Untuk istriku

Untuk istriku
Menyadari Ketulusan Cinta Rafael


__ADS_3

Seminggu Dita terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri, Rafael dengan setia menaminya, dia bahkan mengerjakan


pekerjaanya di rumah sakit didalam ruang VVIP istrinya dirawat.


“mama, satria boleh nggak jenguk bu guru tante?” tanya Satria pada Citra dengan wajah manja


“jangan dulu sayang, tunggu nanti bu guru tante siuman ya” bujuk Citra yang membawa anaknya itu bertugas di rumah sakit, setelah menenangkan anaknya dia pun pergi memeriksa pasiennya satu persatu


“selamat siang tuan Deveraux” sapa Citra pada Rafael yang tidak meningggalkan istrinya itu, dia hanya pulang untuk berganti pakaian saja.


“selamat siang dokter” kata Rafael yang sedang duduk disebelah istrinya itu


“sejauh ini semuanya normal, tetapi karena benturan yang tidak hanya sekali dan luka di kepala yang menyebabkan istri anda koma, kami tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar” kata Citra menjelaskan


“dokter apa tidak ada cara untuk membuatnya sadar?” tanya Rafael penuh harap, wajahnya terlihat letih karena kurang istirahat dan kacau.


“anda tidak perlu khawatir, semuanya membaik meskipun kami tidak bisa mengatakan kepastian kapan dia akan tersadar dari koma, bisa sore ini, besok atau bulan depan itu kami tidak bisa memastikan” kata Citra dengan suara lembut berusaha menenangkan Rafael, setelah memeriksa detak jantung sekaligus denyut nadi Dita yang mengalami perkembangan Citra pun meninggalkan Ruang


“sayang bangunlah” kata Rafael dengan suara pelan, dia pun mencium pipi istrinya itu, Rafael mengusap lembut rambut istrinya, dipandaginya Dita dengan seksama, masih nampak luka lebam di bagian pipi atas dan dibawah bibir Dita, dalam komanya Dita mendengar semua keluhan dan penyesalan Rafael


“Cindy, papa dengar Dita masuk rumah sakit” kata Anton di kediamanya


“ya dan semoga dia cepat mati” jawab Cindy ketus


“jangan dulu kita masih membutuhkan Dita, semua yang kita dapatkan tidak akan ada artinya jika Dita mati” kata Anton menjelasakan pada Cindy anak semata wayangnya


“papa, suruh aja pengacara merekayasa semuanya” kata Cindy dengan santai


“tidak bisa karena ada dokumen internasional, ini sangat ketat anakku” kata Anton berusaha menjelaskan


“lalu apa rencana papa?” tanya Cindy dengan wajah penuh pertanyaan


“papa masih belum memikirkannya, andai saja Endra Group mau memberikan suntikan dana maka ini bisa diatasi” kata Anton dengan serius


“siapa pemilik Endra Group itu?” tanya Cindy dengan senyum licik dan antusias


“tidak ada yang tahu, selama ini Endra Group berjalan beriringan dengan The Deveraux” jelas Anton sembari menatap putinya


“kalau begitu Cindy akan bantu papa, jadi papa tenang saja” kata Cindy manja pada papanya dan berusaha membuat papanya itu senang. Dalam pikiran Cindy tersusun banyak rencana untuk masuk kedalam keluarag Deveraux


“mami sudah lebih dari seminggu Dita dirumah sakit apa mami tidak ingin menjenguknya?” tanya Millan yang baru pulang dari menjenguk Dita


“mami akan jenguk nanti” kata Febi lembut dan tersenyum pada Millan sembari mengelus lengan menantunya itu


“kamu istirahatlah” kata Febi lembut pada menantunya yang kemudian meninggalaknnya di kamarnya sendirian.


“maafkan mami Dita, mami menjenguk kamu sebagai anak Diana bukan menantu mami” guman Febi pelan dengan mata yang berkaca kaca, dia masih membayangkan keadaan Dita yang dilihatnya di hari pertama di rumah sakit, luka lebam di beberapa tubuhnya dan wajahnya itu membuat hati Febi iba, dia kasihan melihat Dita, disatu sisi dia kecewa karena merasa Dita tidak jujur kepadanya.


