
Intan yang masih panik melihat
sahabatnya pingsan justru membuat Rafael semakin panik.
“what happen?” Tanya Rafael pada Intan
yang masih panik dan kebingungan
“ceritanya entar aja Mr, minggir napa”
jawab Intan sedikit sewot lantaran Rafael dia kesulitan mendekati Dita
“Ditaaa sayang, bangun” suara Intan
berusaha membangunkan Dita. Tak berapa lama Dita pun sadar, dia melihat
sekelilingnya dengan wajah yang masih nampak pucat
“Intan bawa gue pulang” kata Dita
meminta pada Intan dengan suara parau
“iya iya kita pulang, tapi kerumah gue
ya, gue nggak mau loe sendirian” jawab Dita yang kemudian merangkul Dita
membantunya bangun dan berjalan
“saya antar” kata Rafael menawarkan akan
tetapi ditolak oleh Intan dengan sewot
“nggak usah Mr makin ribet entar” jawab Intan sewot yang lupa berbicara pada siapa, Rafael hanya melihat mematung melihat Dita dan Intan yang berjalan keluar ruangan dan menghilang dari
pandangannya dan dia pun kembali keruang kerjanya dengan langkah lesu.
Didalam mobil yang melaju menuju rumah Intan terasa hening tak seperti biasanya, Dita hanya terdiam, sesekali Intan mengusap rambut gadis itu
“malang bener ta nasib loe, kalau tahu bakal kayak gini, gue nggak akan ngajak loe
kekantor tadi” kata Intan dalam hati
“seharusnya gue nggak bujukin loe buat datang kekantor, ini semua salah gue” kata intan
lagi dalam hatinya yang sesekali mengusap rambut Dita yang terdiam dan tatapan yang penuh dengan kesedihan kekesalan
“loe istirahat aja dulu ya, loe nginep disini, rumah gue selalu terbuka buat loe” kata Intan dengan senyum lebar
berusaha menghibur Dita yang dipandunya menuju kamarnya untuk segera istirahat.
“kalau ada apa-apa loe bisa cerita sama gue ya, jangan kabur-kabur lagi kayak dulu” kata intan merayu pada Dita yang masih diam seribu bahasa.
“ma Dita nginep disini”kata Intan pada mamanya yang tiba-tiba berada didepan pintu dengan senyum manisnya berusaha mencairkan suasana.
“oh ya? Wah tante seneng banget akhirnya Dita mau nginep disini” jawab mamanya Intan disambut dengan senyum dan mendekati Dita.
“makasih tan, tante” kata Dita membuka suara sambil melihat pada Intan dan mamanya bergantian.
“gue balik kekantor dulu, ada yang ketinggalan” kata Intan
“memang apa yang ketinggalan?” Tanya mamanya dengan raut muka penasaran dan menghampiri Intan yang sudah berada di pintu kamarnya, sambil membalikkan badannya dia tersenyum pada mamanya
“pacar gue” jawab Intan centil
“et dah anak gue ganjen amat” seloroh mamanya Intan dan terkekeh membuat Dita tersenyum tipis meski dengan raut muka yang penuh kesedihan.
“ini ada apa? Dita kenapa?” Tanya mamanya dengan suara pelan
“ceritanya nanti aja, pokoknya mama jangan Tanya yang aneh-aneh” jawab Intan yang kemudian berpamitan untuk kembali kekantor.
Di meja kantornya Intan melihat apa-apa yang bisa dikerjakan dirumah, tak lupa dia menyiapakan surat izin tidak masuk kerja. Dia pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Nicholas diketuknya pintu ruang
kantor Nicholas tapi tak ada jawaban.
“kemana ini boss, apa kena serangan jantung didalam terus koit” gumannya
dalam hati
“eh man, Mr boss kemana ya?” Tanya Intan pada salah seorang OB yang melintas.
“barusan keluar mbak” jawab OB itu dengan senyum ramah
“ya sudah” kata Intan Singkat, dia pun berjalan kembali kemeja kerjanya dengan menggerutu
“cepet banget ilangnya, gak tanggung jawab, udah bikin sahabat gue pingsan sekarang kabur” gerutunya. Langkah
kakinya terhenti tatkala melihat pintu ruangan Rafael yang terbuka dia pun
mengintip kedalam ruangan itu.
