Untuk istriku

Untuk istriku
Perasaan Arman untuk Dita


__ADS_3

Sinar pagi menembus kamar pengantin baru Intan dan Fajar, keduanya sudah bersiap hendak keluar kamar mereka untuk sarapan


“sayang, kamu lihat kemarin malam mas Arman kayaknya agak keterlaluan sama Dita” kata Fajar pada istrinya yang masih bediri didepan cermin memeriksa lagi riasannya


“keterlaluan gimana? Dari dulu mas Arman begitu sama Dita, kadang gue juga cemburu yang adiknya itu gue apa Dita” jawab Intan santai sambil memandang kearah suaminya


“terlalu perhatian, hanya kuatir saja sayang, kamu tahu kan suaminya dan keluarganya bagaimana” jawab Fajar sambil mencubit pipi Intan dengan lembut


“ih sakit sayang, iya juga, kemarin malam itu suasana udah kayak setan disebelah gue” gerutu Intan mengingat dingin dan ketidaksukaan Rafael melihat Dita berbincang dengan Arman


“apa mas Arman suka sama Dita?” tanya Fajar menyelidiki


“mas Arman nggak pernah cerita kalau suka sama Dita, tapi perhatiannya memang beda sih” Intan tersadar dengan pertanyaan suaminya


“dari dulu mas Arman memperlakukan Dita itu berbeda dari yang lainnya juga sam gue, sempat gue pikir mas Arman suka sama Dita tapi mas Arman selalu cerita ke gue kalau suka cewek, tapi nggak pernah menyinggung Dita” guman Intan lagi dengan wajah yang penuh tanda tanya, dalam benaknya memikirkan kalimat suaminya, Fajar pun menghentikan perbincangan mereka dan mengajak istrinya untuk keluar kamar dan menuju meja makan


“ehem pengantin baru yang telat sarapan” goda Arman pada Intan dan Fajar yang sudah selesai sarapan terlebih dahulu


“nak Fajar ayo sarapan, mama udah masak banyak loh” kata mamanya Intan yang baru memulai mengambilkan nasi untuk Firman, Intan dan Fajar pun duduk untuk sarapan bersama.


“mas Arman udah rapi aja, mau kemana?” tanya Intan santai


“ada perlu biar bisa menetap disini, pengantin baru kepo banget sih” jawab Arman sambil mencupit lembut hidung adiknya


“ih mas sakit tau, ada suaminya intan loh disini” gerutu Intan dengan kesal namun manja dan mengusap hidungnya


“iya deh pengantin baru, maaf” jawab Arman dengan senyum lebar melihat adiknya yang masih terlihat cemberut itu.


“pa, ma, Arman pergi dulu ya, pergi dulu ya dek” kata Arman berpamitan, dia segera meraih jaket hitamnya dan beranjak dari ruang makan


“kamu mau kemana Arman?” tanya Firman dengan nada yang dingin, dalam benaknya ada kekhawatiran Arman akan menemui Dita, sepengetahuan Firman sejak Arman mulai menginjak SMA Arman mulai perhatian dengan Dita bahkan lebih dibanding pada Intan, Firman khawatir bahwa Arman menaruh hati pada Dita.


“ada urusan pa, ketakutan papa nggak akan terjadi” jawab Arman dengan senyum lembut pada lelaki yang masih duduk di meja makan dengan wajah cemas. Arman pun berlalu dari pandangan mata mereka yang berada di ruang makan.


Suana kantor Deveraux kini berbeda, dua perusahaan yang berada di satu gedung itu benar benar memberi perubahan. Para karyawan yang tidak mengetahui hubungan Dita dengan trio Deveraux itu bergunjing dibelakang Dita.


