Untuk istriku

Untuk istriku
Harapan Nicholas


__ADS_3

Febi sudah berada di ruang rawat inap


tempat putranya dirawat yang belum sadar, wajahnya terlihat sangat kalut, dia


terus melihat pada putra bungsunya itu, dilihatnya kantong darah yang


menggantung, terlihat sudah hampir habis tapi putranya belum juga siuman.


Dokter yang memeriksa meminta pada Febi untuk mencari pendonor darah lagi, Karena


masih butuh satu kantong lagi untuk pasiennya. Pihak rumah sakit menelpon Dita


apakah masih bisa memberikan satu kantong lagi darahnya, Dita pun mengiyakan,


dia segera berangkat kerumah sakit sementara Intan sudah menuju rumahnya.


Dirumah sakit suster yang membantunya


dalam proses donor darah itu mengenalkan Dita pada Febi, istri Nicholas atas


permintaan Febi.


“ini bu, orang yang sudah mendonorkan


darahnya untuk putra ibu” kata suster pada Febi


“oh kamu orangnya, terima kasih banyak


kamu menyelamatkan anak saya” kata Febu terharu yang langsung memeluk Dita


erat-erat dan segera melepaskannya pelukannya.


“sama-sama bu” jawab Dita dengan


tersenyum


“oh ya saya nggak asing sama wajah kamu”


kata Febi menerka-nerka


“ah ibu bisa aja” sahut Dita dengan


senyum tipis yang berusaha menyembunyikan sebuah ketakutan, takut akan


orang didepannya itu mngenali dia sebenarnya, lantaran dia mirip dengan ayahnya.


“panggil saja tante, siapa nama kamu?”


Tanya Febi


“saya Dita bu, eh tante” jawab Dita


gugup yang disembunyikannya lagi-lagi dengan senyum tipisnya


“Dita? Yang ngasih darah untuk


pangeran?” kata Febi sambil menunjuk kantong darah yang menggantung didalam


ruang VVIP, dia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan tulisan yang


didapatkannya dari kantong darah milik Dita tadi pagi, suster pun tersenyum


mendengar itu, sementara Dita hanya terkekeh kecil mendengar candaan itu.


“tante bisa aja, kalau gitu saya permisi


tante” pamit Dita, dia meninggalkan Febi yang berdiri di depan ruang rawat inap


putranya itu.


“apa dia Dita yang sama?” Tanya Febi


pada suster yang masih berdiri disampingnya


“iya bu, itu mbak yang sama yang


mendonorkan darahnya untuk anak ibu, dia juga rajin setiap sebulan sekali


mendonorkan darahnya untuk rumah sakit ini bu” kata suster memberikan


keterangan.


“baik sekali anak itu, tapi sepertinya


tidak asing” guman Febi yang kemudian berbalik dan masuk kedalam ruang rawat


inap.


***


Didalam ruang rawat inap, terlihat


pewaris The Deveraux  mulai sadar, samar-samar dia mendengar suara yang


tidak asing ditelinganya, dia pun mendengar Febi, maminya berbincang dengan


seseorang, dilihatnya sekelilingnya tapi dia tak mampu mengangkat kepalanya yang


terluka akibat kecelakaan. Dia tak mendengar lagi suara pemilik tawa yang


membangunkannya itu yang kemudian dia melihat langit-langit seraya memegangi


kepalanya yang terluka itu, Febi pun melangkah kedalam ruangan dan mendapati


putranya sudah sadar


“el sayang, kamu sudah sadar nak, mami


takut sekali kamu kenapa-napa” kata Febi yang langsung mendekati anaknya dan


mengelus kening anaknya.


“mami where am I” kata laki-laki tampan


yang terluka itu, putra Nicholas dan Febi


“hospital sayang, kamu jangan bergerak


dulu” kata Febi mencoba mencegah anaknya bangun


“where is she?” Tanya nya lagi


“siapa? Tanya Febi heran dengan raut


muka yang masih jelas menampakkan kesedihan


“Dia yang membuatku bangun mami”


jelasnya


“sudah pergi sayang, kamu istrirahat


saja sekarang” kata Febi menenangkan putranya.


Hari senin tiba, Intan yang siap dengan


desainnya yang baru itu melangkahkan kaki dengan mantap menuju ruang rapat, dia


menjelaskan detail maksud dan gambarnya serta warna yang diberikan persis


seperti penjelasan Dita. Semua yang berada diruang rapat itu bertepuk tangan


dan langsung merencanakan pembuatan interior sesuai dengan desain yang


presentasikan. Rapat berjalan dengan lancar Intan pun puas dengan hasil rapat,


sekali lagi dia mendapatkan poin dalam pekerjaanya karena Nicholas sangat


menyukainya.