__ADS_1
“ngapain itu si ondel-ondel disini” guman Intan, dia berkata pada dirinya sendiri
“I am busy Marissa, sorry” jawab Rafael singkat tanpa melihat pada Marissa, wanita yang tergila-gila pada Rafael tapi hanya ingin kemewahan saja, dia tidak tulus pada Rafael.
“hehehehe rasain tuh ditolak lagi” guman Intan yang kemudian dia pun kembali ke meja kerjanya.
“I am so bored, ayo kita hangout” kata Marrisa pada Rafael yang kemudian mendekat kemeja Rafael lantaran tak ditoleh sedikitpun
“ini kenapa sih bule, biasanya masih ngliat ke gue, tapi kenapa sekarang dingin
banget” gerutu Marrisa dalam hati
“apa luka dikepalanya bikin dia gak waras sampai-sampai mengabaikan wanita cantik
dan seksi kayak gue.” gerutunya lagi dalam hati
Rafael pun beranjak dari kursinya dengan membawa bebebrapa berkas
“I have meeting now, if you want you can wait” kata Rafael pada Marrisa yang lagi-lagi tanpa menoleh padanya. Dan memang
Rafael tidak lagi tertarik untuk berbincang dengannya sebab dia justru kabur saat dia mengalami kecelakaan.
“heh! ngapain gue nunggui loe, mending gue ke mall” gerutu Marrisa dengan muka sewotnya
“perasaan dulu nggak gini, dia masih ngarepin gue, masih mau gue peluk-peluk” gerutunya lagi yang kemudian beranjak dari tempatnya dan emninggalkan kantor Rafael
“Diman, tolong ini taruh di mejanya Mr Nicholas ya” pinta Intan pada OB yang sedang mengambil gelas kosong di beberapa meja
“oh iya mbak, saya antarkan saja dulu, takut lupa” kata OB yang bernama Diman dia menerima amplop dari Intan dan pergi.
“tan tadi itu kenapa sih di ruang Mr Nicholas” Tanya seorang karyawan wanita pada Intan
“nggak apa-apa cuman shock aja” jawab Intan singkat sambil melihat kearah teman kantornya yang bertanya, dia juga bersiap akan pulang
“kamu pulang cepat?” Tanya Fajar yang tiba-tiba muncul
“iya pak, soalnya tadi teman saya yang dari sini tiba-tiba sakit” kata Intan menjelaskan
“Dita? Kenapa?” Tanya Fajar dengan mengerutkan dahinya
“Tanya aja tuh sama orang dibelakang bapak” jawab Intan nyolot sambil menunjuk Mr Nicholas dengan bibirnya.
“apa?” Tanya Nicholas yang tidak mengerti alur pembicaraan dengan wajah bingung
“nothing Mr” jawab Intan dengan wajah datar dan senyum yang dibuat-buat.
“hows her? Is she fine now? Tanya Rafael pada Intan
“don’t worry Mr she is fine” jawab Intan dengan wajah penuh pertanyaan
“kok Mr Rafael kenal Dita, kenal dari mana? kan pas kecelakaan nggak ketemu” katanya dalam hati
“bukannya Dita nggak dan ogah masuk ke gedung perkantoran“ gumannya lagi dengan
tatapan penasarannya.
“kalau Mr mau tahu, telpon aja sendiri” katanya pada Rafael dengan wajah datar dia pun beranjak dari meja kerjanya. Dia seolah tidak perduli berbicara dengan siapa, dia tak lagi memperdulikan dengan
sikapnya, dia akan dipecat atau tidak tak ada pikiran itu dibenaknya, yang ada hanya kekecewaan dan kekesalan.
“I don’t her number” Jawab Rafael datar tapi masih didengar orang-orang yang sedang berbincang itu, dia mengerutkan dahinya
“oh Shit, she is right, I don’t have her number, why I don’t ask Dita even I met her again and again” batin Rafael
membuat wajahnya seketika kecewa meski terlihatnya sangat tipis
“oh iya Mr saya izin ya besok saya tidak masuk” Intan yang memutar badannya itu menghadap Nicholas dengan senyum yang dibuat semanis mungkin agara atasannya itu tidak protes.
