
Mobil yang dikendarai Intan pun tiba
digedung tinggi tempat Intan bekerja, cepat-cepat dia melepaskan sabuk pengaman
yang mengikat dirinya, sedangkan Dita hanya diam dan ragu
“tan kenapa kita kesini” Tanya Dita
dengan suara pelan, raut muka yang tidak nyaman terlihat jelas menghiasi
wajahnya
“udah pokoknya loe ikut aja” kata Intan
yang tak memberi jawaban yang diharapkan Dita, dia melepaskan sabuk pengaman
dari kursi Dita dan menarik Dita keluar dari mobilnya. Adegan saling tarik
menarik pun terjadi, dengan gaya gugup dan konyol Intan membuat security yang
berjaga di pos juga yang sedang bediri di pintu masuk membuat mereka geleng
kepala, tibalah mereka di depan pintu utama lobi kantor
“lepasin gue” bentak Dita dengan suara
yang ditahan, dia melemparkan tangan Intan yang sedari tadi berusaha menariknya
masuk kedalam gedung. Intan yang tidak mau kalah melotot kepadanya dan dengan
suara tertahan dia berusaha menjelaskan pada Dita alasannya dia diabawa ke
kantornya
“loe tolongin gue napa Dit, gue gak mau
dipecat” kata Intan dengan suara yang ditahan, wajahnya terlihat memelas meski
dengan melotot melihat Dita yang kukuh tidak mau masuk kedalam gedung
“iya tapi masak gue? Gue bisa apa?” Tanya
Dita berusaha mengelak dengan suaranya masih ditahan agar tidak terdengar
orang-orang disekitarnya dengan nada marah
“loe kan tahu gue nggak mau masuk ke
perusahaan atau kantor tantan” jelasnya dengan tatapan laser ketidaknyamanan yang jelas sekali
terlihat.
“ok kali ini aja, next gue gak akan
maksa loe atau nyulik loe kayak gini, tapi please tolongin gue, gue gak mau
dipecat” kata Intan sambil memohon dengan tegas meski merengek seperti bayi , Dita pun akhirnya
menyetujui lantaran dia tidak mau karir sahabatnya itu hancur hanya karena penolakannya,
mereka pun meninggalkan lobi dan menuju lift dan segera naik ke lantai dimana
ruangan Nicholas berada.
“Permisi Mr Nicholas” kata Intan yang
sambil disertai ketukan pintu
“ya, masuk” kata Nicholas dengan suara
lantang namun santai, Intan dan Dita pun masuk kedalam ruangan.
“Slamet
slamet slamet slamet, di wajah garang bapak bapak bule udah ilang” guman
Intan dalam hati sambil menggandeng tangan Dita mendekati meja Nicholas.
“ini tuan, teman saya yang namanya Dita”
kata Intan mengenalkan Dita pada atasanya, Dita hanya tersenyum, terdapat
ketakutan besar dalam benaknya, ketakutan akan sahabatanya bisa dipecat karena
kedatangannya, ketakutan laki-laki bule yang ada didepannya mengenal siapa
ayahnya, dan banyak pertanyaan dalam otaknya. Nicholas memperhatikan dengan
seksama dengan tatapan yang dalam. Dia mencari sesuatu yang ingin dia dapatkan
didalam diri Dita, tapi dia tidak menemukan apa-apa, dia hanya melihat gadis
sederhana dengan pakaian casual yang santai namun semi formal.
“habis
gue kali ini, ini om om bule mandangin gue gitu banget, kenapa Intan bawa gue
kesini, apa dia kenal almarhum ayah, atau bahkan musuhnya ”gerutu Dita dalam hatinya melihat Nicholas yang
memperhatikannya dalam-dalam
“kamu yang membuat ini?” Tanya Nicholas
mengawali perbincangan seraya menujukkan beberapa kertas dan menyodorkannya
kepada Dita, Nicholas tersenyum tipis melihat Dita memperhatikan kertas-kertas
yang diterimanya.
“sebenarnya ini hasil karya Intan Mr,
saya hanya lihat warnanya tidak sesuai jadi saya beri sedikit sentuhan warna
yang berbeda dan menambahkan sedikit yang dibutuhkan agar terlihat berkelas”
jawab Dita tanpa melihat kepada Nicholas, dia sibuk melihat-lihat kertas yang
ada ditangannya dengan wajah yang sedikit ingin tertawa, dia juga menaikkan
alis kirinya kemudian melihat pada Intan
“kok gini sih, payah loe” kata Dita
sambil melihat kearah Intan, dia juga tersenyum geli melihat kearah sahabatnya
yang kebingungan dan kemudian mendekat kepadanya.