Diruangan kerja Nicholas


“Intan kerja bagus, saya suka sekali”


kata Nicholas dengan senyum puas dan melihat kertas demi kertas hasil desain


Intan


“thank you Mr”


“saya melihat desain kamu sangat


berkarakter dan membuat saya mengingat seorang teman lama” kata Nicholas lagi


sembari meletakkan lembaran-lembaran kertas dimeja kerjanya, Intan hanya


tersenyum menatap atasanya yang puas dengan kerjanya itu.


“ok kamu boleh keluar sekarang”


perintahnya pada Intan


“baik Mr, saya permisi” jawab Intan yang


kemudian keluar ruangan, diluar pintu dia cepat-cepat menelpon sahabatnya Dita


sembari melangkah menuju meja kerjanya.


“Sorry ya ta gue gak bisa nganter loe


pulang kemarin” Suara Intan dari seberang telpon


“ah loe kayak sama siapa aj tan, udah


santai aja” jawab Dita


“ya kan gue yang jemput loe” kata Intan


lagi


“udah santai aja, kan loe nya sibuk, gak


apa-apa gue pulang sendiri” kata Dita meyakinkan sahabatnya itu.


“kalau gitu besok rabu kita makan siang

__ADS_1


di taman somay ya, sekalian merayakan seminggunya kita ketemu lagi sekian lama”


pinta dita dari seberang telpon


“hah taman somay? Dimana?” Tanya Dita


kebingungan


"Taman


somay, emang ada taman namanya somay di kota ini”


guman Dita dalam hati


“ya elah ta, taman kita ketemu kapan


hari itu loh” jelas Intan pada Dita


“hahahaha emang itu namanya taman somay,


bisa aja loe” sahut Dita terkekeh mendengar jawaban sahabatnya dari seberang


telpon


“sekalian gue kenalin sama cowok gue”


kata Intan yang membuat Dita semangat


“asek, boleh dech, sekalian gue nebeng


ya, gue ada perlu setelahh itu dekat dekat kantor loe” kata Dita


“beres, ok sampai ketemu hari rabu” kata


Intan yang kemudian menutup telponnya itu.


“Heh taman somay, bisa aja Intan” guman


Dita sambil geleng-geleng kepala dan masih melihat pada layar ponselnya


“tan, kok loe tahu kemarin ada kantong


darah O negative” Tanya Fajar yang membuat intan menghentikan aktivitasnya dan


melihat pada Fajar,


“Fajar sayang, kemarin pagi gue abis


dari sana” kata Intan sambil mengulurkan tangannya mencubit gemas pipi Fajar


“gue kemarin nganterin sahabat gue donor


darah, kebetulan golongan darahnya O negative” kata Intan menambahkan, fajar


pun mengangguk mengerti.


“udah makan siang?” Tanya Fajar singkat


dengan senyum lebar, Intan pun menggelengkan kepala memberi jawaban


“makan siang yuk” Fajar menawarkan pada


Intan yang dijawab anggukan manja mereka pun meninggalkan ruangan kantornya.


“nah Mr Deveraux luka di kening anda


sudah baik baik saja, tidak perlu dikhawatirkan”kata dokter yang memeriksa


“hanya saja tolong di hindari makanan


yang sudah saya tulis di resep agar lukanya cepat kering” kata dokter lagi


menambahkan dan pasien itu pun mendengarkan dengan seksama.


“apa saya boleh pulang dokter” Tanyanya


yang membuat dokter bernapas panjang”


“Ini


bule terluka sampek butuh darah tambahan ngebet banget mau pulang,


*untung aja mbak yang kemarin kalau nggak jadi deh malaikat ganteng alias koi*t”gerutu suster yang menemani dokter di ruangan VVIP itu dalam hati, dia merasa


berusaha menahan kesabarannya lantaran semalaman membuat gaduh rumah sakit


lantaran ingin pulang.


‘baiklah tapi besok lusa Mr, saya akan


memberikan surat untuk berobat jalan” kata dokter itu menyerah


“el anak mami, kenapa kamu minta pulang


sementara kamu belum sembuh benar” kata Febi pada anaknya


“mami I am bored” dengan nada kesal dia


menjawab kalimat maminya, Febi tun tak bisa berbuat banyak, dia akhirnya


***


“gue pake ini aja, ini hari aku mau


ketemu sama pasangan kekasih” guman Dita sambil memilih baju dari dalam lemari


sempitnya yang akan ia kenakan. Setelah bersiap dia pun berangkat seperti biasa


memberikan les privat Bahasa, meski agak jauh tapi dia mengambil job itu


lantaran dia dibayar dua kali lipat dari biasanya.


