
Febi sudah berada di ruang rawat inap
tempat putranya dirawat yang belum sadar, wajahnya terlihat sangat kalut, dia
terus melihat pada putra bungsunya itu, dilihatnya kantong darah yang
menggantung, terlihat sudah hampir habis tapi putranya belum juga siuman.
Dokter yang memeriksa meminta pada Febi untuk mencari pendonor darah lagi, Karena
masih butuh satu kantong lagi untuk pasiennya. Pihak rumah sakit menelpon Dita
apakah masih bisa memberikan satu kantong lagi darahnya, Dita pun mengiyakan,
dia segera berangkat kerumah sakit sementara Intan sudah menuju rumahnya.
Dirumah sakit suster yang membantunya
dalam proses donor darah itu mengenalkan Dita pada Febi, istri Nicholas atas
permintaan Febi.
“ini bu, orang yang sudah mendonorkan
darahnya untuk putra ibu” kata suster pada Febi
“oh kamu orangnya, terima kasih banyak
kamu menyelamatkan anak saya” kata Febu terharu yang langsung memeluk Dita
erat-erat dan segera melepaskannya pelukannya.
“sama-sama bu” jawab Dita dengan
tersenyum
“oh ya saya nggak asing sama wajah kamu”
kata Febi menerka-nerka
“ah ibu bisa aja” sahut Dita dengan
senyum tipis yang berusaha menyembunyikan sebuah ketakutan, takut akan
orang didepannya itu mngenali dia sebenarnya, lantaran dia mirip dengan ayahnya.
“panggil saja tante, siapa nama kamu?”
Tanya Febi
“saya Dita bu, eh tante” jawab Dita
gugup yang disembunyikannya lagi-lagi dengan senyum tipisnya
“Dita? Yang ngasih darah untuk
pangeran?” kata Febi sambil menunjuk kantong darah yang menggantung didalam
ruang VVIP, dia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan tulisan yang
didapatkannya dari kantong darah milik Dita tadi pagi, suster pun tersenyum
mendengar itu, sementara Dita hanya terkekeh kecil mendengar candaan itu.
“tante bisa aja, kalau gitu saya permisi
tante” pamit Dita, dia meninggalkan Febi yang berdiri di depan ruang rawat inap
putranya itu.
“apa dia Dita yang sama?” Tanya Febi
pada suster yang masih berdiri disampingnya
“iya bu, itu mbak yang sama yang
mendonorkan darahnya untuk anak ibu, dia juga rajin setiap sebulan sekali
mendonorkan darahnya untuk rumah sakit ini bu” kata suster memberikan
keterangan.
“baik sekali anak itu, tapi sepertinya
tidak asing” guman Febi yang kemudian berbalik dan masuk kedalam ruang rawat
inap.
***
Didalam ruang rawat inap, terlihat
pewaris The Deveraux mulai sadar, samar-samar dia mendengar suara yang
tidak asing ditelinganya, dia pun mendengar Febi, maminya berbincang dengan
seseorang, dilihatnya sekelilingnya tapi dia tak mampu mengangkat kepalanya yang
terluka akibat kecelakaan. Dia tak mendengar lagi suara pemilik tawa yang
membangunkannya itu yang kemudian dia melihat langit-langit seraya memegangi
kepalanya yang terluka itu, Febi pun melangkah kedalam ruangan dan mendapati
putranya sudah sadar
“el sayang, kamu sudah sadar nak, mami
takut sekali kamu kenapa-napa” kata Febi yang langsung mendekati anaknya dan
mengelus kening anaknya.
“mami where am I” kata laki-laki tampan
yang terluka itu, putra Nicholas dan Febi
“hospital sayang, kamu jangan bergerak
dulu” kata Febi mencoba mencegah anaknya bangun
“where is she?” Tanya nya lagi
“siapa? Tanya Febi heran dengan raut
muka yang masih jelas menampakkan kesedihan
“Dia yang membuatku bangun mami”
jelasnya
“sudah pergi sayang, kamu istrirahat
saja sekarang” kata Febi menenangkan putranya.
Hari senin tiba, Intan yang siap dengan
desainnya yang baru itu melangkahkan kaki dengan mantap menuju ruang rapat, dia
menjelaskan detail maksud dan gambarnya serta warna yang diberikan persis
seperti penjelasan Dita. Semua yang berada diruang rapat itu bertepuk tangan
dan langsung merencanakan pembuatan interior sesuai dengan desain yang
presentasikan. Rapat berjalan dengan lancar Intan pun puas dengan hasil rapat,
sekali lagi dia mendapatkan poin dalam pekerjaanya karena Nicholas sangat
menyukainya.