“apanya” Tanya Intan kebingungan dan
ikut memeriksa kertas-kertas yang ada di tangan Dita,
“ini, ini dan ini ya Allah tolong Baim
ya Allah” guman Dita sambil menunjukkan beberapa kertas yang ada ditangannya
kepada Intan, suaranya yang masih bisa didengan oleh Nicholas itu tak ayal
membuat Nicholas tertawa melihat dua gadis muda didepannya yang terlihat lucu,
Dita dan Intan pun menoleh pada Nicholas yang masih tertawa itu
“heh Mr” kata Intan dengan senyum yang
ditahan
“Dita kamu selesaikan yang kurang, waktu
kamu hanya setengah jam” kata Nicholas dengan santai dan masih tersenyum kearah
dua gadis yang ada di ruangannya itu
“what!! Setengah jam, are you kidding
me!” kata Dita terkejut karena waktu yang diberikan hanya setengah jam itupun
dia bukan bagian dari karyawan diperusahan lelaki yang ada didepannya itu,
Nicholas yang melihat raut muka Dita hanya tersenyum lebar dan menyuruh Intan
membawa Dita kembali ke meja kerjanya. Setelah Intan menutup pintu Nicholas
kembali ke kursinya dan meraih telpon disebelahnya
“Ryan, tolong kamu cari tahu semua
tentang gadis yang baru saja keluar dari ruangan saya” kata Nicholas kepada orang
yang berada diseberang telpon kemudian menutup telponnya kembali, dia berpikir
keras mengenai gadis yang baru saja ditemuinya, parasnya yang tidak asing
membuat dia menarik napas panjang sesekali dalam berpikirnya.
Dua puluh menit pun berlalu, tampak
Fajar hanya memperhatikan meja kekasihnya Intan dan Dita sahabatnya yang sibuk
didepan computer yang berada dimeja kerja Intan. Sesekali tertawa renyah mereka
terdengar
“nah selesai” kata Dita dengan senyum
puas menghiasi bibirnya
__ADS_1
“ya udah langsung dicetak aj” kata Intan
memerintahkan pada Dita, dia menyiapkan beberapa kertas dan beralih ke printer
yang ada dekat cendela tak jauh dari mejanya, laporan pekerjaan Intan selesai
dia berpamitan untuk menuju ruangan Nicholas. Fajar yang tak lagi ada berkas
yang harus dikerjakan itu menghampiri Dita
“hey, nama kamu siapa?” Tanya Fajar
“saya Dita pak” jawab Dita singkat yang
melihat kearah Fajar dan cepat-cepat memalingkan wajahnya, ada kecemasan dalam
raut muka Dita
“oh kamu Dita sahabatnya Intan, yang
ketemu lagi di taman somay setelah sekian lama” kata Fajar yang melihat
ketegangan diwajah Dita berusaha mencairkan suasana tentu saja itu membuat Dita
tertawa renyah dan melihat kearah fajar
“taman somay hahahah bapak udah kayak
Intan deh” kata Dita yang masih menahan tawanya
“kenalkan saya Fajar” kata fajar
memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya yang disambut oleh Dita
“saya Dita pak” kata Dita singkat dengan
senyum tipis, tersirat senyum elegan saat dia menyebutkan namaya kali ini.
“Fajar, tidak pake PAK” kata Fajar
sambil menekankan pada kata pak dan keduanya terkekeh. Dita yang meninggalkan
catatan dimeja Intan itu segera berpamitan pada Fajar yang menyapanya, dia pun
meninggalkan meja Intan.
***
Mobil hitam berhenti tepat di depan lobi
kantor, satpam memberi salam pada pengemudinya yang turun dari dalam mobil.
“parkirkan mobil saya” kata Rafael
dengan melemparkan kunci mobilnya kearah satpam yang ditangkapnya dengan
sempurna.
Berjalan pelan dengan langkah lebar dia
masuk kedalam gedung sembari sesekali memegangi kepalanya, masih ada bekas
darah dikening kirinya serta perban melingkar dikepalanya. Dita berjalan pelan
sambil tersenyum melihat shabatnya yang senang dengan bantuannya itu dibuyarkan
oleh makhluk tampan yang berjalan kearahnya.
