Untuk istriku

Untuk istriku
Rencana Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan sinarnya, Dita terbangun dan merasa ada sesuatu yang membuatnya merasa sedikit berat, dilihatnya tangan kekar melingkar di perutnya membuat Dita terbelalak dan langsung berteriak serta terperanjak, Rafael terbangun dan terkejut dengan teriakan istrinya


“ahh kok loe bisa tidur disini” terika Dita marah serta wajah memerah


“ini kamar saya” kata Rafael dengan santai dan masih sedikit terkejut karena bangun tiba-tiba


“ini kamar gue” teriak Dita tanpa memperhatikan sekeliling kamar


“lihatlah ini kamar saya” kata Rafael santai dengan senyum tipis, senyum kemenangan


“kok gue jadi ada disini, perasaaan semalam gue tidur disebelah” guman Dita dalam hati


“sudah puas?” tanya Rafael dengan senyum jahilnya, Dita yang terlelap dalam tidurnya di pindahkan oleh Rafael


kekamarnya, yang menjadi kamar mereka.


“sialan, loe ngapain pindahin gue kesini” kata Dita dengan jengkel dan memukul Rafael dengan bantal membuat Rafael tertawa melihat tingkah istrinya itu, Dita pun keluar dari kamar itu dan bersiap untuk aktivitasnya di kamar yang biasa ia tempati


“ah mami, baju aku dipindah semua” gerutu Dita yang melihat lemarinya kosong, tak ada pilihan lain dia kembali kekamar Rafael, dilihatnya Rafael pun sudah rapi lengkap dengan jas kebesarannya


“merindukanku?” tanya Rafael dengan senyum jahil dan melebarkan tangannya menyambut Dita tetapi dilewati begitu saja oleh Dita, dia membuka lemari dan mencari dimana baju bajunya disimpan, dia mengambil satu setel baju miliknya dan berbalik tetapi dikejutkan oleh Rafael yang berada dibelakangnya


“Raf mau ngapain?” tanya Dita dengan takut dan gugup karena tatapan Rafael yang sepertinya tidak bersahabat”


“Dita apa kamu mau aku tergoda oleh wanita lain?” tanya Rafael dengan lembut dan tatapanya yang tiba tiba berubah, Dita tak berkata apa-apa dia hanya menggelengkan kepalanya yang tersandar pada lemari dibelakanya dia juga tak bisa menghindar karena kedua tangan Rafael berada kana kirinya menghalanginya


“Rafael kamu bisa terlambat kekantor” kata Dita suara pelan mencoba mengalihkan perhatian Rafael


“saya boss bisa datang kapan saja” kata Rafael yang masih dengan suara lembutnya dan tersenyum tipis dan semakin mendekat pada Dita, di ciumnya bibir mungil Dita yang tak ditolak oleh Dita bahkan tanpa sadar tangan Dita mulai melingkar di pinggang Rafael tetapi berhenti lantaran telpon genggam Rafael berbunyi, Dita hanya tersipu setelah Rafael melepaskan ciumannya, di raihnya ponsel pintarnya dan menjawab telpon sambil berjalan keluar kamarnya.


“kali ini gue selamat karena telpon” guman Dita pada dirinya sendiri sambil mengelus dadanya, dia pun bersiap untuk mengajar, setelah sarapan mereka pun berangkat bersama, Rafael mengantarkan Dita seperti biasanya sebelum bertengkar.


“Dita” kata Rafael sambil mencegah Dita untuk keluar dari mobil dengan menarik tangan Dita


“ya” jawab Dita dan melihat pada Rafael


“bisakah saya mendapatkan kamu yang seperti sehari sebelum kamu jatuh sakit” tanya Rafael dengan penuh harap


“heem” jawab Dita singkat dengan senyum tipis yang seolah terpaksa lalu dia pun keluar dari mobil dan masuk kedalam sebuah rumah, tempat dia mengajar privat.