Diruangan kerja Nicholas
“Intan kerja bagus, saya suka sekali”
kata Nicholas dengan senyum puas dan melihat kertas demi kertas hasil desain
Intan
“thank you Mr”
“saya melihat desain kamu sangat
berkarakter dan membuat saya mengingat seorang teman lama” kata Nicholas lagi
sembari meletakkan lembaran-lembaran kertas dimeja kerjanya, Intan hanya
tersenyum menatap atasanya yang puas dengan kerjanya itu.
“ok kamu boleh keluar sekarang”
perintahnya pada Intan
“baik Mr, saya permisi” jawab Intan yang
kemudian keluar ruangan, diluar pintu dia cepat-cepat menelpon sahabatnya Dita
sembari melangkah menuju meja kerjanya.
“Sorry ya ta gue gak bisa nganter loe
pulang kemarin” Suara Intan dari seberang telpon
“ah loe kayak sama siapa aj tan, udah
santai aja” jawab Dita
“ya kan gue yang jemput loe” kata Intan
lagi
“udah santai aja, kan loe nya sibuk, gak
apa-apa gue pulang sendiri” kata Dita meyakinkan sahabatnya itu.
“kalau gitu besok rabu kita makan siang
__ADS_1
di taman somay ya, sekalian merayakan seminggunya kita ketemu lagi sekian lama”
pinta dita dari seberang telpon
“hah taman somay? Dimana?” Tanya Dita
kebingungan
"Taman
somay, emang ada taman namanya somay di kota ini”
guman Dita dalam hati
“ya elah ta, taman kita ketemu kapan
hari itu loh” jelas Intan pada Dita
“hahahaha emang itu namanya taman somay,
bisa aja loe” sahut Dita terkekeh mendengar jawaban sahabatnya dari seberang
telpon
“sekalian gue kenalin sama cowok gue”
kata Intan yang membuat Dita semangat
“asek, boleh dech, sekalian gue nebeng
ya, gue ada perlu setelahh itu dekat dekat kantor loe” kata Dita
“beres, ok sampai ketemu hari rabu” kata
Intan yang kemudian menutup telponnya itu.
“Heh taman somay, bisa aja Intan” guman
Dita sambil geleng-geleng kepala dan masih melihat pada layar ponselnya
“tan, kok loe tahu kemarin ada kantong
darah O negative” Tanya Fajar yang membuat intan menghentikan aktivitasnya dan
melihat pada Fajar,
“Fajar sayang, kemarin pagi gue abis
dari sana” kata Intan sambil mengulurkan tangannya mencubit gemas pipi Fajar
“gue kemarin nganterin sahabat gue donor
darah, kebetulan golongan darahnya O negative” kata Intan menambahkan, fajar
pun mengangguk mengerti.
“udah makan siang?” Tanya Fajar singkat
dengan senyum lebar, Intan pun menggelengkan kepala memberi jawaban
“makan siang yuk” Fajar menawarkan pada
Intan yang dijawab anggukan manja mereka pun meninggalkan ruangan kantornya.
“nah Mr Deveraux luka di kening anda
sudah baik baik saja, tidak perlu dikhawatirkan”kata dokter yang memeriksa
“hanya saja tolong di hindari makanan
yang sudah saya tulis di resep agar lukanya cepat kering” kata dokter lagi
menambahkan dan pasien itu pun mendengarkan dengan seksama.
“apa saya boleh pulang dokter” Tanyanya
yang membuat dokter bernapas panjang”
“Ini
bule terluka sampek butuh darah tambahan ngebet banget mau pulang,
*untung aja mbak yang kemarin kalau nggak jadi deh malaikat ganteng alias koi*t”gerutu suster yang menemani dokter di ruangan VVIP itu dalam hati, dia merasa
berusaha menahan kesabarannya lantaran semalaman membuat gaduh rumah sakit
lantaran ingin pulang.
‘baiklah tapi besok lusa Mr, saya akan
memberikan surat untuk berobat jalan” kata dokter itu menyerah
“el anak mami, kenapa kamu minta pulang
sementara kamu belum sembuh benar” kata Febi pada anaknya
“mami I am bored” dengan nada kesal dia
menjawab kalimat maminya, Febi tun tak bisa berbuat banyak, dia akhirnya
***
“gue pake ini aja, ini hari aku mau
ketemu sama pasangan kekasih” guman Dita sambil memilih baju dari dalam lemari
sempitnya yang akan ia kenakan. Setelah bersiap dia pun berangkat seperti biasa
memberikan les privat Bahasa, meski agak jauh tapi dia mengambil job itu
lantaran dia dibayar dua kali lipat dari biasanya.