“halo” suara Dita yang menjawab panggilan masuk pada telpon selulernya


“Dita kamu ada waktu hari ini?” tanya Arman dari seberang telpon dengan santai


“eh mas Arman, maaf ya Dita hari ini benar benar sibuk, belum juga kudu minta izin sama suami” jawab Dita dengan sedikit bersalah


“ya sudah nggak apa-apa, next time aja mungkin kamu punya waktu” jawab Arman dengan santai serta memutar setirnya hendak memarkir mobilnya. Dia pun menutup telponnya lalu keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuket bunga, dia menyusuri jalan pemakaman menuju tempat peristirahatan wanita yang dia kagumi sejak lama meski dia hanya sempat bertemu dengannya tak kurang dari lima kali itu agak jauh dari area parkir pemakaman, setelah melihat nama yang tertera di batu nisan yang berada di depannya dia pun tersenyum. Diletakkanya buket bunga yang ia bawa di depan batu nisan


“ibu Diana, Arman sudah kembali, dan sekarang Arman juga sudah bisa melawan mereka yang sudah membuat bu Diana menderita, Arman minta maaf karena Arman memilih untuk pergi ke luar negeri daripada menjaga Dita” kata Arman pada pemakaman Diana


“Dita sekarang sudah menikah dan seperti yang di inginkan om Mahendra, Dita menikah dengan anak tante Febi” kata Arman dengan senyum bahagia serta mata yang berkaca kaca


“hari ini Arman datang untuk memberitahu ibu, Arman tidak akan kembali ke luar negeri, Arman akan disini menjaga Dita, Arman akan melakukan yang terbaik untuk Dita sebagai ganti Arman tidak bisa melindungi Dita setelah om Mahendra tidak ada” kata Arman dengan penyesalan, tanpa disadari Arman menitikkan air matanmya. Dari kejauhan Bam yang hendak mengunjungi makam Diana melihat Arman yang sudah hendak akan pergi.


“Arman? Untuk apa dia mengunjungi makam bu Diana?” tanya Bam dalam hatinya, dia pun meraih ponsel kemudian menghubungi Vincent

__ADS_1


“kamu cari semua informasi mengenai anak dari Firman, saya mau datanya dalam dua hari, oh ya kalau bisa berikan saya nomer telponya dalam satu jam” kata Bam melalui telpon selulernya, dia pun melangkahkan kakinya untuk mengunjungi makam Diana


“buket bunga, apa selama ini yang mengunjungi makam bu Diana adalah Arman? Tapi kenapa dia mengunjungi makam bu Diana?” guman Bam lagi, dia pun meletakkan buket bunga yang ia bawa, setelah berdoa dia pun beranjak.


Kurang dari satu jam Bam sudah mendapatkan nomer telpon Arman, dengan segera bam menghubungi Arman


“halo siapa ini?” tanya Arman melalui telpon selulernya


“ini saya Bam, asisten tuan Deveraux, saya ingin bertemu dengan kamu Arman” jawab Bam tanpa basa basi


“oh pak Bam, mau ketemu dimana?” jawab Arman langsung mengiyakan permintaan Bam untuk bertemu dengannya.


“anak ini langsung setuju, apa yang dia rencanakan” guman Bam dalam hatinya


“hari ini jam sebelas, saya akan kirim alamatnya” jawab Bam tegas. dia pun menutup telponya dan mengirim pesan pada Arman.


“kebetulan gue dekat dengan tempatnya” guman Arman yang membaca pesan dari Bam, dia pun langsung menuju tempat yang di janjikan. Tak selang dari tiga puluh menit Bam sudah berada di tempat pertemuan mereka


“pak Arman saya langsung saja” kata Bam sembari menarik kursi di mana Arman sudah duduk disana


“silahkan pak Bam, anda ingin membicarakan apa?” tanya Arman yang penasaran dengan apa yang diinginkan Bam yang tiba-tiba menghubunginya


“saya melihat pagi ini pak Arman berada di makam bu Diana, ada hubungan apa anda dengan ibu Diana?” tanya Bam menyelidiki


“jika dilihat anak ini sama sekali tidak mirip dengan ibu Diana, untuk apa dia mengunjungi makam bu Diana” guman Bam dalam hatinya seraya memperhatikan Arman yang meneguk kopi yang ada di hadapanya


“oh itu, hanya ingin berjunjung saja, karena sekarang saya bisa membantu dan melindungi Dita” jawab Arman santai


“pak Bam meskipun Dita sudah menjadi istrinya Rafael saya masih punya hak untuk melindungi dia dan memberikan apa yang seharusnya menjadi miliknya dan saya” jawab Arman tegas