“alamak, gak salah? kanapa yang gue
lihat dia disini” Dita berbicara pada dirinya sendiri sambil menepuk dua pipinya bersamaan
“makhluk
ciptaan tuhan yang tampan nan rupawan, nggak salah lagi itu Rafael,ngapain dia
disini, apa kantornya digedung ini” guman dita dalam hatinya dengan
berjalan pelan, tatapanya lurus kedepan melihat bule Indo-polandia yang aja di
ujung lorong, tepatnya di lobi kantor .
“ah paling juga lupa sama gue” katanya
lagi pada dirinya sendiri, berusaha menyemangati diri dan tidak berpikir
berlebihan, dia pun berjalan santai menyusuri koridor. Dari tempatnya berdiri
Rafael melihat ada yang berjalan menuju ke arahnya dia pun memperhatikan dengan
seksama, Dita yang ingin berbelok arah menuju toilet umum itu menghentikan
langkahnya tatkala mendengar seseorang memanggilnya.
“Dita” sapa Rafael yang melangkah
“Rafael” jawab Dita dengan tersenyum
“how are you?” Tanya Rafel dengan senyum
tipis yang membuat para wanita disekitaran meja resepsionis keranjingan yang
sedari melihat Rafael ingin disapa dan diajak ngobrol oleh pria tampan itu.
“I am fine, but you look not ok” kata
Dita yang tersirat didalam matanya melihat pada luka dikepala Rafael. Dita pun
berusaha menaikkan tinggi badannya dengan mengankat tumitnya, dia yang hanya sepundak
Rafael itu sedikit kesulitan memeriksa luka dikening lelaki yang kedua kalinya
dia temui.
“its ok. Ini hanya luka kecil” katanya
berusaha menghibur Dita dengan senyum tampannya.
"ini bukan luka kecil, masih merah begini" jawab Dita yang memeriksa luka Rafael
“oh ya ampun, kenapa bukan gue sih”
guman seorang karyawan yang bisa didengar oleh Dita
“by the way nice to see you again” kata
Dita yang sudah pada posisi berdiri normal dan menepuk lengan Rafael
“same here, very happy to see you again”
kata Rafael membalas Dita, dia tersenyum tipis dan menatap Dita dalam dalam
"suaranya tidak asing, dan kenapa aku senang mendengarnya" guman Rafael dalam hatiinya
“anyways, get well soon” Dita
menambahkan kalimatnya seraya menepuk lengan Rafael lagi
“thanks” jawab Rafael singkat dan
melihat pada Dita yang mulai melangkahkan kakinya yang ingin segera kekamar
kecil
“bye” katanya pada Rafae, lelaki itu
hanya tersenyum memperhatikan Dita yang berlalu, dia sendiri akhirnya menuju
lift dan menghilang dari pandangan.
"Kenapa
dengan Mr Nicholas, kenapa ngliatin gue kayak gitu. Apa dia kenal sama ayah"
"Ah
nggak Dita, nggak ada yang mengenal loe sekarang ini, loe sudah memiliki dunia
sendiri"
Dita yang melamun selama perjalan pulang
itu tak habis pikir, takut dan cemas menghatui pikiranya, dia tidak mau
mendapati hari-harinya seperti dulu masih dibayang-bayangi ayahnya, orang
disekelilingnya yang tidak mengenalnya pun ikut mencibirnya.
“neng sudah nyampek neng” kata supir
angkot, Dita masih terdiam dalam lamunanya
“neng” panggil supir angkot seraya
mengulurkan tangannya menepuk lengan Dita
“iya bang” suara Dita terkejut dengan
panggilan supir angkot dan segera melihat kearah sang supir
“sudah nyampek neng” kata supir angkot
sambil tesenyum dan Dita pun celingukan mamastikan seraya mengeluarkan uang
dari sakunya
__ADS_1
“kok abang tahu saya turun disini” Tanya
Dita dengan senyum malu
“yah tahu lah, kan saban ari neng naek
angkot aye turunya dimari” jawab supir angkot menjelaskan seraya menerima
ongkos yang diberikan Dita dengan masih tersenyum malu tertinggal dibibirnya
“ini kembalianya neng” kata supir angkot yang masih memperhatikan Dita beranjak
turun dari angkot
“makasih ya bang” suara Dita dengan
sedikit berteriak, angkot pun berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan
mata, Dita pelan-pelan melangkahkan kakinya pulang menuju kontrakan kecilnya.
“ta elu lagi ngapain? besok gue jemput ya”
suara Intan diseberang telpon
“sorry ya tan, besok jadwal gue penuh”
jawab Dita dengan nada kecewa.
“sampek jam berapa, besok loe ngajar
dimana?” Tanya Intan mencari sela waktu sahabatnya
“sampek jam 4, deket-deket kantor loe”
jawab Dita datar.