“what this is, kenapa tidak menyentuh


dengan gambar yang ada” kata Nicholas dengan nada tinggi membuat intan gemetar


“perasaan


gue udah bener deh ngasih deskripsi produknya kenapa masih bentak-bentak gue”suara Intan dalam hati menyanggah amarah atasannya


“Intan, it does’nt touch at all” kata


Nicholas lagi masih dengan suara tingginya seraya meletakkan tangan kanannya


diatas pinggang membuatnya cukup terlihat menakutkan


“akan saya perbaiki Mr” jawab Intan


dengan gugup namun masih mengeja kalimatnya dengan benar


“kamu presentasi bagus lalu kenapa


deskripsinya buruk tidak menyentuh sama sekali” bentak Nicholas yang membuat


badan Intan bergetar ketakutan


"Haya


bambank, menyentuh gimana cuma perabotaan juga, harus nyentuh gimana lagi,


semua perabotan juga gitu” guman intan dalam hatinya yang


masih dengan muka pucat dan takut karena amukan atasanya


“dua jam lagi harus sudah ada dimeja


saya” bentak Nicholas dengan tatapan tajam


“busyet dah” guman Intan dengan wajah


terkejutnya, bagaiaman bisa dua jam, dia sendiri mengerjakan deskripsi


desainnya dengan bantuan Dita


“dua jam Mr?” Tanya Intan memastikan


“iya, jangan bilang ini bukan kerjaan


kamu” dengan nada suara tingginya membuat siapa saja yang mendengarnya langsung


ketakutan. Karyawan yang diluar ruangan pun langsung terhenti langkahnya


tatkala mendengar suara keras atasannya itu


“i-iya Mr, bukan seluruhnya kerjaan


saya” jawab Intan yang gemetaran dengan suara terbata


“mampus


gue, kenapa gue bilang kalau bukan desain gue”kata Intan dalam hati, tubuhnya yang gemetaran dan matanya sesekali tertutup


mendengar bentakan atasanya, dia membuka matanya melihati bossnya sedang menatapnya


dengan tatapan tajam bak pembunuh yang ingin mencincang dia hidup-hidup.


“who did all this?” Tanya Nicholas


dengan suara yang kali ini pelan, tatapn tajamnya masih mengarah pada Intan,


ekpresinya penuh tanda tanya seperti mencari sesuatu


“hendra


I hope its your kid” kata Nicholas dalam hati dia berharap seseorang yang dia


kenalnya dimasa lalu dan ingin segera bertemu dengannya


“teman saya Mr” jawab Intan yang kali


ini dia tidak lagi gemetaran meski masih ada rasa takut


“teman? Nama siapa?” Tanya Nicholas


menyelidiki, tatapannya tak beralih sedikitpun dari Intan

__ADS_1


“Dita Mr” jawab Intan lagi dengan suara


pelan seolah memelas untuk tidak membawa Dita sahabatnya kedalam masalahnya,


cukup dia saja yang kena marah. Nicholas pun mengagguk-anggukan kepalanya dan


memutar tubuhnya, dan meletakkan pantanya dibibir meja, masih dengan tangan


diatas pinggangnya yang membuat Intan masih dirundung takut.


“bawa Dita kemari” kata Nicholas singkat


memerintah pada Intan


“apa? Mr? apa saya gak salah dengar?”


Tanya Intan meastikan sambil menatap atasannya itu, didapatinya jawaban dengan


gelengan kepalanya yang tanpa melihat kearah Intan


“tapi Mr .. “ belum selesai Intan bicara


Nicholas sudah melanjutkan kata-katanya dengan nada tinggi hingga seperti


membentak Intan


“bawa Dita sekarang kehadapan saya, atau


saya pecat kamu” kata Nicholas lagi dengan menoleh kearah suara Intan


“Mr … tapi Mr “ suara Intan yang mencoba


membujuk tapi dia tidak bisa berkata-kata lagi lantaran Nicholas mengankat


tangan kirinya dan menunjuk kearah pintu dengan jari telunjuknya yang besar. Mau


tidak mau Intan segera keluar dan cepat cepat meraih tas dan kunci mobilnya


dari meja kerjanya


“mati gue, gimana bisa hue bawa dia


kesini, Dita kan gak mau masuk perusahaan” gerutu Intan dengan wajah ketakutan hingga


mengerutkan dahinya, cepat-cepat dia berlalu dari area ruang kerjanya


“sayang  kita … “ kata Fajar mencoba mengingatkan Intan tapi tidak digubrisnya


hanya bisa melihat heran pada kekasihnya itu yang mengomel sendiri.