“anda harus tahu pak Arman bahwa keluarga Deveraux tidak akan membiarkan non Dita mengalami kesusahan dan semua yang seharusnya menjadi miliknya akan menjadi miliknya” jelas Bam yang masih dengan nada yang dingin


“pak Bam saya hanya ingin membayar penyesalan saya karena selama ini saya belum mampu melindunginya, saya sangat terpukul melihat penderitaanya tanpa saya bisa melakukan apa-apa untuknya” kata Arman dengan tatapan nanar mengingat saat saat dimana dia melihat DIta yang mengalami penderitaan bertubi-tubi setelah ayahnya meninggal


“dari kalimat anda sangat terlihat jelas bahwa anda sangat menyayangi non Dita tetapi dia sudah menikah, sebaiknya anda jaga jarak” kata Bam mengingatkan dengan tatapan tajam.


“tidak ada yang bisa melarang saya untuk menjaga jarak dengan Dita pak Bam, saya menyayanginya sangat menyayanginga karena di dunia ini saya hanya punya dia” jawab Arman dengan tatapan tajam kearah Bam yang dibuatnya terdiam


“anak ini tatapanya langsung berubah, ada apa dengan anank ini? Apakah dia ingin memisahkan non Dita dari tuan Rafael atau benar-benar untuk membantu non Dita” guman Bam dalam hatinya dengan penuh tanda tanya


“tapi anda harus menjaga jarak karena itutidakakan baik untuk non Dita yang sudah menikah, dan lagi tuan Rafael sangat mencintai non Dita” jelas Bam dengan suara yang berbeda, kali ini dengan nada yang santai


“pak Bam jangan khawatir ini tidak akan berpengaruh untuk Dita, semua akan seperti  yang Dita inginkan” kata Arman mencoba tenang


“ngomong-ngomong kenapa anda bersikeras ingin membantu Dita? Seingat saya anda hanya beberapa kali bertemu dengan bu Diana” tanya Bam mencoba memancing Arman


“ya, meski hanya beberapa kali, tapi saya bertemu dengan Dita berkali-kali dan dan saya menyadari bahwa saya harus melindunginya dan membantunya tapi saat itu saya belum mampu, sekarang saya punya perusahaan sendiri di London dan saya mampu melindungi Dita” kata Arman memberikan pengertian kepada Arman


“wah itu kemajuan yang bagus pak Arman, the Deveraux akan senang bekerja sama dengan Anda” kata Bam mencoba memuji dan mengalihkan arah perbincangan, berharap mendapatkan kalimat yang tepat untuk membuat Arman mundur dan menjaga jarak dengan Dita


“maaf pak Bam, saya sudah berencana berinvestasi ke DM Green proposal sudah selesai meeting akan diadakan besok” jawab Arman santai

__ADS_1


“pak Arman anda ini lucu, anda bilang ingin membantu non Dita tetapi anda justru berinvestasi ke DM Green” kata Bam menaggapi pernyataan Arman dengan tertawa kecil


“pak Bam, saya yakin bapak sangat mengenal ibu Diana, dengan begitu anda juga mengenal saya, dan bekerja sama dengan DM Green adalah langkah awal saya” jawab Arman tegas namun dengan nada santai


“anda mendukung DM Green bagaimana bisa anda mengatakan anda membantu non Dita itu inti dari kalimat saya pak Arman


“saya kan melakukan apapun untuk melindungi dan membantu Dita termasuk terjun kedalam sarang buaya pak Bam” jawab Arman santai, dia pun melihat jam di tangannya


“maaf saya masih ada janji dengan adik ipar saya, saya harus pergi sekarang, terima kasih waktunya pak Bam” kata Arman yang kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bam, sementara Bam yang masih mencerna setiap kalimat yang ia dengar dari mulut Arman hanya bisa membisu dan membalas uluran


tangan Arman untuk berjabat tangan.


Arman mengendarai mobilnya menuju gedung The Deveraux, senyum tipis tersemat di bibirnya membuat Arman terlihat manis, dia meningat dimana masa masa dia mulai memperhatikan Dita, mulai memberikan kasih sayangnya untuk Dita, bahkan dia rela di pukul oleh Firman lantaran perhatiannya lebih banyak diberikan untuk Dita bukan Intan yang sebagai adiknya.