“aha jaenaab bahagia, bareng aja klo
gitu, besok gue jemput” suara Intan di seberang telpon dan terdengar sangat
antusias dengan tawa genitnya, Dita pun akhirnya mengiyakan.
Dita yang berjalan santai menuju tempat
dimana biasa dia mencegat angkutan umun untuk pulang segera duduk disebuah
bangku kecil yang sepertinya sengaja disediakan untuk siapa saja yang sedang
menunggu angkutan umum lewat. Dia celingukan mencari-cari apakah sahabatnya
sudah sampai lebih dulu, diraihnya ponsel di sakunya, dilihatnya tak ada pesan
yang masuk. Terdengar suara klakson mobil Dita pun menyimpan kembali ponselnya,
memperhatikan siapa yang berhenti
menghampirinya itu
“spadaaa, butuh tumpangan buk” goda
Intan dari dalam mobil dengan cengengesan disambut senyum oleh Intan
“iya buk, mau kebulan
boleh numpang” Dita menanggapi candaan sahabatnya itu dengan gaya cuek yang
tentu membuat keduanya cekikikan.
“ke bulan sono sama
pangeran loe, udah ayo naik” kata Intan menyudahi candaanya, Dita masuk kedalam
mobil, dan melaju menembus lautan mobil yang mulai padat.
“ganti mobil tan? Yang
kemarin kemana?” Tanya Dita
“dipake papa sama mama
keluar kota, balik baru entar malam” jawab Intan memberikan keterangan.
“hampir gue gak
ngenalin loe klo gak loe buka tadi kaca mobilnya” kata Dita dengan senyum lebar
tersemat dibibirnya
“sorry banget, gue gak
bisa, loe tahu kan gue juga ada jam less malam ni” kata Dita mengingatkan pada
sahabatnya
“sangat banget, ya udah
gak apa-apa” jawab Intan dengan wajah dan nada kecewa tetapi dia memahami
kondisi sahabatnya itu, akhirnya dia pun tersenyum tak ingin membuat Dita
merasa tidak nyama.
“loe turun disini apa
dimana?” Tanya Intan
“gue di depan warung
itu aja, gue udah laper” kata Dita sembari memegangi perutnya
“loe ikut gue napa, gue
traktir deh” bujuk Intan manja
“hari ini bener-bener
gak bisa Intana putri duyung yang cantik” Dita menjelaskan lagi sambil mencubit
manja pipi Intan, Dita pun turun dari mobil dan melambaikan tangan pada mobil
intan yang melaju menjauh. Dia melangkah ke warung makan dan segera masuk, dia
sudah benar-benar lapar.
“buk nasi satu porsi
dimakan disini ya” kata Dita pada pemilik warung yang sudah menyambutnya
didepan etalase yang penuh makanan itu.
“lauknya apa neng?”
Tanya ibu warung dengan tersenyum.
“daging boleh buk”
jawab Dita yang segera mencari tempat duduk. Matanya tertuju pada makhluk yang
pernah iya jumpai sebelumnya di tempat ini, tersenyum kepadanya yang tak
sengaja diapun mebalas senyuman itu. Dita melangkah menuju meja Rafael yang
hanya ditempatinya sendiri.
“busyett ni bule, disini lagi,
ganteng sih tapi sama kayaknya sm kayak gue, gak punya duit, kantornya aja tinggi” batin Dita sambil
menatap Rafael yang sedari beberapa saat lalu memperhatikannya
“Rafael” sapa Dita sambil
“Dita” jawab Rafael
dengan memanggil namanya
“sit down please” suara
Rafael mempersilahkan Dita untuk duduk dan langsung disambarnya kursi yang ada
didepannya untuk segera duduk.
“what are you doing
here” Tanya Dita pada Rafel.
“as you see” jawab
Rafael singkat dengan menunjukkan secangkir kopi didepannya
“ela
dala bambank orang model kayak gini ngopi ditempat rakyat jelata, kantornya aja
bagus ternyata nggak punya duit, iya kalo punya duit ngapain ngopi ditempat
kayak gini”. Guman Dita dalam hati sambil menatap
aneh pada Rafael dan senyum tipis dia sematkan dibibirnya.
“Ini neng nasinya” kata
pemilik warung dan mempersilahkan Dita menikmati makananya. Setelah makan Dita
dan Rafael berbincang-bincang hampir satu jam. Dita berpamitan dan menghilang
__ADS_1
dari pandangan Rafael. ~~~~