yang duduk lesehan tepat didepan jendela balkon


apartemen meraka itu membuat Dita nampak bahagia menikmati makan siangnya,


dengan senyuman lembut, Rafael memperhatikan istrinya dari jarak dua puluh


langkah darinya, dia menyandarkan pundaknya pada dinding denga melipat kedua


tangannya


“I love you Dita” gumannya dengan pelan”


“sayang, kenapa berdiri disitu? Sini dong” panggil Dita pada


suaminya, Rafael pun berjalan mendekat lalu duduk disamping Dita dengan tanpa


jarak


“bagaiaman makan siangnya?” tanya Rafael yang meletakkan


dagunya di pundak Dita


“enak, makasih ya sayang dan nggak usah balik kantor ya”


kata Dita sambil menyentuh lembut pipi suaminya serta meminta dengan manja


membuat Rafael tak bisa menolak,dia memeluk istrinya dari belakang dan


berbincang banyak hal, hembusan angin membuat keduanya tertidur, Rafael


yang  bersandar diantara bantal-bantal


itu  memeluk istrinya dengan lembut.


Belum satu jam Dita pun terbangun dan kembali memikirkan Xhigee yang ia lihat


sebelum pulang dari kantor, dia merangkak meraih laci yang tak jauh dari


tempatnya dan Rafael tertidur, dia mencari kertas skets nya dan pencil,


digambarnya wajah orang itu dengan sempurna seperti saat terakhir kali ia


mengingat Xhigee. Setelah selesai menggambarnya Dita menyimpanya kembali,


Rafael yang mehyadari Istrinya tak lagi dipelukanya ia pun terbangun dan


melihat isrtrinya menyimpan sesuatu di laci


“eh kamu udah bangun?” tanya Dita ketika melihat Rafael


membuka matanya memperhatikan dia dengan tatapan lembut dan sejuk


“kamu sedang apa?” tanya Rafael dengan suara pelan


“nggak ada apa-apa cuma menyimpan buku” jawab Dita santai


dia pun kembali kedalam pelukan Rafael kali ini detak jantung Rafael kembali


berdetak kencang terlebih setelah pelukan Dita semakin erat


“Rafael” panggil Dita dengan pelan


“ya” jawab Rafael singkat serta tanganya bergerak memeluk


tubuh istrinya yang tanpa jarak denganya itu


“jangan tinggalkan aku” kata Dita tiba-tiba kali ini dengan


suara yang terasa penuh dengan kepedihan Rafael pun melepaskan tubuh Dita dari


pelukannya, Rafael tidak mengerti kenapa tiba-tiba Dita mengatakan itu, dia pun

__ADS_1


terbangun dan dengan perasaan tidak menentu ditariknya tubuh istrinya llau


dipeluknya dengan hangat


“tidak akan, saya akan selalu ada untuk kamu, untuk istriku”


jawab Rafael menenangkan Dita


“bener ya, jangan tinggalin aku” kata Dita lagi kali ini


dengan suara yang sangat jelas penuh dengan kesedihan, dia memeluk suaminya


dengan erat


“benar, saya tidak akan meninggalkan kamu” jawab Rafael, dia


benar-benar hancur mendengar suara istrinya yang penuh dengan kesedihan itu


“Dita, apa yang terjadi pagi ini, kenapa kamu tiba-tiba


begitu sedih” guman Rafael dalam hatinya, dia pun menggendong istrinya ala


bridal style dan memindahkannya kedalam kamar mereka ketika istrinya itu


tertidur dalam pelukannya.


“pak Bam, percepat pemindahan gedung sebisa mungkin” kata


Rafael melalui telpon selulernya, dia berdiri di balkon dengan tatapanyang


penuh dengan ambisi


“jika dipercepat itu akan merugikan kita, bagaimana?” tanya


Bam pada Rafael dari seberang telpon


“kalau begitu lanjutkan yang ada, dan beri tahu David untuk


mengatur semuanya” kata Rafael lagi lalu menutup telponya, dia berdiri di


balkon cukup lama hingga terdengar Dita memanggilnya


“sudah bangun?” tanya Rafael dengan senyum lembut


“kirain balik kekantor” gerutu Dita ketika mendapati


suaminya muncul di depan pintu


“kalau kembali kekantor aku harus kembali dengan istriku”


goda Rafael yang masih berdiri di pintu dengan menyandarkan pundaknya pada


bibir pintu


“ini jam berapa? Kalau kamu mau balik nggak apa-apa tapi aku


nggak mau” kata Dita setelah melihat jam yang ada di atas nakas


“sebentar lagi jam empat untuk apa saya kembali kekantor”


