Untuk istriku

Untuk istriku
Bertemu lagi dengan Rafael


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Intan pun tiba


digedung tinggi tempat Intan bekerja, cepat-cepat dia melepaskan sabuk pengaman


yang mengikat dirinya, sedangkan Dita hanya diam dan ragu


“tan kenapa kita kesini” Tanya Dita


dengan suara pelan, raut muka yang tidak nyaman terlihat jelas menghiasi


wajahnya


“udah pokoknya loe ikut aja” kata Intan


yang tak memberi jawaban yang diharapkan Dita, dia melepaskan sabuk pengaman


dari kursi Dita dan menarik Dita keluar dari mobilnya. Adegan saling tarik


menarik pun terjadi, dengan gaya gugup dan konyol Intan membuat security yang


berjaga di pos juga yang sedang bediri di pintu masuk membuat mereka geleng


kepala, tibalah mereka di depan pintu utama lobi kantor


“lepasin gue” bentak Dita dengan suara


yang ditahan, dia melemparkan tangan Intan yang sedari tadi berusaha menariknya


masuk kedalam gedung. Intan yang tidak mau kalah melotot kepadanya dan dengan


suara tertahan dia berusaha menjelaskan pada Dita alasannya dia diabawa ke


kantornya


“loe tolongin gue napa Dit, gue gak mau


dipecat” kata Intan dengan suara yang ditahan, wajahnya terlihat memelas meski


dengan melotot melihat Dita yang kukuh tidak mau masuk kedalam gedung


“iya tapi masak gue? Gue bisa apa?” Tanya


Dita berusaha mengelak dengan suaranya masih ditahan agar tidak terdengar


orang-orang disekitarnya dengan nada marah


“loe kan tahu gue nggak mau masuk ke


perusahaan atau kantor tantan” jelasnya dengan tatapan laser ketidaknyamanan yang jelas sekali


terlihat.


“ok kali ini aja, next gue gak akan


maksa loe atau nyulik loe kayak gini, tapi please tolongin gue, gue gak mau


dipecat” kata Intan sambil memohon dengan tegas meski merengek seperti bayi , Dita pun akhirnya


menyetujui lantaran dia tidak mau karir sahabatnya itu hancur hanya karena penolakannya,


mereka pun meninggalkan lobi dan menuju lift dan segera naik ke lantai dimana


ruangan Nicholas berada.


“Permisi Mr Nicholas” kata Intan yang


sambil disertai ketukan pintu


“ya, masuk” kata Nicholas dengan suara


lantang namun santai, Intan dan Dita pun masuk kedalam ruangan.


“Slamet


slamet slamet slamet, di wajah garang bapak bapak bule udah ilang” guman


Intan dalam hati sambil menggandeng tangan Dita mendekati meja Nicholas.


“ini tuan, teman saya yang namanya Dita”


kata Intan mengenalkan Dita pada atasanya, Dita hanya tersenyum, terdapat


ketakutan besar dalam benaknya, ketakutan akan sahabatanya bisa dipecat karena


kedatangannya, ketakutan laki-laki bule yang ada didepannya mengenal siapa


ayahnya, dan banyak pertanyaan dalam otaknya. Nicholas memperhatikan dengan


seksama dengan tatapan yang dalam. Dia mencari sesuatu yang ingin dia dapatkan


didalam diri Dita, tapi dia tidak menemukan apa-apa, dia hanya melihat gadis


sederhana dengan pakaian casual yang santai namun semi formal.


“habis


gue kali ini, ini om om bule mandangin gue gitu banget, kenapa Intan bawa gue


kesini, apa dia kenal almarhum ayah, atau bahkan musuhnya ”gerutu Dita dalam hatinya melihat Nicholas yang


memperhatikannya dalam-dalam


“kamu yang membuat ini?” Tanya Nicholas


mengawali perbincangan seraya menujukkan beberapa kertas dan menyodorkannya


kepada Dita, Nicholas tersenyum tipis melihat Dita memperhatikan kertas-kertas


yang diterimanya.


“sebenarnya ini hasil karya Intan Mr,


saya hanya lihat warnanya tidak sesuai jadi saya beri sedikit sentuhan warna


yang berbeda dan menambahkan sedikit yang dibutuhkan agar terlihat berkelas”


jawab Dita tanpa melihat kepada Nicholas, dia sibuk melihat-lihat kertas yang


ada ditangannya dengan wajah yang sedikit ingin tertawa, dia juga menaikkan


alis kirinya kemudian melihat pada Intan


“kok gini sih, payah loe” kata Dita


sambil melihat kearah Intan, dia juga tersenyum geli melihat kearah sahabatnya


yang kebingungan dan kemudian mendekat kepadanya.