“Dita mas Arman kangen makan ice cream sama kamu, kita lihat seperti apa reaksi Rafael kalau aku bawain kamu ice cream” guman Arman dengan seringai jahatnya dia pun berhenti disebuah minimarket untuk membeli ice cream untuk Dita, setiba di gedung The Deveraux Arman pun meminta pada resepsionis untuk diantar menuju ruangan Rafael


“sampai disini pak, silahkan naik lagi 4 lantai dengan lift yang di sebelah kanan, nanti akan bertemu dengan mbak Dita asisten Mr Rafael, mbak Dita akan menyampaikannya pada Mr Rafael” kata resepsionis pada Arman.


“terima kasih cantik” jawab Arman pada resepsionis serta mengerlinkan mata kirinya pada resepsionis kemudian dia masuk kedalam lift. Di sebuah ruangan Arman langsung bisa melihat Dita, Arman pun tersenyum dan melangkahkan kakinya menghampiri Dita


“hai Dita, lihat mas Arman bawa apa” sapa Arman sambil menunjukkan sebuah tas kertas yang isinya ice cream dengan rasa kesukaan Dita


“mas Arman, kok bisa kesini? Wah ini kesukaan Dita, baek banget mas Arman” jawab Dita yang tak lupa memberikan pujiannya pada Arman


“iya dong, kan mas Arman ini mas yang paling baik sedunia” jawab Arman dengan senyum lebar


“idih besar kepala, pasti ada maunya kan pake bawa ice cream segala” kata Dita tiba-tiba dengan bibir yang mengkerucut manyun


“nggak ada, Cuma ada janji sama Rafael tapi masih ada dua puluh menit, sengaja buat ketemu kamu dulu” jawab Arman dengan senyum lebar yang jail


“mas Arman entar kalau Rafael cemburu gue yang repot” gerutu Dita dengan sedikit tidak senang


“bagus dong, artinya mas menang dan bakal ngajak kamu makan malam” goda Arman dengan senyum jailnya lagi


“eh mau ngapain ketemu sama Rafael?” tanya Dita yang sambil menikamti ice cream yang dibawa oleh Arman, dari dalam ruangan Rafael yang sudah memperhatikan kedekatan Dita dengan Arman membuat Rafael tidak senang, dia pun meraih telpon yang ada di mejanya


“Ryan, cari tahu semua tentang Arman, kakakny Intan” kata Rafael melalui telpon lalu dengan segera menutup telpon dan beranjak keluar ruangan dan menuju meja kerja Dita


“mau minta izin sama Rafael buat bawa kamu makan malam” jawab Arman dengan senyum tipis serta tatapan jailnya menatap expresi Dita yang berubah seketika lantaran Rafael berjalan menju mejanya


“mas Arman sadar dong, Dita udah menikah mas” jawab Dita lembut dengan senyum tipis


“memang kenapa? Meskipun kamu sudah menikah itu tidka mengurangi rasa sayang mas ke kamu” jawab Arman dengan santai


“Arman, kamu datang lebih awal” sapa Rafael yang langsung berdiri disamping Dita, nampak dengan jelas tatapan yang tidak berasahabat terpancar di matanya


“Rafael, ya, sengaja karena ingin ngbrol dulu dengan Dita” jawab Arman dengan senyum tipis


“anda datang kesini untuk urusan bisnis atau menggoda istri orang” jawab Rafael dingin


“saya tidak menggoda menggodanya hanya ingin ngobrol saja, kalau kamu sudah ada waktu bagaiamana kalau kita bicarakan bisnis?” kata Arman yang sambil menanyakan waktu Rafael untuk meeting dengannya

__ADS_1


“silahkan keruangan saya” jawab Rafael dingin, dia pun melangkah kembali keruangannya di ikuti Arman. Sementara Dita hanya menghela napas lega Rafael tidak banyak berkomentar mengenai kalimat Arman untuknya. Dari luar ruangan Dita memperhatikan keduanya begitu serius, Dita menaptap Rafael dari jauh diluar ruangan dengan mata yang berbinar, senyum tipis tersemat di bibirnya


__ADS_2