jawab Rafael yang kali ini berjalan mendekat serta dengan tatapan mesranya


“kamu mau ngapain? sana jauh-jauh” kata Dita setelah Rafael


berada disampingnya


“mau bercinta” jawab Rafael singkat serta senyum lembut dan


tatapan yang begitu dalam pada Dita


“nggak mau, sana jauh-jauh atau aku yang pergi nih” kata


Dita serta mendorong tubuh kekar Rafael menjauhinya, karena Rafael yang tak


bergeming dari tempatnya Dita pun beranjak tanpa berkata apa-apa, sementara


rafael langsung membantiing tubuhnya di atas tanjang. Dita menuju ruang kerja


Rafael disana dia hanya memandangi pensil dan kertasnya, dia mengingat


masa-masa dimana seminggu setelah ayahnya meninggal, dia bertemu dengan seorang


lelaki bermata sipit, laki-laki itu meminta Dita untuk menggambar dirinya lalu menggambar


apa saja yang menarik untuk dikirim kepadanya lelaki yang hanya dia temui tak


lebih dari tiga kali itu berjanji untuk tak meninggalkan Dita tetapi setelah


dua bulan dia tak pernah lagi datang ataupun mengirim pesan, Dita yang merasa


masih ada yang peduli padanya membuatnya bersemangat menjalankan sisa


pendidikan SMA nya kembali merasa tersingkir dari orang-orang disekilingnya, di


sekolah dia hanya punya Goerge yang peduli padanya pun setelah lulus tak pernah


lagi bertemu. Hari –hari semasa dia menggambar untuk laki-laki sipit itu adalah


hari yang benar-benar penuh dengan penderitaan baginya, namun dengan datangnya


laki-laki itu Dita merasa ada harapan untuknya bisa berdiri dengan tenang


karena masih ada orang yang percaya kepadanya. Tetapi semua itu hilang begitu


saja laki-laki itu menghilang begitu saja, bahkan tak pernah lagi memintanya


untuk menggambar lagi, dengan penuh kekecewaan Dita hanya terdiam dan lebih


memilih menghindari orang-orang yang tak menerima kehadiranya, terlebih


orang-orang yang mencemooh dirinya lantaran terhasut oleh orang-orang yang


tidak bertanggung jawab. Dita benar-benar tenggelam dalam kesedihan namun


sebuah photo masa kecilnya memberikannya semangat, photo saat dia masih sangat


kecil, duduk di rerumputan bersama ayahnya dan seorang anak laki-laki serta


photo lainya bersama kedua orang tuanya.


“Xhigee” guman Dita lirih dan kemudian dia beranjak dari


kursi empuk di belakang meja kerja Rafael. Penggalan ingatan masa lalu Dita itu


benar-benar menyakitkan untuknya tetapi dia tak ingin menunjukkan itu pada


suaminya. Dia pu tak ingin larut dalam kesedihan masa lalu, dia sudah memiliki


Rafael yang begitu peduli dan mencintainya dia tak membutuhkan apa-apa lagi.


Dia hanya ingin bahagia bersama dengan leluarga barunya keluarga kecilnya.


Tetapi Xhigee, kehadiran Xhigee benar-benar mengusik ketenangan Dita, dimanapun


Dita melihatnya dia merasa seakan kembali pada potongan-potongan penderitaanya


dimasa lalu. Ditinggalkannya ruangan kerja suaminya itu dan berjalan menuju


kamarnya, diraihnya ponsel pintarnya dan berlahan melangkah ke arah sofa yang


ada didalam kamarnya dan mengetikkan pesan untuk seseorang.


“zubaedah, pengambilan gambar besok jam berapa? Gue boleh


ikut?” tanya Dita pada Intan melalui pesan singkatnya


“besok jam 9, di ruangan rapat G9 sudah selesai di dekorasi,


loe nggak kesini nab?” tanya Intan dari pesan singkatnya


“gue udah pulang, besok aja gue ikut gue mau lihat Millan


didepan kamera” kata Dita menerangkan keinginannya melalui pesan singkatnya


“ok, besok langsung ke ruangan gue aja, tapi jangan telat


ya, jam setengah Sembilan gue udah di ruang pemotretan” jawab Intan


memberitahukan


“makasih hayati aku mencintaimu” balas Dita dengan

__ADS_1


menyematkan emoji manja dan kiss  membuat


Intan tertawa sendiri menatap layar ponselnya.


__ADS_2