“Diana, maafkan aku yang tidak bisa memenuhi keinginanmu, aku telah mengabaikan Dita” suara Febi yang hanya bisa didengarnya sendiri. Febi yang diam diam mengunjungi Dita tanpa sepengetahuan anak anaknya itu hanya bisa bersedih didalam kamarnya


“aku yang meminta Dita menikah dengan anakku, tidak seharusnya aku mengacuhkannya” katanya lagi dengan tegas sembari mengeringkan air matanya. Dia pun berdiri dan meraih tasnya lalu berjalan keluar kamarnya


“sayang mau kemana?” tanya Nicholas yang baru saja tiba


“ke rumah sakit, biarkan el pulang untuk hari ini, aku mau menemani Dita malam ini” kata Febi lembut dan menyambut suaminya dengan pelukan


“itu lebih baik dari pada diam diam menjenguk menantu kesayangmu” kata Nicholas dengan tersenyum lembut pada istrinya. Febi hanya cemberut mendengar kalimat suaminya, dia tahu tidak akan ada yang bisa dia sembunyikan dari suaminya itu.


“tidak apa apa kan malam ini aku tidak di pelukan suamiku ini” kata Febi mencoba menggoda suaminya, dia mencoba membuang topik yang tidak dia inginkan


“tentu saja, aku akan menjemputmu besok pagi” kata Nicholas lalu mencium lembut bibir istrinya


Setelah Febi keluar dari rumah Nicholas memanggil David dan meminta untuk menyembunyikan fakta dari Rafael bahwa tangan kanan Anton terlibat dengan kejadian yang menimpa Dita


“baik tuan, saya sudah menyekapnya dan menunggu perintah anda” kata David dengan tegas


“bawa dia kegudang besi” kata Nicholas dengan suara penuh amarah lalu berjalan keluar rumah diikuti oleh David


“el, mami disini kamu pulang saja dulu biar mami yang jagain Dita” kata Febi yang tiba di ruang rawat Dita dan


mengusap rambut anaknya yang duduk meletakkan kepalanya disamping Dita yang sedang berbaring tak sadarkan diri itu


“mami, terima kasih sudah datang, tapi saya tidak mau meninggalkan Dita” kata Rafael dengan suara lesu


“Dita tidak akan suka melihat kamu seperti ini” kata Febi mencoba membujuk Rafael tetapi tak berhasil, Rafael benar benar tak ingin meninggalkan Dita, dia ingin berada disisi istrinya dan menunggunya sadar


***

__ADS_1


“Sapto saya tidak menyangka kamu berani mengusik saya” kata Nicholas duduk di sebuah kursi di gudang tua miliknya


“tuan Nicholas saya tidak tahu apa maksud anda, tidak seharusnya anda menyekap saya” kata Sapto yang merasa


ketakutan itu


“kamu tahu dengan benar apa kesalahan kamu” kata Nicholas dingin dan terdengar seram


“tolong jelaskan tuan, saya akan memperbaikinya dimasa depan” kata Sapto mencoba mencari kesempatan bernegosiasi


“kamu tidak sedang dalam perjalanan bisnis sapto jangan menawar!” bentak Nicholas dengan tatapan tajam yang


mematikan


“tuan saya benar benar tidak mengerti” kata Sapto dengan memelas


“kamu tahu siapa saya?” tanya Nicholas dengan tegas dan pelan yang membuat anak buahnya yang memegangi Sapto yang sudah babak belur itu mundur tiga langkah


“tuan tolong ampuni saya, saya sungguh sungguh tidak mengerti maksud anda” kata Sapto memohon dan berlutut dengan suara yang putus asa


“sial, kali ini aku benar benar sial”kata Sapto dalam hatinya, dia tertunduk dan berlutut memohon ampunan Nicholas


“kesalahnmu adalah mengusik keluargaku, seharusnya kamu sudah tahu itu saat kamu mulai menjadi kaki tangan Anton Subrata” kata Nicholas tegas serta suara tinggi


“tuan saya benar benar tidak tahu” jawab Sapto berusaha mencari pengampunan akan tetapi Nicholas tak ingin mendengar lagi dia mengeluarkan pistol dari belakang jas hitamnya lalu menembak kepala Sapto


“bersihkan dengan rapi” kata Nicholas memerintahkan pada anak buahnya, dia pun pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara itu digedung the Deveraux


“tuan Sean maaf jika saya lancang, apa tuan tidak ingin melakukan sesuatu? Jika anda diam saja maka akan banyak nyawa yang melayang tuan dan itu tidak baik kedepanya” kata Ryan mencoba mengingatkan Sean


“undang anak perempuan Subrata untuk makan malam dihotel” kata Sean dengan geram


“tapi tuan ..” kata Ryan hendak menyela tetapi Sean memotong kalimatnya


“lakukan saja perintahku” kata Sean dengan suara tinggi, dia pun meraih telpon yang ada di mejanya dan menghubungi seseorang, beberapa menit kemudian Bam datang menemuinya


“tuan Sean membutuhkan sesuatu?” tanya Bam dengan sopan


“apa ada yang tidak saya tahu?” tanya Sean dengan menatap Bam, tatapanya bagaikan laser yang siap memotong daging dengan seketika