“boss saya sudah melihat target, saya menunggu perintah boss” tanya seseorang melalui telpon dari tempat yang tak jauh dari rumah tempat Dita mengajar, setelah menutup telpon orang itu masih tetap berada disana menunggu Dita, dua jam kemudian Dita pun keluar dan sudah disambut Millan disana, mereka pergi bersama dan pergi untuk belanja


“bagaimana? Sudah kamu kirim paketnya kepadaku?” tanya Anton melalui telpon


“belum boss, ada wanita bule yang menjemputnya” kata orang yang mengikuti Dita dan Millan


“bodoh! Cepat laksanakan!’ bentak Anton melalui telponya kemudian menutup telponya


“papa yakin bisa berhasil?”tanya Cindy yang duduk di kursi ayahnya itu


“apa yang tidak untuk kamu Cindy” jawab Anton dengan bangga


“mereka berdua itu penghalang kita, satu istri satu kekasih, mereka berdua mati juga tidak masalah” kata Cindy dengan disertai seringai jahatnya


“sementara ini kamu tidak bisa sering sering ke kantor papa” kata Anton mengingatkan, Cindy pun beranjak dan kemudian berpamitan pada ayahnya untuk pergi, Anton kembali menelpon sambil melihat pada kaca bening yang menunjukkan keindahan kota, dia memerintahkan untuk menabarak mobil yang ditumpangi Dita dan Millan.


***


“Dita, ini bagus, cocok buat kamu” kata Millan sembari menunjukkan sebuah gaun pada Dita


“ah gue nggak mau pakai itu, terlalu menarik perhatian” kata Dita terkejut dengan pilihan Millan, mereka asik berbelanja dan sesekali mereka tertawa renyah, Millan merasa senang karena Dita tak lagi salah paham padanya, Millan yang mengetahui jika dia diikuti oleh beberapa orang sejak meninggalkan tempat Dita mengajar, dia pun menghubungi Sean diam diam, sementara itu, setelah berbelanja mereka pun pergi makan bersama.


“kamu sudah berbaikan dengan istri kamu?” tanya Nicholas pada Rafael


“ya, kami sudah baik baik saja” jawab Rafael


“papi saya pergi dulu ada yang perlu saya urus” kata Sean yang kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan Nicholas. Melihat Sean pergi bersama Ryan yang sudah menunggunya di pintu membuat Rafael curiga, dia pun meraih ponsel pintarnya


“jangan bilang kalian lengah, kalau sampai terjadi sesuatu kalian yang akan saya habisi” kata Rafael dengan wajah

__ADS_1


serius, Nicholas menatap putranya itu penuh keheranan, selama ini dia tidak pernah tertarik untuk ikut terjun kedalam kekerasan semenjak di Indonesia tetapi kini dia bahkan memerintahkan Bam yang dingin itu.


“ada masalah?” tanya Nicholas penasaran


“aku pikir begitu, aku akan memastikannya” kata Rafael sambil berlalu meninggalkan ayahnya, melihat putranya yang nampak buru buru itu dia pun meraih telpon yang berada dimejanya


“Anon, cari dua menantuku, pastikan kamu tahu siapa yang mencoba mengusik keluargaku” kata Nicholas tegas, dia pun kembali menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


Hingga sore Febi mendapat kabar dari Anon itu nampak cemas, dia mondar mandir di dalam rumahnya di depan pintu, dia pun menoleh ketika pintu terbuka, terdengar suara tawa Dita dan Millan


“mami”  sapa Millan sedikit heran karena melihat wajah cemas mertuanya itu


“mami kenapa bediri disini?” tanya Dita heran, Febi pun mendekat dan merangkul kedua menantunya itu,


“mami kami baik baik saja, saya sudah tahu jadi saya menghubungi Sean” kata Millan menjelaskan, mereka bertiga pun masuk dan menuju Ruang keluarga, Millan menunjukkan apa saja yang dibelinya untuk mertuanya itu, begitu pula Dita, kemudian mereka berlanjut menyiapkan makan malam, semua berkumpul kecuali Rafael, makan malam itu hanya kurang Rafael yang tidak ada bersama mereka karena Rafael tiba setelah makan malam selesai


“tuan nona Dita ada disini” kata seorang pelayan, Rafael pun langsung berlari masuk


“Dita” panggil Rafael sembari menyebarkan pandangannya mencari istrinya, begitu didapati istrinya dia langsung memeluk istrinya,


“ih ngapain sih peluk peluk, gue nggak apa apa, Sean udah cerita” kata Dita cuek


“baiklah, saya khawatir saat melihat Sean pergi bersama bersama Ryan” jelas Rafael sembari melepaskan pelukannya


“karena kamu sudah disini, maka kita perlu menetapkan tanggal resepsi pernikahan kalian” kata Febi dengan gembira sembari meraih tangan Rafael dan Dita


“itu bagus, aku ingin melihat Dita dengan gaun pengantin” kata Millan bersemangat, semuanya pun berargumen masing-masing dan merencanakan pesta pernikahan Dita dan Rafael.