“apanya” Tanya Intan kebingungan dan


ikut memeriksa kertas-kertas yang ada di tangan Dita,


“ini, ini dan ini ya Allah tolong Baim


ya Allah” guman Dita sambil menunjukkan beberapa kertas yang ada ditangannya


kepada Intan, suaranya yang masih bisa didengan oleh Nicholas itu tak ayal


membuat Nicholas tertawa melihat dua gadis muda didepannya yang terlihat lucu,


Dita dan Intan pun menoleh pada Nicholas yang masih tertawa itu


“heh Mr” kata Intan dengan senyum yang


ditahan


“Dita kamu selesaikan yang kurang, waktu


kamu hanya setengah jam” kata Nicholas dengan santai dan masih tersenyum kearah


dua gadis yang ada di ruangannya itu


“what!! Setengah jam, are you kidding


me!” kata Dita terkejut karena waktu yang diberikan hanya setengah jam itupun


dia bukan bagian dari karyawan diperusahan lelaki yang ada didepannya itu,


Nicholas yang melihat raut muka Dita hanya tersenyum lebar dan menyuruh Intan


membawa Dita kembali ke meja kerjanya. Setelah Intan menutup pintu Nicholas


kembali ke kursinya dan meraih telpon disebelahnya


“Ryan, tolong kamu cari tahu semua


tentang gadis yang baru saja keluar dari ruangan saya” kata Nicholas kepada orang


yang berada diseberang telpon kemudian menutup telponnya kembali, dia berpikir


keras mengenai gadis yang baru saja ditemuinya, parasnya yang tidak asing


membuat dia menarik napas panjang sesekali dalam berpikirnya.


Dua puluh menit pun berlalu, tampak


Fajar hanya memperhatikan meja kekasihnya Intan dan Dita sahabatnya yang sibuk


didepan computer yang berada dimeja kerja Intan. Sesekali tertawa renyah mereka


terdengar


“nah selesai” kata Dita dengan senyum


puas menghiasi bibirnya

__ADS_1


“ya udah langsung dicetak aj” kata Intan


memerintahkan pada Dita, dia menyiapkan beberapa kertas dan beralih ke printer


yang ada dekat cendela tak jauh dari mejanya, laporan pekerjaan Intan selesai


dia berpamitan untuk menuju ruangan Nicholas. Fajar yang tak lagi ada berkas


yang harus dikerjakan itu menghampiri Dita


“hey, nama kamu siapa?” Tanya Fajar


“saya Dita pak” jawab Dita singkat yang


melihat kearah Fajar dan cepat-cepat memalingkan wajahnya, ada kecemasan dalam


raut muka Dita


“oh kamu Dita sahabatnya Intan, yang


ketemu lagi di taman somay setelah sekian lama” kata Fajar yang melihat


ketegangan diwajah Dita berusaha mencairkan suasana tentu saja itu membuat Dita


tertawa renyah dan melihat kearah fajar


“taman somay hahahah bapak udah kayak


Intan deh” kata Dita yang masih menahan tawanya


“kenalkan saya Fajar” kata fajar


memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya yang disambut oleh Dita


“saya Dita pak” kata Dita singkat dengan


senyum tipis, tersirat senyum elegan saat dia  menyebutkan namaya kali ini.


“Fajar, tidak pake PAK” kata Fajar


sambil menekankan pada kata pak dan keduanya terkekeh. Dita yang meninggalkan


catatan dimeja Intan itu segera berpamitan pada Fajar yang menyapanya, dia pun


meninggalkan meja Intan.


***


Mobil hitam berhenti tepat di depan lobi


kantor, satpam memberi salam pada pengemudinya yang turun dari dalam mobil.


“parkirkan mobil saya” kata Rafael


dengan melemparkan kunci mobilnya kearah satpam yang ditangkapnya dengan


sempurna.


Berjalan pelan dengan langkah lebar dia


masuk kedalam gedung sembari sesekali memegangi kepalanya, masih ada bekas


darah dikening kirinya serta perban melingkar dikepalanya. Dita berjalan pelan


sambil tersenyum melihat shabatnya yang senang dengan bantuannya itu dibuyarkan


oleh makhluk tampan yang berjalan kearahnya.