“why?” Tanya Nicholas dengan mengerutkan dahinya
“kenapa, tumben” Fajar menambahkan
“my friend Dita need me Mr, barusan pingsan karena Mr jadi saya bertanggung jawab menjaga dia sampai pulih” kata Intan memperjelas dengan menekan kata Dita yang membuat Nicholas mengangguk
“ok, enjoy your break” jawab Nicholas dengan senyum yang seolah memberikan kalimat dia memang harus menemani Dita
“thank you Mr” kata Dita dengan menundukkan badannya seperti memberi hormat, Fajar hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu, Intan hendak menngatakan sesuatu pada Fajar tetapi justru cemberut karena ancaman Rafael
“you want to go home now atau saya pecat” kata Rafael dengan mengankat tangannya menunjuk pada lift yang membuat senyum Intan seketika menghilang
“iya iya Mr saya pulang, ini kenapa ikutan galak kayak babonnya” gerutu Intan dengan melangkah pelan-pelan menuju lift dan masih melihat pada Rafael
“come to my office I will give you her number” kata Nicholas dengan menepuk lengan Rafael, dia juga tersenyum tipis lantaran kali pertama dia mengetahui Rafael tidak meminta nomor telpon gadis yang ia temui Nicholas pun berlalu dari ruang karyawan
***
“ Loh kalian nggak sarapan dirumah?” Tanya mamanya Intan
“nggak ma, kita mau keluar” kata Intan yang sudah bersiap, Dita juga nampak sudah terlihat ceriah seperti sebelumnya.
__ADS_1
“oh ya sudah kalian ati-ati dijalan” kata mamanya Intan yang, Intan pun berpamitan begitu juga Dita.
“oh ya, tolong telponin papa ya, Intan kangen sama mobilnya Intan” kata Intan manja sambil masuk kedalam mobil putih milik ayahnya.
“iya nanti mama telpon papa, hati hati ya kalian” kata mamanya Intan sambil melambaikan tangannya.
“ta, kita pijat yuk? Gue yang traktir” kata Intan mencoba mengusir kebisuan Dita
“nggak ah” jawab dita dengan malas
“et dah Zaebab tumben gak mau sama traktiran” goda Intan mencoba sahabatnya itu tersenyum
“loe traktir gue brownis di Vap café aja gimana?” tawar Dita yang mulai bersemangat dan melupakan kejadian yang
membuatnya terguncang kemarin.
“nah loe bambank loe suka juga ke Vap hahahaha kirain loe cuman suka sama bakso” canda Intan dengan tawa renyah Dita pun memukul lengan dita
“loe pikir karena gue miskin raya terus nggak bisa makan disana gitu” sahut Dita dengan sedikit tersipu
“gini-gini gue juga manjaain perut” Dita menambahkan dengan menekankan pada kata perut mereka pun tergelak. Intan melihat Dita dan tersenyum melihat sahabatnya yang sudah kembali pulih dari
kesedihannya kemarin.
“ duduk disitu ya” kata Intan sambil menunjuk pada bangku kosong di pojok, café berkaca transparan itu tak cukup
ramai sehingga Dita memilihnya untuk menenangkan pikirannya.
“oh iya itu sebelah ada tempat pijat, gue kesana dulu, sementara loe pesen apa aj sesuka loe, entar gue yang bayar” kata Intan dengan kalimat panjang yang lancer dan tegas serta gaya kocaknya membuat Dita tak bisa menahan tawa kecilnya, dia pun mengangguk, segera Intan keluardari café dan menghilang kedalam tempat pijat umum.