“what this is, kenapa tidak menyentuh
dengan gambar yang ada” kata Nicholas dengan nada tinggi membuat intan gemetar
“perasaan
gue udah bener deh ngasih deskripsi produknya kenapa masih bentak-bentak gue”suara Intan dalam hati menyanggah amarah atasannya
“Intan, it does’nt touch at all” kata
Nicholas lagi masih dengan suara tingginya seraya meletakkan tangan kanannya
diatas pinggang membuatnya cukup terlihat menakutkan
“akan saya perbaiki Mr” jawab Intan
dengan gugup namun masih mengeja kalimatnya dengan benar
“kamu presentasi bagus lalu kenapa
deskripsinya buruk tidak menyentuh sama sekali” bentak Nicholas yang membuat
badan Intan bergetar ketakutan
"Haya
bambank, menyentuh gimana cuma perabotaan juga, harus nyentuh gimana lagi,
semua perabotan juga gitu” guman intan dalam hatinya yang
masih dengan muka pucat dan takut karena amukan atasanya
“dua jam lagi harus sudah ada dimeja
saya” bentak Nicholas dengan tatapan tajam
“busyet dah” guman Intan dengan wajah
terkejutnya, bagaiaman bisa dua jam, dia sendiri mengerjakan deskripsi
desainnya dengan bantuan Dita
“dua jam Mr?” Tanya Intan memastikan
“iya, jangan bilang ini bukan kerjaan
kamu” dengan nada suara tingginya membuat siapa saja yang mendengarnya langsung
ketakutan. Karyawan yang diluar ruangan pun langsung terhenti langkahnya
tatkala mendengar suara keras atasannya itu
“i-iya Mr, bukan seluruhnya kerjaan
saya” jawab Intan yang gemetaran dengan suara terbata
“mampus
gue, kenapa gue bilang kalau bukan desain gue”kata Intan dalam hati, tubuhnya yang gemetaran dan matanya sesekali tertutup
mendengar bentakan atasanya, dia membuka matanya melihati bossnya sedang menatapnya
dengan tatapan tajam bak pembunuh yang ingin mencincang dia hidup-hidup.
“who did all this?” Tanya Nicholas
dengan suara yang kali ini pelan, tatapn tajamnya masih mengarah pada Intan,
ekpresinya penuh tanda tanya seperti mencari sesuatu
“hendra
I hope its your kid” kata Nicholas dalam hati dia berharap seseorang yang dia
kenalnya dimasa lalu dan ingin segera bertemu dengannya
“teman saya Mr” jawab Intan yang kali
ini dia tidak lagi gemetaran meski masih ada rasa takut
“teman? Nama siapa?” Tanya Nicholas
menyelidiki, tatapannya tak beralih sedikitpun dari Intan
__ADS_1
“Dita Mr” jawab Intan lagi dengan suara
pelan seolah memelas untuk tidak membawa Dita sahabatnya kedalam masalahnya,
cukup dia saja yang kena marah. Nicholas pun mengagguk-anggukan kepalanya dan
memutar tubuhnya, dan meletakkan pantanya dibibir meja, masih dengan tangan
diatas pinggangnya yang membuat Intan masih dirundung takut.
“bawa Dita kemari” kata Nicholas singkat
memerintah pada Intan
“apa? Mr? apa saya gak salah dengar?”
Tanya Intan meastikan sambil menatap atasannya itu, didapatinya jawaban dengan
gelengan kepalanya yang tanpa melihat kearah Intan
“tapi Mr .. “ belum selesai Intan bicara
Nicholas sudah melanjutkan kata-katanya dengan nada tinggi hingga seperti
membentak Intan
“bawa Dita sekarang kehadapan saya, atau
saya pecat kamu” kata Nicholas lagi dengan menoleh kearah suara Intan
“Mr … tapi Mr “ suara Intan yang mencoba
membujuk tapi dia tidak bisa berkata-kata lagi lantaran Nicholas mengankat
tangan kirinya dan menunjuk kearah pintu dengan jari telunjuknya yang besar. Mau
tidak mau Intan segera keluar dan cepat cepat meraih tas dan kunci mobilnya
dari meja kerjanya
“mati gue, gimana bisa hue bawa dia
kesini, Dita kan gak mau masuk perusahaan” gerutu Intan dengan wajah ketakutan hingga
mengerutkan dahinya, cepat-cepat dia berlalu dari area ruang kerjanya
“sayang kita … “ kata Fajar mencoba mengingatkan Intan tapi tidak digubrisnya
hanya bisa melihat heran pada kekasihnya itu yang mengomel sendiri.