“alamak, gak salah? kanapa yang gue


lihat dia disini” Dita berbicara pada dirinya sendiri sambil menepuk dua pipinya bersamaan


“makhluk


ciptaan tuhan yang tampan nan rupawan, nggak salah lagi itu Rafael,ngapain dia


disini, apa kantornya digedung ini” guman dita dalam hatinya dengan


berjalan pelan, tatapanya lurus kedepan melihat bule Indo-polandia yang aja di


ujung lorong, tepatnya di lobi kantor .


“ah paling juga lupa sama gue” katanya


lagi pada dirinya sendiri, berusaha menyemangati diri dan tidak berpikir


berlebihan, dia pun berjalan santai menyusuri koridor. Dari tempatnya berdiri


Rafael melihat ada yang berjalan menuju ke arahnya dia pun memperhatikan dengan


seksama, Dita yang ingin berbelok arah menuju toilet umum itu menghentikan


langkahnya tatkala mendengar seseorang memanggilnya.


“Dita” sapa Rafael yang melangkah


“Rafael” jawab Dita dengan tersenyum


“how are you?” Tanya Rafel dengan senyum


tipis yang membuat para wanita disekitaran meja resepsionis keranjingan yang


sedari melihat Rafael ingin disapa dan diajak ngobrol oleh pria tampan itu.


“I am fine, but you look not ok” kata


Dita yang tersirat didalam matanya melihat pada luka dikepala Rafael. Dita pun


berusaha menaikkan tinggi badannya dengan mengankat tumitnya, dia yang hanya sepundak


Rafael itu sedikit kesulitan memeriksa luka dikening lelaki yang kedua kalinya


dia temui.


“its ok. Ini hanya luka kecil” katanya


berusaha menghibur Dita dengan senyum tampannya.


"ini bukan luka kecil, masih merah begini" jawab Dita yang memeriksa luka Rafael


“oh ya ampun, kenapa bukan gue sih”


guman seorang karyawan yang bisa didengar oleh Dita


“by the way nice to see you again” kata


Dita yang sudah pada posisi berdiri normal dan menepuk lengan Rafael


“same here, very happy to see you again”


kata Rafael membalas Dita, dia tersenyum tipis dan menatap Dita dalam dalam


"suaranya tidak asing, dan kenapa aku senang mendengarnya" guman Rafael dalam hatiinya


“anyways, get well soon” Dita


menambahkan kalimatnya seraya menepuk lengan Rafael lagi


“thanks” jawab Rafael singkat dan


melihat pada Dita yang mulai melangkahkan kakinya yang ingin segera kekamar


kecil


“bye” katanya pada Rafae, lelaki itu


hanya tersenyum memperhatikan Dita yang berlalu, dia sendiri akhirnya menuju


lift dan menghilang dari pandangan.


"Kenapa


dengan Mr Nicholas, kenapa ngliatin gue kayak gitu. Apa dia kenal sama ayah"


"Ah


nggak Dita, nggak ada yang mengenal loe sekarang ini, loe sudah memiliki dunia


sendiri"


Dita yang melamun selama perjalan pulang


itu tak habis pikir, takut dan cemas menghatui pikiranya, dia tidak mau


mendapati hari-harinya seperti dulu masih dibayang-bayangi ayahnya, orang


disekelilingnya yang tidak mengenalnya pun ikut mencibirnya.


“neng sudah nyampek neng” kata supir


angkot, Dita masih terdiam dalam lamunanya


“neng” panggil supir angkot seraya


mengulurkan tangannya menepuk lengan Dita


“iya bang” suara Dita terkejut dengan


panggilan supir angkot dan segera melihat kearah sang supir


“sudah nyampek neng” kata supir angkot


sambil tesenyum dan Dita pun celingukan mamastikan seraya mengeluarkan uang


dari sakunya

__ADS_1


“kok abang tahu saya turun disini” Tanya


Dita dengan senyum malu


“yah tahu lah, kan saban ari neng naek


angkot aye turunya dimari” jawab supir angkot menjelaskan seraya menerima


ongkos yang diberikan Dita dengan masih tersenyum malu tertinggal dibibirnya


“ini kembalianya neng” kata supir angkot  yang masih memperhatikan Dita beranjak


turun dari angkot


“makasih ya bang” suara Dita dengan


sedikit berteriak, angkot pun berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan


mata, Dita pelan-pelan melangkahkan kakinya pulang menuju kontrakan kecilnya.


“ta elu lagi ngapain? besok gue jemput ya”


suara Intan diseberang telpon


“sorry ya tan, besok jadwal gue penuh”


jawab Dita dengan nada kecewa.


“sampek jam berapa, besok loe ngajar


dimana?” Tanya Intan mencari sela waktu sahabatnya


“sampek jam 4, deket-deket kantor loe”


jawab Dita datar.