“Dita kamu mau diadakan bulan depan atau bagaimana sayang?” tanya Febi


“bulan depan aja mi, lagipula Dita akan sedikti sibuk karena ini waktunya ujian, Dita banyak mengajar bahasa inggris untuk kelulusan mi” jawab Dita dengan sedikit ragu


“Dita kenapa kamu tidak menjadi translator saya saja?” tanya Millan mencoba mencari solusi


“itu bagus, jadi Dita kamu tidak perlu terbebani dengan tugas tugas untuk murid les kamu” kata Nicholas menambahkan, yang akirnya disetujui oleh Dita. Meski belum di tetapkan harinya tetapi mereka besemangat untuk mempersiapkan resepsi pernikahan Dita dan Rafael


“lima bulan sudah, tapi gini gini aj,resepsinya masih bulan depan” guman Dita dalam hatinya sambil melihat pada kalender yang berada di meja kerja Rafael


“pagi juga kakak” sapa Dita dengan senyum manis


“sudah siap?” tanya Millan


“sudah” jawab Dita dengan senyum semangatnya, Rafael dengan beberapa orang masuk kedalam ruangannya dan


memberikan intruksi pada mereka dan Millan setelah itu mereka pun meninggalkan ruangan


“ok saya masih ada pekerjaan saya akan meniggalkan kalian” kata Sean sambil menggandeng istrinya keluar dari ruangan dan menutup pintu


“gue juga harus pergi” kata Dita dan berbalik meninggalkan Rafael tetapi dihentikan oleh Rafael, ditariknya dita


kedalam pelukannya


“apa yang kamu inginkan hari ini?” tanya Rafael lembut


“lepasin gue” jawab Dita cepat, Rafael pun melepaskan pelukannya dengan kecewa


“sebentar lagi semua orang akan tahu kamu adalah istri saya, tidak kah ada hadiah untuk itu” tanya Rafael dengan


senyum jahilnya, dan semakin lebar ketika melihat tatapan Dita kepadanya


“ingat ini kantor” kata Dita dengan nada sedikit sewot lalu pergi meninggalkan Rafael


“Dita” panggil Rafael sembari melangkah menghampiri Dita yang masih memegang gagang pintu yang ingin dibukanya


“apa” jawab Dita dan berbalik melihat kearah Rafael yang sudah dibelakangnya, dia terkejut tiba tiba saja Rafael


mencium pipinya


“selamat bekerja” kata Rafael dengan senyum manis, Dita hanya tersipu dan pergi meninggalkan ruangan Rafael, dia menuju meja kerja Intan

__ADS_1


“ada yang bisa saya bantu buk?” tanya Dita pada Intan dengan suara manja


“tumben loe pagi pagi udah disini?” tanya Intan sembari menyerahkan beberapa gambar pada Dita


“mbak Dita bantuin ni juga dong” pinta Olive salah satu rekan kerja Intan, Dita pun menerima dengan beberapa kertas dengan senyum


“mbak Dita kenapa nggak jadi karyawan tetap saja?” tanya Olive polos


“maunya sih gitu tapi gue masih ada ngajar les,jadi nggak bisa” jawab Dita dengan sopan berusaha menutupi


hubungannya dengan Rafael. Dan memang beberapa karyawan mengetahuinya Dita adalah karyawan freelance bagian desain.


“nggak karyawan tetap juga Dita sudah dapat akses masuk dari Mr Rafael” kata seseorang karyawan lainnya


“masak sih?” tanya Olive tidak percaya


“iya aku lihat sendiri dulu, bahkan Mr Sean juga perhatian banget, Dita hebat bisa menggaet Mr Sean” kata orang itu lagi menambahkan


“emang dasarnya Mr Sean itu aj suka sama semua cewek” gerutu Intan yang sering melihat Sean berbincang dengan para staf wanita


“ada Fajar tan ingat tan” Olive meningatkan dengan senyum jahil, beberapa teman kerja Intan pun bergurau


bersama ditengah tengah pekerjaan mereka, jam makan siang tiba, Intan dan Dita keluar bersama untuk makan siang, Dita pun menawarkan Millan untuk ikut bersama dan menunggunya di ruang tunggu depan resepsionis


“hallo mbak, apa Mr Rafael masih ada dikantor?” tanya Cindy dengan sok


“Mr Rafael sudah keluar kantor sejak satu jam yang lalu mbak, ada pesan?” tanya resepsionis