“halo ta loe udah selesai kan?” Tanya


Intan yang berjaln kaerah mobilnya diparkir


“udah, nih uda mau makan somay, soalnya


gue g sarapan, sorry ya” kata Dita diseberang telpon,


“ok habiskan somay loe cepat, gue mau


jemput loe sekarang” suara Intan yang terdengar tergesah-gesah dan segera


menutup telponnya.


“kenapa jemput gue, bukanya mau makan


siang disini” guman Dita heran, tapi dia pun segera memesan somay dan es degan


seperti biasanya dia memesan dan cepat-cepat menghabiskannya.


Selang tiga puluh menit Intan pun


datang, dia berlari kecil menghampiri Dita


“Ditaaaa, ayo ikut gue, selametin gueee”


suara Intan dengan tangis yang dibuat-buat langsung menyambar tangan Dita,


diseretnya Dita menuju mobilnya yang diparkir diujung taman.


“eh tunggu dulu gue belum bayar” cegah


Dita yang kemudian mengeluarkan dompetnya


“elah zubaedahh gue bilang di telpon


nyuruh loe cepet ini belum bayar” gerutu Intan dengan gaya konyolnya


“ampuni baim tuhaan, loe nyuruh makan


cepet-cerpet bukan bayarnya” jawab Dita sewot sambil melotot pada Intan tapi


diiringin dengan seringai geli melihat kegugupan sahabatnya itu.


“udah ayo cepetan” perintah Intan yang


kemudian menyambar tangan sahabatnya dan menariknya kearah mobil.


“nih loe setir mobil gue, kepala gue


cenut cenut dibuatnya” kata Intan yang langsung menyerahkan kunci mobilnya dan


kemudian memegangi kepalanya dan segera masuk kedalam mobil merah miliknya,


sedangkan dita hanya termenung melihat pada kunci mobil yang ada ditangannya,


ia tak segera masuk kedalam mobil.


“zubaedaaah ya Allah tolong, ini anak


santai amat gue kena musibah” Intan menggerutu dengan wajah yang seakan sedang


menangis melihat sahabatnya tak segera masuk kedalam mobil, dia pun membuka


pintu mobil dan melihat kearah sahabatnya yang bengong memandangi kunci mobil


miliknya.


“busyet dah, kok loe malah bengong Dita”


suara Intan sedikit berteriak yang membuat Dita terkejut dan segera menoleh


pada Intan yang terlihat sekali wajahnya sedang dilanda cemas.


“ini” jawab Dita singkat seraya


menunjukkan kunci mobil yang terbaring ditelapak tangannya.


“iya ayo cepetan” kata Intan yang sambil


menggoyangkan badanya dengan manja, raut muka cemasnya di bumbui dengan wajah


ingin menagis yang dibuat buat


“gue gak bisa nyetir” suara Dita pelan dan polos


tapi masih didengar Intan itu sontak membuat Intan tertawa kencang


“becanda loe” kata Intan yang masih


tertawa dan melihat sahabatnya yang bengong melihatnya


“sumpah zubaedah gue jitak loe ya entar,


gue gak bisa nyetir” jelas Dita dengan wajah seriusnya dan kalimat yang santai


“sumpeh loe” kata Intan keheranan yang


kecemasan diwajahnya menghilang begitu mendengar pernyataan sahabatnya itu, dia pun tertawa kencang


“ya Allah tolong Baim ya Allah” kata


Intan dengan wajah dan suaran menagis yang dibuat-buat dia  keluar dari mobil dan berjalan kearah Dita


bediri.


“udah loe sana, lama, bisa digantung gue


entar” kata Intan lagi sambil mendorong Dita untuk segera masuk kedalam


mobilnya


“emang kita mau kemana tan” Tanya Dita


penasaran.


“udah gak usah banyak Tanya, loe


kencengin aja tu sabuk pengaman loe” kata Intan memberi perintah pada Dita yang


kemudian memngemudikan mobilnya.


“parah loe ya, masak loe gak bisa nyetir


mobil?” Tanya Intan yang masih penasaran berusaha mengalihkan pembicaraan agar


sahabatnya tidak bertanya mereka mau kemana.


“gak sempet belajar tan” jawab Dita


sambil melihat kearah Intan yang masih terkekeh mengetahui sahabatnya tidak


bisa mengendarai mobil


“motor bisa?” Tanya Intan memastikan


yang dijawab gelengan kepala oleh Dita yang hanya tersenyum malu dengan


pertanyaan-pertanyaan sahabatnya


“anjir bamboank, sumpah gue gak percaya”


gerutu intan diiringi tawa gelinya mengetahui fakta sahabatnya yang selama ini


tidak pernah dia sadari. ~~~~

__ADS_1


__ADS_2