“aha jaenaab bahagia, bareng aja klo


gitu, besok gue jemput” suara Intan di seberang telpon dan terdengar sangat


antusias dengan tawa genitnya, Dita pun akhirnya mengiyakan.


Dita yang berjalan santai menuju tempat


dimana biasa dia mencegat angkutan umun untuk pulang segera duduk disebuah


bangku kecil yang sepertinya sengaja disediakan untuk siapa saja yang sedang


menunggu angkutan umum lewat. Dia celingukan mencari-cari apakah sahabatnya


sudah sampai lebih dulu, diraihnya ponsel di sakunya, dilihatnya tak ada pesan


yang masuk. Terdengar suara klakson mobil Dita pun menyimpan kembali ponselnya,


memperhatikan siapa yang  berhenti


menghampirinya itu


“spadaaa, butuh tumpangan buk” goda


Intan dari dalam mobil dengan cengengesan disambut senyum oleh Intan


“iya buk, mau kebulan


boleh numpang” Dita menanggapi candaan sahabatnya itu dengan gaya cuek yang


tentu membuat keduanya cekikikan.


“ke bulan sono sama


pangeran loe, udah ayo naik” kata Intan menyudahi candaanya, Dita masuk kedalam


mobil, dan melaju menembus lautan mobil yang mulai padat.


“ganti mobil tan? Yang


kemarin kemana?” Tanya Dita


“dipake papa sama mama


keluar kota, balik baru entar malam” jawab Intan memberikan keterangan.


“hampir gue gak


ngenalin loe klo gak loe buka tadi kaca mobilnya” kata Dita dengan senyum lebar


tersemat dibibirnya


“sorry banget, gue gak


bisa, loe tahu kan gue juga ada jam less malam ni” kata Dita mengingatkan pada


sahabatnya


“sangat banget, ya udah


gak apa-apa” jawab Intan dengan wajah dan nada kecewa tetapi dia memahami


kondisi sahabatnya itu, akhirnya dia pun tersenyum tak ingin membuat Dita


merasa tidak nyama.


“loe turun disini apa


dimana?” Tanya Intan


“gue di depan warung


itu aja, gue udah laper” kata Dita sembari memegangi perutnya


“loe ikut gue napa, gue


traktir deh” bujuk Intan manja


“hari ini bener-bener


gak bisa Intana putri duyung yang cantik” Dita menjelaskan lagi sambil mencubit


manja pipi Intan, Dita pun turun dari mobil dan melambaikan tangan pada mobil


intan yang melaju menjauh. Dia melangkah ke warung makan dan segera masuk, dia


sudah benar-benar lapar.


“buk nasi satu porsi


dimakan disini ya” kata Dita pada pemilik warung yang sudah menyambutnya


didepan etalase yang penuh makanan itu.


“lauknya apa neng?”


Tanya ibu warung dengan tersenyum.


“daging boleh buk”


jawab Dita yang segera mencari tempat duduk. Matanya tertuju pada makhluk yang


pernah iya jumpai sebelumnya di tempat ini, tersenyum kepadanya yang tak


sengaja diapun mebalas senyuman itu. Dita melangkah menuju meja Rafael yang


hanya ditempatinya sendiri.


“busyett ni bule, disini lagi,


ganteng sih tapi sama kayaknya sm kayak gue, gak punya duit, kantornya aja tinggi” batin Dita sambil


menatap Rafael yang sedari beberapa saat lalu memperhatikannya


“Rafael” sapa Dita sambil


“Dita” jawab Rafael


dengan memanggil namanya


“sit down please” suara


Rafael mempersilahkan Dita untuk duduk dan langsung disambarnya kursi yang ada


didepannya untuk segera duduk.


“what are you doing


here” Tanya Dita pada Rafel.


“as you see” jawab


Rafael singkat dengan menunjukkan secangkir kopi didepannya


“ela


dala bambank orang model kayak gini ngopi ditempat rakyat jelata, kantornya aja


bagus ternyata nggak punya duit, iya kalo punya duit ngapain ngopi ditempat


kayak gini”. Guman Dita dalam hati sambil menatap


aneh pada Rafael dan senyum tipis dia sematkan dibibirnya.


“Ini neng nasinya” kata


pemilik warung dan mempersilahkan Dita menikmati makananya. Setelah makan Dita


dan Rafael berbincang-bincang hampir satu jam. Dita berpamitan dan menghilang

__ADS_1


dari pandangan Rafael. ~~~~


__ADS_2