“nenek lampir lagi, pasti mau bikin onar” gerutu Intan sambil melihat kearah meja Resepsionis


“halo Mrs Deveraux” sapa Cindy pada Millan yang berjalan kearahnya dengan senyum manis yang palsu


“mau apa kamu datang kesini? Maumengganggu suaminya orang? Dasar jalang” kata Millan tanpa memperdulikan orang orang disekitarnya dan tentu saja membuat semua yang mengenal Millan itu terbelalak, tak pernah mereka tahu Millan sekasar itu. Muka Cindy seketika langsung memerah karena malu


“et dah Miss Millan keren, nggak nyangka bisa galak juga” kata Intan yang berdiri dari duduknya itu


“apa loe lihat lihat!” Bentak Cindy melihat pada Intan


“kamu tidak ada kepentingan bisnis maka kamu tidak perlu datang kesini jika hanya untuk menggoda suami orang” kata Millan sembari memberikan isyarat dengan tangannya untuk menyuruh Cindy pergi. Merasa dipermalukan Cindy tak terima, dia pun pergi dengan wajah penuh marah dan dendam.


“lihat saja Millan gue bakal abisin loe” teriak Cindy dalam mobilnya dia pun meraih ponsel pintarnya dan menghubungi seseorang


“loe lihat baik baik wanita yang ada di photo yang barusan gue kirim, loe tabrak mobilnya” kata Cindy dengan marah


kemudian menutup telponya dan kemudian mengendarai mobilnya menjauh dari gedung The Deveraux. Setelah makan siang selesai Intan pun bergegas menuju kantor sedangkan Millan dan Dita melanjutkan berkeliling mall mencari sesuatu yang menarik perhatian mereka, tak lupa mereka mebelikan psangan mereka masing masing,menjelang sore mereka pun pulang, meski hampir seharian merekan tak terlihat lelah.


Padatnya lalu lintas lantaran jam pulang kerja tak membuat mereka gusar, mereka terus berbincang sesekali Dita mengajari Millan berbahasa Indonesia, tiba di jalur yang tak terlalu ramai tiba tiba mobil yang mereka tumpangi itu diserunduk truk dari belakang dan hilang kendali, kecelakaan yang tak diduga oleh Millan membuat mereka berdua cedera, beruntung ada beberapa warga yang melihat kejadian itu menolong mereka, sementara orang orang Rafael serta Anon yang mengikuti mereka langsung menghampiri dan membawa mereka kerumah sakit. Beberapa orang  lainnya mengejar truk itu dan beberapa lagi mencari tahu melalui warga yang ada disana, mereka pun bergegas memeriksa mobil Millan dan membersihkan beberapa barang yang ada, mereka melakukan dengan baik dan professional, sehingga saat polisi datang nampak seperti kecelakaan tunggal biasa. Dirumah sakit meski luka ringan, luka di lengannya yang sudah diperban itu membuat Millan meringis sedangkan Dita memar di keningnya dan serta lengannya lebih parah dari Millan disebabkan serpihan kaca mobil.


“Millan Dita” suara Febi yang panik menghampiri mereka mereka yang duduk bersebelahan


“mami” sapa Millan dan Dita hampir bersamaan, diikuti Sean yang kemudian memeriksa lengan Millan, dan juga Dita


“mami kita berdua baik baik saja, ini hanya luka kecil” jawab Millan menenangkan


“nggak ada luka kecil, ini harus dirawat” kata Febi panic sambil emlihat luka luka Millan dan Dita bergantian.


“mami benar” kata Sean menambahkan


Rafael yang datang sedikti lebih lama langsung menghampiri Dita dan memeluk Dita


“kamu mana yang sakit?” tanya Rafael sambil melihat kening Dita


“ah sakit” kata Dita seketika karena Rafael tak memperhatikan lengan Dita yang terbalut perban. Belum Rafael


mengeluarkan suara telpon pintarnya berbunyi


“ya pak Bam, apa yang kamu dapatkan?”


“saya sudah mendapatkan penabrak itu tuan, anda mau melihatnya atau saya bereskan?” tanya pak Bam dari seberang telpon

__ADS_1


“tunggu saya besok pagi” kata Rafael tegas kemudian menutup telponya. Mereka pun meninggalkan rumah sakit lantaran baik Dita maupun Millan tidak bersedia untuk menginap dirumah sakit.


__ADS_2