“halo ta loe udah selesai kan?” Tanya
Intan yang berjaln kaerah mobilnya diparkir
“udah, nih uda mau makan somay, soalnya
gue g sarapan, sorry ya” kata Dita diseberang telpon,
“ok habiskan somay loe cepat, gue mau
jemput loe sekarang” suara Intan yang terdengar tergesah-gesah dan segera
menutup telponnya.
“kenapa jemput gue, bukanya mau makan
siang disini” guman Dita heran, tapi dia pun segera memesan somay dan es degan
seperti biasanya dia memesan dan cepat-cepat menghabiskannya.
Selang tiga puluh menit Intan pun
datang, dia berlari kecil menghampiri Dita
“Ditaaaa, ayo ikut gue, selametin gueee”
suara Intan dengan tangis yang dibuat-buat langsung menyambar tangan Dita,
diseretnya Dita menuju mobilnya yang diparkir diujung taman.
“eh tunggu dulu gue belum bayar” cegah
Dita yang kemudian mengeluarkan dompetnya
“elah zubaedahh gue bilang di telpon
nyuruh loe cepet ini belum bayar” gerutu Intan dengan gaya konyolnya
“ampuni baim tuhaan, loe nyuruh makan
cepet-cerpet bukan bayarnya” jawab Dita sewot sambil melotot pada Intan tapi
diiringin dengan seringai geli melihat kegugupan sahabatnya itu.
“udah ayo cepetan” perintah Intan yang
kemudian menyambar tangan sahabatnya dan menariknya kearah mobil.
“nih loe setir mobil gue, kepala gue
cenut cenut dibuatnya” kata Intan yang langsung menyerahkan kunci mobilnya dan
kemudian memegangi kepalanya dan segera masuk kedalam mobil merah miliknya,
sedangkan dita hanya termenung melihat pada kunci mobil yang ada ditangannya,
ia tak segera masuk kedalam mobil.
“zubaedaaah ya Allah tolong, ini anak
santai amat gue kena musibah” Intan menggerutu dengan wajah yang seakan sedang
menangis melihat sahabatnya tak segera masuk kedalam mobil, dia pun membuka
pintu mobil dan melihat kearah sahabatnya yang bengong memandangi kunci mobil
miliknya.
“busyet dah, kok loe malah bengong Dita”
suara Intan sedikit berteriak yang membuat Dita terkejut dan segera menoleh
pada Intan yang terlihat sekali wajahnya sedang dilanda cemas.
“ini” jawab Dita singkat seraya
menunjukkan kunci mobil yang terbaring ditelapak tangannya.
“iya ayo cepetan” kata Intan yang sambil
menggoyangkan badanya dengan manja, raut muka cemasnya di bumbui dengan wajah
ingin menagis yang dibuat buat
“gue gak bisa nyetir” suara Dita pelan dan polos
tapi masih didengar Intan itu sontak membuat Intan tertawa kencang
“becanda loe” kata Intan yang masih
tertawa dan melihat sahabatnya yang bengong melihatnya
“sumpah zubaedah gue jitak loe ya entar,
gue gak bisa nyetir” jelas Dita dengan wajah seriusnya dan kalimat yang santai
“sumpeh loe” kata Intan keheranan yang
kecemasan diwajahnya menghilang begitu mendengar pernyataan sahabatnya itu, dia pun tertawa kencang
“ya Allah tolong Baim ya Allah” kata
Intan dengan wajah dan suaran menagis yang dibuat-buat dia keluar dari mobil dan berjalan kearah Dita
bediri.
“udah loe sana, lama, bisa digantung gue
entar” kata Intan lagi sambil mendorong Dita untuk segera masuk kedalam
mobilnya
“emang kita mau kemana tan” Tanya Dita
penasaran.
“udah gak usah banyak Tanya, loe
kencengin aja tu sabuk pengaman loe” kata Intan memberi perintah pada Dita yang
kemudian memngemudikan mobilnya.
“parah loe ya, masak loe gak bisa nyetir
mobil?” Tanya Intan yang masih penasaran berusaha mengalihkan pembicaraan agar
sahabatnya tidak bertanya mereka mau kemana.
“gak sempet belajar tan” jawab Dita
sambil melihat kearah Intan yang masih terkekeh mengetahui sahabatnya tidak
bisa mengendarai mobil
“motor bisa?” Tanya Intan memastikan
yang dijawab gelengan kepala oleh Dita yang hanya tersenyum malu dengan
pertanyaan-pertanyaan sahabatnya
“anjir bamboank, sumpah gue gak percaya”
gerutu intan diiringi tawa gelinya mengetahui fakta sahabatnya yang selama ini
tidak pernah dia sadari. ~~~~
__ADS_1