“Rafael tahu akan ini?” tanya Sean lagi masih dengan tatapan yang sama


“tuan Rafael tahu tuan ada kemungkinan tuan Nicholas sudah bertindak” jawab Bam dengan tenang dia pun meninggalkan ruangan setelah melihat isyarat tangan Sean memintanya keluar


“tuan ada lagi yang tuan inginkan?” tanya Ryan pada Sean


“tidak ada lakukan saya yang aku perintahkan barusan” kata Sean kemudian Ryan meninggalkan ruangan, hari itu


Nicholas tidak datang kekantor, setelah urusannya selesai dia mengunjungi Dita di rumah sakit, Intan pun berada disana


“ta, gue datang, gue kangen sama loe, udah lama kita nggak makan bareng, tukang somay nyariin loe” kata Intan yang sembari mendekatkan bibirnya ke telinga Dita


“Intan kamu disini, dimana Rafael?” tanya Nicholas yang baru saja tiba itu


“mr Rafael sedang kekantin Mr, baru saja” kata Intan menjelaskan dengan sopan


“bagaimana keadaan Dita?” tanya Nicholas yang menatapa Dita dalam dalam


“kata dokter belum ada perubahan yang memuaskan Mr” jawab Intan dengan suara pelan,terlihat dari suaranya dia sangat sedih melihat sahabatnya itu terbaring tak sadarkan diri


“papi, sejak kapan papi datang?” tanya Rafael yang masuk kedalam ruang rawat inap itu


“setengah jam yang lalu, bersabarlah dia pasti akan segera sembuh” jawab Nicholas yang mendekati anaknya dan menepuk bahu anaknya dengan lembut serta menguatkan anaknya. Waktu berlalu sangat lambat unutuk Rafael, tak terasa tiga minggu Dita sudah terbaring tak sadarkan diri, Millan dan Sean yang datang kerumah sakit itu menatap Rafael dengan penuh iba, Sean pun tak menyangka Rafael banyak menghabiskan waktu disamping Dita, Sean hanya menatap dengan senyum tipis, entah bahagia atau sedih dia sendiri tidak tahu.


“Rafael makanlah, kamu juga harus menjaga kesehatanmu” kata Millan sembari membuka bekal makanan yang dibawanya


“kamu terlihat kurus semenjak Dita jatuh sakit, jangan biarkan dirimu jatuh sakit, makanlah dengan tenang” kata Sean yang menatap adiknya itu, Rafael pun memakan makanan yang dibawa kakaknya itu, dia membenarkan perkataan Sean, kalau dia sakit siapa yang akan menjaga Dita, itu yang dia pikirkan, setelah memakan habis makanan yang dibawa oleh Sean dan Millan dia kembali duduk disebelah ranjang tempat Dita terbaring, digenggamnya tangan istrinya


“katakana padaku kamu tidak menyisakan satupun” kata Rafael mencari tahu dengan situasi yang mereka coba kendalikan


“tidak ada, yang terlewat pun papi sudah mengatasinya” kata Sean dengan santai,


“Dita, apa kamu baik baik saja? Kamu dengar? Mereka semua sudah dibereskan” tanya Rafael yang merasakan tangan Dita yang digemaggamnya bergerak, Sean yang berdiri bersandar pada tembok itu langsung terhenyak dan meluruskan punggungnya, dia melihat alat medis yang terpasang mulai berbunyi lebih cepat, Millan menyadari dengan yang terjadi dia langsung menghampiri tombol darurat untuk memanggil dokter


“apa yang terjadi?” tanya Sean yang terkejut

__ADS_1


“tuan Deveraux tolong anda minggir sebentar” kata Citra yang segera datang kedalam ruang rawat inap Dita meminta ruang untuk memeriksa Dita


“tidak apa anda jangan khawatir, ini hanya reaksi tubuh Dita, tidak ada yang menghawatirkan’ kata Citra setelah


memeriksa Dita


“Dita jangan takut aku ada disini” kata Rafael pelan sembari mengusap lembut rambut istrinya


“kalau begitu saya tinggal dulu” kata Citra dengan lembut


“terima kasih dokter” kata Millan. Tak lama kemudian Intan masuk dengan membawa buah dan makanan untuk Rafael, dia tahu Rafael tak meninggalkan sahabatnya yang terbaring tak sadarkan diri itu sedikitpun,Dua puluh menit Citra meninggalkan ruang dimana Dita dirawat, tangan Dita bergerak dan mulai sadar, dia manarik napas pelan


“Dita” suara Rafael dan Millan hampir bersamaan, Millan yang berdiri disampig ranjang itu melihat Dita bernapas dan kelopak matanya mulai bergerak, sementara Rafael yang tak melepaskan genggaman tangannya itu merasakan tangan Dita membalas genggamannya