Dita yang termenung menatap layar ponselnya itu dikejutkan oleh suara yang memanggilnya
“Dita” sapa Febi Dita langsung berdiri dengan senyumannnya menyambut sapaan Febi
“bu Febi” balas Dita
“kamu disini sama siapa?” tante boleh gabung sama kamu?” Tanya Febi
“saya dengan teman bu, tapi dia sedang kesana sebentar” jawab Dita sambil menunjuk tempat pemijatan umum melalui kaca transparan café
“oh, kalau gitu tante boleh duduk disini?” Tanya Febi telunjuknya pun menunjuk pada kursi disebelah Dita
“iya, silahkan bu” Dita mempersilahkan dan menggeser sedikit duduknya. Febi pun duduk disebelah Dita
“jangan bu, panggil aja tante” katanya dengan mencubit dagu Dita lantaran gemas yang masih memanggilnya ibu meski sejak di rumah sakit sudah diminta untuk memanggilnya tante. Mereka pun berbincang-bincang banyak sesekali Dita tertawa lepas dengan cerita-cerita Febi, membuat Dita teringat dengan ibu nya yang sudah meninggalkannya sejak beranjak SMP. Dia sangat menikmati berbincang dengan Febi, sementara Febi pun
merasa menemukan teman curhat yang pas untuk selera fashionnya, dia tidak
menyangka Dita juga punya pengetahuan Fashion yang baik meski saat ini penampilannya casual dan sederhana.
“oh iya Dita kalau ngajar full seharian” Tanya Febi dengan melihat dalam-dalam pada Dita
“nggak tante, hanya hari kamis dan jumat saja Dita ngajar penuh seharian” dengan senyum dan sesekali meminum minuman yang sudah Ia pesan semenjak Intan meninggalkannya.
“tante mengingatkan Dita sama mama” kata Dita tanpa melihat pada Febi tetapi pada ponselnya yang mendapati pesan masuk dari Intan yang meminta untuk pesan makanan karena dia sudah selesai.
“kamu boleh anggap tante seperti mama kamu sendiri” kata Febi dengan wajah berseri menatap Dita
“kamu juga boleh curhat apa aja sama tante, atau kalau butuh apa-apa kamu jangan sungkan ngomong ke tante” kata Febi memberikan kebebasan untuk meminta kepadanya apa saja yang di balas senyuman
oleh Dita yang menatap Febi dalam-dalam
“sungguh? Dita boleh anggap tante seperti mama Dita sendiri?” Tanya Dita memastikan apa yang dia dengar, Febu pun mengangguk dan memeluk Dita
“papi keterlaluan, anak sebaik ini dibuat pingsan” kata Febi dalam hati
“kalau saja Diana juga masih hidup, pasti aku semakin senang jika dia ada bersama kalian disini” gumannya lagi dalam hati dengan tersenyum bangga juga dia memeluk Dita, ia melepaskan pelukannya itu ketika seorang pelayan
mengantarkan makanan pesanannya.
Sembari menunggu Intan mereka berdua bersenda gurau, Dita menikmati sekali berbincang dengan Febi
“spadaa zaenab gue udah sele ….” Intan tidak melanjutkan kalimatnya lantaran terkejut bercampur tidak percaya melihat siapa yang duduk dibersama Dita
“bu Febi” suara Intan pelan, dia pun memberikan hormat pada Febi, Dita hanya melihat Intan yang sedikit kebingungan itu, sedangkan Febi memberikan isyarat diam dan menutup bibirnya dengan tulunjuknya tanpa sepengetahuan Dita.
“jadi ini teman kamu?” Tanya Febi pada Dita
“iya tante, dulu kami tetangga sebelum dia pindah, setelah itu kami ketemu kembali saat kuliah dan berlanjut menjadi sahabat” jelas Dita dengan santai
“kebetulan, tante juga kenal sama dia, dia ini karyawan teladan dan desainer furniture terbaik dikantornya” puji Febi
“ah bu Febi bisa aj” jawab Intan dengan senyum tersipu”
“Et dah kalau Dita tahu siapa bu Febi, bisa berabe semuanya”kata Intan dalam hati dengan wajah yang sedikit cemas
“bisa-bisa ngilang lagi entar ni anak, gue yang repot dimarahin papa” gerutu Intan dalam hatinya karena kemunculan Febi. Kecanggungan Intan itu hilang ketika melihat kedekatan Dita dan Febi, dan sama sekali tidak menyinggung masa lalu Dita, Febi sama sekali tidak menunjukan kalau dia adalah istri Nicholas Deveraux. Intan pun jadi mengenal Febi, yang selama ini dikenal dingin ternyata orangnya baik.
__ADS_1