“Rafael” suara Dita pelan dan parau, Rafael langsung berdiri dan menyentuh lembut pipi Dita


“aku disini” jawab Rafael dia tersenyum lebar keteika melihat Dita yang terbaring lemah itu tersenyum kepadanya


“Syukurlah Dita kamu akhirnya sadar” suara Intan dengan suara yang ditahan, dia sangat bahagia melihat Dita  yang sudah sadar


“Dita Syukurlah kamu sudah sadar” kata Millan dan Sean yang hampir bersamaan, Sean langsung meraih ponselnya dan mengabari Nicholas


“Intan, kak Sean, Millan” suara Dita memanggil semua yang ada didalam ruangan, mereka bertiga berdiri disebelah


Ranjangnya


“Rafael berapa hari kamu disini?” tanya Dita dengan suara lemah serta senyum tipis tersemat dibibirnya


“ta dia nggak mau ninggalin loe sama sekali” jawab Intan dengan senyum bahagia


“bahkan ruangan ini menjadi kantornya” kata Sean dengan tersenyum serta raut wajahnya benar benar terlihat gembira


“aku mendengarnya Sean” kata Dita yang masih dengan suara lemah


“elo denger kenapa bangun lama amat ta” seloroh Intan dengan gaya kocak mencoba membuat senyum Dita semakin terlihat yang membuat Sean dan Rafael tertawa kecil


“ini kenapa jelek, mana pangeran Dita yang tampan? pulanglah dan kembali kesini membawa pangeran Dita yang tampan” kata Dita pada Rafael dengan tersenyum tipis, meski pelan tetapi semua mendengar apa yang dikatan Dita, Intan pun langsung tertawa


“pangeran Dita denger kan?pulang sana mandi” goda Intan sembari mencolek lengan Rafael


“pulanglah saya dan Millan juga Intan akan disini sampai kamu kembali” kata Sean dengan senyum lebar


“baiklah, saya akan segera lembali I love you” kata Rafael kemudian mencium kening istrinya dengan lembut, dia pun beranjak dan meminta izin pada istriya untuk pulang sebentar, Millan memanggil dokter Citra untuk memeriksa Dita. Beberapa pemeriksaan dilakukan, Dita hanya perlu melakukan pemulihah


“mami mana?” tanya Dita pada Millan dan Sean


“jangan pusing mami, kalau belum tahu bisa jadi kejutan” kata Intan yang mencoba mengalihkan perhatian Dita, tetapi jawaban Intan tak membuatnya senang, Dita yang sudah duduk bersandar itu merasa ada yang kurang, dia ingin ada Febi didekatnya.


“ta maaf ya, gue nggak bisa lama karena gue harus balik kekantor, sudah ada Mr Sean dan Millan, nggak apa apa kan gue tinggal?” tanya Intan lembut dan mengusap pundak Dita tetapi justru membuat Dita meringis sakit


“eh sakit ya, maaf” kata Intan yang terkejut


“berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanya Dita


“ada tiga minggu” jawab Intan tegas


“jangan khawatir, dokter bilang baik baik saja” jawab Millan menenangkan Dita. Setelah tiga jam kemudian Rafael


kembali, dia juga membawa buket bunga untuk Dita


“ok kami akan meninggalakan kalian” kata Sean dengan senyum lembut dan tatapan tedunya itu, dia dan Millan keluar meninggalkan rumah sakit


“hey, apa ada yang sakit?” tanya Rafael yang mendekat dan menyentuh pipi Dita yang masih  menyisakan bekas memar itu


“tidak ada” jawab Dita lembut dan memegang tangan Rafael yang menyentuh pipinya


“maafkan saya yang tidak menjawab panggilanmu waktu itu” kata Rafael menyesali kelalaianya dia mendekatkan


dirinya lebih dekat pada Dita dan memeluk istrinya


“Rafael maaf kan aku” kata Dita yang membalas pelukan suaminya itu dengan suara pelan


“tidak bukan kamu yang salah” kata Rafael mencoba menyalahkan dirinya, tetapi Dita menggelengka kepalanya


“maafkan aku yang tidak menyadari cintamu” kata Dita lembut, tatapan matanya penuh dengan cinta,


“apa saya tidak salah melihat?” tanya Rafael dengan senyum kemenangan, dia benar benar melihat cinta dimata Dita

__ADS_1


“nggak, aku dengar semuanya, terima kasih sudah mencintaiku” kata Dita dengan pelan yang masih terdengar oleh


suaminya itu Rafael pun tersenyum lebut dan menatap istrinya dengan hangat, diciumnya istrinya lalu meletakkan kepala Dita di dadanya, dia sangat bahagia karena dengan tersadarnya Dita dia juga mendapatkan tempat dihati istrinya


__ADS_2